Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
BELAJAR DARI LUKA
0
Suka
30
Dibaca

Tahun 2018, desa Sukamaju – di lereng bukit yang jauh dari keramaian kota.

 

Rina duduk manis di depan rumah kayu yang sudah cukup tua, tangan kanannya masih terbungkus perban putih yang sedikit menguning akibat obat herbal yang ibunya oleskan. Di depan matanya, ember kecil berisi air jernih yang menghadap ke arah matahari yang mulai menyingsing ke balik pegunungan. Ibu Siti sedang membersihkan peralatan memasak di belakangnya, sesekali melirik anak perempuannya dengan tatapan penuh perhatian.

 

“Bu, kenapa airnya tidak keruh padahal aku sudah masukin tanah liat seperti yang kamu ajarin?” tanya Rina dengan suara lembut.

 

Ibu Siti berhenti sejenak, menyeka tangan dengan kain lap lalu mendekatinya. Dia duduk di kursi bambu yang sudah lapuk, melihat ke dalam ember yang penuh dengan air yang masih bening seperti awal. “Karena tanah liatnya belum cukup lama dibiarkan, Nak. Kadang kita berpikir sudah melakukan yang terbaik, tapi alam punya waktu sendiri untuk membersihkan sesuatu yang kotor,” jawabnya dengan nada yang penuh makna.

 

Rina mengangguk perlahan, namun matanya tetap menatap ember itu. Luka di tangannya bukan hanya luka fisik akibat terjatuh saat membantu ayahnya merawat kebun kelapa tiga hari yang lalu. Luka itu juga menjadi pengingat akan kesalahan besar yang dia lakukan sembilan bulan yang lalu.

 

Pada waktu itu, Rina baru saja lulus dari SMA dan diterima di salah satu perguruan tinggi negeri favoritnya di kota. Kesempatan emas yang seharusnya membuat keluarga bangga, justru menjadi awal dari badai yang menghantam rumah tangga mereka. Biaya kuliah yang tidak sedikit membuat ayahnya – Pak Joko – harus bekerja ekstra keras, bahkan terpaksa menjual sebidang tanah kecil yang sudah diwariskan dari kakeknya.

 

Namun Rina, yang terpikat oleh kehidupan kota yang penuh dengan kemewahan saat mengikuti orientasi mahasiswa baru, mulai berubah. Dia mulai menyukai hal-hal yang tidak sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga – membeli baju merek, menggunakan kosmetik mahal, bahkan menyewa kamar kost yang lebih mewah dari yang seharusnya. Uang kiriman dari orang tuanya yang mereka susah payah kumpulkan, sebagian besar dia gunakan untuk memenuhi gaya hidup baru itu.

 

Saat semester pertama akan berakhir, Rina menemukan bahwa dia tidak mampu membayar uang kuliah semester kedua. Daripada memberitahu orang tua dan mencari jalan keluar bersama, dia memutuskan untuk meminjam uang dari seorang teman sekost yang dikenal dekat dengannya. Janji untuk mengembalikannya dalam waktu sebulan terasa mudah diucapkan saat itu.

 

Namun ketika waktu pembayaran tiba, Rina tidak punya uang sama sekali. Dia mencoba menghindari teman itu, bahkan berpura-pura sakit agar tidak harus bertemu. Hingga suatu hari, teman itu datang langsung ke desa Sukamaju dengan dua orang pria yang tidak dikenal. Mereka tidak melakukan kekerasan, tapi kata-kata yang mereka ucapkan cukup menusuk hati Pak Joko dan Ibu Siti.

 

“Kalau tidak bisa bayar, ya harus ada cara lain dong Bu. Anaknya sendiri yang meminjam dengan sukarela kan?” ujar salah satu pria itu dengan nada yang menyakitkan.

 

Pak Joko yang biasanya pendiam dan sabar, saat itu hanya bisa diam dengan wajah pucat. Ibu Siti menangis sambil memohon waktu lebih lama untuk mengumpulkan uang. Akhirnya mereka sepakat untuk membayar dalam waktu dua minggu, dengan bunga yang cukup besar.

