Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Buah Hatiku
1
Suka
4,930
Dibaca

Aku memejamkan mata, membiarkan aroma kopi dan hujan di luar jendela menyelimutiku. Di sudut ruangan, jarum jam berdetak pelan, setiap detik terasa seperti palu godam yang memukul tulang rusukku, mengingatkanku pada waktu yang terus berjalan. Waktu yang sia-sia, setidaknya dalam pandanganku.

Namaku Husna, dan aku adalah seorang wanita yang di mata banyak orang memiliki segalanya. Suami yang mencintaiku, rumah yang nyaman, dan karier yang menjanjikan. Tapi setiap manusia memiliki kekurangan, di lubuk hatiku ada lubang menganga yang hanya bisa diisi oleh satu hal. Seorang anak.

Lima tahun. Lima tahun pernikahan yang bahagia dengan In’am, suamiku, dan lima tahun penantian yang menyakitkan. Lima tahun mencoba berbagai posisi, berbagai jadwal, berbagai mitos dan saran. Setiap dzikir dan sujudku hanya meminta kehadiran tawa seorang bayi mungil dirumah kami. Lima tahun menghadapi tatapan penuh tanya, baik yang terselubung dalam empati palsu maupun yang terang-terangan menghakimi.

“Kalian sudah lama menikah, kapan mau punya momongan?” Pertanyaan klise itu adalah lagu yang paling kubenci.

Awalnya, aku menjawab dengan senyum cerah, “Doakan saja, Tante.”

Tahun kedua, senyumku mulai memudar. “Belum rezeki, mungkin kami mau menikmati masa berdua dulu.”

Tahun ketiga, aku mulai menghindari pertemuan keluarga.

Dan di tahun kelima ini, aku hanya bisa menunduk, merasakan air mata yang siap tumpah setiap kali pertanyaan itu muncul. Aku sudah melalui semuanya. Tes kesuburan yang menyakitkan, analisis sperma In'am yang ternyata baik-baik saja, siklus pil yang membuatku mual, dan terapi hormon yang membuat berat badanku naik turun tak menentu. Setiap bulan adalah drama. Aku akan menghitung hari ovulasi dengan cermat, berharap, bercinta dengan penuh harapan, dan kemudian menunggu. Menunggu jeda yang terlalu lama, berharap mual dan kelelahan bukan hanya karena gejala PMS biasa.

Darah yang datang tepat waktu, lagi dan lagi. Setiap kedatangan ‘tamu bulanan’ terasa seperti pukulan telak. Aku akan mengurung diri di kamar mandi, menangis tanpa suara. Kegagalan. Kata itu terasa begitu melekat padaku, seperti label yang tidak terlihat, tapi terasa begitu nyata.

In'am selalu ada. Suamiku adalah pelabuhanku. Pria tinggi dengan senyum hangat itu tidak pernah menuntut. Dia tidak pernah menyalahkanku, meskipun dokter mengatakan masalahnya lebih cenderung padaku, rahimku yang agak ‘rewel’, lapisannya yang terlalu tipis, atau keseimbangan hormon yang kacau.

“Sayang,” katanya suatu malam, memelukku erat saat aku menangis di bahunya, “kita punya satu sama lain. Kalau Tuhan tidak mengizinkan, ya sudah. Kita bisa adopsi, atau kita bisa menjadi pasangan yang bahagia tanpa anak. Kamu sudah cukup bagiku, Husna.”

Kata-katanya menenangkan, tapi juga menorehkan luka. Aku tahu dia tulus, tapi sebagai seorang wanita, sebagai seorang istri, aku merasa gagal memberinya seorang anak, pewaris namanya. Aku tahu dia juga mendambakan seorang anak. Matanya akan berbinar setiap kali melihat anak kecil, dan dia selalu menjadi paman favorit untuk keponakan-keponakannya.

