Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hujan turun tanpa jeda sejak sore. Pelabuhan Black Harbor diselimuti kabut tipis yang membuat deretan kontainer tampak seperti tembok raksasa. Lampu-lampu derek memantulkan cahaya kekuningan di genangan air, sementara suara klakson kapal terdengar sayup dari kejauhan.
Arga Pradana menarik resleting jaket hitamnya hingga menutupi leher. Ia berdiri di atas gudang tua yang sudah lama tak digunakan. Dari sana ia dapat melihat hampir seluruh area pelabuhan.
Di telinganya terpasang alat komunikasi kecil.
"Posisi?" suara perempuan terdengar pelan.
"Gudang sebelas. Belum ada pergerakan."
"Target diperkirakan tiba sepuluh menit lagi."
Perempuan itu bernama Nara. Selama lima tahun terakhir mereka bekerja sebagai agen lapangan untuk sebuah organisasi rahasia yang bertugas membongkar jaringan perdagangan senjata ilegal di Asia Tenggara.
Malam ini bukan operasi biasa.
Mereka mengejar seseorang yang dijuluki The Broker, pria misterius yang selama bertahun-tahun memasok senjata kepada kelompok bersenjata tanpa pernah meninggalkan jejak.
Tak seorang pun mengetahui wajah aslinya.
Tak seorang pun tahu nama sebenarnya.
Yang mereka miliki hanya satu kesempatan.
Jika gagal malam ini, The Broker akan menghilang lagi.
Arga memeriksa pistolnya.
Magazin penuh.
Pisau lipat masih terselip di pinggang.
Senter kecil.
Granat asap.
Semuanya siap.
Tiba-tiba sebuah truk kontainer memasuki area pelabuhan.
Lampunya dimatikan.
Truk berhenti tepat di depan gudang tua.
Empat pria bersenjata turun lebih dulu.
Mereka memeriksa sekeliling.
Arga mengamati melalui teropong.
"Mereka membawa senapan otomatis."
"Jumlah?"
"Empat... tunggu."
Pintu belakang truk terbuka.
Dua pria lain keluar sambil mengawal seorang pria tua mengenakan jas abu-abu.
Pria itu membawa koper hitam.
"Target kemungkinan besar."
"Jangan bergerak dulu," kata Nara.
Arga mengangguk pelan.
Namun sesuatu terasa aneh.
Para pengawal tidak tampak seperti tentara bayaran biasa.
Gerakan mereka terlalu rapi.
Mereka seperti mantan pasukan khusus.
Arga memperbesar gambar melalui teropong.
Lalu napasnya tertahan.
Di lengan salah satu pengawal terdapat lambang berbentuk serigala hitam.
Ia mengenali simbol itu.
Delapan tahun lalu, simbol yang sama muncul saat seluruh timnya disergap dalam operasi di perbatasan.
Operasi itu menewaskan sebelas rekannya.
Arga menjadi satu-satunya yang selamat.
Sejak saat itu ia bersumpah menemukan dalangnya.
"Mereka..." bisiknya.
"Ada apa?"
"Serigala Hitam."
Suara di komunikasi mendadak hening.
Nara mengembuskan napas.
"Kalau begitu kita benar."
"Mereka bekerja untuk Broker."
Arga mengepalkan tangan.
Malam ini bukan sekadar misi.
Ini kesempatan membalas masa lalu.
---
Di sisi lain pelabuhan, sebuah kapal kargo perlahan merapat.
Dua peti kayu besar dipindahkan menggunakan derek.
Pria tua berjas membuka kopernya.
Isinya bukan uang.
Melainkan sebuah tablet.
Ia menekan beberapa tombol.
Salah satu peti terbuka.
Di dalamnya tersusun rapi puluhan senapan serbu terbaru yang belum pernah beredar di pasar gelap.
Transaksi dimulai.
Arga mengaktifkan kamera kecil di dadanya.
"Semua terekam."
"Tim penyerbu sedang menuju lokasi."
"Berapa lama?"
"Lima menit."
"Lima menit terlalu lama."
Salah satu pengawal tiba-tiba berhenti.
