Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Dalam sebuah warung makan di sudut terminal, kepulan asap dari bakul nasi berpadu dengan aroma minyak goreng yang sudah berulang kali dipakai. Bunyi klakson bus dan teriakan kenek menjadi latar suara yang konstan. Di sudut meja kayu yang permukaannya sudah mulai mengelupas, dua orang pria duduk berhadapan. Di hadapan mereka masing-masing terdapat sepiring nasi rames yang isinya hampir serupa: tempe orek, sayur nangka, dan sedikit sambal merah.
"Kamu itu terlalu banyak menuntut ingatan untuk tetap tinggal, padahal orangnya sudah lama jalan," kata Damar sambil mengunyah kerupuk. Bunyi kriuknya terdengar nyaring di antara bising terminal.
Gani, yang duduk di depannya, hanya mengaduk-aduk nasinya tanpa selera. Wajahnya kusut, matanya menunjukkan kurang tidur yang cukup parah selama beberapa hari terakhir. "Bukan menuntut, Mar. Rasanya aneh saja. Biasanya jam segini dia pasti kirim pesan, nanya sudah makan apa belum. Sekarang, HP saya sepi seperti kuburan."
"Ya jelas sepi, kan sudah putus. Kalau sudah putus tapi masih kirim pesan nanya makan, itu namanya bukan mantan, tapi katering," balas Damar ketus namun ada nada gurau di dalamnya. "Lagian, apa yang kamu harapkan dari hubungan yang isinya cuma adu argumen setiap malam? Kamu cari pasangan atau cari lawan debat?"
Gani menghela napas panjang, meletakkan sendoknya. "Tapi dia beda, Mar. Sentuhannya, cara dia tertawa, bahkan cara dia marah itu punya ciri khas yang tidak saya temukan di orang lain. Semua perempuan yang saya temui setelah dia rasanya hambar. Tidak ada yang bisa menyamai dia."
"Nah, di situ salahmu yang paling fatal," Damar menunjuk Gani dengan ujung sendoknya yang masih menyisakan sebutir nasi. "Kamu sibuk mencari replika, padahal dunia ini isinya manusia, bukan pabrik cetakan barang lama. Kamu membandingkan orang baru yang belum tahu apa-apa tentang kamu dengan orang lama yang sudah khatam isi kepalamu. Ya jelas kalah semua."
Seorang wanita paruh baya, pemilik warung yang biasa dipanggil Yu Sum, datang mengantarkan dua gelas teh manis hangat. Mendengar percakapan mereka, dia menggeleng-gelengkan kepala sambil meletakkan gelas dengan sedikit hentakan lembut.
"Uwis, le, ojo terlalu meratapi sing wis lungo. Sing wis lungo yo wis, rasah digetuni terus-terusan. Nek kowe terus-terusan mbandingke, uratmu bakal kaku, uripmu ora bakal nemu seneng," kata Yu Sum dengan logat Jawanya yang kental, memberikan nasihat yang membumi tanpa kesan menggurui.
"Tuh, dengar kata Yu Sum. Jangan ditahan-tahan kalau memang sudah selesai," timpal Damar setelah Yu Sum kembali ke belakang meja dagangannya.
"Masalahnya tidak semudah itu, Mar. Kamu tidak merasakannya sendiri. Menata hati yang sudah berantakan itu butuh waktu. Setiap sudut kota ini rasanya ada jejak dia. Lewat jalan depan mall, ingat dia. Makan bakso di gang sebelah, ingat dia. Bahkan minum teh manis ini pun, saya ingat dia suka yang kurang gula," keluh Gani, ekspresinya semakin muram.
"Itu namanya kamu yang sengaja memelihara hantu," Damar meminum teh manisnya hingga tinggal setengah. "Memori itu seperti debu di etalase toko. Kalau kamu lap setiap hari, dia hilang. Tapi kalau kamu biarkan, ya makin tebal. Kamu sendiri yang malas mengelapnya karena sengaja ingin melihat bayangan dia di sana. Sadar, Gan. Dia di sana mungkin sudah makan malam romantis sama orang lain, sedangkan kamu di sini meratapi teh manis kurang gula."
Gani terdiam. Kalimat Damar memang tidak menggunakan kata-kata puitis yang mendayu-dayu, melainkan kalimat yang langsung menghantam realitasnya yang sedang rapuh. Kata-kata itu berima secara alami karena pola pikir Damar yang praktis dan penuh dengan perbandingan yang masuk akal di dunia nyata.
"Tapi apa salah kalau saya merasa semua orang yang datang sekarang itu tidak ada yang sama dengannya? Memang faktanya begitu, kan? Tidak ada yang sama," ujar Gani membela diri.
