Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
bayi
1
Suka
78
Dibaca

Siang hari, di sebuah kontrakan. Sebuah keluarga kecil sedang menghabiskan waktu dengan kegiatan masing-masing: sang suami mencuci piring, sang istri menatap galeri foto-foto masa lalunya saat wisuda dan bekerja di ponsel, sedangkan sang anak semata wayang mereka sibuk menghabiskan susu dari botol dot.

Rumah kontrakan yang berwarna hijau ini terdiri dari tiga petak: ruang depan, kamar tidur, dan ruang belakang yang berisikan dapur dan kamar mandi. Kamar tidurnya terasa hangat tanpa ventilasi dengan kipas angin yang meniupkan udara yang tak sejuk.

"Yang, aku mulas," ucap sang istri.

"Mau buang air?”

"Bukan, Yang, ini beda."

"Ah, masa iya itu sih? Belum waktunya, masih sebulan lagi."

"Yang, tapi ini...” Sang istri menatap ke arah kasur di bawah pangkal pahanya yang sudah basah, cairan itu turun bebas tanpa bisa ia kendalikan.

Si pria mendatangi istrinya di kamar. "Kamu ngompol?"

"Ih, bukan! Tapi ini... ini sudah pecah!"

"Eh, kok cepat banget?"

"Tidak tahu, Yang, aku mulas!"

"Yah, tahan ya tahan.” Pria itu segera menyambar ponselnya. “Aku pesan taksi online dulu.” Sigap ia melepaskan ponselnya yang sedang mencari pengemudi, dan mengeluarkan sebagian isi lemari lalu memasukkannya ke dalam ransel. “Yah, belum ada yang ambil ordernya.” Ia kembali meletakkan ponselnya dan mengganti pakaian anaknya yang berusia dua puluh lima bulan itu. "Dapat nih sopirnya, tapi jauh. Sabar ya, Yang, semoga baik-baik saja."

Pria itu mengenakan ransel yang sudah membelendung dengan isi yang beragam, lalu ia menggendong anaknya dan membopong istrinya menuju muka gang yang berjarak puluhan meter dengan langkah yang pendek-pendek.

Di sisi jalan raya, si wanita duduk di sebuah bangku milik kios nasi goreng yang hanya buka pada malam hari. Ia terus saja memegangi perut dengan wajahnya yang berkeringat dan gigi yang ia rapatkan. Sedangkan suaminya menatap tajam jalanan dan sesekali memandangi layar ponsel.

Kendaraan lalu-lalang menembus bias kuning matahari yang menyengat, beberapa kendaraan tua memuntahkan asap dari pantatnya.

Sebuah mobil murah ramah lingkungan berwarna merah dengan kaca terbuka berhenti, sang pria bergegas menghampiri.

“Pak Fajar?” tanya Anto sembari menatap ponselnya.

“Betul, ini Pak Anto yang ke Rumah Sakit Ibu dan Anak?”

Pria itu mengangguk membuka pintu, ia cepat membawa istri dan anaknya masuk.

“Pak, apa bisa cepat? Istri saya sudah mau melahirkan.”

“Waduh, saya usahakan ya, Pak, saya takut kencang-kencang masalahnya.”

“Yah... Pak, tapi ini mendesak.”

“Kenapa Bapak tidak pesan ambulans saja?”

“Ya sudah, sebisa Bapak saja kencangnya.”

Sang sopir menarik napas panjang sembari menarik persnelingnya dari posisi netral. Mobil mulai berjalan dengan wajah-wajah tegang di dalamnya. Si wanita terus saja meringis, sang anak sibuk berbicara sendiri, dan sang pria terus merangkul mereka dengan erat.

Mobil menghambur ke tengah keramaian, menerobos jalanan yang penuh. Sang sopir mengetuk-ngetuk setirnya, kisi-kisi pendingin udara tepat mengarah ke wajahnya yang berkeringat. Beberapa kali ia menelan ludah sembari menekan rem setelah menekan dalam gasnya. Tangannya juga akrab dengan klakson yang sering ia bunyikan ketika ada yang menghalangi.

Mobil berhenti tepat di lobi rumah sakit. Si pria sigap meminta kursi roda pada seorang sekuriti dan mendorongnya menuju ruang gawat darurat.

Tangan si wanita kuat menggenggam sandaran tangan, peluhnya terus menetes. Seorang perawat mendorongnya menuju ruang tindakan, sedangkan sang pria sibuk mengisi dokumen-dokumen persyaratan sembari menggendong anaknya.

“Bapak, untuk terakhir kalinya sebelum tindakan boleh temui istrinya ya.”

Pria itu bergegas masuk setelah menyerahkan dokumen yang ia isi. Ia melihat istrinya terkulai lemas dengan wajah yang basah dan sudah mengenakan baju berwarna hijau serta penutup kepala.

“Yang, Yang, kamu bisa, kamu kuat.” Pria itu menggenggam kuat tangan dan mengecup dahi si wanita.

“Ma... Ma...” Sang anak turut menggenggam tangan ibunya.

Si wanita tidak merespons, ia hanya meringis memegang perut. Si pria terus saja berbicara hal yang sama sembari menciumi tangan istrinya.

