Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hujan gerimis tidak berhenti selama 3 hari. Kaia Mengunjungi pintu toko buku yang sudah tutup selama 20 tahun lalu. Itu kata orang-orang. Bagi Kaia tidak seperti itu. Lagipula, lampunya masih menyala.
Di dalam, Elias penjaga tempat itu sedang duduk membaca.
“Akhirnya kau datang. Aku sudah menyiapkan satu buku untukmu. Tapi syaratnya: kamu harus baca 1 bab keras-keras di sini, jam 1 pagi.”
Kaia mengernyit. “Kenapa harus jam 1 pagi?”
Elias menunjuk jendela. Di luar, bayangan orang-orang berseliweran di jalan, tanpa tubuh.
"Itu... itu. Tidak ada tubuh? Mereka kepala doang?Kuyang?"ucap Kaia kaget.
Elias melongo.
“Kuyang?” ulang Elias, suaranya serak.
Dia bangun, jalan ke jendela, mengangkat tirai sedikit.
“Bukan kepala doang, Kaia. Itu bayangan orang-orang yang lupa pulang. Mereka jalan, kerja, ketawa... tapi tidak ada yang menunggu di rumah. Jadi tubuhnya tertinggal seperti itu. "
Kaia mundur selangkah.
“Terus buku yang mauku baca untuk apa? Agar tubuh mereka kembali?”
Elias tersenyum tipis. Matanya tidak berkedip.
“Bukan. Buat memastikan kau tidak menjadi seperti mereka.”
"Oh... maksudnya aku ketindihan gitu. Nyawa jalan-jalan tapi tubuh masih ngorok?"Kaia berpikir serius "Kayaknya asyik juga. Aku nggak ngantuk pas jalan-jalan. Nggak diomelin Mom sama kamu Elias, yang diam-diam naksir Margaretta"
"Shuuuttt..."Elias panik"Itu masalah lama. Cuma sejarah!"
Kaia menatap Elias jengah,"Eli, kamu tidak lupa,kan. Menyamar jadi perempuan rambut pirang cerah dan mau aja dipanggil penuh rindu sama siapa pun laki-laki cuma biar bisa deket sama Margaretta"
"Jangan panggil aku Eli lagi!"Elias menutup wajahnya memerah "Itu aib terburuk dalam sejarah"
Elias menutup wajahnya, suaranya tertahan dari sela jari.
"Kaia, kalau kamu cerita ini ke Margaretta, aku bakar toko ini malam ini juga."
Kaia malah makin semangat, matanya berbinar.
"Tenang, aku tidak akan cerita... kalau kamu kasih aku satu buku GRATIS. Plus ngaku: kamu masih nyimpen wig pirangnya di laci mejamu."
Elias mendesis pelan. Di luar, bayangan tanpa tubuh tiba-tiba berhenti.
"Eli, itu maksudnya apa?"Kaia mendekat ke Elias gugup.
Elias melirik malas"Tidak tahu, penonton atas keterhinaanku mungkin. Dan kamu Kaia, pensiunlah dari memanggilku Eli"
“Penonton? Eli, di sini cuma ada kita berdua. Kecuali…” dia melirik ke jendela. Bayangan-bayangan di luar menempel di kaca seperti menonton sinetron.
Elias menghela napas panjang, akhirnya menurunkan tangan dari wajahnya. Pipinya masih merah.
“Bagus. Sekarang mereka punya hiburan baru. Anak pemulung buku ngerecokin pemilik toko insomnia.”
Elias mendorong satu buku tua ke arah Kaia. Sampulnya tidak berjudul, cuma gambar mata yang kelopaknya dijahit benang hitam.
“Ambil. Baca bab pertama jam 1 nanti. Kalau kamu selesai tanpa ketiduran, aku jelasin siapa ‘penonton’ itu.”
Kaia tidak langsung mengambilnya. Dia menahan senyum nakal.
“Deal. Tapi kalau aku ketiduran, kamu harus nyanyi lagu‘Penuh Rindu untuk Pirang Gemilang’. Di depan Margaretta.”
Elias menatapnya datar. Terus berbisik“Kamu beneran mau tahu apa yang menonton kita, nggak,sih?”
"Nggak usah sok dingin!"hardik Kaia membuat Elias terlonjak.
