Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Babuy
2
Suka
51
Dibaca

“Asyik! Kita ke rumah Oma!” 

Adisa berteriak senang dengan kedua tangannya ke atas. Ia segera berlari menuju mobil dan memasang sabuk pengaman. 

Ayahnya sedang sibuk mengunci pintu dan berkeliling rumah memastikan semua jendela sudah terkunci lalu masuk ke dalam mobil dan menaruh buku mitologi Nordik di kursi penumpang. Sejenak ia memandang langit. “Jam enam pagi gelap mendung begini.” Ia melirik spion tengah, menatap kursi kosong di samping Adisa sedikit lebih lama dari seharusnya. 

Sergi masuk mobil. “Siap?” ucap Sergi menghadap ke belakang. 

Gadis kecil itu mengangguk yakin menatap ayahnya.  

Mobil berjalan pelan keluar dari halaman rumah. Sergi turun menutup pagar, sedangkan Adisa sibuk mencari video musik kartun melalui ponsel yang terhubung ke layar yang tergantung di atap mobil. 

Sergi menyambar kopi botol yang ia letakkan di kompartemen pintu. “Mata harus segar ini, perjalanan lima belas jam lebih. Istirahat di kapal feri saja deh, lumayan dua setengah jam,” gumam Sergi. 

“Kita ke rumah Oma... Oma yang rambutnya putih.” Adisa mengagetkan Sergi, samar ia mengingat terakhir kali pergi ke rumah Oma rasanya sudah cukup lama. “Rumahnya besar, ya kan, Pa?” 

Sergi berdeham dan menyeringai dengan mata kosong. 

... 

 

Tiba di tujuan, Sergi menggendong Adisa. 

“Tidur di kamar bawah saja, di atas kamarnya sudah jadi gudang. Kasihan dia. Nyenyak sekali tidurnya,” ucap Lastri. 

Sergi mengangguk sembari terus berjalan membawa putrinya.  

“Mama mau istirahat dulu. Entah kenapa hari ini rasanya kurang nyaman. Mungkin karena tak pernah ada tamu ke sini. Sekalinya ada tamu jadi aneh rasanya. Ya sudah, kamu makan dulu baru tidur.” Lastri berjalan menuju kamarnya. 

Rumah tua ini terdiri dari empat kamar, dua bersebelahan berada di lantai bawah dan dua lagi berada di lantai atas. Lantai atas beralaskan kayu tua, beberapa bagiannya berbunyi ketika diinjak. 

Di kasur, Lastri mendengarkan suara piring yang beradu dengan sendok besi. Ia mencoba memejamkan matanya yang sedari tadi sudah ia paksakan terbuka.  

Makin lama suara piring itu terdengar ramai, Lastri membuka matanya. “Mungkin Ica ikut makan kali, ya?” batinnya, “Tapi kok lama sekali si Sergi makannya?” 

Lastri bangkit dari tempat tidurnya, matanya menatap samar jam pada ponsel, 3.13. “Sekalian ke toilet, mau bicara sebentar dengan Ica,” gumamnya. 

Kamarnya gelap gulita, Lastri berjalan menuju pintu dengan perlahan dan meraba. Ia meraih gagangnya dan menariknya perlahan. Baru saja kakinya keluar beberapa senti dari bingkai pintu, suara piring beradu itu hilang.  

Lastri berhenti sejenak. Ia mengatupkan bibir dan dahinya berkerut, matanya menatap atas. Ia melanjutkan langkahnya menuju belakang rumah, melewati ruang keluarga. Pendar cahaya lampu yang dihalangi gorden cukup terang dibandingkan kamarnya. 

Lastri menyalakan lampu pada ruang makan. Seketika matanya terbelalak, mulutnya terbuka. “Masakan sebanyak ini habis sama dia sendiri? Ini harusnya buat empat orang.” Lastri menggelengkan kepalanya. “Ini kenapa piring kotor sampai ada empat juga? Apa mereka segitu laparnya? Ica juga tak mungkin makan sebanyak ini. Tapi tadi perasaan berisik, kenapa pas keluar kamar jadi hening ya?” Lastri terdiam sejenak lalu membersihkan piring-piring kotor yang berada di meja. 

