Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bergumul Dengan Tuhan
1
Suka
25
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Akhir 1987. Kemalangan begitu akrab denganku. Istriku baru saja meninggal dunia, seminggu setelah melahirkan putri pertama kami. Seminggu setelahnya, mertuaku membawa pergi gadis kecilku. Seminggu aku bersamanya, menghabiskan waktu berdua. Dan kini, ia dirampas dariku. Meski aku tahu putriku tak akan terurus olehku nanti, tapi berat untuk melepasnya. 

Orang tua dan mertuaku berasal dari kota yang sama, berjarak 1000 kilometer dari tempat tinggalku. 

Aku dilabeli “suami gagal” oleh mertua, karena ketika aku mencari nafkah, aku hanya bisa pulang seminggu sekali. Aku adalah seorang pedagang obat di pasar mingguan yang disebut pasar kalangan, berpindah setiap hari dari desa ke desa. Membawa persediaan dagang dengan kardus besar yang terikat di jok belakang sepeda motor. Jalanan yang buruk sungguh menghambat, dengan jarak dua puluh kilometer, ditempuh lebih dari empat jam—tak memungkinkan untuk pulang pergi setiap hari. Semua harus kulakukan agar kompor minyak tanah tetap terisi. 

Enam bulan setelahnya, sebuah kabar melalui surat aku terima. Aku kembali dirundung kehilangan. Mertuaku lenyap, meninggalkan rumahnya yang sudah terjual. Tak ada yang mengetahuinya, termasuk orang tuaku yang tinggal dekat dengan mereka. Ya... mereka hilang begitu saja, meninggalkanku yang penuh kerinduan pada putriku. 

Kini, hari-hari terasa tak biasa lagi. Kepalaku sering tertunduk dengan tatapan kosong—mengingat putriku yang dulu setiap hari menggenggam kuat ujung kelingkingku. 

Seorang kawan pedagang melihatku selalu bermuram saat berdagang. “Tak ada auranya,” ia bilang. 

Ia mengajakku bergabung dengan sebuah perkumpulan di kota tetangga yang bernama Bapanku. 

“Ini bisa mengurangi pikiran kau kawan, dan hidup kau akan berubah,” katanya sebagai alasan mengajakku. Ia turut menjelaskan bahwa perkumpulan itu dipimpin oleh seseorang yang dipanggil “Ayah” yang akan memberikan ketenangan. 

Tak tertarik, kesan awal yang aku tunjukkan. Tapi, kawan ini tidak peduli dan terus saja memaksa hingga aku menyerah. 

*** 

 

Pertengahan 1988. Kami duduk di kursi yang disusun melingkar di sebuah ruangan di rumah Ayah. Ayah duduk di salah satu kursi kosong. Ia berbicara mengenai konsep ketuhanan, hubungan manusia dengan Tuhan, dan apa pun tentang Tuhan pada kami yang berjumlah empat orang. 

Ia melarang kami untuk menatap wajahnya—ia tak jelaskan kenapa—kami hanya menunduk memandangi kakinya yang terbalut sendal jepit karet. 

“Silakan bergumul dengan Tuhan! Tanyakan pada-Nya, ke mana perginya ritual dan doa-doa indah yang kalian panjatkan? Apakah sampai pada-Nya? Apa sudah ada yang dikabulkan? Atau kalian hanya membuang waktu dengan berharap pada sesuatu yang tak terlihat, namun tetap tidak tenang setelahnya? 

“Ayah memang tak akan menyelesaikan masalah kalian, tapi Ayah adalah juru bicara langit yang akan membawa tenang bagi manusia-manusia yang bimbang. Perpanjangan lidah penguasa langit yang kalian panggil: Tuhan, dewa, atau alien, terserah kalian percaya yang mana karena tak penting untukku, lagi pula kalian tak akan mampu mendengar suara langit itu.” 

Ayah berkhotbah lantang dengan warna suara bas dalam. 

Aku jarang beribadah dan berdoa. Kepercayaan yang kupegang saat ini bukan pilihanku, dan aku hanya beribadah agar orang tua tak kecewa. 

Tapi... siapa orang ini? Mengapa ia mampu menjamin tenang dengan mengaku juru bicara langit? 

Setelah sesi khotbah tanpa interupsi, kami melanjutkan sesi bermunajat kepada Ayah, berbincang empat mata untuk menuangkan semua rasa yang mengganjal di dalam dada. 

“Ayah, aku sedang hancur. Istriku meninggal dan anakku dibawa pergi oleh mertua. Aku tak bisa bertemu lagi dengannya,” kataku dengan kepala tetap menunduk, kami duduk di kursi yang berhadapan. 