“Pak, waktunya sudah selesai. Bisa tunggu di luar ya.” Seorang perawat masuk membuka lebar pintu yang sebelumnya tertutup.

Pria itu melepaskan tangan istrinya, sang anak terus berteriak memanggil ibunya. Mereka keluar dan berdiri mematung di depan pintu—menanti gagangnya bergerak.

Hampir satu jam berlalu, ruangan itu masih senyap. Si pria masih berdiri di sekitar pintu serta sang anak tak banyak aksi dan terus merangkul leher ayahnya.

Pintu terbuka.

“Pak, boleh masuk, silakan lihat anaknya!” ucap seorang perawat.

“Bagaimana, Bu, keadaannya?”

“Nanti bisa tanya dengan dokternya ya, Pak.”

Mereka melewati beberapa pintu hingga bertemu dengan kotak transparan yang berisikan seorang bayi. Tidak ada tangisan keluar dari mulutnya, ia terlihat terlelap.

“Pak, selamat ya!” ucap seorang dokter wanita menghampiri.

“Kondisinya bagaimana, Dok? Kok dia diam saja? Istri saya bagaimana?”

“Untuk ibunya aman-aman saja, Pak, tapi....”

“Tapi, apa?”

“Anaknya perlu kita observasi, dia harus terus kita pantau, sebulan sekali kita harus periksa.”

Pria itu mendengarkan dengan jeli penjelasan dari sang dokter. Wajahnya menekuk dan bibirnya rapat gemetar, sementara tangannya erat memeluk dan mengelus kepala anaknya yang terus memanggil “Mama”.

Sang dokter pergi meninggalkan pria itu bersama kedua anaknya. Ia menatap wajah bocah yang sama sekali tidak bergerak itu. “Nak, bangun... ini Papa. Kamu dengar kan?” ucapnya lirih dengan bergetar.

Seorang perawat datang dan membawa bayi itu ke ruang perawatan intensif. Si pria menanti di luar, ia duduk mematung menatap kosong lorong panjang rumah sakit dan membuka ponsel lalu menempelkannya di telinga.

“Bu... Tia sudah melahirkan. Tapi anaknya...”

***

 

Di sebuah pasar, Anto sedang membuka pintu tokonya. Pintu itu terdiri dari barisan papan dengan bolong di tengahnya, yang dirangkai dengan engsel yang membuatnya bisa dilipat-lipat, dan sebuah balok kayu panjang menjadi tulang pintu itu yang direkatkan dengan baut dan mur.

Anto adalah seorang pedagang berbagai macam barang: mainan, alat rias, alat tulis kantor, bahan kerajinan tangan, dan lain-lain. Sekarang ia sedang menyirami jalanan di depan tokonya yang berupa tanah merah, kegiatan ini rutin ia lakukan ketika tanah itu kering. Selanjutnya, ia menggantungkan persediaannya pada tulang-tulang atap toko, lalu menata sebagian barang di meja yang menjorok menutupi sebagian jalan.

Setelah selesai, ia menyeka keringatnya dengan handuk hijau yang melilit di lehernya, ia menikmati sebatang rokok dan menyeruput segelas kopi yang mengepulkan uap sembari memanggil pembeli.

Pria itu mematung, matanya yang biasa lihai menatap pengunjung pasar kini terdiam. Jemarinya mengetuk meja bergantian dan napasnya membuang habis udara di dadanya. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi istrinya. Dadanya mengempis ketika mendengar semua baik-baik saja. Anak sulungnya tidak nakal pada adiknya, dan si bungsu tidak rewel.

“Ramai jualan, Yang?”

“Ya, ada saja, Yang,” jawab Anto.

“Semoga ramai terus ya, semoga kedua anak kita terus bawa rezeki.”

Pria itu mengamini dan menutup sambungan teleponnya.

Ia mengisap dalam rokoknya lalu meniupkannya sembarang. Asap rokok itu seolah menutupi sesuatu darinya. Sembari menatap layar ponsel, ia sering kali mendiamkan jempolnya pada kontak “Ibu”. Meski ragu begitu mencengkeram, ia memberanikan diri menekannya itu dan menempelkan ponsel di telinganya.

“Bu... Anto pinjam uang lagi buat Totti.”

***

 

Sebulan kemudian. Suasana panas kamar kontrakan membuat badan seorang bayi laki-laki yang dipasangi selang sonde di hidungnya memerah. Meski ia kenyang karena baru saja mengonsumsi beberapa mililiter susu yang dimasukkan melalui selang, ia terus rewel.

Ibunya Anto sedang berkunjung dan melihat wajah cucunya yang terlihat tidak nyaman. Ia mengipasi dengan kain selimut yang ia lipat.

Anto masuk ke dalam rumah, ia baru pulang berdagang lalu mencium tangan sang ibu.

"Ramai hari ini?”

Anto menggelengkan kepala lalu diam sejenak. “Bu...”

“Hah?” jawab Ibu singkat.

“Bu, Anto butuh uang lagi untuk antar Totti berobat ke kota. Kemarin dia dapat rujukan dan harus periksa di rumah sakit jantung di ibu kota.”

“Jadi harus menginap?”

“Iya, Bu.”

“Uang kamu mana? Kok sekarang minta uang terus?”

