Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sudah cukup bagi Gemma menangis seminggu penuh setelah mendapatkan vonis mematikan dari dokter. Apalagi setelah membayangkan sisi-sisi kewanitaannya bakal habis dimakan penyakit dan pengobatan, ugh, membuat Gemma sebal sekaligus pasrah.
Sekarang saatnya berhenti mengasihi diri sendiri. Otak Gemma kemudian merancang sebuah rencana nekat, gila, dan mungkin bakal mencoreng harga dirinya sebagai perempuan di depan orang itu. Selamanya. Toh, sebelum berpisah dengan si kembar Monica dan Stephany, ia harus manfaatkan mereka untuk tampil cantik. Gemma harus menjadi wanita paling menarik untuknya. Oh, Tuhan. Mau mati Gemma rasanya karena saking tidak sabar ingin merealisasikan rencana terbesarnya dalam 25 tahun kehidupannya singkat ini.
Padahal, kalau dipikir-pikir justru kanker payudara stadium tiganya yang bisa membuat Gemma mati. Gadis itu malah mau merayu atasannya. Namun, sebelum berpisah dengan Monica dan Stephany—si kembar yang bakal terkena imbas mastektomi jika dokter mentitah harus membuangnya—dan sebelum akal sehat menguasainya, Gemma tidak peduli dengan hal lain. Urusan rumah sakit, operasi, dan kemoterapi akan Gemma letakkan dulu di laci prioritas kedua di kepalanya. Sebab, laci pertama telah diisi dengan sebuah misi, yaitu mengajak pria yang disukainya sejak beberapa tahun belakangan untuk berkencan dengannya.
***
"Ke mana, dia?" Liam bergumam pada permukaan cairan kopi yang hendak diseruputnya. Hari ini Liam sama sekali tidak bisa berkonsentrasi membaca laporan analisis persaingan merk kosmetik di media sosial di atas mejanya. Sebab, penglihatannya selalu saja tertuju pada kubikel kosong yang terletak tepat di depan ruangannya. Gadis yang menempati kubikel itu belum muncul juga, padahal sudah pukul sepuluh pagi. Ia sangat hapal gadis itu tidak pernah terlambat.
Liam kembali melirik jam digital di samping laptopnya untuk yang ke sejuta kali. Yang ditunggu belum datang juga. Justru perasaannya makin tidak keruan.
Liam begini gara-gara memergoki gadis itu menangis setelah menerima telepon dari entah siapa dua minggu yang lalu. Sejak saat itu Liam tidak lagi menemukan gadisnya tersenyum, menyapa rekan kerjanya, atau menertawai hal remeh seremeh video kucing yang sedang bertingkah konyol di ponselnya. Yang lebih konyol lagi Liam tahu kebiasaan gadis itu menonton video-video kucing di media sosial!
Apa yang terjadi dengannya? Senyumnya hilang, ia menangis, dan kini batang hidungnya belum juga muncul di kantor. Liam sampai frustrasi memikirkan jawabannya.
Sebuah suara kecil menggema di belakang kepala Liam.
Hei, Bodoh. Telepon saja gadis itu.
Itu masalahnya. Liam pikir mana pantas pria tua karatan sepertinya menelepon gadis manis, energetik, cantik, dan ... muda itu hanya untuk menanyakan kabarnya? Apalagi status dudanya. Ah, apa kata dunia? Apa ia akan dicap genit? Tidak tahu diri? Over confident?
Demi Tuhan! Kalian hanya beda sembilan tahun, bukan dua dekade. Kau bukan kakek tua. Lagi pula usia hanyalah angka, Liam. Memangnya menjadi duda dosa besar? Memalukan? Hina? Hanya manusia bodoh yang tetap memercayai stigma konyol itu.
Liam mendengkus geli diikuti dengan tawa kecil yang mengisi ruangannya yang tenang. Ia baru sadar telah bertingkah bodoh. Bodoh karena dibodohi cinta.
Oh, astaga. Pria itu tertawa sendiri sekarang.
"Dibodohi cinta," gumamnya. Liam akui dirinya memang telah menjadi bodoh gara-gara tidak mampu mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Memendamnya selama bertahun-tahun malah terdengar lebih mengenaskan dan kasihan ketimbang bodoh.
Menjadi duda bukanlah pilihannya. Istrinya sudah lebih dahulu menemui Tuhan. Ia menyayanginya. Sangat. Akan tetapi sudah lima tahun May meninggalkannya. Liam hanya ingin membuka lembaran baru dan menulisnya dengan seorang kekasih yang ia cintai dan wanita itu juga mencintainya. Intinya, ia sudah terlalu lama sendiri, akan tetapi belum ada yang mampu menyamai May. Mungkinkah … gadis itu?
Butuh waktu beberapa saat sampai akal sehatnya kembali. Kini Liam membuat sambungan telepon melalui ponselnya. Untuk apa takut menghubungi gadis itu? Ia adalah atasannya. Ada seribu satu alasan mengapa Liam bisa menelepon stafnya yang belum muncul di kubikelnya, kan? Misalnya, "Mau makan siang berdua denganku?"
Liam mengguncang kepalanya kencang-kencang. Barusan adalah pemikiran amat konyol. Sembari menunggu teleponnya diangkat, pintu ruangan terbuka dan jantungnya langsung bereaksi berlebihan. Ia berdebar amat kencang hanya karena kepala gadis yang sedang ia telepon muncul dari balik pintu.
***
"Mr. Collins. Anda meneleponku?"
"Gemma?" Liam terlihat kaget setengah mati sampai-sampai terlonjak di kursinya. Ia meletakkan ponselnya tergesa-gesa ke meja.
Tanpa basa-basi Gemma masuk dan mematikan panggilan telepon dari Liam.
Sebelum bicara, Liam berdehem. "Duduk."
Gemma patuh dan mengikuti perintah atasannya.
"Bahan rapat strategi pemasaran lipstik baru kita ‘Glossy All Day’ sudah beres, Gem?"
Bibir Gemma tersenyum lebar untuk pertanyaan ini. Ia sudah memperingatkan dirinya untuk sering tersenyum. Mulai hari ini. "Sudah. Apakah Anda mau memeriksanya sekarang? Aku bisa mengirimkannya ke e-mail sekarang juga." Baru saja Gemma ingin berdiri agar segera ke kubikel dan berniat mengirim bahan rapat melalui komputernya, suara atasannya menghentikan gerakan Gemma.
"Nanti saja." Liam melambaikan tangannya ringan. "Kalau begitu—"
"Mr. Collins," potong Gemma to the point tanpa merasa bersalah. Ia menyudahi basa-basi pekerjaannya tadi dan mulai melancarkan niatnya.
"Ya, Gem?"
“Apa Anda punya waktu malam ini? Aku ingin mengajakmu makan malam.”
“Makan malam?” Kedua alis Liam melengkung naik dengan sempurna.
"Ya. Berdua saja. Dan please, ini adalah rahasia kita. Jangan sampai ada orang yang mengetahui pertemuan kita nanti malam," pinta Gemma setengah memelas. Gemma tidak suka membuat divisinya heboh dengan informasi ini. Ia berjanji rencana ini hanya akan diketahui olehnya dan Liam, sampai mati. Frasa 'sampai mati' hanya lelucon. Bagaimanapun Gemma tidak mau Pak Tua Sanders, yaitu ayahnya, hidup sebatang kara jika ia menyusul ibunya ke surga.
Bola mata Liam terbelalak selama lima detik, detik berikutnya ia memajukan tubuhnya. Gemma tersentak sebab jarak mereka sedikit terkikis. Meski sedikit, jantungnya berdegup kencang. Namun, Gemma tidak mau mundur. Melihat sosok dihadapannya lebih dekat saja bagaikan memenangkan lotre satu juta dollar.
"Maksudmu, hanya kita berdua?"
Kepala Gemma mengangguk sekali. "Kenapa? Anda ... tidak mau?"
"Mau!" sahut Liam terlalu cepat.
Wajah Gemma pasti langsung merona kalau isi kepalanya transparan di hadapan Liam. Sebab, ia sedang bersorak-sorai merayakan usaha pertamanya yang langsung berhasil sekaligus ingin menangis. Iya, menangisi nasibnya. Bagaimanapun juga, kencan ini hanya akan berlangsung sementara. Setidaknya sampai sebelum Monica dan Stephanynya direnggut pisau bedah, sampai sebelum tubuhnya mengurus, jelek, dan botak akibat kemoterapi. Ini pesan dokter bedah onkologinya saat itu agar Gemma bisa mempersiapkan mental menghadapi akibat pengobatannya nanti.
"Kalau begitu, sampai bertemu nanti malam, Mr. Collins. Aku akan kirim alamat restoran tempat kita bertemu nanti."
Gemma sengaja menekankan kata 'kita'. Baginya kita sudah sangat intim dan spesial. Bahkan bisa dibilang sakral. Gemma berharap keinginan terakhirnya ini tidak berlebihan.
***
Dua bulan yang lalu Gemma merasakan ada yang aneh pada kedua payudaranya. Ada benjolan misterius yang tiba-tiba muncul di sisi Monica, lalu di sisi Stephany aerolanya mengkerut aneh dan ujungnya menciut ke dalam. Saat itu dada Gemma berdebar kalut. Setelah menjalani serangkaian konsultasi dokter hingga ia disuruh melakukan tindakan biopsi, apa yang telah ditakutkannya selama ini pun terjadi.
Setelah ibunya berjuang mati-matian melawan kanker payudara tiga tahun yang lalu dan berakhir hidup damai di sisi Tuhan, Gemma hanya bisa pasrah menerima takdirnya. Ia sudah tahu bahwa kanker kemungkinan besar akan menjadi warisan genetik yang akan diturunkan dari orang tuanya kepadanya, sebagaimana sebagian besar saudara laki-laki dan perempuan dari pihak ibunya yang juga menderita kanker payudara dan prostat. Entah bagaimana, sistem di otaknya langsung mengaktifkan mode bertahan, seakan-akan tubuhnya sudah siap merepetisi apa yang telah mendiang ibunya alami. Operasi, kemoterapi, dan berbagai macam terapi lainnya, jarum suntik, obat-obatan, rumah sakit, dan tentu saja menahan rasa sakit melawan si penyakit.
Namun, sebelum berubah menjadi jelek dan tidak sempurna sebagai wanita, Gemma ingin merasakan kencan dengan pria yang ia sukai dan hidup berpura-pura sempurna demi merasakan bunga-bunga bermekaran di dada. Bukan berarti para wanita yang mengalami kebotakan akibat kemoterapi dan kehilangan payudara gara-gara mastektomi membuat Gemma mencap mereka termasuk dirinya jelek. Hanya saja, di dalam pikirannya, gagasan itu terus merasuk ke alam bawah sadarnya. Apalagi bersanding dengan Liam Collins yang sempurna, mereka berdua tidak sebanding.
