Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
AKU sedang menjemur pakaian ketika motor asing berhenti tepat di depan rumah. Lelaki paruh baya berjaket oranye mengangguk kepadaku, lantas membuka maskernya.
“Atas nama Riz? Blok D4?”
Aku mengangguk sembari mengingat-ingat adakah pesanan paket dari toko online yang belum kuterima. Sebelum kudapatkan jawabannya, lelaki itu turun dari motor membawa kresek hitam.
“Ini pesanannya, Kak.”
“Saya enggak pesan makanan, Pak.”
Ia menggulir layar ponsel, lalu tersenyum menyeringai. “Akun yang pesan atas nama Cak. Pacarnya, ya?”
Segera kubuka bungkusan itu yang lantas menguarkan aroma gurih santan bercampur plastik kepanasan. Sontak senyumku membumbung hingga tak menyadari lelaki itu telah pergi. Aku bahkan tak sempat mengucapkan terima kasih.
Baru beberapa menit lalu ia, Cak, mengirimkan foto sedang sarapan bubur kacang hijau. Kakinya sedang cedera, badannya meriang, dan tidak nafsu makan. Melihat fotonya yang meski buram, tapi tetap menggiurkan itu, aku jadi kepengin juga. Sudah lama aku tidak makan bubur kacang hijau dan ketan hitam. Akan tetapi, kusampaikan kepadanya bahwa belakangan ini cuaca sangat terik sehingga malas ke pasar untuk membeli bahan—memang aku terlalu konservatif dan merasa memasak sendiri bisa lebih worth it. Padahal sebenarnya ada alasan lain.
Belum sempat aku mengirim pesan konfirmasi, notifikasi atas namanya sudah berdenting di layar.
—
Cak (emoji cinta)
Selamat makan, Sayang. Untukmu dan adikmu. Sorry agak lama, ya. (Dua emoji cinta)
—
Aduhai, mengapa ia manis sekali?
Segera aku ke dapur menyiapkan dua mangkok dan dua sendok. Mengabaikan setengah ember cucian yang belum selesai dijemur. Menuangkan bubur kacang hijau dan ketan hitam yang kental dan legit, lalu mengucurkan santan cair yang tak lagi murni sebab produk turunan kelapa sedang sangat mahal.
Zky, adikku, sangat antusias. Sebab bubur kacang hijau juga menu favoritnya. Dia memang menyukai segala hal yang kusukai. Aku tak langsung menyantapnya, foto lebih utama. Meski kameraku juga tak begitu jernih. Setidaknya sebagai dokumentasi betapa Cak—lelaki yang sangat tidak romantis itu—memperhatikan detail kecil dari ucapanku.
“Mungkin akan lebih nikmat jika ia juga ada di sini sekarang.” Kucoba menghalau pikiran itu. Aku sedang bahagia dan tak ingin ada kesedihan abstrak yang merusaknya.
Satu. Dua. Tiga. Empat. Dan lima. Suap demi suap melesat ke badan. Menghangatkan tenggorokan dan perut dalam. Aku menyantapnya pelan-pelan, bukan karena ingin meromantisasi semangkuk bubur, tetapi aku baru saja selesai sarapan. Dan liurku terlalu tak sabar untuk menunggu perut agak kosong.
Pada suapan kesekian, baru kusadari bukan organ pencernaanku saja yang menghangat. Kelopak dan pipiku juga. Seketika dadaku sesak seiring luka mencekat kerongkongan. Tiba-tiba saja aku melepaskan sendok dari genggaman, tak sanggup melanjutkan makan. Memori sialan sekonyong-konyong membawaku ke masa yang sebetulnya tak sudi kuingat.
Dulu, saat masih tinggal bersama Nenek di Semarang, tiap Minggu pagi kami akan berjalan kaki menuju Bandara Ahmad Yani. Menyaksikan satu per satu pesawat lepas landas dari pendopo yang memang sudah disediakan. Saat matahari mulai cemlorot, sekitar pukul 8.30, kami akan pulang dan mampir ke pasar Kalibanteng.