“Sejak melahirkan, sebulan ini Anto sudah jarang jualan, Bu, kan sudah Anto bilang. Semua uang sudah jadi barang dagangan, tabungan Anto juga sudah habis buat beli makan, susu, dan ongkos bolak-balik ke rumah sakit, terus ada beberapa obat yang tidak ditanggung asuransi.”

“Tia memangnya belum masak juga, belum pulih juga dia?”

“Belum, Bu, badannya masih belum kuat.”

“Manja! Dari menikah terus begitu. Istri pemalas!”

“Bu, sudah, Bu, Anto butuh uang buat antar Totti berobat.”

“Ya sudah, nanti Ibu kirimkan. Kapan mau ke ibu kota?”

“Besok, Bu.”

“Ya sudah, besok Ibu juga ikut.”

***

 

Sepuluh jam perjalanan, keluarga ini tiba di ibu kota. Mereka menginap di sebuah indekos yang mereka sewa selama dua minggu. Luas kamar ini sembilan meter persegi. Mereka menggelar karpet tipis sebagai alas tidur.

Badan Anto terasa begitu kaku setelah membawa dua tas besar sembari menggendong anak sulungnya, ia meregangkan badannya di lantai.

“Jangan tidur dulu, mandikan dulu anaknya mumpung belum gelap terus cari makan,” ucap Ibu yang baru menjatuhkan pantatnya ke lantai sembari merogoh tas tangannya. “Ini uangnya,” lanjutnya sembari menyerahkan selembar uang pada Anto.

Anto tidak menjawab, ia mengambil uang dan memasukkannya ke dalam kantong celana, lalu memandikan kedua anaknya.

“Kenapa bukan kamu yang mandikan mereka Tia?”

“Tia masih capek, Bu,” jawab Tia.

“Memang kamu pikir Anto tidak capek? Semuanya capek di sini!”

“Luka operasi Tia kemarin masih sakit, Bu, belum boleh banyak gerak.”

“Kamu itu alasan saja, kasihan suami kamu, apa-apa dia, kamu cuma tidur-tiduran saja.”

“Bu... Anto senang mandikan anak-anak,” ucap Anto dari dalam kamar mandi.

“Kamu itu jawab saja, Tia ini terlalu dimanja, selalu saja kamu bela.”

“Sudah, Yang, anak-anak mandi sama aku saja.” Tia masuk dan bergantian dengan suaminya yang keluar dari kamar mandi.

“Ya sudah, nanti aku yang pakaikan pakaiannya.”

Anto keluar dari kamar dan meninggalkan Ibu sendiri. Ia duduk di teras kamar sembari mengusap wajahnya. Matanya menatap koridor indekos dengan pintu di kanan-kirinya, sayup-sayup terdengar suara dari bawah celah pintu itu.

Beberapa menit kemudian Tutta memanggil ayahnya, Anto masuk kembali dan melihat anaknya lebih segar. Segera ia memakaikan pakaian si sulung, sedangkan si bungsu bersama ibunya.

“Kenapa tidak pakai minyak telon? Kasih sedikit ke perutnya biar hangat, biar wangi. Biasanya enak saja kita cium-cium anak karena wangi. Ini anak-anak baunya asam semua,” ucap Ibu sembari memainkan ponselnya.

Pasangan suami istri itu tidak menjawab, mereka menuangkan beberapa tetes minyak telon di telapak tangan dan menggosokkannya ke perut anak mereka.

Setelahnya Anto membelikan makan, dan ketika pulang ia melihat si sulung menempel pada neneknya sembari mengipasi si bungsu yang badannya memerah karena gerah.

Tia keluar dari toilet dengan membawa beberapa helai tisu ia remukkan dan membuangnya ke tempat sampah.

“Ke toilet pakai tisu terus, boros sekali! Kenapa tidak pakai handuk saja?” ucap Ibu ketus.

“Bu, itu kan cuma tisu, kalau pakai handuk ya kotor.”

“Jawab saja kau itu, kau bela terus istrimu. Tutta, dengar Oma, kamu nanti jangan boros kayak orang tuamu ini ya!” ucap Ibu pada si sulung.

Anto menghela napas. “Salah terus saja kami di mata Ibu.”

“Kalau kamu tidak mau diatur, kamu penuhi sendiri kebutuhanmu. Giliran kurang kamu bilang Ibu, giliran diatur kamu tidak mau!”

Anto melihat istrinya yang menunduk dengan mata yang berkaca-kaca lalu keluar dari kamar sembari menenteng ponselnya. Di teras ia terduduk, jarinya menggeser layar ponsel dengan tatapan yang tak fokus. Napasnya terpotong-potong dengan bibir yang bergetar. Matanya perlahan terpejam dan setitik air berjalan meniti pipinya.

Malam harinya ketika semua sudah sunyi, Tia terbangun karena erangan Totti yang badannya sudah penuh keringat. Wanita itu mengipasi anaknya. Beberapa kali matanya tertutup dan kipasannya terhenti, di saat itu suara bayinya kembali membangunkannya dan kembali mengipasinya hingga anaknya pulas.

***

 

Seorang karyawan rumah sakit sedang mendorong troli yang membawa makanan, ia mendorong menuju koridor yang berisikan kamar-kamar rawat inap. Anto menatapnya sembari menggenggam perutnya.