"Memang tidak ada yang sama, dan tidak boleh ada yang sama," potong Damar cepat. "Kalau semuanya sama, buat apa kamu ganti pasangan? Kamu itu mau mencari orang baru untuk memulai lembaran baru, atau mau menghidupkan kembali mayat hubungan lama? Pikir pakai logika, jangan pakai perasaan yang lagi meriang begitu."
"Kamu kalau bicara suka benar, tapi bikin sakit telinga," kata Gani akhirnya menyuap nasinya satu sendok kecil.
"Lebih baik sakit telinga sekarang daripada sakit jiwa belakangan," sahut Damar enteng. "Makan itu nasinya. Mubazir. Makanan enak di depan mata disia-siakan cuma karena memikirkan orang yang belum tentu memikirkan kamu."
Suasana warung semakin ramai menjelang jam pulang kerja. Beberapa sopir angkot mulai berdatangan, memesan kopi dan rokok batangan. Obrolan di sekitar mereka menjadi semakin bising, namun Gani masih tenggelam dalam pikirannya sendiri, merenungkan setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya.
"Saya cuma merasa ada yang hilang dari dalam diri saya, Mar. Sesuatu yang besar, yang dulu membuat saya merasa hidup," ucap Gani lirih, hampir tenggelam oleh suara tawa para sopir di meja sebelah.
"Yang hilang itu bukan hidupmu, tapi cuma rutinitasmu," jawab Damar sambil membersihkan mulutnya dengan tisu seadanya. "Kamu bingung karena jadwal yang biasanya terisi sekarang mendadak kosong. Itu ruang kosong, Gan. Bukan lubang hitam. Ruang kosong itu gunanya untuk diisi hal baru, bukan malah kamu duduki sambil menangis sampai berlumut."
Gani menatap gelas teh manisnya yang mulai mendingin. Butiran gula yang tidak teraduk sempurna di dasar gelas terlihat jelas. "Mungkin kamu ada benarnya. Saya terlalu fokus pada apa yang hilang sampai lupa apa yang masih saya punya sekarang."
"Nah, sadar juga akhirnya," Damar menepuk bahu Gani cukup keras hingga temannya itu sedikit tersentak. "Sudah, habiskan makananmu. Kita masih harus balik ke bengkel sebelum bos mengamuk karena kita telat istirahat."
Gani memaksakan diri untuk menghabiskan sisa makanan di piringnya. Meskipun rasanya tetap tidak senikmat biasanya, setidaknya perutnya kini terisi. Dia tahu perjalanan untuk melupakan tidak akan selesai hanya dengan satu piring nasi rames dan satu sesi obrolan di warung terminal, tetapi kata-kata Damar telah memberikan sedikit celah cahaya di kepalanya yang selama ini gelap gulita oleh bayang-bayang masa lalu.
Setelah membayar makanan mereka pada Yu Sum, keduanya melangkah keluar dari warung. Angin sore terminal yang membawa debu dan polusi menyambut mereka. Gani menarik napas dalam-dalam, mencoba merasakan udara segar yang tersisa di antara kepulan asap kendaraan.
"Besok-besok, kalau kamu mulai membanding-bandingkan lagi, saya tarik lidahmu," ancam Damar sambil berjalan mendahului.
"Sialan kamu, Mar," kata Gani, namun kali ini ada sedikit senyuman di sudut bibirnya. Langkah kakinya terasa sedikit lebih ringan daripada saat dia datang tadi.
Mereka berdua berjalan menyusuri trotoar menuju tempat kerja mereka yang berjarak beberapa ratus meter dari terminal. Di sepanjang jalan, Gani melihat orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka sendiri: pedagang asongan yang menawarkan dagangannya, pejalan kaki yang terburu-buru mengejar angkutan, dan anak-anak sekolah yang tertawa lepas. Dunia ternyata tetap berjalan dengan normal, sama sekali tidak peduli dengan hatinya yang sempat berhenti berdetak karena kehilangan.
"Mar," panggil Gani di tengah perjalanan.
"Apa lagi? Mau mengeluh tentang warna langit yang mengingatkanmu pada warna baju kemejanya?" sahut Damar tanpa menoleh.
"Bukan," Gani terkekeh pelan. "Terima kasih."
"Jangan terima kasih ke saya, terima kasih ke dompetmu sendiri karena hari ini kamu yang bayar makan siang saya sebagai upah dengar khotbah," kata Damar sambil tertawa lebar.
Gani menggelengkan kepala. Sahabatnya itu memang tidak pernah bisa bersikap manis terlalu lama, namun justru cara seperti itulah yang dia butuhkan saat ini untuk tetap memijak bumi dan tidak terbang terbawa angan-angan yang merusak diri sendiri.