 

Untuk memenuhi kewajiban itu, Pak Joko terpaksa menjual seekor sapi yang sudah dipelihara selama tiga tahun – satu-satunya harta berharga keluarga selain kebun kelapa yang tidak bisa mereka jual karena menjadi sumber penghidupan utama. Rina melihat bagaimana ayahnya merawat sapi itu seperti anak sendiri, bagaimana dia menangis diam-diam saat sapi itu diambil oleh pembeli.

 

Pada hari sapi itu diambil, Rina sedang membantu membersihkan kebun. Dia merasa sangat bersalah hingga tidak bisa mengontrol emosi, berlarian keluar kebun sambil menangis dan tidak melihat jalan di depannya. Akhirnya dia terjatuh dan menusuk tangan kanannya pada kayu yang pecah tajam. Luka yang dalam itu membuatnya harus dirawat selama seminggu dan tidak bisa melakukan aktivitas apa-apa selama beberapa waktu.

 

“Kenapa kamu tidak bilang padaku dan ayah dari awal, Nak?” tanya Ibu Siti pada malam hari ketika Rina baru saja pulang dari puskesmas. “Kita mungkin tidak bisa memberikan yang terbaik, tapi kita pasti akan mencari jalan keluar bersama.”

 

Rina hanya bisa menangis dalam pelukan ibunya. Itu adalah momen di mana dia menyadari bahwa keegoisan dan rasa malu yang dia rasakan telah menyakiti orang-orang yang paling dicintainya. Dia menyadari bahwa dia telah melihat cinta orang tua sebagai sesuatu yang bisa diambil begitu saja, tanpa menyadari betapa berat mereka bekerja untuk memberikan yang terbaik padanya.

 

Sejak itu, Rina memutuskan untuk mundur dari kuliahnya. Keputusan itu menuai protes keras dari Pak Joko. “Kuliah adalah impianmu, Nak. Jangan biarkan kesalahanmu menghancurkan masa depanmu,” kata ayahnya dengan suara gemetar.

 

“Tapi Ayah, aku ingin membantu keluarga dulu. Aku ingin belajar bagaimana hidup yang benar, bukan hanya menghabiskan uang kamu untuk hal-hal yang tidak penting,” jawab Rina dengan tegas.

 

Tanpa memberitahu orang tua, Rina mengurus surat mundur dari kampus dan mengajukan diri untuk bekerja di sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit terdekat. Pekerjaannya tidak mudah – bangun pagi sekali, bekerja di bawah terik matahari, dan menangani pekerjaan fisik yang berat. Tapi Rina tidak mengeluh sedikit pun. Dia menyimpan sebagian besar gajinya untuk keluarga, dan sebagian lagi untuk menabung agar bisa melanjutkan kuliah nanti dengan biaya sendiri.

 

Hari demi hari berlalu, luka di tangannya perlahan sembuh, meskipun meninggalkan bekas luka yang jelas terlihat. Rina tidak pernah merasa malu dengan bekas luka itu – justru dia selalu melihatnya sebagai pengingat akan kesalahan masa lalunya dan pelajaran berharga yang dia dapatkan.

 

Suatu sore, ketika Rina sedang istirahat setelah bekerja, datang seorang wanita yang mengenalnya dari kampus. Wanita itu adalah teman sekostnya yang dulu dia pinjam uang. Tanpa kata-kata, wanita itu menyerahkan sebuah amplop padanya.

 

“Ini uang yang kamu pinjam dulu, sudah dikurangi bunga. Maaf juga ya kalau dulu aku membawa orang untuk datang ke rumahmu,” ujarnya dengan malu. “Aku baru tahu kalau kamu sudah bekerja keras dan mencoba memperbaiki segalanya. Kakak juga belajar banyak dari kejadian itu lho – ternyata memaksakan orang untuk membayar hutang dengan cara seperti itu tidak benar.”

 

Rina menerima amplop dengan tangan gemetar. Dia tidak menyangka bahwa kesalahan yang dia lakukan juga bisa memberikan pelajaran pada orang lain. Setelah wanita itu pergi, Rina langsung berlari pulang untuk memberitahu kabar baik itu kepada orang tuanya.