Untuk itu rencana ini digarap dalam waktu singkat. Gemma tidak mau berleha-leha. Jadwal kemoterapi pertama untuk mengecilkan ukuran benjolan di dalam Monica dan Stephany sebelum operasi sudah ditetapkan, akan tetapi ia hanya mau melakukannya setelah 14 hari. Maka dari itu, selama dua minggu Gemma akan mencari cara agar Liam mau berkencan dengannya.
Ah, lagi pula belum tentu pria itu mau. Ia hanyalah butiran permata kecil di tengah kilau berlian yang berserakan di setiap lantai kantor. Gemma hanya entitas kecil yang keberadaannya tak terlihat, tidak terlalu penting, dan tidak cantik. Hanya Charlie Sanders yang menganggap putri satu-satunya ini cantik memesona. Apalagi setelah berita kanker itu sampai ke telinganya. Ketika itu Charlie merangkul Gemma erat dan berkata, "Putriku yang cantik. Kau tahu Dad sangat menyayangimu. Kau tinggal satu-satunya yang harus Dad lindungi. Jadi, kita hadapi kankermu bersama-sama sebagaimana Dianaku dulu berjuang."
***
Gemma memoles ulang lipstik Glossy All Day warna petal blush yang diproduksi oleh perusahaannya setelah makan malam dengan Liam selesai. Ia sudah jatuh cinta pada warna ini semenjak bagian produksi mengirim sampel lipstik ke divisinya. Gemma mematut-matut penampilannya di cermin toilet sebuah restoran Perany tempat mereka bertemu janji.
“Sempurna,” gumamnya percaya diri.
Saat dirinya sudah berada di luar toilet, Gemma menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Ia melangkah dengan tegap. Gemma sudah siap dengan apapun jawaban Liam nanti.
***
Dia begitu … cantik.
Liam memutar bola matanya diam-diam karena telah memuji betapa cantiknya Gemma malam ini untuk kesekian kali dalam kepalanya.
Mungkin karena gadis itu memoles makeup, pikir Liam. Setahu Liam, Gemma tidak pernah terlihat memakai riasan di kantor. Hanya bedak tipis dan pelembab bibir yang warnanya pun setingkat di atas warna bibirnya. Jangan tanya Liam bagaimana ia tahu tentang itu! Atau karena gaun vintage bunga daisy tanpa lengan yang memeluk tubuh mungilnya dengan sangat pas? Intinya malam ini Gemma terlihat berbeda.
Namun, ketika pertanyaan itu terlontar dari bibir Gemma yang menggiurkan untuk dicicipi, pikiran Liam mendadak kosong. Bahkan penampilan Gemma yang tadinya memerangkap matanya untuk selalu menatap gadis itu kini buyar dihempas ombak pertanyaan yang mengejutkan.
“Apa? Kencan?” ulang Liam tak percaya.
Gemma mengajakku berkencan? Kembali, Liam menggemakan pertanyaan yang sama dalam kepalanya yang bingung.
Gemma mengucapkannya dengan penuh harap pada setiap kata-katanya, sampai-sampai Liam mengerutkan kening. Gemma yang ia kenal selama empat tahun terakhir adalah seorang wanita pendiam, lebih senang menjauhi keramaian, dan lebih suka menonton video kucing sampai terpingkal-pingkal sendiri di kubikelnya daripada bersenda gurau dengan sekelompok karyawan. Sekali lagi jangan tanyakan Liam bagaimana ia tahu tentang video kucing dan kebiasaan Gemma itu. Ia juga sering mendapati Gemma menolak ajakan teman-temannya untuk bersenang-senang di kafe atau pub setelah jam kerja selesai.
Tanpa sadar Liam menikmati ketenangan dunia yang diciptakan gadis oriental berambut lurus sepunggung itu.
Suatu saat ia memang ingin bergabung dengan dunia Gemma, tetapi Liam tidak menyangka ajakan kencan justru keluar pertama kali dari gadis itu, bukan dirinya. Liam mengakui ia memang pengecut karena tidak berani memulai. Bagaimana mau berani? Statusnya yang duda sudah membuat nilainya sebagai pria jatuh ke dasar jurang. Ah, nyali Liam ciut seperti kelomang penakut yang terombang-ambing ombak di tepian pantai Waikiki Beach.
“Mr. Collins?” Gemma menyadarkan kekalutan sesaat Liam.
“Ya?”
“Hanya dua minggu. Tapi hanya jika Anda mau. Kalau tidak mau …,” Liam bersumpah melihat kilatan kecewa di bola mata Gemma. “ya sudah. Aku tidak akan memaksa.”
Liam benar. Gemma memang kecewa. Kedua bahunya turun sempurna bahkan sebelum dirinya diberi kesempatan untuk menjawab.
“Apa yang membuatmu ingin berkencan denganku? Maksudku, bukankah ini terlalu tiba-tiba?”
“Aku menyukaimu. Apa itu sudah cukup?”
Ketegasan suara dan jawaban Gemma membuat Liam tersentak. Ia tidak siap dengan keterusterangan barusan. Tapi, bukankah itu bagus? Gemma menyukai dirinya, ia juga menyukai Gemma. Berbalas. Itu yang penting, kan? Analisis Liam memekarkan senyum di wajah tampannya. Namun, cepat-cepat ia tahan bibirnya merekah lebih lebar lagi. Liam tidak mau besar kepala terlalu cepat. Maka ini pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
“Mengapa kau menyukaiku? Memangnya apa yang kau lihat dariku, Gem?”
Dengan wajah merona, Gemma menggigit bibir bawahnya lalu berkata, “Anda adalah pria yang baik.”
“Jawabanmu terlalu klise. Sekuriti gedung ini juga baik dan ramah kepada siapa saja yang melewati pintu lobi. Lebih spesifik, Gem.”
Gemma mendengkus geli. “Baiklah. Anda pernah meminjamkan jaket untuk menutupi noda darah menstruasi di rokku di saat rekan-rekanku menghindariku diam-diam. Entahlah, mungkin karena warna kulitku yang kuning dan mata sipit ini membuatku sedikit kesulitan berbaur. Hari pertama menstruasi, sakit perut, mood swing. Hari itu benar-benar kacau. Anda menolongku dan tidak jijik memberikan jaket kepadaku. Keesokan harinya, sebuah tas berisi camilan manis, menstrual pad, dan beberapa merek pembalut dan tampon terletak di mejaku. Perhatian Anda menghangatkan hatiku. Sungguh.”
“Kejadian itu sudah tiga tahun yang lalu, Gem. Sudah lama sekali.”
“Aku tahu. Tapi bagiku kejadian itu seakan baru terjadi kemarin. Memori itu begitu berkesan. Aku tidak akan melupakan kebaikan Anda, Mr. Collins.”
Hati Liam ikut-ikutan menghangat dibuatnya.
“Saat itu kau terlihat pucat seperti mau mati.” Liam melipat bibirnya mengingat kondisi Gemma waktu itu. “Aku tidak bisa mengabaikan orang lain kesakitan, Gem. Percaya padaku. Melihatmu sakit membuat hidupku tidak tenang.”
Gemma tersenyum simpul. “Terima kasih. Aku tahu Anda adalah orang baik. Kalau tidak baik, Anda tentu akan meninggalkanku lembur sendirian sampai malam dan tidak akan membantu menyelesaikan pekerjaanku. Oh, dan makanan ringan yang selalu hadir di laciku beserta catatan berisi penyemangat hari. Dan di luar urusan pekerjaan, Anda tidak pernah ragu membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Bahkan para janitor kantor tidak luput dari perhatian Anda, Mr. Collins. Mm, apa lagi, ya?”
Kedua pipinya terasa panas. Liam harus segera menghentikan ocehan Gemma sebelum ia salah tingkah dibuatnya.
“Gemma—”
“Apa aku sudah menyebutkan Anda tampan, Mr. Collins? Anda tipeku banget, by the way.” Gemma tersenyum amat lebar.
Liam terbatuk selama sepuluh detik. Sungguh, kelugasan dan keterusterangan Gemma bisa membuat pipinya menghangatkan. Debar jantungnya mengalahkan kekuatan tabuhan drum Phil Rudd dari AC/DC.
“Terima kasih,” ucap Liam saat Gemma mendorong gelas berisi air putih ke arahnya.
“Jadi, apa jawaban Anda, Mr. Collins? Apa perasaanku berbalas? Apa Anda mau berkencan denganku selama dua minggu?”
Please say yes. Gemma menggemakan doa-doa dalam kepalanya.
***
“Gemma,” suara Liam tersendat tiba-tiba. “terima kasih karena telah mengajakku berkencan. Kalau …” Ini kesempatanmu, Liam Collins. “... kau ingin berkencan denganku,” Buktikan bahwa kau bukan pria pecundang. “mulai malam ini ...,”
“Ya, Mr. Collins?”
“panggil aku Liam.”
***
“Liam. Liam. Liam.”
Gemma menyenandungkan nama itu saat tangannya dengan gesit memindahkan french toast terakhir yang telah berwarna kuning keemasan dari pan ke piring. Ia baru tahu hanya dengan mengganti sebuah panggilan bisa membuat hatinya menggelembung bahagia.
Setelah melengkapi piring sarapan dengan sosis panggang dan telur mata sapi sunny side up, Gemma memanggil ayahnya untuk bergabung di meja makan. “Dad. New York Post tidak akan membuatmu kenyang. Surat kabar itu suka menggiring opini dan membuat harimu buruk setelah membacanya. Lebih baik segera habiskan sarapanmu sebelum kopimu dingin. Percaya pada putrimu ini.”
“Jika semangat putriku selalu melambung seperti ini setiap hari, aku akan berterima kasih pada siapa pun itu dan mengundangnya makan malam setiap hari.” Charlie terkekeh dan mengambil posisi di sisi kanan Gemma. “Siapa dia, Nak? Beri tahu Pak Tua ini. Umurku tinggal sedikit, Gem.” Charlie melahap isi piringnya dengan cepat.
Gemma memutar bola matanya dramatis. Lagipula, entah siapa yang umurnya tinggal sedikit di antara mereka. Sebentar! Bagaimana ayahnya tahu ia sedang bersemangat? Terkadang tebakan ayahnya membuat Gemma merinding.
“Habiskan saja sarapanmu, Charlie,” katanya di dalam piring.
Tepat saat Gemma mengangkat kepala, Charlie menoleh padanya. “Ada yang ingin kau bagi denganku, Nak?”
Gemma menggigit bibir bawahnya. Lagi pula ia tidak bisa menyimpan berita bahagia ini sendirian. Toh, selama ini kalau bukan kepada ayahnya, pada siapa lagi?
“Aku berkencan dengan seseorang.” Gemma menahan napasnya menunggu reaksi Charlie.
