Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Bayangan Hitam Di Jendela
1
Suka
5,212
Dibaca

Bab 1: Kedatangan yang Kelam

Malam itu, desa terasa lebih sunyi dari biasanya. Maya memacu mobilnya pelan, melewati jalanan berbatu yang terasa akrab sekaligus asing. Ia sudah hampir sepuluh tahun tidak menginjakkan kaki di desa ini. Desa Wening, namanya, sebuah desa terpencil yang terjepit di antara hutan pinus dan jurang dalam. Nama itu ironis, karena yang Maya rasakan sekarang bukanlah ketenangan, melainkan kecemasan yang menggerogoti.

Ia kembali bukan karena keinginannya, melainkan karena kewajiban. Telepon dari bibinya dua minggu lalu seperti petir di siang bolong. “Ayahmu, Maya… dia tidak baik-baik saja.” Ayahnya, Pak Herman, menderita demensia. Penyakit yang pelan-pelan merenggut ingatannya, merenggut jati dirinya. Maya tahu ia harus pulang. Namun, ada bagian dari dirinya yang menolak. Bagian yang masih menyimpan luka lama, luka yang ditinggalkan desa ini.

Mobilnya berhenti di depan sebuah rumah tua berarsitektur khas Jawa, yang dindingnya mulai lapuk dimakan usia. Jendela-jendela kayu yang usang tampak seperti mata yang memandang kosong. Maya menelan ludah. Rumah ini, rumah masa kecilnya, adalah saksi bisu dari semua hal yang ia coba lupakan. Ia menarik napas dalam-dalam, menguatkan diri.

Seorang wanita paruh baya dengan rambut yang disanggul rapi menyambutnya di depan pintu. Itu Bibi Siti, adik dari ibunya yang sudah lama meninggal. Raut wajahnya tegang dan matanya memancarkan kesedihan.

“Maya, kau akhirnya pulang,” katanya, suaranya serak. Ia memeluk Maya erat, seolah menyalurkan semua bebannya.

“Bagaimana ayah?” tanya Maya, melepaskan pelukan.

Bibi Siti menggeleng pelan. “Demensianya semakin parah. Ia sering mengigau, menyebut-nyebut nama yang tidak kita kenal. Kadang, ia hanya duduk di depan jendela, menatap ke luar seharian.”

Hati Maya mencelos. Ia mengikuti Bibi Siti masuk ke dalam. Bau apak dan jamur langsung menyergap indranya. Semua perabotan masih sama seperti dulu. Foto ibunya yang tersenyum hangat masih tergantung di dinding ruang tamu. Maya tersenyum pahit. Ibu pergi terlalu cepat, meninggalkan ia dan ayahnya berdua. Setelah itu, ayahnya berubah. Ia menjadi pendiam, sering melamun, dan terkadang, tatapannya menjadi kosong, seperti orang yang kehilangan jiwanya.

Bibi Siti membawanya ke sebuah kamar di ujung koridor. Kamar itu gelap, dengan tirai tebal yang menutup jendela. Di sana, di sebuah dipan, terbaring seorang pria tua dengan rambut memutih dan wajah yang kurus. Pak Herman. Maya nyaris tidak mengenalinya. Pria tegap dan ceria yang selalu menggendongnya dulu, kini hanya tinggal bayangan.

Maya mendekat, duduk di samping ayahnya, dan menggenggam tangannya yang keriput. Tangannya terasa dingin dan gemetar. Pak Herman tidak bereaksi. Matanya terpejam.

“Ayah… ini Maya,” bisik Maya.

Perlahan, mata Pak Herman terbuka. Ia menatap Maya, seolah mencoba mengenali siapa wanita di depannya. Ada secercah ingatan, lalu lenyap lagi. Ia hanya menatap Maya dengan mata kosong. La...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp10.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Bayangan Hitam Di Jendela
Christian Shonda Benyamin
Flash
Bronze
Malam Jumat
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Bayangan Di Sudut Mata
Christian Shonda Benyamin
Novel
Bronze
Bulan Madu Pengantin
Rosi Ochiemuh
Novel
Gold
Fantasteen Ghost Dormitory in Hamburg
Mizan Publishing
Novel
WARISAN DEBORAH
Frasyahira
Novel
Bilfagil
Faiz el Faza
Flash
Datang
Jasma Ryadi
Flash
Attack
Laila NF
Novel
Mata Batin : Antara ada dan tiada
Kandarpa Cahya Putra
Novel
MISTERI RUMAH BAMBU DI BUKIT WINGIT
Embart nugroho
Novel
Hutan Kalimantan
Faizal Ablansah Anandita, dr
Novel
Sekolah Berhantu (END)
Faizal Ablansah Anandita, dr
Novel
Bronze
Deso pager lawang
Ciplukzz
Novel
Perjanjian Ketiga
bomo wicaksono
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Bayangan Hitam Di Jendela
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayangan Di Sudut Mata
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Sisi Lain
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang Bayang Kaktus Berdarah Seri 03
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Suara Dari Frekuensi Mati
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Arah Kompas
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Suara Terompet
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Tuan Baru
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang Dalam Cermin
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Indigo
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Dharmawangsa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kutukan Merapi Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Persimpangan Mimpi
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Panggilan 13
Christian Shonda Benyamin