Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Rama mengusap pelukan pagar bambu yang menghalangi halaman rumahnya dengan rumah tetangga sebelah kanan. Permukaan bambu yang kasar itu terasa dingin di ujung jarinya, sama seperti suasana rumahnya belakangan ini. Ia berdiri di sana menjelang senja, menyaksikan Ibu Lina sedang menyiram tanaman merambat di teras rumahnya. Rambut hitamnya yang sedikit bergelombang tertutup oleh topi rajut putih, dan tangan kanannya yang memegang selang air bergerak dengan irama yang tenang.
Sudah tiga tahun lebih Rama menikah dengan Dewi. Dulu, mereka adalah pasangan yang selalu ditemani tawa dan candaan. Dewi yang dulu suka memasak makanan kesukaan Rama setiap akhir pekan, kini lebih sering menghabiskan waktu di depan laptopnya sebagai pengusaha online. Malam-malam yang tadinya diisi dengan cerita sehari-hari, kini hanya diisi oleh suara kipas angin dan nada dering ponsel yang tak kunjung surut. Rama merasa seperti hidup dengan orang asing di rumah sendiri – ada di sana, tapi tidak pernah benar-benar hadir.
Ibu Lina adalah istri Pak Surya, yang bekerja sebagai insinyur di proyek pembangkit listrik di luar kota. Pak Surya pulang hanya sekali dalam sebulan, kadang bahkan lebih jarang. Sejak mereka pindah ke kompleks ini setahun lalu, Rama sering melihat Ibu Lina sendirian. Kadang ia duduk di teras membaca buku, kadang menyusun tanaman hias di halaman, dan terkadang hanya menatap jalan raya yang sepi dengan pandangan kosong.
Awalnya, pertemuan mereka hanya sebatas sapaan singkat saat berpapasan. "Pagi, Mas Rama," ujar Ibu Lina dengan senyum yang lembut tapi menyimpan kesedihan. "Pagi juga, Bu Lina," jawab Rama dengan senyum yang sama-sama terpaksa. Tapi lama kelamaan, sapaan itu berkembang menjadi obrolan singkat tentang cuaca, tanaman, atau kabar tetangga sekitar.
Suatu sore, hujan turun dengan derasnya tak lama setelah matahari mulai bersembunyi di balik langit. Rama sedang mencoba memperbaiki pagar bambu yang roboh akibat angin kencang beberapa hari lalu. Badan nya sudah basah kuyup oleh hujan, tangan nya tergores oleh rerumputan yang tumbuh liar di sekitar pagar. Tiba-tiba, ia mendengar suara pintu terbuka dari arah rumah Ibu Lina.
"Mas Rama, kamu tetap saja bekerja padahal hujan deras begitu?" suara Ibu Lina terdengar khawatir dari kejauhan. Tak lama kemudian, ia muncul membawa payung besar dan secangkir teh hangat dalam termos. "Coba istirahat sebentar saja. Nanti kamu sakit," ujarnya sambil membentangkan payung di atas kepala Rama.
Rama merasa terharu. Sudah lama tidak ada orang yang menunjukkan perhatian begitu padanya. Dewi bahkan jarang menyadari kapan ia pulang kerja, apalagi khawatir kalau ia basah hujan. Ia menerima cangkir teh yang diberikan Ibu Lina. Hangatnya teh itu meresap dari tangannya hingga ke dada yang sejuk akibat hujan.
"Makasih, Bu Lina. Kamu terlalu baik padaku," ucap Rama dengan suara yang sedikit bergetar.
Ibu Lina hanya tersenyum. "Saya juga pernah seperti itu, Mas. Sendirian berjuang tanpa ada yang peduli. Rasanya tidak enak kan?"
Dari situlah, obrolan mereka semakin dalam. Mereka mulai sering bertemu di pagar yang sama, terutama saat sore hari menjelang maghrib. Ibu Lina bercerita tentang bagaimana rasanya hidup sendirian hampir setiap hari, tentang betapa ia merindukan kehangatan pelukan suaminya yang jarang ada di rumah. Rama pun berbagi tentang kesepiannya di tengah rumah tangganya yang sepi, tentang betapa ia merindukan perhatian Dewi yang semakin langka.
"Ada kalanya saya berpikir, apakah saya kurang baik sebagai istri sehingga suami saya lebih suka bekerja dari pada berada di rumah," ujar Ibu Lina suatu sore, matanya menatap jauh ke arah kebun belakang rumahnya. "Atau mungkin saya sudah tidak menarik lagi baginya."
Rama menggeleng perlahan. "Tidak mungkin begitu, Bu Lina. Kamu wanita yang baik, penyayang, dan tetap cantik walau sudah berumur. Mungkin Pak Surya hanya terlalu sibuk dengan pekerjaannya."
