Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Bocor Alus Keuangan Rumah Tangga
0
Suka
4
Dibaca

Jumat malam. Tanggal 28. Angka di kalender ini keramat. Ini adalah waktu di mana saldo rekening biasanya mengalami pendarahan hebat, sekarat, dan butuh transfusi dana darurat.

Aku duduk di ujung meja makan. Di hadapanku, Hanif duduk dengan wajah pasrah, seolah-olah dia adalah terdakwa yang sudah divonis mati dan tinggal menunggu eksekusi. Di tengah meja, terhampar tumpukan struk, print-out rekening koran setebal skripsi, dan kalkulator besar yang tombolnya berbunyi ctak-ctek nyaring.

Lampu ruang makan sengaja kuredupkan. Hanya satu lampu gantung yang menyorot ke meja, menciptakan efek interogasi di film detektif. Aku memakai kacamata (padahal mataku minusnya dikit) supaya terlihat intimidatif seperti Pak Purbaya versi cewek saat sedang marah.

"Hanif," bukaku dengan suara rendah namun menusuk.

"Ya, Yang?" jawab Hanif pelan. Dia sedang memegang cangkir kopi sachet (karena kopi starbucks-nya sudah kularang demi penghematan).

"Coba kamu jelaskan," aku menunjuk angka merah di laptopku. "Gaji kamu bulan ini: Utuh. Omset toko bunga aku: Naik 20%. Total pemasukan kita bulan ini setara dengan DP mobil LCGC. Cukup besar. Sangat besar."

Aku memberi jeda dramatis. Menghela napas panjang.

"TAPI..." Aku menggebrak meja. BRAK! Hanif terlonjak. Kopinya tumpah sedikit. "KENAPA SALDO KITA TINGGAL 300 RIBU RUPIAH PADAHAL MASIH ADA 5 HARI SEBELUM GAJIAN BERIKUTNYA?! KEMANA PERGINYA UANG ITU, HANIF?! KEMANA?!"

Hanif menaruh cangkirnya perlahan. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Ini mencurigakan. "Yang... kita kan udah sepakat, bulan ini mau tracking pengeluaran. Coba kita bedah satu-satu."

"Oh, tentu saja kita bedah!" seruku berapi-api. "Aku yakin ada kebocoran anggaran di pos 'Hobi Suami'. Kamu pasti diem-diem beli sparepart motor kan? Atau top-up game? Atau jangan-jangan kamu nyawer streamer cewek?!"

"Demi Allah enggak, Yang," sanggah Hanif.

"Jangan bawa-bawa Tuhan! Data tidak bisa bohong! Mari kita mulai auditnya. Siapkan mentalmu, Mas. Malam ini aku tidak akan memberi ampun."

Aku merasa gagah berani. Aku merasa benar. Aku adalah pahlawan yang akan menyelamatkan kapal rumah tangga ini dari karam. Betapa salahnya aku.

 

Aku mengambil lembar pertama rekening koran. Menandai sebuah transaksi besar dengan stabilo merah.

"Lihat ini!" Aku menyodorkan kertas itu ke muka Hanif. "Tanggal 5. Debit Tokopedia. Nominal: Rp 2.500.000,-. Kategori: Elektronik."

Aku tersenyum sinis. "Nah, ketahuan kan? Kamu beli apa Mas? VGA Card? Keyboard mekanikal yang bunyinya berisik itu? Atau headset gaming biar kamu gak denger omelan aku?"

Hanif menyipitkan mata melihat tanggalnya. Lalu dia menghela napas. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan HP, dan membuka aplikasi Tokopedia di akun bersama kami. "Coba kamu liat riwayat belanja tanggal 5, Yang."

Aku merebut HP itu dengan kasar. "Pasti kamu beli mainan..." Aku melihat layar. Mataku membelalak. Barang yang dibeli: "SMART AIR PURIFIER WITH HEPA FILTER & AROMATHERAPY DIFFUSER - PINK EDITION".

Ingatanku melayang ke sudut kamar tidur. Benda berbentuk tabung futuristik berwarna pink yang berdiri di sana. Benda yang kubeli karena ada influencer bilang, "Ini bisa menyaring debu, virus, dan energi negatif dari mantan." Sekarang benda itu berfungsi sebagai... gantungan handuk basah.

"Itu..." suaraku tercekat. "Itu kan kebutuhan kesehatan, Mas! Jakarta polusinya gila! Paru-paru kita aset!"

