Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Bronze
Benang Songket, Benang Rasa
0
Suka
238
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Bagian Satu: Lelaki dari Kota yang Lelah

Jakarta tidak pernah benar-benar tidur.

Arkan Ar Rimbai sudah hafal itu sejak pertama kali ia pindah ke ibu kota delapan tahun lalu—seorang pemuda dari Palembang dengan dua koper lusuh, satu mimpi besar, dan tiga juta rupiah pinjaman dari pamannya. Hari itu ia turun dari kereta bandara dengan mata yang berbinar dan langkah yang mantap, yakin bahwa kota ini akan menyambutnya dengan tangan terbuka.

Jakarta tidak menyambut siapapun dengan tangan terbuka.

Ia menyambut dengan siku, dengan tikungan tajam, dengan lampu merah yang tidak pernah berubah hijau di saat yang paling kamu butuhkan. Tapi Arkan bertahan. Ia belajar membaca ritme kota yang brutal itu, mengikuti detak jantungnya yang tidak kenal istirahat, dan perlahan—sangat perlahan—ia tumbuh bersamanya.

Kini, di usianya yang dua puluh tujuh, nama Arkan Ar Rimbai sudah cukup dikenal di kalangan industri tekstil Jakarta. Perusahaannya, Rimbai Textile, belum sebesar pemain-pemain kakap, tapi sudah cukup untuk memberinya kantor di lantai dua belas gedung modern di kawasan Sudirman, sebuah apartemen minimalis di Kuningan, dan dua orang karyawan yang setia. Ia memproduksi dan mendistribusikan kain-kain premium—linen, katun Mesir, dan beberapa lini kain tradisional Nusantara yang ia percaya punya pasar yang jauh lebih besar dari yang kebanyakan orang bayangkan.

Hidupnya teratur. Rapi. Efisien.

Dan sangat, sangat melelahkan.

Itu sebabnya ketika Fathan, sahabatnya sejak kuliah, mengirim pesan di tengah malam dengan bunyi notifikasi yang membangunkan Arkan dari tidur dangkalnya:

"Kan, ayo ke Palembang minggu depan. Aku ada urusan bisnis di sana, tapi bisa sekaligus jalan-jalan. Kapan lagi? Lu udah kayak robot 3 bulan terakhir."

Arkan menatap layar ponselnya lama.

Ia meletakkannya kembali. Memejamkan mata. Mencoba tidur.

Tapi pikiran soal kuartal ketiga yang belum mencapai target, soal vendor kain sutera yang bermasalah, soal pitch deck yang harus selesai sebelum Jumat—semua itu berputar di kepalanya seperti kaset yang rusak.

Ia meraih ponselnya lagi.

"Oke. Aku ikut."

Tiga hari kemudian, ia sudah di bandara Soekarno-Hatta dengan ransel dan satu koper kecil, menunggu Fathan yang seperti biasa terlambat dua belas menit. Ketika pesawat akhirnya mengangkat mereka d...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
Deep Love; Berhenti Pada Satu Nama
Rahmi Azzura
Flash
Bronze
Bahagiamu Bahagiaku
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Benang Songket, Benang Rasa
Amrullah Ibrahim
Novel
Gold
Kido Vs Yura
Mizan Publishing
Flash
Cowok Meteora
9inestories
Novel
Bronze
When You Say, I'll Say Yes!
Mika Rahayu
Novel
Bronze
The Last September
lrahmaniat
Novel
Bronze
All I want is You
Chrisdora Grey
Flash
Bronze
Hari-hari Tanpa Kamu
Arsualas
Novel
Bronze
You Are My Sirius Star
Yohajeng
Novel
Surat Cinta Kakak Kelas
Shell Shell
Novel
Gold
Sequence
Bentang Pustaka
Novel
Petrichor
Kal Q Fawzie
Flash
Bronze
Fotografer Partai dan Calon Istri Muda Bapak
Silvarani
Novel
Bronze
Di Batas Dua Iman
Maghfira Izani
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Benang Songket, Benang Rasa
Amrullah Ibrahim
Flash
Sentuhan di Mushola Teluk Betung
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Deru Bara di Dada Gita
Amrullah Ibrahim
Flash
Suara di Balik Daun Talas
Amrullah Ibrahim
Novel
Milikku Seorang
Amrullah Ibrahim
Flash
Kayu Mati yang Mengintai di Sungai Sekampung
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Bisik Senja di Ruang Kerja
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Ketika Cinta
Amrullah Ibrahim
Novel
Bunga di Taman jiwa
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Sang Kembang Desa
Amrullah Ibrahim
Novel
Celap Celup
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Pulang Menuju Pelukan
Amrullah Ibrahim
Novel
Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah
Amrullah Ibrahim
Novel
Mahkota Yang Terabaikan
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Sein Kanan, Belok Kiri
Amrullah Ibrahim