Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
BELIT-BELIT ALAS RINDU
1
Suka
13
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

BELIT-BELIT ALAS RINDU

Oleh : Fakhrurrazi M. Qasim

Dan gerimis turun lagi bahkan kali ini seakan memberi isyarat akan disusul oleh hujan deras setelah dua bulan lamanya kemarau menggigit bumi. Pada hujan kali ini aku seperti tak sanggup lagi menahan rasa itu, aku tak ingin lagi berdusta bahwa kerinduanku seakan membadai saat turunnya hujan, entah ini sugesti ataukah kebiasaan nalarku yang pasti aku sedang menikmati birunya kerinduan kali ini. Dan seperti biasanya momen seperti ini hanya akan kunikmati di satu tempat yaitu teras belakang rumahku seakan aku tak sudi berada di tempat lain setiap kali hujan datang. Pernah sekali atau dua kali aku berada di kantor atau di rumah keluarga saat hujan turun dan sungguh aku tak bisa menikmati saat itu, aku tak bisa mendengar rintik demi rintik yang berjatuhan di atas dedaunan hingga berubah menjadi suara gemuruh, benar-benar aku merasa waktu hujan itu terbuang begitu saja. 

Jika saja aku seorang selebriti atau tokoh terkenal di negeri ini tentu aku akan diwawancarai oleh media mengenai kebiasaan anehku saat hujan turun seperti ini namun sayangnya aku hanya bukanlah siapa-siapa sehingga orang banyak takkan sempat mendengarkan penjelasanku tentang sebuah alasan, alasan mengapa aku selalu memilih berada di teras belakang rumahku setiap kali hujan turun. Dan karena kupikir tulisanku ini takkan pernah dipedulikan orang banyak maka sepertinya tidak ada salahnya kuceritakan alasan tersebut.

Sebelum kuceritakan tentang alasan, aku ingin terlebih dahulu menceritakan tentang suasana teras belakang rumahku agar lebih mudah bagiku nanti menguraikan alasanku. Namun sebelum kuceritakan tentang teras belakangku aku ingin memberitahu bahwa rumah ini adalah warisan keluargaku yang diberikan kepadaku setelah rumah kami yang lain di kota sebelah telah diwariskan kepada adikku. Aku tinggal di rumah ini sejak kecil dan tak pernah sekalipun aku merantau,hampir semua waktu kuhabiskan di sini, suka dan duka. Ayahku meninggal dunia saat aku SMP dan ibuku baru menyusulnya tiga tahun yang lalu. Kedua orang tuaku ini meninggalkan padaku rumah dengan teras belakang yang lebar ini, lebih lebar dari teras-teras rumah pada umumnya. Saking lebarnya akupun bisa meletakkan banyak benda-benda besar di teras belakang ini mulai dari satu set kursi santai yang terbuat dari bambu beserta sebuah lemari kecil tua dari kayu jati dengan rak-rak sebanyak tiga susun. Dan di rak-rak inilah awal mula segala alasanku merasa betah berlama-lama di teras belakang rumahku ini terutama kala hujan turun.

Segelas kopi arabika yang diseduh dengan gaya v60 akan sangat nikmat di saat seperti ini, aroma harum kopi yang terhirup seakan membawaku dengan paksa ke masa itu, ketika SMP kelas 2.

Aku adalah seorang bocah yang pandai menyembunyikan gejolakku di hadapan orang-orang sehingga terlihat seakan lugu. Dan kala itu Desember ketika hujan turun berbelit-belit di antara terik, tak jelas apakah itu kemarau ataukah penghujan, saat itulah sepasang mataku menatapnya tersenyum.

Sebut saja namanya Garnis, ia datang bersama ibunya, tante Lin yang merupakan kawan lama Ibuku.

“Apay, sini dulu, nak,” panggil Ibuku ketika itu seraya mengajakku duduk bersama mereka di ruang tamu lalu aku diperkenalkan pada kawan Ibu bernama tante Lin itu dan juga..., Garnis tentunya, Garnis yang menakjubkan.

Tentu kalian berfikir bagaimana bisa aku menyebut perempuan itu menakjubkan? Maka akan aku sebutkan seperti apa wajah dan perawakannya kepada para pembaca.