Mereka berdua masuk ke dalam area bengkel, bersiap menghadapi sisa hari kerja yang melelahkan fisik, yang untungnya bisa mengalihkan pikiran Gani dari rasa sepi yang terus mengintai di waktu-waktu luangnya.
Kesibukan di dalam bengkel sore itu begitu padat. Suara hantaman martil pada besi besar memekakkan telinga, bersahutan dengan deru mesin kompresor yang sesekali membuang angin dengan suara mendesis tajam. Bau oli terbakar dan bensin menyengat hidung siapa saja yang melangkah masuk ke area kerja tersebut. Gani sedang jongkok di depan sebuah motor matic yang mesinnya sudah dibongkar total. Tangannya yang hitam legam terkena pelumas tampak lincah memasang kembali bagian-bagian kecil yang berserakan di atas koran bekas.
Damar berjalan mendekat sambil membawa dua botol air mineral dingin yang baru diambilnya dari kulkas kecil di ruang administrasi. Dia melemparkan satu botol ke arah Gani, yang langsung ditangkap dengan satu tangan meskipun telapak tangannya licin oleh sisa pelumas.
"Minum dulu, jangan cuma mesin motor orang yang kamu urus sampai dingin, hatimu juga butuh didinginkan biar tidak overhead," kata Damar seraya duduk di atas ban mobil bekas yang ditumpuk di dekat meja kerja Gani.
Gani membuka tutup botol menggunakan baju kerjanya yang sudah dekil agar tidak selip, lalu meneguk airnya hingga tersisa setengah. "Mesin ini kalau rusak komponennya tinggal beli baru di toko, Mar. Jelas ukurannya, jelas tipenya. Lah kalau urusan rasa, mana ada toko yang jual suku cadangnya."
Damar terkekeh, menyandarkan punggungnya pada dinding semen yang belum dicat. "Kamu itu sukanya membuat analogi yang rumit padahal masalahmu itu sederhana sekali. Masalahmu itu bukan karena kehilangan suku cadang, tapi karena kamu malas mengganti oli lama yang sudah kotor. Kamu simpan terus di dalam kepala, ya lama-lama mesin berpikirmu jadi macet total."
"Bukan begitu, Mar. Tadi waktu senggang sedikit, saya tidak sengaja melihat profil media sosialnya. Dia kelihatan sangat bahagia, sudah jalan-jalan ke tempat baru dengan teman-teman barunya. Sementara saya di sini, berkutat dengan kunci pas dan oli kotor, masih memikirkan hal yang sama setiap hari," ujar Gani, matanya menatap kosong ke arah baut-baut kecil yang ada di lantai.
"Ya itu salahmu sendiri, buat apa masih mengintip pagar rumah orang yang sudah digembok?" Damar menggelengkan kepala, merasa gemas dengan ketegaran temannya yang mudah goyah. "Kamu itu seperti orang yang sengaja menusukkan paku ke kaki sendiri, lalu berteriak kesakitan dan menyalahkan paku tersebut karena tajam. Logikanya di mana, Gan?"
Seorang montir senior yang kebetulan lewat, bertubuh tambun dengan handuk kecil melingkar di lehernya, berhenti sejenak mendengar keluhan Gani. Pria paruh baya itu tersenyum lebar hingga kumis tebalnya ikut bergerak.
"Manusa mah ngan saukur bisa ngarancana, tapi takdir anu nangtukeun. Tong kaleuyihan teuing mikiran nu geus euweuh, bisi matak panyakit kana awak. Sing loba bersyukur, ayeuna mah cokot hikmahna, ngarah hirup teh tenang jalanna," potong montir senior tersebut dengan dialek Sunda yang kental dan penuh kehangatan sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju bagian belakang bengkel.
"Dengar itu kata Kang Dadang," sambung Damar setelah montir senior itu menjauh. "Orang tua kalau bicara itu berdasarkan pengalaman hidup yang sudah panjang, bukan cuma berdasarkan perasaan sesaat yang gampang berubah seperti cuaca sore ini. Kamu terlalu sering membandingkan porsimu yang sekarang dengan porsinya dia yang sudah melangkah lebih jauh. Jelas saja kamu merasa tertinggal."
Gani menghela napas, membersihkan sisa oli di tangannya menggunakan kain majun yang sudah agak robek. "Saya tahu saya salah karena masih sering mencari tahu tentang dia. Tapi rasanya ada bagian dari diri saya yang menolak untuk percaya kalau hubungan kami benar-benar sudah selesai tanpa ada sisa sedikit pun."
