Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Bronze
Bayangan di Meja Sebelah
1
Suka
5,143
Dibaca

Langit pagi itu kelabu, dengan awan yang menggantung seperti rahasia yang terlalu berat untuk disimpan. Daun-daun jatuh satu-satu di halaman sekolah, dan Ares anak pindahan dari kota seberang menjejakkan kakinya ke SMA Harapan Utara dengan rasa asing yang tak mampu ia tolak.

Suasana sekolah tampak biasa saja: murid-murid berseragam putih-abu yang berlarian menuju kelas, beberapa guru yang menyeruput kopi dari gelas tua, dan petugas kebersihan yang menyapu tanpa menatap siapa-siapa. Tapi entah mengapa, udara di pagi itu terasa lebih tebal dari yang seharusnya.

Ares berjalan menyusuri koridor kelas XI-B. Tangannya menggenggam surat pindahan, dan matanya menangkap papan nama tua yang sedikit retak di sudut pintu.

Ketika ia mengetuk dan masuk, suara-suara di dalam langsung berhenti, seolah kehadirannya adalah jeda dari sesuatu yang sedang berjalan terlalu lama.

"Silakan duduk di bangku kosong paling belakang, dekat jendela," kata wali kelas yang suaranya terlalu datar untuk sebuah sapaan.

Ares mengangguk, menarik napas, dan melangkah pelan ke arah kursi yang ditunjuk. Namun saat sampai di sana, ia berhenti.

Meja itu memang kosong. Tapi... tidak benar-benar kosong. Ada sebuah pulpen hitam yang tergeletak lurus di tengah meja. Kursinya ditarik sedikit keluar, seperti seseorang baru saja duduk di sana dan meninggalkannya dalam keadaan tergesa.

Dan... ada bau samar seperti parfum tua yang tertinggal di udara.

Ares memandang sekeliling.

Tak ada yang menoleh.

Semua sibuk menunduk.

Seolah tak ingin mengakui bahwa mereka juga melihat hal yang sama.

Ia duduk perlahan.

Pulpen di depannya bergeser sedikit, sendiri, tanpa disentuh. Mungkin angin, pikirnya.

Atau mungkin...

Bel masuk berbunyi... Kelas kembali sibuk. Pelajaran dimulai. Tapi Ares tak bisa fokus.

Dari sudut matanya, ia melihat sosok samar duduk di kursi sebelahnya.

Putih pucat. Kepala sedikit menunduk. Wajah tak terlihat.

Setiap kali ia menoleh, sosok itu hilang. Tapi setiap kali ia mengalihkan pandangan, kursi itu seperti bernafas.

“Mungkin kamu terlalu lelah. Atau mungkin sekolah ini memang menyimpan lebih banyak keheningan dari yang kau kira,” gumamnya dalam hati.

Saat jam istirahat tiba, Ares tetap duduk di tempat. Tak ada yang mengajaknya bicara. Mereka berjalan melewatinya seperti angin. Hampir semua murid tidak menatap ke arah meja itu. Seolah ia dan kursi itu telah menjadi satu bayangan panjang yang dihindari.

Lalu tiba-tiba, seseorang menepuk bahunya dari belakang.

Seorang gadis, wajahnya pucat, rambutnya dikuncir satu.

"Namamu Ares, kan?"

"Iya."

"Jangan terlalu lama duduk di situ."

Ares mengernyit. "Kenapa?"

Gadis itu hanya menatapnya sejenak, lalu menunduk.

"Kursi itu... sudah pernah diisi. Dan belum dikosongkan."

Sore itu, hujan turu...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Bronze
Bayangan di Meja Sebelah
Muhamad Irfan
Flash
Dompet Kulit
Suci Asdhan
Cerpen
The Unseen Hand: Prolog
Sekar Kinanthi
Cerpen
Bronze
Kamar Pojokan
Jesslyn Kei
Flash
Bronze
AI, Pria Tua, di Malam Natal
Nuel Lubis
Novel
Opera Terakhir Melvina
Tristan Permana Kartadisastra
Novel
Bronze
Wali Kala Nanti
Ana Latifa
Novel
Bronze
Halaman Sembilan
verlit ivana
Cerpen
Bronze
Bayang Dalam Cermin
Christian Shonda Benyamin
Flash
Bronze
When Sleeping Beauty Woke
Silvarani
Flash
Balas Dendamku Pada Dunia
Tazkia Irsyad
Cerpen
Bronze
Sang Asisten
Nana Sitompul
Cerpen
Bronze
Topeng Sang Pejuang
Nuel Lubis
Cerpen
Modifikasi Takdir
awod
Novel
Serangkai Bunga Mei Hwa
Eva Cristine Ronauli
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Bayangan di Meja Sebelah
Muhamad Irfan
Novel
Bronze
LUKA BARA
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
KOTA HUJAN
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Jejak
Muhamad Irfan
Cerpen
Sepotong Roti Hangat di Ujung Hujan
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Bayangan yang Tidak Pernah Pulang
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Nyaris
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Ibuku
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tidak ada Tempat untuk Kita Berteduh
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tersisa di Gaza
Muhamad Irfan
Cerpen
Tak Layak
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tak Terdengar
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Jejak yang Hilang di Lorong 4
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Bunga yang Tak Pernah Ditaruh di Vas
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Jaket Merah yang Tak Pernah Dikembalikan
Muhamad Irfan