Tak disangka alis Charlie melengkung naik dan bola matanya berbinar. Pak tua itu memutar tubuhnya menghadap Gemma dengan antusias.
“Ceritakan padaku. Siapa dia? Apa pekerjaannya? Berapa usianya? Siapa orang tuanya? Suruh dia ke rumah dan makan malam bersama. Aku harus bicara dengannya. You know, untuk memastikan dia tidak akan mempermainkan putriku.”
“Whoa, relax, Dad. Aku hanya berkencan. Kami tidak sejauh itu sampai kau harus menginterogasi dia. Lagi pula ini hanya sementara. Setelah dua minggu kami selesai,” jelas Gemma dengan mantap dan percaya diri.
“Selesai?” Kerutan di kening Charlie semakin dalam.
Gemma menggigit bibir bawahnya. Kali ini lebih kuat. Charlie tidak akan meninggalkannya sampai apa yang ia inginkan didapatkannya. Lebih baik ia ceritakan saja semuanya.
“Apa rencanaku terlalu memaksa? Terlalu berlebihan?”
“Setelah dua minggu, apa yang akan terjadi pada kalian? Apa kau sudah memikirkannya?”
“Aku berencana resign. Aku … tidak akan bertemu dia lagi, so ….” Gemma mengangkat bahunya tidak yakin.
“Gemma, bagaimana dengan perasaanmu? Bagaimana dengan perasaannya? Jika kalian benar-benar jatuh cinta, apa yang akan kau lakukan, Nak? Kita tidak boleh mempermainkan hati orang lain. Dan apa yang kau rencanakan ini, tak lebih dari permainan hati.”
Ada nada ketegasan yang Gemma tangkap, tapi kelembutan turut mengiringi nasihat Charlie.
“Tapi, Dad ….”
“Bukannya aku pesimis dengan pengobatan mutakhir zaman sekarang. Aku tetap percaya putriku akan sembuh seratus persen karena kau masih muda. Kau akan cepat pulih. Beda dengan ibumu yang mulai berperang dengan penyakit setelah tubuhnya menua. Jadi, bukankah kau juga harus memikirkan kemungkinan sembuh, Nak? Sehingga rencana kencan dua minggu ini mungkin bisa ditunda atau tidak sama sekali?”
Gemma memandang nanar pada piring yang tak sampai setengahnya kosong. Ayahnya benar. Ia … sedang bermain-main dengan hati. Ia memang menyukainya. Tapi, kalau ia benar-benar jatuh cinta pada Liam, apa yang harus ia lakukan terhadap hatinya? Apakah ia harus bersiap-siap untuk patah hati merelakan Liam Collins? Demi Tuhan. Gemma pun tidak mau Liam jatuh cinta pada wanita tak sempurna ini.
“Kalau … kalau aku berakhir seperti Mom?” cicit Gemma. Ia tak berani menatap mata tua ayahnya yang selalu mampu melihat kebenaran dan kebohongan. “Aku … ingin merasakan jatuh cinta … saat tubuhku sempurna, Dad.”
Ketika kepalanya tak berani menghadapi tatapan kasihan Charlie, Gemma justru merasakan kehangatan rangkulan ayahnya yang kokoh dan lembut di saat yang sama.
“Mencintai bukan berarti harus diisi oleh kesempurnaan, akan tetapi cintalah yang menyempurnakan ketidaksempurnaan itu. Aku yakin dia akan datang pada saat yang tepat dan mencintai ketidaksempurnaanmu, Nak. Percayalah pada Pak Tua yang sudah hidup terlalu lama ini.”
***
Kencan Pertama
“Morning, Luke.”
Kening Lucas mengernyit saat temannya menyapa terlalu girang di pagi yang cerah ini.
“Morning, Mate. Mimpi indah tadi pagi?” Dua pria itu berjalan menuju lift dengan santai.
“Rasanya seperti mimpi yang berubah jadi nyata.”
Memang itulah yang dirasakannya. Ia berkencan dengan Gemma dan rasanya seperti mimpi. Dan ini adalah hari pertama mereka. Ah, Liam tak sabar bertemu Gemma.
Mana gadis itu?
Liam memutar kepalanya ke seantero lobi. Jantungnya berdetak sedikit kencang saat menemukan gadisnya menunduk saat berjalan di belakangnya. Baru saja mau menyapa dengan hangat, ia langsung teringat dengan perjanjian semalam. Hubungan ini adalah hubungan rahasia. Jadi Liam menahan suaranya tetap berwibawa saat menyapa teman kencannya.
“Morning, Gem.”
Gemma justru tampak terkejut ketika menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.
“Oh, Morning, Mr. Collins. Morning, Mr. Martinez.”
Lucas mengangguk sekadarnya. Liam tersenyum tipis, tapi Gemma keburu menunduk, seakan-akan ujungnya sepatunya lebih penting daripada senyum Liam.
Ada apa dengan dia? Apa Gemma tidak senang bertemu denganku?
Dua pria itu sudah masuk lift. Tangan Liam sengaja menahan pintu sampai gadisnya masuk. Namun, Liam dibuat bingung ketika Gemma mematung tepat di depan pintu lift.
“Ayo, Gem.”
“Ma-maaf Mr. Collins. Aku, aku harus membeli kopi di kafe dua blok dari gedung ini.”
Dan Gemma meninggalkan Liam yang ternganga. Matanya terus mengikuti punggung Gemma hingga pintu lift menutup.
Apa aku berbuat salah di hari pertama kami?
Pertanyaan ini terus berputar seperti carousel di kepalanya.
***
Sepertinya kencan sempurna dengan pria yang disukainya hanyalah mimpi di siang bolong. Ide nekat ini benar-benar bodoh. Charlie benar. Gemma tidak memikirkan akibat jika ia benar-benar jatuh cinta pada pria itu. Egois. Ia sangat egois. Tak hanya ia yang akan tersakiti, tapi kemungkinan besar Liam juga.
“Apa yang harus aku katakan pada Mr. Collins?”
Pandangan Gemma kosong menatap layar komputer.
“Memangnya apa yang ingin kau katakan padaku, Gem?”
Sekonyong-konyong Gemma terlonjak dari kursinya. Rasanya jantungnya melompat keluar dari rongganya.
“Lia-maksudku Mr. Collins? Sejak kapan Anda berdiri di situ?”
“Baru saja. Jadi, apa yang ingin kau katakan?”
Liam makin memutus jarak mereka. Kehadiran Liam di sisi kanannya mengalirkan hawa panas dan rindu di saat yang sama. Ia tidak boleh larut dalam khayal indahnya yang bodoh tentang Liam. Tanpa pikir panjang, Gemma berdiri dari kursinya.
“Aku harus ke toilet. Permisi.” Perempuan itu melesat bak ayam yang dikejar serigala. Namun, Gemma lebih tepat seperti ayam pecundang yang melarikan diri dari Liam Collins. Lagi.
***
Hari Berikutnya
“Hei, kau jadi ke rumahku? Kita harus menonton Lakers menang malam ini, Man. Ingat, kan?” Lucas menyenggol lengan sahabatnya saat baru keluar dari lift.
“Iya, aku ingat,” ujar Liam sedikit bosan.
Tapi Lucas tidak akan pernah bosan membuat sahabatnya kembali ceria. Liam seperti kulkas berjalan hari ini. Seakan-akan matahari enggan menghangatkan hati sahabatnya.
“Oh iya. Ibuku membuat guacamole kesukaanmu. Katanya, ‘Kasihan Liam. Dia sendirian saja di apartemennya. Bawa dia ke rumah kita. Jejalkan masakanku sampai perutnya tidak rata lagi, baru dia boleh pulang.’” Lucas tertawa terbahak-bahak mengulang perkataan Mrs. Martinez.
“Hentikan, Luke.”
Sindiran Lucas memang tepat sasaran. Kulit wajah sahabatnya memerah dalam hitungan detik. Kesendirian Liam sudah menjadi bulan-bulanan Lucas selamat berapa tahun terakhir. Jangan salah. Sudah banyak wanita dengan berbagai tipe yang Lucas sodorkan untuk mengganti sosok May. Sayangnya tidak ada ikan yang menyangkut di jala yang ditebar Lucas untuk Liam. Entah itu karena Liam tidak menyukai pilihan Lucas, atau ia beralasan sedang tidak mood memulai hubungan baru. Jujur, Lucas prihatin dengan sahabatnya itu.
“Sofia, keponakan ibuku dari kakak laki-laki pertamanya yang sudah menjadi dokter mata juga datang nanti malam.”
“Lucas Martinez. Aku sedang tidak ingin membahas perjodohan.”
“Hanya bertemu, Kawan. Aku tidak pernah memaksa. Keputusan terakhir tetap di tanganmu. Eh, sebentar. Itu bukannya Miss Sanders?”
Kepala Liam langsung mencari-cari di area lobi. “Mana dia?”
“Itu. Gadis yang mengendap-endap di depan meja resepsionis. Apa-apaan memakai scarf di kepala? Seakan-akan takut penyamarannya terbongkar saja.”
“Man, aku minta maaf tidak bisa ke rumahmu,” ucap Liam buru-buru sambil mengikuti pergerakan Gemma yang mulai menghilang di balik pintu lobi yang berputar. “Sampaikan salamku pada Mrs. Martinez. Lain kali aku akan meminta beliau membuatkanku guacamole.” Liam mulai beranjak menjauhi sahabatnya.
“Memangnya kau mau ke mana?”
“Aku harus mengejar sesuatu.”
“Sesuatu?”
Liam berteriak dari kejauhan. “Tidak sekarang, Luke.” Dan Liam benar-benar menghilang dari pandangannya.
“Hai, Sayang. Ke mana Liam? Dia buru-buru sekali. Apa dia sedang sakit perut?”
“Babe.” Lucas mencium singkat bibir kekasihnya dan merangkul erat pinggangnya. Ia tak mau melepasnya meskipun sedang berada di lobi kantor. “Sayang, sepertinya aku tidak perlu lagi mencarikan jodoh untuk Liam.”
Kedua alis Sasha terangkat. “Dia sudah punya kekasih? Apa kita akhirnya akan mendengar lonceng pernikahan?”
“Aku belum yakin. Tapi aku sungguh berharap kali ini Liam menemukan belahan jiwanya.”
***
“Gemma, tunggu,” teriak Liam di belakang.
“Dad, ayo cepat,” ucap Gemma tepat setelah menutup pintu mobil ayahnya. Ia membuka asal scarf yang terpasang di kepalanya dan melemparkannya ke kursi belakang. Ia pikir bisa mengelabui Liam dengan pergi mengendap-endap saat jam pulang kantor, tapi Gemma kurang gesit. Liam ternyata mengenalinya dan mengejarnya. Ugh, Gemma merasa seperti maling saja.
