Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Berbakti Jalur Fast Track
0
Suka
10
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Siang itu, aku sedang rebahan di sofa, menikmati waktu luang sebagai penguasa rumah tangga sambil menunggu Hanif pulang kerja. Niat hati ingin mencari tutorial make-up "Natural Look ala Artis Korea", tapi jempolku terpeleset. Aku malah mengklik sebuah video rekomendasi dengan thumbnail berapi-api.

Judulnya: "AZAB ISTRI YANG SUKA NGOMEL PAGI HARI: KUBURANNYA DIPENUHI KECOAK DAN TAGIHAN PAYLATER!"

Jantungku berdegup kencang. Judul itu sangat spesifik. Terlalu spesifik. Pagi ini, tepat jam 06.30, aku baru saja menyemprot Hanif dengan kekuatan 80 desibel hanya karena dia menaruh handuk basah di atas kasur. Aku mengomel panjang lebar, mengungkit kesalahan dia dari zaman Majapahit sampai zaman Revolusi Industri 4.0.

"Ya Tuhan..." gumamku horor. "Apakah ini teguran?"

Aku menonton video itu. Di dalamnya, seorang penceramah dengan suara lembut namun menusuk kalbu berkata: "Wahai para istri... Suami adalah ladang pahala. Senyum suami adalah tiket surga. Melayani suami bagaikan raja akan membuatmu menjadi bidadari dunia akhirat. Janganlah engkau menjadi Nenek Lampir, karena sesungguhnya..."

Aku tidak sanggup mendengar lanjutannya. Aku merasa tertampar bolak-balik. Aku melihat diriku di cermin. Rambut acak-acakan, daster bolong di ketiak, wajah berminyak sisa gorengan tadi pagi. Aku bukan bidadari. Aku lebih mirip security komplek yang lagi shift malam.

Saat itu juga, tekadku membara. Aku harus berubah, aku tidak mau masuk neraka jalur handuk basah. Aku ingin masuk surga jalur VIP. Jalur Fast Track.

"Oke, Feby. Tarik napas," instruksiku pada diri sendiri. "Mulai detik ini, kamu bukan lagi Feby si Singa Betina. Kamu adalah Feby yang Lembut, Santun, dan Mengabdi."

Misi dimulai. Aku punya waktu tiga jam sebelum Hanif pulang. Aku akan mengubah rumah ini menjadi istana, dan diriku menjadi pelayan bintang lima. Hanif akan pulang dan menemukan surga dunia.

Langkah pertama: Renovasi Penampilan. Daster bolong itu kulempar ke keranjang cucian dengan jijik. "Pergilah kau, simbol kemalasan!"

Aku mandi kembang (pakai sabun cair aroma mawar, itu dihitung kembang kan?). Aku luluran sampai kulitku merah. Aku keramas tiga kali sampai rambutku kesat seperti piring yang dicuci pakai Sunlight.

Setelah itu, aku berdandan. Bukan dandan biasa. Ini dandan penyambutan Raja. Aku memakai foundation tebal, bedak tabur, blush on merah merona, dan lipstik merah menyala. Alisku kucetak presisi seperti jembatan Suramadu. Bulu mata anti-badai kutempelkan.

Bajunya? Aku membuka lemari. Gamis pengajian terlalu kaku. Baju haram (dinas malam) terlalu vulgar untuk jam 5 sore. Akhirnya aku memilih kebaya modern warna pink fanta yang biasa kupakai kondangan, lengkap dengan kain lilit yang membuat langkahku jadi kecil-kecil kayak pingguin.

"Sempurna," kataku di depan cermin. Aku terlihat seperti sinden yang siap manggung, atau mungkin sales kosmetik keliling. Tapi intinya: Cantik dan Berusaha.

Langkah kedua: Menyiapkan Istana. Aku menyapu lantai dengan kecepatan cahaya. Menyemprotkan pengharum ruangan aroma lavender sebanyak setengah botol sampai udara di rumah ini rasanya bisa bikin mabuk kepayang. Aku memasak makan malam spesial: Sop Buntut (dari bumbu instan) dan Tempe Goreng (yang agak gosong dikit, tapi it's okay, tertutup cinta).

