Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bulan depan Haryanto Putra akan bebas dari penjara. Dia adalah mantan gubernur provinsi Trata Selatan yang enam tahun lalu divonis karena kasus korupsi dan OTT suap proyek jalan.
Vonis sebenarnya delapan tahun, tetapi Haryanto dapat remisi, termasuk telah menjalani dua pertiga masa hukuman. Ia akan segera bebas, meski mungkin bersyarat, tetapi tetap bebas.
Selama di penjara Haryanto memang aktif dalam kegiatan positif dan dinilai berkelakukan baik. Lupakan fakta bahwa ada desas-desus selnya VIP, atau pernah juga dia tertangkap kamera sedang menemani istrinya yang lebih muda sepuluh tahun berbelanja di negara tetangga. Berita yang terakhir sudah dibantah lelaki yang tahun ini akan memasuki usia enam puluh.
Netizen yang memiliki bukti fotonya sudah tidak terdengar kabarnya lagi.
Sebulan lagi dia akan bebas. Beritanya sudah muncul di layar TV sepanjang pekan ini, di jagat internet, dan dari perbincangan mulut ke mulut.
──── ୨୧ ────
“Sialan. Kenapa tidak sekalian saja vonisnya seumur hidup?”
Gandi, anak tertua Haryanto gusar, menatap layar TV, pada sosok sang papa yang dulu dibanggakannya, kini kembali jadi buah bibir. Dulu vonis yang dibicarakan, sekarang hari kebebasan yang menjadi pusat perbincangan.
Gandi, kini tiga puluh dua tahun. Ketika papanya tertangkap dulu, ia baru dua puluh enam tahun, baru memulai karir. Karir yang didapat dari privilege sebagai anak gubernur. Bisnis otomotif, bisnis properti. Otak kosong, tapi karena anak Papa yang pejabat, namanya menjadi ‘pengusaha muda’. Belagu, cibir kawan yang kenal dia, IPK cuma dua koma sok mau berbisnis. Akhirnya gagal terus.
Sekarang, Gandi baru saja membuka lapangan padel kedua dari uang hasil korupsi sang papa yang dulu ditabung atas nama orang lain.
──── ୨୧ ────
“Kalau Papa bebas bulan depan, berarti Papa yang akan menikahkanku? Astaga, bagaimana keluarga Mas Ryan ya, apa bisa terima Papa yang koruptor itu?”
Dinda, anak perempuan Haryanto lebih gusar. Ia akan menikah dengan pujaan hati, Ryan Pratama, putra seorang pengacara andal dan terkenal tiga bulan lagi.
Dinda sudah meminta Gandi selaku abang kandung untuk menikahkannya kelak. Gandi menolak, dan terpaksa pakai wali hakim. Seharusnya dia senang Papa akan pulang, dia punya seorang yang lebih berhak menikahkan anak perempuannya.
“Bakal buat malu nanti,” gumam gadis cantik yang memiliki usaha butik dari hasil korupsi sang papa.
──── ୨୧ ────
“Bapak bebas bulan depan.”
Lusi menarik napas, sedikit kesal.
“Kamu harus menjauh dulu sampai keadaan kondusif. Jangan khawatir, uang bulanan akan saya transfer on time,” senyum perempuan lima puluh tahunan yang masih cantik itu mekar pada laki-laki yang duduk di sampingnya. Darma.
Lusi, istri Haryanto, juga gusar tak kepalang. Ia merasa hukuman Haryanto terlalu cepat berakhir. Padahal dia masih mau bersenang -senang dengan uang hasil korupsi Haryanto dan Darma, supir pribadi Haryanto yang masih gagah.
──── ୨୧ ────
Di sudut tempat yang lain, Mira, seorang perempuan akhir dua puluhan, menatap layar TV yang memuat berita tentang rencana kebebasan Haryanto Putra.
“Kamu nonton apa, Dik?” laki-laki gagah dengan seragam security sebuah perkebunan sawit menatap istrinya. Ia baru pulang kerja.
“Berita apa ?” tanyanya lagi dan kali ini ikut menonton.
“Oh, gubernur korup itu mau keluar penjara?” ia tertawa. “Mereka biarpun di penjara, tapi uangnya tetap banyak itu, Dik. Dasar nggak tahu diri dan nggak takut dosa!”
Ia bangkit lagi. “Tidak bisa diberi amanah!” semburnya masuk ke kamar.
Mira tersenyum miris. Haryanto Putra menikahinya secara siri. Laki-laki itu mengunjungi kabupaten di mana Mira dan keluarganya tinggal. Meninjau sarana air bersih, meresmikan sekolah bantuan, puskesmas bantuan dan ….
Dia tertarik pada kemolekan Mira yang masih belia saat itu. Haryanto menikahinya, memberi Mira kebun sawit sepuluh hektar. Sesekali dia dibawa ke kota oleh orang suruhan Haryanto. Mereka mempunyai satu anak laki-laki yang tak pernah kenal ayahnya. Kini berusia delapan tahun.