“Cepat bukan kata yang tepat digunakan di kota New York, Nak. Dan usiaku sudah tidak mahir lagi menyalip dengan roda empat,” tukas Charlie.
Tepat sebelum Charlie menginjak pedal gas, jendela kaca Gemma digedor. Gemma terlonjak kaget dan level kepanikannya makin meningkat.
“Gemma, aku mau bicara,” ucap Liam tak sabaran.
“Dad, kita bisa terlambat.”
“Bibimu tidak akan bertanya mengapa kita terlambat menghadiri pesta minum tehnya. Sebaiknya kau biarkan pemuda itu bicara sebelum dia memecahkan kaca jendela Tesla baruku, Nak.”
“Charlie!” ucap Gemma kesal di antara gigi-giginya yang merapat. Namun, beberapa detik kemudian Gemma menyerah. Tidak ada gunanya berdebat dengan ayahnya, sebab sudah pasti ia akan selalu kalah. Gemma akhirnya menurunkan kaca jendela dengan enggan. Nampak ada raut kelegaan di wajah Liam dan rasa bersalah Gemma makin besar.
“Ada apa, Mr. Collins?”
“Bisakah kita bicara sebentar? Maksudku di luar.”
“Pergilah sebentar, Nak. Aku akan bilang pada Bibi Madeleine kalau kita terjebak macet.” Lalu Charlie berpaling pada Liam. “Kau, siapa namamu, Anak Muda?”
“Liam, Sir. Liam Collins.”
“Nak, aku hanya akan memutari beberapa blok. Bicaralah sebelum mobilku sampai di sini kembali.”
“Terima kasih banyak, Mr. Sanders.”
Mobil Charlie telah pergi semenit yang lalu, tapi dua manusia ini malah sibuk menatap trotoar jalan yang kumuh.
“Apa aku berbuat salah sampai kau menghindariku? Tapi masalanya kita bahkan belum memulai secara resmi kencan pertama kita.” Liam mulai bermonolog. “Mengapa tiba-tiba kau menghindariku, Gemma Sanders?”
“Maaf. Aku tidak bermaksud menghindarimu, Mr. Collins.” Gemma mencicit. Ia masih betah menunduk. Sebab Gemma malu menatap mata Liam sekaligus malu telah menjerumuskan Liam ke dalam rencana egoisnya.
“Gemma, tolong tatap mataku saat bicara. Please?”
Suara Liam yang melembut malah membuat bola matanya mengabur. Setetes bening lolos dari sudut matanya.
“Gemma,” panggil Liam lebih lembut.
Gadis itu tersentak saat sentuhan kecil terasa di dagunya. Liam menarik lembut dagu Gemma hingga kepala gadis itu sedikit mendongak dan memperlihatkan wajahnya yang sendu.
“Kau … menangis.”
“Maaf.” Suaranya berubah serak. Gemma memalingkan wajah dan mengelap air mata sekenanya dengan punggung tangan. “Ini … salah. Seharusnya sejak awal aku tidak mengajak Anda berkencan.”
“Tapi waktu itu kau bilang kau menyukaiku, Gem. Faktanya aku juga menyukaimu, makanya aku setuju mengawali hubungan ini dengan kencan, seperti keinginanmu. Lalu di mana letak kesalahannya?”
Debaran jantung Gemma mendadak meningkat.
Liam menyukaiku. Liam Collins menyukaiku! Tidak. Ini tidak benar. Tapi ini juga berita bagus, bagus sekaligus bencana. Bencana yang indah! Hah! Tapi, kalau hubungan ini diteruskan, bagaimana nasib kami setelah ini? Setelah operasi, kemoterapi, dan tetek bengeknya? Apa aku akan dicampakkan setelah tahu tubuhku dihinggapi kanker payudara?
Meski pikirannya berkecamuk, Gemma ingin mendengar pengakuan Liam sekali lagi. Jujur, terasa sedikit mengobati hatinya. “Kau … juga menyukaiku, Mr. Collins?”
Liam melempar tangannya ke udara diiringi raut setengah kesal. “Berhenti memanggilku Mr. Collins, Gemma. Dan ya, aku menyukaimu.” Liam melarikan tangannya ke leher dan menggosok-gosok tengkuknya. Ada rona samar yang memerahkan pipi pria itu.
Diam-diam pengakuan Liam menghangatkan hatinya yang sedang gundah.
“Sejak kapan kau menyukaiku?”
“Sepertinya sejak kau muncul di divisiku? Aku tidak tahu pasti. Tapi yang pasti hari-hariku berubah cerah semenjak kau bekerja denganku. Pekerjaanku menjadi membosankan jika kau tidak masuk kerja atau kau sedang bertugas di luar kantor.”
Oh Tuhan.
Gemma terkesiap. Apa yang harus dilakukannya?
“Gem, aku tidak menemukan keanehan atau apalah itu dengan hubungan kita yang membuat kau menjauhiku. Tidak ada salahnya kita memulai hubungan ini dengan sebuah kencan manis. Aku akan sangat berterima kasih jika kita lebih sering bertemu dan melakukan hal yang kau dan aku sukai bersama-sama.”
Bersama-sama.
Terdengar seperti janji yang manis. Namun, bisa saja semua janji indah berakhir secepat kedipan mata kalau dia tahu aku menderita kanker payudara stadium tiga dan kemungkinan besar Monica dan Stephanyku akan direnggut dariku.
“Liam …,” Dadanya terasa berat saat akan menyampaikan kebenaran. “Kau tahu, manusia tak selamanya hidup abadi dalam kondisi primanya.”
Kening Liam mengernyit. “Apa yang sebenarnya ingin kau bilang, Gemma Sanders?”
“Maksudku, wajar jika nanti kau, aku, dan semua orang menjadi tua suatu saat nanti. Itu adalah perubahan alami yang tak bisa kau hindari. Tapi, jika … semisal aku … tiba-tiba berubah jelek seperti alien keriput berdada rata sebelum masa tuaku tiba, apa kau masih menyukaiku?” beber Gemma terbata-bata.
Liam tergelak, bahunya ikut bergetar setelah mendengar penjelasan ‘aneh’ Gemma.
Liam terpaksa membungkuk saat kedua telapak tangannya yang lebar melingkupi kedua pipi Gemma yang menghangat karena malu. Kepala Gemma hanya sebatas bahu Liam, by the way. Apalagi ketika ibu jari Liam mulai membelai lembut pipinya dengan gerakan menghipnotis. Gemma kesulitan bernapas dibuatnya.
“Jadi itu yang kau takutkan, hm?”
Sebagai jawaban, Gemma mengangguk. Lidahnya kelu karena jarak mereka terlalu dekat. Dan Liam mengukung kepalanya dengan lembut, membuat otaknya bekerja lebih lambat.
“Aku tidak tahu apa alasan di balik kekhawatiranmu, tapi aku berpengalaman pernah mencintai seseorang hingga tubuhnya keriput dan tidak berdaya.”
Gemma berani bersumpah melihat kilatan luka di mata Liam. Atau itu hanya perasaannya saja?
Sebuah klakson familiar di kuping Gemma memberi tahu bahwa waktunya dengan Liam telah habis. Dan Liam pun segera melepas kungkungan tangannya di pipi Gemma. Ah, rasanya ia bisa terbiasa dengan sentuhan itu. Gemma tidak rela kedekatan mereka sore ini berakhir terlalu cepat.
“Dad sudah kembali.” Dan kakinya berat melangkah menjauhi Liam.
“Beri tahu aku jika kau sudah sampai di rumah.”
“Okay.”
“Bolehkah aku menghubungimu malam ini?”
Tanpa pikir panjang, Gemma mengangguk sekali. Ia bisa melihat senyum Liam melebar. Gemma meninggalkan Liam dengan hati seperti taman bunga yang sedang mekar. Gemma bahkan lupa kekalutannya tadi.
***
Notifikasi ponselnya berbunyi. Liam buru-buru keluar dari kamar mandi dengan air yang masih menetes dari rambutnya demi mengambil ponselnya di atas ranjang. Dinginnya AC kamar membuat tubuhnya yang setengah basah lumayan kedinginan. Tapi Liam lebih peduli dengan isi pesan barusan.
Aku sudah sampai di rumah dengan selamat.
Meski kedinginan, hatinya menghangat ketika Gemma mau memberi kabar. Hubungan telepon langsung Liam buat. Sungguh tak sabar Liam mendengarnya suara gadis itu.
“Hai.”
Hai? Sapaan macam itu? Liam memutar bola matanya.
“Hai.”
“Kau belum tidur?”
“Tentu saja belum. Bagaimana caranya aku mengirim pesan padamu, Tuan Collins?” Gemma mendengkus geli di ujung telepon. Liam bahkan bisa membayangkan Gemma memutar bola matanya di sana. Perut Liam justru melilit oleh perasaan berbunga-bunga. Kali ini ia tidak kesal pada Gemma memanggilnya,’Tuan Collins’. Malah terdengar … manis? Oh astaga. Akal sehatnya sedang dipermainkan cinta.
Liam kemudian duduk di tepian ranjangnya. “Kau tahu? Sejujurnya ada begitu banyak pertanyaan yang ingin aku sampaikan padamu. Tentang kencan kita, alasan mengapa kau tiba-tiba menarik diri, dan tentang dirimu. Aku ingin tahu lebih banyak mengenai gadis yang selama ini sudah terlalu menyita pikiranku. Aku ingin tahu kau, Gemma Sanders. Tapi aku tidak akan menanyakannya sekarang. Malam ini aku … hanya ingin mendengar suaramu.”
“Kau ingin mendengar suaraku atau suaramu? Sebab sejak tadi kau yang lebih banyak bicara, Tuan Collins. I’m just saying.”
Liam menggigit bibirnya karena menyadari kebodohan barusan.
“Maaf, aku hanya berpikir kau harus tahu isi kepalaku, Gem.”
Gemma terkikik kecil. “Dimengerti. Kau … pasti penasaran mengapa aku tiba-tiba bertingkah aneh. Tapi kau harus tahu aku punya alasan yang kuat untuk itu. Tapi aku juga minta maaf aku belum bisa mengungkapkannya sekarang juga. Aku … butuh waktu.”
“Tidak apa-apa. Ingat, kan? Aku hanya ingin mendengar suaramu, bukan alasanmu. Jadi, please jangan merasa terbebani, okay?”
“Baiklah, terima kasih.”
“Tunggu sebentar.”
Liam buru-buru menarik sebuah T-shirt yang pertama kali ia lihat di lemari dan segera memakainya dengan cepat. Ia juga mengganti handuk yang menutupi bagian bawahnya dengan sebuah celana pendek. Lalu ia kembali duduk bersila lagi di atas kasur.
“Gemma.”
“Ya, Liam?”
“Kencan kita tetap berlanjut, kan?”