Garnis ketika itu adalah seorang gadis berkulit putih meskipun di mataku itu bukan putih melainkan krem, apalagi ketika dia mengenakan baju pramuka yang agak pudar maka akan terlihat sama antara warna baju dan warna kulitnya. Matanya agak sipit dengan alis tipis dan bulu mata lentik, hidungnya mancung dengan bibir tipis serta dagu yang agak lancip, sayang sekali ketika itu belum ada drama korea, seandainya ada tentu akan sulit membedakan antara Garnis dengan Song Hye Kyoo.

“Kamu sekolah dimana?” Suara lembutnya terdengar seakan lirih namun itulah suara aslinya yang membuatku kaget, seluruh lamunanku tentang kecantikannya seketika buyar oleh pertanyaan kala itu.

“Oo, a anu, Em te es Muhammadiyah,” jawabku sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal, mungkin dengan itu aku bisa melupakan rasa grogiku.

“Hm..., oya, aku kelas satu es em pe Katolik,” ujarnya memecah kebekuanku, mata sipit indahnya itu begitu teduh menatapku membuatku merasa tengah berada di musim semi saat bunga-bunga sakura bersemi dan pucuk-pucuk tunas di pohon mapel mulai tumbuh.

Seperti itulah pertemuan pertama kami, kehadirannya telah menciptakan musim semi dalam jiwaku, dan rupanya itu adalah pertemuan ibuku dengan tante Lin setelah sekian tahun berpisah, dikali berikutnya tante Lin lebih sering berkunjung ke rumah kami, tentu saja bersama Garnis. Aku mulai merasa butuh akan kehadirannya kala itu dan kulihat dia pun semakin akrab dan mulai terbuka denganku. 

Di antara banyak hal yang membuat kami akrab, ada satu hal yang kuanggap aneh yaitu perbedaan hobi antara aku dan Garnis, aku tak suka membaca fiksi sementara Garnis adalah penghobi cerita fiksi.

“Pay, aku bawa buku baru, lho?! Kamu pernah baca ini?” Ujarnya sambil merogoh tas kainnya lalu mengeluarkan sebuah buku berwana putih dan menyodorkannya padaku.

“Kappa?!”

“Iya, Kappa.”

“Ini tentang apa?”

“Banyak tanya sih, hehe, baca ajah, dulu,” cetusnya sambil tertawa membuat mata sipitnya hampir tak lagi kelihatan. 

Pada sebuah senja saat aku kelas satu SMA dia datang ke rumahku dengan gaya yang sama, kala itu dia membawa dua buah novel.

“Ini aku bawakan “Kubah” karya Ahmad Tohari, nih ada juga “Lho” karya Putu Wijaya,” ujarnya sembari menyodorkan kedua novel itu padaku, aku mengambilnya, menyatukan keduanya lalu memeluknya di perutku.

“Aku juga punya kejutan buat kamu, Nis,” Ucapku lirih sambil tersenyum lalu membuka kain yang menutupi sesuatu di samping kursi bambu tempat aku duduk.

“Tadaa!!” Sebuah rak buku berwarna coklat bersusun tiga terbuat dari kayu jati yang difernis sehingga nampak kelihatan tekstur kayunya, mulai dari rak tingkat pertama dan kedua sudah berisi buku-buku sementara rak tingkat ketiga masih kelihatan kosong.

“Waaw..., keren Pay! keren, keren!” Mata sipitnya kembali hampir menghilang ditutupi senyum yang dihiasi bibir tipisnya yang merah, aku mulai menatapnya dengan tatapan seorang perjaka pada seorang gadis, namun aku belum punya alasan yang kuat untuk mengganti tema hubungan kami yang selama ini hanya sebatas sebagai sahabat. Setiap kali dia datang ke teras belakang rumahku mebawa hadiah buku untukku maka setiap itu pula sakura dalam jiwaku kian bersemi dan pucuk-pucuk tunas mapel bermunculan di ranting-ranting hatiku. 