Elias tertawa kecil."Cuma, ingin tahu saja. Apa kau bisa bertahan menghadapi ini"
Kaia mendekap buku erat. Sampulnya dingin, dan benang hitam di gambar mata itu rasanya… bergerak pelan.
“Nah begitu dong, ngomongnya tidak usah pakai mode es batu,” ceplos Kaia, terus dia dorong dagunya ke atas. "Aku Kaia. Pemulung buku, tahan begadang, dan belum pernah kalah debat sama manusia.”
Elias ketawa pelan. “Bagus. Sombong itu bahan bakar yang bagus buat jam 1 pagi.”
Jam di dinding toko tiba-tiba berdetik keras. Tepat jam 12:57.
Lampu gas di sudut ruangan meredup sendiri. Di luar, bayangan-bayangan di kaca dudah tidak menempel lagi. Mereka mundur tiga langkah, membentuk lingkaran kosong di depan pintu.
Elias melipat tangan.
"Baca! Keras-keras! Kalau kau berhenti, mereka yang lanjut baca buatmu.”
Kaia membuka buku itu. Halaman pertama kosong.
Halaman kedua cuma ada satu kalimat:
‘Kamu yakin mau mengingat?’
Bulu kuduk Kaia meremang. Dia menengok ke Elias.
“Eli… ini prank kan?”
Elias tidak menjawab. Dia cuma menunjuk ke mulutnya sendiri. Perintah untuk membaca.
"Eli, aturannya?"tanya Kaia.
"Aturannya, kamu cari tahu sendiri"ucap Elias gaya penguasa tak terjamah.
Kaia menarik nafas. Membalik halaman lagi,"Oke,Eli. Jika aku tidak kembali lagi. Jangan kangen,ya..."
Senyum Elias perlahan membeku.
Elias diam. Senyum sok dinginnya patah, diganti dengan raut yang Kaia baru pertama kali lihat: panik yang dia sembunyikan secepatnya.
“Kaia—”
Tapi sudah terlambat.
Kaia sudah membaca kalimat itu keras-keras. Suara gemanya memenuhi toko yang tadinya sepi, seperti ada orang lain yang ikut membacanya juga.
Lampu mati.
Semuanya gelap.
Saat Kaia berkedip, dia tidak ada di toko lagi.
Dia berdiri di tengah alun-alun KotaTua, tapi waktunya salah. Gedung-gedungnya masih bagus, jalannya masih mulus, dan orang-orang… semuanya hanya kepala . Mereka berjalan, mengobrol, tertawa, tapi di bawah leher cuma ada kabut tipis.
Di tengah kerumunan itu, satu kepala menengok ke arahnya. Rambut pirang cerah. Bibirnya gerak, memanggil:
Di toko, Elias menggebrak meja.
“Sial. Dia masuk lebih dalam dari yang kukira.”
Di luar, bayangan-bayangan yang tadi menonton sekarang mundur semua.
"Hai, kamu cantik. Kaya Eli. Kamu inspirasinya Elias,ya?"sapa Kaia mendekat ke arah bayangan itu.
Si bayangan meringis. Rambut pirangnya berkilau aneh di tengah kabut, matanya sama persis seperti mata Elias.
“Cantik? Jangan bohong, Kaia,” suaranya bergema datang dari dua arah sekaligus. “Aku cuma versi yang dia kunci 3 tahun lalu.”
Dia mendekat, hidungnya hampir menyentuh hidung Kaia. Tapi dia tidak bernapas.
“Jadi… kamu siapa? Kenapa dia mengirimmu ke sini?”
Di toko, Elias mengepalkan tangannya.
Elias berbisik pelan ke ruangan kosong: “Jangan kasih tahu dia semuanya.”
Bayangan itu tersenyum miring.
“Telat, Elias. Dia sudah dengar.”
"Sebenarnya, tempat apa ini?"tanya Kaia.
Bayangan itu tertawa tajam yang membuat Kaia mundur satu langkah.
Di dimensi lain, Elias menggeram."Jangan _"
"Terlambat untuk semuanya! Kau dan Elias!"Rindu menatap Kaia prihatin "Kau tidak tahu Elias itu makhluk apa? Dan kau tidak sadar seberapa naifnya dirimu hingga kau dijebaknya disini"
“Tempat ini?Ini adalah ruang tunggu. Untuk orang-orang yang tubuhnya terlupakan tapi kepala mereka menolak untuk lupa”
Kaia mundur setengah langkah. “Terus kenapa aku ada di sini? "
" Kamu sudah mengucap kata kuncinya. Apa yang ada di buku itu. Elias sudah menjebakmu.”