Jam 17.30. Semuanya siap. Aku berdiri di balik pintu, jantung berdebar menunggu suara motor Hanif. Aku melatih senyumku. Senyum 2 jari kiri, 2 jari kanan. Mata menyipit tulus. "Selamat datang, Suamiku... Ahlan Wa Sahlan, Kanda Hanif..."

Terdengar suara motor Hanif berhenti di depan pagar. Suara standar samping diturunkan. Cklek. Langkah kaki mendekat. Kunci pintu diputar. Cklek.

Pintu terbuka. Hanif masuk dengan wajah lelah, kemejanya kusut, tas ransel menggantung miring di bahu. "Assalamualaikum..." ucapnya dengan nada datar khas budak korporat yang energinya sudah disedot habis oleh bos.

Biasanya, aku akan menjawab dari sofa sambil main HP: "Waalaikumsalam. Mas, itu sampah depan jangan lupa dibuang ya."

Tapi hari ini TIDAK.

Aku melompat (secara metaforis, karena kain lilit ini sempit) ke hadapannya. Aku merentangkan tangan, wajahku bersinar dengan highlighter yang menyilaukan.

"WAALAIKUMSALAM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH, DUHAI IMAMKU, CAHAYA MATAKU, PENGHUNI HATIKU!"

Suaraku bukan suaraku. Itu suara dubber telenovela yang dicampur dengan intonasi ustadzah. Lembut, mendayu, dan sedikit bergetar.

Hanif mundur tiga langkah. Dia memegang dadanya. Matanya melotot horor. Tas ranselnya jatuh ke lantai. "ASTAGHFIRULLAHALADZIM!" teriak Hanif kaget.

Dia melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kebaya pink, full make-up, senyum yang terlalu lebar sampai gusi kering.

"Ya... Yang?" suara Hanif bergetar. "Kamu... kamu kenapa? Ada kondangan? Siapa yang nikah? Kok aku nggak dikabarin?"

Aku menggeleng pelan, masih mempertahankan senyum mengerikan itu. Aku mendekat, meraih tangan kanannya. "Tidak ada yang menikah, Kanda. Dinda berdandan seperti ini khusus untuk menyambut kepulanganmu. Agar matamu sejuk memandang."

Aku mencium punggung tangannya. Bukan cium biasa. Aku menempelkan hidungku di sana selama lima detik, menghirup aroma debu jalanan dan bau bensin yang menempel di kulitnya. "Masya Allah... aroma kerja keras..."

Hanif menarik tangannya cepat-cepat seolah digigit ular. "Feb... Feby? Kamu sakit? Atau kamu... kesurupan? Sumpah Yang, kalau kamu minta duit belanja nambah, ngomong aja. Jangan gini, aku takut."

"Sssttt..." Aku menempelkan telunjuk (yang kukunya sudah kutempel nail art palsu) ke bibirnya. "Jangan bicara soal uang, Kanda. Dinda ikhlas. Mari, silakan masuk. Istana ini milikmu."

Hanif masuk dengan langkah ragu-ragu, matanya liar memindai ruangan, mencari kamera tersembunyi. "Ini prank ya? Mana kameranya? Woy tim Katupat (nama acara prank)! Keluar lu!"

Hanif hendak melepas sepatunya di rak dekat pintu. "Eits! Jangan!" cegahku lembut.

"Kenapa? Ada bom?" Hanif melompat mundur.

"Biar Dinda yang lepaskan. Raja tidak boleh membungkuk. Nanti mahkotanya jatuh."

Aku berlutut di hadapannya. Kain lilitku yang ketat membuatku kesulitan menekuk kaki. Krek. Bunyi jahitan kain yang meregang terdengar samar. Aku mengabaikannya.

"Sini kakinya, Mas," pintaku.

Hanif menatapku nanar. "Yang, nggak usah. Bau kaos kakiku kayak keju basi diperam sebulan. Kamu nanti pingsan."

"Tidak apa-apa. Bau keringat suami adalah parfum surga." (Kalimat ini murni karanganku, ustadzah di YouTube tidak bilang begini).