Sepertinya sulit bagiku untuk merubah tema hubungan kami, aku yang pemalas membaca bertemu dengan Garnis yang kutu buku, ini sungguh kontras perbedaanya. Buku-buku yang dihadiahkannya padaku tak pernah aku baca sedikitpun, melihat sampulnya saja aku malas. Adapun untuk menutupi kemalasanku agar terkesan menghormati pemberiannya maka sengaja kuambil rak tua milik nenekku dan kuletakkan di teras sebagai tempat buku-buku pemberiannya.

Hingga suatu siang suasana di kotaku berubah, udara seperti dibalik menjadi api, kota yang aman dan damai tiba-tiba rusuh. Ketika itu aku pulang dari kegiatan pramuka dan mendapati jalan-jalan dipenuhi orang-orang yang membawa senjata tajam, beberapa rumah telah terbakar, menyala menjadi lautan api. Aku mendengar teriakan-teriakan keras dari mereka yang bertebaran di jalanan, sepertinya mereka bersiap-siap menyerang barisan lain dari arah yang berlawanan yang juga telah bersiaga menanti serangan. Aku segera memacu sepedaku menuju rumah dan alangkah kaget ketika kulihat ada sepeda Garnis di depan rumahku. Dengan tergesa-gesa aku melangkah masuk menuju teras belakang dan ternyata Garnis telah berada di situ, duduk cemas di atas kursi bambu.

“Aku takut Pay,” wajah putih bersihnya itu kini menjadi pucat pasi, diceritakannya tentang orang-orang yang datang membakar rumahnya, diceritakannya pula tentang Ayah dan Ibunya yang bersembunyi di Kantor Polres demi meminta perlindungan aparat kepolisian. Aku mendengarkannya dengan kaget dan sedikit bingung namun kebingungan itu akhirnya terobati setelah Ibu menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya bahwa kota kami dilanda kerusuhan antar agama.

“Biar Garnis di sini dulu untuk sementara, nanti mama dan papa kamu yang jemput kalau sudah aman”. Begitu kata ibu kala itu.

Dari teras belakangku kami melihat langit memerah oleh api dan kami belum tahu apa alasannya seperti hujan yang tiba-tiba turun ketika itu. Langit merah itu perlahan menjadi abu-abu oleh debu pembakaran, tak ada yang tahu itu debu rumah siapa yang pasti ada debu-debu rumah Garnis di antara debu-debu yang menutupi langit kala itu. 

Hujan belum berhenti malah semakin deras, suaranya menutupi hiruk-pikuk pekik pertarungan yang sejak sebelumnya kami dengar sayup-sayup dari kejauhan. Aku bersyukur hujan mampu menyelesaikan pertikaian kala itu meskipun hanya untuk sementara dan kala itu kami tak pernah tau kapan perang itu akan berakhir. 

Aku masih duduk di sisi Garnis kala malam menjemput, canda-tawa dan penggalan kisah-kisah dalam novel yang sebelumnya sering kudengar mengalir dari bibir Garnis di teras ini kala itu berganti keheningan yang memantulkan rasa cemas dan ketakutan. Entah apa yang membuat salah satu tanganku tiba-tiba meraih salah satu tangannya lalu tanganku yang lain merangkul bahunya. Aku ingat betul saat itu aku tulus melakukannya hingga dia menoleh dan mata kami saling bertatapan, hangat dan nyaman dan hampir saja terjadi...,hingga aku hanya memilih menempelkan pipiku di ubun-ubunnya. 

“Kamu akan baik-baik saja, Nis, selama aku masih ada bersamamu, kamu akan aman, akan kujaga.” Aku menghirup harum aroma rambutnya di saat yang sama hangat ubun-ubunnya terasa di pipiku lalu aku mendengar isak tangisnya pelan dan lirih.

“Trimakasih, Pay, aku sudah ngerepotin kamu, maaf yah?!” bisiknya lirih dan aku bingung mengapa kami sangat dekat ketika itu, kadang kuberpikir mungkin itu cinta, namun kuurungkan kembali memutuskan bahwa itu cinta. Malam itu aku adalah sahabat yang menjadi tuan rumah bagi sahabatku yang sedang bertamu, sungguh alangkah keji jika aku memanfaatkan ketakutan dan rasa putus asa Garnis. Hanya saja mungkin aku menikmati kenyamanan kala itu dan memang aku jujur aku benar-benar merasa nyaman ketika bertatapan dengannya bahkan anehnya aku tak pernah merasakan kenyamanan yang sama ketika bertatapan dengan gadis-gadis lain yang pernah kupacari setelah itu. 

