Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Clement adalah seorang anak laki-laki berusia delapan tahun, yang hidup berdua dengan neneknya yang tuli dan pikun. Sang nenek hampir tidak pernah bisa diajak berkomunikasi.
Satu-satunya cara Clement merasa dekat dengannya adalah dengan menonton potongan-potongan film, menggunakan proyektor tua peninggalan ayahnya, yang tewas akibat menjadi korban salah tembak.
Sejak sering menonton film bersama neneknya, Clement mulai jatuh cinta pada dunia perfilman. Ia bermimpi membeli sebuah kamera. Namun, Clement sadar bahwa dirinya sangat miskin. Ia tidak tega menjual proyektor peninggalan ayahnya, karena benda itu merupakan kenangan terakhir bersama sang ayah.
Hari demi hari berlalu. Clement mencari nafkah dengan menjual bubuk mesiu rakitan buatannya sendiri kepada para tentara. Meski begitu, ia tak pernah melupakan impiannya memiliki kamera. Bahkan karena terlalu memikirkan mimpinya itu, ia menjadi lalai hingga salah satu temannya mengalami luka bakar di tangan akibat bubuk mesiu. Pekerjaan ilegal Clement pun akhirnya terbongkar dan ia dilarang kembali memasuki kamp militer.
Dua tahun berlalu. Clement masih terus memikirkan kamera. Kehidupannya hanya diisi dengan makan minum, dan menonton film menggunakan proyektor bersama neneknya. Setiap kali menyaksikan adegan demi adegan, tekadnya untuk menjadi seorang sineas semakin besar.
Ia pun rela melakukan apa saja demi membeli kamera, termasuk bergabung dalam aksi kriminal berupa menukar barang-barang serupa demi memperoleh keuntungan, yang dikendalikan oleh seorang pria dewasa. Kebetulan, Rene, sang pemimpin kelompok, memiliki hubungan dengan seorang sutradara amatir yang karya-karyanya sudah cukup membuat Clement kagum. Asalkan bisa menyentuh kamera, Clement rela mematuhi semua perintah Rene.
Rene berjanji akan membelikan Clement kamera terbaru. Tanpa disadari, Clement meninggalkan neneknya selama berbulan-bulan. Dua bulan pertama ia tinggal di stasiun kereta. Bulan ketiga hingga keempat ia tidur di dek sebuah kapal milik pria kaya yang sengaja diparkir di pelabuhan hanya untuk pamer kekayaan. Pada bulan-bulan berikutnya, Clement tidur di mana pun ia menemukan tempat untuk beristirahat.
Pengalaman hidup di berbagai sudut kota memberinya pemahaman luas tentang teknik pengambilan gambar. Bahkan tanpa pernah memegang kamera, ia sudah mampu membayangkan setiap sudut pengambilan gambar hanya melalui imajinasinya. Mimpi memiliki kamera terasa semakin dekat, meskipun ia perlahan melupakan neneknya sendiri.
Hari yang dijanjikan Rene untuk mempertemukannya dengan sang sutradara akhirnya tiba. Namun nasib berkata lain. Pada hari itu juga, tentara Jerman membombardir Kota Paris dan sang sutradara amatir dilaporkan tewas. Seluruh kerja keras Clement selama berbulan-bulan pun sia-sia.
Dalam perjalanan pulang, Clement melihat seorang gadis remaja sedang menuntun kakeknya. Pemandangan itu menyadarkannya, bahwa ia telah meninggalkan neneknya begitu lama.
Ia segera pulang dengan terlebih dahulu menipu seorang bangsawan kaya. Clement mengaku dirinya adalah seorang aktor cilik yang sedang menjalani syuting, tetapi kehabisan uang di tengah perjalanan.
Sesampainya di rumah, Clement tidak menemukan neneknya di mana pun. Ia panik. Tiba-tiba seseorang membukakan pintu. Ternyata itu adalah Bu Pier, tetangganya. Pier mengaku telah merawat nenek Clement selama Clement pergi.
Melihat neneknya tampak bahagia dirawat oleh Pier, Clement meminta izin untuk kembali mengembara ke kota. Terlebih lagi, Pier memang sangat senang merawat Lumier, nama nenek Clement. Karena ia telah lama kehilangan sosok ibu, dan menganggap Lumier sebagai ibunya sendiri.
