Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Pukul 19.47 WIB, Jumat malam. Seluruh Jawa dan Bali seketika tenggelam dalam kegelapan pekat.
Bukan pemadaman bergilir biasa. Bukan juga peringatan lewat televisi atau radio. Hanya satu detik yang memisahkan terang dan gelap.
Lampu-lampu rumah, mall, jalan tol, stasiun dan rumah sakit padam serentak.
Di Jakarta, Bundaran HI yang biasanya memantulkan ribuan lampu neon kini lenyap. Hanya sorot lampu mobil yang berhenti mendadak. Klakson berbunyi liar.
Dalam hitungan menit, 150 juta jiwa di pulau terpadat Indonesia terlempar ke masa sebelum listrik ditemukan.
PLN baru bisa merilis pernyataan dua jam kemudian. Gangguan sistem transmisi utama Cirebon-Saguling akibat overload kronis, sambaran petir dan kegagalan proteksi otomatis. Tapi saat itu, kata-kata mereka tak lagi penting.
Kereta commuter berhenti di rel. Pesawat di udara panik mencari bandara darurat. Ruang operasi rumah sakit berpacu dengan generator darurat yang mulai kehabisan solar.
Indonesia, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, merasakan betapa rapuhnya peradaban yang bergantung pada satu tombol listrik.
***
Hari Pertama, Jumat Malam.
Di Bandung, Dasep duduk di depan laptopnya di apartemen kecil di kawasan Buah Batu ketika layar tiba-tiba gelap total. Deadline artikel tentang kenaikan harga BBM tinggal dua jam lagi. Redaksinya sudah menagih via chat. Tapi kini tak ada listrik, tak ada WiFi dan internet mati total. Ponselnya tersisa 28 persen baterai, sinyal hilang sepenuhnya.
“Gila... total blackout,” gumamnya sambil menyandarkan kepala ke kursi.
BTS seluler kehilangan daya cadangan, node fiber optic padam, data center kota overload.
Sebagai jurnalis lepas berusia 44 tahun, hidupnya bergantung pada koneksi. Tak bisa upload artikel, tak bisa cek fakta, tak bisa hubungi narasumber.
Ribuan jurnalis media online di Jawa mengalami hal yang sama. Berita berhenti mengalir, ruang digital menjadi sunyi mencekam.
Dasep meraih senter kecil, jaket tipis dan notes kertas. Malam ini dia tak bisa diam. Dia turun ke jalan, mencari cerita dengan cara lama.
Kota terasa asing. Jalan raya hanya diterangi lampu kendaraan yang bergerak pelan dan cahaya lilin kuning temaram dari warung pinggir jalan.
Suhu apartemen sudah naik cepat menjadi 29 derajat. Keringat menetes di punggungnya saat menuruni tangga darurat.
Di Jalan Asia Afrika, kerumunan mulai terbentuk. Awalnya puluhan orang keluar rumah karena bosan dan gerah. Lalu ratusan.
Mereka membawa senter, ponsel dan obor darurat dari bambu. Sebuah mobil bak terbuka lewat pelan dengan spanduk tulisan tangan. “Listrik Mati, Rakyat Mati”.
Dasep mencatat cepat.
Dia bertemu kemudian Abbas, supir ojek online berusia 33 tahun.
“Kang, dari jam tujuh nunggu order. Aplikasi mati total. Bensin tinggal seperempat. Pom bensin tidak bisa isi. Biasanya malam ini dapat 150-200 ribu, sekarang nol,” katanya sambil mengusap wajah lelah.
Bu Nur, pemilik warung kecil di pinggir jalan, mengipas-ngipas dagangannya dengan kardus.
“Kulkas mati, es cair semua. Makanan siap saji mulai bau. Tanpa internet, aku tidak bisa pesan stok lewat WA supplier. Kasir manual, uang receh cepat habis. Rugi sudah ratusan ribu malam ini.”
Di pabrik tekstil pinggiran Bandung yang Dasep datangi dengan motor Vario tuanya. Ratusan buruh keluar bergelombang. Pak Adem, mandor shift malam berusia 52 tahun, mengusap keringat di wajah hitam legamnya.
“Mesin jahit stop total. Produksi 5.000 potong baju per hari hilang. Owner bilang tak ada listrik berarti tak ada upah harian. Besok tagihan listrik rumah, cicilan motor, sekolah anak. Semua nunggak.”
Di sebuah kantor pemerintahan di pusat Bandung, pegawai negeri sipil (PNS) seperti Bu Rina, 41 tahun, bagian administrasi perizinan, terjebak di dalam gedung gelap.
“Kami sedang mengerjakan laporan bulanan. Semua data di komputer. Sekarang mati total. Besok ada deadline laporan ke pusat. Gimana kami pertanggungjawabkan? Generator kantor hanya untuk lampu darurat, bukan untuk komputer,” katanya kepada Dasep dengan suara lelah sambil memegang senter.