Aku menarik kaki kanan Hanif paksa. Masalahnya: Sepatu pantofel Hanif itu sempit. Dan dia tidak pakai kaos kaki licin, tapi kaos kaki katun tebal yang sudah melar.

Aku menarik sekuat tenaga. "Hhhnggg!" Sepatu itu tidak mau lepas.

"Yang, udah Yang..." Hanif mencoba menyeimbangkan badan dengan satu kaki kayak bangau.

"Diam, Mas. Dinda pasti bisa!" Aku mengerahkan tenaga dalam mantan atlet panjat tebingku. Aku menarik dengan sentakan keras. PLOP!

Sepatu terlepas. TAPI... Hukum Newton III berlaku: Setiap aksi ada reaksi. Tubuhku terpental ke belakang karena tarikan itu. Sementara kaki Hanif yang kutarik tadi melayang ke udara, membuatnya kehilangan keseimbangan.

"WAAAAAA!" Hanif melambaikan tangan panik.

GUBRAK!

Hanif jatuh terlentang. Punggungnya menghantam lantai granit dengan suara yang menyakitkan. Kepalanya nyaris membentur rak sepatu. Sementara aku terjengkang ke belakang, rok kebayaku robek lebar di bagian paha. BREBET!

Hening sejenak. Hanif mengerang, memegang pinggangnya. "Aduh... boyokku..."

Aku bangkit panik, merangkak mendekatinya (lupa kalau harus anggun). "MAS! ASTAGA! MAAFKAN DINDA! Kanda tidak apa-apa?! Apakah ada tulang yang bergeser?!"

Hanif menatapku dengan mata berkaca-kaca menahan sakit. "Feb... kamu ini kenapa sih?"

"Maaf Mas! Dinda terlalu bersemangat!"

Setelah insiden sepatu (yang berakhir dengan Hanif berjalan terpincang-pincang menuju sofa), aku tidak menyerah. Aku harus menebus dosa.

"Duduklah, Rajaku. Dinda ambilkan minum dingin pelepas dahaga."

Aku lari ke dapur. Mengambil gelas kristal (hadiah pernikahan yang belum pernah dipakai). Mengisinya dengan sirup Marjan merah darah, es batu, dan selasih. Aku membawanya dengan nampan. Berjalan anggun. Sampai di depan Hanif, aku membungkuk sopan untuk menyajikan minuman.

"Silakan, Kan..."

Bencana terjadi lagi. Bulu mata palsuku yang super tebal dan berat itu... copot sebelah. Bagian ujungnya lepas, menggantung di depan mataku, menghalangi pandangan. Aku kaget, refleks mengedipkan mata. Keseimbanganku goyah. Tangan yang memegang nampan miring.

BYURRR!

Gelas kristal itu tergelincir. Isinya sirup merah lengket, tumpah ruah. Tepat di atas selangkangan Hanif.

"AAAAARRGGGHHHHH PANASSS!! EH DINGIIIN!! EH LENGKET!!!" Hanif melompat dari sofa seperti kangguru, menepuk-nepuk area vitalnya yang kini basah kuyup berwarna merah. Dia terlihat seperti korban penusukan di area yang sangat tidak strategis.

"YA ALLAH MAS!" Aku panik, mengambil tisu, dan dengan bodohnya mencoba mengelap area itu. "Sini Dinda bersihin!"

"JANGAN DISENTUH!" Hanif menepis tanganku, wajahnya merah padam. "Bahaya! Nanti salah pegang!"

"Maaf Mas! Maaf! Dinda ambilin anduk!"

Hanif berdiri dengan celana basah lengket. Dia menatapku putus asa. "Feb... aku mau mandi aja. Tolong... biarin aku mandi sendiri. Jangan bantuin apa-apa lagi. Please."

"Baik, Mas. Tapi Dinda siapkan air hangat ya? Biar rileks?"

"Terserah. Asal jangan air raksa."

Aku lari ke kamar mandi. Menyalakan water heater. Aku ingin airnya pas. Hangat kuku. Tapi kran mixer di kamar mandi kami itu sensitif. Geser kiri dikit jadi es kutub, geser kanan dikit jadi lahar merapi.

