Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Mercusuar itu berdiri di ujung tanjung, dicat putih dengan garis biru yang mengelupas di sana-sini, seperti kulit yang terbakar matahari lalu perlahan terkelupas. Dari kejauhan, warnanya masih gagah—biru laut yang tegas melawan langit yang lebih pucat. Tapi dari dekat, siapa pun bisa melihat betapa lamanya cat itu tak pernah disentuh kuas baru.
Ilyas berdiri di dermaga kecil, ransel tergantung di satu bahu, menatap bangunan itu seperti menatap wajah lama yang tak yakin lagi ia kenali. Angin laut membawa bau garam dan rumput laut kering, aroma yang dulu begitu akrab hingga ia tak pernah sadar mengenalnya—sampai bertahun-tahun kemudian, di kota, ia mencium bau serupa dari sebuah restoran seafood dan tiba-tiba harus berhenti berjalan karena dadanya sesak tanpa alasan yang jelas.
Dua puluh dua tahun. Terakhir kali ia berdiri di sini, umurnya tujuh belas, penuh amarah pada dunia, pada ayahnya, pada laut yang menurutnya lebih banyak merenggut daripada memberi.
Sekarang usianya tiga puluh sembilan, dan ayahnya, Pak Norman, baru meninggal tiga minggu lalu. Surat dari notaris datang seperti kejutan yang tak diinginkan: mercusuar itu, tanah di sekitarnya, dan sebuah amplop cokelat tebal yang dititipkan khusus untuknya, bertuliskan tangan gemetar sang ayah di bagian luar: Untuk Ilyas. Baca setelah kau sampai di rumah.
Rumah. Ayahnya masih menyebutnya begitu, setelah semua yang terjadi di antara mereka.
Pintu mercusuar berderit saat Ilyas mendorongnya. Bau di dalam langsung membawanya kembali ke masa kecil—minyak mesin, kertas lembap, dan sesuatu yang lebih samar, aroma yang tak bisa ia beri nama tapi selalu melekat pada kenangannya tentang tempat ini. Debu mengambang di cahaya tipis dari jendela bundar di dinding.
Ia menaiki tangga spiral menuju ruang tengah, tempat ayahnya dulu mencatat log cuaca, memantau lampu, membaca buku-buku navigasi tua yang halamannya menguning. Semua masih di sana, seakan waktu berhenti persis di titik terakhir ayahnya meninggalkan ruangan itu—cangkir kopi kosong di sudut meja, kacamata baca terlipat di atas buku terbuka, seolah pemiliknya baru saja beranjak sebentar dan akan kembali kapan saja.
Ilyas berdiri lama di ambang pintu, tak berani masuk lebih jauh, seperti anak kecil yang takut mengganggu orang yang sedang tidur.
Di meja kerja, amplop cokelat menunggunya, diletakkan tepat di tengah, seolah sengaja disiapkan untuk ditemukan.
Ilyas duduk di kursi kayu yang berderit, yang dulu selalu ia panjat untuk mengintip lewat teropong kecil ayahnya. Ia membuka amplop itu perlahan-lahan, seperti membuka sesuatu yang bisa saja meledak, atau justru sesuatu yang bisa saja menyembuhkan.
Di dalamnya ada surat, beberapa foto lama, dan sebuah kotak kecil berlapis kain biru pudar.
Ia menatap foto-foto itu lebih dulu sebelum membaca suratnya. Salah satunya memperlihatkan dirinya sendiri, mungkin usia enam atau tujuh tahun, duduk di anak tangga mercusuar dengan wajah penuh tawa, sementara seorang perempuan berambut panjang—ibunya—memegang kuas di tangan, cat biru menempel di pipinya. Di foto lain, ayahnya yang jauh lebih muda berdiri di depan lampu mercusuar, tersenyum kikuk pada kamera, seolah tidak terbiasa difoto.
Ilyas menahan napas sejenak sebelum akhirnya membaca suratnya.
Ilyas,
Kalau kau membaca ini, berarti aku sudah pergi, dan kau sudah kembali—dua hal yang selama bertahun-tahun tak pernah kubayangkan terjadi bersamaan.