"Hubungan itu sudah selesai sejak kata putus itu keluar dari mulut kalian berdua. Selesai, titik. Tidak ada koma, tidak ada titik dua, apalagi tanda tanya," kata Damar dengan nada suara yang tegas namun tidak membentak. "Yang membuat kamu merasa masih ada sisa itu adalah egomu yang tidak terima kalau kamu digantikan dengan begitu mudah. Kamu merasa dirimu berharga saat bersamanya, dan sekarang kamu merasa tidak berharga karena dia sudah tidak ada. Padahal nilai dirimu itu tidak ditentukan oleh keberadaan dia di sisimu."
Gani terdiam, merenungkan susunan kata dari Damar yang selalu tepat sasaran tanpa harus menggunakan bahasa yang berbunga-bunga. Kalimat-kalimat sahabatnya itu mengalir secara realistis, menghantam bagian paling rapuh dari dinding pertahanan emosionalnya yang sengaja dia bangun untuk melindungi diri dari kenyataan yang pahit.
"Jadi saya harus bagaimana, Mar? Menghapus semua kenangan tentang dia secara paksa? Itu rasanya tidak mungkin dilakukan dalam waktu dekat," tanya Gani dengan nada pasrah.
"Siapa juga yang menyuruhmu menghapus kenangan? Kamu kira otakmu itu komputer yang tinggal pencet tombol hapus lalu semuanya bersih?" Damar berdiri dari ban bekas, berjalan mendekati motor yang sedang dikerjakan Gani. "Kenangan itu tidak perlu dihapus, cukup ditaruh di tempat yang benar. Taruh di laci masa lalu, kunci rapat-rapat, lalu simpan kuncinya. Jangan setiap hari kamu buka lacinya, kamu bersihkan debunya, lalu kamu tangisi isinya. Itu namanya kerjaan orang kurang kerjaan."
Damar mengambil sebuah kunci ring dari kotak perkakas, lalu menyerahkannya kepada Gani. "Sekarang, fokus dulu pasang ini blok mesin sampai beres. Konsumen sudah mau ambil motornya satu jam lagi. Kalau kamu terus-terusan melamun, yang ada motor ini malah tidak bisa jalan, dan kamu tidak dapat komisi pekan ini. Mau makan apa kamu nanti? Makan rindu?"
Gani tersenyum kecut, menerima kunci ring tersebut dari tangan Damar. "Iya, iya. Saya kerja lagi ini. Cerewet sekali kamu, mirip mandor proyek."
"Saya begini karena saya tidak mau melihat temanku jadi bodoh cuma karena satu urusan asmara yang kandas. Dunia ini luas, Gan. Jalanan di luar sana masih panjang. Kalau kamu cuma mau berdiri di tikungan tempat kamu jatuh, kamu bakal tertabrak oleh kendaraan lain yang mau lewat," ujar Damar sebelum berjalan kembali menuju meja kerjanya sendiri di seberang ruangan.
Gani kembali memusatkan perhatiannya pada komponen-komponen mesin di hadapannya. Kata-kata Damar dan nasihat singkat dari Kang Dadang perlahan mulai meresap ke dalam benaknya. Dia menyadari bahwa setiap usaha untuk menyamakan orang baru dengan masa lalu adalah tindakan yang sia-sia, karena pada dasarnya setiap lembaran baru memiliki warna dan teksturnya sendiri yang tidak akan pernah sama dengan lembaran yang telah robek.
Bunyi mesin kompresor kembali menderu, memenuhi ruangan bengkel yang semakin temaram seiring berjalannya waktu menuju petang. Gani mengencangkan baut terakhir pada blok mesin dengan mantap, seolah-olah tindakan mekanis itu juga menjadi simbol dari tekadnya yang mulai terkumpul untuk mengencangkan kembali komitmennya pada realitas hidupnya sendiri yang sempat longgar akibat kesedihan yang berlarut-larut.
Matahari mulai tenggelam di balik atap seng bengkel, menyisakan semburat warna jingga yang kusam tertutup polusi. Gani menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang bersih dari oli. Motor matic yang tadi dia bongkar sekarang sudah menyala dengan suara halus, tanda semua komponen terpasang presisi pada tempatnya. Pemilik motor, seorang pria paruh baya berjaket kulit kusam, menyerahkan beberapa lembar uang kertas kepada Gani sambil tersenyum puas sebelum melenggang pergi membelah jalanan yang mulai padat.
Damar datang menghampiri sambil melempar selembar kain lap bersih ke bahu Gani. "Tuh, kerja pakai tangan hasilkan uang, kerja pakai angan cuma hasilkan utang perasaan. Pilih mana?"
Gani terkekeh pelan sambil menghitung lembaran uang di tangannya lalu memasukkannya ke dompet. "Pilih yang menghasilkan uang jelas, Mar. Tapi ya tetap saja, begitu kerjaan beres, kepala ini rasanya kembali otomatis berputar ke arah yang sama."