“Aku … entahlah.”
Dada Liam berdenyut tidak menyenangkan. Namun, Liam tidak mau berhenti begitu saja. Ia ingin kedekatan mereka tetap terjaga, ya walaupun istilah kencan terpaksa tak lagi bisa mereka pakai.
“Atau begini saja. Lupakan kencan kita itu. Bagaimana kalau kita … berteman?”
“Berteman? Tapi kau atasanku, Tuan Collins.”
“Aku tahu. Itu hanya berlaku di kantor. Di luar itu, kita bisa berteman. Hang out ke mana pun kau suka. Menjelajahi kota New York di malam hari, lari pagi bersama, berburu makanan di Chinatown, menonton pertunjukan teater, menikmati The Metropolitan Museum of Art, atau sekadar mengobrol di Time Square sambil menonton kreativitas anak-anak muda yang sedang unjuk gigi? Intinya, kau bisa memilih kegiatan apa pun selagi kau menyukainya, Gemma Sanders. Bagaimana?”
***
Berteman?
Berteman adalah hubungan paling aman dan jauh dari patah hati! Bodoh. Bodoh sekali kau, Gemma Sanders. Mengapa tidak terpikirkan olehku?
Gemma menegakkan punggungnya dari sandaran headboard ranjangnya. Ide dari Liam terdengar seperti harapan, cukup mengobati rencana payahnya.
“Aku pikir … ide berteman … tidak terlalu buruk.”
“I know, right?”
“Yeah.”
“Jadi, bagaimana kalau pulang kantor besok aku ajak kau ke suatu tempat?”
Gemma tak tahan ingin tersenyum lebar. “Asal setelahnya kau mengembalikanku pada Dad, safe and sound.”
“Aku tidak akan mengecewakan Mr. Sanders. Janji.”
Kekehan kecil keluar dari bibir Gemma. “Baiklah, Liam. Aku akan menurutimu kali ini.”
“Yes! Kalau begitu sampai bertemu besok, Gem.”
“Sampai bertemu besok, Liam.”
“Istirahat dan … tidurlah yang nyenyak.”
Gemma menenggak obat malamnya dengan hati gembira. Ia yakin malam ini tidurnya akan sangat nyenyak.
***
Hari Ketiga Berkencan Berteman
Tak terkira betapa bahagianya Liam kembali makan malam berdua dengan gadis yang telah lama ia sukai. Saking pengecutnya, ia bahkan tidak bisa mendekati Gemma di kantor selain untuk urusan pekerjaan. Sekarang, ia bebas menatap Gemma menyantap pho dengan nikmat di sebuah restoran Vietnam di kawasan China Town. Mulutnya selalu tertutup rapat saat mengunyah. Ia juga tidak membiarkan piringnya ada sisa makanan. Kata Gemma dengan berapi-api, “Aku bukan termasuk orang yang menyisakan makanan karena tata krama atau apalah itu. Yang aku tahu, makanan yang kita sisakan bisa saja satu-satunya sumber kalori seseorang di belahan lain bumi yang sudah tidak makan selama berhari-hari.”
Nilai Gemma sebagai wanita semakin bertambah di mata Liam.
Kini mereka sedang berjalan seperti kura-kura di Central Park sambil menikmati segelas kopi panas. Angin menerbangkan sejumput rambut Gemma. Tanpa pikir panjang tangannya terangkat dan mengembalikannya ke tempat semula.
“Maaf, rambutmu ….”
Tindakan Liam yang tanpa aba-aba membuat Gemma sedikit tersentak. Apakah ia bersikap impulsif? Mungkin saja iya. Segala sesuatu menyangkut Gemma membuat tindakannya tidak pernah didukung akal sehat.
“Oh, terima kasih,” ucap gadis itu sambil menunduk.
“Angin Manhattan sedikit dingin. Apa kau yakin mau berjalan sebentar?”
“Kenapa tidak? Aku perlu menurunkan makanan yang baru aku cerna. Kebiasaan ibuku.” Gemma terkekeh.
“Baiklah, Teman, kalau itu maumu.”
Lagi, Gemma terkekeh dan menyikut lembut lengan Liam. Setiap kali Liam menyebut kata ‘teman’, Gemma langsung bereaksi seperti itu. Seperti kegelian sendiri.
“Apakah pho adalah makanan favoritmu?”
“Aku menyukainya, tapi bukan favoritku. Aku sangat menyukai dumpling buatan ibuku dulu. Diisi dengan campuran sayur dan daging dan bumbu rahasianya Mom, dan tada. Aku bisa menghabiskan puluhan dumpling sendiri. Tapi sayangnya baik aku maupun Dad tidak bisa menyamai kelezatan dumpling buatan ibuku.”
“Kau bilang, ‘buatan ibuku dulu’. Maksudmu ….”
“Mom sudah pergi untuk selamanya tiga tahun yang lalu.” Gemma mengangkat bahunya samar.
“Aku turut berduka.”
“Terima kasih, Teman. Ah, membicarakan Mom membuat aku merindukannya, tapi bukan saat-saat terakhirnya.”
“Saat-saat terakhirnya?”
Liam mengajak Gemma untuk duduk di sebuah bangku taman.
“Mom divonis mengidap kanker payudara stadium akhir. Mom saat itu tidak cukup kuat melawan sel-sel jahat yang menggerogoti tubuhnya. Melihat fisik Mom berubah drastis, aku tidak akan bisa melupakannya. Seakan baru terjadi kemarin. Kanker benar-benar menghancurkan Mom dari dalam, membuatku hampir tidak bisa mengenalinya. Mom yang malang.”
Kali ini ia tidak bertindak impulsif. Dengan kesadaran penuh, Liam menggenggam tangan Gemma dan ingin memberinya ketenangan, kehangatan, dan sebuah deklarasi bahwa ia pun turut merasakan kesedihan gadisnya.
Liam merasakan Gemma berjengit kaget karena tindakannya, akan tetapi karena ia tidak melepaskan tangannya, Liam merasakan kelegaan. Merasa di atas angin, ia malah mempererat genggamannya dan membawanya ke atas lututnya, meremasnya lembut.
“Apa seorang teman menggenggam tangan temannya?” tanya Gemma sambil menatap iris biru Liam lekat-lekat. Untuk sesaat, Liam merasa tersesat ke dalam palung mata coklat Gemma yang tak berujung. Ia ingin menyelaminya dan tersesat di dalamnya.
“A-apa kau keberatan? Kalau iya, aku akan—”
Sesaat sebelum Liam hendak menarik tangannya, Gemma menahannya dan justru membalas genggaman Liam.
“Aku tidak keberatan,” sela Gemma. “Terima kasih, Teman. Sepertinya aku membutuhkan dukungan moral saat ini.”
Diam-diam, Liam menghembuskan napas lega.
“Hei, kau tahu kan besok weekend? Bagaimana kalau besok kita piknik di sini?”
***
Hari Keempat Berkencan Piknik Bersama Teman
Meskipun ada yang aneh terasa pada badannya, Gemma tetap memutar tubuhnya berkali-kali di depan cermin, melihat dari berbagai sisi pakaian yang telah dipilih dengan sangat lama. Ia tidak mau memikirkan baju-baju yang berserakan di atas ranjang demi pilihan yang sudah menempel di tubuhnya. Kemeja putih berbahan sutra dan rok denim sebetis. Gemma berdoa semoga penampilannya tidak berlebihan.
Kali ini, tangannya menyentuh dahi. “Hangat.” Tapi mengapa ia sedikit … menggigil? Gemma memeluk tubuhnya beberapa detik.
“Ini pasti gara-gara piknik hari ini,” ucapnya pada seseorang di dalam cermin, bayangannya sendiri. “Aku hanya sedikit gugup. Ya. Pasti karena itu.”
“Nak, Liam sudah datang,” teriak Charlie dari lantai bawah.
“Astaga!”
Gemma cepat-cepat membubuhkan perona pipi tipis-tipis, memoles lipstik kesukaannya, dan menyemprot parfum aroma bunga mawar.
“Ini bukan kencan, Gemma. Hanya piknik biasa. Hanya. Piknik. Biasa,” katanya lagi pada sosok di dalam cermin.
“Oh, Indonesia? Bali?” tanya Liam penuh antusias.
Saat Gemma menuruni tangga, dua pria beda generasi itu terlihat sedang menikmati obrolan seru dengan secangkir kopi di kitchen bar. Ia bahkan tidak dipedulikan.
Charlie mengibas tangannya. “Bali bukan satu-satunya pulau di Indonesia.” Liam mengangguk-angguk. “Aku dulu seperti kau. Geografiku payah. Tapi Diana tidak. Meski dia dilahirkan di sebuah kampung terpelosok di Surabaya—Surabaya ada di salah satu pulau di Indonesia, by the way—dia bisa menyebutkan lebih banyak negara-negara di seluruh Asia dan Eropa kalau digabungkan. Bahkan Diana juga tahu seluruh state di Amerika Serikat,” jelas Charlie dengan bangga.
Dad ….
Gemma beringsut duduk di sisi ayahnya dan mengaitkan tangannya ke lengan tua Charlie. Gemma bisa merasakan ayahnya masih merindukan kekasihnya.
“Dan Gemma adalah satu-satunya warisan hidup Diana. Parasnya cantik, otaknya cerdas, dan perilakunya elok. Kalau sampai putriku .…” Charlie menatap sendu putrinya yang termangu menunggu melanjutkan kalimatnya.
Dan Charlie ternyata tidak melanjutkan isi pikirannya. Ia berpaling dari tatapan Gemma dan mengusap ujung matanya.
“Apa … kau tidak apa-apa, Charlie?” tanya Liam hati-hati.
Sudah pasti ada apa-apanya. Gemma tahu pasti itu. Charlie selalu terlihat optimis mengenai pengobatan kanker payudara paling mutakhir abad ini, akan tetapi jika tiba-tiba ia terlihat rapuh seperti sekarang, ada rasa takut kehilangan yang segera menyergap Gemma dari segala sisi. Ia tidak menyukainya. Sungguh.
“Sepertinya kami harus berangkat,” potong Gemma pada akhirnya. Ia tidak mau kesedihan Charlie makin tumpah ruah di depan Liam. Liam tidak perlu tahu apa pun mengenai nasib keluarga mereka. “Dad tidak perlu menunggu untuk makan siang. Pergilah ke rumah Bibi Madeleine. Bibi pasti akan sangat senang jika ada yang menemaninya mengagumi bunga-bunga aster di kebun Bibi.” Ia tahu jika sedang sendiri, pikiran Charlie bisa ke mana-mana, alias over thinking.
Seakan tidak mendengarkan putrinya, Charlie justru berpaling pada Liam. “Bersenang-senanglah, tapi jangan buat putriku kelelahan.”