Ia melihat ke arah atap gudang.
Arga langsung menjatuhkan tubuh.
Peluru menghantam beton.
Dor!
Dor!
Dor!
"Ketahuan!" teriak Nara.
Empat pria langsung menembaki atap.
Pecahan semen beterbangan.
Arga berguling ke belakang lalu melompat turun dari sisi gudang.
Tubuhnya jatuh tepat di atas tumpukan karung pasir.
Ia segera berlari di antara kontainer.
Peluru berdesing melewati telinganya.
Dua pengawal mengejar.
Arga berbelok tajam.
Begitu salah satu pengejar muncul di tikungan kontainer, Arga menghantamkan siku ke rahangnya.
Pria itu terjatuh.
Senapannya terlepas.
Pengejar kedua menendang dada Arga.
Benturan keras membuatnya terpental.
Pria itu bergerak cepat.
Terlalu cepat.
Sebuah pisau meluncur ke arah leher Arga.
Arga memiringkan tubuh.
Pisau hanya menggores bahunya.
Ia membalas dengan tendangan rendah.
Lutut lawan bergeser.
Kesempatan itu dimanfaatkan Arga untuk memukul pelipis lawannya menggunakan gagang pistol.
Pria itu roboh.
Belum sempat menarik napas, suara ledakan mengguncang pelabuhan.
BOOM!
Api membubung dari arah kapal.
"Asap!" seru Nara.
Ledakan kedua menyusul.
Kontainer berjatuhan.
Orang-orang berlarian.
The Broker menghilang di tengah kekacauan.
"Sial!"
Arga berlari menuju titik ledakan.
Di tengah kepulan asap ia melihat sebuah mobil SUV hitam melaju keluar pelabuhan.
"Itu dia!"
Tanpa berpikir panjang Arga melompat ke atas motor milik salah satu penjaga yang terparkir.
Mesin meraung.
Ban belakang memercikkan air hujan.
Pengejaran dimulai.
Mobil hitam melaju membelah jalan pelabuhan.
Arga terus menempel dari belakang.
Salah satu pria keluar dari jendela mobil.
Senapan otomatis diarahkan kepadanya.
Rentetan peluru menghujani jalan.
Arga menundukkan badan.
Motor bergoyang hebat.
Ia memutar gas lebih dalam.
Jarak semakin dekat.
Tiba-tiba sebuah truk besar keluar dari tikungan.
Mobil hitam lolos lebih dulu.
Arga tak punya ruang.
Ia menarik rem mendadak.
Motor tergelincir.
Tubuhnya meluncur di atas aspal basah.
Percikan api muncul saat logam bergesekan dengan jalan.
Mobil hitam menghilang di balik hujan.
Arga bangkit sambil menahan nyeri.
Di genggamannya terdapat sesuatu.
Sebuah kartu logam kecil.
Kemungkinan terjatuh dari mobil saat pengejaran.
Di permukaannya hanya ada ukiran sederhana.
Seekor serigala hitam.
Dan sebuah koordinat.
Arga menatap ukiran itu dengan napas memburu.
Ia belum menangkap The Broker.
Tetapi malam ini ia mendapatkan petunjuk pertama setelah delapan tahun.
Ia belum tahu bahwa koordinat itu akan membawanya pada konspirasi yang jauh lebih besar daripada perdagangan senjata.
Konspirasi yang melibatkan orang-orang yang selama ini ia percayai.
Matahari belum terbit ketika Arga tiba di markas Divisi Khusus Atlas, sebuah gedung tua berlantai empat yang dari luar tampak seperti kantor logistik biasa. Di balik dinding beton kusam itu, puluhan agen bekerja tanpa identitas resmi, menangani operasi yang bahkan tidak pernah tercatat dalam arsip negara.
Jaket Arga masih basah oleh hujan semalam. Luka gores di bahunya sudah dibersihkan, tetapi nyerinya belum hilang. Namun yang lebih mengganggunya adalah kartu logam bergambar serigala hitam yang kini tergeletak di atas meja ruang analisis.
Nara memasukkan koordinat yang terukir pada kartu ke dalam sistem pemetaan.