Aku tahu kau membenciku karena memilih tinggal di sini setelah ibumu tiada, alih-alih ikut denganmu ke kota seperti yang kau minta waktu itu. Aku tak pernah bisa menjelaskannya dengan baik. Mungkin aku pengecut. Mungkin aku takut, kalau meninggalkan tempat ini, aku akan kehilangan satu-satunya bagian dari ibumu yang masih bisa kupegang.
Kau ingat warna biru yang dulu selalu dicari ibumu? Bukan biru langit biasa, bukan pula biru laut. Ada satu warna yang hanya muncul sebentar, tepat sebelum matahari benar-benar tenggelam, ketika langit belum gelap tapi cahaya sudah hampir habis. Dia menyebutnya "jam biru". Katanya, kalau kau berhasil menangkap warna itu, kau sedang menangkap sesuatu yang tak akan pernah kembali persis sama.
Dia mencoba melukisnya bertahun-tahun. Kau tahu itu. Kanvas-kanvas di gudang bawah, hampir semuanya biru, hampir semuanya belum selesai, karena katanya ia belum menemukan biru yang tepat.
Setelah dia pergi, aku menyimpan sesuatu untukmu. Aku tak pernah cukup berani mengirimkannya—aku takut kau akan membuangnya, atau lebih buruk, tak membalasnya sama sekali, dan aku tak tahu mana yang lebih menyakitkan.
Buka kotaknya. Lalu, sebelum kau memutuskan untuk pergi lagi, pergilah dulu ke gudang bawah.
Aku menyayangimu, meski aku tak pernah pandai mengatakannya.
—Ayah
Tangan Ilyas gemetar kecil saat ia meletakkan surat itu. Ia datang untuk mengurus dokumen, menjual tanah kalau bisa, lalu pergi secepatnya. Ia tak menyiapkan diri untuk permintaan maaf yang datang terlambat dua puluh dua tahun.
Ia membuka kotak kecil berlapis kain biru itu. Di dalamnya, sebuah liontin perak berbentuk tetes air, dengan batu biru tua di tengahnya—warna yang langsung ia kenali meski sudah bertahun-tahun tak melihatnya. Warna itu ada di mana-mana pada masa kecilnya: di syal yang selalu dipakai ibunya, di pintu kamar orang tuanya, di sampul buku sketsa sang ibu yang penuh coretan warna yang tak pernah selesai.
Ada juga secarik kertas kecil terlipat di dasar kotak. Tulisan tangan ibunya kali ini—Alena, begitu nama yang selalu diucapkan orang-orang desa dengan nada hormat—lebih halus dan rapi dibanding tulisan sang ayah.
Untuk Ilyas kecilku,
Kalau suatu hari kau menemukan ini, mungkin aku sudah tiada, dan kau sudah menjadi orang yang jauh berbeda dari anak laki-laki yang suka duduk di tangga mercusuar sambil menghitung kapal yang lewat.
Aku ingin kau tahu satu hal tentang warna biru yang selalu kukejar: aku tak pernah sungguh-sungguh mencoba menangkapnya di kanvas karena ingin menyempurnakannya. Aku mengejarnya karena ia mengingatkanku bahwa hal paling indah sering kali paling singkat—dan itu tak apa. Tak semua hal indah harus abadi untuk berharga.
Aku menyayangimu, meski waktu kita bersama terlalu singkat.
—Ibu
Ilyas tak sadar sudah berapa lama ia duduk di sana, menggenggam liontin itu, membiarkan cahaya sore yang masuk dari jendela bundar perlahan berubah warna—dari kuning terang menjadi jingga, lalu semakin dalam, semakin ungu, lalu... biru.
Pikirannya melayang ke malam terakhir sebelum ia pergi, dua puluh dua tahun lalu. Ia ingat betul suasana itu—hujan turun deras di luar, dan ia berdiri di ambang pintu dengan tas ransel yang sama seperti yang kini tergantung di bahunya, meski jauh lebih baru waktu itu. Ayahnya berdiri di tangga, tidak mencegahnya, hanya menatap dengan ekspresi yang saat itu Ilyas anggap sebagai ketidakpedulian.
"Kalau kau pergi, aku tidak akan mengejarmu," kata ayahnya malam itu, suaranya datar, nyaris tanpa emosi.
