Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sudah lama kami tidak bertemu terakhir kali sepertinya ketika wisuda. Setelah itu hidup membuat kami saling sibuk. Hingga lupa bahwa kadang bertukar kabar tidak kalah baik daripada mengejar kabar baik. Siang itu matahari memanggang desa seperti wajan yang lupa diangkat dari tungku. Aspal di depan kios Es Teh Mas'E seperti meleleh bercampur dengan aroma sosis bakar, teh yang baru diseduh, dan debu jalan. Aroma yang mengingatkan entah pada pesta atau perpisahan. Di bawah seng yang panas itulah kami duduk, menikmati es teh dan deep talk membicarkan dunia dengan segala kerumitan isinya.
"Umur masih segini rasanya terlalu dini jika aku harus pulang ke kampung halaman."
"Masih banyak pengalaman yang belum dirasakan ya?"
Percakapan kami bergulir begitu saja, entah bagaimana awal mulanya. Kawanku ini juga belum lama menjalani dunia kerja, dan baru saja lulus dari studi. Kami sesama perantau ketika kuliah, dia berasal dari daerahTimur, dan aku dari daerah Tengah. Situasi alam hari ini rasanya memang tidak baik-baik saja. Roda ekonomi terasa macet, tak bisa berputar. Wong-wong cilik berusaha ubet juga susah, di tengah kondisi daya beli yang kian melemah. Nilai tukar mata uang juga kian melemah. Tetapi justru yang terdengar bukan sebuah solusi, malah semacam upaya pembelaan atas ketidakbecusan pengelola "Orang rakyat di desa gak pake Dollar kok."
Kawanku ini mampir di desaku, di tengah perjalanannya menuju tempat kuliahnya dulu. Ia menyempatkan mampir dengan tujuan silaturahmi, mengambil buku, dan supaya bisa saling mengetahui update life dari masing-masing. "Mumpung lagi agak longgar dan santai," katanya. Kami lantas bercakap-cakap dengan meluas dan mendalam, sambil minum es teh di tengah panas teriknya siang hari.
"Bagaimana langkahmu selanjutnya?" tanya kawanku.
"Yaaa... gimana ya. Masih belum tau ke depannya seperti apa. Masih banyak yang ingin dicoba?" Aku menjawab sekaligus bertanya.
"Banyak." kawanku menjawab.
Jawaban itu meluncur spontan begitu saja, tapi setelahnya menggantung begitu lama. Kami sama-sama baru lulus. Sama-sama baru mengenal dunia kerja yang sejak kecil dijanjikan sebagai gerbang menuju masa depan. Nyatanya, gerbang itu memang ada, hanya saja setelah dibuka kami hanya mendapati lorong gelap gulita yang tidak jelas. Mungkinkah isinya sebuah pesta pora?
Di jalanan depan kami, kendaraan terus berlalu-lalang. Motor, sepeda, dan para pejalan kaki lewat silih berganti. Semua tampak bergerak. Anehnya, situasi dan kondisi seperti membuat kita tidak ke mana-mana. Diam di tempat. Padahal, katanya kita sedang digadang-gadang dalam perjalanan menjemput kemajuan. Menjemput tahun keemasan. Aneh saja.
"Aku juga tidak melihat masa depan pada apa yang kujalani saat ini. Seolah itu benar-benar gelap dan tidak terlihat apa-apa."
"Hahahaha." Kawanku tertawa dan kemudian meminum es teh nya.
"Rasanya sungguh seperti tidak ada harapan. Karena kalau kita melihat situasi sekarang ini kan ngeri juga yaaa... seperti, rasanya kita mikir itu ga ada gunanya. Rasionalitas, akal sehat itu seperti gak ada gunanya."
"Lhaaa... sekarang itu kalau kita mikir, belajar dengan serius, maksimal, menjadi pintar, berprestasi, ga ada gunanya. Karena masa depan itu seperti tidak ada di sini. Karena toh, nanti yang mengisi posisi-posisi strategis itu juga bukan orang yang punya kecakapan atau kapasitas, tetapi orang yang punya loyalitas. Pamannya siapa, kawannya siapa, kerabatnya siapa, yang membawa siapa? begitu itu to?"
"Bahkan harapan rasanya seperti juga sudah tidak ada. Itulah kenapa tidak ada masa depan. Hidup yang lebih baik itu terasa seperti sudah tak lagi ada."
"Gelap sekali ya, hahahaha."