Aku memutarnya ke arah panas, menunggu sampai hangat. "Kurang panas," gumamku. Aku putar lagi. Lalu aku menaburkan kelopak bunga mawar (yang kupetik paksa dari pot tetangga tadi sore).

"Silakan Mas, sudah siap," kataku di depan pintu kamar mandi.

Hanif masuk dengan wajah curiga. Dia menutup pintu. Lima detik kemudian. "ANJIIIRRRR!!! MELEPUH KULIT GUE!!!"

Teriakan Hanif menggema. Aku lupa mengecek suhu terakhir. Rupanya water heater itu sedang mood swing dan mengeluarkan air mendidih. Ditambah lagi, lantai kamar mandi jadi licin karena sisa sabun lulurku tadi sore yang belum bersih benar. GUBRAK! Suara orang jatuh terpeleset terdengar lagi.

"MAS?!" Aku menggedor pintu.

"JANGAN MASUK!" teriak Hanif dari dalam. "Aku gapapa! Cuma tergelincir dan mateng dikit! Pergi Feb! Pergi!"

Aku bersandar di pintu kamar mandi, merosot ke lantai. Gagal lagi. Suamiku sudah jatuh dua kali dan hampir matang sekali dalam waktu 30 menit.

Hanif keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat, pincang, dan kulit yang agak kemerahan. Dia memakai kaos oblong dan sarung. Dia tidak berani menatap mataku. Dia berjalan merapat ke dinding, seolah menghindari ranjau darat.

"Makan yuk, Mas? Dinda suapin ya?" tawarku dengan sisa-sisa semangat.

"Gak usah disuapin, Feb. Tanganku masih ada," tolak Hanif halus tapi tegas.

"Tidak boleh! Istri sholehah itu menyuapi suaminya. Itu menambah kasih sayang. Ayo, buka mulutnya... Aaa..."

Aku menyendokkan nasi panas dan sop buntut. Sendoknya penuh menggunung (biar cepat kenyang, pikirku). Hanif membuka mulut ragu-ragu. Aku menyodorkan sendok itu. Sedikit terlalu cepat. Sedikit terlalu dalam.

"Hmph!" Sendok besi itu menabrak uvula (anak tekak) Hanif.

"Hulk! Hulk!" Hanif tersedak. Matanya melotot. Nasi berhamburan keluar. Dia batuk-batuk hebat. Wajahnya biru.

"MINUM MAS! MINUM!" Aku menyodorkan gelas air. Hanif merebut gelas itu dariku (takut kutumpahkan lagi) dan meminumnya rakus.

Setelah napasnya kembali, Hanif meletakkan sendok. Dia menatapku. Tatapan lelah. Tatapan seorang pria yang jiwanya sudah hancur.

"Feby," panggilnya lirih.

"Ya, Sayang? Mau nambah?" tanyaku dengan senyum yang mulai berkedut karena capek menahan pipi.

"Kamu... kamu kenapa sih hari ini?"

"Kenapa apanya? Dinda kan sedang berbakti."

Hanif menghela napas panjang. "Berbakti? Feb, sejak aku masuk rumah... Pertama, aku dibentak pake salam operet. Kedua, pinggangku hampir patah gara-gara tarik tambang sepatu. Ketiga, masa depan kita hampir punah kena sirup marjan. Keempat, kulitku melepuh kayak kepiting saos padang. Kelima, aku hampir mati tersedak sop buntut. Ini bukan berbakti, Feb. Ini percobaan pembunuhan berencana!"

Aku terdiam. Sendok di tanganku bergetar. Bulu mata palsuku yang sebelah kanan sudah lepas setengah, melambai-lambai kena angin AC. Kebayaku robek. Kakiku sakit pakai heels di dalam rumah. Perutku lapar karena belum makan demi nungguin dia. Dan sekarang... dia bilang ini percobaan pembunuhan?

Rasa lelah itu memuncak. Topeng "Istri Berbakti" itu retak. Setan di dalam diriku yang sudah dikurung selama 4 jam akhirnya mendobrak keluar penjara.

"AKU TUH USAHA, HANIIIF!!!"

Teriakanku meledak. Kembali ke frekuensi asli: 80 desibel, cempreng, dan galak.

