Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku Bentang.
Karpet hijau di shaf pertama.
Ribuan dahi pernah singgah di atasku, tetapi tak satu pun mengetahui namaku. Sudah hampir 10 Ramadhan kulewati yang sebelumnya juga ada beberapa karpet yang menempati tempatku ini.
***
“Sudah tidak layak.”
Aku mendengar beberapa lelaki lansia dengan sarung dan kopiah asik bercengkrama, saat itu aku masih dalam sebuah plastik di baris belakang dengan karpet baru lainnya. Aku sendiri tidak tahu secara pasti apa yang mereka bicarakan.
Petang itu dijadwalkan sidang isbat, aku buru-buru digelar.
Sejak hari itu aku tinggal di Masjid Al Hayyul Adzim, sebuah masjid di Kampung Pulo yang nyaris tak pernah benar-benar sepi.
Aku tahu hal itu dari Madani, si karpet merah sebelumku.
Pada pergantian kami, dia memberikan sebuah pesan
“Bentang, kamu akan menyaksikan sisi lain hidup manusia di hadapan Tuhannya.” Teriaknya ketika Madani hampir digulung sempurna.
Berkali-kali Seorang pemuka agama mengatakan “Kebahagiaan adalah pendeknya jarak antara apa yang engkau miliki dengan apa yang engkau inginkan.”
Aku menyaksikan anak-anak bersholawat dan memuji-muji Tuhan dengan pengeras suara. Aku juga menyaksikan di atasku bahwa mereka terbata-bata membaca Al-Qur’an Aku juga menyaksikan mereka menjerit karena saling berkelahi–pukul, memukul dan tendang, menendang.
Dulu semasa di pabrik, aku selalu berbincang dengan teman lamaku yakni, Gulung dan Hampar. Mereka selalu mendambakan agar mereka ditempatkan di sebuah Masjid Agung ataupun setidaknya surau yang banyak pengajiannya.
“Aku sangat berharap bisa mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an,” begitu kata Gulung.
“Kamu kan karpet hotel, Gulung.”
Aku coba menyadarkannya dan dia hanya terdiam beberapa saat.
“Aku juga berharap begitu,” lanjut Hampar menimpaku.
“Kamu kan karpet untuk ruang tamu orang-orang kaya, Hampar.”
Aku bersikukuh untuk kembali menyadarkan bahwa kita pun sebagai karpet ada perannya masing-masing.
***
Aku benar-benar menyaksikan langsung lantunan yang merdu dari seorang paruh baya dengan jenggot putih panjangnya. Aku juga merasakan kaki-kaki orang yang berdiri untuk shalat tarawih dua puluh rakaat di awal bulan puasa. Tapi aku juga merasakan lewat doa - doa mereka yang diminta. “Selamat dunia, selamat akhirat, dan berikan kemudahan.”
Semuanya berdoa untuk nama yang berbeda tapi tetap sama pada tujuannya.
Mereka mungkin punya masalah dan cobaan yang berat.
Sesekali mereka menadahkan tangan lalu mengusap wajahnya dengan keikhlasan.
Tapi mereka tidak lupa di akhir doa untuk meminta ampunan.
Sepuluh hari awal Bulan Ramadhan hampir genap.
Aku menemukan pola yang sama pada doa - doa mereka.
“Berikan rahmat-Mu ya Allah.”
“Berikan kemudahan-Mu ya Allah.”
“Berikan limpahan rezeki-Mu ya Allah.”
***
Jumat pertama di bulan Ramadhan, aku dibersihkan. Debu terangkat dan wewangian disemprotkan. Tak terasa pula sudah sepekan takjil disajikan, puji-pujian menjelang adzan berkumandang, dan anak remaja yang membangunkan sahur di shaf terdepan. Tepat di atasku ia berseru.
“Sahur…
“Bapak-bapak. Ibu-ibu. Sahur…”
Beberapa menit sebelum khotib naik mimbar, kotak tromol dijalankan.
Ratusan jamaah merapatkan barisan duduk– khusyuk mendengarkan.
Aku mendapati mereka yang bergamis lengkap dengan kopiahnya, yang berbaju koko lengkap dengan kain sarungnya, dan yang berkaos dengan celana leggingnya. Semua datang sesuai keadaannya.