“Tenang anakku. Tak perlu kau pikirkan terus anak kau itu, kau akan menjadi gila karenanya. Suara langit baru kudengar. Sebentar lagi kau akan merasakan indahnya keluarga,” ucapnya sambil memegang belakang kepalaku, terasa hangat dan bergetar. 

Aku merasakan tenang seketika. Kenapa begitu lega? Selama ini aku bercerita pada beberapa kolega, hanya “sabar” yang aku terima. Tak ada yang membuatku tenang seperti ini. Tangannya menghangatkan dan membuat darah di kepalaku lancar mengalir, yang selama ini terasa tersendat. Meskipun aku tetap tak bisa bertemu dengan anakku, tapi aku merasakan ketenangan. 

Setelah itu, aku mencium telapak dan punggung tangan Ayah. Hal yang sama kami lakukan di awal kegiatan. Para anggota yang lain saat mencium tangan juga memberikan Ayah sebuah amplop berisi uang yang disebut pupuan, artinya dua kali pupuan yang mereka serahkan di setiap kegiatan. 

Karena tenang aku rasakan, sejak saat itu aku selalu datang ke Bapanku seminggu sekali, dan tentu dengan pupuan yang sudah kusiapkan. 

*** 

 

Akhir 1988. “Ayah, bagaimana ini? Sudah beberapa bulan aku ikut kegiatan ini, tapi aku belum melihat ada tanda-tanda keluarga yang bisa aku bina lagi.” 

“Tak akan lama lagi, anakku. Kau hanya butuh lebih bersabar. Jangan ragu! Karena kau hanya akan menjadi orang bodoh ketika kau berharap pada sesuatu yang kau tak yakini.” 

Kembali, tangan itu melakukan tugasnya dengan baik. Aku tenang, perasaan yang sama aku rasakan setiap kali berbicara padanya. 

Satu bulan kemudian, sepucuk surat dari orang tuaku diserahkan pak pos kepadaku. Aku membacanya dengan rasa yang tak sesenang dulu, sewaktu masih ada satu atau dua paragraf yang berisikan kabar tentang malaikat kecilku. Surat itu memintaku pulang karena adikku akan segera menikah. Setidaknya, dua minggu aku tidak berdagang dan tidak mengikuti Bapanku. 

Aku adalah anak sulung dengan tujuh adik, semua saudaraku tak ada yang seberuntung aku dari sisi penghasilan. Meskipun sekolahku terbengkalai—hanya sampai kelas 4 SD—tapi aku mampu membuat semua saudaraku bersekolah dengan baik, hingga ada beberapa yang sudah lulus SMU. 

Aku membantu orang tuaku yang bekerja sebagai nelayan, penghasilan mereka tak cukup baik dengan tanggungan yang banyak. Hal ini sudah aku lakukan sejak lima belas tahun lalu. 

Di kota asal. Selain mengikuti acara pernikahan adikku, ternyata orang tuaku juga menjodohkanku dengan gadis yang tak kukenal. Aku tak bisa menolaknya. Begitu juga dengan gadis itu, wajahnya terlihat keberatan meski ia menyetujuinya. Dan beberapa bulan kemudian, aku menikahinya. 

“Ayah, hebat! Ucapannya tepat! Aku membangun rumah tangga lagi.” 

*** 

 

Pertengahan 1989. Tiga bulan terlewati dengan masa saling mengenal. Ternyata Istriku mengenal Tuhan jauh lebih baik daripada aku, ia mengajakku mendekat kepada-Nya juga, dan melarangku kembali kepada Ayah. 

Bukankah ini ramalan ayah? Kenapa justru aku tak bisa menemuinya lagi? Meskipun aku bertanya-tanya, aku tetap menurut pada istriku. Ada sedikit damai ketika aku bersamanya beribadah, walaupun tidak setenang ketika aku disentuh Ayah. 

Bulan keempat, konflik mulai menghampiri. Istriku tak betah sendirian di rumah, dan ia mulai jengah dengan kebiasaan baikku pada keluargaku, yang mana setiap minggu aku terus mengirimi mereka uang. Pertengkaran hebat beberapa kali melanda, hingga aku putuskan untuk membuatkannya sebuah usaha, agar ia bisa mencari uang sendiri dan tak mengganggu keuanganku. Satu masalah selesai. 

Tak lama. Ada lagi ide istriku yang menjadi prahara baru. Dengan baiknya, ia menyediakan tempat untuk beberapa saudaranya tinggal di rumah kami. Dengan alasan menemaninya, dan ada juga yang akan ikut berdagang di kalangan sepertiku. 

