Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
---
Sepeninggal kakeknya, Bima mewarisi sebuah kotak kayu terkunci yang berisi arsip keluarga berjudul Berkas Kelabu. Di dalamnya ada silsilah tujuh generasi, aturan-aturan yang terdengar seperti omong kosong, dan nama-nama yang riwayatnya terputus tanpa tanggal kematian.
Awalnya, Bima mengira ia hanya sedang membereskan barang warisan.
Ia tidak tahu bahwa dengan membuka kotak itu, ia juga membuka sesuatu yang selama hampir lima puluh tahun dijaga kakeknya agar tetap tertutup.
---
Kakek meninggal di usia delapan puluh tiga tahun, di kamar belakang rumahnya di Bandung, di ranjang yang sama tempat ia tidur sejak pindah ke kota itu hampir lima puluh tahun lalu.
Dokter bilang jantungnya memang sudah lemah. Tidak ada yang aneh. Orang tua meninggal pada usia segitu adalah hal yang, mau tidak mau, dianggap wajar.
Yang aneh baru kelihatan seminggu setelah pemakaman.
Namaku Bima. Umurku dua puluh empat tahun. Atas permintaan Bapak, aku pindah sementara ke rumah Kakek. Rumah itu terlalu penuh kenangan untuk langsung dijual, katanya, dan terlalu kosong kalau dibiarkan tanpa penghuni.
Bapakku bernama Danu. Ia adalah anak tunggal Kakek dan bekerja di sebuah percetakan. Orangnya tenang dan tidak banyak bicara. Ibu bernama Ratih. Sifatnya berbanding terbalik dengan Bapak. Ia bisa tahu aku sedang menyembunyikan sesuatu hanya dari cara aku meletakkan gelas. Kalau sedang khawatir, ia akan memanggilku “Nak” lebih sering dari biasanya.
Belakangan, panggilan itu sering sekali keluar dari mulutnya.
Saat pemakaman, aku sempat mendengar Bapak berbicara pelan dengan Om Wahyu, kerabat dari pihak Kakek yang datang dari luar kota.
“Untung Bapak akhirnya tenang,” kata Bapak.
Om Wahyu tidak langsung menjawab. Ia menatap tanah makam yang masih merah, lalu berkata, “Selama ini dia bukan hidup, Dan. Dia lari.”
Aku tidak bertanya. Kupikir itu hanya cara orang berkabung mengucapkan kalimat yang terdengar dalam karena tak tahu harus berkata apa lagi.
Tugasku di rumah Kakek sederhana, membereskan gudang belakang, memilah barang yang akan disimpan, disumbangkan, atau dibuang.
Kakek orangnya tertutup. Seumur hidup, ia nyaris tidak pernah bercerita soal masa mudanya. Kalau ditanya tentang desa asal atau keluarganya dulu, jawabannya selalu sama.
“Sudah lama. Nggak penting diingat-ingat.”
Setelah itu ia akan mengganti topik, biasanya ke tanaman di halaman atau berita di televisi.
Dulu aku menganggapnya kebiasaan orang tua yang malas bernostalgia. Baru setelah menemukan kotak itu aku sadar, Kakek bukan tidak suka mengingat masa lalu.
Ia takut masa lalu mengingatnya kembali.
Kotak kayu itu terjepit di sudut gudang, tertutup kain perca, koran lama, dan kardus buku sekolah milik Bapak. Ukurannya tidak besar, tetapi beratnya aneh. Gembok kecil berkarat menggantung di bagian depan. Semua kunci yang kutemukan di rumah tidak ada yang cocok.
Aku mencongkelnya dengan obeng.
Gemboknya patah pada dorongan ketiga.
Di dalam kotak tidak ada perhiasan, surat cinta, atau benda berharga seperti yang sempat kubayangkan. Hanya sebuah map kulit tebal, dibungkus kain putih yang warnanya sudah berubah kelabu.
Di sampul map, huruf kapital digores begitu dalam sampai permukaan kulitnya nyaris sobek.
BERKAS KELABU
Di bawahnya ada tulisan yang lebih kecil dan rapi.
Jangan dibuka kecuali kau sudah dipanggil.
Aku tertawa kecil waktu membacanya. Kupikir Kakek diam-diam menulis cerita horor, lalu menyimpannya seperti rahasia negara. Malam itu juga kubawa map tersebut ke kamar.
Lembar pertama berisi silsilah keluarga.
Garis-garis tinta menghubungkan satu nama ke nama lain, turun sampai tujuh generasi. Di bagian paling atas tertulis Nyai Rukmini, diikuti catatan kecil 1873, Desa Lama, wabah.
Sebagian nama memiliki tanda silang merah di sisi kanan. Aku menghitungnya. Sebelas.
Di bagian paling bawah, ditulis dengan ti...