Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Katedral ini tidak pernah benar-benar sepi. Pada jam-jam tanpa kebaktian, pintu-pintu besarnya tetap terbuka. Jiwa-jiwa datang dan pergi dengan alasan yang berbeda-beda. Ada yang berdoa, ada yang duduk diam tanpa gerak, ada pula yang berjalan perlahan sambil menengadah, mengagumi lengkung langit-langit dan kaca patri. Suara langkah kaki bercampur dengan bisik doa, batuk tertahan, dan bunyi kayu bangku yang berderit sesekali.
Pastor Matthew sudah terbiasa dengan harmoni itu.
Sebagai pastor muda berusia tiga puluhan di katedral sebesar ini, ia jarang duduk diam terlalu lama. Dalam jubah hitamnya yang rapi, penampilannya yang bersih dan formal tampak mirip dengan setelan bisnis gelap dari kejauhan. Hanya kerah klerikal putih di lehernya yang menjadi pembeda jelas. Sorot matanya tegas namun ramah, mencerminkan kedewasaan spiritual. Ia berjalan menyusuri lorong samping, menghindari jalur tengah seolah tak ingin membelah kekhusyukan orang-orang di sana. Kadang ada yang ingin bertanya arah padanya, kadang hanya ingin memastikan mereka boleh berada di sana. Kadang, seseorang hanya perlu disapa agar merasa tidak sepenuhnya asing di tempat yang terlalu besar.
Matthew terus melangkah, matanya menyapu barisan bangku dengan tenang. Ia berhenti sejenak di dekat bangku depan. Seorang pria duduk sendirian di sana.
Bukan karena pria itu berdoa—banyak orang berdoa di katedral ini—yang membuat Matthew terdiam, melainkan karena caranya duduk. Punggungnya tegak, tangan bertumpu pada lutut, tatapannya tidak tertuju pada altar, juga tidak pada langit-langit. Cahaya dari jendela tinggi jatuh miring ke wajahnya. Ekspresinya tampak seperti sedang menunggu, bukan merenung seperti kebanyakan pengunjung. Pria itu tidak menoleh, tetapi Matthew tahu, entah dari perubahan napas atau ketegangan bahu, bahwa kehadirannya telah disadari.
Beberapa detik kemudian, pria itu berdiri. Ia merapikan jasnya—setelan jas bisnis berwarna hitam yang tampak mahal dan pas—dengan satu tarikan singkat di bagian depan, seperti seseorang yang terbiasa memastikan penampilannya rapi sebelum berbicara. Perawakannya di usia matang dan postur tubuhnya sama tinggi dengan Matthew. Cahaya dari kaca patri yang jatuh di antara mereka memantulkan bentuk samar dua sosok tegak di lantai marmer, nyaris serupa, berdiri dalam simetri yang tak disengaja.
“Bapa,” sapanya mengangguk sopan.
“Selamat siang,” jawab Matthew. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Ya,” katanya, “saya ingin melakukan pengakuan dosa.”
Kata-kata itu jatuh tenang, tapi berat. “Sekarang?” tanya Matthew.
Pria itu mengangguk. “Jika memungkinkan.”
Matthew melirik sekilas ke sekeliling. Beberapa orang masih duduk di bangku, tersebar, tenggelam dalam urusan masing-masing. Tidak ada misa. Tidak ada jadwal pengakuan resmi. Namun katedral ini memang tidak pernah sepenuhnya terikat jam.
“Silakan,” katanya akhirnya. “Ikut saya.”
Matthew berjalan dan masuk bilik lebih dulu. Lampu sorot di langit-langit katedral yang megah terasa jauh, tidak mampu menyentuh lorong samping tempat Bilik Pengakuan itu berdiri, seolah tempat itu telah memisahkan diri dari terang ilahi. Langkah sepatu terdengar di sisi lain. Tidak ada jeda perlu penyesuaian di ruang yang gelap.