***
Sepuluh hari selanjutnya di Bulan Ramadhan tiba.
Orang-orang menyebut fase ini sebagai fase ampunan.
Namun, sebagai karpet di shaf terdepan, aku mendapati sebuah kenyataan yang agak menggelitik sekaligus menyedihkan.
shaf-shaf di belakangku mulai kehilangan mereka yang hadir di malam sebelumnya. Beberapa karpet dulu digelar bersamaku di malam itu, kini sering kali kosong.
Manusia-manusia yang kemarin berdesakan hingga kedua sikut mereka saling bersentuhan, perlahan mulai disibukkan oleh urusan dunia yang lain.
Mungkin mereka sedang menunggu lampu merah di jalan, atau harus pergi ke pasar lebih awal, membeli bahan-bahan, agar warung makan mereka terbuka di kala sahur tiba.
Namun, shaf pertama tempatku membentang tidak pernah benar-benar sepi. Di sinilah orang-orang pilihan itu bertahan.
Ada Pria sepuh, yang rambut dan jenggotnya sudah memutih seluruhnya. Setiap malam, ia yang paling awal tiba, bahkan sebelum muadzin menyalakan pengeras suara.
“Pak Mono.” Pemuda menyapa dan bersalaman dengannya. Kurasa itu salah satu muridnya ketika Pak Mono mengajar mengaji sepuluh tahun yang lalu. “Wah, Nak Ferdi.” Balas senyumnya mengelus kepala pemuda tadi.
Pak Mono selalu memilih titik yang sama di atasku–tepat tiga jengkal dari tempat berdiri imam. Di atas badanku, lengan dan lutut Pak Mono yang linu sering kali bertumpu lama saat sujud. Aku bisa merasakan getaran sendi-sendinya yang sudah terlanjur kemakan usia.
“Ampuni hamba yang ringkih ini, ya Allah..." bisiknya suatu malam, sangat lirih hingga mungkin hanya aku dan keramik di bawahku yang mendengarnya.
Air matanya menetes, seolah meresap ke dalam serat-serat nilon hijauku yang sudah tepo’.
Menjadi karpet masjid membuatku sadar bahwa manusia akan ada masa-masa sulitnya. Muda, tua, pria, wanita. Tak luput dari kerasnya dunia.
Lalu seorang pemuda bernama Wahyu datang serabat-serobot. Berbeda dengan Pak Mono yang khusyuk dalam diam, Wahyu pemuda yang selalu tergesa-gesa namun membawa beban berat. Ia sering datang dengan kaos oblong polos dan celana jeans yang pudar warnanya.
Saat bersujud di atasku, dahinya begitu berat rasanya hingga sulit sekali untuk diangkat. Aku bisa mendengar deru nafasnya yang berat, hidung yang sesenggukan, dan pikiran yang tidak karuan.
Dari doa-doa yang dipanjatkannya ketika sujud di rakaat terakhir dan setelah salam, aku tahu ibunya sedang sakit keras di rumah sakit, ia punya beberapa tabungan dan mungkin cukup uang untuk menindak operasi tumor di kepalanya. Jika ibunya gagal, dia akan kehilangan keduanya–Ibunya dan tabungannya.
Di atas nilon yang hijau, dua insan bersujud sejajar.
Di hadapan Tuhan, mereka sangat sadar bahwa sejauh apapun usaha seorang hamba tidak akan terkabul jika tidak ada izin dari Yang Maha Pengasih.
***
Memasuki malam sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadhan, suasana Masjid Al Hayyul Adzim berubah menjadi sakral. Ini adalah sepuluh malam terakhir, waktu di mana para jamaah berburu sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Anak-anak kecil yang gemar bercanda dan kejar-kejaran di atasku hingga membuat sebagian sisiku terlipat, kini sudah jarang terlihat. Yang tersisa di dalam masjid adalah keheningan yang pekat, dan hanya dipecah oleh suara paruh baya yang membalik halaman Al-Qur'an dan isak tangis yang tertahan.
"Andai Gulung dan Hampar bisa melihat ini," gumamku di kala sepertiga malam.
Aku teringat Gulung yang sangat ingin mendengar lantunan ayat suci.