Keesokan paginya Lastri sedang duduk di ruang tamu dengan segelas kopi panas di meja. Sergi yang baru terjaga mendatangi ibu mertuanya itu. 

“Tidak ke kantor, Ma?” 

“Tidak, Mama mau jumpa dengan Ica, masih belum bangun?” 

“Belum, Ma. Sudah hampir sehari semalam dia tidur. Oh, iya. Di sana oleh-oleh buat Mama.” Sergi menunjuk salah satu sudut rumah. 

“Banyak sekali oleh-olehnya. Terima kasih, Sergi.” Lastri diam sejenak. “Tapi bukannya dia semalam ikut makan?” 

“Hah? Sergi sendiri saja makan semalam.” 

“Kenapa piring kotornya banyak sekali?” 

“Sergi sudah cuci bekas makan semalam, lagian Sergi cuma makan sedikit sudah mengantuk.” 

“Hm...” Lastri menurunkan pandangannya menyesap kopi panas yang masih mengepul. Telunjuknya mengetuk-ngetuk pelan pahanya. “Apa Ica baik-baik saja? Rasanya sudah terlalu lama dia tidur.” 

“PAPA!!!” 

“Ah, panjang umur!” ucap Lastri tersenyum. 

“Apa sayang?” sahut Sergi. 

“SINI!!!” teriak Adisa lagi. 

Sergi segera masuk ke dalam kamar, sedangkan Lastri khusyuk menikmati minumannya. Tak lama Sergi menuju Lastri dengan menggendong gadis kecilnya yang memeluknya erat dan membenamkan wajah di dadanya. 

“Wah, cucu Oma satu-satunya, yang baru ulang tahun kelima sudah bangun!” 

Adisa memutar kepalanya perlahan. “Oma?” Adisa mengucek matanya. “Ica sudah sampai ya? Kok cepat sekali?” 

“Kamu tidurnya terlalu lama,” ucap Sergi. 

“Mata Ica ditutup Kakak, katanya biar Ica tidak pusing sepanjang perjalanan. Terus kepala Ica juga selalu dielus Mama, jadinya Ica mengantuk.” 

 “Itu cuma mimpi.” Sergi mengelus rambut Adisa. 

“Ica lapar... padahal sudah makan banyak.” Adisa menatap Sergi dengan bibir tertekuk ke bawah sembari memegang perutnya. 

“Ica semalam makan?” tanya Lastri. 

“Iya, semalam Papa, Mama, Kakak, sama Ica makan banyak.” 

“Imajinasimu banyak sekali, Nak.” Sergi kembali mengelus kepala Ica. 

“Ya sudah. Oma sudah masak sayang, Ica mau makan sendiri atau disuapi? Oma ambil dulu ya makanya.” 

“Ica biasa makan sendiri, Ma,” jawab Sergi. 

Lastri mengangguk dan memegang tangan Adisa. “Ayo Ica, ikut Oma.” 

Lastri mengambilkan Adisa makan, sejenak ia terdiam menatap cucunya makan dengan lahap. Ayam goreng paha berbentuk mikrofon itu pun ia gerogoti hingga tulang rawan. Lastri tersenyum dan meninggalkan Adisa menuju Sergi yang duduk sendiri membaca buku yang ia bawa. 

“Kamu tidak menikah lagi?” Lastri menempelkan pantatnya di sofa. 

Sergi menggeleng. “Belum ada yang pas. Belum ada yang bisa terima status duda dengan anak begini.” 

Mata Lastri berkaca-kaca, ia mengangguk pelan. “Kasihan kamu Sergi, harus berjuang sendiri setelah Maya pergi.” 

Sergi menatap foto istrinya yang sedang menggendong bayi Adisa. Di sampingnya ada seorang anak perempuan kecil yang tersenyum dengan ujung telunjuknya di gigi. “Kasihan dia. Sekarang dia tenang dengan Dita di sana.” Sergi menghela napasnya. 

