Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Syaribanun langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa. Tangannya refleks meraih kipas, meski udara sore masih lembap karena hujan mengguyur tak berhenti sejak pagi. Dari dapur, aroma kopi hitam yang baru diseduh belum sempat menenangkannya.
“Bang,” katanya akhirnya, suaranya ditahan-tahan, “shalat Asar itu dari tadi sudah lewat.”
Bardan yang baru masuk rumah hanya mengangguk singkat. Bajunya masih basah keringat, wajahnya kusam, langkahnya berat. Ia menaruh tas kecil berisi peralatan kerja di sudut rumah tanpa menjawab.
“Bang,” Syaribanun mengulang, kali ini menoleh. “Aku bukan mau marah. Kerja iya, tapi shalat selalu belakangan.”
Bardan menarik napas panjang. “Aku capek, Nun.”
“Aku tahu,” sahut Syaribanun cepat. “Aku juga tahu abang kerja buat kami. Tapi masa iya, urusan sama Tuhan selalu ditunda?”
Nada itu, meski lembut, tetap terasa seperti teguran. Dan bagi Bardan, yang sejak siang menahan emosi, itu cukup membuatnya meradang.
“Nun,” katanya, suara mulai meninggi, “aku dari tadi dimarahin juragan gara-gara kesalahan orang lain. Kepala masih panas. Jangan ditambah-tambah.”
Syaribanun berdiri. “Aku nambah apa? Aku cuma ngingetin.”
“Ngomel,” potong Bardan ketus. “Tunggulah barang sejenak, biar aku istirahat dulu.”
Syaribanun terdiam sejenak. Dadanya naik turun. “Kalau aku diam, nanti dibilang istri nggak peduli. Kalau aku ingetin, dibilang cerewet.”
Bardan membuang muka. “Aku ini kerja serabutan, Nun. Bukan juragan yang bisa santai atur waktu. Kadang baru sempat narik napas aja rasanya susah.”
“Aku nggak minta abang santai,” suara Syaribanun mulai bergetar. “Aku cuma mau abang inget… kita hidup bukan cuma buat cari uang.”
Kalimat itu membuat Bardan terdiam. Tapi egonya yang terluka lebih dulu berbicara.
“Kalau nggak cari uang, kita makan apa?” bentaknya. “Doa doang nggak bikin dapur ngebul!”
Ucapan itu seperti pisau. Syaribanun memalingkan wajah, menahan panas di matanya. “Aku nggak pernah bilang doa doang cukup.”
Hening jatuh di antara mereka. Hanya suara hujan yang kembali turun, kini mulai lebat.
Bardan mengambil pecinya, lalu berhenti. Tangannya gemetar. Entah karena marah, lelah, atau malu.
“Abang keluar sebentar,” katanya pendek.
“Bang—” Syaribanun memanggil.
Namun Bardan sudah melangkah pergi, membuka pintu dan membiarkan hujan mengguyur tubuhnya. Ia melengos, memilih basah daripada harus kembali berhadapan dengan kata-kata yang membuatnya merasa kecil.
Dari dalam rumah, Syaribanun duduk kembali di sofa. Perasaanya diliputi gundah gulana, bukan karena benci, tapi karena takut—takut suaminya terlalu sibuk bertahan hidup sampai lupa pada hal-hal yang seharusnya menyelamatkan mereka.
Dan di ujung jalan, sekitar lima puluh langkah dari rumah, Bardan berhenti. Menatap hujan, menelan amarahnya sendiri. Ia tahu, istrinya tidak salah. Tapi hari ini, dadanya terlalu penuh untuk mengakuinya.
***
Suara berdentum seperti bunyi ledakan tiba-tiba membuat bumi berderak. Sesuatu berwarna hitam meluncur dari arah bukit diantara pepohonan. Hanya dalam hitungan detik suara jeritan Syaribanun hilang bersamaan dengan timbunan ribuan kubik tanah yang melenyapkan rumahnya. Bardan yang berbalik cepat tak bisa berkutik, teriakannya hilang tertelan gemuruh, karena bersamaan waktunya ketika hempasan ribuan ton debit air bandang juga menghantam tubuhnya dari arah hulu sungai di kaki bukit.
Sebuah kayu gelondongan menghantam kakinya, membuatnya mati rasa. Tubuhnya seperti kayu yang hanyut tak berdaya meskipun Bardan berusaha terus berenang sambil menarik apapun di dekatnya agar tubuhnya bisa berlabuh. Hingga akhirnya semua berubah menjadi gelap.
***
Matahari sudah sepenggalah ketika ia tersadar, dan terbangun. Tubuhnya tersangkut di dahan kayu besar yang merentang di permukaan air. Kakinya menjuntai, tapi tak bisa dirasakannya lagi, seperti lumpuh layu tanpa rasa.
Tanah di sekelilingnya telah berubah menjadi danau, tak ada lagi batas. Bahkan rumahnya yang tak jauh dari bukit kini lenyap berubah menjadi tumpukan tanah seperti bukit baru.