Dua tahun setelah Haryanto tertangkap, Mira menikah dengan Amran, satpam di kebun sebelah. Gaji Amran tidak besar, tapi mereka hidup berkecukupan dari 10 ha sawit. Amran tidak tahu laki-laki yang baru saja dimakinya sebagai ‘tak tahu diri’, itulah yang menghidupi mereka selama ini. Termasuk membeli motor yang dipakainya ke tempat kerja.
Mira mulai cemas. Setelah bebas apakah nanti Haryanto akan mencarinya?
──── ୨୧ ────
Seseorang menelepon seseorang siang itu setelah dia menonton berita rencana kebebasan Haryanto.
“Sudah mau bebas komandan itu,” suara berat seseorang terdengar saat telepon mulai tersambung.
“Sudah kudengar. Bulan depan,” yang diajak bicara menyahut.
“Kalau kau tidak mau dia menghabisi kita karena menjebaknya dahulu, kau bereskan dia sebelum sampai rumah!”
──── ୨୧ ────
Hari kebebasan itu tiba. Haryanto sudah bersiap sejak subuh. Ia senang, sekaligus gelisah. Tapi kepalanya juga penuh banyak rencana. Ia akan hidup tenang menemani cucu dengan sisa uang yang disimpan di tempat yang tak terjangkau penyidik manapun, termasuk sang istri.
Lusi, istrinya akan menjemput, begitu janjinya. Akan ada beberapa wartawan yang dihubungi Lusi untuk mengabarkan kebebasan Haryanto. Haryanto sudah tidak peduli, ia hanya ingin bebas.
Oh, ya. Dia akan ke kampung Makmur Raya, kampung kecil yang lumayan makmur di sebuah kabupaten yang pernah dikunjunginya. Ada seseorang di sana, dan anak mereka yang belum pernah dilihatnya ssatu kalipun.
Aku akan tinggal di sana, bisik hatinya, membayangkan sosok istri sirinya yang molek.
Rencana Lusi, ada selamatan menyambut sang suami kembali ke rumah. Pagi-pagi Lusi sudah meminta kedua anaknya untuk datang ke rumah. Gandi dengan istri dan kedua anak perempuannya. Dinda, tentu saja katanya akan datang dengan calon suami.
──── ୨୧ ────
Belum jam sepuluh Lusi sudah sampai di rutan tempat Haryanto menjalani hukuman.
Wartawan sudah menunggu di luar. Tidak semua wartawan resmi, sebagian besar gadungan yang disewa untuk menyebarkan berita, entah apa pentingnya, toh Haryanto malu dan memilih menutup wajahnya saat masuk ke dalam mobil.
“Apa kabar, Darma?” Haryanto menyapa sopir yang dulu sangat dekat dengannya, sangat tahu semua rahasianya.
Ah, bahkan mungkin sosok ini yang tahu di mana Haryanto menyimpan uangnya lebih banyak.
Termasuk Mira, istrinya di kampung Makmur Raya.
“Kabar baik, Pak Har,” Darma menyahut sopan.
“Enam tahun, syukurlah kau masih setia pada saya,” Haryanto tersenyum, melirik istrinya yang hari ini tampak lebih cantik. “Sesekali kau masih melihat Ibu dan anak-anak, kan, Darma?”
“Tentu, Pak Har,” sahut Darma. Matanya bertemu dengan mata Lusi lewat spion tengah.
Di belakang, mobil wartawan dan simpatisan bayaran mengekori mobil yang dikemudikan Darma.
Mobil melaju, membelah hari yang mulai terik. Lalu lintas tidak begitu ramai ketika mobil mulai meninggalkan jalan arteri menuju jalan ke rumah pribadi Haryanto yang berada di lokasi elit.
Sebuah mobil dari arah berlawanan seperti tak punya sopir, melaju begitu kencang seakan memang sengaja mengarah ke mobil yang membawa Haryanto.
──── ୨୧ ────
Gandi yang menerima berita kecelakaan kedua orang tua-nya berdiri gemetar. Ia menggenggam telepon, dua buah sekaligus.
“Sebaiknya kita segera mengurus pemakaman, Pak Gandi.” Suara Donal, asistennya terdengar efisien di telepon.
Di saluran lain, Gandi tak sabar. “Aku ingin semua harta peninggalan Papa yang tidak kena sita segera diurus. Aku tak ingin Dinda tahu.”
Laki-laki berusia tiga puluh dua tahun itu sulit mengatur napasnya yang memburu.
“Pilihkan tempat makam yang terbaik, Donal!” perintahnya pada sang asisten pribadi.
Gandi menyusut sudut matanya yang berair.
Seringnya, kesedihan dan kebahagiaan dekat dengan air mata.