Keputusan terbesar datang di akhir tahun kelima. Kami memutuskan untuk mencoba Inseminasi Buatan (IUI) untuk ketiga kalinya, dengan dosis hormon yang lebih kuat, sebagai persiapan untuk lompatan terakhir, Bayi Tabung (IVF), jika ini gagal lagi.

“Ini yang terakhir, sayang,” kataku saat kami menandatangani formulir persetujuan. “Kalau gagal lagi, aku mau kita berhenti. Aku tidak kuat lagi.”

In'am menggenggam tanganku. “Aku akan selalu di sisimu, apa pun hasilnya.”

Prosedur IUI kali ini terasa lebih berat. Suntikan hormon membuatku sensitif, mudah marah, dan mudah menangis. Aku merasa tubuhku dipermainkan oleh sains, oleh jarum suntik, dan oleh harapan palsu.

Dua minggu menunggu, kali ini, terasa seperti dua abad. Aku tidak berani berharap. Aku menyibukkan diri, mencoba untuk mengabaikan setiap gejala yang kurasakan.

Lalu, hari yang ditakdirkan tiba. Pagi itu, di kamar mandi, aku memandang test pack dengan jantung berdebar kencang. Aku sudah melakukannya ribuan kali. Hasilnya selalu sama. Satu garis tegas, satu penolakan. Aku menghela napas, bersiap untuk melihat hasilnya. Tapi kali ini, ada yang berbeda. Di samping garis kontrol yang jelas, ada garis kedua. Tipis. Sangat tipis. Tapi ada!

Tanganku gemetar. Aku menyipitkan mata, mengira itu hanya bayangan atau ilusi cahaya. Aku berlari ke laci, mengambil test pack lain, lalu yang ketiga, yang keempat. Semua menunjukkan hasil yang sama.

POSITIF.

Aku menjatuhkan alat itu ke lantai keramik. Udara di paru-paruku terasa sesak. Itu bukan air mata sedih, itu isakan bahagia yang tertahan. Aku berlutut, menutupi mulutku agar tidak berteriak. In'am terbangun karena mendengar is akan tangisku. Dia berlari masuk, wajahnya panik. “Sayang, ada apa?!” Aku hanya bisa menunjuk ke lantai, ke empat alat tes kehamilan yang berserakan. In'am mengambilnya, satu per satu. Matanya membulat. Dia melihatku, senyumnya perlahan-lahan merekah, kemudian tawa pecah dari bibirnya. Dia menarikku ke pelukannya, memutar tubuhku.

“Husna! Subhanallah husna! Kita berhasil! Kita berhasil!”

Kami tertawa, kami menangis, berpelukan di lantai kamar mandi yang dingin. Setelah lima tahun, penantian itu berakhir. Keajaiban itu ada, bersembunyi di dalam diriku.

Sembilan bulan. Itu adalah masa-masa terindah dalam hidupku. Setiap morning sickness, setiap rasa mual, setiap tendangan kecil yang kurasakan, adalah hadiah yang tak ternilai.

Aku dan In'am sibuk mendekorasi kamar bayi. Cat warna mint yang menenangkan, pernak-pernik beruang, dan sebuah buaian kayu antik yang kami beli dari supermarket, yang kemudian kami pernis ulang bersama. Aku akan duduk berjam-jam di kamar itu, berbicara pada mukjizat di rahimku.

“Hai, Nak. Ini Umi. Kamu harus tahu, Umi dan Abi sangat mencintaimu. Kami menunggumu sangat lama, Nak. Lima tahun. Jangan nakal di dalam, ya. Tendang yang kuat biar Umi tahu kamu baik-baik saja.”

In'am menjadi suami paling protektif di dunia. Dia melarangku mengangkat beban berat, memastikan aku makan makanan bergizi, membacakan ayat-ayat suci dan selalu memijat kakiku yang membengkak di malam hari. Dia akan menempelkan telinganya di perutku, mencoba berbicara dengan si utun.

“Halo, kesayangan Abi! Kamu harus kuat, seperti Umi. Abi sudah siapkan banyak boneka dan buku cerita untukmu.”