"Mungkin... mungkin juga."
Seorang bapak tua lewat mengayuh sepeda dengan membawa galon air mineral di belakangnya. Pelan sekali. Terlihat berat sekali. Mungkin yang berat bukan galonnya tapi hidupnya. Hidup di tempat yang rasanya hanya membuat putus asa, dan harapan tak lagi ada.
"Padahal umur kita masih segini, 20-an. Masih muda untuk menjadi begini dan begitu. Masih punya banyak kesempatan untuk eksplorasi menemukan hal yang lebih baik lagi, menempuh jalan yang lebih jauh lagi. Tidak berhenti di sini, tidak hanya begini-begini ini."
Kawanku kemudian bertanya, "Tertarik tidak jika pergi ke luar negeri?"
"Tertarik sekali." Kujawab dengan mantap.
"Lhaa wong.... kita juga sudah diusir oleh yang merasa punya negera ini. Katanya 'yang merasa negara ini suram, silahkan keluar dari sini' maka tidak ada salahnya juga kita berusaha mencari nasib yang lebih baik di negara lain."
"Rasanya kita juga belum siap menghadapi hidup yang tidak jelas begini yaaa." kawanku berkata.
"Banyak PHK di mana-mana, investor pada angkat kaki dari sini, karena yaaa... memang banyak yang tidak jelas di sini."
"Sepertinya kita perlu belajar bahasa asing, mungkin 6 bulan. Kemudian kita bisa punya akses untuk setidaknya tercerabut dari tempat yang sistemnya membuat kita tidak ke mana-mana. Stagnan dan hanya begitu-itu saja."
"Betulll... itu hal yang menarik untuk dilakukan dan masuk akal."
"Mungkin, orang-orang tua itu akan menilai kalau kita itu kurang sikap patriotisme. Yaaaa... barangkali mereka itu juga patriotik karena sudah tua."
"Hahahaha." Kami kemudian tertawa bersamaan, tapi sekaligus merasakan kesedihan.
"Jadi tidak ada pilihan lain, mau tidak mau, harus patriotik. Tua dan sudah tidak berkesempatan ke mana-mana."
"Hahahaha" tawa kami pecah tetapi terasa begitu getir. Sungguh bukanlah tawa dengan perasaan lega.
Bisa jadi jika kotak Pandora itu di buka di sini, mungkin isinya juga tidak ada lagi karena sudah di korupsi. Tepat ketika percakapan mulai memberat lengking suara terdengar dari Penjual kue Putu Ayu yang lewat. Pandangan kami tertuju ke sana, sesaat kemudian kawanku membeli kue itu dan jajanan tradisional itu membersamai percakapan kami.
"Iklan-iklan, makan dulu. Monggo..."
"Sampai mana tadi?"
"Tua dan jadi patriotik."
"Nahhh, itu... kalau kita masih muda begini masih punya banyak pilihan. Masih punya banyak waktu. Masih punya banyak kesempatan."
"Previllage kita saat ini sebagai anak umur 20-an adalah hal-hal yang semuanya tidak bisa terbeli. Pertama adalah waktu yang tak terulang kembali."
"Kita punya akses untuk mencoba banyak hal baru. Jadi, whatever opportunity yang ada, hajar aja! Kalau gagal coba lagi, jatuh, bangun lagi. Coba lagi."
"Kedua, kita belum banyak tanggungan. Belum banyak yang dipertaruhkan kalaupun nanti menderita resikonya juga ditanggung sendiri. Belum punya pasangan atau anak, belum ada tanggungjawab yang mengikat."
"Kemudian, yang ketiga ketika usia 20-an kita memiliki kebebasan mengubah identitas. Kita mungkin juga bingung, belum tau siapa dan apa akan diri kita. Namun, tampaknya itu juga sebuah previllage. Karena kita bisa pergi ke tempat baru, merantau ke kota baru, memulai dari nol lagi. Belajar lagi, dan memulai kembali."
"Maka dari itu untuk apa tidak mengambil risiko? Untuk apa hidup dalam ketakutan?"
"Nothing to lose gitu aja yaaa."
"Hahahahaha."
Matahari sudah hampir pamit pergi. Kami masih duduk di tempat yang sama, dengan situasi dan kondisi yang sama. Ketakutan dan harapan yang sama. Hingga doa-doa yang sama.
"Aku juga belum ingin pulang dari pesta."
Surakarta, 5 Agustus 2026. 13.01.
Sigit Hariyanto.