Gemma malah memutar bola matanya dan menghela napas lelah. “Dad, aku bukan anak kecil lagi.” Namun, Charlie tidak menunjukan tanda-tanda keberatan putrinya.
“Aku pria yang memegang kata-kataku, Charlie. Aku tidak akan membuat putrimu kelelahan,” ucap Liam tegas.
“Pergilah.”
Charlie menepuk lembut bahu Gemma dan berlalu, meninggalkan dua anak muda itu tanpa menoleh ke belakangnya.
***
Saat angin Central Park membuat tubuh mungil Gemma sedikit menggigil, tanpa pikir panjang Liam membuka kardigan rajut abu-abunya dan menyampaikannya ke bahu kecil Gemma. Gara-gara tindakannya yang impulsif, ia membuat putri Charlie Sanders berjengit kaget dan rona merah jambu segera menjalari kedua pipinya. Diam-diam Liam bangga dengan hasil keimpulsifannya.
“Terima kasih,”
“No problem.”
Meski cuaca sedikit berangin, tapi tidak menyurutkan matahari menerangi taman berumput ini dan membuat kecantikan gadis oriental itu bertambah berlipat-lipat kali di matanya. Liam baru saja tahu iris gadis itu bukanlah coklat pekat, melainkan coklat terang yang hangat, apalagi ketika sinar mentari menyinarinya.
Tidak sia-sia Liam bangun lebih pagi demi membuat sandwich tuna, strawberry smoothies, memotong aneka buah, dan menyiapkan beberapa camilan. Gemma telah menunjukkan semuanya. Gadis itu makan sambil menggoyangkan kepalanya minimalis ke kiri dan kanan saat menikmati gigitan demi gigitan sandwich buatannya. Liam yakin hanya dengan menonton gadis yang duduk di sisi kirinya saja cukup untuk membuat dirinya kenyang.
“Mengapa kau tersenyum?”
Suara Gemma menyurutkan lengkungan bibirnya menjadi garis datar. “Apa sandwich-nya enak?” Liam sengaja mengalihkan pertanyaan Gemma.
“Sangat enak! Aku bisa memakannya setiap hari,” kekeh Gemma. Seakan baru menyadari sesuatu, gadis itu menunjuk-nunjuk tangan Liam. “Tuan Collins, mengapa kau tidak memakan roti lapismu?”
Saat Liam sadar apa yang dimaksud Gemma, ia tertawa malu. “Aku memang akan memakannya setelah melihat reaksimu.” Kemudian ia menggigit roti lapis segitiga itu dengan lahap.
Gemma memanjangkan kakinya setelah selesai menghabiskan roti lapisnya. Ia menyeruput smoothies segar sambil menyerap hangatnya sinar matahari. Liam meniru gadis itu dan duduk memanjangkan kakinya yang dibalut celana denim biru muda dan sepatu sneakers. Bedanya, ia tidak mencuci mulutnya dengan smoothies, melainkan kembali menikmati pemandangan indah di sisi kirinya.
“Tuan Collins, aku tahu kau memperhatikanku sejak tadi. Apa kau tidak bosan melihatku terus?” ujar Gemma sambil tersenyum dengan manis.
Liam terkekeh karena terang-terangan melakukannya. Tapi ia tidak akan merasa bersalah.
“Apa aku membuatmu tidak nyaman?”
Gemma menggeleng pelan. “Memangnya ada sesuatu di wajahku? Atau di gigiku barangkali?”
“Tidak ada. Aku hanya … sedang mengagumi … kecantikanmu.”
Pipi Gemma mendadak merona. Lagi.
“Terima kasih pujiannya, Teman,” gumam gadis itu dan kembali menyeruput smoothies-nya.
Teman.
Liam memutar bola matanya samar. Gemma mengingatkannya kembali bahwa mereka hanya berteman. Dan ia sendiri yang mengusulkan demikian. Tapi mengapa hatinya seperti terbelah dua setelah menyadari mereka hanya berteman? Inikah yang dinamakan patah hati? Padahal hubungan mereka belumlah naik level menjadi sepasang kekasih.
Lebih baik ia mencari topik lain sebelum mood-nya terjun bebas dari ketinggian puncak Empire State Building ke trotoar Manhattan dan mengacaukan piknik manis sempurnanya ini.
“Charlie sepertinya sangat menyayangimu. Dia protektif sekali,” tanya Liam akhirnya.
“Dad hanya punya aku. Aku rasa itu hal yang wajar dilakukan oleh seorang ayah.”
Liam mengangguk-angguk menyetujui. “Apa kau punya saudara?”
“Aku anak tunggal. Kau sendiri?”
“Hanya seorang adik perempuan. Lindsay sedang kuliah di MIT.”
Gemma membulatkan bibirnya karena takjub. “Dia pasti sangat pintar.”
“Genius gila lebih tepatnya.” Baik Liam maupun Gemma tertawa. “Aku tidak tahu bagaimana cara dia menjalani hidup, tapi Lindsay bisa menjalani dua kehidupan yang berbeda sekaligus.”
“Maksudmu?” Gemma melipat kakinya dan memutar tubuhnya berhadapan dengan Liam.
Lagi, Liam meniru dan memutar tubuhnya juga. Sentuhan dan gesekan kecil terjadi di antara kaki mereka. Meski menimbulkan sengatan bertegangan rendah menjalar ke jantungnya, Liam memfokuskan matanya hanya pada wajah gadis itu.
“Lin mempelajari ilmu nuklir dan bekerja sebagai model. Dia bahkan akan tampil di New York Fashion Week September nanti.” Liam tak mampu untuk tidak menggeleng-gelang heran. “Belum lagi pemotretan untuk majalah dan beberapa brand.”
“Tunggu!” Gemma sampai menaikkan telapak tangannya ke depan wajah Liam. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dari sling bag kulit coklatnya. Ia menggerak-gerakkan jemarinya pada layar sentuh. Tak sampai semenit, Gemma menunjukkan sebuah laman media sosial pada Liam. Seorang model internasional dengan pengikut sejuta lebih. “Apa dia adikmu?”
Sekali lihat, Liam yakin yang ditunjukkan Gemma adalah kepunyaan adiknya.
“Benar, itu adikku.”
“Ya ampun. Ternyata aku pengikut adikmu sejak bertahun-tahun yang lalu. Aku sangat mengaguminya, sungguh. Setelah dipikir-pikir, kalian berdua memang mirip. Dan, tentu saja Lindsay cantik, kau tampan.”
Lagi-lagi kelugasan Gemma memujinya membuat Liam terkaget-kaget.
“Terima kasih, Teman.”
Gemma tertawa dengan manis. Ah, Liam tidak akan pernah bosan melihat tawa itu. Begitu … adiktif.
“Sama-sama, Teman.”
Angin kembali berhembus, menari-nari di antara mereka dan menerbangkan beberapa helai rambut Gemma dengan manis. Namun, angin itu juga yang membuat gadis itu sedikit gemetar. Liam tidak tahan untuk mengancingkan kardigannya untuk memeluk tubuh kecil Gemma. Mungkin, untuk menggantikan dirinya menghangatkan gadis itu? Oh, astaga. Apa yang dipikirkannya?
Gemma? Dia menunggu Liam dengan sabar menyelesaikan tugas kecil itu lalu tersenyum manis. “Apa kau akan jemu jika aku mengatakan terima kasih?”
“Hm?” Liam tidak mengerti apa yang dikatakan Gemma.
“Terima kasih sandwich dan smoothies-nya. Terima kasih kardigan hangat ini.” Gemma mengelus lengan panjang berbahan wol itu. “Terima kasih untuk piknik hari ini.”
“Asal kau menyukainya, Gem. Asal kau bahagia.”
“Ya. Bahagia. Banget!” Gemma memeluk tubuh kecilnya yang tenggelam di dalam kardigan kebesaran Liam. “Tapi kenapa hari ini rasanya dingin, ya?”
“Dingin? Hari ini cukup hangat, hanya sedikit berawan.”
Gemma terkekeh. “Yah, mungkin hanya aku yang kedinginan. Hei, sepertinya aku ingin mencoba bagaimana rasanya tidur di taman Central Park seperti orang-orang. Bolehkah?”
“Tentu saja boleh, Gemma Sanders.”
Liam menyingkirkan wadah-wadah makanan dan membersihkan remah-remah dari tikar. Liam juga membuat gumpalan dari selimut agar bisa dijadikan bantal untuk Gemma.
“Terima kasih, Tuan Collins,” katanya dengan senyum manis. Gemma merebahkan diri di sisi Liam dan segera menyamankan diri. “Apa kau mau bergabung denganku sambil menyerap sinar matahari?”
Ingin rasanya Liam menyambut ajakan Gemma, tapi ia harus menahan diri. Hari ini ia harus merasa cukup hanya dengan piknik manis ini. Selimut jatah Liam ia hamparkan di atas tubuh temannya.
“Harus ada seseorang yang terjaga kalau-kalau ada anjing pengunjung Central Park kelewat aktif berlari mengejar frisbee ke arah kita.”
Badan Gemma berguncang pelan karena tertawa dan memukul paha Liam lembut. “Baiklah. Aku percayakan keamanan kita padamu, Tuan Collins.”
Gemma bergelung dan mendekatkan dirinya pada Liam. Gadis itu mulai menutup matanya.
“Aku tidak menyangka progres pertemanan kita bisa sejauh ini dalam beberapa hari. Maksudku, aku pikir aku tidak akan bisa memasuki lingkaran seorang Liam Collins.” Gemma tertawa kecil. “Dinding perbedaan kita setinggi kau atasanku, aku stafmu. Kalau saja aku tidak nekat mengajakmu berkencan, mungkin hidupku akan berkubang penyesalan sembari menahan sakit dan menjadi jelek.”
“Menahan sakit dan menjadi jelek? Apa yang kau bicarakan, Gem?”
“Oh, astaga. Kedinginan membuatku melantur ke mana-mana. Maaf.” Gemma terkikik pelan. Ia menarik selimutnya hingga dagu.
Tak ada lagi yang bicara selama semenit penuh. Liam memperbaiki selimut Gemma dan memperhatikan putri tidur di sisinya.
Menggemaskan.
Tanpa sadar tangannya terangkat dan membelai puncak kepala Gemma beberapa kali.
“Liam.”
Liam kaget setengah mati. “Maaf. Apa aku membangunkanmu?”
Gemma menggeleng.
“Liam.”
“Hm?”
“Dingin.”
Seraknya suara Gemma membuat dahi Liam mengkerut tipis. Perasaannya jadi tidak nyaman dibuat.
“Gem, apa kau baik-baik saja?”
“Dingin. Maafkan aku, tapi apa kita bisa menyudahi piknik kita lebih cepat?” ucap Gemma susah payah, matanya masih terpejam.