Segala ketakutan dan kegagalan masa lalu terasa terobati. Aku menjalani kehamilan dengan penuh sukacita. Aku melakukan semua saran dokter, mengikuti kelas yoga hamil, dan membaca semua buku parenting. Aku, Husna, akhirnya akan menjadi seorang Ibu.

Trimester ketiga datang, dan seiring dengan perutku yang membesar, muncul pula komplikasi.

“Tekanan darah Ibu sedikit tinggi, Bu,” kata dokter kandunganku, dr. Rina, dengan nada khawatir. “Kita harus lebih memantau. Ini adalah gejala awal preeklamsia.”

Preeklamsia. Aku tahu itu adalah kondisi serius. Aku berusaha tetap tenang, melakukan diet rendah garam, dan membatasi aktivitas.

“Bayinya baik-baik saja, kan, Dokter?” tanyaku panik.

“Sejauh ini detak jantungnya bagus, dan pertumbuhannya masih sesuai usia. Tapi kita harus mewaspadai kondisi Ibu. Preeklamsia bisa memengaruhi plasenta dan perkembangan janin, dan yang paling penting, bisa berbahaya bagi Ibu.”

Ketakutan kembali menyelimutiku. Setelah penantian panjang ini, aku tidak boleh kehilangan bayi yang kunantikan. Beberapa minggu terakhir kehamilan terasa seperti berjalan di atas tali. Tekanan darahku terus naik, dan kakiku membengkak seperti balon. Aku mulai mengalami sakit kepala hebat. Dokter memutuskan untuk memonitor kondisiku secara ketat dan memberikan tanggal induksi.

“Kita harus melahirkan bayinya sebelum kondisi Ibu memburuk lebih jauh,” ujar dr. Rina.

Hari itu tiba.

Aku berbaring di tempat tidur rumah sakit, memegang erat tangan In'am Perutku yang besar terasa sangat berat. Jarum infus tertanam di punggung tanganku.

“Kita akan bertemu si utun hari ini, Sayang,” bisik In'am, mengecup keningku. Matanya berkaca-kaca karena bahagia sekaligus khawatir.

“Aku takut,” kataku, suaraku bergetar.

“Jangan takut, aku di sini. Fokus, sayang. Kita akan melalui ini bersama.”

Proses induksi terasa sangat lambat. Kontraksi datang, perlahan-lahan. Awalnya terasa seperti kram ringan, kemudian meningkat menjadi rasa sakit yang menusuk. Aku menggenggam tangan In'am begitu erat hingga buku-buku jariku memutih.

Setelah berjam-jam, rasa sakit itu tak tertahankan. Aku sudah mencapai batas kekuatanku. Namun, di tengah semua rasa sakit dan kelegaan yang datang bergantian, ada rasa aneh. Tubuhku terasa berat, seperti ditarik ke bawah oleh gravitasi yang berlipat ganda. Aku merasa pusing, penglihatanku mulai kabur.

“Sakit kepalaku parah sekali, ya Allah…” rintihku.

Perawat itu memeriksa tekanan darahku dan matanya membelalak.

“Tekanan darahnya sangat tinggi, Dokter!” teriaknya.

Wajah dr. Rina yang biasanya tenang kini terlihat tegang.

“Bu Husna, kamu harus mendorong! Segera! Kita harus segera mengeluarkan bayimu!”

Rasa sakit kembali menyeruak, lebih hebat dari sebelumnya. Aku tidak lagi merasakan kaki atau pinggulku, hanya rasa sakit yang membakar di seluruh tubuh. Aku mengerahkan seluruh sisa tenaga, membayangkan wajah si utun.

“Dorong, Bu! Lebih kuat lagi!”

Aku mendorong. Aku menjerit. Aku berjuang, bukan hanya untuk Si Utun, tapi juga untuk diriku sendiri. Lima tahun penantian, lima tahun kerinduan, semuanya kuubah menjadi kekuatan dorongan itu.