Ilyas mengira itu berarti ayahnya tidak peduli. Baru sekarang, setelah membaca surat itu, ia mulai bertanya-tanya apakah kalimat itu sebenarnya cara seorang lelaki yang tak pernah diajari bagaimana menahan orang yang dicintainya untuk tetap tinggal.
Ia berdiri, meninggalkan ruang tengah, menuruni tangga menuju gudang bawah yang disebutkan dalam surat ayahnya.
Pintu gudang itu berat, engselnya berkarat. Ia harus mendorongnya dengan bahu sampai akhirnya terbuka dengan derit panjang, seperti sesuatu yang lama tertidur dan enggan dibangunkan.
Di dalam, seperti kata surat itu, berjejer kanvas-kanvas. Puluhan, mungkin lebih dari lima puluh, disandarkan ke dinding, ditumpuk di sudut, sebagian dibungkus kain untuk melindungi dari debu. Ilyas menyalakan lampu gantung tua, dan cahaya kuning temaram menerangi ruangan yang dipenuhi berbagai gradasi biru—biru laut, biru malam, biru yang hampir hitam, biru yang hampir putih.
Ia membuka kain penutup satu demi satu, menyingkap lukisan-lukisan yang belum pernah ia lihat. Sketsa langit senja di atas laut, dilihat dari jendela mercusuar. Sosok samar seorang bocah duduk di anak tangga, punggungnya membelakangi kanvas, seolah sedang menghitung kapal-kapal yang lewat di kejauhan. Ilyas tahu persis siapa bocah itu.
Ada juga lukisan yang lebih personal—sketsa cepat wajah ayahnya sedang tertidur di kursi kerja, kepala tertunduk, tangan masih memegang pena. Di sudut lukisan itu, tertulis kecil: Norman, yang selalu lupa istirahat. Ilyas tersenyum kecil, sesuatu yang aneh baginya karena sudah lama ia tak melakukannya di tempat ini.
Di antara tumpukan kanvas, ia menemukan satu yang berbeda—lebih besar dari yang lain, dan tak seperti yang lain, kanvas ini tampak benar-benar selesai. Warnanya bukan sekadar biru, melainkan biru yang perlahan bertransisi menjadi jingga lembut di satu sudut, seolah sungguh-sungguh menangkap momen matahari terbenam yang disebut sang ibu sebagai "jam biru."
Di sudut kanan bawah, ada tanggal, dan tulisan kecil: Untuk Ilyas, ketika ia sudah siap melihatnya.
Ilyas duduk di lantai gudang, menatap lukisan itu untuk waktu yang sangat lama, seakan lukisan itu balik menatapnya.
Ia tak tahu sudah berapa lama tinggal di mercusuar sejak hari itu. Rencananya semula hanya tiga hari—cukup untuk mengurus dokumen dan menghubungi agen properti. Tapi tiga hari berubah menjadi seminggu, lalu dua minggu, dan akhirnya ia berhenti menghitung.
Suatu pagi, ia memutuskan berjalan ke pemakaman kecil di belakang bukit, tempat ibunya dimakamkan bertahun-tahun lalu, dan kini juga ayahnya, berdampingan di bawah pohon cemara tua. Ia berdiri lama di sana, tidak tahu harus berkata apa. Rumput di sekitar nisan ibunya sudah rapi, jelas ada yang rutin merawatnya, dan Ilyas menduga itu pasti ayahnya, datang setiap minggu selama bertahun-tahun, sendirian, tanpa pernah bercerita pada siapa pun.
"Aku di sini sekarang," katanya pelan, entah pada siapa. "Maaf butuh waktu selama ini."
Angin laut menjawab dengan desiran pelan di antara dedaunan cemara, dan untuk pertama kalinya sejak kedatangannya, Ilyas menangis—bukan tangisan yang meledak, tapi yang mengalir pelan, seperti air yang akhirnya menemukan celah setelah lama tertahan.