Aku minta dibelikan seporsi bubur kacang hijau dan ketan hitam yang kental dan legit. Selalu dan tak pernah bosan. Dulu mangkal di samping Museum Ranggawarsita, lalu pindah di depan gereja di belakang museum. Karena aku tak nafsu sarapan, Nenek merasa bubur kacang hijau adalah solusi paling baik. Kenyang, bergizi, happy. Nenekku itu, seperti nenek pada umumnya, tidak suka anak-cucunya menjalani hidup dengan perut kosong. (Meski seringkali ia menahan lapar demi memastikan seluruh orang di rumah kebagian makanan.)
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Kelas 4 SD, ibuku yang tinggal di desa melahirkan. Aku dipaksa kembali tinggal di desa menjijikkan yang memandangku sebagai anak asu. Meninggalkan Nenek. Meninggalkan Om Kacang Ijo. Meninggalkan rutinitas dimanjakan sebagai cucu dan keponakan kesayangan.
Dan, seketika, aku berubah status dari “anak asu” menjadi “kakak perempuan pertama”. Status yang tak pernah kuinginkan. Status yang sekaligus memberiku segudang beban. Status yang memaksaku langsung menjadi profesional saat mengembannya. Tanpa aba-aba, tanpa bimbingan, tanpa briefing.
Aku harus menjadi kakak yang baik. Aku harus mau diganggu adik. Aku harus bersedia menemaninya. Aku harus bisa merawatnya. Aku harus menjadi contoh dan teladan yang bajik dan bijaksana. Dan masih banyak lagi aku harus-aku harus lainnya.
Jika aku enggan menemani adikku selama Ibu ke kamar mandi karena aku mau mengerjakan PR, berarti aku bukan kakak yang baik. Jika adik menangis saat sedang bersamaku, berarti aku kakak yang jahat. Jika adik terjatuh saat tidak bersamaku, berarti aku yang salah entah apa alasannya. Jika aku meminta terlalu banyak jajan, aku bukan anak yang pengertian dengan kondisi keuangan keluarga.
Aku harus berhemat. Jika ingin sesuatu, aku harus menabung sendiri dari uang saku yang tak seberapa itu. Jika ada iuran sekolah, aku harus membayarnya dengan cubitan di pupu hingga membiru serta omelan semalam suntuk—pagi harinya, uang iuran itu akan dilemparkan tepat di mukaku saat berpamitan.
Dan aku tidak boleh menangis. Orang tuaku tidak suka aku menangis. “Kami tidak pernah mengajarimu jadi anak cengeng!” katanya. Namun, mereka juga tidak pernah mengajariku cara menjadi anak, apalagi cara menjadi kakak. Aku dituntut mahir dan menguasai segalanya saat itu juga.
Jadi, kutelan saja segalanya sendirian. Sambil menggendong adikku yang gemar menangis—dan boleh menangis. Sejak ia lahir, aku tidak bisa leluasa bermain dengan teman-teman. Selain merepotkan, aku juga harus merelakan uang sakuku untuk membelikannya jajan. Menurut Ibu, adikku masih kecil, tak perlu uang saku. Ia tak tahu dan tak mau tahu bahwa anak keduanya itu selalu seperti anak yang tak pernah diberi makan. Rakus bukan main. Jika uangku habis dan pulang dengan membawa adik yang menangis, lagi-lagi pahaku dicubit dan dipelintir hingga aku meringis menahan tangis.
Selain loyal, aku juga harus serba mengalah. Mengalah jika perhatian semua orang kini berpusat kepada adikku. Mengalah ketika semua orang melupakan namaku dan memanggil dengan sebutan “kakaknya Ran”. Mengalah tidak mendapat jatah makanan—inilah yang paling menyebalkan.
Tiap Ibu pulang arisan dan pengajian pasti membawa kotak berisi aneka jajanan pasar. Sejak adikku bisa makan, semuanya diberikan kepadanya. Meski dalam satu kotak ada tiga hingga lima jenis jajanan, aku tak pernah satu pun kebagian.
