Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Bronze
Bayangan Reno
0
Suka
7,189
Dibaca

Bab 1: Bayangan di Kaca

Reno adalah perwujudan sempurna dari seorang mahasiswa teknik tingkat akhir: kantung mata yang menghitam karena begadang, aroma kopi instan yang melekat pada kausnya, dan otak yang dirancang untuk memecahkan masalah, bukan menciptakan masalah. Dunia baginya adalah serangkaian rumus, logika, dan sistem yang bekerja dengan presisi. Anomali adalah sesuatu yang harus dianalisis, dipecahkan, dan kemudian dilupakan. Namun, anomali yang satu ini, yang kini perlahan merayap ke dalam kesadarannya, adalah anomali yang menolak logika, mengejek rumus, dan mengancam untuk meruntuhkan seluruh sistem kepercayaannya.

Keanehan itu bermula dari hal-hal kecil, nyaris tak terlihat, seperti tetesan air yang jatuh pelan tapi konsisten, mengikis batu hingga berlubang. Minggu pertama, Reno mengira matanya lelah. Siang itu, ia berdiri di depan cermin kamar mandi, menyikat gigi dengan gerakan otomatis yang sudah dilakukannya ribuan kali. Matanya menangkap pantulannya, siluet familiar dari dirinya yang sedikit kurus, dengan rambut acak-acakan dan ekspresi kuyu. Saat ia selesai menyikat, ia meludahkan busa pasta gigi ke wastafel. Namun, di pantulan cermin, bayangannya tidak meludah. Bayangan itu hanya berdiri tegak, dengan senyum tipis, nyaris tak kentara, yang terukir di bibirnya. Senyum itu bukan senyum Reno. Reno tidak tersenyum. Ia terlalu mengantuk untuk tersenyum.

Ia mengerjap, menggosok matanya. Mungkin ia hanya salah lihat. Cahaya di kamar mandi kosan memang agak remang-remang, dan ia kurang tidur. Ia kembali menatap cermin, kali ini dengan mata memicing, mencari-cari sisa-sisa halusinasi. Bayangan itu ada di sana, meniru gerakannya dengan sempurna. Ia mengangkat tangan kanannya, bayangan itu juga. Ia menggaruk kepala, bayangan itu pun. Lega, Reno menghela napas. "Pasti cuma efek kurang tidur," gumamnya, meyakinkan diri sendiri.

Namun, kejadian itu mulai terulang. Beberapa hari kemudian, saat ia sedang belajar di perpustakaan kampus, otaknya dipenuhi dengan diagram sirkuit dan kode-kode rumit. Ia mengambil jeda sebentar, meregangkan punggungnya yang pegal. Di salah satu pilar marmer yang dipoles mengkilap, ia melihat pantulannya. Saat itu, ia sedang memikirkan deadline tugas yang semakin mepet, raut wajahnya serius dan sedikit tegang. Namun, pantulan di pilar itu, entah bagaimana, tampak lebih santai, bahkan kepalanya sedikit miring seolah sedang berpikir keras namun dalam cara yang berbeda. Reno buru-buru mengubah posisinya, mencoba meniru bayangannya, tapi pantulan itu menghilang, tertelan kerumunan mahasiswa lain yang lalu-lalang.

Reno mulai merasakan kegelisahan yang aneh, seolah ada sesuatu yang mengawasinya dari dalam dirinya sendiri. Ia mencoba untuk mengabaikannya, membenamkan diri lebih dalam ke dalam buku dan proyek. Logika adalah benteng pertahanannya. Semua bisa dijelaskan secara rasional. Mungkin pantulan di permukaan yang tidak rata menciptakan ilusi optik. Mungkin kelelahan memang telah mencapai titik di mana otaknya mulai bermain-main dengan persepsi. Teman-teman dekatnya, seperti Dika, seorang mahasiswa Teknik Mesin yang pragmatis, hanya menertawakan ceritanya, menganggapnya lebay karena kebanyakan ngopi dan begadang. "Mungkin lo butuh liburan, Ren," kata Dika sambil menepuk pundaknya, "otak lo udah korslet."

Kata-kata Dika, alih-alih menenangkan, justru menusuk Reno. Korslet. Itulah yang ditakutkan Reno. Kehilangan kendali atas pikirannya sendiri. Ia mulai mengamati lebih cermat. Di lift kampus yang berdinding cermin, Reno pura-pura sibuk dengan ponselnya. Tapi dari sudut matanya, ia mencuri pandang ke pantulannya. Ia bisa bersumpah, saat ia melangkah masuk, bayangannya sedikit terlambat mengikuti, seolah ada jeda sepersekian detik. Dan ketika ia menghela napas panjang, bayangannya tampak mengembuskan napas lebih dulu, seolah sudah tahu apa yang akan Reno lakukan. Sensasi yang merayap di kulitnya bukan lagi hanya kelelahan, melainkan ketakutan yang dingin dan merayap.

Ketakutan itu semakin menjadi ketika suatu malam, ia terbangun di tengah kegelapan, merasa haus. Ia bangkit, menyalakan lampu kamar. Di dinding yang putih bersih, bayangannya muncul. Reno mengusap matanya. Ia berjalan ke arah dapur kecil di kosannya, dan bayangannya mengikutinya. Namun, ketika Reno mengambil segelaskah air, bayangannya tampak menoleh ke arah jendela yang terbuka. Tidak ada apapu...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp15.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Bronze
Bayangan Reno
Christian Shonda Benyamin
Novel
Gold
Disorder
Bentang Pustaka
Cerpen
Bronze
Mati Lampu
Ron Nee Soo
Cerpen
Bronze
Dua Perempuan
Venny P.
Novel
Istri Pelampias Nafsu
Sequoia Tom
Cerpen
Penguasa Lautan
Noer Eka
Cerpen
Kota Bayang dan Upacara Penutupan
muhaibra
Cerpen
Bronze
The Holders Of The Beggining
Miss Anonimity
Flash
Panggil Aku Kinan
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
Saya Adalah
Aneidda
Novel
Bronze
Imajiner
Renii Aru
Novel
The Governess
nuralitayu
Flash
Orang Ketiga
amunanjar
Novel
Sekarang Aku Bisa Melihat Mereka
STORYIMNIDA
Novel
Bronze
RITUAL GUNUNG KEMUKUS
Citra Rahayu Bening
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Bayangan Reno
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayangan Di Sudut Mata
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Raina
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Lonceng Berdentang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Mereka Nyata Dan Bercerita
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Sahabat Backpacker Ku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jumat Akhir Bulan Juli
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pelaku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang - Bayang Kaktus Berdarah Seri 01
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Nada Berdarah
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Perawat Siska
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Elara
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Tidak Sakit
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Streamer Yang Tragis
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Atau Dia
Christian Shonda Benyamin