Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di dinding sekeliling kamar, terdapat beberapa foto lelaki. Rupa sangat tampan bagaikan artis sinetron, hatinya juga sedingin salju. Pakaiannya juga modis dan juga dia suka menolong. Itulah sesosok pria yang diidamankan para gadis, kamu salah satu antaranya.
Setiap hari kamu memandangi wajahnya. Tak hanya itu saja, kamu juga mengirini pesan hanya sekedar basa-basi saja. Terkadang juga, ia mengirim sesuatu untukmu. Hal itulah yang membuatmu begitu tambah perhatian.
“Tok tok tok.”
Pintu kamar diketuk dari luar. Saat itu kamu sedang berganti pakaian. Dengan berburu-buru kamu menyelesaikan itu, walaupun hiasan tubuh masih belum rapi. Kamu segera membukakan pintu, di sana ibumu sedang berdiri memberikan sebuah surat undangan.
“Nak, ada teman yang mengundangmu,” katamu.
Karena tak ingin diketahui orangtuamu, kamu buru-buru mengambil undangan itu dan menutup pintu. Undangan kamu buka, ternyata itu undahan pernikahan. Covernya wajah yang kamu kenal yaitu kekasihmu sendiri. Namun, ada wanita lain di sana. Kamu tak percaya hal itu. Kemudian pandanganmu mengarah ke bawah. Tertulis nama sang mempelai, “Dika dan Putri.”
Betapa kacau pikiranmu. Orang yang selama ini kamu cintai ternyata memilih perempuan lain.
Hal yang pertama kamu lakukan tentu saja menangis keras, sampai-sampai keluargamu mendengarkan teriakmu. Mereka berusaha untuk menenangkanmu, tetapi kamu terus saja menangis. Air matamu terbuang begitu saja. Ayahmu balik memakimu dan hendak memukulmu karena kamu tak mau diam. Sang ibu pun sama.
Mereka sudah tak tahan lagi. Kamu dipukul beberapa kali, tetapi kamu tetap tak bisa diam. Ibu juga menyirammu dengan seember air dan kamu masih sama. Kamu terus saja menangis seperti orang kesurupan.
Hancur, itulah yang kamu rasakan. Hatimu terasa seperti diiris pisau dan ditusuk ribuan jarum tajam. Rasanya begitu dalam sampai ke dalam sumsum tulang. Tiada lagi bagian tubuh yang nyaman tanpa rasa sakit.
Sudah beberapa hari kamu tidak makan. Semua kerabat menjauh dan menganggapmu gila. Hanya kamu sendiri yang berada di tempat itu. Tiada makanan, minuman atau apapun di sana. Bahkan foto kekasihmu sudah dilenyapkan keluargamu karena dianggap menjadi sumber kesedihan.
Sang ibu lah yang pertama kali mendekatimu. Tangannya yang begitu hangat mengusap kepalamu di saat kamu masih bersedih.
“Nak, sudahlah. Kamu jangan menangis lagi. Apa yang membuatmu sedih?” tanya Ibu.
Ma, Dika nikah dengan orang lain. Dika sudah nggak sayang aku lagi.” kamu tak bisa menahan tangisan lagi.
“Sudahlah Nak, lupakan Dika. Masih banyak lelaki lain yang lebih baik daripada Dika.” Ibu mengusap air matamu.
“Ma, aku sayangnya cuma ama DIka. Aku nggak mau sama yang lain.” Kamu tetap ngotot mempertahankan cintamu yang hancur berkeping-kepingan.
“Sayangku,kamu tidak bisa memaksakan cintamu. Sudahi saja itu dan cari yang lain. Ingat, cinta tidak bisa dipaksakan.”
Setelah berhari-hari berpikir. Kamu akhirnya bisa mengikhlaskan semua itu. Kamu mulai bangkit lagi. Perutmu mulai diisi nasi setelah beberapa lagi kosong. Segala tentang kekasihmu kamu buang. Semua hadiah yang kamu terima dimasukkan ke dalam tungku apa. Namun, hatimu bisa bisa melepaskan begitu saja. Kamu masing menangis di saat benda terakhir dibuang.
“Selamat tinggal Dika. Lupakan aku dan jangan mencariku lagi. Anggap saja aku cuma mimpi burukmu.”
Meskipun kamu belum bisa melupakan kenangan dengan Dika, kamu sudah kembali ceria. Keluargamu menyambut seperti sedia kala dan mereka juga memperlakukan dengan sama. Kamu pun berinterkasi seperti semula.