Ponselnya bergetar, pria itu mengeluarkan ponsel dan matanya membaca notifikasi pesan dari sang istri.

“Apa lagi ini?” ucapnya sembari mengusap wajah.

Jarinya cepat mengetik membalas pesan itu.

“Tunggu ya, ini Totti masih diperiksa."

Pria itu mengembuskan napas kencang dan menggelengkan kepala.

Tiga jam menanti, pria itu dipersilakan masuk ke dalam ruangan dokter.

“Pak, kondisinya ini cukup berbahaya. Terdapat lubang pada katup jantung pasien dan ini harus terus kita observasi, setidaknya setiap bulan harus dibawa ke sini untuk kita pantau perkembangannya.”

“Tapi, Dok, jarak rumah saya ke sini sepuluh jam, dan ini bukan ke satu dokter, ada penyakit dalam, kulit kelamin, dan lain-lain. Setidaknya bisa dua minggu saya habiskan setiap bulannya. Ini berat, Dok, karena saya juga harus cari uang.”

“Ya, memang seperti itu birokrasi kita, Pak. Itu risiko kalau menggunakan asuransi dari pemerintah—gratis—harus siap dengan apa pun kondisinya. Kalau Bapak pakai jalur mandiri, satu hari bisa beres dengan semua dokter, tapi biayanya apa Bapak bisa bayar?”

Anto menghela napas sembari mengangguk. “Ya sudah, Dok, saya usahakan setiap bulan untuk ke sini.”

Anto pulang dengan Totti yang terlelap di gendongannya. Ia masuk kamar dan melihat istrinya yang menunduk dan Ibu yang sedang bermain ponselnya.

“Ibu mau pulang saja. Tiga hari di sini, Ibu cuma lihat Tia main HP saja terus, bersih-bersih ruangan sekecil begini saja tidak mau. Tidak tahan lagi Ibu di sini!” Ibu melotot pada Anto.

“Bu, kan Tia masih sakit.”

“Sudah, Ibu pulang saja besok, carikan Ibu tiket sekarang. Makan hati Ibu di sini!”

Anto keluar dari kamar dan segera mencari tiket, sedangkan istrinya menepuk-nepuk kaki si sulung yang terbangun karena suara tinggi Ibu.

Esok harinya, Ibu pulang. Tawa Totti kini tidak tertutup lagi omelan dari neneknya, ia berteriak keras ketika ayahnya mengendus ketiaknya. Melihat itu Tutta tidak mau kalah, kerap kali ia menggosokkan hidungnya di perut adiknya yang membuat sang adik terpingkal. Sedangkan Tia, ia menatap layar ponsel yang sedang merekam keluarganya dengan senyum yang lebar.

***

 

Usia Totti kini memasuki empat bulan, berat badannya terus meningkat diikuti dengan porsi susunya yang terus bertambah. Anto melihatnya dengan senyum, ketika ia baru pulang dari pasar sembari membawa kantong di tangannya sore ini.

“Yang... kamu lagi apa? Ayo makan!”

“Lagi lihat-lihat foto zaman dulu, waktu masih kerja. Ramai jualan hari ini, Yang?”

“Ya, ada saja yang beli. Ayo makan dulu!” Pria itu melepas jaket transportasi online berwarna hijau dan semua pakaiannya hingga menyisakan celana pendek dan kaus singlet yang sudah tidak lagi putih sempurna.

Keluarga itu duduk di lantai tanpa alas apa pun. Anto mengambil dua piring nasi dan mengeluarkan dua potong ayam tepung dari kantong. Ia duduk di hadapan si sulung dan menyuapinya, sedangkan si istri menggendong si bungsu sembari mengunyah makanannya.

“Kamu makan apa, Yang?” tanya sang istri.

“Ini masih ada sepotong,” jawab Anto sembari menepuk kantong yang masih menggelembung.

“Kamu sambil makan juga."

“Nanti saja, setelah Tutta makan.”

Si sulung makan dengan lahap dan hanya menyisakan tulang paha bawah beserta tulang mudanya di piringnya.

Anto membawa piring itu menuju ruang belakang dan mengambil sesendok nasi dari penanak nasi dan memakannya dengan lauk tulang muda sisa dari Tutta.

“Yang... kamu tidak makan?” tanya Tia lagi.

“Ini aku makan, Yang.”

“Kok makan di belakang?”

“Biar sekalian cuci piring bekas sarapan tadi,” jawab Anto sembari makan dengan cepat lalu mengeluarkan kantong plastik bening yang berisi udara dari dalam kantong ayam tadi.

“Ih, apa enaknya makan di belakang? Mending makan di sini sama aku.”

“Ini aku lagi cuci piring, kamu habiskan saja makananmu, nanti bilang kalau sudah habis, biar sekalian aku cuci juga piringnya.”

Tangan Anto gesit mengusir sisa makanan dari piring-piring kotor, ia usap dengan busa yang sudah penuh dengan sabun. Tak lama, sang istri mengatakan bahwa ia sudah selesai dan pria itu dengan sigap membawa segelas air lalu membawa piring kotor itu.