"Yang," potong Hanif lembut. "Kamu nyalahin itu cuma dua kali. Pas unboxing sama pas pamer di Instastory. Abis itu gak pernah dicolokin lagi karena kamu bilang suaranya berdengung kayak tawon."

Aku terdiam. Wajahku mulai terasa hangat. "Ya... ya tetep aja! Itu investasi kesehatan jangka panjang! Siapa tau nanti dicolokin lagi!"

"Oke. Berarti 2,5 juta bukan aku ya?"

"Bukan!" bentakku defensif. "Lanjut! Ini baru permulaan!"

 

Aku tidak menyerah. Aku membalik halaman berikutnya. Kali ini aku yakin menang. Pos pengeluaran "Makan & Minum" membengkak sampai meledak.

"Oke, kalau elektronik mungkin aku salah inget. Tapi ini!" jariku menunjuk angka yang fantastis. "Total pengeluaran GoFood dan GrabFood bulan ini: Rp 4.800.000,-."

Aku menatap Hanif tajam. "Mas, kamu makan apa aja? Kamu traktir satu divisi makan siang tiap hari? Kamu makan Steak Wagyu buat sarapan? Ini gak masuk akal! Gaji kita abis dimakan cacing perut kamu!"

Hanif tidak membantah. Dia malah membuka laptopnya. Dia sudah menyiapkan PowerPoint. Dia benar-benar menyiapkan presentasi. Judul slide-nya: "ANALISIS POLA KONSUMSI: SIAPA YANG SEBENARNYA RAKUS?"

"Kurang ajar," desisku. "Kamu niat banget nyerang aku?"

"Bukan nyerang, Yang. Transparansi. Lanjut slide 2," kata Hanif kalem.

Di layar muncul diagram lingkaran (Pie Chart). Warna Biru (Hanif): 15%. Warna Merah (Feby): 85%.

"Apa-apaan ini?! Data palsu!" teriakku.

"Ini data valid dari riwayat aplikasi, Yang," jelas Hanif sambil menunjuk layar dengan pulpen laser (dapat dari mana dia pulpen laser?!). "Liat rinciannya."

Hanif membacakan daftar dosa kulinerku:

  1. "Martabak Sultan Keju Swiss & Cokelat Belgia" - Rp 185.000 (Jam 11 malam, alasannya "PMS").
  2. "Kopi Susu Gula Aren dengan Sea Salt Cream & Gold Flakes" - Rp 65.000 (Dipesan 12 kali dalam sebulan).
  3. "Salmon Mentai Rice Party Size" - Rp 300.000 (Dimakan sendiri karena alasannya "Lagi sedih Miko kucingnya Devi pulang").
  4. "Dessert Box Rasa Lotus Biscoff" - Rp 85.000 (Beli 3 toples, buat stok, habis dalam 2 hari).

Sementara daftar Hanif:

  1. "Nasi Padang Paket Hemat (Ayam Bakar)" - Rp 22.000.
  2. "Gado-Gado Depan Kantor" - Rp 18.000.
  3. "Warung Tegal (Telor Dadar & Orek)" - Rp 15.000.

Aku menatap layar itu dengan horor. Hanif makan seperti buruh bangunan yang sedang prihatin. Sementara aku makan seperti istri pejabat korup yang sedang money laundering.

"Mas..." aku mencoba mencari alasan rasional. "Itu... martabak mahal itu kan kita makan berdua!"

"Yang, aku cuma dapet dua potong. Sisanya kamu abisin sambil nonton Drakor. Kamu bilang, 'Jangan minta lagi, ini obat sakit perut aku'."

"Terus kopi-kopi itu? Itu kan buat mood booster! Aku florist, Mas! Aku butuh inspirasi! Kalau gak ngopi cantik, rangkaian bunga aku nanti jadinya kayak kembang kuburan!"

"Iya, tapi gak harus yang pake serbuk emas juga kan, Yang? Emasnya gak bikin kenyang, cuma bikin feces kamu berkilau mungkin?"

"HANIF! JOROK!" Aku kalah telak di ronde ini. "Oke! Oke! Masalah makanan aku ngaku agak boros. Tapi itu Self Reward! Aku kerja keras! Wajar dong!"

"Iya, wajar. Tapi jangan nuduh aku yang ngabisin duit buat makan," kata Hanif sambil menyeruput kopi sachet-nya yang sudah dingin.