“Kamu kan sudah 11 tahun, sudah sering makan. Biarkan makanan itu jadi pengalaman baru untuk adikmu,” begitu katanya. Dan aku tak bisa membantah.
Pernah suatu ketika, saat adikku sedang tidur, seorang tetangga memberi bancakan bubur kacang hijau. Kental dan legit. Sudah sekitar satu tahun aku tidak memakannya! Mumpung Ran sedang tidur, ini bisa jadi kesempatanku untuk melahap semuanya. Atau setidaknya sebagian, nanti Ran kusisakan.
Baru saja aku mengambil sendok dan bersiap menyerok, bapak Ran keluar kamar dan menatapku gahar.
“Buat adikmu!”
“Dia kan tidur!”
“Ya buat nanti, kalau dia sudah bangun.”
Tanpa jawaban, aku membanting sendok ke dalam mangkok. Membiarkannya begitu saja seiring lelaki tua itu murka. Aku pergi ke ujung gang, memanjat pohon kersen, sambil menahan sesenggukan. Aku jadi teringat, sebelum merengek minta tinggal dengan Nenek, seluruh memoriku penuh dengan makian. Anak anjing. Aku anak anjing. Riz si anak asu. Namun, kata yang sama tak pernah sekali pun kudengar dari mulut mereka kepada Ran. Apa bedanya? Padahal ia suka menggonggong tengah malam (menangis), menggigiti tulang, dan ilernya berleleran. Seharusnya ia yang lebih pantas menyandang predikat itu. Bukan aku.
Aku juga menangis karena rindu Nenek. Rindu Om dan Tante. Rindu teman-teman di sekolahku yang dulu. Rindu Bandara. Rindu Om Kacang Ijo. Rindu setiap detail hidupku yang bahagia. Bukan yang seperti ini, yang merasa tak nyaman bahkan di rumah sendiri, bersama (yang katanya) keluarga inti.
Setelah tangisku mereda, aku kembali pulang. Berniat mengerjakan soal-soal LKS, mencari kesibukan agar tidak diributi dengan anak itu. Namun, ketika sampai di ambang pintu, kulihat Ibu sedang duduk di ruang tamu. Ia hanya melirikku sekilas, lalu kembali bercengkrama dengan suaminya. Laki-laki itu telanjang dada, duduk bersila, sedang menyeruput bubur kacang hijau dengan asyiknya.
“Katanya buat Ran?”
“Ran enggak mau,” jawab ibuku.
“Tadi aku mau makan enggak boleh, sekarang malah dihabiskan dia!” Kedua mataku mulai berkaca-kaca.
“Riz! Sudah berapa kali Ibu bilang? Enggak boleh panggil bapakmu dengan dia.”
“Aku enggak dapat makanan, tapi Ibu malah bahas caraku panggil dia?”
“Jawab terus!”
“Emang kurang ajar tuh,” ujar lelaki itu dengan senyum menjijikkan. Mencoba memanasi ibuku yang mudah terbakar.
“Orang cuma kacang ijo kok teriak-teriak, nangis-nangis. Malu-maluin aja!”
Aku tak menjawab. Langsung berlari ke kamar dan membanting pintu. Ibu berteriak lebih lantang, mengabsen nama-nama binatang hutan. Dan ternyata itu baru permulaan, sebab berikutnya, lebih banyak kekecewaan yang harus kutelan. Kini aku bukan saja harus mengalah demi adik yang tak pernah kuinginkan, tetapi juga mengalah untuk laki-laki yang belakangan sering kusebut “bajingan”.
Sejak saat itu pula aku berhenti makan bubur kacang hijau. Seenak dan semenggiurkan apa pun. Melihatnya saja langsung membuat dadaku sesak.
Namun, Cak lain. Cintanya membuatku lupa. Kasihnya melapangkan dadaku. Mengingatkanku betapa nikmatnya bubur kacang hijau dan ketan hitam yang kental legit dan disiram santan gurih cair.
***
Kdl, 22.05.2026