Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
BGN: Buaian Gerai Nihil
0
Suka
3
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Tugas yang diemban kali ini bukanlah tugas yang mudah. Bukan untuk mencari barang hilang atau barang yang telang terdeteksi. Namun, tugas yang harus diselesaikan adalah memastikan pusaka yang terjual kembali ke pemiliknya.

Bukan kebetulan, memang pusaka itu telah dicuri selama seratus tahun. Itu bukan barang yang bisa diperjualbelikan seperti dagangan yang lain, tetapi warisan yang harus di jaga sepanjang masa.

Masuk ke lelang tidak seperti yang dibayangkan. Pelanggan harus memesan sebulan sebelumnya. Itu juga bukan harga yang murah. Bahkan, terlambat sedikit saja dikeluarkan dan uang tidak kembali.

Demi warisan sang Kakek, berburu tiket masuk itu bukanlah masalah. Uang yang diperlukan dilunasi saja. Itu karena aku tak mau masuk lewat belakang.

Tempat yang kududuki berada di baris tengah, nomor 23. Itu angka kesialan yang tidak boleh dimiliki. Namun, apa boleh buat. Kursi yang kupesan tidak ada nomornya dan itu saja pilihannya.

Pembukaan acara yang dihadiri para pemangku jabatan serta tokoh masyarakat setempat membuat suasana menjadi bosan. Mengobrol dengan calon pembeli di sekitar mungkin pilihan yang tepat. Namun, tidak dengan di sana. Suasana berbeda kurasakan.

"Sis, boleh kita kenalan?" Tanyaku pada seorang ibu berbaju merah. Bagian atas tertutup rapat, tetapi bagian kaki terbuka. Bukan membuat yang lain senang, tetapi malah jijik dan menjauh.

"Sis loe bilang? Anak dari kampung mana nih? Siapa nih yang masukin nih anak?"

Begitu sombongnya wanita yang berada di sampingku.

"Jangan berisik, Bro. Dengerin kalau ada orang ceramah," kata yang lain.

Ceramah? Tidak ada isinya sama sekali. Aku lebih senang kalau menyebutnya sebagai bualan. Apa yang diucapkan jauh dari kenyataan.

Ini bukan soal nasionalisme, tetapi memang isi bualan tersebut jauh dari kenyataan. Mana bahasa yang dipakai tidak mengenakan untuk didengar lagi. Suara pula sumbang. Bahkan lebih merdu tong yang berguling berisi batu sungai.

Masih beruntung ada earphone yang selalu kubawa untuk membunuh kebosanan. Lagu etnik irama horeg kudengarkan. Mungkin terdengar aneh untuk orang sepertiku. Namun, itu lebih baik daripada mendengar bualan mereka.

Walaupun suara tak kudengar, tetapi gerak tangan dan mimik bisa kubaca. Bahkan, setiap sesi aku tahu walaupun tidak bisa membaca apa yang mereka bicarakan. Acara itu masih lama.

Acara pelelangan telah mulai. Barang pertama yang dikeluarkan sebuah batu giok berwarna biru keunguan. Ada dua lagi. Lapis pertama ungu transparan jika diberi cahaya berubah menjadi warna merah darah. Mungkin saja bagian dalam berwarna biru. Harga yang ditawarkan pun sangat murah, cuma satu juta.

"Cantiknya, ini kudu jadi milik gue," puji wanita di sebelahku.

“Sepuluh juta,” tawarku sengaja tinggi untuk mengecek seberapa mampu dirinya melawanku. Walaupun itu bukan benda yang diinginkan.

“Hei, nggak bole nawar kayak gitu. Lu tuh kudu nambah dikit demi dikit, serabut dulu kek,” protes wanita itu.

Aku tak peduli apa yang dibicarakan. Tujuanku harus berhasil apapun caranya. Niatku tetap sama yaitu membuatnya kesal.

“Nggak boleh gitu, Cok. Sebelas juga,” tawar lelaki yang berada di samping perempuan itu. Dari gaya bahasa, ia bukan orang yang baik.

“lima puluh juta.”

“Hei, bukan gitu caranya. Mainlah yang sopan,” lelaki itu ikut protes.

“Udahlah, Papi. Kita tawar 60 aja. Sok kaya dia.” Kesombongan perempuan itu semakin menjadi-jadi.

“150.” Aku semakin tertarik dan menjadi-jadi.”

“You nih.”