Tiba-tiba, sebuah suara bergema di ruang bersalin. Tangisan! Tangisan nyaring dan kuat.

“Selamat, Bu! Bayi Ibu perempuan! Bayi perempuan yang sehat!”

Seketika, rasa sakitku menghilang. Dunia terasa hening, digantikan oleh suara tangisan itu. Aku membuka mata, melihat In'am menangis tersedu-sedu, mencium tanganku.

“Kita punya anak perempuan sayang, matanya sangat mirip denganmu! Kita berhasil!”

Seorang perawat meletakkan bayi kecil, merah, dan menakjubkan di dadaku. Wajahnya mungil, matanya terpejam, dan dia terus menangis.

Aku mengulurkan tangan, menyentuh kulitnya yang lembut. Dia nyata. Dia adalah Anakku.

“Halo, sayang” bisikku, air mata bahagia membasahi pipiku. “Umi sudah menunggumu, Nak. Umi mencintaimu.”

Aku menatap In'am Matanya memancarkan kebahagiaan murni, kebahagiaan yang selama lima tahun ini kami cari bersama.

Detik berikutnya, semua menjadi kabur.

Aku merasakan nyeri hebat di bagian perut. Bukan nyeri kontraksi, tapi nyeri yang dingin dan menusuk. Aku merasakan cairan hangat membanjiri tempat tidur.

“Pendarahan!” Suara dr. Rina terdengar panik. “Pendarahan hebat! Kita kehilangan terlalu banyak darah!”

Aku melihat In'am. Wajahnya langsung pucat pasi. Dia memegang erat tanganku.

“Husna, tetaplah bersamaku! Hei, lihat aku!”

Aku mencoba untuk fokus padanya, tapi penglihatanku berputar. Suara-suara di ruangan itu menjadi samar. Aku merasakan sensasi dingin menjalar dari perut ke seluruh tubuh. Aku merasa mulai dikuliti dari ujung kaki. Aku tahu apa yang sedang terjadi. Tubuhku sudah kelelahan. Preeklamsia, persalinan yang sulit, dan sekarang, pendarahan pascapersalinan.

Aku tidak bisa bernapas. Rasanya seperti ada beban batu di dadaku.

Aku mencoba berbicara, mencoba mengatakan sesuatu yang penting pada In'am, pada anak kami, tapi suaraku hanya berupa bisikan lemah.

Aku tahu aku tidak punya banyak waktu. Aku mengerahkan sisa tenaga terakhirku. Aku meraih tangan In'am, dan dengan mata yang mulai sayu, aku menatapnya.

“Sayang… Jaga dia… berikan dia… semua cintaku…”

Lalu, aku kembali menatap anakku. Dia sudah berhenti menangis dan sekarang hanya mengeluarkan suara rengekan kecil di pelukanku. Aku melihat wajahnya. Wajah yang sempurna, yang menjadi penantian lima tahun hidupku.

Senyum kecil muncul di bibirku. Sebuah senyum damai, karena aku tahu, tujuanku sudah tercapai.

Aku adalah seorang Ibu. Aku melahirkannya.

Aku menutup mata, membiarkan kegelapan dan kehangatan mengambil alih. Hal terakhir yang kudengar adalah suara In'am yang meneriaki namaku, dan tangisan bayi kami.

Aku menggenggam tangan Husna, buku-buku jariku memutih. Bau antiseptik dan keringat bercampur di udara. Di luar jendela, langit Jakarta masih gelap, tapi di ruang bersalin ini, segalanya terasa begitu terang, begitu nyata.

“Sakit, Ya Allah... sakit sekali...” rintih Husna.

Wajahnya sudah basah oleh keringat dan air mata, tapi matanya masih fokus padaku. Dalam pandangannya, aku melihat campuran antara rasa sakit yang luar biasa dan harapan yang membuncah, harapan yang telah kami pupuk selama lima tahun penuh kesabaran, penuh keputusasaan, dan penuh doa.

