Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Mereka siapa?”
“Aku tidak mengenali mereka sekarang.”
Sorot matanya kosong.
Dulu, suara mereka berbeda.
Tidak besar, tidak menekan. Ada tawa yang jatuh pelan di pagi hari, ada panggilan namanya yang terdengar seperti pulang. Tangan-tangan itu pernah mengangkatnya tinggi, membuat dunia tampak aman dari atas bahu mereka. Ia ingat bau sabun di baju, ingat suara piring di dapur yang tidak pernah dibanting, hanya diletakkan.
Ia ingat bagaimana mereka duduk berdekatan, membicarakan hal-hal yang tidak ia pahami, namun nada mereka lembut dan sangat tenang. Tidak ada sudut yang terasa berbahaya. Sorot matanya melihat mereka sebagai raksasa hangat. Itu adalah keindahan yang ia rasakan dahulu.
Kenangan itu masih ada, terlipat rapi di sudut kepalanya. Namun kini, setiap kali ia mencoba membukanya, wajah-wajah itu tampak berbeda. Lebih tinggi. Lebih keras. Lebih menakutkan. Seolah waktu telah menumbuhkan mereka menjadi sesuatu yang tak lagi bisa ia jangkau.
Maka ia menatap mereka sekarang, dan hanya bisa berpikir: aku tidak mengenali mereka lagi.
Sekarang ia terus memperhatikan situasi yang menekannya. Para raksasa itu banyak bicara; kata-kata mereka saling bertabrakan tanpa pernah singgah di kepalanya. Matanya mendelik, mulutnya terdiam. Hatinya pun memilih hal yang sama.
“Apa aku harus melihat ini, atau aku harus lari?”
Tidak ada jawaban, yang ada hanya pikirannya sendiri, penuh, berdesakan. Suara para raksasa itu membesar. Bukan karena teriakan, melainkan karena tubuh mereka terlalu dekat, terlalu besar untuk ruang sekecil ini. Kata-kata jatuh seperti benda keras. Ia tidak mengerti maknanya, namun nadanya lebih dulu melukai hatinya.
Lalu—
Brakk.
Sesuatu dilempar. Suara itu menghantam lantai dan dadanya secara bersamaan. Ia tersentak. Udara terasa pecah. Rumah yang ia kenal mendadak asing baginya.
Sebuah benda berguling ke dekat kakinya. Ia menunduk pelan, melihatnya terdiam di sana—retak—seperti sesuatu di dalam dirinya. Tidak ada yang memungutnya. Tidak ada yang menoleh untuknya.
Satu raksasa menunjuk. Yang lain membalas dengan tangan gemetar. Kata “cukup” dan “selesai” melayang di udara seperti hukuman yang tidak pernah ditujukan padanya, namun selalu tepat mengenainya.
Ia mencoba menutup telinga, namun suara tetap memaksa masuk.
Di sudut tembok, ia melihat kaki-kaki besar itu hanya berdiri. ia tidak menyadari bahwa dirinya.
Terlalu kecil untuk dilindungi.
Terlalu nyata untuk diabaikan.
***
Kini ruangan menjadi sunyi. Suara langkah kaki menjauh dari ruangan tersebut.
“Mereka mengabaikanku lagi?”
Suara itu keluar putus asa, melihat para raksasa enggan menoleh ke arahnya. Bahkan tangisannya pun tak lagi berarti bagi raksasa-raksasa egois itu. Ruangan mendadak gelap saat tubuh kecilnya meringkuk di sudut ruangan, memeluk dirinya sendiri berfikir dirinya tidak akan terlihat oleh mata para raksasa tersebut.
“Hei, bawa dia jika memang kau ingin pergi!”
“Aku tak sudi. Kau saja yang urus.”
“Sial… akan aku kirim dia ke orang tuamu. Ibumu yang menginginkannya, aku akan mengirimnya kesana sekarang.”
“Lakukan sesukamu. Ini bukan urusanku lagi, dan jangan pernah menghubungiku apalagi berusaha menghancurkan kehidupan baruku.”
Para raksasa sibuk saling membuang, seolah jiwa mungil yang tertidur meringkuk di sudut itu hanyalah barang. Tidak satupun yang memikirkan bagaimana kata-kata itu bisa menghantam jiwanya yang murni, meski tidak ditujukan langsung padanya.