Kedua orang itu semakin geram. Raut wajah memerah seperti api yang membara. Perkiraanku, mereka tak menginginkan benda itu jatuh ke tangan orang lain.

“Ya udah, 300. mampus lu bocah sok-sokan.” Perempuan dengan sombong memamerkan kipas.

Tidak ada keinginanku untuk melanjutkan itu. Pembiaran benda itu jatuh ke tangan perempuan yang sombong bukanlah pilihan buruk.

Oh ya, bukan itu saja yang kuperlihatkan. Sebuah portal laman kubuka dan perlihatkan barang yang mereka beli beserta harganya. Apa yang ditawar mereka jauh dari nilai yang tertera walaupun sudah di-mark up. Nilainya paling tinggi tidak sampai dua puluh juta.

“Apa?” kedua orang itu terkejut.

“Dasar penipu, mampua kau!”

Mengamuk karena rugi besar, itu sudah biasa di sana. Keamanan sudah diberi tugas untuk melaksanakan peran di sana. Dua orang sombong yang mendadak menjadi gila akibat ulah kita dijauhkan dari sana agar tidak melukaiku.

Beberapa benda ditawarkan. Terkadang aku ikut memanasi suasana agar targetku bisa diraih, terkadang juga cuma barang yang tidak berguna tapi berharga mahal hanya karena diklaim buatan artis terkenal. Padahal itu sebenarnya buatan anak kampung kami yang dijual ke para artis yang menyamar menjadi wisatawan.

Namun, semua itu tidak berjalan sebagaimana semestinya. Ada barang yang tidak kutawar tetapi penawaran terakhir jauh di bawah harga pasar. Ya sudah, kuanggap kelalaianku saja.

Ada satu lagi barang yang dibawa anak kecil sebagai pemiliknya. Keadaan anak itu lusuh dan cacat. Tentu saja barang lelang tersebut tidak ada yang menawar. Aku dengan keikhlasan hati memberi benda yang tidak berharga itu dengan nilai sepuluh juta.

Tangis gadis bertangan satu itu mengingatkanku pada seorang anak yang meninggal diusia belia. Dia teman sejatiku yang kehilangan nyawa karena orang tuanya terlambat pengobatan. Hujatan dari para peserta lelang tentu saja kuabaikan. Caci maki itu kuanggap tidak setara dengan senyuman yang dulu kurindukan. Aku tetap mendekat pada gadis itu dan tidak membatalkan pembelian.

“Terima kasih telah mau membeli karya saya,” ucap gadis tersebut.

“Mengapa kamu menjual barang ini?” tanyaku.

“Karena aku tak tahu lagi harus bagaimana. Cuma ini yang bisa aku jual. Siapa tahun aku bisa bertahan hidup setahun lagi.”

“Dimana orangtuamu?”

“Ibu meninggalkanku setelah menghabisi nyawa ayahku dan memotong tanganku untuk dijual.”

Rasa ibaku tak bisa terbendung lagi. Bagaimana bisa anak sekecil ini dibiarkan hidup sendirian. Jika kubiarkan ia akan menjadi korban para berandal di luar sana. Mau terpaksa atau bukan, anak ini harus berada di tanganku.

“Bagaimana kalau kamu kubeli saja. Kamu ikut aku, nanti aku rawat kamu seperti adikku sendiri.”

Semula gadis itu takut. Tentu saja aku tersenyum manis yang membuatnya tak merasa takut. Sebuah pelukan dengan tangisan air mata pun kuterima.

Acara lelang terus berlanjut. Ternyata barang yang kuinginkan tidak ada. Ah, terasa aku terkena tipuan. Mana kau sudah terlanjur mengangkat anak gadis bertangan satu lagi. Hari yang kuanggap sebagai hari keberuntungan berubah menjadi hari kesialan.

Acara telah selesai, kini waktunya untuk membayar barang yang kumiliki. Sejumlah uang telah kusediakan secara tunai, sesuai dengan aturan di sana. Kutaruh pada meja kasir.

“Maaf, Pak, persyaratannya apa sudah komplit?” tanya kasir.

“Lho, kok ada persyaratan segala?” aku bengong.

“Iya, Pak, ini sudah menjadi aturan dari sana. Bapak harus menyertakan identitas diri agar bisa diproses. Selain itu juga harus ada keterangan dari RT RW setempat. Terus keterangan tetangga biar jelas Bapak dari sana. Juga kelakuan baik agar bisa mendapatkan barang lelang. Di sini bukan barang biasa loh.”

