Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kabarnya, setiap manusia yang ditakdirkan untuk saling bertemu akan dihubungkan oleh benang merah tak kasatmata. Kedua orang yang terhubung bisa hidup dimana saja, tempat, waktu, bahkan di musim yang berbeda. Aku memiliki sebuah cerita tentang dua orang yang benang merahnya terhubung di masing-masing jari kelingking mereka. Akan kusebut nama mereka sebagai Eira dan lucien.
Di sebuah kota tua penuh sejarah, para burung dara terbang memenuhi langit senja, cahaya jingga diatas sungai dengan belasan perahu menuntun mereka untuk pulang, ribuan lampu di pinggir jalan mengubah warna dan suasana, Jalanan batu memantulkan warna keemasan, bayang-bayang dari gedung tua menutupi trotoar, aroma kopi terasa semakin hangat dan manis seiring sang surya perlahan beringsut menuju peraduannya. Sebuah nuansa yang membuatmu membayangkan hanya ada kisah romantis di dalamnya.
Aku tidak akan menenggelamkan ilusi mu terhadap angan-angan itu, karena sejak awal ku sebutkan bahwa ini kisah tentang dua orang yang terhubung lewat benang merah takdir.
Di salah satu bangunan rusak terbengkalai, peninggalan sejarah yang menjadi saksi bisu peradaban penuh luka, merangkap sebagai toko bunga dengan berbagai aroma wangi disertai warna-warni dan bentuk yang indah, mengubah pandangan sedih menjadi rasa bahagia menatap kuntum kuntum yang bermekaran. Di dalamnya, terdapat pula seorang gadis manis bernama Eira, ku peringatkan untuk berhati-hati saat memilih bunga, karena bisa jadi yang kau pilih sebagai bunga untuk kekasihmu sebenarnya adalah Eira sang gadis penjaga toko.
Awalnya semua baik-baik saja, suasana yang tenang dipenuhi aroma bunga yang semerbak, sampai seorang pria dengan terburu-buru masuk ke dalam toko, entah apa yang membuat langkahnya tersandung dan tubuhnya jatuh menimpa sekumpulan camellia yang baru tiba dari negeri jauh. Eira yang berada di balik meja segera beranjak melihat kuntum kuntum camellia bertebaran di lantai, dengan tangan lembut itu ia menawarkan bantuan pada sang pria. Itulah Lucien. Malam itu, benang merah Lucien telah menuntunnya ke suatu tempat.
Meski kecewa dengan hal yang barusan terjadi, Eira tetap melayani Lucien penuh senyum, bukan karena wajah rupawan Lucien tapi karena keyakinan dalam dirinya bahwa semua orang yang datang ke toko ini adalah orang yang memiliki niat baik dan berhak mendapat dukungan untuk melakukannya. Tentu saja, apa mungkin seorang pencuri merampok toko bunga? atau adakah seorang perampok membeli bunga untuk orang yang akan mereka peras?.
Malam itu, Lucien hendak membeli bunga untuk kekasihnya yang baru tiba dari negeri seberang, pertemuan setelah sekian lama terpisah, Lucien ingin memberikan seikat bunga yang dapat menggambarkan kerinduannya. Dengan senyum disertai antusias Eira memberinya sebuah bucket berisi mawar putih dengan wangi yang lembut, menggambarkan ketulusan serta kenangan bagi mereka. Dengan senyum merekah Lucien mengucapkan terimakasih dan segera pergi.
Tapi rupanya, malam itu Eira memilih bunga yang salah, mawar putih yang membawa makna kenangan benar-benar menjadi kenangan bagi Lucien, kekasih yang telah lama dinanti nyatanya pulang bersama seorang pria terhormat dari negeri seberang. Dengan keyakinan penuh Lucien tetap datang kehadapan sang wanita pujaan bersama mawar putih, tapi apalah yang ia dapat, hanya tatapan merendahkan bersama kalimat “aku tidak pernah mengenalmu. “ Selesai.
Lucien kembali ke toko bunga dan mendapati Eira yang sedang menutup pintu dibawah temaram lampu.