Layar besar menampilkan sebuah titik merah.
Ruangan mendadak sunyi.
"Itu..." gumam Nara.
Arga mendekat.
"Tunjukkan."
Koordinat itu mengarah ke sebuah pulau kecil yang bahkan nyaris tak memiliki nama di peta. Letaknya jauh di tengah laut, sekitar seratus kilometer dari pesisir.
Pulau itu kosong.
Tak ada penduduk.
Tak ada pelabuhan resmi.
Namun citra satelit memperlihatkan sesuatu yang ganjil.
Di tengah hutan lebat terdapat landasan beton memanjang dan beberapa bangunan besar yang disamarkan dengan atap berwarna hijau.
"Markas rahasia," kata Arga pelan.
Nara mengangguk.
"Sepertinya begitu."
Saat itulah pintu ruang analisis terbuka.
Komandan Atlas, Brigjen Surya Mahendra, masuk dengan wajah serius.
"Aku sudah menerima laporan operasi semalam."
Arga berdiri tegak.
"Kami gagal menangkap The Broker."
"Bukan itu yang ingin kubahas."
Surya meletakkan sebuah map tebal di atas meja.
"Pulau itu sudah kami pantau selama tiga tahun."
Arga terkejut.
"Kalau begitu kenapa tidak pernah diserbu?"
Surya menarik napas panjang.
"Karena setiap tim yang mencoba mendekat... hilang."
Ruangan kembali hening.
"Tiga tim?" tanya Nara.
"Empat."
"Tak satu pun kembali."
---
Sore harinya, Arga dan Nara bersiap menjalankan penyelidikan tanpa menarik perhatian.
Mereka menggunakan kapal nelayan tua milik seorang informan bernama Pak Idris, mantan pelaut yang telah puluhan tahun mengenal perairan sekitar.
Lelaki tua itu menyalakan mesin kapal sambil menggeleng pelan.
"Aku pernah melihat pulau itu dari kejauhan."
"Lalu?" tanya Arga.
"Setiap malam ada cahaya."
"Cahaya apa?"
"Seperti kilat... tapi muncul dari tanah."
Nara saling berpandangan dengan Arga.
"Apakah ada kapal yang sering datang?"
Pak Idris mengangguk.
"Kapal besar tanpa bendera."
"Datangnya selalu tengah malam."
"Keluarnya menjelang subuh."
Angin laut bertiup semakin kencang.
Langit mulai dipenuhi awan gelap.
---
Menjelang malam mereka tiba sekitar lima kilometer dari pulau.
Mesin kapal dimatikan.
Mereka melanjutkan perjalanan menggunakan perahu karet kecil.
Arga mengamati pulau melalui teropong malam.
Benar saja.
Di balik pepohonan tampak lampu-lampu redup.
Ada menara pengawas.
Kamera termal.
Patroli bersenjata.
"Pengamanannya seperti pangkalan militer."
Nara berbisik.
"Aku hitung sedikitnya tiga puluh orang."
Saat mereka mulai mendekat ke pantai, suara baling-baling terdengar dari kejauhan.
Sebuah helikopter hitam mendarat di tengah pulau.
Beberapa mobil lapis baja langsung menyambutnya.
Seseorang turun dari helikopter.
Tubuhnya tinggi.
Berjas hitam.
Wajahnya masih tertutup bayangan.
Namun semua pengawal memberi hormat.
"Itu pasti The Broker," bisik Arga.
Ia mengangkat kamera berlensa panjang.
Baru saja hendak memotret...
Seseorang menepuk bahunya dari belakang.
Refleks Arga langsung membalikkan badan sambil menghunus pisau.
Seorang pria berpakaian loreng menahan tangannya.
"Jangan berisik."
Arga membeku.
Pria itu mengenakan seragam Atlas.
"Siapa kau?"
Pria itu menjawab lirih.
"Namaku Fajar."
"Agen Atlas."
Nara terkejut.
"Kami tidak menerima informasi ada tim lain."
Fajar tersenyum pahit.
"Karena timku dinyatakan gugur... dua tahun lalu."
---
Mereka bersembunyi di sebuah gua kecil dekat pantai.