Usai membersihkan wastafel dari sisa makanan, Anto ke ruang depan dengan membawa sapu. Ia melihat istrinya sedang bermain ponsel di samping kedua anaknya yang terlelap. Pria itu membersihkan semua kotoran yang ada di lantai dan mengepelnya. Setelah ia rasa cukup, ia masih melihat istrinya dengan posisi yang sama.

“Minggu depan Totti kontrol lagi kan, Yang?”

“Iya, kontrol bulan keempat. Apa uangnya sudah ada, Yang?”

“Ya, semoga saja ada ya,” ucap pria itu dengan yakin sembari mengenakan jaket hijaunya. “Ya sudah, aku mau narik dulu ya.”

“Kamu mau langsung narik? Apa tidak capek pulang jualan langsung keluar lagi naik motor seharian?”

“Ya, cuma ini yang aku bisa lakukan.”

***

 

Anto duduk di trotoar, badannya sudah menyatu dengan bau khas jalanan. Sudah beberapa kilometer ia berkendara, namun tak ada sekali pun aplikasinya mendapatkan sewa.

Pukul sepuluh, atau sudah lima jam ia berkelana. Perutnya bergetar, ia redam dengan ikat pinggangnya yang kian ia kecilkan.

Ponselnya bergetar, sebuah pesan berisikan laporan mengenai kedua anaknya yang sudah terlelap dan ia balas dengan gambar peluk dan cium yang lucu. Lalu ia mengganti kontak pesan dan mengetik.

“Bu, sudah tidur?”

Tidak menunggu lama, sebuah balasan ia terima. Anto membaca sejenak dan menempelkan ponselnya di telinga sembari menyambungkan panggilan telepon.

“Bu... maaf, Anto pinjam uang lagi untuk Totti.”

“Kamu itu benar-benar ya! Kalau ujung-ujungnya ke Ibu, kenapa kamu harus keluar dari rumah? Kalau kamu mau mandiri jangan ke orang tua terus. Itu juga istrimu, jangan biarkan istri kamu di rumah saja, suruh dia juga kerja!”

“Bu, Anto mohon bantuannya. Kalaupun Anto pinjam dengan orang lain, Anto tak mungkin mampu bayar.”

“Ya, itu kamu sadar kalau kamu tidak mampu, kenapa kamu tidak ikuti kata-kata Ibu?”

“Silakan Ibu bilang apa saja yang Ibu mau, asal bantu Anto, Bu.”

“Nanti kalau sudah dikasih uang, Ibu bilang apa pun kamu tidak dengar. Berani kamu tentang Ibu, padahal Ibu ini selalu ada buat kamu dan istri kamu cuma menyusahkan saja.”

“Bu, kalau Anto ada uang, tidak mungkin minta bantuan Ibu. Anto juga sudah bilang, Tia itu fisiknya lemah, Bu,” ucap Anto sembari menarik cairan melalui hidungnya.

“Asal kamu tahu, Anto, biar kamu sadar, kuping itu kamu pakai buat dengar, jangan cuma jadi pajangan. Istri kamu itu pemalas! Mana ada istri yang kerjanya tidur saja begitu! Kamu itu sudah buta, sayang kamu itu tidak ada alasannya, kamu itu cuma dimanfaatkan. Dengar kamu!?”

“Iya, Bu, Anto dengar.”

“Besok suruh saja si Tia sendiri ke kota. Biar Tutta sama Ibu dan kamu bebas cari uang.”

Anto menghela napasnya tak menjawab.

“Kalau kamu mau Ibu bantu, dengar Ibu. Kalau tidak, ya silakan kamu usaha sendiri.”

“I... iya Bu, Anto mau.”

***

 

“Mana bisa, Yang! Aku tidak bisa!” bentak Tia.

“Ayolah, Yang, kan belum dicoba. Cuma bolak-balik saja dari indekos ke rumah sakit.”

“Tidak, Yang, aku tidak bisa. Kalau kamu tidak mau antar, ya sudah, biar Adik tidak usah berobat.”

“Ya ampun, Yang! Ini uang kita sudah tidak ada! Ayolah, kamu sudah besar, sudah jadi Ibu, kenapa hal kecil begini kamu tidak bisa?”

“Ya sudah, biarkan saja Adik begini.”

“Kamu...” Anto menunjuk istrinya dengan bergetar. “Ah...”

Sebuah truk yang membawa kontainer mengepulkan asap hitam, membuat Anto yang sedang duduk di atas trotoar terbatuk dan membuyarkan lamunannya. Ia pun pulang dengan tangan kosong dan tiba di rumah ketika hari sudah berganti.

“Yang, aku saja sendiri ke kota antar adik berobat,” ucap Tia yang sedang tidur dengan kepala berada di lengan suaminya.

“Hah? Maksudnya?”

“Iya, kamu di sini saja, cari uang. Biar aku sama Abang dan Adik ke sana. Aku bisa kok.”

“Tidak, tidak, kamu pasti tidak bisa. Yang, kamu pasti tidak paham caranya.” Pria itu menggelengkan kepala dengan cepat.

“Aku tahu kok, aku paham, Yang, jangan anggap aku seperti anak kecil terus. Sebelum sama kamu kan aku apa-apa sendiri, tapi sekarang aku selalu saja dianggap tidak tahu, tidak mampu. Aku bisa, Yang, percaya sama aku.”

