Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Bronze
Benang Songket, Benang Rasa
0
Suka
1,120
Dibaca

Bagian Satu: Lelaki dari Kota yang Lelah

Jakarta tidak pernah benar-benar tidur.

Arkan Ar Rimbai sudah hafal itu sejak pertama kali ia pindah ke ibu kota delapan tahun lalu—seorang pemuda dari Palembang dengan dua koper lusuh, satu mimpi besar, dan tiga juta rupiah pinjaman dari pamannya. Hari itu ia turun dari kereta bandara dengan mata yang berbinar dan langkah yang mantap, yakin bahwa kota ini akan menyambutnya dengan tangan terbuka.

Jakarta tidak menyambut siapapun dengan tangan terbuka.

Ia menyambut dengan siku, dengan tikungan tajam, dengan lampu merah yang tidak pernah berubah hijau di saat yang paling kamu butuhkan. Tapi Arkan bertahan. Ia belajar membaca ritme kota yang brutal itu, mengikuti detak jantungnya yang tidak kenal istirahat, dan perlahan—sangat perlahan—ia tumbuh bersamanya.

Kini, di usianya yang dua puluh tujuh, nama Arkan Ar Rimbai sudah cukup dikenal di kalangan industri tekstil Jakarta. Perusahaannya, Rimbai Textile, belum sebesar pemain-pemain kakap, tapi sudah cukup untuk memberinya kantor di lantai dua belas gedung modern di kawasan Sudirman, sebuah apartemen minimalis di Kuningan, dan dua orang karyawan yang setia. Ia memproduksi dan mendistribusikan kain-kain premium—linen, katun Mesir, dan beberapa lini kain tradisional Nusantara yang ia percaya punya pasar yang jauh lebih besar dari yang kebanyakan orang bayangkan.

Hidupnya teratur. Rapi. Efisien.

Dan sangat, sangat melelahkan.

Itu sebabnya ketika Fathan, sahabatnya sejak kuliah, mengirim pesan di tengah malam dengan bunyi notifikasi yang membangunkan Arkan dari tidur dangkalnya:

"Kan, ayo ke Palembang minggu depan. Aku ada urusan bisnis di sana, tapi bisa sekaligus jalan-jalan. Kapan lagi? Lu udah kayak robot 3 bulan terakhir."

Arkan menatap layar ponselnya lama.

Ia meletakkannya kembali. Memejamkan mata. Mencoba tidur.

Tapi pikiran soal kuartal ketiga yang belum mencapai target, soal vendor kain sutera yang bermasalah, soal pitch deck yang harus selesai sebelum Jumat—semua itu berputar di kepalanya seperti kaset yang rusak.

Ia meraih ponselnya lagi.

"Oke. Aku ikut."

Tiga hari kemudian, ia sudah di bandara Soekarno-Hatta dengan ransel dan satu koper kecil, menunggu Fathan yang seperti biasa terlambat dua belas menit. Ketika pesawat akhirnya mengangkat mereka d...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
When You Say, I'll Say Yes!
Mika Rahayu
Novel
All the Way to You
judea
Cerpen
Bronze
Benang Songket, Benang Rasa
Amrullah Ibrahim
Novel
Aku Tidak Jatuh Cinta
Nine
Novel
Gold
Kido Vs Yura
Mizan Publishing
Flash
RASA YANG TERGAPAI
Destiara Kim
Cerpen
Bronze
My Sponsor My Future
Ochiieet Queenbee
Novel
Maafkan Aku yang Telah Jatuh Cinta
Jane Lestari
Novel
Crazy Rich
Nuel Lubis
Flash
Angan Selintas
Ralali Sinaw
Novel
Gold
Smash Up
Bentang Pustaka
Flash
Bronze
LDR
Bksai
Flash
AMBIGU
Agnes Dzahniyah
Cerpen
Eva
YourLittleFireFly
Cerpen
Bronze
Sudah Tak Balance Lagi
Nuel Lubis
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Benang Songket, Benang Rasa
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Bukan Sekadar Sandiwara
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Bisik Senja di Ruang Kerja
Amrullah Ibrahim
Novel
SEAKAN Cuma MIMPI
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Kala Hening Menatapmu
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
LILLAH
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Desir Angin di Sela Padi
Amrullah Ibrahim
Novel
SERI 6: BAYANGAN TERATAI BERACUN
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Kidung Rembulan di L
Amrullah Ibrahim
Novel
Meniti Janji Suci
Amrullah Ibrahim
Novel
Misteri Malam Jum'at Kliwon
Amrullah Ibrahim
Novel
Cinta di Ufuk Khatulistiwa
Amrullah Ibrahim
Novel
SERI 2 - PEDANG TERATAI HITAM
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Puteri Mawar Merah
Amrullah Ibrahim
Novel
Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit
Amrullah Ibrahim