 

Di rumah, Pak Joko dan Ibu Siti sedang duduk di teras rumah sambil menikmati teh hangat. Rina menunjukkan amplop itu dan menceritakan apa yang terjadi. Pak Joko diam sejenak, lalu menarik Rina ke dalam pelukan.

 

“Kita sudah lama tidak menyangkanya lagi, Nak. Yang penting kamu sudah belajar dari kesalahanmu. Itu lebih berharga dari semua uang di dunia,” ujar Pak Joko dengan suara penuh cinta.

 

Beberapa bulan kemudian, Rina mendaftar kembali ke perguruan tinggi itu, tapi kali ini dia memilih untuk kuliah secara paruh waktu sambil tetap bekerja. Dia tidak lagi merasa malu dengan kondisi ekonominya, bahkan dia sering berbagi pengalamannya kepada teman-teman mahasiswa baru yang mulai tergoda dengan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka.

 

Saat malam hari tiba dan bulan mulai muncul di atas langit, Rina kembali duduk di depan rumahnya. Ember yang berisi air dan tanah liat yang dia taruh pagi itu kini sudah keruh di bagian bawah, sementara bagian atasnya menjadi jernih sekali. Ibu Siti datang dan duduk di sisinya.

 

“Lihat, Nak. Sekarang airnya sudah jernih kan?” kata Ibu Siti sambil menunjuk ke dalam ember. “Begitulah hidup kita. Kadang kita harus melalui masa yang keruh dan kotor untuk bisa menjadi bersih dan jernih kembali. Yang penting kita tidak menyerah untuk membersihkan diri.”

 

Rina mengangguk dan tersenyum. Bekas luka di tangannya terasa hangat ketika terkena sinar bulan. Dia tahu bahwa jalan yang ditempuh tidaklah mudah, tapi setiap langkahnya kini penuh dengan makna. Dia telah belajar bahwa luka bukan hanya sesuatu yang menyakitkan – terkadang luka adalah guru terbaik yang mengajarkan kita tentang arti kehidupan yang sebenarnya.

 

Di kejauhan, suara ayam jantan mulai berkumandang, menandakan bahwa hari baru akan segera tiba. Sebuah hari baru yang penuh dengan harapan dan kesempatan untuk menjadi versi diri yang lebih baik.

 

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
RIGEL
yumna ayu
Flash
Jatuh Cinta, Ternyata....
Hans Wysiwyg
Cerpen
BELAJAR DARI LUKA
Lukitokarya
Novel
Bronze
KASTURI DALAM SANGKAR
KUMARA
Novel
Fiction
Rahmita Burhamzah
Cerpen
Mati Dua Kali
raras
Novel
Jalang
Dinda Angelica
Novel
Langit Senja
Aura Dwi Shafira
Flash
Senja yang Tertinggal di Antara Kita
MONSEUR
Cerpen
Sepanjang Waktu
Evangeline
Cerpen
CINTA YANG TIBA-TIBA TUMBUH
Liliana dia sapira
Novel
Di Tengah Pandangan yang Menghakimi
Nova Yarnis
Novel
GERA
disasalma
Novel
ARVALENA
savina aulia putri ardhani
Novel
Bronze
Langit Biru
Faldhy Dwi B.
Rekomendasi
Cerpen
BELAJAR DARI LUKA
Lukitokarya
Flash
Jejak Pelangi di Langit Hati
Lukitokarya
Flash
Di Puncak Bukit, Ada Rahasia
Lukitokarya
Flash
bisikan hati di balik topeng
Lukitokarya
Flash
Cinta di Balik Pagar
Lukitokarya
Flash
Melodi yang Hilang di Kota Tua
Lukitokarya
Flash
Rahasia Ombak Kenjeran
Lukitokarya
Flash
Tentang kita
Lukitokarya
Flash
senandung rindu di balik panggung
Lukitokarya
Flash
Surat dari masa lalu
Lukitokarya
Cerpen
BENANG MERAH DI BALIK PAGAR
Lukitokarya
Cerpen
KACA BOLONG DI ATAS MEJA
Lukitokarya
Flash
Peta Usang dan Harta Karun di Pulau Terlupakan
Lukitokarya
Cerpen
Aroma Kayu Manis di November Kelabu
Lukitokarya
Flash
Cubitan Manja Sang Primadona
Lukitokarya