Aku mulai berkeringat dingin. Audit ini tidak berjalan sesuai rencana. Aku harus menemukan kesalahan Hanif. Harus ada! Aku mencari-cari di tumpukan struk. Aha! Ketemu!

"Nah! Ini dia!" Aku mengangkat struk kecil yang terselip. "Struk Indomaret! Pembelian rokok! Kamu ngerokok lagi ya diem-diem?!"

Hanif melihat struk itu. "Itu bukan rokok, Yang. Liat baik-baik."

Aku menyipitkan mata. Tulisannya agak pudar. "KONDOM SUTRA MERAH ISI 12".

Hening. Sunyi. Senyap.

"Ehem," Hanif berdehem. "Itu kan kamu yang nyuruh beli kemaren. Katanya kita tunda dulu punya momongan karena mau fokus karir."

Aku melempar struk itu sembarangan. Muka merah padam. Salah ambil bukti. "Y-ya itu kan kebutuhan bersama! Bukan pemborosan!"

Aku kembali mengaduk-aduk tumpukan kertas. Mataku tertuju pada mutasi rekening tanggal 15. Nominal: Rp 3.800.000,-. Penerima: "GLOWING ABADI CLINIC".

Aku menelan ludah. Ini... ini fatal. Sebelum Hanif menyadarinya, aku mencoba menyelipkan kertas itu ke bawah meja. Tapi tangan Hanif lebih cepat. Dia menahan kertas itu. "Eits, apa itu Yang? Kok disembunyiin? Transparansi dong."

Hanif menarik kertas itu. Membacanya. Alisnya naik sebelah. "Tiga juta delapan ratus? Glowing Abadi Clinic? Ini apa Yang? Operasi plastik? Kamu ganti hidung?"

Aku tertawa gugup. "Hahaha... Mas bisa aja. Enggak lah. Itu... itu maintenance rutin."

"Maintenance apa yang harganya setara UMR Jogja, Yang?"

"Itu... Paket Laser Rejuvenation plus Salmon DNA Injection plus Vampire Facial."

Hanif menatapku lekat-lekat. Dia menatap wajahku. "Perasaan muka kamu sama aja kayak bulan lalu. Jerawat di dagu itu masih ada."

"MAS!" aku berteriak histeris. "SKINCARE ITU INVESTASI JANGKA PANJANG! Gak bisa instan! Ini tuh buat investasi leher ke atas! Biar suami seneng liat istri kinclong!"

"Yang, aku seneng liat kamu apa adanya. Lagian kalau lampu dimatiin juga sama aja."

"Gak bisa! Kamu gak ngerti tekanan sosial, Mas! Temen-temen arisan aku mukanya licin semua kayak bihun rebus! Masa aku kusem sendiri? Nanti reputasi Toko Bunga aku hancur! Orang bakal mikir, 'Ih yang jual bunga aja layu, apalagi bunganya'."

"Tapi Yang... 3,8 juta? Itu bisa buat beli beras setahun."

"Kamu mau punya istri muka beras? Hah?!"

Hanif mengangkat tangan tanda menyerah. "Oke, oke. Skincare adalah kebutuhan primer. Setara oksigen. Aku paham."

Lagi-lagi aku selamat dengan argumen "Investasi Kecantikan", meskipun dalam hati aku menangis melihat nominalnya. Ternyata biang kerok defisit bulan ini adalah wajahku sendiri.

 

Skor sementara: Hanif: 0 (Bersih). Feby: 3 (Elektronik Gagal, Makanan Sultan, Wajah Mahal).

Aku tidak terima. Harga diriku sebagai auditor hancur. Aku teringat sesuatu. Gudang! Kemarin aku melihat ada tumpukan kardus di gudang. Pasti Hanif beli alat-alat tukang atau sparepart mobil tua-nya itu!

"Tunggu sebentar!" Aku lari ke gudang belakang. Hanif mengikuti dengan santai. Aku menunjuk tumpukan kardus cokelat yang belum dibuka di pojok.

"INI APA?!" tuduhku. "Kamu beli sparepart mobil kan? Ngaku! Ini banyak banget! Pasti karburator! Atau knalpot racing!"

Hanif bersandar di pintu gudang sambil melipat tangan. "Coba dibuka, Yang. Liat label pengirimannya."

Aku mendekat. Membaca label resi yang tertempel. Penerima: Feby. Pengirim: "HOMEDECOR AESTHETIC VIRAL".