Clement kembali pergi ke kota. Lagi-lagi ia memulai perjalanannya dengan menipu. Kali ini ia membohongi seorang makelar bodoh, dengan mengaku sebagai anak orang kaya yang ditinggalkan saudara-saudaranya karena perebutan warisan. Berkat bakatnya berbohong, ia kembali berhasil memperoleh uang.
Sesampainya di kota, Clement terus menggunakan kemampuannya menipu, demi mengumpulkan uang untuk membeli kamera. Suasana perang membuat orang-orang mudah tertipu hingga nama Clement mulai dikenal di berbagai tempat, karena keahliannya memperdaya orang lain. Namun, seorang penipu pun bisa menjadi korban penipuan.
Suatu hari Clement bertemu seorang gadis kecil, bersama anjingnya yang sama-sama sedang sekarat. Gadis itu mengaku berasal dari keluarga kaya yang tersesat. Lewat percakapan yang lucu sekaligus penuh rayuan, gadis yang mengaku bernama Alena berhasil membujuk Clement mengantarnya pulang. Meski rumahnya sangat jauh.
Sepanjang perjalanan, seluruh uang hasil penipuan Clement habis untuk membeli berbagai kebutuhan Alena, yang selalu memiliki alasan baru setiap kali meminta sesuatu. Di suatu kesempatan, Alena mengajak Clement menonton film di bioskop. Dengan hati gembira Clement menyetujuinya.
Alena menawarkan diri mengantre membeli tiket. Tanpa rasa curiga, Clement menunggu. Tak lama kemudian ia menyadari betapa bodoh dirinya. Alena ternyata kabur melalui pintu belakang bioskop, sambil membawa seluruh uang Clement.
Merasa ditipu dan kehilangan segalanya, Clement bersumpah tidak akan pernah lagi mempercayai siapa pun. Ironisnya, justru karena terlalu mempercayai orang lain, seorang penipu gagal memperoleh kamera impiannya.
Clement kembali menjalankan aksi penipuannya. Di tengah jalan ia bertemu seseorang yang mengaku juga seorang penipu. Orang itu mengatakan bahwa mereka sedang diburu polisi, dan mengajak Clement berbicara di tempat yang lebih aman.
Saat Clement bertanya mengapa, pria bernama Vigo itu berkata bahwa wajah mereka berdua terpampang di berbagai poster buronan di seluruh Paris. Clement merasa aneh karena tidak melihat satu pun poster. Ia pun menyimpulkan bahwa Vigo sedang menipunya.
Meski Vigo mengaku anak buahnya telah diam-diam mencopot semua poster, Clement tetap tidak percaya dan pergi meninggalkannya.
Akibatnya dapat ditebak. Saat kembali beraksi, Clement ditangkap polisi. Ia diadili dan dijatuhi hukuman penjara selama dua puluh lima tahun. Meskipun usianya baru lima belas tahun. Pengadilan menganggap Clement telah merugikan terlalu banyak orang, demi keuntungan pribadinya selama masa perang.
Di dalam penjara, justru hidupnya berubah. Ia bertemu Jean, seorang penulis skenario yang dipenjara, karena terlalu vokal menyampaikan kritik sosial melalui film-film yang ia tulis.
Jean mengajarkan Clement teknik kamera, penulisan skenario, serta makna sejati sebuah film. Hari demi hari Clement belajar bagaimana menghasilkan karya berkualitas, meskipun selama hidupnya ia belum pernah sekalipun memegang kamera, karena benda tersebut dilarang berada di dalam penjara.
Dua puluh lima tahun berlalu. Clement akhirnya bebas. Ia bertekad untuk membeli kamera dan menjadi seorang sineas. Kali ini dengan cara yang benar.
Bertahun-tahun setelah sukses menjadi seorang sineas. Di masa awal karirnya, Clement menyelenggarakan pemutaran perdana film hasil karyanya. Lalu ada seseorang yang membisikkan sesuatu. Seorang wanita yang mengalami gangguan autisme akut tampak hadir. Clement terdiam sesaat, lalu dengan ramah mempersilakan wanita tersebut duduk.
Film pun diputar. Clement, wanita tersebut, dan seluruh penonton menyaksikan pemutaran perdana karya pertama Clement memandang wanita di sebelahnya. Rasanya ia pernah melihatnya dulu di suatu tempat, saat kanak-kanak. Tetapi wanita tersebut jelas jauh lebih muda.
Clement kembali menonton karyanya, tetapi sesekali ia memperhatikan wanita tersebut.