“Aku juga ada keluarga yang harus aku bantu,” katanya. 

Setiap kali aku membahasnya, ia selalu membahas uang untuk keluargaku. 

*** 

 

Pertengahan 2020. Tiga puluh satu tahun masalah kami tetap sama, begitu cemburunya istriku pada keluargaku karena uang. Kedua orang tuaku sudah meninggal, tapi aku tetap bertanggung jawab pada adik-adikku. 

Kini kami sudah memiliki seorang putra, tiga puluh tahun usianya. Namun, ia belum mau menikah. 

Perasaanku tak sama pada putraku ini, tak seperti sayang yang kurasakan pada putriku. Aku menyimpan rindu pada gadis kecilku itu, yang sepertinya saat ini sudah memiliki gadis kecil juga. 

Aku merasa berjarak sangat jauh dengan keluarga intiku. 

Putraku sama sekali tak pernah mengeluh padaku, dan ia hanya bicara seperlunya. Ia sering datang hanya untuk mencium tanganku dan meminta uang sangu. Aku bahkan lupa nama lengkapnya. Dan Ia memandangku tak seperti sosok ayah. 

Setiap aku libur, kami selalu berkubu. Televisi depan dikuasai istriku, saudaranya, dan putraku. Televisi belakang hanya aku sendiri. Aku enggan tuk bergabung, mereka pun begitu. 

Istriku perlahan menjadi dominan, ia mengalahkan kuasaku di rumah karena aku jarang pulang. Ia seolah membangun sebuah rumah tangga baru di dalam rumah tangga kami, dengan anak dan saudaranya sebagai anggota, lalu istriku menjadi orang tua tunggal. Sedangkan aku? Hanya “tamu”. 

Terlalu lama kebiasaan ini terbentuk di rumah, hingga rambutku memutih mereka masih bersikap sama padaku. Padahal akulah kepala keluarga, aku seperti raja tanpa mahkota. Apalagi usaha istriku kini sudah sangat besar—mengalahkan pendapatanku—semakin saja aku merasa terintimidasi. Meski komunikasi kami kurang baik, kami jarang adu mulut sekarang — hanya saling “diam”. 

Bukankah pernikahan ini ramalan Ayah dulu? 

Aku terpikirkan Ayah, lama sudah kami tak bertemu. Aku mulai mendekatkan diri kembali padanya, dan tak peduli lagi dengan istriku. 

Bapanku sudah semakin besar dengan banyaknya pengikut yang berasal dari berbagai kota, kalangan, dan profesi — termasuk beberapa pejabat pemerintahan. 

Kawanku dulu sudah menjadi pengurus. Ia setia kepada Ayah yang kini sudah sangat renta dan buta. 

“Ayah, sudah tiga puluh tahun aku tidak datang ke sini. Aku mengikuti ramalan Ayah untuk menikah, dan setelah itu, aku tidak diizinkan oleh istriku untuk mempercayai Ayah lagi. Dia memintaku untuk memohon ketenangan langsung kepada Tuhan. Apa itu salah, Yah?” Aku menceritakan semua permasalahanku pada Ayah dengan air mata yang sudah terkumpul bertahun-tahun. 

“Tidak ada yang salah anakku, kau cuma terlambat datang.” Ayah menjawab dengan iringan batuk dan tangannya yang berada di ubun-ubunku. Ayah mengangguk, aku bisa rasakan gerakannya dari tangannya. “Ya... itulah ujian untuk kau. Kau diberikan jawaban atas semua keluhan kau dulu, dan kau mendapatkan ketenangan. Tapi setelahnya, kau malah menjauh dariku.” 

“Apa langit bisa salah, Yah?” 

“Langit tidak pernah salah. Kalaupun kenyataannya berbeda dengan yang kau harapkan, semua karena kesalahan kau yang tak pernah mengunjungiku lagi.” 

“Jadi, sekarang apa yang harus aku lakukan, Yah?” 

Ayah terdiam sejenak, tangannya semakin hangat. “Hm... istri kau pembangkang dan anak kau tak tahu diri. Andaikan kau cepat datang ke sini, semua tak akan terjadi, karena langit tak akan membiarkan kau dalam bimbang. Dan untuk sekarang, pilihannya adalah: kau pergi, tinggalkan rumah neraka kau, atau... kau usir mereka, dan jadikan rumah kau surga.” 

Aku mengangguk. 

Sungguh, pikiran itu sudah menghantuiku beberapa tahun ini, dan Ayah mengamininya. Meninggalkan mereka adalah hal yang masuk akal. Lagian, dianggap apa aku di rumah? 