"Itu karena kamu belum membiasakan diri untuk memutar kemudi ke arah depan," Damar menyalakan sebatang rokok, asapnya mengepul lurus sebelum ditiup angin petang. "Kamu itu maunya jalan maju tapi matanya melotot ke spion terus. Ya wajar kalau perjalananmu isinya cuma menabrak pembatas jalan atau masuk selokan. Spion itu dilihat sesekali saja buat memastikan kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama, bukan buat dipandangi sepanjang jalan sampai matamu juling."
Gani duduk di bangku panjang depan bengkel, meluruskan kakinya yang pegal setelah berjam-jam jongkok. "Kadang saya berpikir, Mar. Apa semua orang yang datang setelah ini bakal selalu terasa kurang? Maksud saya, kenyamanan yang dulu itu sudah melekat sekali. Mengubah kebiasaan lama itu rasanya seperti dipaksa menggunakan tangan kiri untuk menulis bagi orang yang kidal dari lahir. Kaku dan hasilnya berantakan."
"Ya karena kamu menuntut orang baru langsung fasih membaca maumu," Damar bersandar pada tiang besi bengkel, melipat kedua tangannya di dada. "Hubungan lama itu terasa pas karena kalian sudah melewati fase saling asah selama bertahun-tahun. Kamu lupa saja waktu pertama kali sama dia dulu, kalian juga sering salah paham, sering ribut hal sepele. Sekarang, ada orang baru datang membawa warna yang berbeda, kamu malah protes kenapa warnanya tidak mirip dengan cat rumah yang lama. Kalau mau warna yang sama, mending kamu beli cat tembok satu kaleng, kamu pandangi sampai kering di kamar."
Seorang pedagang asongan keliling yang biasa mangkal di sekitar bengkel, Pak RT panggilannya meski dia bukan ketua rukun tetangga, lewat sambil memikul dagangan tahu sumedang hangat. Pria tua itu mendengar kalimat terakhir Damar dan langsung tertawa renyah hingga garis-garis keriput di wajahnya semakin terlihat jelas.
"Leres eta pisan, kasep. Sagala rupa ge geus aya porsina masing-masing, ulah dipaksa-paksakeun sarua. Lamun kabeh sarua mah moal rame dunya teh. Jalani we nu aya ayeuna, sing bageur ka diri sorangan, engke ge manggih kabagjaan nu anyar," ucap Pak RT dengan dialek Sunda yang halus dan menyehatkan pikiran sebelum melanjutkan langkahnya menjajakan tahu yang mengepulkan uap gurih.
"Nah, pedagang tahu saja paham hukum alam," kata Damar sambil menunjuk ke arah Pak RT yang mulai menjauh. "Hidup itu isinya perbedaan yang saling melengkapi, bukan persamaan yang dipaksakan sampai mati. Kamu mencari orang yang sama itu tanda kamu belum dewasa secara mental. Kamu cuma rindu rasa aman yang diberikan oleh rutinitas lama, bukan rindu pada orangnya secara utuh. Bedakan antara butuh sandaran karena lelah dengan butuh orang itu karena memang dia orangnya."
Gani terdiam, mematangkan kata-kata Damar di dalam benaknya. Kalimat sahabatnya tidak pernah berputar-putar di awang-awang dengan kalimat indah yang menipu, melainkan langsung menembus ke inti masalah menggunakan perbandingan konkrit yang ada di depan mata. Rima bicaranya yang spontan dan penuh dengan logika sehari-hari membuat Gani tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa dirinya sendirilah yang menolak untuk beranjak.
"Mungkin ego saya yang terlalu besar, Mar. Saya merasa kalau saya cepat melupakan, berarti hubungan yang dulu itu tidak ada artinya," kata Gani akhirnya, suaranya terdengar lebih rendah, menunjukkan sisi dirinya yang mulai menerima kenyataan tanpa pembelaan diri lagi.
"Melupakan itu bukan berarti menghapus arti, Gan," Damar mematikan puntung rokoknya pada asbak kaleng di dekatnya. "Melupakan itu tanda kamu menghormati keputusan masa lalu untuk tetap menjadi masa lalu. Kalau kamu bawa-bawa terus ke masa sekarang, kamu malah merusak nilai dari kenangan itu sendiri. Dia jadi beban, bukan jadi pelajaran. Kamu mau hubungan yang berharga itu berubah jadi jangkar yang menenggelamkan kapalmu sendiri di laut yang tenang?"
Gani menarik napas dalam-dalam, merasakan sisa hawa panas bengkel berganti dengan angin malam yang mulai dingin. "Lalu kalau nanti saya ketemu orang baru, bagaimana caranya biar saya tidak otomatis membandingkannya lagi?"