Fajar menceritakan semuanya.
Dua tahun lalu ia memimpin penyusupan ke pulau tersebut bersama enam agen.
Begitu masuk ke markas, mereka disergap.
Enam rekannya tewas.
Ia sendiri berhasil lolos dan bertahan hidup di dalam hutan pulau selama dua tahun.
"Kenapa tidak kembali?"
"Tidak bisa."
"Pulau ini dijaga radar."
"Semua kapal yang mendekat akan dihancurkan."
"Lalu bagaimana kau bertahan?"
Fajar menunjuk ke arah hutan.
"Ada sumber air."
"Dan beberapa gua."
"Aku menunggu seseorang datang."
Arga memandang pria itu.
Tubuh Fajar kurus.
Janggutnya panjang.
Tetapi matanya masih tajam.
"Kau tahu siapa The Broker?"
Fajar mengangguk.
"Aku pernah melihat wajahnya."
Arga menahan napas.
"Siapa?"
Fajar membuka mulut.
Namun sebelum sempat menjawab...
Dor!
Sebuah peluru menembus dinding gua.
Batu-batu berhamburan.
"Ketahuan!" teriak Fajar.
Belasan tentara bersenjata menyerbu dari arah pantai.
Arga segera melempar granat asap.
Asap putih memenuhi gua.
Mereka bertiga berlari menembus lorong sempit menuju hutan.
Peluru menghantam batang-batang pohon.
Ranting patah berjatuhan.
Nara nyaris terkena tembakan penembak runduk dari atas tebing.
Arga menariknya berlindung di balik batu besar.
Ledakan granat mengguncang tanah.
Api mulai membakar semak-semak.
"Mereka mengepung kita!" kata Nara.
Fajar menunjuk ke arah bukit.
"Ada terowongan tua peninggalan Jepang."
"Ikut aku!"
Mereka berlari mendaki lereng.
Dua kendaraan tempur mulai mengejar dari bawah.
Suara mesin memenuhi hutan.
Saat hampir mencapai pintu terowongan, sebuah ledakan besar terjadi tepat di belakang mereka.
Gelombang kejut melempar Arga beberapa meter.
Kepalanya membentur batu.
Pandangan mulai kabur.
Sebelum kehilangan kesadaran, ia melihat Fajar berteriak sambil menembakkan senjatanya ke arah pasukan musuh.
Lalu...
Sosok pria berjas hitam berjalan perlahan keluar dari balik asap.
Untuk pertama kalinya, Arga melihat wajah The Broker.
Dan wajah itu membuat darahnya seolah berhenti mengalir.
Karena orang yang berdiri di sana adalah seseorang yang selama delapan tahun diyakininya telah tewas.
Suara denging memenuhi telinga Arga.
Penglihatannya masih kabur akibat benturan keras di kepala. Perlahan ia membuka mata. Bau tanah lembap dan asap mesiu memenuhi udara.
Nara sedang berlutut di sampingnya.
"Arga... dengar aku?"
Arga mengangguk pelan.
"Fajar?"
Nara menunduk.
"Ia berhasil menahan mereka. Tapi kita terpisah."
Arga memaksakan diri bangkit. Bahunya kembali terasa nyeri, sementara luka di pelipisnya mulai mengalirkan darah.
Namun bukan rasa sakit itu yang memenuhi pikirannya.
Melainkan wajah pria yang baru saja ia lihat.
"Itu... tidak mungkin."
Nara menatapnya.
"Siapa dia?"
Arga menarik napas panjang.
"Delapan tahun lalu, pemimpin operasi yang menewaskan timku bernama Kolonel Aditya Pranawa."
Nara mengernyit.
"Tapi bukankah dia dinyatakan gugur?"
"Ya."
"Dan tadi..."
"Itu wajahnya."
---
Mereka memasuki terowongan tua yang gelap. Dinding beton retak dipenuhi lumut. Rel kereta kecil yang sudah berkarat masih membentang hingga ke dalam.
Fajar ternyata telah meninggalkan tanda berupa goresan kapur di beberapa dinding.
"Ia ingin kita mengikutinya," kata Nara.