Kantor-kantor swasta juga lumpuh. Di sebuah bank swasta di Jalan Merdeka, karyawan back office seperti Andi terpaksa meninggalkan meja kerjanya.
“Transaksi online stop. Nasabah tak bisa transfer. ATM mati. Besok pagi pasti chaos antrean,” ujarnya.
Dasep terus mencatat hingga baterai ponselnya turun ke 11 persen. Malam pertama berlalu dengan gelisah. Ledakan trafo kecil terdengar di kejauhan, langit utara Bandung jingga samar.
***
Hari Kedua, Sabtu.
Matahari terbit lebih panas dari biasanya. Listrik belum nyala. Baterai ponsel Dasep tinggal tiga persen. Dia mematikannya total untuk cadangan darurat. Internet masih mati sepenuhnya. Kota terisolasi dari dunia luar. Kabar hanya bergerak lewat mulut ke mulut dan orang yang berjalan kaki.
Air bersih mulai langka. Pompa listrik mati, warga antre panjang di sumur umum dan PDAM manual. Di apartemen Dasep, air keran hanya menetes pelan. Dia terpaksa mandi dengan air seember.
Rumah sakit Hasan Sadikin mulai kritis. Generator darurat kehabisan solar. Seorang perawat yang Dasep temui kemarin kini terlihat linglung.
“Ventilator untuk pasien gagal napas terbatas. Inkubator bayi prematur terganggu. Rekam medis digital tak bisa diakses. Kami tulis manual di kertas, lambat dan rawan kesalahan. Beberapa pasien lansia sudah mulai sesak karena kepanasan.”
Beberapa ojek online mendorong motornya karena kehabisan bahan bakar. Sebagian lagi menjual air mineral dan rokok keliling.
Warung kecil di pinggir jalan semakin sepi. Banyak dagangan mubazir.
“Anakku nangis minta mie instan yang biasa. Aku cuma bisa kasih nasi putih. Rugi sudah jutaan,” kata salah satu pedagang. Memperlihatkan dagangannya ke Dasep.
Di kantor pemerintahan, suasana tegang. Para pegawai terpaksa bekerja manual.
“Antrean izin usaha kemarin tertunda. Warga marah-marah. Atasan kami juga panik, tak bisa koordinasi dengan Jakarta karena telepon seluler dan internet mati. Kami merasa tak berguna.”
Di kantor walikota dan dinas-dinas lain, rapat darurat dilakukan di ruangan gelap dengan lilin dan senter. Pejabat menengah berusaha menenangkan staf, tapi kekhawatiran terlihat jelas di wajah mereka.
“Kalau ini berlarut, anggaran darurat kota akan jebol. Bantuan logistik sulit terkoordinasi,” bisik seorang pegawai kepada Dasep.
Dasep berjalan kaki ke mana-mana, kakinya mulai lelah. Dia melihat anak-anak bermain di trotoar karena tak bisa nonton YouTube atau main game.
Ibu-ibu mengipas bayi mereka dengan koran lama. Suasana mulai panas. Di depan kantor PLN Setiabudhi, kerumunan kecil melempar batu. Kaca gedung retak. Polisi berjaga tegang.
Malam kedua lebih berat. Suhu apartemen mencapai 32 derajat. Dasep tidur di lantai dengan jendela terbuka lebar. Dari kejauhan terdengar sorak-sorai kecil dan sirine ambulans yang sesekali lewat.
***
Hari Ketiga, Minggu
Ponsel Dasep sudah mati total. Hampir semua HP di Bandung ikut padam. Baterai habis, charger tak berguna. Internet masih mati. Kota benar-benar terputus. Informasi hanya beredar lewat orang yang bersepeda atau berjalan jauh.
Kondisi semakin kritis. Makanan beku dan dingin rusak di kulkas. Daging dan susu basi. Air bersih semakin susah didapat.
Beberapa SPBU chaos kecil karena antrean panjang dan persediaan terbatas. Pabrik-pabrik masih tutup total. Buruh mulai berkumpul di pinggir jalan, wajah gelap karena lelah dan lapar.
Dasep berjalan menuju pusat kota dengan notes yang semakin tebal. Kakinya pegal, perut keroncongan karena persediaan mie instan sudah habis.
Dia melihat adegan memilukan. Seorang lansia pingsan di trotoar karena dehidrasi dan kepanasan, seorang ibu menggendong bayi sambil mengipas dengan kardus bekas. Anak kecil menangis minta es krim yang tak ada lagi.
Gelombang massa mulai mengalir ke Gedung Sate. Awalnya ratusan, lalu ribuan pada siang hari. Mereka datang dari Buah Batu, Cimahi, Antapani dan daerah pinggiran. Buruh pabrik, pedagang kecil, supir ojek, pegawai kantor, PNS, mahasiswa, ibu rumah tangga. Semua bersatu.