"Caranya sederhana: kosongkan dulu gelasmu," jawab Damar tegas. "Jangan terima tamu di rumah yang isinya masih penuh barang-barang milik mantan yang berserakan di lantai. Bereskan dulu rumahmu, sapu debunya, buang sampah-sampah emosimu. Begitu rumahmu bersih dan rapi, siapapun yang datang bakal kamu sambut sebagai tamu baru yang membawa cerita baru, bukan sebagai pekerja proyek yang kamu paksa buat merenovasi bangunan lama milik orang lain."
Gani mengangguk pelan, sebuah anggukan yang kali ini tidak disertai dengan helaan napas berat. Ada rasa plong yang mulai merayap di dadanya, menggantikan sesak yang selama ini bersarang di sana akibat tumpukan memori yang sengaja dia timbun tanpa pernah dia kelola dengan benar.
"Sudah jam tujuh malam ini. Yuk, tutup bengkel. Kita cari sate ayam di depan pasar. Perut saya sudah demo dari tadi gara-gara meladeni otakmu yang muter-muter tidak jelas," ajak Damar sambil mulai menarik pintu besi bengkel ke bawah dengan bunyi berderit nyaring.
Gani berdiri, membantu Damar mendorong sisa pintu besi hingga mengunci rapat. "Sate ayam bagus juga. Tapi kali ini saya yang pilih tempatnya, jangan di tempat yang biasa kita datangi dulu."
Damar menoleh, lalu tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat. "Nah, begitu! Itu langkah pertama yang benar. Mengubah rute jalan itu awal dari mengubah rute pikiran. Ayo jalan, sebelum tukang satenya kehabisan lontong."
Kedua pria itu berjalan beriringan meninggalkan area bengkel menuju terangnya lampu-lampu jalan raya. Di antara deru mesin kendaraan malam dan keramaian kota, Gani merasa langkah kakinya tidak lagi seberat kemarin. Langkahnya kini memiliki irama yang pasti, menyusuri trotoar realitas tanpa perlu lagi menoleh ke belakang untuk mencari bayangan yang memang sudah tidak ada di sana.
Malam semakin larut di sekitar area pasar. Bau arang terbakar dari kipasan tukang sate berbaur dengan wangi bawang goreng yang khas. Di atas meja panjang berbahan triplek, dua piring sate ayam dengan bumbu kacang yang kental sudah tersaji, berdampingan dengan dua gelas es jeruk yang bagian luarnya sudah berembun tebal. Gani memotong lontong menggunakan sendoknya, sementara Damar sibuk membersihkan tusuk sate dari sisa daging yang menempel dengan giginya.
"Tadi sewaktu jalan ke sini, saya sempat berpikir, Mar," membuka obrolan setelah mengunyah potongan daging pertamanya. "Kenapa ya, rasa sakit karena kehilangan itu polanya selalu sama? Mau di cerita orang lain, mau di cerita saya, ujung-ujungnya ya seputar meratapi yang sudah tidak ada."
"Ya karena manusia itu mahluk kebiasaan, Gan," jawab Damar setelah menelan makanannya. "Kamu itu bukan sakit karena kehilangan orangnya secara fisik, tapi kamu sakit karena kehilangan rutinitas yang sudah menjadi candu. Coba bayangkan, bertahun-tahun kamu punya jadwal tetap untuk berbagi cerita, lalu mendadak jadwal itu dihapus tanpa pemberitahuan. Otakmu kaget, lalu mendadak linglung mencari kompensasi. Akhirnya apa? Kamu sibuk membandingkan setiap hal baru dengan pola lama yang sudah telanjur nyaman."
"Tapi perbandingan itu muncul begitu saja di kepala, Mar. Otomatis, tanpa bisa saya cegah," kilah Gani sambil mengaduk bumbu kacang di piringnya. "Misalnya melihat cara orang lain memegang sendok, atau cara mereka tertawa. Pikiran saya langsung bekerja seperti mesin pemindai, mencocokkannya dengan ingatan lama."
Damar meletakkan tusuk sate yang sudah bersih ke atas meja dengan bunyi ketukan kecil. "Itu karena kamu membiarkan sistem berpikirmu dikuasai oleh mode malas. Membandingkan itu kerjaan paling mudah bagi otak yang enggan membuka lembaran baru. Kamu tinggal ambil data lama, lalu tempelkan ke objek baru. Begitu tidak pas, kamu langsung mengeluh. Padahal, objek baru itu punya keunikan sendiri yang tidak ada di data lamamu. Kamu saja yang menutup mata karena matamu masih silau oleh masa lalu."
Yu Sum, yang kebetulan lewat membawa baki kosong setelah mengantarkan pesanan ke meja sebelah, berhenti sejenak di dekat mereka. Dia tersenyum melihat Gani yang penampilannya sudah jauh lebih segar dibandingkan saat di warung terminal siang tadi.
