Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Bayang - Bayang Senja
1
Suka
5,574
Dibaca

Bisikan itu datang lagi. Bukan bisikan biasa, melainkan suara yang berdesir seperti daun kering di tengah malam, memanggilnya dengan nama yang bukan miliknya. Senja. Reno menekan pelipisnya, berharap denyutan di kepalanya mereda. Ia baru saja selesai mengantarkan surat terakhirnya hari itu. Udara sore di Jakarta terasa lembap dan lengket, menusuk kulitnya. Ia memarkir motornya di garasi kecil di samping rumah kontrakan. Suara mesin yang mati tak mampu membungkam bisikan itu.

"Tidakkah kau merindukannya, Reno?" Suara itu berbisik, lembut namun penuh rayuan. "Aroma darah yang kental, kepuasan yang tak terlukiskan..."

Reno menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Pergi," bisiknya, suaranya serak. "Aku tidak ingin mendengarnya."

Ia berjalan masuk ke dalam rumah, menanggalkan seragamnya yang lusuh. Lima tahun. Lima tahun ia hidup dalam ketenangan, membangun kembali hidupnya dari puing-puing kegelapan masa lalu. Ia bekerja sebagai tukang pos, rutinitas yang membosankan namun menenangkan. Ia menghindari keramaian, berbicara seperlunya, dan menghabiskan malamnya dengan membaca buku atau mendengarkan musik klasik. Ia berusaha menjadi manusia normal, manusia yang utuh.

Namun, Senja, alter ego yang ia benci, tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tertidur, menunggu momen yang tepat untuk bangkit. Dan sekarang, bisikan itu kembali, lebih kuat dari sebelumnya.

Malam itu, Reno berbaring di kasurnya, menatap langit-langit kamar yang kusam. Bisikan Senja berputar-putar di kepalanya seperti lalat yang terperangkap. Ia mencoba mengalihkan pikirannya. Ia memikirkan Ibu, wanita yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Ibu yang selalu percaya bahwa di balik kegelapan ada cahaya. Ibu yang meninggal tiga tahun lalu, meninggalkannya sendirian menghadapi hantu-hantunya.

Air mata menetes di pipinya. Ia merasa lelah. Lelah melawan dirinya sendiri. Ada bagian dari dirinya yang ingin menyerah, membiarkan Senja mengambil alih. Ia merindukan sensasi itu, adrenalin yang membakar, kekuasaan yang ia rasakan saat nyawa seseorang berada di tangannya. Namun, ada bagian lain yang menjerit, berteriak, memohon agar ia tetap kuat.

Esok harinya, Reno bangun dengan perasaan yang campur aduk. Bisikan Senja masih ada, namun kini ia lebih halus, lebih manipulatif. "Hanya satu, Reno. Satu saja, untuk meredakan hasrat ini. Setelah itu, kau bisa kembali menjadi dirimu yang membosankan."

Reno berusaha menepis pikiran itu. Ia memakai seragamnya, mengikat tali sepatunya, dan mengambil kunci motornya. Sepanjang jalan, ia melewati berbagai macam orang. Pasangan yang saling berpegangan tangan, ibu-ibu yang berbelanja, anak-anak yang bermain di taman. Wajah-wajah yang penuh kehidupan, yang Senja ingin padamkan.

"Lihatlah mereka," bisik Senja. "Betapa mudahnya memadamkan cahaya itu. Betapa fana kehidupan ini."

Reno mempercepat laju motornya. Ia harus cepat sampai di kantor. Ia harus sibuk, ia harus bekerja. Rutinitas adalah bentengnya, pelindung terakhirnya dari kegelapan.

Hari itu, ia mengantarkan surat ke sebuah apartemen mewah. Ia naik lift, merasakan jantungnya berdebar kencang. Lift itu kosong, hanya ada ia dan bayangannya di cermin. "Aku di sini," bisik Senja, suaranya terdengar dari pantulan di cermin. "Di dalam dirimu, selalu."

Reno mengepalkan tangannya. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia berusaha mengendalikan napasnya, menenangkan dirinya. Pintu lift terbuka. Ia berjalan keluar, mencari nomor apartemen yang tertera di surat.

Saat ia menyerahkan surat itu kepada seorang wanita muda, tangannya gemetar. Wanita itu menatapnya dengan aneh, dan Reno segera berbalik. Ia berjalan cepat, seolah dikejar sesuatu. Ya, ia memang dikejar. Dikejar oleh dirinya sendiri.

Saat ia sampai di motornya, ia merasakan dorongan kuat untuk kembali. Untuk melakukan sesuatu yang mengerikan. Bisikan Senja menjadi raungan, menguasai pikirannya. Ia melihat sebuah pisau buah tergeletak di samping tempat sampah. Matanya terpaku pada kilauan logam itu...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp18.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Bayang - Bayang Senja
Christian Shonda Benyamin
Flash
Bronze
Adel Tersayang
Rere Valencia
Novel
Parasomnia
Alfian N. Budiarto
Flash
Bronze
DITEROR MAHKLUK MISTERIUS
Shofiatul hasanah
Cerpen
Bronze
Pohon Toge yang Mencari Kacang Merah
Mochammad Ikhsan Maulana
Flash
Kamu Jangan Menangis
Sugiadi Azhar
Novel
"NETRA" Jejak Kematian
Apresia Ardina
Novel
Bronze
Tujuh Hari Dalam Kafan
Bramanditya
Flash
Pukul 01:10
Jasma Ryadi
Cerpen
Bersembunyi Bersama
Oscar Zkye
Novel
Gold
Fantasteen They Call Me Psycopath
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
Jangan Bawa Aku!
Novi Wu
Cerpen
Bronze
Setan Jabal Rokok
Eki Saputra
Novel
Penghuni Posko KKN
Chely Nizwar
Cerpen
Name
Alpri prastuti
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Bayang - Bayang Senja
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Simfoni Keabadian
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Suwanita
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Rig Minyak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Terjebak Dunia Arwah
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayangan Reno
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ouija
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Delusi Atau Nyata
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ada Apa Dengan Diriku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Perawat Siska
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Sisi Lain
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Tidak Sakit
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
#fyp Terakhir
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bidan Sofia
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Rantai Pemicu
Christian Shonda Benyamin