Spanduk kardus dan kain diacungkan tinggi.
“Pemerintah Tanggung Jawab!”
“Sudah Berapa Tahun Janji Kosong? Infrastruktur Rapuh!”
“Pegawai Kantor dan Buruh Sama-Sama Menderita!”
Suasana panas dan penuh emosi. Bau keringat, asap kendaraan dan debu memenuhi udara. Di depan Gedung Sate, massa semakin padat.
Seorang pemuda naik ke mobil bak, berorasi dengan suara serak.
“Kita sudah sabar bertahun-tahun! Anak-anak tak bisa belajar online, orang sakit tak tertolong, pekerja tak bisa cari nafkah, pegawai kantor tak bisa kerja, PNS tak bisa layani masyarakat. Tiga hari ini seperti neraka! Kapan infrastruktur diurus serius?!”
Dasep berdiri di tengah kerumunan, keringat bercampur debu di wajahnya. Dia melihat Bu Rina, PNS yang dia wawancarai sebelumnya, ikut demonstrasi dengan wajah lelah.
“Aku ikut karena bosan jadi korban. Tiap hari kami disalahkan masyarakat, padahal kami juga tak berdaya tanpa listrik.”
Seorang manajer bank yang biasanya rapi kini berdiri dengan baju kusut. “Nasabah marah besar. Aku tak bisa kasih solusi. Hidup kami juga terhenti.”
Amarah yang terpendam bertahun-tahun meledak pelan. Bukan hanya soal tiga hari kegelapan. Ini soal ketergantungan pada infrastruktur rapuh, janji politik yang diulang-ulang, mismanagement energi yang kronis.
Polisi berjaga dengan jumlah terbatas, wajah tegang. Suasana masih terkendali, tapi tegang. Sorak-sorai “Turun! Turun!” sesekali menggema.
***
Hari Keempat, Senin.
Listrik masih gelap total. Rumor yang beredar semakin liar. Ada yang bilang perbaikan hampir selesai, ada yang bilang butuh waktu seminggu lagi. Bandung sudah memasuki hari keempat tanpa listrik, tanpa sinyal, tanpa internet dan tanpa akses uang digital.
Pagi itu, keresahan soal uang cash mencapai puncaknya.
Di depan bank-bank besar di Jalan Asia Afrika dan Jalan Merdeka, antrean ATM mencapai ratusan meter. Panas matahari membuat orang-orang gelisah dan mudah tersulut.
Seorang ibu muda, Santi berdiri di tengah kerumunan sambil menggendong balitanya yang rewel. Matanya bengkak.
“QRIS mati, mobile banking tidak bisa, ATM kosong! Aku memang jarang pegang cash. Susu anak habis kemarin, sekarang dia demam. Tolong, ada yang mau tukar uang?”
Suara-suara serupa terdengar di mana-mana. Karyawan kantoran yang biasa gajinya masuk rekening, pedagang kecil yang biasa terima QRIS, mahasiswa yang hidup dari transfer orang tua, semua kelimpungan.
Di sebuah minimarket di Dago, ketegangan meledak kecil. Orang-orang berebut barang dagangan karena banyak yang tak punya cash sama sekali. Rak mie instan dan air mineral cepat kosong. Tak ada penjarahan besar, tapi adegan saling dorong dan tangisan ibu-ibu sudah cukup membuat suasana mencekam. Polisi dengan jumlah terbatas hanya bisa berjaga tegang.
Dasep berjalan di antara kerumunan dengan notes yang sudah hampir penuh. Kakinya lelah, perutnya keroncongan, tapi sia terus mencatat.
Siang harinya, massa kembali memadati sekitar Gedung Sate dalam jumlah lebih besar. Spanduk kardus baru bertambah.
“Empat Hari Tanpa Listrik, Tanpa Uang, Tanpa Makan!”
“QRIS Mati, Rakyat Kelimpungan!”
“Cashless Society Tanpa Listrik = Bencana!”
***
Sore harinya, Dasep duduk di trotoar dekat Gedung Sate, memandang langit Bandung yang mulai jingga. Notes-nya terbuka di pangkuan. Dia menulis dengan tangan gemetar di bawah cahaya senter yang semakin redup.
“Empat hari ini cukup untuk menghancurkan segala ilusi. Ilusi kemodernan, ilusi uang digital yang aman, ilusi infrastruktur yang tangguh. Tanpa listrik, QRIS, ATM dan aplikasi hanyalah benda mati. Yang tersisa hanyalah manusia dengan segala kerapuhannya.”
Dia menutup notes-nya perlahan.
Di Bandung, di depan Gedung Sate, rakyat terus berteriak agar cermin itu tak lagi diabaikan.
Sekarang, hanya tinggal menunggu. Apakah teriakan itu akan dijawab dengan cahaya atau kegelapan yang lebih panjang dan lebih kelam masih menanti di ujung malam.