Aku membanting sendok ke piring. PRANG! Aku mencopot bulu mata palsu itu dan melemparnya ke jidat Hanif. PLOK!

"Aku tuh nonton ceramah! Katanya aku dosa kalau galak! Aku mau tobat! Aku mau jadi istri yang nyiapin air anget, yang nyopot sepatu, yang senyum manis! Aku udah dandan 2 jam! Aku pake kebaya sempit ini sampe sesek! Aku nahan laper! TAPI KAMU MALAH NGELUH TERUS!"

Aku berdiri, mengangkat satu kaki ke atas kursi (pose preman warteg), melupakan keanggunan.

"Capek tau gak jadi sholehah jalur instan?! Pegel senyum terus! Susah jalan pake kain ginian! Ternyata jadi bidadari itu menyiksa!"

Hanif menatapku. Bulu mata palsu masih nempel di jidatnya, membuatnya terlihat seperti punya alis ketiga. Dia tidak marah. Dia malah... tersenyum. Lalu dia tertawa. Kekehannya pelan, lalu makin keras.

"HAHAHAHA! Nah! Ini baru istriku!" seru Hanif sambil menunjuk mukaku yang berantakan.

"Kok malah ketawa?! Aku lagi marah nih!" bentakku.

Hanif berdiri. Dia mengabaikan pinggangnya yang sakit. Dia mendekatiku. Dia mengambil tisu, lalu dengan lembut menghapus lipstik merah menyala yang belepotan di gigiku.

"Feb," katanya, suaranya kembali hangat. Bukan suara ketakutan lagi. "Kamu nggak perlu jadi orang lain buat dapetin surgaku. Sumpah."

"Tapi kata Ustadzah di YouTube..."

"Ustadzah itu nggak kenal kita. Dia nggak tau kalau aku nikahin kamu itu karena kamu lucu, kamu ekspresif, kamu apa adanya. Aku nikahin Feby yang hobi pake daster bolong, yang kalau ketawa ngakak sampe keliatan amandelnya, yang kalau masak nasinya kadang lembek kadang keras."

Hanif memegang kedua bahuku. "Aku nggak butuh pelayan, Feb. Kalau butuh pelayan, aku bisa hire ART. Aku butuh partner. Temen hidup. Yang bisa aku ajak debat, ajak bercanda, ajak susah seneng bareng."

"Tapi aku galak..." cicitku, mataku mulai berkaca-kaca (luntur maskara).

"Iya, kamu galak. Kamu cerewet. Suara kamu bisa mecahin gelas. Kamu pelit. Kamu suka bikin eksperimen yang merusak prabot rumah"

"Nah, kan? Aku sudah gagal menjadi seorang istri."

"Tapi..."

"Tapi?"

Suasana hening sesaat, Hanif menatapku dalam, tangannya menyentuh pipiku dan jempolnya bergerak lembut memainkan bibirku.

"Tapi aku sayang kamu yang begitu, itu yang bikin rumah ini hidup. Coba bayangin kalau kamu diem, senyum-senyum serem kayak tadi terus. Aku malah stress, Feb. Aku malah ngerasa asing di rumah sendiri."

Hanif memelukku. Pelukan yang hangat, bau minyak kayu putih (karena dia abis baluran). "Aku lebih suka kamu yang ngomel nyuruh aku buang sampah, daripada kamu yang nyiumin kaki aku tapi bikin aku jatoh guling-guling."

Aku terisak di pelukannya. "Berarti aku nggak perlu pake kebaya lagi?"

"Nggak usah! Bakar aja kebaya itu! Pake daster aja, itu outfit terbaik kamu. Lebih aerodinamis."

Aku tertawa di sela tangis. "Maafin aku ya, Mas. Udah bikin kamu celaka berkali-kali hari ini."

"Nggak apa-apa. Anggap aja uji nyali. Tapi besok-besok, jangan nonton ceramah aneh-aneh lagi ya. Kalau mau sholehah, cukup bikinin aku kopi (yang nggak tumpah) sama dengerin curhatanku aja. Itu udah cukup."

Aku mengangguk, mengusap ingus di kaos oblong Hanif.