"Nah, ngono lho, Le. Nek mangan kuwi sing lahap, ra sah karo ngalamun. Urip kuwi sawang-sinawang. Sing mbok anggep ilang kuwi urung karuan dadi kapitunanmu, lan sing teko anyar kuwi urung karuan dadi bebbanmu. Sing nrimo, sing jembar dadane, lakonono wae sing ono ing ngarep moto," tutur Yu Sum dengan nada ramah penuh ketenangan khas orang tua yang kenyang makan asam garam kehidupan, lalu melanjutkan langkahnya menuju dapur.
"Jelas sekali kan kata Yu Sum?" Damar menunjuk Gani dengan jarinya. "Jangan membebani orang baru dengan tugas berat untuk menyembuhkan lukamu. Orang baru itu datang untuk membangun cerita baru, bukan untuk menjadi tukang tambal ban dari hubunganmu yang sudah bocor di tengah jalan. Kalau kamu belum selesai dengan urusan lamamu, jangan seret orang lain masuk ke dalam lingkaran setannya. Itu namanya egois."
Gani terdiam, menikmati kesegaran es jeruknya yang mengalir melewati kerongkongan. Kalimat-kalimat Damar malam ini terasa seperti hantaman palu yang presisi, menghancurkan sisa-sisa pembenaran diri yang selama ini dia rawat. Tidak ada kata-kata puitis yang mendayu, tidak ada kalimat mutiara yang melayang di awang-awang. Semuanya membumi, berbasis pada realitas sehari-hari yang keras namun menyelamatkan.
"Kadang saya merasa takut, Mar. Takut kalau ternyata saya tidak akan pernah bisa menemukan kenyamanan yang sama lagi dengan orang lain," aku Gani, kali ini tanpa rasa gengsi.
"Memang tidak akan pernah ada kenyamanan yang sama, Gan. Catat itu baik-baik di kepalamu," sahut Damar tegas. "Setiap orang itu membawa paket yang berbeda. Kenyamanan dengan orang baru nanti bentuknya akan berbeda, rasanya berbeda, jalurnya juga berbeda. Kalau kamu terus mencari yang sama, sampai rambutmu memutih pun kamu tidak akan pernah menemukannya. Kamu hanya akan berputar-putar di tempat yang sama seperti komidi putar di pasar malam ini: bergerak terus tapi tidak pernah berpindah tempat."
Gani mengangguk pelan, menyuap potongan lontong terakhirnya dengan mantap. Perasaan sesak yang menyumbat dadanya sejak beberapa minggu lalu perlahan-lahan mulai menguap, berganti dengan kesadaran baru bahwa hidup tidak berhenti hanya karena satu bab cerita telah selesai ditulis.
"Saya paham sekarang, Mar. Masalahnya bukan pada orang-orang yang datang setelah dia, tapi pada pintu hati saya yang sengaja saya gembok dari dalam sambil berharap kunci lamanya dikembalikan," kata Gani dengan senyum tipis yang tulus.
"Nah, itu namanya peningkatan kapasitas otak," Damar tertawa renyah, menepuk punggung Gani hingga temannya itu hampir tersedak es jeruk. "Sudah, selesaikan minummu. Warungnya sudah mau tutup, dan kita harus pulang untuk istirahat. Besok pagi orderan servis motor di bengkel sudah mengantre sejak subuh."
Mereka berdua berdiri dari meja makan, membayar total tagihan kepada penjual sate, lalu berjalan beriringan membelah keramaian malam pasar yang mulai menyusut. Di bawah pendar lampu jalanan kota yang temaram, langkah kaki Gani tidak lagi terdengar ragu. Irama langkahnya kini selaras dengan kenyataan, siap menghadapi hari esok tanpa harus membawa beban dari masa lalu yang memang sudah seharusnya ditinggalkan di belakang.
Jalanan depan bengkel malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Sisa hujan gerimis menyisakan aspal basah yang memantulkan cahaya lampu merkuri berwarna kuning keemasan. Gani berdiri di ambang pintu besi bengkel yang sudah tertutup rapat, memegang kunci gembok besar di tangannya. Dia tidak langsung pulang, melainkan menatap lurus ke arah seberang jalan, tempat sebuah halte bus kota berdiri sepi.
Damar keluar dari gang sebelah sambil menuntun sepeda motornya yang bersuara ngebass halus. Dia berhenti tepat di samping Gani, mematikan mesinnya, lalu menurunkan standar samping.
"Masih di sini saja? Menunggu bus jurusan masa lalu lewat lagi?" tanya Damar sambil melepas helm halfface miliknya.