Beruntung aku memiliki koneksi yang baik dengan tetangga maupun masyarakat sekitar. Jadi, aku bisa mendapatkan keterangan mereka dengan mudah. Untuk keterangan perlakuan baik, aku masih ada sisa fotokopi. Semua berkas kukumpulkan dan kuserahkan pada kasir.

“Saksinya mana? Terus, surat ini sudah kadaluarsa. Mohon lengkapi lagi,” tolak kasir.

Apa?

Aku harus mencari saksi di pelelangan tersebut. Informasi siapa yang menjadi pencatat undangan tamu kucari. Ketemu, aku telepon dia untuk mengakses siapa saja yang hadir di sana. Beruntungnya ia mau melakukan itu walaupun aku harus membayar tidak sedikit demi mendapatkan informasi tersebut.

Oh ya, aku memberikan anak itu sejumlah uang untuk keperluannya di sana karena aku sendiri khawatir jika para panitia tidak memberikan apapun.

Nomor tamu sudah kuhubungi. Beberapa menolak dan memakiku karena kalah dalam persaingan. Ada juga yang mau walaupun uang yang kuberikan lebih besar daripada nilai barang yang kubeli. Keterangan perilaku baik pun kudapatkan dari anggota keamanan yang memerlukan bantuan finansial.

Setelah segalanya siap, aku kembali lagi ke sana. Persyaratan yang komplit dan sepur menyebalkan telah kupenuhi dan kutaruh di atas meja kasir.

Sang kasir pun memeriksa berkas tersebut. Kurasa isi sudah sesuai karena raut wajahnya menunjukkan rasa gembira. Kertas itu juga di-scan dan dirapikan kembali. Surat perpindahan, jual beli dan yang lain juga dicetak dan disodorkan padaku.

“Silahkan tanda tangan di sini dan bayar kontan.”

Tanda tangan asli telah kububuhi. Tentu juga sejumlah uang seharga barang yang kumau diserahkan padanya. Dan masih juga ada sedikit imbuhan.

Tanda bukti telah kuterima. Kupikir bisa membawa benda di sana karena telah berpindah kepemilikan. Namun, ternyata tidak. Hasil karya bisa kubawa, tetapi anak tertahan di sana.

“Pak, bukan anak itu, cuma ini saja,” kata kasir.

“Mbak, kenapa tak boleh aku bawa. Anaknya aja mau dan setuju.”

“Bukan gitu, Pak. Kalau Bapak bawa anak ini sama saja kami menjual anak. Itu termasuk perbuatan ilegal. Mungkin bisa minta surat dari panti asuhan.”

Berbagai tempat pun kudatangi bersama dengan anak ini. Penolakan lah yang selalu kuterima. Tiada satu pun dari mereka yang mau membantu mengurus anak ini dengan alasan masing-masing. Intinya mereka tak mau membantu karena bukan merasa tugas dan urusannya.

Siang hari terasa begitu panas dan melelahkan. Karena merasa iba pada anak satu tangan tersebut, kuajak ke warung es kesukaanku. Di sana kupesankan es campur yang sangat segar dengan ukuran monster.

“Terima kasih Bapak telah mau menolongku. Sudahlah, Pak, kita akhiri saja ini. Mungkin takdirku seperti ini.”

Anak itu meneteskan air mata. Mungkin sebagai tanda bukti jika ia juga peduli padaku.

“Sabarlah dulu, aku akan memperjuangkanmu sebisa mungkin. Jika kita tidak bisa bersama, setidaknya kami dapatkan orangtua yang seperti yang lain dan kehidupan yang layak. Aku janji itu.”

Sekian lama kami berbicara. Cerita tentu kehidupan si gadis yang dahulu harmonis diceritakan. Hingga cerita berakhir sedih karena tangannya dipotong dan dijual sebelum ia ditinggalkan.

Di akhir cerita itu, si gadis membuka tas yang selama ini dibawa. Di dalamnya terdapat sebuah senjata yang terbungkus rapi dengan sebuah koran bekas. Dari bentuknya sudah terlihat jika itu sebuah keris.

“Sebenarnya aku mau jual ini juga dengan agar tanganku bisa kembali. Kalau Bapak mau, aku berikan pada Bapak karena Bapak sudah baik padaku. Lagipula, nggak ada yang mau beli benda pembawa sial ini,” katanya dengan nada sangat sedih.