Sepuluh menit kemudian. Aku sudah berganti pakaian. Kebaya pink sudah masuk keranjang. Make-up tebal sudah luntur dicuci air. Kini aku kembali memakai Daster Kebangsaan (yang ada noda sambel di bagian dada). Rambut dicepol asal. Wajah polosan tanpa bedak.

Kami duduk di sofa, makan sop buntut (yang ternyata enak juga walau dari bumbu instan). Hanif makan dengan lahap, kakinya diangkat satu ke sofa.

"Nah, gini kan enak," kata Hanif dengan mulut penuh. "Santai. Nggak tegang kayak lagi meeting sama direksi."

"Mas," panggilku. Nada suaraku sudah kembali normal (agak ngegas dikit).

"Ya?"

"Itu sirup yang tumpah di lantai belum dipel lho. Lengket banget, semut udah mulai demo. Kamu pel gih."

Hanif berhenti mengunyah. Dia menatapku. "Baru juga romantis-romantisan, udah disuruh ngepel?"

"Ya kan tadi pinggang kamu sakit gara-gara aku. Sekarang kan udah sembuh abis makan. Itung-itung olahraga malem. Cepetan, keburu semutnya bikin kerajaan!"

Hanif tersenyum kecut, tapi matanya berbinar senang. "Siap, Kanjeng Ratu. Laksanakan."

Dia bangkit, mengambil kain pel. Aku melihatnya dari sofa sambil nyemil kerupuk. Ah, indahnya menjadi diri sendiri. Menjadi istri sholehah itu memang penting, tapi menjadi istri yang waras dan bahagia jauh lebih penting agar suami tetap selamat nyawanya.

"Mas!" teriakku lagi.

"Apa lagi, Feb?!"

"Kopi aku mana? Katanya mau bikinin kopi?"

"ASTAGA! Iya, iya! Sabar napa!"

Inilah surgaku. Surganya Hanif. Surga yang berisik, berantakan, dan penuh omelan, tapi nyata. Dan yang paling penting: Tidak ada lagi bulu mata palsu yang nyasar ke jidat suami.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Berbakti Jalur Fast Track
cahyo laras
Cerpen
Rahmat Anti-Feminis
E. N. Mahera
Flash
SIRKUS HEMAT
Wulan Kashi
Cerpen
Ironi Kehidupan Ras Terkuat Di Muka Bumi
Yovinus
Komik
KAOS HITAM
moris avisena
Cerpen
Harmoni di Balik Pagar
Lukitokarya
Flash
BISKUIT COKELAT Pengganti Utang
Yooni SRi
Flash
Apel untuk Doktor
Adinda Amalia
Cerpen
Bronze
Mengarang Itu Tidak Gampang, Tuan
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Paket xxx
Rizal Syaiful Hidayat
Flash
Bronze
Pesta Pernikahan
Afri Meldam
Flash
Tutorial Melawan Begal
Braindito
Cerpen
Bronze
Kopi 3
syaifulloh
Flash
DIPAKSA DEWASA
lany hardila
Komik
Kartun Tunamuka
Andi Resnadi
Rekomendasi
Cerpen
Berbakti Jalur Fast Track
cahyo laras
Cerpen
Temen Papah Zone
cahyo laras
Cerpen
Split Bill, Split Hidup
cahyo laras
Cerpen
Cintaku Bertepuk Sebelah Treadmill
cahyo laras
Cerpen
Ngajarin Istri Nge-Gym
cahyo laras
Cerpen
Butuh Healing gara gara Healing
cahyo laras
Cerpen
Kurir Dikira Debt Collector
cahyo laras
Cerpen
Asmara Yang Bikin Jantung Copot
cahyo laras
Cerpen
Dituduh Penculik
cahyo laras
Cerpen
Sepatu Mangap di Marathon 10k
cahyo laras
Novel
Kontrak Terakhir
cahyo laras
Cerpen
Diet Fotosintesis Demi Motor
cahyo laras
Cerpen
Lolos Tilang, Harga Diri Hilang
cahyo laras
Cerpen
Jiwa Lelaki Meronta, Otot Minta Pulang
cahyo laras
Cerpen
Vonis Kematian Dokter Google
cahyo laras