Pintu ditutup. Bunyi engselnya rendah. Matthew duduk lalu membuka kisi kecil di sekat. Dari celah itu, hanya siluet yang tampak, cukup untuk mengingatkan bahwa seseorang ada di sana, dekat, tapi tidak sepenuhnya terlihat. Ia menghela napas pelan, mengumpulkan ketenangan.
“Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Semoga Tuhan, Bapa yang penuh belas kasih, menerangi hatimu dan memberimu keberanian untuk mengakui dosa-dosamu dengan tulus,” ucap Matthew, otomatis. “Silakan. Apa yang ingin Anda akui?”
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Matthew tahu, meski niat pengakuan telah diutarakan, acap kali lisan dari seberang tak segera mengalir. Namun biasanya ada suara desahan yang menunjukkan kegelisahan. Sementara yang ini, ada keheningan yang tidak terasa canggung. Keheningan itu bagaikan ditahan dengan sengaja untuk dipecahkan.
“Nama saya Malcolm White.”
Begitulah ketenangan Matthew langsung terpecah. Ada pelanggaran protokol yang terdengar begitu lancang. Seorang peniten tidak pernah memperkenalkan diri. Ia mengerutkan kening, menerima kejanggalan itu.
“Saya membunuh orang.”
Kalimat terdengar meluncur tanpa retakan sedikitpun, membuat Matthew merasa tak nyaman. Ia telah mendengar ratusan pengakuan. Dosa-dosa berat. Kekerasan. Niat buruk. Seorang ayah yang mengaku pernah menutup-nutupi kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukannya sendiri, dan kini dihantui ketakutan kehilangan anak-anaknya. Seorang pria muda yang mengaku masa remajanya diwarnai perundungan kejam terhadap teman sekelas—seseorang yang kini sudah wafat, tanpa sempat ia minta maaf. Seorang perempuan yang datang tiap tahun di bulan yang sama, hanya untuk mengaku bahwa ia pernah menggugurkan kandungan saat masih kuliah, dan bahwa ia masih bermimpi mendengar tangis bayi yang tak pernah lahir.
Matthew memutuskan menunggu.
“Bukan cuma satu atau dua,” lanjut pria itu. “Saya tidak bisa menghitungnya.”
Matthew menarik napas, lambat, lalu satu kali lagi, memastikan suaranya tidak bergetar. Lazimnya, ratapan dan kepiluan yang menumpahkan air mata akan menyusul. Yang ini, bahkan sekedar tanda-tanda, tidak. “Berapa lama,” tanyanya, “ini terjadi?”
“Beberapa tahun,” jawab Malcolm. “Tidak berurutan. Ada jeda. Cukup untuk tahu bahwa itu bukan kesalahan.”
Matthew memejamkan mata sejenak. Bukan kesalahan. Kata-kata itu seperti paku kecil yang menahan pintu bilik agar tidak tertutup rapat. “Dan Anda menyesal?” tanyanya.
“Tidak.”
Jawaban itu datang terlalu cepat.
Telapak tangan Matthew mendadak terasa lembab. “Kalau begitu,” katanya hati-hati, “mengapa Anda datang ke sini?”
“Saya penasaran,” jawab Malcolm. “Apakah pengakuan dosa masih bekerja untuk orang seperti saya.”
Matthew menggeser duduknya sedikit. “Pengampunan bergantung pada penyesalan yang sungguh—”
“Penyesalan,” potong Malcolm pelan, seolah mencicipi kata. “Banyak orang mencampuradukkannya dengan rasa bersalah.”
Ada perubahan halus di napasnya, seakan ia mendekat ke sekat.
“Kalau Anda tidak merasa bersalah,” kata Matthew, “apa yang Anda cari di sini?”
“Bukan pengampunan,” jawabnya. “Saya ingin tahu Anda akan menyebut yang saya lakukan sebagai apa.”
Pertanyaan itu sederhana, dan berbahaya. Matthew menahan dorongan untuk menasihati. Ia memilih bertanya. “Apa yang Anda lakukan pada mereka?”