Dan kejadian malam itu berlalu begitu saja karena keesokan harinya kedua orang tua Garnis datang menjemputnya, kala itu Desember terakhir aku melihat wajah dan senyumnya hingga hujan turun lagi dan aku sendirian di teras ini memandangi bayangannya. 

Bulan-bulan berganti tahun-tahun yang hampa, perang t`lah usai dan aku terus berusaha mencari tahu di mana Garnis berada namun tak satupun jawaban yang kutemukan. 

Sepuluh tahun kemudian ketika facebook mulai digemari akupun mencoba mencari nama “Garnis Yeni Liyanto” dan aku menemukan sebuah akun dengan foto profil seorang yang sangat kukenal yaitu Garnis, sayangnya dalam foto itu dia bersama seorang laki-laki dan dua orang anak sementara di keterangan profilnya tertulis “Menikah”. Aku sungguh tak ingin mengganggu kemesraan keluarganya dengan kenangan lamaku, kubijakkan hatiku untuk menahan dan membatalkan segala gejolak rinduku. Mungkin ini waktunya mengurai kerinduan ini menjadi kedewasaan dan akhirnya aku sanggup menerimanya. 

Namun teras tetaplah teras, kursi tetaplah kursi, rak buku tetaplah rak buku dan kenangan tetaplah kenangan, tak ada yang bisa menghalangiku untuk merasa nyaman dengan masa lalu, meskipun hanya di teras ini, khusus di teras ini. 

Itulah sepenggal kisahku dengan Garnis yang menjadi alasan terkuatku untuk sering berada di teras ini, di kursi bambu ini dan di hadapan rak buku-buku ini. Buku-buku pemberian Garnis yang kala itu tak pernah aku baca kini telah selesai kubaca seluruhnya bahkan aku menghafal beberapa potong dialog dan kutipan di dalamnya. Dulu aku berharap suatu hari nanti Garnis datang dan melihat buku-buku yang selalu kususun rapi di rak ini, dan aku telah siap dengan banyak jawaban jika dia menanyakan beberapa pertanyaan mengenai novel-novel hadianya tersebut meskipun itu takkan pernah terjadi. 

Garnis memang telah pergi dan aku mungkin telah hilang dari kamusnya namun dia telah meninggalkan hal paling berharga bagiku, hal yang sampai saat ini membuatku betah berlama-lama di teras belakang bersama secangkir kopi, puluhan novel dan kumpulan cerpen yang selalu kusimpan rapi di rak kayu jati tua, inilah alasan terbaikku menikmati gerimis berbelit-belit hingga hujan datang.

* * *

Poso, 23 September 2024


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
BELIT-BELIT ALAS RINDU
Fakhrurrazi M. Qasim
Cerpen
Bronze
Sungai Kecil di Ujung Desa
Ezra Jo
Cerpen
-2. Rumpang
Rumpang Tanya
Cerpen
Wibawa Aparat & Kenaikan Harga
Yovinus
Cerpen
Rindu Untuk Bapak
Aksara Senja
Cerpen
Bronze
Simetris
Jasma Ryadi
Cerpen
Day to day
Keyda Sara R
Cerpen
Bronze
Peneliti Negeri Sipil
spacekantor
Cerpen
Bronze
Baliho
Muhaimin El Lawi
Cerpen
Bronze
PAHIT GETIR CINTA
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
Kado Istimewa dari Hyung
Kim Sabu
Cerpen
Bronze
Sipanggaron
Muram Batu
Cerpen
Bronze
Bahtera di Lautan Waktu
Haswardi Eka putra
Cerpen
Bronze
Beras Orang Kaya
Godok
Cerpen
Beruntungnya
Noer Eka
Rekomendasi
Cerpen
BELIT-BELIT ALAS RINDU
Fakhrurrazi M. Qasim
Flash
SEBUAH SENI UNTUK JATUH
Fakhrurrazi M. Qasim