Aku merobek kardus itu. Isinya: Toples-toples kaca dengan tutup kayu. Kardus kedua: Keranjang rotan enceng gondok. Kardus ketiga: Stiker label bumbu dapur font minimalis. Kardus keempat: Tempat beras otomatis yang bisa diputer.

"Oh..." suaraku mencicit.

"Itu barang-barang organizing yang kamu beli pas promo 9.9, Yang," jelas Hanif. "Katanya kamu mau menata dapur biar kayak Pinterest. Sampe sekarang belum kamu sentuh karena kamu males mindahin bumbu dari sachet."

"Ini... ini penting, Mas!" belaku lemah. "Dapur yang rapi itu kunci kebahagiaan rumah tangga!"

"Iya, tapi masalahnya dapur kita itu kecil, Yang. Lemari gantungnya gak muat nampung toples segede gaban gitu. Akhirnya numpuk di gudang kan?"

Aku melihat tumpukan barang "estetik" itu. Mereka menatapku balik dengan penuh penyesalan. Uang jutaan rupiah yang kini hanya jadi sarang laba-laba. Aku merasa lemas. Kakiku gemetar. Ternyata musuh dalam selimut itu adalah diriku sendiri. Aku bukan Purbaya. Aku adalah Gayus Tambunan versi Home Decor.

Kami kembali ke meja makan. Aku duduk lemas. Semangat auditku sudah padam. "Udah Mas... Aku capek. Ternyata emang aku yang boros. Maafin aku."

Tapi Hanif tiba-tiba tersenyum miring. Senyum yang jarang dia perlihatkan. "Tunggu dulu, Yang. Audit belum selesai. Masih ada satu transaksi besar yang belum kita bahas."

Jantungku berhenti berdetak. Apa lagi? Dosa apa lagi yang kulakukan?

Hanif mengambil lembar rekening koran terakhir. "Tanggal 20. Penarikan Tunai: Rp 1.500.000,-. Keterangan di catatan keuangan kamu tulis: 'SERVICE AC & PERBAIKAN GENTENG BOCOR'."

Aku menelan ludah. Keringat sebesar biji jagung menetes di pelipis.

"Tapi..." Hanif mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya. "Aku nemu struk ini di saku celana jeans kamu pas mau dicuci."

Itu bukan struk tukang AC. Itu struk pembayaran: "WORKSHOP MERANGKAI BUNGA & HEALING: MENEMUKAN ZEN DALAM KELOPAK MAWAR". Lokasi: Hotel Bintang 5 di Puncak.

"Jadi..." Hanif menatapku tajam. "Genteng bocornya di hotel Puncak ya, Yang? Dan tukang AC-nya ngajarin ngerangkai mawar?"

Skakmat. Tamat riwayatku. Aku tertangkap basah memalsukan laporan keuangan. Ini pidana! (Dalam hukum pernikahan).

"Mas..." mataku berkaca-kaca. Aku mengeluarkan jurus terakhir: Playing Victim campur Tears of Crocodile. "Mas... aku tuh stress... Tiap hari ngurusin pesenan bunga orang nikahan, orang wisuda, orang mati... Aku butuh healing, Mas! Aku butuh reconnect sama alam! Workshop itu bukan cuma ngerangkai bunga, tapi meditasi jiwa! Aku bohong soal AC karena aku takut kamu marah... Huhu..."

Aku menangis sesenggukan (agak didramatisir). Hanif menghela napas panjang. Dia berdiri, lalu berjalan memutari meja. Dia memelukku dari belakang.

"Yang... aku gak marah kamu ikut workshop. Aku gak marah kamu beli skincare. Aku gak marah kamu beli toples estetik."

Aku mendongak, ingus meler sedikit. "Beneran?"

"Iya. Duit bisa dicari. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Tapi tolonglah, Yang. Bulan depan jangan beli Salmon Party Size lagi ya? Kita makan lele aja. Proteinnya sama, harganya beda nol satu."

Aku tertawa di sela tangis. "Iya Mas. Maafin aku ya. Aku janji bakal tobat. Aku bakal hapus aplikasi Shopee. Aku bakal puasa GoFood."

"Bener?"

"Insya Allah. Mulai besok."

"Oke. Audit ditutup. Kesimpulan: Negara Defisit Karena Menteri Keuangan Hedon."

 

 

Setelah drama audit yang melelahkan, kami duduk di sofa ruang tengah. Suasana sudah cair. Kami berdamai. Perutku berbunyi. Kruyuuuk. Efek menangis dan marah-marah ternyata membakar kalori setara lari maraton.

