Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Badai Tak Reda Dalam Semalam
●●●
Membuang bokong sekenanya ke sofa sembari mendesah pelan, kuamati lukisan-lukisan dalam pigura yang terpajang abstrak di dinding warna khaki. Netraku menyapu seluruh ruangan, pada sudut di rak putih yang berisikan piala-piala serta piagam piringan tersusun rapi—itu penghargaan yang diberikan kepada Ayahku selama menjadi wartawan di media nasional yang mulai merambah ke kancah internasional.
Ayahku berkali-kali menjadi karyawan teladan karena berhasil meliput berita eksklusif yang menjadi perbincangan panas di linimasa berbagai platform.
Aku menatap langit-langit seraya menerawang jauh; suara Ibu dari balik dapur menyeruku dan Ayah untuk segera makan; pekik pelan Ayah yang mondar-mandir keluar kamar mencari kaus kakinya yang hilang sebelah disusul dengan gerutuan Ibu karena Ayah tidak becus mengurusi pakaiannya sendiri, sedangkan sangat lihai mengurusi berita-berita yang seliweran di luar sana.
Terdengar pula suaraku menginterupsi gerakan mereka, aku juga lupa menaruh kunci mobil ada di mana; Ibu berkacak pinggang karenaku dan Ayah. Namun senyumnya kembali mengembang ketika Ayah memuji masakannya; "umurku akan bertambah 10 tahun setiap makan masakanmu. Enak sekali." Ayah selalu merapal kalimat yang sama persis, mengundang semu merah matang di kedua pipi Ibu.
Semuanya tampak baik-baik saja, sebelum seorang perempuan sepantaran Ayahku datang ke rumah meminta pertanggungjawaban atas nafkah untuk anaknya.
Aku punya adik.
Fakta seterang itu tak lantas membuatku langsung percaya. Aku memutar kemudi ketika suara serak Ibu yang teredam terdengar dari seberang sana, menyuruhku untuk kembali ke rumah karena seorang wanita histeris di rumah. Kumatikan sambungan telepon dan menginjak pedal gas sungguh-sungguh, melupakan kenyataan bahwa tiga puluh menit lagi akan diadakan acara khusus di kantor.
Berbulan-bulan Ibu menjalani kehidupan yang seratus delapan puluh derajat jauh berbeda. Ibu mencoba memaafkan perbuatan Ayah dan menerima fakta bahwa Ayah—laki-laki yang dipikirnya jatuh hati sepenuhnya padanya—memiliki seorang putra lagi.
Hati Ibu lapang seluas samudera, membentang seluas cakrawala, menaungi jagat raya dengan maafnya sebagai penghalang bala. Namun fakta bahwa Ayah yang tidak setia dengannya selama ini menggerogoti dirinya sendiri.
Dia dihabisi prasangka, dicacah pilu yang tak berkesudahan. Sedang aku, jauh sebelum itu sudah mati lebih dulu. Menyaksikan bagaimana hancurnya Ibu bersama air matanya yang luruh dan pecah di keramik ruang tengah kala itu, membuatku tidak berani berdoa meminta perpanjangan usia.
Ibu terbakar, dan aku turut hangus di belakangnya.
Di tahun berikutnya, Ibu menyerah dan mengurus surat perceraian ketika Ayah berubah menjadi lebih pemarah. Hampir setengah lusin gelas dan piring dipecahnya ketika naik pitam. Sinar biram dari sorot matanya menusuk hingga ke jantung, urat lehernya begitu kentara ketika Ayah merapal kalimat.
Dadanya naik turun meredam emosi tatkala Ibu menyodorkan selembar surat yang sudah dibubuhi tanda tangan milik Ibu lebih dulu.
Ayah hampir menampar Ibu kalau saja aku tidak berteriak lantang malam itu. Ayah bersikukuh tak mau bercerai, sedang Ibu sibuk mengemasi barang-barangnya. Memasukkannya secara acak penuh amarah dan kecewa ke dalam koper.
Aku di belakang Ibu mencicit bagai anak itik mengekor ke mana telapak Ibu menapak—ke kamar, ke ruang keluarga, hingga sudut-sudut rumah yang tak pernah kupedulikan sebelumnya.
Ibu melempar tatapannya tepat di manikku yang membola seketika, "ikut Ibu atau tetap di sini dengan Ayah?” Jika harus bersumpah ribuan kali pun aku akan menyanggupi untuk bersumpah, bahwa, demi semesta dan segala isinya, aku tidak pernah mau berada di posisi ini.
Mendengar kalimat tanya yang tidak mau aku jawab, namun keadaan seolah memukulku untuk segera memutuskan aku berada di pihak yang mana.
Malam itu, deru mesin mobil adalah hal yang paling aku benci. Ibu mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas batas normal, bokong mobilnya begitu cepat hilang di belokan ujung lorong, tenggelam dalam pekat malam.
Angin berembus menyertai kepergian Ibu, rinai hujan perlahan jatuh, aroma tanah basah menguar menusuk indera penciuman. Kilat menyambar dari segala sisi, mengamuk bagai singa lapar yang tak diberi makan bertahun-tahun.
Rintik hujan perlahan berubah semakin deras, jatuhnya terasa menusuk di kepala. Ayah datang dengan payungnya, menarik lenganku untuk masuk ke dalam rumah. Aku mengayunkan tinju tepat di rahang tegas Ayah, menjadikan kepalan tanganku sedikit kebas karenanya.
