Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Bronze
Benang Songket, Benang Rasa
0
Suka
21
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Bagian Satu: Lelaki dari Kota yang Lelah

Jakarta tidak pernah benar-benar tidur.

Arkan Ar Rimbai sudah hafal itu sejak pertama kali ia pindah ke ibu kota delapan tahun lalu—seorang pemuda dari Palembang dengan dua koper lusuh, satu mimpi besar, dan tiga juta rupiah pinjaman dari pamannya. Hari itu ia turun dari kereta bandara dengan mata yang berbinar dan langkah yang mantap, yakin bahwa kota ini akan menyambutnya dengan tangan terbuka.

Jakarta tidak menyambut siapapun dengan tangan terbuka.

Ia menyambut dengan siku, dengan tikungan tajam, dengan lampu merah yang tidak pernah berubah hijau di saat yang paling kamu butuhkan. Tapi Arkan bertahan. Ia belajar membaca ritme kota yang brutal itu, mengikuti detak jantungnya yang tidak kenal istirahat, dan perlahan—sangat perlahan—ia tumbuh bersamanya.

Kini, di usianya yang dua puluh tujuh, nama Arkan Ar Rimbai sudah cukup dikenal di kalangan industri tekstil Jakarta. Perusahaannya, Rimbai Textile, belum sebesar pemain-pemain kakap, tapi sudah cukup untuk memberinya kantor di lantai dua belas gedung modern di kawasan Sudirman, sebuah apartemen minimalis di Kuningan, dan dua orang karyawan yang setia. Ia memproduksi dan mendistribusikan kain-kain premium—linen, katun Mesir, dan beberapa lini kain tradisional Nusantara yang ia percaya punya pasar yang jauh lebih besar dari yang kebanyakan orang bayangkan.

Hidupnya teratur. Rapi. Efisien.

Dan sangat, sangat melelahkan.

Itu sebabnya ketika Fathan, sahabatnya sejak kuliah, mengirim pesan di tengah malam dengan bunyi notifikasi yang membangunkan Arkan dari tidur dangkalnya:

"Kan, ayo ke Palembang minggu depan. Aku ada urusan bisnis di sana, tapi bisa sekaligus jalan-jalan. Kapan lagi? Lu udah kayak robot 3 bulan terakhir."

Arkan menatap layar ponselnya lama.

Ia meletakkannya kembali. Memejamkan mata. Mencoba tidur.

Tapi pikiran soal kuartal ketiga yang belum mencapai target, soal vendor kain sutera yang bermasalah, soal pitch deck yang harus selesai sebelum Jumat—semua itu berputar di kepalanya seperti kaset yang rusak.

Ia meraih ponselnya lagi.

"Oke. Aku ikut."

Tiga hari kemudian, ia sudah di bandara Soekarno-Hatta dengan ransel dan satu koper kecil, menunggu Fathan yang seperti biasa terlambat dua belas menit. Ketika pesawat akhirnya mengangkat mereka d...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
Bronze
Benang Songket, Benang Rasa
Amrullah Ibrahim
Novel
Gold
Tidak Pernah Ada Kita
Bentang Pustaka
Cerpen
Bronze
PEREMPUAN BATU
Sri Wintala Achmad
Novel
Jogja, Aku kira Aku singgah
Bobby Mahmud
Novel
Bronze
Maple Note
Hildan Fadhilla
Novel
Re:LUARGA
Fanny F. Cussoy
Flash
Mawar Dark Crimson
Ayu Anggun
Novel
Samudera
Annisa Yulianti
Novel
Buah Dari Luka
Linda Er
Flash
Dua Gantungan Kunci
Emur Paembonan S
Flash
Bronze
if we'd met before a decade
lidia afrianti
Cerpen
Ikhlas yang Terbaik
Amira Hilwana Ruwaify
Flash
Bronze
Jika Jantungmu Bisa Curhat...
Shabrina Farha Nisa
Novel
Bronze
Tied By Affection
Ertha Theo
Flash
Bronze
Kala itu aku cemburu
Antrasena
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Benang Songket, Benang Rasa
Amrullah Ibrahim
Novel
Arkan Ar Rimbai
Amrullah Ibrahim
Novel
Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah
Amrullah Ibrahim
Novel
Pesantren dan Pelangi Hati
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Senandung Rindu yang Mencair
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Pulang Menuju Pelukan
Amrullah Ibrahim
Novel
Ketika Cinta
Amrullah Ibrahim
Novel
Titik Temu
Amrullah Ibrahim
Novel
Celap Celup
Amrullah Ibrahim
Novel
Pulang ke Pelukan Desa
Amrullah Ibrahim
Novel
Lentera Teratai Tujuh Misteri
Amrullah Ibrahim
Novel
Menakar Waktu dalam Ridha-Nya
Amrullah Ibrahim
Novel
6 PEMBUKA MASALAH
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Lentera di Sudut Hati
Amrullah Ibrahim
Novel
SERI 5: PENDEKAR TERATAI EMAS
Amrullah Ibrahim