Di hotel berbintang tempatnya berada sekarang, mungkin saat ini ia sedang dipijak oleh sepatu-sepatu mahal milik orang-orang kaya, atau terkena tumpahan minuman dalam sebuah acara pesta. Ia mungkin senang mendengar dentuman lagu-lagu yang mewah, tapi dulu keinginannya ingin berada di Masjid merasakan apa yang aku rasakan saat ini.
Sementara Hampar, di ruang tamu rumah mewah itu, mungkin ia hanya menjadi saksi dari obrolan-obrolan arisan bulanan para konglomerat tentang harta dan bisnis yang tak ada habisnya.
Sedang aku? Aku di sini. Menjadi saksi dari ruku dan sujudnya para pengharap surga. Aku menunggu mereka-mereka yang ingin berkonsultasi pada Tuhannya.
Di sini.
Di depan mimbar.
Tepat pada malam ganjil ke dua puluh tujuh, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Malam itu sangat tenang. Udara terasa sejuk, dan membuat tenang.
Saat imam membaca sujud seluruh jamaah ikut bersujud, aku merasakan sebuah kehangatan yang luar biasa menekan seluruh permukaanku. Tak disangka, Tigor yang merupakan seorang tersangka tahun lalu yang tertangkap basah, kini wafat dalam sujud witirnya.
Seolah, ada jutaan makhluk tak kasat mata yang ikut turun, berdesakan memenuhi ruang masjid, ikut mengaminkan doa-doa para jamaah. Mereka semua bersaksi bahwa dia yang wafat min ahlil khoir
Apakah ini yang mereka sebut sebagai Lailatul Qadar? Jika benar, maka akulah yang paling beruntung karena menjadi alas bagi Tigor di kerumunan para malaikat yang turun ke bumi. Juga menyaksikan ringannya nyawa dicabut walau tanda keburukan pada Tigor belum sepenuhnya dilupakan.
***
Hingga akhirnya, gema itu terdengar.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar... La ilaha illallahu wallahu akbar…
Suara takbiran saling bersahut, dari pengeras suara masjid, memantul menggetarkan hati para masyarakat sekitar. Ramadhan telah usai. Besok mereka akan menuju kemenangan.
Esok paginya, setelah salat Idul Fitri yang luar biasa, separuh sisiku tertekuk karena jamaah yang meluap, suasana masjid mendadak berubah lengang.
Sore harinya, hanya ada satu dua orang yang datang untuk salat ashar. Masjid kembali ke ritme hidupnya yang biasa. Aku berpikir bahwa mereka sedang mengunjungi sanak saudara lalu meminta maaf atas segalanya. Yang datang di waktu ashar adalah mereka yang hidup sebatang kara.
Dua hari setelah Lebaran, beberapa lelaki lansia yang dulu kulihat saat aku masih terbungkus plastik, kembali datang. Kali ini mereka alat penyedot debu, dan beberapa pewangi. Pak Mono ada di antara mereka.
"Ayo, karpetnya kita bersihkan dulu, lalu kita simpan. Biar tidak jamuran," kata salah seorang dari mereka.
Aku merasakan tubuhku mulai diangkat. Ujung badanku dilipat, lalu perlahan-lahan, aku digulung.
Dunia hijauku perlahan berputar, merapat, memendek, hingga pandanganku terhadap atap Masjid Al Hayyul Adzim mulai menyempit.
Saat gulungan itu nyaris sempurna, aku teringat ucapan Madani, si karpet merah sebelumku. Kini aku benar-benar paham apa maksud perkataannya.
“Aku telah menyaksikan sisi lain dari manusia. Aku melihat mereka tanpa satir, berserah diri sepenuhnya di hadapan Pencipta mereka tanpa perlu takut untuk mengungkapkan masalahnya.”
Gulungan terakhir selesai.
Gelap menyergapku saat selembar tali plastik mengikat tubuhku dengan erat.
Aku akan disimpan di dalam gudang belakang selama sebelas bulan ke depan, dalam sunyi dan debu yang perlahan menumpuk. Namun aku tidak sedih. Aku akan tidur dengan tenang, membawa ribuan memori tentang dahi-dahi yang bersujud, air mata ampunan, dan kehangatan Lailatul Qadar.
Aku Bentang. Kini aku digulung, menunggu Ramadhan berikutnya untuk kembali membentangkan jalan bagi para pencari ridho Tuhan.