Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Birthday Blues
0
Suka
63
Dibaca

Waktu kecil, ulang tahun rasanya seperti peringatan hari lahir yang paling membahagiakan. Ada hiasan balon, pita warna-warni, kue ulang tahun yang cantik, dan banyak kado menarik. Setiap lagu ulang tahun disenandungkan, kebahagiaan itu mencapai puncaknya.

Ulang tahun, menjadi satu momen kebahagiaan tersendiri sebab berperan pula menjadi penanda bahwa bertambahnya usia, maka dewasa selangkah lebih dekat. Itulah pikiran naif anak-anak yang merasa segalanya akan jauh lebih baik saat menjadi dewasa.

Dewasa bisa menjadi sosok keren seperti di televisi.

Dewasa juga artinya bisa lebih bebas melakukan apa saja karena sudah punya uang sendiri.

Menginjak remaja, ulang tahun tetap meriah. Pesta tujuh belas tahun tak ayal menjadi ajang pamer sebab sedikit lagi dewasa itu jadi nyata. Sayangnya, para orang dewasa sama sekali tidak memberi peringatan penting tentang betapa kehidupan menjadi seperti menaiki roller coaster. Naik dan turunnya begitu cepat, membuat pusing dan mual. 

Usia dua puluh tahun dan ulang tahun mulai kehilangan magisnya. Kenyataan pahit satu per satu menghantam kehidupan. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, dan tiba pada gerbang tiga puluhan. Segala kerlap-kerlip bahagia dalam memperingati hari kelahiran sirna. 

Bahkan, terakhir kali bahagia saat ulang tahun sudah tidak lagi bisa diingat. Manakala banyak orang mengucapkan selamat karena usia bertambah, sedih itu lebih besar menguasai diri. 

Dewasa?

Akan jauh lebih baik jika masa kanak-kanak menjadi lebih panjang. 

Rindu pikiran naif, kepolosan, dan keindahan dunia di mata anak-anak semakin besar. Segala ekspektasi menjadi orang dewasa sirna begitu saja. Harapan tentang waktu bisa diputar atau mungkin mesin waktu benar ada, menjadi semakin melambung. 

Oh, ulang tahun. Semakin lama, diri ini menyadari bahwa dunia tidak seindah itu. Warnanya terus pudar seiring dengan rasa sakit yang tertoreh dalam perjalanannya. 

Mendengar ucapan selamat atas hari lahir yang berulang setiap tahunnya tidak lagi disambut semangat. Senyum simpul sudah cukup menjadi ekspresi syukur. Ucapan yang juga terasa menjadi sebuah formalitas itu hanya pepesan kosong saat kehidupan terus berlanjut. 

Ah, ulang tahun akan segera kembali. 

Perasaan sedih itu akan semakin bertambah seiring waktu bergulir. Namun, apa yang bisa dilakukan selain menerima. Kita sudah lahir dan harus menjalani kehidupan di dunia yang semakin tidak jelas juntrungannya.

Sebagian orang bilang, perasaan ini merupakan bentuk pesimistik sebab ekspektasi pada diri sendiri tidak tercapai. Namun, beberapa orang lain menganggap ini perasaan yang valid. Bahkan, untuk yang merasa telah mencapai semua ekspektasinya, ulang tahun menjadi momok baru dalam hidup mereka.

Pada dasarnya, bukan ekspektasi diri yang kini mengejar. Ekspektasi orang lain lebih menakutkan sehingga ulang tahun hanya membawa kesedihan daripada kebahagiaan sebab semakin dewasa usia, kita sadar jika ulang tahun akan membawa pada akhir dari usia bernapas di dunia. 

Lantas, tidak ada yang salah dengan Birthday Blues, bukan?

“Selamat ulang tahun, Na!” Seruan itu disertai senyuman. Ruangan yang gelap kini menjadi lebih terang dan salah seorang sahabatku muncul dari balik tembok pemisah ruang tamu dan ruang keluarga sambil membawa kue ulang tahun.

“Selamat ulang tahun, kami ucapkan. Semoga panjang umur, kita ‘kan doakan. Selamat, sejahtera, sehat sentosa. Selamat panjang umur dan bahagia.” 

Tiga sahabatku menyanyikan lagu itu dengan mata berkaca-kaca. Aku tahu, harapan mereka lewat lagu itu sangat tulus. Aku tahu, ulang tahun bagi mereka juga bukan hari yang membahagiakan lagi. Tetapi, kami di sini, berkumpul di malam larut dan masih berharap karena sama-sama ingin bertahan. 

“Aku tidak akan meminta hal yang muluk-muluk pada Tuhan. Aku hanya ingin kamu sehat, Na.” Kata Rifa, sahabatku sejak kami masih balita. 

“Tiga puluh tiga tahun! Terima kasih sudah bertahan sejauh ini.” Giliran Lilian yang berucap. Sahabatku sejak SMP itu memegang kue tanpa lilin.

Itu kue krim yang sangat sederhana, sebab mereka tahu aku tidak menyukai hal-hal yang terlalu meriah. 

“Semoga selalu banyak uang aja deh untuk kita semua. Setidaknya, belanja dan jalan-jalan bisa mengurangi perasaan lelah menghadapi hidup yang tidak pasti ini.” Mirna, sahabatku sejak SD mengambil gilirannya untuk menyampaikan doa yang paling aku aminkan.