“Tidak, Yang, biar kita berangkat sama-sama.”

“Selalu saja kamu tidak percaya begitu. Sama itu juga, masalah kerja, padahal dulu aku sudah punya penghasilan loh, bahkan lebih besar dari kamu. Tapi kamu tidak mau kalau aku cari uang sendiri.”

“Kenapa jadi bahas itu? Yang, masalah uang, jangan dipikirkan. Aku bisa kok sediakan semua buat kita.”

“Pinjam Ibu lagi?”

Anto terdiam.

“Aku malu, Yang. Aku bisa bantu kamu, tapi kamu tidak pernah mau. Bahu kamu itu dari tulang bukan besi, Yang.”

“Ini tanggung jawab aku, cukup kamu ikut saja apa kata aku,” ucap Anto sedikit meninggi.

***

 

Satu minggu kemudian. Anto dan keluarga sudah berada di indekos yang sama seperti bulan-bulan sebelumnya.

“Kalian pergi semua lagi ke kota?”

“Iya, Bu, Tia belum bisa sendiri.”

“Kamu benar-benar tidak dengar ya?!”

“Iya, Bu, maaf.”

Sepuluh menit perbincangan berakhir, sepanjang sambungan telepon Anto hanya mengucapkan “iya” dan “maaf” dengan wajahnya yang murung sembari beberapa kali napasnya tersendat.

“Ibu marah lagi, Yang?” tanya Tia.

“Ah, tidak, Ibu malah titip salam buat kalian.”

“Oh, begitu, ya salam balik untuk Ibu, Yang. Oh, ya. Aku mau bersih-bersih ya?”

“Tidak, tidak, tidak. Kamu tidur saja, sudah dibilang kamu tidak boleh ada aktivitas. Kamu diam-diam saja.”

“Lama-lama begini aku tidak sehat, Yang, aku juga malu dicap pemalas.”

“Halah, tidak perlu didengar kata Ibu. Surgamu di aku, bukan di Ibu.”

“Yang, kita tidak bisa begini terus. Belum lagi masalah uang, apa kamu ada uangnya setiap bulan seperti ini? Kita belum tahu sampai kapan Totti berobatnya, sudah beberapa bulan belum banyak perkembangannya.”

“Kan ada dua minggu buat cari uang, dua minggu buat kita habiskan di sini. Sudah, kamu tidak perlu pikirkan itu, itu tanggung jawab aku.”

Tia mengangguk pelan sembari mengatupkan bibirnya.

***

 

Setiap bulan berjalan sama, penuh dengan amarah dan telinga yang hanya mendengarkan tanpa menjalankan. Semua akibat dari permintaan seorang anak pada ibunya.

Kamar indekos itu kini memiliki pola, dua minggu terisi dan dua minggu kosong. Selama dua minggu di ibu kota, Anto beberapa kali mondar-mandir ke rumah sakit bersama Totti, sedangkan Tia setia menanti di kamar bersama Tutta.

Beberapa kali kesempatan, ketika tidak memiliki jadwal pemeriksaan, mereka berkeliling mal yang berada di muka rumah sakit. Tutta terus berteriak melihat keramaian, kaki kecilnya hilir-mudik berlari di lobi yang luas. Anto berkeringat menjaga anak itu di tengah dinginnya gedung.

Semua lantai mereka kelilingi, mata mereka puas menyapu gedung itu. Hingga mereka kembali menuju indekos dengan Tutta yang terlelap karena letih mengitari mal tanpa membeli apa pun.

Setelah meletakkan anaknya, Anto keluar dari kamar untuk membeli makan. Di sepanjang perjalanan ia menghubungi Ibu. Sama seperti kebiasaannya, memasang telinga tebal untuk menghalau semua ucapan orang tuanya, atau ia membiarkan ucapan itu masuk dan keluar melalui telinga yang lain.

Anto duduk di sebuah batu yang berada di pinggir jalan ketika ia mendengar nada bicara Ibu sudah meninggi.

“Kamu mau sampai kapan bela istri kamu itu?”

“Kasihan Tia, Bu.”

“Kamu tidak kasihan sama Ibu? Ibu kerja sejak dulu, Ibu kumpulkan uang buat kebutuhan keluarga, bukan untuk istri kamu yang tidur terus itu!”

“Bu... ini juga kebutuhan keluarga, untuk cucu Ibu.”

“Itu saja alasan kamu, kamu pancing iba Ibu dengan Totti, padahal bukan itu masalahnya. Masalahnya ada di rumah tangga kalian, ada di kamu sebagai pemimpin yang salah.”

“Ini rumah tangga Anto, Bu. Anto yang jalankan semuanya.”

“Tapi kamu itu menyusahkan kamu sendiri dan Ibu. Ibu kasihan sama kamu diperbudak istrimu begitu. Sejak kecil ibu jaga kamu, sekarang kamu malah jadi budak begini.”

“Bu... Anto... Anto tidak mau jadi seperti Ayah yang pergi tinggalkan Ibu sejak Anto kecil. Dari dulu Ibu jaga Anto sama seperti Anto memperlakukan Tia sekarang. Apa Anto salah?”