Setiap sore, ia mulai naik ke ruang lampu di puncak mercusuar, membawa satu kanvas kosong yang ditemukannya di gudang dan sekotak cat air tua milik sang ibu yang ternyata masih bisa dipakai setelah direndam sebentar. Ia bukan pelukis. Tangannya kaku, goresannya canggung, warnanya sering meleset dari bayangannya. Tapi ia terus mencoba, sore demi sore, menangkap jam biru itu—momen singkat ketika langit belum gelap tapi cahaya sudah hampir habis.
Pada percobaan keempat belas, seorang perempuan muncul di dermaga kecil di bawah, melambai ke arahnya. Ia mengenali wajah itu setelah beberapa detik—Salma, tetangga lama yang dulu sering bermain dengannya waktu kecil, kini mengelola satu-satunya toko kelontong di desa nelayan terdekat.
"Aku dengar kau kembali," katanya ketika Ilyas turun menemuinya. "Turut berduka soal ayahmu."
"Terima kasih," jawab Ilyas, tak yakin harus berkata apa lagi.
Salma melirik ke arah tangga mercusuar, lalu ke tangan Ilyas yang masih berlumur cat biru. "Kau melukis?"
"Mencoba," Ilyas tersenyum kikuk. "Belum terlalu berhasil."
"Ibumu juga begitu, dulu," kata Salma. "Aku ingat dia sering duduk di dermaga, mencoba menangkap warna langit sebelum gelap. Katanya itu warna paling jujur—tak terlalu terang untuk berbohong soal harapan, tak terlalu gelap untuk menyembunyikan kesedihan."
Kalimat itu menempel di kepala Ilyas sepanjang malam.
Sejak hari itu, Salma sering mampir sore-sore, membawakan sepiring gorengan atau segelas kopi hitam, duduk sebentar di dermaga sambil bercerita tentang siapa saja yang masih tinggal di desa dan siapa yang sudah pindah. Dari Salma, Ilyas tahu bahwa banyak anak muda desa juga pergi ke kota seperti dirinya, mencari kehidupan yang lebih besar, dan sebagian dari mereka tak pernah kembali—bukan karena tak rindu, katanya, tapi karena takut menghadapi apa yang mereka tinggalkan.
"Kau berbeda," kata Salma suatu sore. "Kau kembali."
"Aku hampir tidak kembali," jawab Ilyas jujur. "Aku hampir menyuruh notaris menjual semuanya lewat telepon."
"Tapi kau tidak melakukannya."
"Tidak," Ilyas menatap ke arah laut yang mulai berubah warna. "Aku rasa aku sudah lelah lari."
Minggu-minggu berikutnya, Ilyas mulai mengenal kembali tempat yang dulu ia benci. Ia berbincang dengan beberapa nelayan tua yang mengenal ayahnya, yang bercerita bagaimana Pak Norman menjaga lampu mercusuar tetap menyala setiap malam selama tiga puluh tahun tanpa absen sekali pun—bahkan saat sakit, bahkan saat badai paling ganas menerjang.
"Ayahmu bilang, selama lampu itu menyala, berarti masih ada yang menunggu seseorang pulang dengan selamat," kata salah satu nelayan, lelaki tua bernama Pak Wisnu, sambil menghisap rokok kreteknya di dermaga. "Katanya, itu caranya tetap merasa berguna, setelah istrinya pergi dan anaknya... yah, kau tahu sendiri ceritanya."
Ilyas menunduk. "Aku pergi karena marah. Kupikir dia lebih memilih mercusuar ini daripada aku."
"Mungkin memang begitu, untuk sementara," kata Pak Wisnu, jujur tanpa berusaha menghibur. "Tapi orang yang berduka kadang membuat pilihan buruk karena tak tahu cara lain untuk tetap berdiri. Ayahmu tak sempurna, Nak. Tapi setiap malam aku melihat lampu itu menyala, dan aku tahu dia masih di sana, masih mencoba."
Pak Wisnu berhenti sejenak, menatap laut yang mulai gelap. "Ada satu malam, badai besar, kapal-kapal kami terjebak jauh dari pantai. Kami sudah pasrah. Tapi lampu itu tetap menyala, terus berputar, dan kami mengikutinya pulang. Ayahmu tidak pernah tahu dia menyelamatkan berapa banyak nyawa malam itu. Dia bilang dia cuma menyalakan lampu, itu saja."