"Laper ya, Yang?" tanya Hanif.

"Iya Mas. Laper banget. Di kulkas ada apa?"

"Ada telor. Ada sisa tahu bacem kemarin."

Aku membayangkan tahu bacem keriput itu. Rasa laparku mendadak hilang berganti mual. Tanganku secara refleks merogoh HP. Jari jempolku, yang sepertinya punya otak sendiri, membuka aplikasi hijau. GrabFood.

"Mas..." panggilku pelan.

"Apa?"

"Lagi ada promo nih. Martabak Manis. Diskon 40%."

Hanif menatapku tidak percaya. "Baru 10 menit yang lalu kamu janji tobat, Feby!"

"Tapi ini diskon, Mas! Sayang kalau dilewatkan! Ini namanya Penghematan Cerdas! Kalau kita beli sekarang, kita hemat 40%! Kalau kita gak beli, kita rugi kesempatan!"

Logika sesatku kembali bekerja. "Lagian, ini buat merayakan keberhasilan audit kita! Kita butuh asupan gula biar gak stress mikirin utang!"

Hanif memijat pangkal hidungnya. Dia menyerah. Dia tahu dia tidak akan pernah menang melawan logika wanita lapar. "Yaudah. Pesen. Tapi yang biasa aja. Jangan pake emas. Jangan pake keju Swiss."

"Siap Bos! Martabak Cokelat Keju Spesial meluncur!"

Aku menekan tombol Order. Saldo rekening berkurang lagi. Defisit bertambah lagi. Tapi saat martabak itu datang hangat-hangat, dan kami memakannya berdua sambil tertawa menertawakan kemiskinan kami, aku sadar satu hal.

Bahagia itu sederhana. Dan mahal. Dan sepertinya, bulan depan kami tetap akan minus. Namanya juga rumah tangga. Kalau surplus terus, nanti dikira pesugihan.

 

Pesan Moral: Jangan pernah mengaudit pengeluaran istri jika jantung anda tidak kuat. Karena anda akan menemukan fakta bahwa "Dana Darurat" seringkali bermetamorfosis menjadi "Dana Darurat Diskon 9.9". Dan ingat, Skincare istri adalah investasi, walaupun dividennya cuma berupa pujian "Kok mulus banget sih" dari tukang sayur.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Bocor Alus Keuangan Rumah Tangga
cahyo laras
Flash
Jeruk
Y. N. Wiranda
Flash
Satu Jam Saja
Hans Wysiwyg
Komik
Candra Tawa
Uniipia
Flash
Bronze
Susu Sapi KW
Risti Windri Pabendan
Flash
Bronze
Hantu Token Listrik
Silvarani
Flash
Perilaku remaja saat hujan deras
Hendrysutiyono
Flash
SEMUA KARENA UJIAN SEMESTER
Aston V. Simbolon
Flash
Bronze
Penjual Cat Silver Manusia Silver
Silvarani
Komik
HARI-HARI ARIO
faith
Cerpen
Pria Pencari Pintu Kamar Mandi
Titin Widyawati
Flash
SHAMPOO
Call Me W
Cerpen
Sabotase
Yudhi Herwibowo
Flash
Lewat Kuburan
Leni Juliany
Cerpen
Bronze
Kandang Tikus
ALDEVOUT
Rekomendasi
Cerpen
Bocor Alus Keuangan Rumah Tangga
cahyo laras
Cerpen
Vonis Kematian Dokter Google
cahyo laras
Cerpen
Rapat Abadi Tanpa Keputusan
cahyo laras
Cerpen
Yes Man Membawa Bencana
cahyo laras
Cerpen
Jiwa Lelaki Meronta, Otot Minta Pulang
cahyo laras
Cerpen
Cinta Di Ladang Ranjau
cahyo laras
Cerpen
Tragedi Salah Makam
cahyo laras
Cerpen
Menyelamatkan Gundam Dari Istri
cahyo laras
Cerpen
Kurir Dikira Debt Collector
cahyo laras
Cerpen
Korban Prospek
cahyo laras
Cerpen
Ngajarin Istri Nge-Gym
cahyo laras
Cerpen
Asmara Yang Bikin Jantung Copot
cahyo laras
Cerpen
Percaya Mitos Yang Kurang Lengkap
cahyo laras
Cerpen
Kossan Angker vs Tekanan Finansial
cahyo laras
Cerpen
Perang Dingin Melawan Mbak Google
cahyo laras