Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Bayang - Bayang Senja
1
Suka
7,363
Dibaca

Bisikan itu datang lagi. Bukan bisikan biasa, melainkan suara yang berdesir seperti daun kering di tengah malam, memanggilnya dengan nama yang bukan miliknya. Senja. Reno menekan pelipisnya, berharap denyutan di kepalanya mereda. Ia baru saja selesai mengantarkan surat terakhirnya hari itu. Udara sore di Jakarta terasa lembap dan lengket, menusuk kulitnya. Ia memarkir motornya di garasi kecil di samping rumah kontrakan. Suara mesin yang mati tak mampu membungkam bisikan itu.

"Tidakkah kau merindukannya, Reno?" Suara itu berbisik, lembut namun penuh rayuan. "Aroma darah yang kental, kepuasan yang tak terlukiskan..."

Reno menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Pergi," bisiknya, suaranya serak. "Aku tidak ingin mendengarnya."

Ia berjalan masuk ke dalam rumah, menanggalkan seragamnya yang lusuh. Lima tahun. Lima tahun ia hidup dalam ketenangan, membangun kembali hidupnya dari puing-puing kegelapan masa lalu. Ia bekerja sebagai tukang pos, rutinitas yang membosankan namun menenangkan. Ia menghindari keramaian, berbicara seperlunya, dan menghabiskan malamnya dengan membaca buku atau mendengarkan musik klasik. Ia berusaha menjadi manusia normal, manusia yang utuh.

Namun, Senja, alter ego yang ia benci, tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tertidur, menunggu momen yang tepat untuk bangkit. Dan sekarang, bisikan itu kembali, lebih kuat dari sebelumnya.

Malam itu, Reno berbaring di kasurnya, menatap langit-langit kamar yang kusam. Bisikan Senja berputar-putar di kepalanya seperti lalat yang terperangkap. Ia mencoba mengalihkan pikirannya. Ia memikirkan Ibu, wanita yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Ibu yang selalu percaya bahwa di balik kegelapan ada cahaya. Ibu yang meninggal tiga tahun lalu, meninggalkannya sendirian menghadapi hantu-hantunya.

Air mata menetes di pipinya. Ia merasa lelah. Lelah melawan dirinya sendiri. Ada bagian dari dirinya yang ingin menyerah, membiarkan Senja mengambil alih. Ia merindukan sensasi itu, adrenalin yang membakar, kekuasaan yang ia rasakan saat nyawa seseorang berada di tangannya. Namun, ada bagian lain yang menjerit, berteriak, memohon agar ia tetap kuat.

Esok harinya, Reno bangun dengan perasaan yang campur aduk. Bisikan Senja masih ada, namun kini ia lebih halus, lebih manipulatif. "Hanya satu, Reno. Satu saja, untuk meredakan hasrat ini. Setelah itu, kau bisa kembali menjadi dirimu yang membosankan."

Reno berusaha menepis pikiran itu. Ia memakai seragamnya, mengikat tali sepatunya, dan mengambil kunci motornya. Sepanjang jalan, ia melewati berbagai macam orang. Pasangan yang saling berpegangan tangan, ibu-ibu yang berbelanja, anak-anak yang bermain di taman. Wajah-wajah yang penuh kehidupan, yang Senja ingin padamkan.

"Lihatlah mereka," bisik Senja. "Betapa mudahnya memadamkan cahaya itu. Betapa fana kehidupan ini."

Reno mempercepat laju motornya. Ia harus cepat sampai di kantor. Ia harus sibuk, ia harus bekerja. Rutinitas adalah bentengnya, pelindung terakhirnya dari kegelapan.

Hari itu, ia mengantarkan surat ke sebuah apartemen mewah. Ia naik lift, merasakan jantungnya berdebar kencang. Lift itu kosong, hanya ada ia dan bayangannya di cermin. "Aku di sini," bisik Senja, suaranya terdengar dari pantulan di cermin. "Di dalam dirimu, selalu."

Reno mengepalkan tangannya. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia berusaha mengendalikan napasnya, menenangkan dirinya. Pintu lift terbuka. Ia berjalan keluar, mencari nomor apartemen yang tertera di surat.

Saat ia menyerahkan surat itu kepada seorang wanita muda, tangannya gemetar. Wanita itu menatapnya dengan aneh, dan Reno segera berbalik. Ia berjalan cepat, seolah dikejar sesuatu. Ya, ia memang dikejar. Dikejar oleh dirinya sendiri.

Saat ia sampai di motornya, ia merasakan dorongan kuat untuk kembali. Untuk melakukan sesuatu yang mengerikan. Bisikan Senja menjadi raungan, menguasai pikirannya. Ia melihat sebuah pisau buah tergeletak di samping tempat sampah. Matanya terpaku pada kilauan logam itu...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp18.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Bayang - Bayang Senja
Christian Shonda Benyamin
Novel
Bronze
Pedalaman Gumantra
Randy Arya
Novel
SONGKO
M A R U T A M I
Novel
Surat Misterius
Hidayatun Qudsiyah
Cerpen
Bronze
Jerat Senyap
Christian Shonda Benyamin
Novel
Bronze
Creepypasta
Yukki Kana
Cerpen
Bronze
Dia Menggali Kubur Sambil Bernyanyi
Habel Rajavani
Skrip Film
Paleis Bobrok
Vitri Dwi Mantik
Novel
Tragedi Cinta Segitiga
Muhammad Azril
Cerpen
Bronze
Kamar Nomor 13
Willia Mangun Putr
Flash
Hadiah
Dark Specialist
Novel
GRAMOFON
Embart nugroho
Flash
Bronze
Gudang Belakang Rumah Kakek
Risti Windri Pabendan
Novel
Novelist story
Rizskahs
Flash
Bronze
PION
Rere Valencia
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Bayang - Bayang Senja
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jerat Senyap
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Retak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Penjara Abadi
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Terkutuk
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Tuan Baru
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kuncup Bunga Ungu
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Dharmawangsa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Imajiner Yang Nyata
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Tidak Sakit
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Panggilan Sumur Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kakek Memanggil
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Delusi Atau Nyata
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang Dalam Cermin
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Panggilan 13
Christian Shonda Benyamin