“Tidak semuanya sama,” jawab Malcolm. “Tergantung siapa mereka.”
Napas Matthew tertahan sepersekian detik untuk pengakuan berikutnya. Ada bunyi kecil seperti logam disentuh kayu. Tapi itu mungkin hanya imajinasinya sendiri. Suara di seberang tetap tenang. Akan ada kejutan apalagi?
“Saya memastikan mereka tidak sempat berteriak,” kata Malcolm lagi “Bukan karena saya tidak ingin terdengar. Tapi karena teriakan membuat orang lain datang.”
Matthew merasakan sesuatu naik ke tenggorokannya. Ia menelan lagi. “Dengan apa Anda membunuh mereka?”
“Benda yang selalu ada,” jeda Malcolm. “Tidak terlihat sebagai senjata.”
Matthew membuka mulut, menutupnya lagi. Ia memilih kata yang tepat. “Benda seperti apa?”
“Berat,” jawabnya. “Pendek. Dingin.”
Kali ini sensasi aneh muncul di perut Matthew—bukan mual, tapi tarikan yang membuatnya ingin mundur. Ia tidak bergerak. “Dan Anda—” ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “—memukulkannya?”
“Berkali-kali,” kata pria itu. “Sampai saya yakin. Sampai bentuk awalnya hilang sepenuhnya.”
“Ke mana?”
Keheningan turun, lebih tebal dari sebelumnya. Ketika suara itu kembali, nadanya tetap rata, seolah membicarakan fakta ilmiah.
“Bagian belakang kepala,” katanya. “Sedikit di atas leher. Di sana tulangnya paling rapuh.”
Bola mata Matthew berputar seolah meraba-raba, sebelum ia mengatupkan kelopaknya. Kali ini lebih lama. Dadanya mengencang. Gambaran itu lalu datang tanpa diminta—bukan darah, bukan wajah—melainkan bunyi. Bunyi tumpul yang terlalu dekat dengan daging, diikuti dengan bunyi retakan yang tidak wajar. Bunyi yang tidak ingin ia kenali.
“Cukup,” katanya membuka mata. Suaranya lebih keras dari yang ia rencanakan. Ia terengah-engah.
“Apakah itu membantu?” tanya Malcolm ringan. “Atau Anda perlu detail lain?”
Pandangan Matthew jatuh ke kisi kayu. “Mengapa Anda menceritakan ini kepada saya?”
“Karena Anda bertanya,” jawabnya. “Dan karena Anda ingin tahu apakah saya berbohong.”
Matthew menarik napas panjang, berusaha menahan gemetar, menyadari siapa yang sedang ia hadapi. Ada kebenaran yang dingin di sana. Psikopat, batinnya. Mengungkap nama di awal tadi adalah arogansi khas.
“Mr. White,” ujarnya pelan, seolah doa singkat.“Apa yang Anda harapkan dari saya?”
“Jawaban,” jawab Malcolm.
“Mengambil nyawa bukan hak manusia, itu dosa berat,” ujar Matthew menahan tubuhnya tetap tegak. “Namun Anda tidak menyesal dengan pengakuan Anda. Jadi jawaban saya adalah saya tidak bisa memberikan pengampunan.”
Di balik kisi, Matthew merasakan—bukan melihat—sebuah senyum.
“Menarik,” kata pria itu. “Karena dalam kitab yang sama, ada banyak kematian yang dibenarkan.”
“Itu bukan pembenaran bagi manusia,” balas Matthew, tegas.
“Selalu begitu. Konteks. Tafsir. Batas,” sahutnya. Bayangan di seberang mengisi lebih banyak ruang kecil itu. “Jadi, jika seseorang yakin ia hanya menjalankan penghakiman—bukan karena kebencian, bukan karena keuntungan—apakah itu tetap dosa?”