Kata-kata itu tak serta-merta menghapus dua puluh dua tahun amarah. Tapi perlahan ia mulai retak, sedikit demi sedikit, seperti cat yang mengelupas dari dinding mercusuar, memperlihatkan lapisan yang lebih tua dan lebih jujur di baliknya.
Menjelang akhir bulan kedua, Ilyas akhirnya menyelesaikan lukisannya.
Ia berdiri di ruang lampu, menatap kanvas kecil yang berhasil menangkap sesuatu yang mendekati bayangannya—langit dalam transisi, biru tua bertemu jingga pudar, tak sempurna, tapi jujur. Ia meletakkannya di sebelah lukisan besar milik sang ibu yang telah dipindahkannya dari gudang.
Kedua lukisan itu tak sama. Miliknya lebih kasar, lebih kekanakan, warnanya kurang seimbang di beberapa bagian. Tapi ada sesuatu yang serupa di antara keduanya—usaha untuk menangkap hal yang sebenarnya tak bisa benar-benar ditangkap, dan menerima bahwa hasilnya tak akan pernah sempurna, dan itu bukan masalah.
Ia memutuskan menggantung keduanya berdampingan di dinding ruang lampu, tempat cahaya sore selalu masuk paling jelas. Setiap kali seseorang naik ke sana kelak, mereka akan melihat dua interpretasi dari satu warna yang sama—satu dari perempuan yang menghabiskan hidupnya mencarinya, satu dari anak lelakinya yang butuh dua puluh dua tahun untuk berhenti lari dan akhirnya duduk diam cukup lama untuk melihatnya.
Malam itu, untuk terakhir kalinya sebelum tidur, ia menaiki tangga ke ruang lampu, menyalakan lampu mercusuar seperti yang biasa dilakukan ayahnya, mengikuti prosedur yang telah ia pelajari dari buku catatan lama. Cahaya besar itu mulai berputar, menyapu kegelapan laut, memberi tanda bagi siapa pun yang tengah mencari jalan pulang.
Ia duduk di tangga, tempat yang sama di mana dulu ia duduk sebagai bocah menghitung kapal, tempat yang sama yang dilukis ibunya bertahun-tahun silam.
Ia mengeluarkan liontin biru dari sakunya, menggenggamnya erat-erat.
"Aku pulang," bisiknya, entah pada siapa—pada ayahnya, pada ibunya, atau pada dirinya sendiri yang dulu.
Di luar, langit tengah berada tepat di jam biru—momen singkat sebelum gelap sepenuhnya turun, saat cahaya hampir habis tapi belum benar-benar hilang. Ilyas menatapnya lama, tanpa mencoba melukisnya kali ini, hanya membiarkannya ada, membiarkan dirinya menyaksikan tanpa harus menangkapnya.
Beberapa hal, pikirnya, memang harus dibiarkan singkat agar tetap berharga. Bertahun-tahun ia mengira kepergiannya dari tempat ini adalah cara untuk menyelamatkan diri, menjauh dari kenangan yang terlalu berat untuk dipikul setiap hari. Baru sekarang ia sadar, yang sebenarnya ia lakukan hanyalah menunda—menunda pertemuan dengan versi dirinya yang masih marah, menunda permintaan maaf yang seharusnya bisa diucapkan jauh lebih awal, menunda kesempatan untuk sekadar duduk berdampingan dengan ayahnya tanpa perlu berkata apa-apa.
Ia tak tahu apakah akan menjual mercusuar ini atau tetap tinggal. Ia tak tahu apakah akan kembali ke kota, ke kehidupan yang sempat ditinggalkannya, atau memilih menyalakan lampu ini setiap malam seperti yang dilakukan ayahnya selama tiga puluh tahun. Yang ia tahu, esok pagi ia akan menelepon kantor tempatnya bekerja dan meminta cuti yang lebih panjang—bukan karena ia sudah memutuskan apa-apa, tapi karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tidak buru-buru ingin pergi dari suatu tempat.
Tapi untuk malam ini, semua itu tak penting. Untuk malam ini, ia hanya duduk di tangga tua itu, menyaksikan jam biru berlalu, merasakan untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun bahwa ia sedang benar-benar berada di rumah.
—Tamat—