“Bangun. Cepat masuk mobil. Mulai sekarang, jangan panggil aku ibumu lagi. Dasar menjijikkan.”
“Benar… aku tidak berguna. Maka buang saja sekarang.”
Gumaman kecil itu keluar tak terkendali, tanpa emosi di raut wajahnya yang polos.
Tubuh kecil itu mengikuti perintah sang raksasa. Di dalam dadanya, sesuatu akhirnya runtuh sepenuhnya. Jiwanya tersadar bahwa sejak awal, dirinya memang tidak pernah diinginkan.
Mobil melaju dengan suara yang tidak ingin ia dengar. Jalanan memanjang seperti tidak ingin selesai. Tiba-tiba suara itu pecah, bukan teriakan, hanya gumaman yang sengaja dikeraskan.
“Seharusnya aku tidak melahirkanmu, jika tau ujungnya akan seperti ini.”
"Dia yang menginginkan anak namun pergi mencari wanita lain hanya karna aku tidak secantik dulu. Dasar bajingan."
Kata-kata itu jatuh begitu saja, seperti sisa nafas yang tidak lagi dijaga. Setir digenggam sangat kuat, mata menatap lurus ke depan, seolah anak di kursi belakang hanyalah beban yang terlambat disadari.
“Kau selalu merepotkan. Sejak kecil. Jangan pernah kau mencariku apapun masalahmu nanti, anggap aku sudah MATI”
Anak itu tidak menangis. Ia hanya menunduk, menghitung garis-garis di jok mobil, mencoba membuat dirinya sekecil mungkin. Setiap kata menempel di dadanya, berat, namun diterima tanpa perlawanan. Ia belajar satu hal di perjalanan itu: diam adalah cara tercepat untuk tidak semakin dibenci.
Jendela memantulkan wajah kecilnya sendiri—asing, pucat, seperti seseorang yang sedang belajar menghilang. Tak ada kata keluar dari bibir mungilnya di sepanjang jalan. Hanya getaran mesin dan jarak yang makin jauh dari sesuatu yang dulu ia sebut rumah.
Saat mobil berhenti, pintu dibuka, lalu ditutup lagi. Ia ditinggalkan bersama sebuah tas kecil dan tubuh yang belum selesai gemetar. Tanpa kata pamit ataupun salam perpisahan, hanya untuk sekedar formalitas meninggalkan tanggung jawab.
***
Rumah itu tua. Catnya mengelupas. Halamannya sunyi. Ia ragu di ambang pintu, menunggu penolakan berikutnya menerobos masuk melukai hatinya.
Pintu terbuka perlahan.
Seorang raksasa lain berdiri di sana. Tubuhnya tetap besar di mata anak itu, suaranya rendah, langkahnya berat di lantai kayu tua. Namun raksasa ini tidak menjatuhkan apa pun. Tidak ada kata yang dilempar. Tidak ada suara yang melukai hatinya.
“Kamu pasti lelah.”
Hanya itu. Kalimat sederhana yang membuat dadanya sesak.
***
Di dalam rumah, bau kayu tua dan teh hangat menyambutnya. Raksasa hangat itu mengambil tasnya, meletakkannya di sudut, lalu menyelimutinya dengan kain tipis. Tidak ada paksaan untuk bercerita. Tidak ada tuntutan untuk kuat. Hanya kehadiran yang tidak pergi.
Malam hari, ketika ingatan lama kembali mengetuk, raksasa hangat itu duduk di tepi ranjang. Tangannya besar, berkerut, dan hangat saat mengusap rambut kecil itu perlahan. Tidak ada janji bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada kalimat panjang.
“Aku di sini.”
Suara raksasa hangat itu masuk kedalam hatinya tapi anak itu tidak langsung percaya dengan perasaannya. Namun ia tidak menutup telinga. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan suara itu tinggal.
Pagi datang perlahan, tanpa suara yang memerintah. Cahaya menyelinap lewat jendela, jatuh di lantai kayu. Anak itu duduk diam, mendengarkan rumah yang kini ia tinggali bernapas pelan. Ia masih kecil. Masih retak. Namun di keheningan itu, ia tidak ingin menyangkal apapun lagi sekarang.
Di antara para raksasa, ia akhirnya bertemu satu yang memilih untuk tinggal.
Dan untuk sementara, itu sudah lebih dari cukup.