“Anda membunuh karena bagi Anda, itu adalah penghakiman versi Anda?” Matthew bergidik. Inilah inti percakapan ini, pikirnya. Bukan tentang korban, melainkan tentang hak menilai. Tapi mengapa? Apakah segala kesintingan ini berakar dari trauma sosial atau pola asuh tertentu? Ia ingin menggali lebih jauh, tapi bersikap seperti seorang psikolog bukan kapasitasnya. “Apakah Anda akan melakukannya lagi?” tanyanya.
“Ya,” jawab pria itu tanpa ragu.
Tangan Matthew terkepal erat. “Apakah Anda ingin saya menghentikan Anda?”
“Tidak,” kata Malcolm. “Saya ingin Anda memilih.”
“Memilih apa?”
“Apakah Anda tetap menjadi pastor,” katanya, “atau menjadi sesuatu yang lain.”
Apa itu ancaman? Matthew merasakan dingin kecil di tulang punggungnya. Jawaban dan pilihan yang salah akan menyeretnya keluar dari panggilannya sendiri. “Saya tidak berada di sini untuk melakukan sesuatu pada Anda,” balasnya, memilih kata-kata seolah setiap suku kata punya berat. “Saya berada di sini untuk mendengar pengakuan.”
“Dan Anda sudah mendengarnya,” sahut Malcolm. “Sekarang tinggal tindakan.”
“Tindakan apa yang Anda maksud?”
Tawa kecil terdengar, seperti helaan napas yang salah tempat.
“Bapa pastor,” kata Malcolm lagi, masih dengan nada yang sama rata, “saya baru saja mengatakan saya membunuh orang. Bukan hanya satu. Saya mengatakan bagaimana saya melakukannya. Saya mengatakan saya tidak menyesal. Dan Anda menyebutnya dosa berat.” Ia berhenti. Ada bunyi napas yang terlalu tenang. ”Jika Anda tahu saya melakukan dosa berat, dan Anda yakin saya akan melakukannya lagi, apa tanggung jawab Anda?”
Matthew menggeleng. Di kepalanya, kalimat-kalimat teologis berbaris rapi—semua tentang dosa dan penebusan—tetapi tidak satu pun terasa cukup untuk menahan kekasaran logika Malcolm. Logika yang, entah bagaimana, terasa lebih nyata daripada ajaran yang ia yakini seumur hidup. Hati kecilnya mencengkeram. ‘Tanggung jawabku adalah menelepon polisi sekarang! Tanggung jawabku adalah menghentikanmu!’ teriak batinnya, memicu keringat dingin di pelipis. Namun Matthew juga tahu bahwa inilah inti permainannya. Malcolm sedang mencoba menggeser dirinya dari kursinya; menjadikannya sesuatu yang lain entah saksi, hakim, algojo—apa pun selain pastor yang terikat pada Sumpah Kerahasiaan Pengakuan Dosa.
Matthew memejamkan mata kembali, menarik napas seolah mencoba menangkap kembali udara yang sempat dihisap keluar dari ruangan. Tangannya bergerak di bawah jubah, mencari-cari permukaan kayu bilik yang licin. Ia berusaha menahan gejolak yang lebih besar.
Di momen itu, Malcolm mengutip sesuatu yang sudah lama ia hafal. Ia seperti bosan menanti respon. “Bahkan kegelapan tidak gelap bagi-Mu, dan malam terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang bagi-Mu.”
Matthew mengenali ayat itu. Mazmur seratus tiga puluh sembilan. Ia tidak menyangka seorang pembunuh bisa mengutipnya, dan tepat di momen itu. Pikirannya berpacu. Apa maksudnya melantunkan ayat tersebut? Apakah ia mengejek imanku, atau mengukur batas kaulku?
“Bukankah Tuhan tetap melihat?” tanya Malcolm. “Baik ketika saya melakukan ini, maupun ketika Anda duduk di sini.”
“Pengetahuan Tuhan,” kata Matthew pelan, “bukan izin.”