Gani menoleh, lalu terkekeh pelan. Dia memasukkan kunci gembok ke dalam saku celana kerjanya. "Bukan, Mar. Cuma menikmati rasanya kepala yang sudah tidak bising lagi. Rasanya aneh, biasanya jam segini otak saya sibuk bikin skenario kilas balik."
"Ya bagus kalau sudah sepi. Otak itu gunanya buat berpikir ke depan, bukan buat jadi bioskop pemutar film jadul yang pitanya sudah kusut," Damar mengambil sebatang rokok dari saku jaketnya, menyalakannya dengan sekali klik korek api gas. "Kamu sudah sadar kan kalau semua orang yang kamu temui setelah dia itu tidak ada yang salah? Yang salah itu caramu menaruh ekspektasi. Kamu menuntut buah mangga punya rasa yang sama dengan buah durian yang pernah kamu makan dulu. Ya sampai kiamat tidak bakal ketemu rasanya."
"Iya, Mar. Saya sadar sekali sekarang," Gani bersandar pada pintu besi bengkel, melipat tangan di dada. "Semua orang memang tidak sama. Kemarin saya yang bodoh, mengira keunikan orang lain sebagai sebuah kekurangan hanya karena tidak mirip dengan apa yang sudah biasa saya rasakan."
Kang Dadang keluar dari pintu samping bengkel sambil menggendong tas ransel kecilnya. Dia mengenakan jaket parasit tebal dan kupluk rajut hitam. Melihat kedua anak muda itu masih nongkrong, dia menghentikan langkahnya sejenak.
"Tah, bener kitu, kasep. Hirup mah tong dijieun pusing ku nu geus euweuh. Lamun dunya nembongkeun jalan nu beda, tuturkeun we jalanna kalayan hate anu ihlas. Sabab kumbah-kumbah hate teh leuwih penting batan kumbah suku memeh sare. Sing tenang, sing percaya, kahadean bakal datang dina rupa anu anyar," ucap Kang Dadang sambil menepuk-nepuk pundak Gani dengan telapak tangannya yang kasar namun terasa hangat penuh ketulusan, sebelum akhirnya melangkah pergi menuju pangkalan angkot di ujung jalan.
"Dengar itu nasihat terakhir dari pakar kehidupan bengkel," Damar tersenyum sambil mengembuskan asap rokoknya ke udara malam. "Perbedaan itu bukan kutukan, Gan. Perbedaan itu yang bikin hidup ini punya banyak rasa. Kalau semua perempuan di dunia ini sifat dan gayanya sama dengan mantanmu, kamu tidak bakal belajar caranya jadi dewasa. Kamu cuma bakal jadi anak manja yang mendekam di zona nyaman yang sebetulnya sudah usang."
Gani menarik napas dalam-dalam, merasakan udara malam yang bersih mengisi paru-parunya. Tidak ada lagi rasa sesak yang menyumbat dadanya. Bayangan wajah dari masa lalu itu masih ada di dalam ingatannya, tetapi kali ini hanya sebagai sebuah gambar diam di dalam album tua, bukan lagi sebuah hantu yang mengacaukan langkah kakinya.
"Mar, terima kasih ya. Sering kali kalimatmu itu bikin telinga panas, tapi ternyata itu obat paling mujarab buat otak yang sedang korslet," kata Gani tulus, menatap sahabatnya yang selalu siap sedia menyentil logikanya yang miring.
"Sudah kewajiban saya sebagai teman yang waras buat menjaga temannya yang hampir gila karena urusan asmara," Damar memakai kembali helmnya, lalu menyalakan mesin motornya dengan sekali tekan tombol starter. "Sudah malam, ayo pulang. Besok pagi kita harus ganti oli truk tronton. Tenagamu harus penuh, jangan sampai besok kamu lemas cuma karena begadang memikirkan teori perbedaan manusia."
Gani tertawa lepas, sebuah tawa yang sudah lama tidak terdengar dari mulutnya selama beberapa bulan terakhir. Dia melangkah mendekati motornya sendiri yang terparkir di pojok teras bengkel.
"Ayo jalan, Mar. Besok saya pastikan kerjaan saya beres tanpa ada adegan melamun lagi," ujar Gani sambil memakai helmnya.
Kedua motor itu kemudian bergerak beriringan membelah keheningan malam kota, meninggalkan area bengkel yang kini sepenuhnya gelap. Di bawah langit malam yang perlahan mulai bersih dari awan mendung, Gani memacu motornya dengan pandangan lurus ke depan. Dia tahu jalan di hadapannya mungkin tidak selalu mulus, tetapi dia tidak takut lagi, karena kini dia melangkah dengan hati yang utuh, siap menerima siapapun yang akan datang membawa warna baru dalam lembaran hidupnya yang baru saja dimulai kembali.