“OMA!!!” 

“Iya, Ica.” Lastri berlari mendatangi Adisa. “Ada apa?” 

“Aku mau kita semua berkumpul di sana, tidak ada yang saling meninggalkan.” Sergi menyeringai dengan mata kosong menatap foto. Sejenak ia diam dan mengalihkan pandangannya ke arah dapur dan meracau. 

“Kakak mau makan juga katanya, Oma,” Adisa berkata sembari melirik ke sisi kanannya. 

“Kakak yang mana?” tanya Lastri heran. 

“Ini, dia lagi makan makanan Ica, Ica jadi sedikit makannya.” 

Lastri menggaruk kepala. “Sudah, sudah. Sini piringnya, Oma tambah makanannya.” Lastri memberikan piring dengan penuh nasi dan lauk. Matanya menatap aneh pada leher Adisa. “Kalung apa ini?” tanya Lastri menarik keluar hiasan kalung Adisa, berupa sebuah lingkaran pelat besi dengan empat lingkaran di dalamnya, dua lingkaran besar di atas, dan dua lingkaran kecil yang menempel berada di bawah—mirip seperti sudut trapesium terbalik. 

“Tidak tahu, Papa yang tahu apa artinya. Ica suka bentuknya, seperti wajah Kakak dan Mama,” jawab Adisa. 

“Itu cuma kalung biasa, Ma,” tambah Sergi. 

Lastri mengangguk memandang kalung itu sejenak dan melepasnya. 

Seharian Adisa berlarian ke sana ke sini. Di belakang ada Lastri yang mengejarnya. Mereka tertawa bersama dengan napas yang tersengal. Pakaian Adisa basah sudah karena keringatnya. Lembap. Dua kali sudah diganti oleh neneknya. Sedangkan Sergi hanya tertawa, sesekali Adisa melompat ke arahnya, minta perlindungan dari pengejaran neneknya. 

Beberapa kali Adisa terlihat seperti berbicara dengan seseorang ketika ia beristirahat. Lastri menegurnya dan Adisa berhenti berbicara. Keceriaan itu kini hening. Adisa sudah bergulat dengan mimpinya. 

... 

 

Hari berganti. 

Lastri berteriak kencang hingga terjaga. Ia tersentak karena hidungnya mencium bau yang cukup menusuk. Aromanya seperti buntang hewan yang sudah lama mati dan berair. Rasa mual menghinggapi dan membuatnya hendak mengeluarkan isi perutnya. Ia berdiri dan menyalakan lampu kamarnya, hendak mencari sumber bau. Matanya dengan cepat menyapu sekitar. “Tak ada apa-apa. Tapi baunya dekat sekali rasanya.” Ia terduduk di tepi kasur. Cukup lama ia menenangkan diri untuk tidak muntah. Jam pada ponselnya menunjukkan pukul 3.13. Ia menyalakan senter pada ponselnya dan berjalan keluar menuju toilet. 

Di luar kamar, sayup-sayup ia mendengar suara berbisik dari arah kamar Sergi dan Adisa. 

“Tidur ya, Nak, tidur yang nyenyak.” 

Lastri terpaku di depan pintu. Suara itu jelas bukan suara Sergi. Tangannya bergerak perlahan menuju gagang pintu dan menariknya. Ia buka dengan sangat pelan sembari mengintip apa yang ada di dalam. 

Seorang perempuan berkepala babi duduk di sebelah Adisa, menepuk-nepuk pelan pantat gadis kecil itu. Tidak terlihat ada Sergi di sana. Lastri berkeringat hebat menahan bau yang terus menghajarnya. 

“Siapa kamu?! Kamu mau apa dengan cucuku?” Lastri mendorong pintu dengan keras. 

Perempuan itu diam sejenak dan berdiri menghadap Lastri yang menutup wajah dan hidungnya, 

Badan Lastri bergetar hebat. “Pergi! Pergi babi!”  