Kata-kata itu keluar tanpa disadari. Ibu Lina menoleh ke arahnya, mata mereka saling bertemu. Ada sesuatu di dalam pandangan Ibu Lina yang membuat hati Rama berdebar kencang. Ada kesedihan, ada harapan, dan ada sesuatu yang lain yang tidak bisa ia definisikan dengan jelas.
Hari demi hari, hubungan mereka semakin erat. Mereka mulai saling memberikan sesuatu – kadang Ibu Lina mengirimkan makanan yang ia masak, kadang Rama membantu memperbaiki barang-barang rusak di rumah Ibu Lina. Suatu malam, saat Dewi sedang keluar kota untuk mengikuti lokakarya bisnis, Rama sedang duduk di teras rumahnya memikirkan banyak hal. Tiba-tiba, ia melihat bayangan Ibu Lina yang berdiri di pagar bambu.
"Mas Rama, kamu belum tidur?" tanya Ibu Lina dengan suara pelan.
"Belum, Bu. Kamu juga?"
Ibu Lina mengangguk perlahan. "Saya tidak bisa tidur. Pikiran saya terlalu banyak."
Rama berdiri dan menghampiri pagar. Jarak antara mereka hanya beberapa sentimeter saja. Ia bisa merasakan panas tubuh Ibu Lina yang berdiri di sisi lain pagar. Tanpa sadar, tangannya menyentuh tangan Ibu Lina yang berada di atas pagar. Sentuhan itu seperti listrik yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
"Ibu Lina..." panggil Rama dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Mas Rama..." jawab Ibu Lina dengan nada yang sama.
Tanpa berpikir panjang lagi, Rama membuka salah satu bagian pagar yang bisa digeser dan meraih tubuh Ibu Lina. Mereka saling memeluk erat, menangis bersama dalam pelukan yang hangat namun penuh dosa. Ciuman pertama mereka terasa begitu alamiah, seolah mereka sudah lama menunggu momen ini. Namun di balik kehangatan itu, rasa bersalah sudah mulai merasuk ke dalam hati mereka berdua.
Setelah itu, hubungan mereka berlanjut dalam rahasia yang erat. Mereka bertemu saat pasangan masing-masing tidak ada di rumah – saat Dewi bekerja lembur atau keluar kota, dan saat Pak Surya sedang tugas di luar kota. Ada kesenangan yang luar biasa dalam setiap pertemuan mereka, rasa dipahami dan dicintai yang sudah lama mereka cari. Tapi di sisi lain, rasa bersalah semakin membengkak setiap kali Rama melihat wajah Dewi yang lelah setelah bekerja, atau setiap kali Ibu Lina menerima panggilan telepon dari Pak Surya yang penuh rasa rindu.
Suatu hari, saat mereka sedang bersama di rumah Ibu Lina, tiba-tiba terdengar suara pintu utama dibuka. "Sayang, aku pulang lebih awal!" suara Pak Surya terdengar dari luar.
Hati mereka berdua berhenti sejenak. Rama langsung berdiri dan mencari jalan keluar. Ibu Lina juga terkejut parah. "Ke kamar belakang, cepat!" bisiknya.
Rama berlari ke kamar belakang dan keluar melalui pintu samping. Saat ia melintas di depan jendela ruang tamu, ia melihat Pak Surya sedang memeluk Ibu Lina dengan erat, wajahnya penuh kecintaan. Di tangannya ada sebuah bunga mawar merah – bunga kesukaan Ibu Lina yang pernah ia ceritakan padanya.
Di jalan pulang ke rumahnya, Rama menemukan sebuah benang merah yang kusut tergantung di pagar bambu. Benang itu sepertinya terkelupas dari gaun Ibu Lina yang dikenakannya tadi. Ia mengambil benang itu dan memegangnya erat di tangannya. Benang merah itu seperti simbol hubungan mereka – indah dan menarik, tapi juga bisa menjadi tali yang mengikat mereka pada kesalahan yang tak pernah bisa mereka lepaskan.
Saat membuka pintu rumahnya, Rama melihat Dewi sedang memasak makanan kesukaannya di dapur. Rambutnya kusut, keringat menetes di dahinya, tapi wajahnya penuh senyum saat melihatnya masuk. "Kamu pulang, Sayang? Segera saja ya, makanan sudah hampir matang. Aku tahu kamu suka makan sayur lodeh yang aku masak kan?"
Air mata tiba-tiba menggenang di mata Rama. Ia menyadari bahwa benang merah yang ia cari ternyata sudah ada di rumahnya sendiri, hanya saja ia terlalu buta untuk melihatnya. Benang merah di balik pagar itu ternyata bukanlah jalan keluar dari kesepiannya, melainkan jalan menuju kehancuran yang akan merusak dua rumah tangga sekaligus.