Ayah menyeringai, tidak berkata sepatah kata pun yang kuanggap adalah aminan atas tindakanku. Aku mewarisi tinggi badan Ayah, tubuh jangkung serta berat proporsional membuatku tidak sulit menjangkau wajahnya. Ayah tidak melawan, aku meninjunya hingga puas dan menangis pilu setelahnya. Ayah tersungkur, namun aku masih bisa melirik dari ujung mataku jarinya menghapus noda merah di sudut bibirnya.
Dia masih sadarkan diri. Begitu kuat, aku yang nyaris limbung karenanya. Entah kekuatan dari mana, padahal aku dan Ayah tidak pernah bertengkar sama sekali sebelumnya. Adu argumen pun tidak.
Aku melamun terlalu lama sehingga bayangan di kaca jendela perlahan berubah menjadi hitam pekat. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantul samar di permukaan kaca yang dingin. Di tanganku, ponsel tergeletak tanpa tujuan, layar redup seakan ikut lelah menemaniku diam.
Getar halus tiba-tiba menyentak kesadaranku. Nama Rendra muncul di layar.
Aku menghela napas pelan sebelum menggeser panel hijau.
"Ya?"
Suara di seberang langsung menyeruak cepat, seperti biasa; tergesa dan tidak sabaran.
["Lo kenapa pulang cepet? Rapat redaksi tadi chaos banget."]
Aku menyandarkan kepala ke sandaran sofa, memijat pelipis dengan dua jari.
"Ada urusan." Jawabku singkat.
["Hmm... ya udah. Gue cuma mau update, kita jadi nerbitin artikel investigasi yang kemarin."]
Aku mendengus lirih. "Yang mana?"
["Yang soal satwa dilindungi itu. Yang dijual jalur illegal. Redaksi setuju buat naikin minggu depan."]
Aku terdiam sesaat. Pikiranku langsung melayang pada berkas-berkas foto yang sempat kulihat di kantor; kandang sempit, mata hewan yang kosong, tubuh-tubuh kurus yang dipaksa bertahan hidup di tangan manusia yang serakah.
"Udah dapet data lengkap?" Tanyaku.
["Sebagian. Tapi masih butuh verifikasi tambahan. Katanya ada jaringan gede di balik ini. Bisa panjang urusannya."]
Aku mengangguk pelan, meski tahu Rendra tidak bisa melihatnya.
["Kalau lo besok masuk, siap-siap aja. Kita mungkin turun lapangan."] Ucap Rendra.
Suara langkah kaki terdengar dari arah teras depan, aku menoleh tanpa sadar.
Pintu rumah terbuka dengan bunyi engsel yang lirih. Sosok Ayah muncul di ambang pintu, masih mengenakan kemeja kerja yang kusut di bagian lengan. Tas selempangnya menggantung di bahu, wajahnya tampak lelah, atau mungkin hanya terlihat lebih tua saja.
["Lo denger, gak?"] Suara Rendra kembali menarikku dari lamunan.
"Iya," jawabku datar. "Kirim aja datanya nanti."
["Oke. Jangan ngilang lagi, bro. Redaktur udah nanyain lo."]
Aku hanya menggumam pelan sebagai jawaban.
Ayah melangkah masuk tanpa banyak bicara. Sepatunya dilepas di dekat pintu, lalu ia berjalan melewatiku begitu saja; seolah aku hanya bayangan yang kebetulan duduk di ruang tamu.
["Kita kejar deadline, ya."] Lanjut Rendra.
"Iya."
Telepon terputus.
Hening kembali merayap memenuhi ruangan.
Aku menatap layar ponsel yang kembali gelap, lalu mengangkat kepala pelan. Dari sudut mataku, kulihat Ayah berhenti sejenak di dekat rak putih berisi piala-pialanya. Tangannya menyentuh salah satu bingkai piagam, jemarinya bergerak pelan di permukaan kaca; seolah mencoba memastikan sesuatu masih ada di tempatnya.
Aku tidak mengatakan apa pun. Dia pun tidak. Di antara kami, diam terasa lebih nyaring daripada percakapan apa pun.
Dulu, Ayah adalah panutanku untuk segala hal. Hingga aku menjadi wartawan karenanya. Meski kami bekerja di kantor yang berbeda.
Lukisan-lukisan di dinding masih menggantung di tempatnya, seperti dulu. Abstrak; seperti hidup kami yang tak lagi bisa kupahami.
Aku tetap tinggal di rumah ini. Bukan karena ingin, melainkan karena tidak punya tempat lain untuk pergi.
Perempuan itu kini memasak di dapur yang dulu milik ibu. Anak laki-lakinya berlarian di ruang tengah yang pernah dipenuhi tawa kami. Aku hanya berjalan dari kamar ke pintu, dari pintu ke meja makan; seperti tamu yang terlalu lama menetap.
Aku pernah mencari Ibu ke mana-mana. Menyusuri rumah saudara, menghubungi kenalan lama, bahkan menuliskan namanya di kolom pencarian media sosial hingga ujung malam. Hingga layar ponselku dipenuhi namanya, hingga aku lupa bagaimana rasanya berharap.
Rumah ini masih sama; aku masih pulang ke alamat yang sama setiap hari. Masih tidur di kamar yang sama, dengan dinding yang menyimpan suara tawa yang tak lagi kembali. Tapi sejak malam itu, aku tahu satu hal yang pasti;
Kini rumah ini bukan lagi tempat pulang, melainkan hanya tempat singgah untuk mengenang seseorang yang pernah menjadikannya hangat.
■■■