Mereka terus berjalan hingga tiba di sebuah ruang bawah tanah yang dipenuhi peti-peti kayu.
Arga membuka salah satunya.
Bukan senjata.
Melainkan dokumen.
Puluhan map.
Ratusan paspor dari berbagai negara.
Identitas palsu.
Uang dalam berbagai mata uang.
Di sudut ruangan terdapat komputer yang masih menyala menggunakan generator kecil.
Nara segera membuka isinya.
Wajahnya berubah pucat.
"Arga... lihat ini."
Layar menampilkan daftar transaksi senjata bernilai miliaran dolar.
Namun yang membuat mereka terdiam bukan nilai transaksinya.
Melainkan nama-nama pembelinya.
Beberapa di antaranya adalah pejabat tinggi, pengusaha besar, bahkan mantan perwira militer.
"Ini bukan organisasi kecil," gumam Arga.
"Ini jaringan internasional."
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.
Fajar muncul dari balik lorong dengan napas memburu.
"Kita harus pergi sekarang."
"Apa yang terjadi?"
"Mereka menemukan jalan masuk."
Baru saja Fajar selesai berbicara, alarm keras menggema di seluruh terowongan.
Lampu merah berkedip.
Suara dari pengeras terdengar dingin.
"Seluruh penyusup telah terdeteksi."
"Prosedur pemusnahan dimulai."
Fajar membelalakkan mata.
"Mereka akan meledakkan seluruh terowongan!"
---
Mereka berlari secepat mungkin.
Di belakang mereka, ledakan pertama menghancurkan lorong.
Debu dan pecahan beton beterbangan.
Arga membantu Nara melewati rel yang runtuh.
Fajar memimpin jalan menuju pintu keluar rahasia.
Namun sebelum mereka mencapainya...
Sepuluh pria bersenjata menghadang.
Di tengah mereka berdiri pria berjas hitam.
The Broker.
Atau...
Kolonel Aditya.
Ia tersenyum tipis.
"Arga."
"Lama sekali."
Arga mengangkat pistol.
"Delapan tahun aku mencarimu."
"Aku tahu."
"Kenapa?"
"Kenapa kau mengkhianati timmu?"
Aditya tertawa pelan.
"Pengkhianatan?"
"Aku hanya memilih pihak yang menang."
"Kau membunuh sebelas orang."
"Mereka hanya pion."
Arga mengepalkan rahang.
"Kau akan membayar semuanya."
Aditya menggeleng.
"Masih emosional seperti dulu."
Ia mengangkat tangan.
Seluruh pengawal langsung menembak.
Dor!
Dor!
Dor!
Arga dan yang lain berlindung di balik pilar beton.
Peluru menghantam dinding tanpa henti.
Fajar membalas tembakan.
Dua pengawal roboh.
Nara melempar granat asap.
Ruangan dipenuhi kabut putih.
Dalam kekacauan itu Arga menerjang langsung ke arah Aditya.
Keduanya bertarung jarak dekat.
Pistol terlepas.
Kini hanya tangan kosong.
Aditya masih sangat kuat.
Satu pukulan menghantam dada Arga hingga membuatnya mundur.
Namun Arga membalas dengan tendangan memutar.
Aditya menangkis.
Keduanya saling menyerang tanpa memberi celah.
Sementara itu Fajar bertahan menghadapi para pengawal.
Jumlah musuh terlalu banyak.
Sebuah peluru menembus bahunya.
Ia tetap berdiri.
"Lari!" teriaknya.
"Aku tahan mereka!"
"Tidak!" balas Arga.
"Lari sekarang!"
Fajar menarik tuas peledak darurat yang berada di dinding.
Lampu merah berubah semakin cepat berkedip.
Aditya menoleh.
"Jangan!"
Fajar tersenyum.
"Dua tahun aku menunggu hari ini."
Ia menekan tombol itu.
Ledakan besar mengguncang seluruh terowongan.
Arga, Nara, dan Aditya terpental ke arah lorong berbeda.
Batu-batu raksasa runtuh memisahkan mereka.
Suara Fajar menghilang bersama gemuruh beton.