“Wahai nona penjaga toko, maukah kau menerima bunga ku? aku tidak mau membawanya bersamaku dan itu akan melukai harga diriku jika membuangnya sembarangan.”
Eira turut merasakan kesedihan dalam dirinya, tanpa sempat mengucapkan terimakasih Lucien telah pergi menjauh.
Hari-hari berikutnya berjalan damai, hingga seorang pria kembali mampir ke toko bunga, dan pria itu adalah Lucien, kali ini ia membeli bunga untuk diberikan pada seseorang yang menarik hatinya, Lucien hendak menyatakan perasaan pada gadis itu, Eira turut senang dengan hal tersebut, sebelum Lucien meninggalkan toko, Eira memberi dukungan tulus padanya.
“Tuan, semoga harimu penuh kebahagiaan.”
Tapi tak disangka, Lucien kembali datang di malam hari saat Eira menutup pintu, lalu kemudian mengucapkan kalimat yang sama.
“Nona penjaga toko, maukah kau menerima bunga ku? aku tidak mau membuatnya layu bersamaku dan itu akan melukai harga diriku jika membuangnya sembarangan.”
Dan kali ini Eira kembali menerima bunga yang sama tanpa sempat mengucapkan terimakasih.
Satu lagi, saat Lucien datang membeli bunga untuk ibu yang tak pernah dijumpainya, dan kau tahu akhir dari kisah ini, Lucien kembali datang memberi mawar putihnya pada Eira.
“Nona penjaga toko, maukah kau menerima bunga ku? aku tak mau melepasnya pergi ke laut seperti ibu yang tak pernah kembali, dan akan menyakitkan bagiku jika tetap membawanya pulang.”
Lagi dan lagi benang merah itu membawa keduanya untuk bertemu. Dan apa kau tahu sesuatu yang lebih menyakitkan dari kisah ini? Eira yang selalu menerima bunga dari pria yang sama perlahan menaruh hati pada Lucien, bibit cinta yang ditabur oleh Lucien setiap hari di jam tutup toko bunga mulai tumbuh indah di hatinya. Tapi Eira selalu saja tak kuasa berucap apapun kepada Lucien, yang bisa dilakukannya hanya berharap bahwa Lucien turut bersama perasaannya.
Bicara tentang benang merah takdir, seseorang pernah berucap bahwa benang itu tak selamanya saling menarik, benang itu bisa saja kusut dan membuat kedua orang yang terhubung menjauh
Hari itu, lagi lagi Lucien datang ke toko bunga, senyum bahagia terpancar dari wajahnya, aura bahagia jelas tergambar, membawa turut bahagia bagi Eira sang penjaga toko bunga, dalam pikirnya, semoga kali ini sesuatu yang baik menghampiri, baik diriku juga dirimu.
“Hai tuan, apa kali ini kau juga menginginkan mawar putih itu?”
Lucien menggeleng.
“Tidak nona penjaga toko, kali ini aku hendak membeli seikat mawar merah untukku hari pernikahanku esok. “
Senyum manis tetap bertahan di bibir Eira. Kali ini benar-benar sesuatu yang baik untukmu tuan, dan bagaimana denganku? apa ini juga kabar baik untukku? Jika demikian, maka aku turut bahagia.
Eira memberikan sebuah bucket penuh mawar merah pada Lucien.
“Selamat atas hari pernikahanmu, tuan, akhirnya malam ini kau tidak kembali kesini dan mengembalikan mawar putih padaku.”
Lucien tertawa bahagia dan mengucapkan terimakasih sebelum akhirnya pergi dan tidak pernah kembali ke toko bunga.
Benang merah yang menghubungkan Eira dan Lucien telah menjadi kusut dan tidak menuntun mereka ke masing-masing arah. Terkadang, benang merah takdir tidak selalu mempersatukan kedua orang yang terikat, tapi hanya mempertemukan keduanya untuk sebuah pelajaran.
Dan mawar putih Lucien yang diberikan pada Eira, menjadi simbol kenangan akan pertemuan mereka di bawah temaram lampu toko bunga, gedung rusak.