Ketika perlahan tersadar, Bardan baru menyadari jika rumah dan juga istrinya Syaribanun seluruhnya telah tertimbun longsoran. Tiba-tiba ia terisak, teringat karena sebelumnya mereka baru saja bertengkar, karena perempuan yang telah menjadi pasangan hidupnya lebih dari dua belas tahun, baru saja mengingatkan tentang Tuhan yang dibantahnya. Bardan menyesal karena semua harus berakhir dengan cara begini.
***
Berhari-hari setelah bencana itu, Bardan bergerak seperti bayangan manusia, meski hidup, tapi jiwanya tersangkut entah di mana. Setiap pagi, sebelum kabut benar-benar terangkat dari permukaan danau baru itu, ia menyeret tubuhnya ke masjid kecil di ujung kampung. Kakinya yang remuk membuat setiap langkah seperti disayat, tapi ia memaksa. Ia merasa harus sampai. Harus memulai hari dengan satu hal yang masih bisa ia lakukan untuk Syaribanun.
Ia naik ke mimbar kecil itu, memegang mikrofon yang sudah kusam, dan menarik napas panjang. Suaranya pecah ketika mengumandangkan azan. Nada suaranya tak setinggi dulu, parau, berat, seperti setiap lafaznya membawa beban tanah dan air yang menelan rumahnya. Orang-orang kampung terdiam, mereka tahu Bardan sedang memanggil sesuatu yang lebih dari sekadar waktu salat. Ia sedang memanggil pulang seseorang yang mungkin tak akan pernah kembali.
“Hayya ‘alash shalah…” suaranya terguncang. Orang-orang yang mendengarnya, ada yang menunduk, ada yang menghapus air mata.
Setiap selesai azan, ia menatap bukit yang kini membuat degub jantungnya terasa kosong. Di situ rumahnya. Di situ istrinya hilang. Di situ ia terakhir kali melihat wajah perempuan yang, meskipun cerewet, ia adalah satu-satunya orang yang menemaninya dalam segala kekurangan hidupnya.
Pencarian dimulai sejak hari pertama bencana. Tim SAR datang, relawan berdatangan, excavator menggeruk tanah yang kini seperti bubur. Tapi setiap kali sekop atau cangkul mengangkat sesuatu berwarna gelap, Bardan langsung berlari tertatih, walau tubuhnya hampir roboh. Ia tak peduli rasa sakit yang menggerogoti kakinya.
“Bang, istirahat dulu,” pinta salah satu relawan.
“Kalau aku berhenti… nanti dia kedinginan di dalam sana,” jawab Bardan lirih, suaranya pecah oleh logika yang tak lagi berpijak pada sesuatu yang nyata. Tapi siapa bisa menyalahkannya? Ia kehilangan cara untuk mencintai selain terus mencari.
Malam harinya, ia tidur di posko, tapi hanya setengah tidur. Setiap suara cangkul terdengar seperti panggilan. Setiap gemerisik tanah terdengar seperti suara Syaribanun yang memanggil namanya.
Kadang ia meracau, “Banun… Abang sudah di sini. Jangan takut. Abang salah. Abang nyesal. Abang janji tak bakal marah lagi.”
Pada hari keempat, seseorang menemukan potongan kain floral yang tersangkut di akar pohon besar, setengah terkubur. Warna pink yang sudah kusam. Motif bunga kecil. Itu kain daster favorit Syaribanun yang biasanya ia pakai kalau sedang malas berdandan, yang ia pakai juga pada pagi ketika mereka bertengkar.
Bardan lunglai melihatnya. Ia mengambil kain itu, memeluknya, mencium bau tanahnya, berharap masih ada jejak aroma tubuh istrinya. Tapi yang ia hirup hanya bau lumpur. Lumpur dingin yang menelan semuanya.
Itu pertama kalinya ia menangis keras. Tangis yang tak keluar saat ia sadar kakinya lumpuh. Tangis yang tak keluar saat ia terbangun di atas kayu di tengah banjir. Tangis itu pecah seperti tanah longsor kedua.
“Banun… maaf…” suaranya hampir tak terdengar.
Hari demi hari, azan Bardan semakin lirih, bukan karena ia menyerah, tapi karena tubuh dan suaranya mulai kalah oleh kesedihan. Namun ada satu hal yang tidak pudar, keyakinannya bahwa jika ia terus memanggil, mungkin Allah berbelas kasih mempertemukan mereka, entah di dunia atau di akhirat.
Dan setiap selesai azan, ia tetap melakukan hal yang sama, memandang bukit luka itu, menunggu sesuatu bergerak, menunggu suara kecil memanggil namanya, menunggu satu keajaiban kecil untuk menutup penyesalan panjang yang tak akan pernah benar-benar sembuh.
Tapi sampai hari itu, hanya angin yang menjawab. Membawa sisa aroma tanah basah dan gema kesunyian yang membuat penyesalan Bardan terasa semakin dalam, semakin nyata, semakin menjerat.
Ia terus azan. Ia terus mencari.
Karena mencintai, bagi Bardan, bukan lagi tentang memiliki.
Tapi tentang menolak berhenti berharap, walau yang dicari mungkin sudah lama pergi.
***