Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Langit sore itu berwarna seperti luka lama, merah, tetapi dingin.
Mesujiwati duduk di beranda sempit rumah besannya. Tubuhnya kurus, tulangnya menonjol seperti ranting kering. Lehernya membengkak di beberapa bagian, benjolan keras seperti batu yang tumbuh dari dalam dagingnya.
Kanker kelenjar getah bening, kata dokter.
Kata yang terdengar seperti vonis, bukan penyakit.
Ia memegang sapu lidi, menyapu halaman yang sebenarnya sudah bersih.
Dari dalam rumah, suara perempuan terdengar, berbisik, tetapi cukup keras untuk melukai.
“Bau lagi.”
“Itu pasti dari dia.”
Mesujiwati berhenti menyapu.
Ia mencium bajunya sendiri. Bau obat, bau luka, bau tubuh yang perlahan kalah.
Ia tahu.
Ia selalu tahu.
Besannya keluar, berdiri di pintu, menutup hidungnya dengan ujung kain.
“Ibu…,” katanya, suaranya datar. “Kami sudah tidak tahan.”
Mesujiwati tidak menjawab.
“Kami punya anak kecil. Tidak sehat.”
Mesujiwati mengangguk pelan.
Ia sudah mengerti arah pembicaraan ini.
“Kemana saya harus pergi?” tanyanya, suaranya hampir tidak terdengar.
“Itu urusan ibu.”
Jawaban itu jatuh seperti batu.
Malam itu, Mesujiwati tidak lagi tidur di dalam rumah. Ia diberi tikar di gudang belakang. Gudang itu gelap, lembab, dan dingin.
Ia tidak mengeluh.
Ia hanya memandang foto kecil di tangannya.
Foto seorang pemuda.
Anaknya.
Dravido.
Dia teringat seorang suami yang meninggalkannya, berselingkuh dengan seorang perawat muda, di sebuah Puskesmas di pedalaman. Suaminya memang ganteng, sedang perawat muda itu cantik, muda dan segar. Mereka menikah, meninggalkan dirinya bersama anak semata wayang mereka.
Suaminya tidak peduli lagi kepadanya, kepada nasibnya yang tidak bekerja. Sehingga dia terpaksa berjualan online, karena kalau jualan di off line itu perlu tempat, perlu modal besar, perlu stok barang. Dia tidak punya uang untuk mengadakannya dan melengkapinya.
Sementara itu, jauh di pedalaman hutan Kalimantan, Dravido berdiri di pinggir lubang tambang emas ilegal. Lumpur menempel di kakinya. Tangannya memegang slang penyemprot tanah yang airnya super deras, kulitnya pecah-pecah oleh air dan tanah.
Ia bukan pemilik tambang.
Ia hanya buruh. Ia karyawan harian. Buruh kasar, yang hanya harian dengan beberapa rupiah. Tetapi karena tidak ada pekerjaan lain. Maka demi untuk hidup, dia mau saja.
Ia bekerja untuk orang lain. Orang yang tidak pernah kotor. Orang yang datang sesekali dengan mobil mahal dan sepatu bersih. Orang yang dekat dengan para pejabat, orang yang selalu memberikan setoran bulanan.
Dravido menggali.
Bukan untuk kaya.
Hanya untuk makan.
Ia pernah kuliah. Lulus sarjana ekonomi. Dengan nilai yang baik.
Tetapi nilai tidak pernah cukup.
Ia melamar ke kantor-kantor.
Selalu sama jawabannya.
“Kami akan hubungi nanti.”
Atau…
“Ada rekomendasi?”
Atau lebih jujur lagi…
“Ada uang administrasi?”
Dravido tidak punya koneksi.
Tidak punya uang.
Tidak punya siapa-siapa.
Ia hanya punya seorang ibu. Seorang ibu yang ditinggalkan ayah kandungnya. Janda, dan sakit.
Dan ibu itu sakit. Sakit kanker getah bening. Itu terjadi, karena dulunya ibunya bekerja sebagai karyawan perusaha sawit, bagian penyemprotan. Sehingga hampir tiap hari bergaul dengan pestisida, sehinnga dalam waktu yang lama, bahan itu mempengaruhi kondisi tubuhnya. Karena fisiknya yang kurang gizi, karena upahnya kecil, maka daya tahan tubuhnya kalah. Dia terkena kanker. Karena terpapar oleh pestisida.
Saat ini anaknya Mesujiwati, Dravido, berada di tambamg emas ilegal, sedang bekerja.
Menggali emas yang bukan miliknya.
Tiba-tiba ...
Pagi itu, suara mesin memecah hutan.
Beberapa buah truk berisi pasukan bersenjata yang sepertinya hakim akhirat yang tidak punya dosa.
Dan mobil polisi.
“RAZIA!” seseorang berteriak.
Orang-orang berlarian.
Tetapi Dravido berdiri membeku. Dia terkesima, tidak tahu berbuat apa. Dia hanya heran, mengapa mereka selalu dikejar, mereka hanya mencari sesuao nasi, bukan penjahat. Jika pemerintah tidak setuju, berikan mereka lapangan kerja.
WNA saja mengeruk emas sampai triliunan, bebas. Kok mereka di kejar?
Padahal WNI ...
Ia tidak tahu harus lari kemana.
Polisi datang seperti badai.
“KAMU! BERHENTI!”
Tangan kasar menarik lengannya seperti penjahat yang korupsi ratusan triliunan.
“Saya cuma pekerja!” Dravido berteriak.
Tidak ada yang peduli. Siapa yang peduli dengan nasib semut seperti dia.
Tangannya diborgol.
Dunia tiba-tiba terasa sempit.