Tangan yang tadi membelai kepalanya turun ke dahi. Liam terperanjat.
“Kau demam. Kita pulang sekarang!”
***
Rasanya gadis itu tidak salah dengar. Ia yakin Liam akan membawanya pulang. Tapi saat membuka mata, pemandangan yang menyambutnya membuat Gemma mencelos. Yang pasti, ini bukan kamarnya, sebab seorang pria dengan sorot mata khawatir dan sendu sedang menatapnya tanpa berkedip. Dia duduk di sisi ranjangnya. Mana mungkin Charlie akan membolehkan seorang pria masuk ke kamarnya?
“Kau bisa pulang setelah demammu turun dan infusmu habis,” katanya dingin.
Gemma baru sadar ada selang infus yang menempel di tangan kirinya. “Rasanya aku hanya demam biasa, kenapa aku berakhir di salah satu ruangan di Emergency Room dengan selang infus? Bukannya kau tadi mau mengantarku pulang?”
Gemma sangat mengenali ruangan gawat darurat rumah sakit ini. Banyak alasan mengapa ia mengenali salah satu ruangan di Emergency Room dalam sekali lihat. Terjatuh dari sepeda dan lututnya robek saat ia masih di middle school. Disenggol pengendara motor ugal-ugalan dan membuat bahunya lebam dan terkilir saat kuliah. Mengeluarkan kail pancing di ujung jari Charlie beberapa bulan lalu. Sekarang? Hanya demam!
“Kau memang hanya demam, tapi gadis yang kukira tidur di mobilku meracau kedinginan dengan suhu tubuh sepanas teko mendidih,” balas Liam setengah kesal, setengah khawatir. Rahangnya mengeras dan mata birunya terlihat menderita. “Gemma, mengapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya tentang kondisi kesehatanmu?”
“A-aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Liam.”
Belum sempat Liam merespon, tirai tersibak. Seorang dokter perempuan berusia lima puluhan dengan scrub dan sneli masuk menyapanya dengan ramah.
“Gemma.”
Jelas Gemma terlihat kaget. Mengapa dokter pribadinya muncul di Emergency Room? Belum selesai dengan Dokter Miriam, Gemma hampir tersedak dengan kemunculan seorang pria dengan rambut nyaris putih dan wajah lelah yang menangkap matanya dan membuat perasaan bersalah menyerangnya bertubi-tubi.
“Nak, aku harus mendapatkan penjelasan masuk akal darimu setelah kita di rumah.”
Gemma menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Sepertinya Gemma tahu mengapa Liam terlihat khawatir, mengapa Dokter Miriam muncul di Emergency Room, dan mengapa ia harus memberikan penjelasan masuk akal pada Charlie.
***
“Kalau Liam tidak meneleponku, kau akan terus membohongiku mengenai jadwal pengobatanmu, Nak.”
“Kapan Dad bertukar nomor ponsel dengan Liam?”
“Apa itu penting sekarang?” tanya Charlie lelah.
Gemma tahu. Itu tidak penting. Ia hanya ingin mengalihkan kemarahan Charlie. Gemma memutuskan mengajak Charlie duduk di sofa alih-alih bicara di meja makan. Ia akan melakukan segalanya untuk membuat kepala Charlie dingin. Gemma menggenggam tangan tua ayahnya.
“Aku minta maaf, Dad. Aku tahu menunda kemo tanpa sepengetahuanmu dan Dokter Miriam adalah dosa besar, tapi aku melakukannya bukan tanpa alasan.” Gemma menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan bicara. “Aku hanya ingin mencuri waktu demi membuat kenangan manis dengan Liam sebelum tubuhku menjadi lusuh akibat kemoterapi dan operasi,” cicit Gemma. Ia bahkan tidak sanggup menatap kedua bola mata ayahnya.
“Gemma Sanders, bukankah kita sudah selesai membahas ini?”
“Aku tahu.”
“Pemuda itu sudah mengetahuinya,” kata Charlie.
Debaran jantung Gemma bertalu-talu. “Tentang penyakitku?”
Charlie mengangguk. “Apa yang akan kau lakukan, Nak?”
“Sejujurnya, aku tak tahu, Dad, sungguh.” Tiba-tiba Gemma merasa lelah dan menyandarkan kepalanya pada bahu Charlie. “Dia pasti akan meninggalkanku setelah tahu aku perempuan penyakitan”
“Jika dia menjauh setelah mengetahui putriku menderita kanker, aku yakin dia orang yang tidak tepat untukmu. Kau harus bersyukur alam lebih dulu menyeleksikan pendamping untuk putriku ini.”
“Tapi Dad ….”
“Dan aku akan selalu ada untukmu, Nak.” Charlie menutup kegundahan Gemma dengan sebuah rangkulan hangat yang menghangatkan hati Gemma.
***
Hari Kelima Menjadi Teman di Kantor
Sejujurnya Gemma sudah menyiapkan surat pengunduran diri ketika waktu dua minggunya habis. Namun, karena rahasianya sudah terungkap, dia hanya akan menghadapinya saja. Toh Liam sudah tahu rekam medisnya dari Charlie. Apa dia takut pria itu akan meninggalkannya? Dia tidak peduli. Lagi pula mereka kan berteman, bukannya sepasang kekasih yang sedang berkencan.
Daripada surat pengunduran diri, ia telah menyiapkan surat pemberitahuan cuti yang sudah diketik dan siap kirim ke e-mail korporasi Liam, sesuai nasihat ayahnya.
“Hai.”
Sapaan Liam membuat Gemma terlonjak di kursinya. Ia memang belum bertemu Liam seharian ini karena pria itu rapat sejak tadi pagi dengan divisi keuangan, tapi tetap saja kehadiran Liam membuat jantungnya berulah. Tidak ada lagi acara melarikan diri. Ia sudah dewasa. Orang dewasa akan menghadapi masalahnya, bukan lari darinya.
Coba kau katakan itu pada dirimu sendiri saat kau melarikan diri dengan memakai scarf, Gemma Sanders!
“Ya, Mr. Collins?”
“Aku ingin mengajakmu makan siang bersama temanku.”
“Temanmu?”
“Lucas. Lucas Martinez. Aku ingin mengenalkanmu padanya.”
Gemma tidak mengerti. Setelah apa yang terjadi kemarin, mengapa Liam masih ingin berteman dengannya? Tapi sampai saat ini, Liam tidak pernah membahas kejadian di Emergency Room. Maka ia pun akan terus berperan sebagai temannya.
“Baiklah.”
***
Lucas melambai sangat riang ketika melihat Liam dan Gemma memasuki area restoran Italia. Pria itu seperti anjing golden retriever yang tidak pernah bertemu majikannya selama seminggu. Liam berharap Gemma merasa nyaman dengan tingkah temannya yang sering kali kelewat bersahabat.
“Selamat siang, Mr. Martinez,” sapa Gemma setelah Liam menarik kursi keluar dan mendorongnya lembut setelah Gemma duduk dengan sempurna.
Lucas mengibas tangannya protes. “Jangan terlalu formal. Panggil aku Lucas. Teman Liam temanku juga.” Lucas mengerling jahil pada sahabatnya.
“Baiklah, Lucas.”
“Sasha menyesal tidak bisa ikut makan siang dengan kita. Padahal dia sangat ingin bertemu dengan Gemma.”
Ketika Gemma terlihat bingung mengapa namanya disebut-sebut, Liam langsung menjelaskan tanpa diminta. “Sasha tunangan Lucas. Dia bekerja di bagian Research and Development. Lipstik Glossy All Day itu salah satu karyanya.”
“Oh ya?” Mata oriental Gemma sampai berbinar. “Lucas, maukah kau menyampaikan terima kasihku pada Miss Sasha? Formula Lipstik Glossy All Day itu cocok untuk bibirku yang kering. Aku bahkan sudah membeli dua warna. Aku berencana untuk membeli lipstik ketiga.”
Dan perbincangan ringan mengalir begitu saja antara Lucas dan Gemma.
Mata Liam tak mampu berkedip ketika menonton Gemma membicarakan lipstik dengan semangat. Sejujurnya, ia masih tidak percaya, dia adalah Gemma, gadis yang kemarin tiba-tiba terserang demam dan menderita kanker payudara stadium tiga. Liam kemudian menarik benang-benang memori saat Gemma mengajaknya berkencan. Ia mengaku ketakutan karena bisa saja fisiknya berubah menjadi jelek seperti alien. Apa mungkin karena penyakitnya, gadis itu tidak mau berkencan dengannya? Ya, alasan itu bisa saja masuk akal.
Masalahnya, Liam sudah terlanjur menyukai gadis itu dan gadis itu nyatanya juga menyukainya. Ah, Liam pusing kalau sampai hubungan mereka hanya jalan di tempat atas nama teman. Dia bahkan mengenyampingkan fakta bahwa gadisnya menderita kanker payudara.
“Apa yang kau pikirkan, Kawan?”
Pertanyaan Lucas membuat Liam tersentak. Ia mengabaikan Lucas dan bertanya, “Mari kita pesan sesuatu.”
***
Entah karena tubuhnya terasa berbeda gara-gara demam kemarin, atau penyakitnya mengangkat bendera perang secara terang-terangan dan mulai membuat fisik dan mentalnya lemah, ia tidak sanggup menelan tuna steaks dengan saus lemon caper yang terlihat sangat menggiurkan ini. Tapi ia juga tidak mau merusak makan siang ini. Liam telah susah payah meluangkan waktu, dan dari obrolan tadi, Lucas juga sengaja meninggalkan pekerjaannya demi makan siang bersama teman sahabatnya. Sepertinya, Gemma tidak bisa menunda lebih lama. Ia harus segera memulai pengobatan yang sengaja ia tunda sebelum Charlie semakin mengamuk.
“Apa kau demam lagi, Gem?”
Tanpa aba-aba Liam meletakkan telapak tangannya yang lebar di dahinya. Tentu saja Gemma kaget dibuatnya. Dan ini terjadi di depan sahabat Liam! Mau ditaruh di mana mukanya setelah ini? Apa kata Lucas kalau atasannya ini sangat perhatian sampai-sampai mau mengecek suhu tubuh stafnya?
“A-aku hanya merasa tidak enak badan, Liam.”
Liam kemudian memeriksa suhu tubuhnya sendiri dengan menempelkan telapak tangan pada dahinya sendiri. “Sebaiknya kau beristirahat di rumah. Mengapa hari ini memaksakan diri bekerja?” dumel Liam seperti tidak peduli dengan keberadaan Lucas yang secara terang-terangan menikmati drama kecil romantis di depannya. “Selesaikan makan siangmu. Setelah itu kau akan kuantar pulang.”
“Tapi Liam ….” Gemma berusaha mengirim sinyal pada temannya bahwa ada orang lain di meja ini.