Bungkusan kubuka, ternyata sebuah keris. Benda keramat yang selama ini aku inginkan entah mengapa ada pada gadis kecil polos ini. Tak kusangka aku menemukan benda itu walaupun dalam keadaan yang tidak terduga. Keris warisan yang dicuri akhirnya menjadi milikku.

“Dik, ayo kita kembali ke pelelangan.”

Gadis itu menurut saja saat kuajak ke sana karena itu tempat tinggalnya untuk sementara waktu. Oh ya, aku berikan makanan untuk anak itu sebagai jaga-jaga saja.

Bukan penjual yang membuatku merasa kesal. Namun, bungkus makanan di sana. Data yang tercantum itu adalah dataku saat pertama kali masuk ke pelelangan. Entah mengapa data itu sampai ke sana. Identitasku terpapar lengkap. Ingin rasanya aku merobek setiap kertas yang berada di kantor kesekretariatan.

Sesampainya di sana, kami langsung menemu sang kasir.

“Apa yang bisa aku bantu?” tanya sang kasir. Itu merupakan bagian dari prosedur.

“Aku tak mendapatkan apapun dari sana. Aku mohon, Mbak, permudah saja urusan ini,” pintaku sambil memohon agar anak itu bisa segera bersama denganku. Tentu saja uang kusodorkan agar jalan bisa mulus seperti dulu.

“Maaf, Pak, saya kita bisa membantu. Ini sudah menjadi ketentuan dari sana. Kami gtidak bisa menjual anak ini.”

Mungkin aku sudah khilaf dan tak menemukan jalan keluar. Keris kukeluarkan, mantera kubacakan dengan terpaksa. Lalu kutiupkan pada wajah sang kasir. Ia tampak seperti tak sadarkan diri, berarti sihirku berhasil.

“Bisakah kamu membantuku mengurus dokumen anak ini?” tanyaku.

“Tentu saja, Pak.”

Wanita itu duduk menyentuh papan ketik pada komputer. Dokumen untuk gadis yang kubawa segera dilengkapi dan dicetak. Bahkan, aku tak perlu mengeluarkan uang selembar pun. Benda itu ditandatangani sendiri dan diserahkan padaku.

“Katakan, mengapa urusan registrasi bisa lama?” tanyaku.

“Biar kami dapat pekerjaan tambahan dan uang lelah.”

Argh, jawaban seperti itu tak ingin aku dengarkan.

Mantera yang lain kubaca. Muncullah sebuah portal dimensi di dekat kami. Itulah jalan kami untuk pulang dalam waktu sekejap, menuju ke rumah terindah. Tempat yang seharusnya untuk gadis semanis itu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
BGN: Buaian Gerai Nihil
Dian Armay
Novel
Batas Tabu
Yuditeha
Skrip Film
STORY OF DIFFERENT HOME
Oktaviona Bunga Asmara
Flash
Bronze
Antara Jeda Titik Koma dan Tanda Seru
Putri Rafi
Novel
Bronze
ekin
Firly Susan
Skrip Film
Elegi
Andini Pradya Savitri
Flash
Bronze
Berhenti Ceritakan Mereka Kepadaku dan Jangan Ceritakan Aku Kepada Mereka
Silvarani
Novel
Retightened the Bond
Aditarifa Rizki
Flash
Memeluk Masa Lalu
Devi Wulandari
Novel
Bronze
ADORASI: Kau Tak Dapat Berdiri Sendiri
Ai Gumiar
Flash
Bronze
Patmo & Cerita Kematian Anaknya
Sulistiyo Suparno
Flash
Di Tengah Kemacetan...
Agung Prasetiarso
Cerpen
Bronze
Secarik Tagihan Sendu
Ayub Wahyudin
Flash
Bronze
Tak ada cerita hari ini
Ron Nee Soo
Komik
Bronze
MELAN©HOLIC
sleepy neko
Rekomendasi
Cerpen
BGN: Buaian Gerai Nihil
Dian Armay
Cerpen
Toba Samo
Dian Armay
Novel
Dukun Milenial
Dian Armay
Cerpen
Hikmah Dalam Kekurangan
Dian Armay
Cerpen
Broken
Dian Armay
Cerpen
Predator di Kala Senja
Dian Armay
Cerpen
Legenda Desa Sawoo
Dian Armay
Cerpen
Tarub dan Alien Planet Sekarat
Dian Armay
Cerpen
MBG (Mari Berburu Genderuwo)
Dian Armay