Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Boneka Bobo
0
Suka
5,767
Dibaca

Bab 1: Mainan di Toko Tua

Udara lembap Makassar memeluk sore itu, membawa aroma asin laut yang samar bercampur dengan wangi rempah dari warung makan di sepanjang jalan. Reno, bocah lima tahun dengan rambut ikal dan mata bulat berbinar, memegang erat tangan ibunya, langkah kecilnya terayun-ayun mengikuti irama langkah sang ibu. Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari pasar tradisional, keranjang belanja sang ibu sudah penuh dengan sayuran segar dan ikan.

Sebuah toko tua, bersembunyi di antara deretan bangunan baru, tampak seperti fosil yang tersisa dari masa lalu. Jendela kacanya berdebu dan buram, menampilkan benda-benda antik yang diselubungi misteri. Bau apak kayu lapuk dan kertas tua menguar dari celah pintu yang sedikit terbuka. Bagi kebanyakan orang, toko itu hanyalah gudang barang bekas, tempat yang dihindari karena aura suramnya. Tapi bagi Reno, toko itu adalah harta karun yang belum terjamah.

"Ibu, lihat!" seru Reno, jari telunjuknya yang mungil menunjuk ke arah etalase. "Ada boneka!"

Ibunya, Ibu Santi, menoleh dengan senyum lelah. "Sudah sore, Nak. Kita harus cepat pulang."

Namun, Reno tak bergeming. Matanya terpaku pada sosok kecil di balik kaca kotor. Sebuah boneka badut kayu, ukurannya tak lebih besar dari telapak tangannya, dengan wajah dicat putih pucat, pipi merah merona, dan senyum yang terlalu lebar. Matanya, dua titik hitam pekat, tampak menatap langsung ke arahnya. Ada sesuatu yang menarik dan sekaligus mengganggu dari boneka itu, semacam daya tarik aneh yang tak bisa dijelaskan.

"Aku mau boneka itu, Bu," pinta Reno, suaranya pelan namun penuh tekad.

Ibu Santi menghela napas. Dia tahu betul bagaimana keras kepalanya Reno jika sudah menginginkan sesuatu. Tapi toko itu... entah kenapa, ia merasa kurang nyaman. "Nanti ya, Nak. Boneka itu kelihatannya sudah sangat tua."

"Tapi aku mau sekarang!" rengek Reno, bibirnya mulai mengerucut dan matanya berkaca-kaca. Dia adalah anak tunggal, sering dimanjakan, dan biasanya permintaannya selalu dituruti.

Dengan terpaksa, Ibu Santi melangkah mendekati toko. Begitu mereka masuk, sebuah lonceng kuningan usang berdenting pelan, memecah kesunyian yang mencekam. Bau apak semakin menusuk hidung. Rak-rak kayu yang berjejer dipenuhi dengan tumpukan barang-barang antik yang tak teratur: patung-patung kayu berukir, jam dinding kuno yang berhenti berdetak, vas keramik pecah, dan buku-buku lusuh. Cahaya temaram yang masuk dari jendela buram menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di setiap sudut.

Dari balik tumpukan barang, sesosok tubuh tua muncul. Penjaga toko, seorang pria berjanggut putih panjang dengan mata sayu yang tampak sangat lelah, melangkah perlahan. Ia mengenakan kemeja batik usang yang kebesaran. Ketika matanya menangkap sosok Reno yang masih menatap lekat boneka badut di etalase, raut wajahnya berubah. Ada kerutan di dahinya, seolah melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada.

"Selamat sore," sapa Ibu Santi, mencoba bersikap ramah. "Putra saya tertarik dengan boneka ini."

Penjaga toko itu melirik boneka, lalu kembali menatap Reno dengan tatapan yang aneh, seolah menyelidik. Tatapannya membuat bulu kuduk Ibu Santi meremang. "Boneka itu," katanya, suaranya serak dan bergetar, "bukan untuk anak-anak."

Reno tak peduli. Ia sudah melompat kecil, mencoba menggapai boneka yang terletak di balik kaca. "Aku mau Bobo! Dia mau ikut aku pulang!"

"Bobo?" Penjaga toko itu berdehem, tatapannya semakin intens. "Anak ini... sudah memberinya nama?"

Ibu Santi merasa tidak enak. "Hanya imajinasi anak-anak saja, Pak.

Penjaga toko itu terdiam sejenak, tatapannya beralih dari Reno ke boneka, lalu ke Ibu Santi. Ada keraguan yang jelas di matanya, semacam peringatan yang tak terucap. "Boneka itu... memiliki kisah lama. Tidak semua mainan membawa kebahagiaan."

"Sudahlah, Pak. Tidak apa-apa. Berapa harganya?" Ibu Santi ingin segera pergi dari tempat itu. Suasana toko, tatapan aneh penjaga toko, dan peringatannya yang samar-samar membuat perasaannya gelisah.

Dengan berat hati, penjaga toko itu menyebutkan harga. Ibu Santi segera mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan menyerahkannya. Begitu uang berpindah tangan, penjaga toko itu meraih boneka badut dari etalase. Ia memegang boneka itu sejenak, tatapannya menyiratkan kesedihan atau mungkin penyesalan.

"Hati-hati dengan boneka ini, Nona," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "

Reno, yang sudah tak sabar, segera merebut boneka itu dari tangan penjaga toko. Senyum lebar langsung terukir di wajahnya. Ia m...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp15.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Boneka Bobo
Christian Shonda Benyamin
Flash
Jok
Muhammad Adli Zulkifli
Novel
Datang setan
Indah li
Skrip Film
HIDUP DENGAN MAYAT
Herman Siem
Flash
Mendua
Nunik Farida
Flash
Bronze
Pertemuan Arwah
Dewie Sudarsh
Flash
PULANG
Areta Swara
Flash
Udah Belum?
irishanna
Flash
Naila & Hypothermia
Khoirul Anam
Flash
Bronze
Horor
Rere Valencia
Flash
Malaikat Maut
Ahmad R. Madani
Skrip Film
Cinta di Kamar Sebelah
Ardi Rai Gunawan
Flash
Angin dan Daun Yang Jatuh
Salman Faris
Flash
Berita Kematian
Ahmad R. Madani
Cerpen
WADAH
IGN Indra
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Boneka Bobo
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Teror
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang Dalam Cermin
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Email Maut
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Radio Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Indigo
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kereta Cepat Whoosh
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Yamero
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kacamata Paman
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Suwanita
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kutukan Ranjang Antik
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Lilo Main Dengan Siapa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
19:00
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Arga
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kamera Tua
Christian Shonda Benyamin