Bukannya menenangkan kekalutan Gemma, Liam makin membuat gadis itu panas dingin, padahal badannya sudah hampir menyerah untuk bertahan duduk dengan tenang di restoran. Pria itu menggenggam tangannya!
“Kau tidak perlu khawatir. Lucas sahabatku. Seorang sahabat tidak pernah mengkhianati sahabatnya, benar kan, Mate?” Kalimat terakhir tentu Liam tujukan untuk Lucas Martinez.
“Tentu. Tentu saja. Kau hanya perlu menganggapku tak kasat mata, Gemma.”
“Luke,” Liam memperingatkan temannya.
Lucas terkekeh. “Bercanda. Tenang saja, Gemma. Aku justru sedang bahagia melihat kilatan mata Liam yang ‘hidup’ setelah bertemu kau. Asal kau tahu. Sudah lama atasanmu ini tidak terlihat sebahagia ini semenjak—”
“Lucas Martinez. Berhentilah bicara. Kau membuat Gemma kesulitan menelan tuna steak-nya.” Liam tak membiarkan Lucas menyempurnakan kalimatnya.
Lucas mengangkat garpunya ke udara tanda menyerah. “Baiklah, Mate.”
***
Jeep Liam berhenti di depan halaman berumput milik kediaman Charlie Sanders. Sudah dua menit berlalu sejak mesin mobil mati, tapi tak ada aktivitas yang terjadi di dalam kabin mobil berinterior hitam abu-abu itu selain tarikan napas dua anak manusia, Liam dan gadis yang terlihat lelah di sisinya.
Deheman Liam mengudara semenit kemudian. “Apa kau sudah mendapatkan jadwal kemoterapi?”
“Sudah. Oh, aku belum sempat mengirim pemberitahuan cuti ke e-mail-mu.”
“Itu hal kecil. Lucas akan mengurusnya. Dia kepala HRD, ingat, kan?”
Gemma mengangguk membenarkan.
“Liam.”
“Ya?”
“Apa pertemanan kita masih berlanjut kalau tubuhku berubah jelek setelah kemo dan operasi?”
Sekarang Liam yakin Gemma tidak mau berkencan dengannya gara-gara ketakutan tubuhnya yang akan berubah setelah pengobatan kanker.
“Gemma Sanders, dengar. Seorang teman tidak akan meninggalkan temannya yang kesusahan. Aku tidak akan meninggalkanmu meskipun kau berubah menjadi alien keriput berdada rata sekalipun.”
Gadis yang sedari tadi murung itu tiba-tiba tertawa lemah, tapi cukup untuk Liam merasa lega setelahnya.
“Aku serius, Liam.”
“Terlebih jika kau bukan temanku, melainkan … kekasihku, aku akan makin menempelimu seperti permen karet hingga kau dinyatakan sembuh total.”
Meski pucat, rona kemerahan muncul di kedua pipinya gara-gara Liam menyebut kata kekasih. Liam menyadari itu.
Liam memutar tubuhnya sehingga ia dapat memandang wajah oriental yang sedang bingung itu. Ia mengambil tangan Gemma yang kecil untuk digenggam dan dibawanya ke atas lututnya. Gemma terkesiap.
“Apa kau tahu aku sudah menunggu momen seperti ini sejak bertahun-tahun yang lalu, sejak kemunculanmu di divisiku? Menyatukan tangan kita seperti ini, membicarakan apa saja seperti saat piknik kemarin, makan malam bersama setelah pulang kantor, atau apapun itu yang membuat kau dan aku bahagia. Hatiku meledak bahagia saat kau memintaku berkencan, kau harus tahu itu.”
“Sejujurnya hatiku juga meledak karena bahagia setelah mengajakmu berkencan. Kau juga harus tahu itu,” ujar Gemma malu-malu.
“Tapi sebagai pria, harus aku akui kau selangkah lebih maju dariku. Kau wanita pemberani, Gem, tidak seperti aku. Pengecut.”
“Mengapa kau berkata demikian?” protes Gemma tidak setuju.
“Kau pasti tahu aku bukan pria single biasa. Aku seorang duda. Seluruh staf di kantor tak luput membicarakan statusku. Sedangkan kau? Kau wanita muda yang anggun dan cantik. Rasanya tidak pantas pria seperti aku mendekatimu, memintamu untuk menjadi half of me.” Liam melipat bibirnya. Kejujurannya kali ini seakan membuka tabir kekurangannya.
“Asal kau tahu, aku sudah tahu statusmu saat aku mengajakmu berkencan dan aku tidak peduli dengan itu. Aku hanya melihat dirimu. Liam Collins yang baik dan tulus. Tapi kau juga harus tahu, kecantikanku sebentar lagi juga akan hilang.” Gemma mengangkat bahunya enggan. “Jadi tolong jangan membuat penilaian setinggi itu terhadapku, Tuan Collins.”
Remasan lembut membuat Gemma mengangkat pandangannya sehingga mata mereka bertemu.
“Apa kau ingat, aku pernah mengatakan bahwa aku berpengalaman pernah mencintai seseorang hingga tubuhnya keriput dan tidak berdaya?”
“Kau bilang … pernah? Di mana dia sekarang?”
“May sudah tidur dengan damai selama-lamanya setelah berjuang dari koma selama lima bulan akibat kecelakaan mobil.”
“Oh astaga.” Gemma menutup mulutnya dengan tangannya yang bebas selama beberapa detik. “Maaf. Aku turut berduka atas kepergian May.”
“Yah, aku pikir, lima tahun sudah cukup bagiku untuk berkabung. Saatnya membuka lembaran baru berisi petualanganku dan … kau, Gemma Sanders?”
“Aku wanita yang tidak sempurna, Liam. Jika kemoterapi nanti tidak berhasil mengecilkan benjolan di payudaraku, kemungkinan besar Dokter Miriam akan merenggut Monica dan Stephanyku. Aku akan menjadi alien keriput berdada rata.”
“Siapa Monica dan Stephany?” Liam tampak tersesat. Apa hubungannya dengan Gemma?
“Mereka … adalah … nama dari … ini,” ucap Gemma terbata-bata. Dengan malu-malu, gadis itu menunjuk dadanya bergantian, kiri dan kanan.
Terbit sudah tawa Liam setelah percakapan berat ini. Namun, siapa pun pasti tahu tidak ada tawa mengejek di sana.
“Aku pernah mendengar seseorang mengatakan ini, ‘jika kau menyukai seseorang, kau harus menyukai kelebihan yang sepaket dengan kekurangannya’.”
“Tapi kau punya kesempatan untuk memilih wanita yang lebih baik.”
“Dan aku telah memilihmu sejak pertama kali kau muncul, Gem. Pilihanku tidak berubah meski kau berubah, atau dalam hal ini fisikmu.”
Gadis itu memalingkan wajahnya tepat ketika air mata mulai mengalir di sudut mata Gemma, membuat hati Liam teremas pedih.
“Gemma, lihat aku. Please?”
Permintaan Liam tak mendapat respon. Maka dari itu, Liam memutuskan menangkup pipi Gemma dengan kedua tangannya dan membuat gadis itu kembali menatapnya dengan perlahan. “Gemma.”
“Kau membuatku makin sulit menganggapmu sebagai teman, Liam Collins,” rengek gadis itu merana. "Bagaimana mungkin seorang teman mencintai temannya dan mereka tetap berteman mengabaikan perasaan cinta yang terus tumbuh?"
Dengusan lembut disertai senyum menghiasi wajah Liam. Pria itu menghapus air mata yang terus mengalir di pipi Gemma dengan ibu jarinya. “Kalau begitu jangan. Aku juga tidak bisa terus-terusan menganggapmu teman, Gemma Sanders.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” Masih dalam keadaan merengek seperti anak kecil, Gemma mengungkapkan isi hati.
“Maukah kau menjadi kekasihku?”
Rengekan tadi hilang, berganti dengan kesiap kecil yang keluar dari mulut Gemma.
“Tapi kau tahu bagaimana kondisi kesehatanku. Kanker payudara seperti … lari maraton, bukan lari sprint. Akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk penyembuhanku, bahkan bisa bertahun-tahun. Aku tidak mau kau tidak bahagia.”
Kembali lagi ke situ.
“Aku sudah memikirkan semuanya jika itu yang kau khawatirkan. Aku hanya tidak ingin kau menghadapinya sendiri, meskipun ada Charlie, menambah satu lagi support system tidak akan menyakitkan,” katanya enteng.
***
Dia ingin menjadi kekasihku? Dia juga ingin menjadi support system-ku?
Gemma ingin berteriak ke seluruh dunia bahwa pria ini ingin menjadi kekasihnya di saat tubuhnya bakal berubah menjadi alien keriput berdada rata! Ini terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Tapi … masih ada keraguan dalam hatinya.
“Bagaimana, Gem? Kau mau … menerima pria pengecut yang memendam perasaannya padamu selama bertahun-tahun untuk menjadi kekasihmu?”
Saat Liam membawa tangan kanannya ke dada kiri pria itu, keraguannya perlahan menipis. Dentuman kencang dari jantung Liam membuatnya hampir yakin dengan tawaran yang diajukan Liam.
“Liam, aku ….”
“Setidaknya beri hati kita kesempatan untuk mencobanya, hm?”
Tatapan tulus itu segera memberi tahu Gemma bahwa Liam benar-benar ingin menjadi kekasihnya. Dan sejujurnya, jauh di lubuk hatinya, Gemma juga ingin memberi kesempatan hatinya untuk tahu bagaimana rasanya mencintai Liam.
Kepalanya mengangguk begitu saja. Apa yang dirasakan Gemma setelah hatinya tunduk? Kelegaan luar biasa.
“Benarkah? Kau mau mencobanya denganku, Gemma Sanders?”
“Iya, Liam. Aku … ingin mencoba menjadi seorang kekasih yang mencintai kekasihnya. Aku juga ingin dicintai oleh seorang kekasih. Dan kekasih itu … adalah kau.”
Gemma tak tahu apa yang terjadi. Tahu-tahu tubuhnya sudah berada dalam rengkuhan Liam. Hangat dan protektif. Sebuah suara klik muncul dalam hatinya. Suara yang menyatakan bahwa kunci hatinya telah menemukan gemboknya.
Liam mengurai pelukannya tanpa benar-benar melepas Gemma.
“Bolehkah aku…?”
Dengan pipi memerah, Gemma mengangguk pelan. Saat Liam semakin mendekat, saat hembusan napas hangatnya menyapu wajah Gemma, gadis itu memejam matanya dan sapuan lembut bibir Liam pada bibirnya mengirimkan getaran cinta yang mengalir hingga ke jantungnya.
Lembut, tidak tergesa-gesa, seakan-akan dengan ciuman itu Liam ingin menegaskan sesuatu. Dia amat mencintai Gemma Sanders.
=Selesai=