“Tarik napas, Sayang. Tarik napas. Aku di sini. Sebentar lagi, Si Utun akan datang. Kamu kuat, Sayang,” bisikku, mengusap pelipisnya.

Proses induksi berjalan lambat, lalu tiba-tiba, menjadi intens. Tekanan darah Husna terus dipantau, dan setiap kali perawat membacakan angkanya, wajah Dokter Rina semakin tegang. Aku tahu preeklamsia itu mengintai, tapi aku berusaha keras untuk mengabaikannya. Fokusku hanya pada Husna, pada napasnya, pada detak jantungnya.

“Dorong, lebih kuat lagi!” seru Dokter Rina.

Husna mengerang, mengerahkan seluruh sisa tenaganya. Wajahnya memerah, urat-urat di lehernya menegang. Aku melihat betapa kerasnya dia berjuang, betapa kerasnya dia memenuhi janji pada dirinya sendiri untuk membawa anak kami ke dunia ini.

Tiba-tiba, teriakan panjang, nyaring, dan kuat memecah ketegangan.

“Owekkk! Owekkk!”

Air mata langsung membanjiri mataku. Itu adalah suara terindah yang pernah kudengar. Aku mendongak, melihat perawat mengangkat bayi kecil, merah, dan penuh kehidupan.

“Perempuan, Pak! Sehat!”

Aku menangis, tawa dan isakan bercampur aduk. Lima tahun. Lima tahun penantian berakhir pada tangisan mungil ini. Aku mencium kening Husna yang basah.

“Subhanallah Sayang! Kita berhasil! Kita berhasil!”

Husna tersenyum, senyum kelegaan, senyum seorang pemenang. Perawat meletakkan Bintang di dada Anya. Aku melihatnya, ia menatap bayi kami dengan mata penuh cinta tak terbatas.

“Halo, Sayang,” bisik Husna. “umi mencintaimu.”

Momen itu adalah puncak kebahagiaan. Sempurna. Penuh.

Lalu, surga itu runtuh.

Aku mendengar suara panik. Tidak lagi suara kebahagiaan, melainkan desakan dan perintah medis yang tergesa-gesa.

“Pendarahan! Postpartum hemorrhage!”

Aku melihatnya. Darah mengalir tak terkendali. Aku melihat wajah Husna yang tadinya cerah, kini memucat dengan cepat. Sensasi dingin merayap di ruang bersalin.

“Husna, Sayang! Hei, lihat aku!”

Aku menggenggam tangannya, mencengkeramnya erat, mencoba menahan jiwanya agar tidak lepas. Dokter dan perawat bergegas. Infus, gunting, teriakan instruksi. Semuanya berputar-putar di sekitarku.

“Sayang… Jaga dia…”

Suaranya sangat lemah, hanya bisikan. Matanya yang sayu berusaha keras menatapku, menanamkan pesan terakhirnya.

“...berikan dia… semua cintaku…”

Itulah kalimat terakhirnya.

Genggaman tangannya tiba-tiba lemas. Matanya terpejam, dan napasnya yang tersengal-sengal berhenti.

“Code Blue! Kita kehilangan pasien! Siapkan defibrillator!”

Aku menjerit. Aku berteriak memanggil namanya. Aku memeluk tubuhnya yang dingin, menolak melepaskan. Aku memohon pada Tuhan untuk mengambil segalanya dariku, asalkan dia hidup kembali.

“Tidak! Husna! Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan bayi kita! Kamu belum melihatnya tumbuh!”

Mereka menarikku menjauh. Aku melihat Dokter Rina menggelengkan kepala, air mata di matanya, dan dia menutup wajah Husna dengan kain putih. Sesaat wangi melati menyeruak keseluruh ruangan.

Bayi kami menangis nyaring, tangisan yang kini terasa seperti ratapan. Aku ambruk ke lantai, memeluk lututku, dan meraung seperti binatang yang terluka.

Di satu sisi ruangan ada keajaiban lima tahun penantianku. Di sisi lain, ada harga yang harus kubayar untuk keajaiban itu, kehidupan cintaku.

