Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Saudara penjagal petaka
Namaku Farhan.
Jika kau melihatku di jalan, mungkin kau tak akan menemukan sesuatu yang istimewa dari diriku. Aku hanya lelaki biasa yang menyukai kopi pahit dan malam yang tenang.
Namun dunia tidak sesederhana permukaannya saja.
Di bawah gemerlap kota-kota besar Asia, di balik pelabuhan yang tak pernah tidur, di ruang-ruang gelap tempat uang dan darah diperdagangkan, ada nama lain yang membuat banyak orang menahan napas.
Bandawasa.
Dan aku… adalah salah satu penguasanya.
#
Semua bermula dari kakakku, Alfan.
Sejak kecil, kakakku selalu lebih tenang dariku. Jika aku adalah laut, maka ia adalah batu karangnya yang berdiri, siap siaga menghadapi segala badai.
Aba pernah berkata bahwa manusia ada dua: mereka yang mengeluh pada keadaan, dan mereka yang memaksa agar keadaan berubah.
kakakku memilih menjadi yang kedua.
Kami tidak lahir dari keluarga mafia.
Kami tidak tumbuh dari kekayaan.
Kami dibesarkan ditengah-tengah ketidakadilan.
Kami terlalu sering melihat orang kecil diinjak.
Melihat para pejabat menjual hukum.
Melihat manusia diperdagangkan layaknya hewan.
Dan yang paling membuat kami muak, semua orang tahu itu terjadi, tetapi terlalu takut untuk menghentikannya.
Namun kakakku berbeda.
Ia tidak pernah takut.
Ia memiliki ketenangan. Tenang yang mengerikan. Semakin marah ia, semakin dingin wajahnya.
Dan orang-orang paling berbahaya yang pernah kutemui selalu memiliki wajah setenang itu.
Bandawasa lahir dari tangannya.
Awalnya hanya jaringan kecil.
Namun perlahan tumbuh menjadi organisasi bawah tanah terbesar yang pernah dimiliki Indonesia.
Kami tidak menjual narkoba.
Tidak menjual manusia.
Tidak pernah bersentuhan dengan (read-mengonsumsi) barang haram, apa lagi bermain perempuan.
Dan tak menyentuh uang haram untuk kepentingan pribadi.
Bandawasa hanya memangsa satu jenis manusia:
Mereka yang membangun kekuasaan di atas penderitaan orang lain.
#
Dan di belakang kami ada tiga orang yang membantu menggerakkan organisasi ini.
Aril. si mata hitam.
Ia memiliki jaringan informan yang menjangkau pelabuhan, pasar gelap, hingga ruang-ruang pertemuan para mafia.
Bahkan ada rumor yang mengatakan bahwa beberapa kelompok kriminal tanpa sadar bekerja untuknya.
Suatu malam, saat kami berkumpul di markas, Aril melemparkan sebuah map ke atas meja.
"Ada pengiriman besar."
Aku membuka map itu.
"Senjata?"
Aril mengangguk.
"Dan mereka menggunakan jalur yang sama dengan jaringan perdagangan manusia yang kita bongkar tahun lalu."
kakak menatap peta itu cukup lama.
"Lalu?"
Aril tersenyum tipis.
"Mereka pikir tidak ada yang tau."
Aku ikut tersenyum kecut.
"Berarti mereka belum mengenal Bandawasa.
Fendi. Si hantu digital
Di era modern ini, peperangan tidak selalu terjadi dengan kepalan tangan atau tembakan.
Kadang dimulai dari layar komputer.
Dan di sanalah Fendi menjadi monster.
Banyak orang menyebutnya peretas terbaik yang pernah ada.
Ia mampu menembus sistem keamanan perusahaan-perusahaan raksasa dan menemukan data yang bahkan dianggap mustahil ditemukan. Bahkan tersebar sebuah rumor bahwa ia mampu menembus jaringan ilahi.
Suatu ketika, disaat kami sedang memburu sindikat internasional, Fendi menelepon.
"Aku menemukan mereka."
"Kantor pusat?" tanyaku.
"Bukan."
"Rekening rahasianya."
Ruangan langsung hening.
Bahkan kakakku mengangkat kepala.
"Berapa banyak?"
Fendi tertawa kecil.
"Cukup untuk membuat setengah organisasi mereka saling mengkhianati."
Dan benar saja.
Dalam waktu seminggu, para petinggi sindikat itu mulai saling mencurigai.
Mereka runtuh dari dalam.
Dan Imam. Si strategiator iblis.
Ia tidak pernah ikut bertarung.
Namun setiap kemenangan Bandawasa selalu memiliki jejak pikirannya.
Imam mampu melihat kemungkinan yang bahkan tidak terpikirkan oleh orang lain.
Ia sering berkata:
"Pertempuran terbaik adalah pertempuran yang dimenangkan sebelum dimulai dan tak semua kemungkinan terbaik adalah yang terbaik."
Suatu malam aku bertanya kepadanya.