Malam yang larut dengan kesedihan ulang tahun yang tetap terkubur di dada, kami habiskan untuk makan kue bersama. Kami, empat sahabat, tinggal di satu tempat setelah lama mempertimbangkannya. Ketika empat orang dengan frekuensi yang sama hadir menjadi sistem pendukung satu sama lain, rasanya kehidupan yang kejam ini tidak begitu melelahkan dilewati.

“Waktu ulang tahunku, aku ingin kalian belikan kue lemon.” Mirna berceletuk.

Aku terkekeh, menatapnya yang asyik menyendok krim vanila begitu banyak. “Biar ingat betapa asamnya hidupmu?” Candaku.

“Nana selalu tepat sasaran!” Rifa memasukkan suapan besar kue ke mulutnya. 

“Aku cukup kue keju.” Lilian tidak mau kalah.

“Pilihannya selalu yang mahal-mahal,” komentar Mirna. 

“Nggak apa-apa, biar semangat kerja.” Aku menimpali.

Sejenak, kami fokus pada kue di atas meja. Meski dunia ini diselimuti oleh kepahitan dan asam, setidaknya malam ini kami ingin menyesap rasa manis semu dari kue ulang tahun yang sudah dibeli para sahabatku sejak kemarin. 

Girls.” Mirna tiba-tiba meminta perhatian kami. “Mungkin ulang tahunku berikutnya, kita tidak akan bisa begini bareng-bareng.”

Aku melirik Rifa dan Lilian bergantian. Meski mulut kami bungkam, tetapi satu jawaban yang sama sudah terpatri di otak dan ujung lidah. 

Mirna tersenyum canggung. “Dia mau melamar.” 

Hening masih menguasai. Bukan karena kami tidak suka tentang ini, tetapi kami masih harus mencerna semuanya. 

Melamar.

Banyak perempuan seumuran kami yang tentu saja sudah mengharapkan hal itu. Fase kehidupan baru yang menandakan bahwa dirimu siap untuk mengarungi cerita berbeda di masa dewasa. Bagi kami, fase untuk memulai itu cukup telat dibandingkan perempuan di sekitar. 

Jujur saja, kami ingin merasakan bahagia untuk Mirna. Namun, ekspresi Mirna yang tidak bersemangat membuat kami turut memasang wajah datar.

“Ada apa?” Tanya Rifa, menyadari kebahagiaan tidak terpancar dalam diri Mirna. 

Aku dan Lilian menunggu jawaban sahabat kami. Mata kami meneliti ekspresi kecil di wajahnya. 

Mirna menghela napas. Ia memandang kami bergantian sebelum kembali berucap. “Apa ini memang waktunya?” Ia ragu.

“Seperti apa ulang tahunku tanpa kalian dan harus merayakannya dengan orang lain?” Pelupuk mata Mirna dipenuhi genangan air. 

Dadaku mendadak sesak. Aku pikir, momen seperti ini akan menjadi titik kebahagiaan bagi siapa saja, khususnya Mirna. Namun, hal lain malah membebani sahabatku itu. Padahal, aku tahu, orang lain yang dibilangnya itu adalah sosok baik dan perhatian. Sosok itu mau menerima Mirna apa adanya. 

“Kita bisa rayakan setelah kamu rayakan sama orang baru dalam hidupmu itu.” Lilian berkomentar, mencoba membesarkan hati Mirna.

Aku mengangguk, menyatakan setuju dengan apa yang Lilian ucapkan. 

“Ah, kok jadi tambah mellow?” Rifa mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.

Aku menghela napas dan menginisiasi untuk pelukan kelompok. Kami berempat saling mendekat dan merentangkan tangan. Hangat dari pelukan kelompok ini masih menjadi yang ternyaman sejak kehidupan dewasa menghantamku. 

Isak tangis mulai terdengar. Tangisan dari perasaan campur aduk antara sedih, takut, bahagia, lega, dan juga rindu yang belum juga dimulai. Di ulang tahunku, kabar yang seharusnya bahagia ini menjadi satu hal lagi yang memvalidasi perasaanku tentang ulang tahun menyedihkan. 

Jadi, tidak apa-apa untuk tetap Birthday Blues akibat rasa takut akan perubahan di dalam perjalanan hidup ini, kan?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Birthday Blues
Sabrina Yunio
Cerpen
Maghdiraghar Nyurathala
JWT Kingdom
Cerpen
Catatan Harian Pak Treng
Rafael Yanuar
Cerpen
Rumah ke Rumah
Esde Em
Cerpen
Bronze
Boneka Plastik
Sri Wintala Achmad
Cerpen
Kencan Buta
Hans Wysiwyg
Cerpen
Mencintai Dalam Sunyi
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
Penjual Doa
Titin Widyawati
Cerpen
Jodoh di Tangan Juragan
Dian Rinda
Cerpen
Tak ada nama dikota ini
Raudatul Jannah
Cerpen
Bronze
RIN
Hesti Ary Windiastuti
Cerpen
Wanita Gerbong Kereta
Godok
Cerpen
Pilihan Nion
Tourtaleslights
Cerpen
Bronze
Juru Kunci Makam yang Tertangkap KPK
Sri Wintala Achmad
Cerpen
Bronze
ROTI ISI MATAHARI
Rian Widagdo
Rekomendasi
Cerpen
Birthday Blues
Sabrina Yunio
Novel
Sang Maharani
Sabrina Yunio
Cerpen
Sepotong Kewarasan
Sabrina Yunio