---
Arga dan Nara berhasil keluar melalui celah sempit menuju tebing di sisi pulau.
Di belakang mereka, sebagian besar markas bawah tanah runtuh.
Api membumbung tinggi.
Namun Aditya tidak ditemukan.
"Dia lolos," kata Arga pelan.
Nara menunjuk ke arah laut.
Sebuah helikopter hitam lepas landas dari sisi lain pulau.
"Itu dia!"
Arga mengangkat senapan dan melepaskan beberapa tembakan.
Terlalu jauh.
Helikopter menghilang di balik awan.
Di tanah dekat lokasi lepas landas, Arga menemukan sebuah perangkat kecil yang tertinggal.
Sebuah flash drive antipeluru.
Mereka segera membukanya menggunakan laptop portabel.
Isinya hanya satu berkas video.
Video itu menampilkan seseorang yang sangat mereka kenal.
Komandan Atlas.
Brigjen Surya Mahendra.
Dalam rekaman tersebut, Surya sedang berjabat tangan dengan Aditya.
Lalu terdengar kalimat yang membuat Arga membeku.
"Pastikan tidak ada agen Atlas yang mengetahui proyek ini."
"Terutama Arga."
Video berhenti.
Nara menatap Arga tanpa berkata-kata.
Selama ini mereka mengejar musuh dari luar.
Kini mereka sadar...
Musuh terbesar ternyata berada di dalam organisasi mereka sendiri.
Fajar mulai menyingsing ketika Arga dan Nara meninggalkan pulau menggunakan perahu karet. Laut yang semalam bergelora kini tampak tenang, seolah tidak pernah menjadi saksi ledakan yang meratakan markas rahasia The Broker.
Namun ketenangan itu tidak ada di dalam diri mereka.
Flash drive berisi rekaman Brigjen Surya Mahendra tersimpan rapat di saku jaket Arga. Bukti itu cukup untuk menghancurkan karier seseorang, tetapi juga cukup untuk membuat mereka diburu.
Begitu tiba di daratan, ponsel khusus milik Arga berdering.
"Arga, kembali ke markas sekarang."
Suara Surya terdengar tenang seperti biasa.
"Ada perkembangan?"
"Ada."
"Kita bertemu langsung."
Arga menatap Nara.
Mereka sama-sama mengerti.
Permainan terakhir telah dimulai.
---
Markas Atlas tampak lebih ramai dari biasanya. Beberapa kendaraan taktis berjajar di halaman. Para agen berlalu-lalang tanpa menyadari bahwa organisasi yang mereka layani sedang berada di ambang kehancuran.
Arga dan Nara masuk ke ruang rapat.
Di sana telah menunggu Brigjen Surya.
Ia berdiri di depan jendela sambil membelakangi mereka.
"Aku dengar kalian berhasil lolos."
"Beruntung sekali."
Arga meletakkan flash drive di atas meja.
"Lebih dari sekadar lolos."
"Kami juga membawa ini."
Surya menoleh.
Tatapannya berubah sesaat, tetapi segera kembali tenang.
"Apa isinya?"
"Bapak sudah tahu."
Ruangan mendadak sunyi.
Beberapa detik kemudian Surya tersenyum tipis.
"Kalau begitu..."
"...kalian memang tidak bisa dibiarkan hidup."
Pintu ruang rapat langsung terbuka.
Delapan pria bersenjata masuk dan mengarahkan senapan kepada Arga dan Nara.
Surya melangkah mendekat.
"Kalian terlalu jauh menggali."
"The Broker hanyalah salah satu bagian dari proyek besar."
"Selama bertahun-tahun kami mengendalikan perang, perdagangan senjata, dan konflik di berbagai wilayah."
"Negara membutuhkan musuh."
"Dan seseorang harus menciptakan musuh itu."
Arga mengepalkan tangan.
"Jadi semua kematian itu..."
"Hanya angka."
Jawaban itu menjadi batas terakhir kesabaran Arga.
Ia membalik meja rapat.
Dor!
Rentetan peluru menghancurkan meja kayu.
Arga dan Nara berguling ke sisi ruangan.