Perceraian terjadi di usiaku yang ke-60 tahun. Aku keluar dari rumah menuju kota tempat tinggal Ayah. Meninggalkan usahaku, namun aku membawa semua surat-surat berharga yang bisa aku kemas. Dari dulu, istriku selalu mempercayaiku untuk urusan aset karena ia tak mengerti, sehingga semua aset atas namaku, meskipun sebagian besar adalah uangnya. Tak tersisa, hanya rumah tanpa surat itu yang aku tinggalkan. 

“Papa di mana? Kok sudah seminggu tak pulang?” 

Ketika aku di rumah, putraku mendiamkanku. Ketika aku pergi, ia seolah panik. Aku tak menanggapi, ia pasti hanya meresahkan semua harta yang kubawa. Harta-harta ini sekarang bebas aku berikan pada Bapanku dan keluargaku, tak ada lagi yang menahanku. Adik-adikku sudah tua memang, sudah punya cucu, tapi mereka tetap tanggung jawabku, sesuai pesan orang tuaku. 

Putraku? Biar saja Mama mereka yang mengurusnya. Toh, selama ini aku hanya dianggap “patung”, penghias rumah seminggu sekali. 

*** 

 

Pertengahan 2025. Hartaku sudah habis tak tersisa. Aku si pria tua pesakitan, terjebak sendiri di kamar indekos tanpa penghasilan. 

Ketujuh saudaraku sungguh tak ada yang peduli, tak ada niat mereka untuk merawatku. 

Aku pun sudah tak bisa mengikuti Bapanku karena tak ada lagi uang untuk pupuan. Padahal, hampir seluruh hartaku sudah kuserahkan. Bahkan, temanku yang dulu mengajakku sudah berterus terang bahwa ia hanya menipuku. Ia menjelaskan bahwa Ayah bukanlah siapa-siapa, bahkan Ayah tak mempercayai Tuhan. Ayah hanya mampu membuat tangannya hangat dan seolah-olah meringankan kepala. Dan Bapanku menjadi ramai karena benarnya ramalan Ayah padaku. Dan aku? Hanya menjadi iklan gratis untuk mereka. 

Aku terbuang dari yang kuperjuangkan. 

Putraku? Ialah penyelamatku, dan tak seperti pikiranku di awal. Tak pernah ia meributkan harta, dan dialah yang membuat istriku ikhlas akan hartanya. Ia mengungkapkan hanya mengkhawatirkan kondisiku yang sudah tua. 

Ia bilang bahwa Tuhan itu baik. Tuhan menjaga perasaannya dari rasa benci padaku. Setiap hari ia menghubungiku dan ingin merawatku. 

“Papa adalah orang paling egois yang memandang keluarga seperti musuh,” katanya. 

Akulah yang berjarak dan menyebabkan putraku menjauh dariku. Kesalahan terbesarku juga adalah membuat putraku trauma, tiga puluh lima tahun usianya, ia takut menikah karena melihat keluarganya yang tak bahagia. 

Akulah manusia dengan masalah yang kuciptakan sendiri karena kebodohanku. Andaikan aku tetap dekat dengan Tuhan, menghentikan aliran dana untuk adik-adikku atau membiarkan mereka mandiri, mungkin istriku tetap bersikap baik pada suaminya, keluargaku tetap harmonis, dan aku akan jauh lebih tenang daripada sekarang. 

Sayangnya, semua terlambat—malaikat datang terlebih dahulu daripada putraku. 

***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bergumul Dengan Tuhan
Pipo Vernandes
Cerpen
Pergi Untuk Pulang
Nurul Islah
Cerpen
Paduka Yang Mulyo
Kiiro Banana
Cerpen
Bronze
ANJING YANG MENJADI MALING
Sri Wintala Achmad
Cerpen
Sebuah Karya Tanpa Jiwa
fotta
Cerpen
Bronze
Lelaki Bermata Teduh (Tamat)
Munkhayati
Cerpen
Pengantar Maut
zain zuha
Cerpen
Sobari
Soerja HR Hezra
Cerpen
Bronze
AKU INGIN MENJADI PRIA KAYA
Sia Bernadette
Cerpen
Disowned
Normal Temperature
Cerpen
Bronze
( dalam Kurung )
Yasin Yusuf
Cerpen
Jenazah
Rita Puspitasari
Cerpen
Aku Adalah Tempat Mereka Meludah
Citra Aulia Putri
Cerpen
Bronze
Hanya Untukmu
mareta amelia
Cerpen
Bronze
Wanita Pembatik
Nabilla Shafira
Rekomendasi
Cerpen
Bergumul Dengan Tuhan
Pipo Vernandes
Novel
HAYALISM : Antusiasm
Pipo Vernandes