Keesokan paginya aku duduk disamping tubuh yang sudah dikafani. Aku sudah tidak memiliki air mata lagi. Yang ada hanya kekosongan yang membatu di dada. Aku memandangi wajahnya yang kini damai, terlalu damai. Ia terlihat seperti sedang tidur pulas setelah perjuangan yang sangat panjang. Aku mencium keningnya, kulitnya terasa dingin.

“Kamu penantianku, Husna,” bisikku, suaraku nyaris tak terdengar. “Dan sekarang, kamu adalah dukaku.”

Aku membaca surat yaasin berkali-kali sebelum ia dikuburkan. Sesekali aku melihat lagi wajahnya yang sudah pucat. Terlihat senyum tipis diwajahnya.

“Aku janji, aku akan mengurus anak kita. Aku akan menceritakan padanya, setiap hari, betapa gigihnya perjuangan ibunya, dan betapa besarnya cinta ibunya. Tunggu aku, Sayang.”

Aku masuk ke Liang lahat untuk membantu proses pemakaman. Satu persatu kayu yang kututup itu terasa seperti kunci yang mengunci hatiku. Prosesi pemakaman terasa seperti mimpi buruk yang diperlambat. Setiap langkah yang kuambil membawa jarak yang semakin jauh antara aku dan masa lalu kami.

Aku berdiri di tepi lubang gelap itu, suara tanah jatuh di atas kayu itu adalah suara paling mengerikan yang pernah kudengar. Duk! Duk! Setiap jatuhnya tanah adalah penegasan bahwa dia sudah pergi, bahwa rumah kami telah kehilangan kehangatannya, dan bahwa aku harus menjalani sisa hidupku sebagai ayah tunggal.

Aku mengambil segenggam tanah, tanah merah yang akan menjadi tempat istirahatnya. Aku maju, menjatuhkan tanah itu ke liang lahat.

“Aku mencintaimu, Husna,” bisikku ke udara, ke heningan yang menyesakkan.

Saat tumpukan tanah itu meninggi, membentuk gundukan makam, aku menyadari bahwa lima tahun penantian kami telah menghasilkan keajaiban, sekaligus tragedi.

Aku menatap batu nisan yang baru dipasang, yang kini terukir namanya.

Aku berbalik, meninggalkan liang lahat yang memeluk cintaku, membawa satu-satunya warisan yang tersisa, seorang bayi kecil bernama Yasmin, dan janji abadi yang harus aku tepati. Sekarang aku sadar bahwa Tuhan memberiku waktu lima tahun untuk bersama Husna. Yasmin sangat mirip dengan Husna. Mungkin ini juga cara Tuhan mengobati lukaku, atau mungkin juga Tuhan sedang menghukumku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Komik
Half Sweet Boy
Dita Anjelina
Flash
The Florist
Rahmatul Husni
Flash
Seharusnya, selesai.
Lisnawati
Cerpen
Buah Hatiku
OvioviO
Novel
BADMINTON COUPLE
Syahdan Pamungkas
Skrip Film
Tawanan 13 Tahun
Delpiariska
Cerpen
Ada Cinta Di Tayo
Devita Sukma Nur Alifa
Novel
Bronze
The Proposal-Be A Girl Friend
Eounyjeje
Skrip Film
The Taste of Vanilla
Angeline Stacia
Flash
Dia Bernama Lumi
lidia afrianti
Novel
Gold
Snow Flower and The Secret Fan
Mizan Publishing
Novel
MELTING ME SOFTLY
DW AMOUR
Novel
Mungkin Nanti, Anna
kound
Novel
Sang Mantan
Sashio02
Novel
Bukan Kamu
Kezia Dwita
Rekomendasi
Cerpen
Buah Hatiku
OvioviO
Novel
Suami
OvioviO
Cerpen
Persami
OvioviO
Cerpen
Mawar Senja
OvioviO
Novel
Gunung Wingit
OvioviO
Cerpen
Tulis!!!
OvioviO