"Kau tidak pernah ingin turun ke lapangan?"
Ia hanya tersenyum.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena aku lebih berguna untuk menjaga kalian tetap hidup."
#
Malam itu Aril memberi kabar tentang sebuah pengiriman besar di utara Laut Jawa.
Katanya ada kapal tanpa identitas membawa senjata ilegal dan puluhan manusia hasil perdagangan lintas negara.
Aku membaca laporannya sambil mengepalkan tangan.
“Berapa banyak korbannya?” tanyaku.
Aril diam.
“Termasuk anak-anak......?.”
Aku tak menjawabnya.
"delapan puluh sembilan" Fendi menimpali
Ruangan langsung sunyi.
Aku menoleh pada kakakku.
Wajahnya datar.
Terlalu datar.
Dan aku tahu, itu mala petaka bagi siapa pun yang ada di kapal itu.
“Kita bergerak malam ini,” katanya dingin.
#
Laut malam terlihat hitam seperti tinta.
Kapal tanker itu berdiri diam di tengah kabut.
Puluhan pria bersenjata menjaga area pelabuhan tempat transaksi dilakukan.
Aku dan kakakku mengawasi dari atas gudang kosong.
“Kiri ada penembak jitu,” kataku pelan.
“Aku lihat.”
“Empat orang di belakang kontainer.”
“Mm.”
Aku memang tak sehebat kakak dalam bertarung.
Tetapi aku memiliki insting yang tajam.
Aku bisa membaca keadaan dengan cepat.
Melihat pola.
Menangkap arah bahaya sebelum bayangannya datang.
Dan kakak selalu mempercayai naluriku.
“Itu jebakan kecil,” ujarku.
“Yang besar?”
“Mereka menyimpan pasukan di dalam gudang............mungkin.”
ia tersenyum tipis.
“Naluri monster.”
Aku tertawa kecil.
“Belajar dari kakak yang salah.”
Di tengah kekacauan itu kami masih sempat saling mengejek.
Memang begitulah kami.
Dua saudara.
Dua petaka.
Lalu kami melompat turun.
Dan neraka itu dimulai.
Orang pertama tumbang bahkan sebelum sempat mengangkat senjata.
kakak bergerak seperti badai hitam.
Cepat.
kilat.
Dan tenang.
Aku tak pernah bosan melihat cara kakakku bertarung. Ia seperti manusia yang dilahirkan khusus untuk perang.
Sementara aku bergerak membaca celah.
Seseorang mencoba menyerang kakak dari kanan.
Aku langsung menghantamnya lebih dulu.
“ocol!” teriakku.(kata perintah “lepaskan” dalam bhs madura)
Aku melompat secepat kilat dan menjatuhkan dua orang sekaligus.
Keributan pecah.
Teriakan menggema di pelabuhan.
Lampu sorot menyala.
Puluhan pria keluar dari gudang sambil membawa senjata api.
Salah satu dari mereka tertawa.
“Cuma berdua?”
Aku menyeringai.
“Biasanya memang cukup.”
Mereka menyerbu.
Dan malam itu berubah menjadi lautan darah.
Aku dihantam hingga membentur kontainer besi. Ada besi menembus lenganku.
Mulutku terasa asin oleh darah.
Namun sebelum lawanku sempat mendekat, lagi-lagi ia muncul seperti bayangan. Kakakku.
BRAKKK!
Pria itu terpental menghantam pagar.
“Kau masih hidup?” tanyanya.
Aku berdiri sambil menyeka darah di bibir.
“Sedikit lagi mati.”
“Bagus.”
“Bagus apanya?!” tanyaku kesal.
“Berarti kau masih harus belajar.”
Aku tertawa pendek. ia masih sempat bercanda dalam kondisi seperti ini.
Gila memang.
Gelombang musuh terus berdatangan.
Namun satu hal yang baru mereka sadari.
Masalah mereka bukan Alfan.
Bukan Farhan.
Masalah mereka adalah Alfan dan Farhan.
Kami bertarung seperti dua sisi pisau yang sama tajam.
Saat kakakku menekan dari depan, aku memotong jalur belakang.
Saat aku membaca celah lawan, ia menghancurkannya tanpa ampun.
Kami saling melindungi tanpa perlu bicara, bahkan tanpa kontak mata.
Karena kami sudah terlalu lama hidup dalam rasa dan masa yang sama. Namun kesadaran mereka sudah tak ada guna. Kami telah menumbangkan semuanya.
Ketika pintu kontainer berhasil kami buka, suasana mendadak sunyi.
Puluhan pasang mata memandang kami.
Ketakutan.
Lelah.
Penuh harapan.
Di antara mereka ada anak kecil yang bahkan belum mengerti apa yang sedang terjadi.
Tangannya gemetar.
kakakku berlutut di depannya.
Kemudian melepas jaketnya dan menyelimutkan tubuh anak itu.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat kemarahan di mata kakakku.
Bukan kemarahan biasa.
Melainkan kemarahan seorang manusia yang menyaksikan kemanusiaan diinjak-injak.
