Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Raka, seorang psikolog ternama berusia 35 tahun, duduk di ruang praktiknya yang rapi, memandang keluar jendela ke arah rintik hujan yang membasahi jalanan Jakarta. Ruangan itu mencerminkan kepribadiannya: teratur, tenang, dan profesional. Di balik ketenangan itu, tersimpan masa lalu yang tersembunyi, sebuah trauma yang ia kubur dalam-dalam dan tidak pernah ia bagikan kepada siapa pun. Sejak kecil, ia sering merasa terasing, seolah ada bagian dari dirinya yang tidak ia kenal. Namun, bertahun-tahun menjalani terapi dan mengabdikan diri pada ilmu psikologi telah membantunya membangun dinding yang kokoh untuk melindungi dirinya dari bayang-bayang masa lalu.
Siang itu, asistennya mengantar seorang pasien baru masuk ke dalam ruangan. Mira, seorang wanita muda dengan mata yang cekung dan gelisah, duduk di hadapannya. Rambutnya yang kusut dan kuku-kukunya yang tergigit menunjukkan tingkat kecemasan yang ekstrem. Raka menyadari bahwa kasus ini akan menjadi tantangan yang berat, tetapi ia tidak pernah mundur dari tantangan. Ia memulai sesi dengan pertanyaan standar, mencoba menciptakan suasana yang nyaman.
Mira mulai berbicara dengan suara serak, "Saya... saya rasa ada yang salah dengan saya, Dok."
"Apa yang membuat Anda berpikir begitu, Mira?" Raka bertanya dengan nada lembut dan menenangkan.
"Saya sering melihat bayangan... bayangan seseorang di rumah saya. Di pojok ruangan, di balik pintu, bahkan di cermin. Saya tahu itu bukan saya, tapi bayangan itu selalu ada."
Raka mencatat di buku catatannya, mencoba mencari pola perilaku. "Apakah Anda bisa menjelaskan lebih detail tentang bayangan itu?"
"Tidak ada wujud yang jelas," jawab Mira, matanya berkedip panik. "Hanya... bayangan. Seperti seseorang berdiri di sana, mengawasi saya. Saya sudah periksa ke mana-mana, tapi tidak ada siapa-siapa. Saya bahkan mengunci semua pintu dan jendela, tapi bayangan itu tetap muncul."
Mira melanjutkan ceritanya, ia merasa dikejar dan diawasi setiap saat. Ia menunjukkan bekas luka memar di lengannya, mengklaim bahwa ia terjatuh saat mencoba melarikan diri dari bayangan itu. Raka mencatat semuanya, rasa penasaran mulai muncul di benaknya. Ia telah menangani ratusan pasien dengan paranoia, tetapi kasus Mira terasa berbeda. Ada sesuatu yang sangat nyata dalam ketakutannya, bukan hanya produk dari pikiran yang kacau.
Raka menjadwalkan sesi berikutnya untuk seminggu ke depan dan mengakhiri pertemuan. Setelah Mira pergi, ia duduk terdiam, memikirkan kasus ini. Ia merasa ada ikatan aneh dengan ketakutan Mira. Ikatan yang ia rasakan mengakar pada trauma yang tidak ia mengerti. Malam itu, Raka tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan kata-kata Mira, bayangan di pojok ruangan, dan rasa terperangkap yang dialami Mira.
Ia akhirnya terlelap, tetapi tidur itu tidak membawa ketenangan. Raka terjebak dalam mimpi yang mengerikan dan surreal. Ia melihat dirinya berdiri di dalam sebuah ruangan yang gelap, tangannya berlumuran darah. Di depannya, ada seorang wanita yang tergeletak tak berdaya. Ia melihat bayangan dirinya yang lain, versi d...