Alarm markas berbunyi nyaring.
---
Pertempuran berlangsung di seluruh lantai.
Arga melumpuhkan seorang pengawal dengan tendangan ke dada, lalu merebut senjatanya.
Nara menembak lampu-lampu ruangan hingga suasana menjadi gelap.
Mereka bergerak memanfaatkan bayangan.
Satu per satu pengawal tumbang.
Namun jumlah musuh terus bertambah.
Surya berhasil melarikan diri menuju helipad di atap gedung.
"Dia kabur!" teriak Nara.
Arga berlari menaiki tangga darurat.
Angin pagi menerpa wajahnya saat pintu atap terbuka.
Helikopter mulai menyalakan baling-baling.
Surya sudah berada di dalam.
Arga melompat dan berhasil berpegangan pada kaki helikopter tepat ketika pesawat itu mulai terangkat.
Surya terkejut.
"Keras kepala sekali kau."
Arga naik ke kabin.
Pertarungan terakhir pun terjadi.
Helikopter berguncang hebat.
Pilot kehilangan kendali.
Surya mengambil pistol.
Dor!
Peluru hanya mengenai dinding kabin.
Arga menghantam tangan Surya hingga pistol terlepas.
Mereka saling beradu pukulan di dalam helikopter yang terus berputar di udara.
Di bawah, Nara melihat helikopter mulai oleng.
Ia segera menghubungi menara pengawas.
"Tutup seluruh area pendaratan!"
"Helikopter itu tidak boleh keluar!"
Di dalam kabin, Surya mengeluarkan pisau lipat.
"Kau seharusnya mati bersama timmu delapan tahun lalu."
Arga menangkis serangan itu dengan tangan kirinya hingga telapak tangannya terluka.
Tanpa menghiraukan darah yang mengalir, ia menghantam Surya menggunakan siku.
Surya terjatuh menghantam pintu samping helikopter.
Pintu terbuka.
Angin masuk dengan keras.
Surya kehilangan keseimbangan.
Ia berusaha meraih tangan Arga.
"Tolong aku..."
Arga menatapnya.
Ia teringat semua rekannya yang gugur.
Teringat Fajar yang mengorbankan diri.
Teringat malam di Black Harbor.
Namun ia tidak membalas dendam dengan cara yang sama.
Arga menarik Surya kembali ke dalam kabin.
Saat itulah pasukan keamanan berhasil mengendalikan helikopter dan memaksanya mendarat darurat di halaman markas.
Surya langsung diborgol.
---
Beberapa minggu kemudian, penyelidikan besar dilakukan.
Jaringan The Broker terbongkar.
Puluhan gudang senjata disita.
Ratusan rekening ilegal dibekukan.
Nama-nama yang selama ini tersembunyi akhirnya terungkap.
Aditya, sang The Broker, masih belum ditemukan.
Ia menghilang tanpa jejak.
Namun organisasinya telah runtuh.
---
Suatu sore, Arga berdiri di Taman Makam Pahlawan.
Ia meletakkan sebelas bunga putih di depan nisan rekan-rekannya.
Di sampingnya, Nara berdiri dalam diam.
"Akhirnya mereka mendapat keadilan," kata Nara.
Arga menggeleng pelan.
"Keadilan bukan berarti semua luka hilang."
"Tapi setidaknya... sekarang mereka bisa dikenang dengan benar."
Angin sore berembus lembut.
Arga menatap langit yang mulai memerah.
Perang yang ia jalani selama delapan tahun akhirnya selesai.
Bukan karena semua musuh telah lenyap.
Melainkan karena ia berhasil menghentikan kebencian agar tidak menguasai dirinya.
Di kejauhan, sebuah mobil hitam melintas perlahan.
Seseorang di dalamnya memperhatikan Arga sebelum kendaraan itu menghilang di tikungan.
Di kursi belakang mobil itu tergeletak sebuah kartu logam bergambar...
Serigala hitam.
Arga belum melihatnya.
Tetapi satu hal pasti.
Sebuah bayangan boleh runtuh.
Namun selalu ada bayangan lain yang menunggu untuk muncul.
TAMAT