"Aku bersumpah," katanya pelan.
"Semua yang melakukan ini akan berhenti malam ini."
Lalu ia berkata pelan:
“Bakar semua jalur mereka.”
Aku tahu maksudnya.
Malam itu, seluruh jaringan penyelundupan mereka, dihancurkan hingga akarnya.
Fendi membocorkan data transaksi mereka ke berbagai negara.
Imam sudah mengatur langkah agar para petinggi sindikat saling menjatuhkan.
Sedangkan Aril memburu sisa-sisa kelompok mereka yang mencoba kabur.
Dalam waktu dua minggu…
Kartel itu lenyap, seakan tak pernah ada.
Seolah tak pernah ada.
Namun kemenangan in justru membuat nama Bandawasa menyebar lebih jauh.
Dari Indonesia ke Asia.
Dari Asia ke Eropa.
Hingga akhirnya mafia-mafia kelas dunia mulai mengenal satu nama yang sama.
Bandawasa.
Dua bersaudara dari Indonesia yang menghancurkan kerajaan kriminal tanpa takut pada siapa pun.
Dan sejak saat itu…
Pemburuan kami dimulai.
Harga kepala kami dipasang sangat tinggi.
Pembunuh bayaran berdatangan.
Mafia Rusia.
Kartel Asia Timur.
Sindikat perdagangan manusia internasional.
Mereka semua menginginkan satu hal.
Kematian kami.
#
Suatu malam di Bangkok, lebih dari dua puluh orang mengepung kami di dalam gedung tua.
Hujan turun deras di luar.
Darah mengalir dari pelipisku.
Napas terasa berat.
Namun Alfan masih berdiri tegak di depanku.
Tenang seperti monster yang tak mengenal lelah.
“Capek?” tanyanya.
“Lumayan.”
“Mau pulang?”
“Setelah mereka tumbang.”
ia tersenyum.
“Nah, itu adikku.”
Lalu kami kembali bergerak.
Dan malam itu, gedung tua tersebut dipenuhi suara tulang patah, teriakan, dan langkah dua bersaudara yang menolak tumbang.
#
Banyak orang mengira kami haus kekuasaan.
Padahal tidak.
Kami hanya muak melihat dunia dikuasai orang-orang kejam.
Dan jika suatu hari dunia membutuhkan monster untuk memburu monster lainnya…
Maka biarlah kami yang menjadi monster itu.
Aku adalah kakakku.
Dan bersama kakakku, Alfan…
Kami pernah membuat para mafia dunia takut menyebut satu nama:
Bandawasa.
#
Setelah semuanya berakhir, aku kembali ke rumah tua di pegunungan.
Hujan turun lagi.
Persis seperti malam ketika aku bertanya kepada Alfan tentang penyesalan.
Kakakku duduk di beranda.
Tenang seperti biasa.
"Kita menang?" tanyaku.
Ia menggeleng.
"Tidak ada yang benar-benar menang."
"Lalu?"
"Kita hanya mencegah dunia menjadi sedikit lebih buruk."
Aku tertawa kecil.
Jawaban khas Alfan.
Selalu sederhana.
Selalu berat.
#
Bertahun-tahun kemudian, nama Bandawasa berubah menjadi legenda.
Ada yang menganggap kami mitos.
Ada yang menganggap kami hantu.
Ada yang percaya kami masih ada.
Ada yang yakin kami telah lama lenyap.
Tak seorang pun tahu kebenarannya.
Karena memang tidak perlu.
Yang penting bukan siapa kami.
Yang penting adalah pesan yang kami tinggalkan.
Bahwa sebesar apa pun kekuasaan seseorang, selalu ada batas yang tak boleh dilanggar.
Bahwa ketakutan bukanlah fondasi yang kokoh untuk membangun dunia.
Bahwa keadilan mungkin berjalan lambat, tetapi ia tidak selalu datang dari tempat yang diduga orang.
Kadang ia datang dari lorong sunyi.
Dari orang-orang yang tak dikenal.
Dari nama yang hanya terdengar seperti bisikan.
Dan jika suatu malam kau mendengar seseorang menyebut nama Bandawasa dengan suara pelan, jangan buru-buru percaya semua cerita yang kau dengar.
Karena legenda selalu melebih-lebihkan banyak hal.
Namun satu hal yang benar tetap sama dan tak pernah berubah.
Aku adalah Farhan.
Dan bersama kakakku, Alfan, kami pernah berdiri di balik bayang-bayang yang membuat banyak penguasa gemetar.
Bukan karena kami haus darah.
Bukan karena kami mengejar kekayaan.
Melainkan karena kami percaya bahwa kekuasaan yang paling menakutkan bukanlah kekuasaan yang mampu menghancurkan.
Melainkan kekuasaan yang mampu menghentikan kehancuran ketika semua orang memilih diam.
Dan itulah kisah tentang dua bersaudara yang pernah dijuluki dunia sebagai...
Penguasa Bandawasa.