Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku berencana bolos sekolah hari ini. Sengaja berjalan pelan hingga sampai di pagar belakang sekolah. Saat tiba, aku langsung melempat tas keluar sana dan segera memanjat pagar untuk keluar.
Namun saat berada di puncak ketinggian pagar, mataku bertatapan dengan seorang siswa. Siswa itu mengenakan pin emas di bajunya, yang berarti dia kelas 12, dia kakak kelas! Terkejut melihat kehadirannya, tanganku gagal menopang keseimbangan tubuh dan jatuh.
Bruk!!! Aku jatuh tapi tidak merasakan sakit sama sekali, hingga kubuka mataku. Ternyata tubuhku terbaring di atas tubuhnya. Setelah sadar, dengan cepat aku berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantunya.
“Maafkan aku, apa kau baik-baik saja?” Tanyaku dengan gelisah.
Laki-laki itu menerima uluran tanganku sambil menepuk-nepuk celananya “Iya… Daripada itu apa yang kau lakukan?”
Ah Iya! Batinku terkejut. Kemudian memasang kedua tangan mengatup seperti memohon dan menutup kedua mataku seraya menundukkan kepala “Tolong lupakan apa yang terjadi dan jangan laporkan aku.”
“Kenapa kau menundukkan kepalamu?” tanyanya bingung. Karena aku tidak kunjung menjawab, laki-laki itu menunduk dan menatap wajahku dari bawah. Wajah kami sangat dekat dan aku bisa melihat matanya dan juga bentuk wajahnya yang indah dan mulus itu. Kepalaku terasa panas dan jantungku berdegup dengan kencang. Tanpa sadar aku menahan napasku dan kemudian mundur menjauh.
“Aku tidak akan melaporkanmu.” Kata laki-laki itu sambil memegang tengkuknya.
Spontan aku mendongak dan bingung “Apa?”
“Aku juga sama seperti kau.” Laki-laki itu menunjuk diriku dengan telunjuknya dan berkata “Bolos. Karena itu, ada baiknya kita saling menjaga rahasia saja dan lain kali jangan memanjat dinding, ada jalan lain yang menuju ke luar sekolah di kantin. Kau bisa lewat jalan disana saja.”
“Eh, Iya terima kasih ….”
Laki-laki itu kemudian mengambil tas-ku dan memberikannya padaku “Ini tas-mu, aku pergi dulu karena aku sedang buru-buru.” Setelah aku mengambil tas-ku, laki-laki itu berbalik dan pergi.
Aku membeku seperti orang bodoh. Desiran hebat terasa di dadaku, wajahku memerah. Dan disaat itu aku menyadari, aku menyukai laki-laki itu ….
Hari-hari setelahnya aku mengetahui laki-laki itu bernama Leon. Aku selalu sengaja melewati kelasnya dan melihatnya dikantin tapi tidak pernah berani untuk menyapanya. Setelah mengawasinya terus, aku menyadari satu hal. Leon adalah laki-laki yang sangat acuh dan dingin, banyak siswi menyukainya tapi dia menolak semuanya dengan sopan.
Terlihat dari salah satunya yaitu seorang siswi yang memberikan bungkusan hadiah pada Leon.
“Halo Kak, ini aku ingin memberikan ini untuk Kakak,” ucap sang siswi sembari memberikan hadiah itu.
“Maaf, tapi aku tidak bisa menerimanya, berikanlah pada orang yang benar-benar menyayangimu,” tolak Leon dengan melambai-lambaikan tangan di depan dadanya.
Melihat kejadian itu dari balik jendela kelasnya, aku pun tersenyum kecil Tidak hanya tampan, tapi dia benar-benar baik, tidak salah aku menyukainya.
Tiba-tiba saja, teringat kembali kejadian di pagar sekolah dan merasa kesempatan untukku ada, mengingat Leon sangat peduli denganku. Dia bahkan melarang aku untuk memanjat dinding dan memberitahu adanya jalan lain batinku dengan bersemangat.
Akhirnya, aku sudah mengumpulkan keberanianku. Hari ini, aku akan mengungkapkan perasaanku. Aku menghampiri Leon di ruangan ekskul musik. Di sana sepi, karena ekskul akan dimulai 1 jam lagi. Dengan semua keberanianku, aku mengungkapkannya.
“Maaf, aku tidak ada niat untuk berhubungan dengan siapa pun.” Jawab Leon.
“Begitu ya… maaf sudah menyita waktu kakak.” Aku keluar dari ruangan dengan cepat dan setelahnya aku sudah tidak bisa menahan air mataku, sehingga aku menangis dengan kencang dalam perjalanan pulang.
Aku sedang duduk di salah satu meja di lobi bioskop sambil menunggu film yang akan dimulai sebentar lagi. Dan aku melihat seseorang yang tidak asing. Leon dan di sebelahnya ada perempuan yang tidak aku kenal. Mereka sangat dekat dan Leon tersenyum pada perempuan itu. Saat itu kepalaku terasa dihantam palu dengan kuat. Tanpa aku sadari, air mata sudah mengalir dan membasahi pipiku.
Kilasan balik semua yang terjadi dan yang aku lihat tentang Leon berputar seketika. Dan pertanyaan-pertanyaan muncul di benak ku.
Dia berbohong … Dan aku benar-benar bodoh sudah mengiranya baik hanya karena kebaikan kecilnya padaku. Kenapa dia melakukan itu? Kenapa dia tidak jujur saja? Kenapa dia harus berbohong ….
4 tahun telah berlalu dan Leon ternyata selama ini mengingat aku. Leon mengirimkan undangan pernikahan digitalnya. Melihat undangan itu sudah membuat air mata mengalir dengan deras di pipiku. Sudah saatnya aku melupakannya dan memulai lembaran baru.