Di saat itu kamu sedang membersihkan kamar. Surat undangan dari sang kekasih masih ada di atas meja. Kamu pun hendak membakarnya.
Eh, tunggu dulu. Kamu ingat sesuatu. Ada yang janggal dengan undangan itu. Perempuan yang akan dinikahi Dika tidak beres. Kamu yang semula malas mendatangi pernikahan tersebut karena sakit hati terpaksa datang. Dengan tergesa-gesa kamu berganti pakaian.
Kamu telah sampai di tempat berlangsungnya pernikahan. Namun, kamu sedikit terlambat. Di sana orang telah berkumpul dan Dika sang kekasih tengah melakukan ritual pernikahan. Kamu pun merengsek masuk ke dalam.
“Saksi, apakah sah?” tanya sang pemuka agama.
“Tidak!” kamu berteriak sekencang mungkin sehingga kamu menjadi pusat perhatian.
Pandangan mereka begitu sinis dan hendak memarahimu. Beberapa dari mereka marah dan siap untuk memukulmu karena dianggap mengacaukan persepsi pernikahan.
“Dika, kamu jangan nikah dengannya. Dia itu lelaki!” kamu berteriak.
“Hei, jangan fitnah orang sembarangan,” seseorang menudingmu.
Kamu tak peduli hal itu. Untuk membuktikannya, kamu berlari ke sang mempelai wanita. Kerudung yang dikenakan kamu cabut hingga terlepas. Rambut palsunya pun ikut terlepas. Wajah serta leher pun terlihat.
Namun, reaksi orang di sana berbeda. Mereka memandangi seolah kamu berdosa karena memaksa wanita berhijab untuk memperlihatkan aurat atas. Kamu pun merasa ketakutan jika pakaianmu dilucuti.
“Lihatlah janggunnya. Tidak ada wanita yang memiliki janggun.” Kamu menunjuk ke leher Putri sebagai bentuk pembelaan.
Pandangan pun teralihan. Kamu bisa bernapas lega untuk sesaat, sebelum menyaksikan peristiwa yang dahsyat.
“Aku kenal dia. Dulu dia kerap dandan sepertiku. Dia suka memakai baju perempuan. Aku menyaksikan sendiri transformasi tubuhnya dari awal hingga akhir.” Kamu pun memberanikan diri untuk mengungkapkan identitas mempelai wanita.
Putri sang mempelai wanita pun tak bisa menjawab hujan pertanyaan dari para hadirin. Kamu pun memilih untuk diam menyaksikan hal itu.
Di depan matamu, Dika sang mempelai pria marah besar pada mempelai wanita. Kamu melihat dan mendengar sendiri Dika dan kerabatnya menganiaya Putri yang ternyata seorang perempuan palsu. Pernikahan Dika dan Putri batal, kamu pun merasa lega. Setidaknya kamu tahu Dika terbebas dari penipuan dan penderitaan lebih lanjut. Kamu pun beranjak pulang dengan rasa puas.
“Siti Siti!”
Seorang sedang memanggil namamu. Itulah Dika yang selama ini kamu cintai. Kamu berbalik arah dan melihat segenap warga memandangimu dengan maksud terselubung.
“Maafkan aku yang mengacaukan pernikahanmu. Bukan maksud aku merusak cintamu. Aku hanya tidak ingin kau ditipu Putra yang menyamar menjadi Putri, " kamu mengatakan itu dengan ragu.
Bukan itu Sit. Kami berterima kasih padamu karena membongkar kedok Putri. Keluargaku malu atas hal itu. Bagaimana kalau kita menikah saja, " tawar Dika.
Kamu menundukkan kepala karena malu. Itulah kesempatanmu untuk mendapatkan Dika. Namun, kamu menegakkan kepala dan memilih jalan yang lain. "Maaf Dik, aku tidak bisa. Cinta itu diperoleh bukan dengan paksaan," tolakmu.
"Tapi Sit, kalian sudah lama pacaran. Sekarang gangguan sudah hilang. Kamu bisa kembali mendapatkan cintamu sekaligus menjadi putri kami," tawar sang ayah mempelai pria.
Keputusanmu sudah bulat dengan berkata, "Aku masih belum bisa kembali pada Dika. Maafkanlah aku."
Kamu berbalik arah sambil merenggangkan kaki. Senyuman manis tertoreh di wajahmu yang cantik. Yah, walaupun kamu tidak jadi menikah. Yang pasti orang yang paling kamu sayangi tidak tertipu perempuan palsu.