“Jika seseorang tahu dan mendiamkan, apakah ia tetap tidak bersalah?” balas Malcolm. “Bukankah itu komplotan?”
Pertanyaan ini bukan tentang teologi semata. Matthew langsung ingin meneriakkan dirinya bukan komplotan aksi pembunuhan berantai. “Pengetahuan saya juga tidak sama dengan persetujuan.”
“Jadi Anda tahu,” lanjut Malcolm, “dan Anda tidak bertindak.”
Penggiringan logika itu lagi. Matthew menarik napas dalam-dalam agar tetap tenang. Seluruh beban kaulnya menimpanya. Ia menggerakkan tangannya mengetuk kening, bahu kanan lalu bahu kiri. Meminta petunjuk Tuhan. Ini adalah titik di mana imannya diuji, bukan oleh ketakutan, melainkan oleh kebenaran yang mengerikan.
“Saya bertindak,” katanya, kali ini tanpa getar. “Dengan menolak memberi Anda apa yang Anda cari.”
“Dan itu?”
“Pembenaran atas argumen Anda.” Matthew merasakan tenggorokannya kering. Ia menelan ludah, lalu berbicara lagi, lebih tegas. “Konsekuensi iman saya bukan memberi Anda panggung dengan mengkhianati bilik ini. Saya tidak akan menghentikan pembunuhan dengan menjadi seperti engkau. Saya tidak akan mengambil nyawa seorang pembunuh sekalipun.”
Di seberang, Malcolm White tidak tertawa kali ini. Ia hanya diam, tapi diam yang terasa seperti menilai. Dari luar bilik, sayup-sayup terdengar suara seorang anak kecil berceloteh, lalu suara ibunya menenangkan. Langkah kaki mendekat lalu menjauh. Bagi Matthew, semuanya terdengar seperti hidup yang berjalan seperti biasa, tapi terasa seperti dari dunia lain.
“Kalau begitu, Anda akan membiarkan saya pergi?” lanjutnya. “Anda berani menanggung konsekuensinya?”
Matthew mengangkat kepalanya sedikit. Suaranya tidak meninggi ketika ia membalas, “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari yang kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya dan ia ditenggelamkan ke laut.” Ia berhenti sejenak, membiarkan ayat itu bekerja. “Matius delapan belas. Ayat enam,” lanjutnya.
Keheningan kembali turun, lebih rapat dari sebelumnya, sampai Matthew mendengar bunyi kursi yang bergeser, tanda orang di seberang bangkit dari duduknya.
“Iblis tidak pernah menyangkal keberadaan Tuhan, Bapa, tidak perlu diingatkan,” ujar Malcolm. “Ia hanya perlu satu manusia yang mau mendengarkan.”
Pintu di sisi lain lalu berderit pelan. Langkah sepatu menjauh, tenang seperti ketika datang. Matthew tetap duduk, menunggu sampai suara itu benar-benar hilang, menunggu sampai napasnya kembali menjadi miliknya sendiri. Ruang kecil itu menjadi vakum yang menyesakkan, di mana seharusnya pengakuan membawa kelegaan, tetapi kini meninggalkan kekosongan yang dingin. Kalimat terakhir Malcolm terngiang di benaknya, tidak seperti kata-kata seorang manusia, melainkan seperti bisikan yang berulang. Ketika ia akhirnya berdiri dan keluar, katedral tetap terang. Pemandangannya masih sama. Ada yang berbisik doa. Ada yang mengagumi keindahan bangunan. Orang-orang tenggelam dalam urusan masing-masing.
Pastor Matthew berjalan perlahan, setiap langkah kini terasa berat seolah membawa beban tak terlihat dari setiap korban Malcolm—jika benar pria itu bukan penjelmaan. Ia hanya bisa membawa rahasia itu, menimbunnya di bawah janji imannya, dan mencoba tidak melihat bayangan batu kilangan yang terikat di lehernya.