“Sejak kecil kamu tidak pernah mendebat Ibu begini, tapi semenjak kamu menikah kamu berubah. Apa yang mau kamu buktikan?”

“Tidak ada, Bu. Anto cuma mau jadi berguna.”

“Terserah kamu, Ibu di sini cuma bantu yang kamu butuhkan, bukan kemauanmu. Hidupmu tanggung jawab Ibu sebagai orang tua. Tapi kamu harus ingat, tidak selamanya Ibu bisa bantu. Ibu sudah tua, tabungan Ibu juga sudah tidak banyak. Kalau kamu mau terus begini, memanjakan istrimu begitu, setidaknya kamu tidak menyusahkan Ibu lagi.”

“Bu, andaikan Totti ini normal dan sehat-sehat saja, Anto tidak akan menyusahkan Ibu.”

Terdengar suara terisak dari ujung telepon Anto, cukup lama tanpa jawaban, hingga Ibu menjawab dengan terbata-bata.

“Ya sudah, ini semua ibu lakukan buat cucu Ibu. Uang sudah ibu transfer, pakai yang benar untuk berobat.”

Panggilan terputus, Anto melanjutkan tujuannya membeli makan dan kembali dengan plastik yang tergantung di tangannya. Ia masuk kamar dan melihat istrinya yang menatap ponsel dengan foto-foto wisuda, sedangkan kedua anaknya terlelap.

“Yang, besok kita jalan-jalan ke mal yuk cuci mata lagi,” ucap Anto pada istrinya.

“Kan ini kita baru pulang dari mal. Masa setiap hari?”

“Tidak apa-apa, kalau Tutta capek dia cepat tidur, kita bebas berduaan.”

***

 

Sepuluh bulan kini usia Totti, selang sonde masih setia menempel di lubang hidungnya. Sering kali Tutta menciumi perut si adik yang terkadang menyebabkannya muntah, dan setelah itu sang kakak pasti tertawa di balik omelan ayahnya.

Malam ini di indekos, Totti lebih cerewet dari biasanya karena Tutta mengajaknya berbincang sembari tertawa—mulut mungilnya menampilkan gusi polos.

 Seringnya ia tertawa, membuatnya menangis kehausan. Ayahnya membuatkannya susu di sampingnya. Dan tepat ketika ayahnya mencari tutup botol susu itu, Totti dengan cepat mengambilnya dan meneguk isinya langsung dari botol—seharusnya ia konsumsi melalui selang sonde.

Sejenak Totti diam lalu ia mengeluarkan semua perutnya. Dan sejak saat itu ia hanya diam.

Esok harinya, saat aroma karbol di lantai basah menerobos hidung Anto yang sedang duduk menghadap sebuah ranjang yang berisikan Totti, ia menatap kosong bayinya yang baru saja keluar dari kotak yang ditempatkan di ruang penanganan intensif.

Totti menggenggam ujung telunjuk ayahnya, bayi itu sedikit menyunggingkan sisi bibirnya. Suara berdecit terdengar ketika dadanya mengembang saat mengambil napas. Matanya sayu, ia paksakan membesar melihat pria yang selalu ada untuknya itu.

Kelopak mata Anto memberat lalu menjatuhkan isinya perlahan, genggaman yang ia rasakan semakin mengencang. Bayi itu tersengal, matanya membelalak, dan badannya mengejang.

Anto tersentak, ia sigap menekan tombol merah bantuan. Tangannya masih tergenggam, ia terus memanggil nama anaknya.

Seorang perawat datang dan melihat layar yang menyambung ke dada si bayi melalui kabel, layar itu menampilkan garis naik-turun secara cepat dengan suara yang berisik. Ia berlari keluar dan kembali bersama beberapa orang termasuk seorang dokter.

Anto diminta keluar, ia melihat Totti sudah diam dan garis pada layar yang sudah menjadi datar. Ia memohon agar bisa tetap di dalam ruangan itu, namun tidak diperbolehkan hingga ia mengalah dan menurut.

Anto membuka pintu dengan suara tersedu terus memanggil nama anaknya. Suasana yang semula cukup ramai, seketika hening. Ia melihat beberapa pasang mata menatapnya iba. Napasnya tersengal, tangannya terkepal bergetar.

Anto mengambil ponselnya.

“Yang... kamu ke sini sekarang!”

Anto menutup sambungan teleponnya dan kembali menghubungi seseorang.

“Bu, Totti hilang napas, dia hilang napas... dia lagi diberi tindakan.” Suaranya tertahan desakan napas.

Anto menutup teleponnya, mulutnya tak mengizinkannya banyak bicara—lebih banyak tersedu. Sedang semua mata masih tertuju padanya, Anto tak menggubris tatapan yang mengasihaninya, ia terus berdiri memegang pintu.

Lima belas menit menanti, dokter keluar. Masker menutupi sebagian wajahnya, matanya cekung tanpa cahaya. Tangan kanan merangkul tangan kirinya, matanya menatap langit-langit sejenak sebelum ia fokuskan pada Anto. Mulutnya sedikit terbuka. “E...” Tangannya saling menggenggam. “Jadi, Pak.” Ia menghela napas dan menggeleng.

“Sudah pergi?” tanya Anto sembari terisak.

Dokter itu mengangguk. “Kami mohon maaf.”