Di kota, Mesujiwati terbaring di tikarnya. Di kampung.
Selimutnya dari kain vinyl bekas spanduk. Bantalnya dari bahan karung tepung terigu, tetapi warnanya sudah lebih dominan coklat, karena puluhan tahun tidak pernah di cuci.
Napasnya berat.
Pondok itu sunyi.
Tidak ada yang menemani.
Tidak ada yang memegang tangannya.
Ia memandang pintu.
Seolah berharap anak semata wayangnya, Dravido, akan muncul.
Tetapi hutan terlalu jauh.
Dan waktu terlalu pendek.
Ia menarik napas terakhirnya sendirian.
Tanpa saksi.
Tanpa pelukan.
Tanpa anaknya.
Dravido duduk di sel.
Dingin.
Bau.
Sunyi.
Seorang polisi datang.
“Ada kabar.”
Dravido berdiri cepat.
“Ibumu meninggal.”
Dunia berhenti.
“Apa?” suaranya pecah.
“Ibumu meninggal kemarin.”
Dravido memegang jeruji.
“Saya mau pulang. Saya mau kuburkan ibu saya.”
Polisi itu menggeleng.
“Kamu tahanan.”
“Tolong…”
“Tidak bisa.”
Dravido jatuh berlutut.
“Tolong… itu ibu saya…Satu-satunya keluarga saya ...”
Tidak ada jawaban. Mana petugas itu peduli. Toh bukan ibunya. Yang penting Dravido di tahan, di penjara. Karena sesuai SOP, harus di penjara. Sesuai undang-undang.
Titik ...
Lalu hanya suara langkah kaki yang menjauh. Petugas itu kembali ke ruangannya.
Dravido menangis.
Tangis yang tidak bersuara.
Tangis yang tidak didengar siapa-siapa.
Tubuh Mesujiwati tetap di pondok di kampung kelahirannya.
Sehari.
Dua hari.
Tiga hari.
Ini bau apa ini? Bau itu menjadi lebih kuat.
Tetangga mulai mengeluh.
“Ini tidak bisa dibiarkan.”
mereka mendobrak pintu pindok itu. Mereka terkesima, sebuah mayat ...
“Harus dikuburkan.”
“Tapi siapa?”
Tapi kabarnya anaknya di penjara. Pekerja emas ilegal.
Katanya besannya mengusirnya. Besannya tidak mau menyentuh.
Akhirnya, beberapa pria kampung datang dengan cangkul. Mereka adalah para pemabuk, mereka adalah para pemuda yang suka nongkrong. Mereka para perokok. Mereka suka nongkrong. Mereka adalah pemuda yang tidak punya masa depan.
Tetapi justru merekalah yang mau bekerja iklas. Mereka tidak mengenalnya dekat. Mereka jadi begitu, bukan kemauan mereka. Karena kalau mencari kerja harus ada konkesi, harus ada uang, harus ada orang dalam, juga ada kelompok yang berkuasa.
Tetapi mereka manusia.
Tanah digali.
Tidak dalam.
Tidak rapi.
Tidak ada doa panjang. Karena agama mereka berbeda, mereka berdoa saja seadanya. Karena semua kembali kepada Tuhan. Dari tanah kembali ke tanah.
Tidak ada keluarga.
Hanya tanah.
Dan bau yang harus segera disembunyikan.
“Yang penting tidak busuk,” kata seseorang.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi kejam.
Sehingga mayat itu dikuburkan seperti seekor kucing, cuma baunya sangat menyengat. Karena itu manusia yang mati. Membusuk, kena kanker lagi. Sehingga para pemuda yang menurut masyarakat tadi tidak benar, justru mereka yang bekerja tanpa pamrih, untuk menyelamatkan para pemilik surga agar tidak jangkit penyakit dan di gerogoti bau busuk.
Di penjara, Dravido duduk diam.
Seorang tahanan lain berbicara.
“Kau tahu?”
Dravido tidak menjawab.
“Ada orang asing. WNA. Mereka ambil emas triliunan.”
Dravido memandangnya.
“Mereka bebas.”
“Bebas?”
“Iya. Pengadilan bilang tidak cukup bukti.”
Dravido tertawa kecil.
Tawa yang patah.
“Aku cuma buruh.”
Tidak ada yang menjawab.
Karena semua di ruangan itu tahu.
Keadilan punya harga.
Dan Dravido terlalu miskin untuk membelinya.
Malam itu, Dravido memandang langit dari balik jeruji kecil.
Ia membayangkan ibunya.
Sendirian.
Di tanah.
Tanpa dia.
“Aku gagal, Bu,” bisiknya.
Ia ingat ibunya selalu berkata,
“Jadilah orang jujur.”
Ia sudah jujur.
Tetapi dunia tidak pernah menjanjikan imbalan untuk kejujuran.
Ia mencari kerja.
Selalu sama.
Butuh orang dalam.
Butuh uang.
Butuh koneksi.
Ia hanya punya ijazah.
Dan harapan.
Keduanya tidak cukup.
Air matanya jatuh lagi.
Di luar sana, orang-orang tidur.
Di atas kasur hangat.
Dengan keluarga.
Dengan cinta.
Dravido hanya punya penyesalan. Entah menyalahkan siapa. Kan tidak mungkin mendemo Tuhan ...
Dan bau yang tidak pernah benar-benar pergi.
Bau ketidakadilan.
Bau kehilangan.
Bau dunia yang tidak pernah memberi kesempatan kepada orang seperti dia.
Ia memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berharap tidak bangun lagi.
Karena dunia yang ia kenal tidak pernah menjadi rumah baginya.
***