Di toko, Elias melempar buku di meja sampai jatuh.
“DIAM!”
Bayangan itu tidak peduli.
“Dia makhluk penjaga batas, Kaia. Dia tidak bisa tidur, tidak mati, tidak juga tua. Jadi dia mengumpulkan orang-orang yang tidak akan diingat sepertimu. Agar tidak sendirian.”
"Sekarang pertanyaannya bukan ‘tempat apa ini?’. Pertanyaannya: apa yang kau pikirkan? Apa yang kau rasakan? Seberapa marah dan kecewanya kau? Ditipu oleh penjaga perpus udik itu. ”
"Aku_"Kaia berpikir "aku tidak masalah jika tetap disini."
Kaia diam lagi. Di tempat lain. Elias menahan nafas.
"Asal"ucap Kaia lagi."Eli nggak ngejebak orang sembarangan lagi. Tiap orang pantas untuk hidup lebih baik. Mereka punya setidaknya seseorang yang menganggap mereka atau bagi mereka berharga. Mereka juga punya masa depan yang bisa mereka lukis sesuka mereka. Termasuk Elias juga. Dan setidaknya,dengan adanya aku disini. Yah...aku jadi mengingat kalian,kan? Mau atau tidak"
Kaia tersenyum kecil. Tidak lebar, tapi hangat di tempat itu.
Elias tidak bisa berkata-kata.
Bayangan itu terdiam. Tawa tajamnya lenyap, diganti hening yang aneh. Seluruh alun-alun juga ikut menahan napas bersamaan. Begitu juga Elias di perpustakaannya.
“Dia membawa orang yang seperti ini? Naif sekali, ”bisik si bayangan.
Kaia tidak bergeming. Senyum kecilnya masih di sana, hangat di tengah kabut dingin.
“Aku tidak takut dilupakan orang. Aku lebih takut jika lupa pada diriku sendiri. Dan tampaknya, Elias perlu memahami itu agar tidak sembarangan menyeret orang lagi.”
Di toko, buku di tangan Elias jatuh ke lantai.
Duk.
Elias tidak bergerak selama 5 detik penuh. Dia mengusap wajahnya kasar.
“Bodoh,” gumamnya pelan. Suaranya pecah. "Sok tau sekali. Memangnya sudah kenal aku berapa lama, hah. Umurmu saja belum ada seper seratus umurku"
Lampu kembali menyala.
Di alun-alun, kabut di bawah leher semua kepala mulai turun. Satu per satu tubuh mereka kembali.
Bayangan itu melirik Kaia terakhir kali, terus tersenyum simpul.
“Kelihatannya… kau bisa kembali.”
Bayangan itu mulai pudar dari ujung kaki.
“Awasi Elias ya, Kaia. Barangkali saja dia belum tobat.”
Kaia mengernyit.
Di toko, halaman buku terbuka sendiri. Tulisan baru muncul:
_‘Kamu sudah ingat. Sekarang pulang.’_
Kaia berkedip. Dan dia ada di toko lagi. Duduk di lantai, buku di pangkuan, Elias berdiri di depannya dengan wajah datarnya seperti biasa.
Elias membuka mulut. Tutup lagi. Buka lagi.
"Kau...marah?” tanya Elias hati-hati
Kaia langsung menggebrak meja keras."Wah! adrenalinku baru datang" Kaia lalu melirik Elias.
Elias menelan ludah pelan,"Kai_"
Kaia mengangkat tangan mengisyaratkan Elias diam. Elias menurut.
"Eli!"Kaia menatap lurus ke mata Elias"tentang ucapan bayangan itu"
"Iya"Elias menunggu sembari menahan detak jantungnya.
"Jawab yang jujur,kali ini!"tegas Kaia. Elias mengangguk cepat.
"Sumpah!?"
"Sumpah!"