“Tidak bisa kalian kembalikan?”

Dokter itu menggeleng. “Tidak mungkin. Kami mohon maaf. Sepuluh bulan hidupnya luar biasa. Dia sudah bertahan lebih lama dari yang saya perkirakan.”

Anto menunduk dan mengusap hidungnya yang sudah menetes kencang.

“Andaikan dia bisa bertahan hingga dewasa pun rumah sakit ini pasti akan jadi rumah pertamanya, Pak.”

Dokter menepuk pelan bahu Anto.

“Tuhan sayang sama dia, dia anak spesial. Dia pasti berterima kasih sekali sama Bapak yang sudah mengusahakannya sejauh ini. Dia tersenyum di akhir hidupnya, seolah bilang kalau dia bahagia selama ini.”

***

 

Kamar indekos itu masih sama, setelah kepergian Totti, tiga bulan setelahnya keluarga ini masih menginap tanpa tujuan, bermodalkan uang santunan kerabat dan handai tolan, termasuk Ibu.

Mereka mengurung diri selama dua minggu, sama seperti kebiasaan rutin bulan-bulan sebelumnya. Ruangan ini begitu sangat berisik di kepala Anto yang selalu melihat bayinya di atas kasur. Ia tersenyum menatap anaknya yang terkadang berujung derasnya air mata.

Tia lebih banyak berbincang dengan Tutta dibandingkan suaminya yang seolah menjauh dari dunia nyata itu. Ia dekati suaminya lalu memeluknya. “Yang, tiga bulan ini hidup ini kayak berhenti,” ucap Tia sembari melepas peluknya.

Anto memandang istrinya dengan wajah sembap dan basah.

“Aku selalu ikut semua yang kamu mau selama ini. Aku diam dan ikut arus yang kamu buat. Tapi hidup kita tidak bisa berhenti di sini, Yang,” lanjut Tia.

“Maksudnya, Yang?” tanya Anto dengan sesenggukan.

“Kita punya Tutta yang hidupnya harus terus kita perjuangkan.”

Sejenak Tia diam, matanya menatap anaknya yang bersembunyi di balik badannya. Semenjak kepergian Totti yang membuat Anto selalu diam, Tutta enggan mendekati ayahnya yang menurutnya menyeramkan.

“Bahu kamu sudah tidak kuat lagi menahan semuanya.” Tia memegang bahu suaminya. “Dan sekarang, aku tidak akan minta izin lagi dengan kamu untuk bisa bekerja. Aku mau jadi penyangga buat menaikkan bahu kamu yang sudah turun ini.”

Anto menunduk diam.

“Yang...” Tia memegang tangan suaminya. “Aku sudah cerita semua sama Ibu, aku jelaskan kalau kamu yang melarang aku begini-begitu, aku minta maaf harus bilang itu. Tapi aku harus segera ambil keputusan untuk bantu kamu. Cukup sabarku lihat kamu berjuang sendiri demi aku dan Tutta. Aku tidak perlu dimanja begitu. Aku hargai perlakuan kamu yang bahkan aku anggap berlebihan.

“Aku sedih kita kehilangan Totti, tapi aku akan lebih sedih lihat kamu begini. Dan Ibu bilang dia bersedia mengasuh Tutta waktu kita bekerja, jadi kamu tidak ada alasan lagi buat larang-larang aku.”

Anto mengangguk dan Tia kembali memeluknya.

“Ke depannya kita berdua, ya? Aku juga mau jadi pahlawan buat Tutta.”

***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
bayi
Pipo Vernandes
Cerpen
Bronze
Merasa Diri Paling Benar
Yovinus
Cerpen
Bronze
Perempuan Pemakan Bangkai
Nimas Rassa Shienta Azzahra
Cerpen
Bronze
Pelanggan Terbaik
Titin Widyawati
Cerpen
Kristal Filsuf
Zaki S. Piere
Cerpen
Bronze
Pergi Dengan Angin
Viona fiantika
Cerpen
Rumah Harapan
Binti Uti
Cerpen
Bronze
Asih
Yona Elia Pratiwi
Cerpen
Goodbye, My Cats
May Marisa
Cerpen
Kuburan Di Bawah Gedung Megah
Desto Prastowo
Cerpen
Bronze
Satu Langkah Yang Belum Terjadi
faridhachacha
Cerpen
Bronze
Kenapa Tak Ingin ke Kota?
Anggrek Handayani
Cerpen
Lilin Kecil
Bells
Cerpen
Cerita Calon Koruptor
Galang Gelar Taqwa
Cerpen
KEAJAIBAN TETANGGA KOMPLEK
R Hani Nur'aeni
Rekomendasi
Cerpen
bayi
Pipo Vernandes
Novel
HAYALISM : Antusiasm
Pipo Vernandes
Cerpen
Cugak
Pipo Vernandes
Skrip Film
Bergumul Dengan Tuhan
Pipo Vernandes
Cerpen
Bergumul Dengan Tuhan
Pipo Vernandes
Cerpen
Babuy
Pipo Vernandes
Cerpen
kotak hiburan
Pipo Vernandes
Cerpen
Catatan Kotor Ayah
Pipo Vernandes
Cerpen
Icak-icak
Pipo Vernandes