"Eli, apa pilihanmu setelah ini? "
"Pilih...han? "
Kaia mengangguk. "Orang itu menyuruhku mengawasimu. Dan aku tidak yakin dapat mengubah orang yang umurnya mungkin sejak zaman dinosaurus ini"
Elias mengamati binar di mata Kaia. "Mungkin aku bisa mencoba. Selama eksistansiku. Kupikir mereka tidak bisa tenang dan kembali ke tempat jiwa yang lain. Maka dari itu, aku mengumpulkan jiwa yang sejenis agar mereka tidak sendiri atau membuat onar. Dan lagi Kaia, aku tidak setua fosil-fosil itu. "
Kaia tercekat " Jadi, kau anggap aku ini orang tunawisma.... "
"Tidak! Bukan begitu..."
"Yah, tidak apa, sih. Aku, kan memang gelandangan sejak lahir... "
"Intinya! " Elias memotong ucapan Kaia " Kau harus disini. Mengawasiku. Karena... "
"Karena kau tidak yakin kau akan bersikap bijak tanpa gelandangan ini, begitu? " giliran Kaia yang menyela.
Elias tersenyum lemah. "Tepat sekali, Kaia"
"Tapi Eli, katanya kau immortal"tanya Kaia.
"Iya"jawab Elias hati-hati.
Kaia menunjuk dirinya sendiri "Aku akan mati, Elias. Kapanpun, mentok-mentok seratus tahun"
Elias tersenyum kecut "Tidak akan kubiarkan itu"
"Kau tidak bisa egois,Eli,"ucap Kaia. Jika kau bermain sesat lagi. Aku tidak mau mengurusimu. Aku akan lari ke ujung dunia. Bahkan jika aku dilahirkan kembali, aku akan tetap lari darimu"
Elias tersentak seperti mendapatkan ide "Reinkarnasi,ya. Kalau begitu. Ingat ini baik-baik,Kaia. Sampai ribuan reinkarnasipun. Elias, akan tetap mencarimu''
Ruangan jadi hening. Cuma ada suara buku tua yang berderit pelan di rak.
Kaia ngernyit. “ Omonganmu itu seperti kutukan, Eli.”
Elias tidak tertawa. Dia maju satu langkah.
“Bukan kutukan,” katanya pelan. “Tapi itu sumpah. Sumpah yang paling bodoh yang pernah ada. Itu bukti kalau ini adalah hal serius, Kaia.”
Dia mengangkat tangannya, menunjuk ke dadanya sendiri.
“Aku immortal. Itu berarti aku punya waktu yang kebanyakan orang buang-buang buat menyesal. Aku tidak mau menyesal lagi soal itu.”
“Eli, kau sadar, kan itu gila? Ribuan tahun mengejar satu orang yang ganti wajah, ganti nama, ganti selera musik—”
“Justru itu,” potong Elias. “Aku tidak mencari itu semua. Mau kau menjadi tukang parkir, nelayan, atau orang yang jualan cilok di tahun 3000.”
"Jadi intinya, kau akan mencari orang yang tepat untuk membimbingmu, kan? Misalnya, setelah aku mati? "
Elias mengernyitkan dahi mendengar pilihan kata Kaia. Beberapa detik yang terasa panjang hingga akhirnya Elias mengangguk pelan. Tampak ragu.
Kaia mendesah, terus menyodorkan buku yang masih di pangkuannya.
“Kalau gitu, catet ya. Kalau kau main curang, aku tidak cuma lari. Aku akan lahir jadi kucing. Dan bakal menggaruk sofa kesayanganmu setiap hari.”
Elias menerima bukunya
“Deal. "
"Baik. Selanjutnya, apa yang harus kulakukan, ya? Paling tidak, hal yang cukup jika saja rupanya tidak ada penjual cilok yang bisa jadi pengawas setelahku"pikir Kaia.
" Sejujurnya, aku harap kau terus yang mengawasiku saja. Jika bisa, "gumam Elias lirih lalu tersenyum tipis.
Kaia menoleh ke arah Elias tampak terkejut. Elias sendiri tengah menerawang kepikirannya. Tampaknya akhirnya Kaia menyadari sesuatu. Tapi ia kemudian menggelengkan kepalanya. Berjalan menuju tumpukan rak. Berpura-pura memilah buku dan tersenyum penuh arti.
Lampu berkedip sekali. Di luar, suasana malam tidak terasa mengancam sama sekali.