Lastri terjaga dengan berteriak. Badannya penuh dengan peluh meski ia merasakan dingin. Ia mengambil ponselnya. 3.13. Lastri menghela napas sejenak lalu bangkit menuju kamar Adisa dan Sergi. “Kosong? Ke mana mereka?”  

Lastri berkeliling sembari berteriak. Jantungnya berdegup kencang, wajahnya tegang. “Sergi! Ica!” 

Terdengar suara tawa Adisa dan langkah kaki dari lantai atas. Lastri berhenti dan menelan ludah. “Apa yang mereka lakukan di atas?” ucapnya. 

Lastri berlari menuju lantai dua menyalakan semua lampu. “Ica! Ica! Kamu lagi apa, sayang?” 

“Oma... Oma... ke sini, Oma. Adisa di dalam kamar sama Kakak. Tapi pintunya tak bisa dibuka dari dalam,” teriak Adisa keras yang menyatu dengan suara langkah kakinya yang mengentak lantai kayu. 

“Mana Papamu Ica?” 

“Papa tadi tidur, Kakak bangunkan aku buat main di atas.” 

Sesampainya di depan pintu kamar, Lastri mencium bau seperti dalam mimpinya. Tangannya gemetar saat membuka pintu yang kuncinya tergantung di luar. Ruangan gelap total—cahaya masuk dari belakang Lastri. Terlihat Adisa yang terhenti dari larinya.  

Hidung Lastri langsung diserbu, seketika perutnya terasa terguncang. “Kamu lari-larian sama siapa? Aduh! Bau sekali, kamu tidak mual, Ica?” ucapnya sembari menutup hidung. 

“Sama Kakak Oma. Itu bau Kakak sama Mama, Ica suka bau mereka.” 

“Ica... jangan mengada-ada. Ayo turun sekarang!” Lastri menyambar tangan Adisa sambil terus menutup hidungnya. 

Lastri membalikkan badannya. Ia terkejut dan terjatuh. Terlihat perempuan seperti anak kecil berkepala babi itu berdiri menghadangnya. 

Wanita tua itu terduduk, ia menarik Ica dan mendekapnya. Lalu ia melihat wanita berkepala babi yang ia lihat dalam mimpinya berada di atap tanpa plafon. Ia berjalan ke sana ke mari seperti hewan berkaki empat pada tiang-tiang penyangga atap, kemudian turun dan berdiri di sebelah wanita kecil berkepala babi. 

“Sergi!!! Tolong Sergi!!! Kamu di mana?” Lastri bangkit terus mendekap Ica dan menjauhi kedua wanita babi. Matanya tak kuat memandang kedua makhluk itu. Ia menghadap dinding dan membenamkan wajah gadis itu di perutnya. 

“Di sini kalian rupanya,” Sergi tiba dari bawah. 

“Sergi, dari mana saja? Lihat di sana ada dua babi yang menakutkan.” 

“Mereka tidak berbahaya, Mama. Mereka abadi seperti itu. Mama jangan cerewet seperti Ica, sudah mati masih saja berisik. Aku lagi jahit kepala Mama! Jangan ganggu aku! Diam!” 

... 

 

Telepon berdering di sebuah ruangan di kantor polisi. Seorang polisi yang berjaga menjawab dan mengangguk dengan wajah yang tegang. 

“Kapan Anda mendengarnya?” 

“Teriakannya sekitar jam tiga, Pak! Terus saya datangi dan panggil-panggil tapi pagarnya terkunci. Sudah ada beberapa warga di depan rumahnya sekarang. Sebelumnya juga ada warga yang lihat pria itu baru tiba kemarin malam.” 

Beberapa anggota polisi bergegas meluncur ke lokasi kejadian. Menembus gelap lewat dini hari. 

Di lokasi, para anggota memanjat rumah dan memaksa membuka paksa pagar serta pintu. Rumah itu gelap, tak seperti biasanya. Warga berangsur memadati teras, kini mereka mengerubungi pintu. Salah seorang polisi mengusir warga untuk tetap berada di luar, sedangkan yang lain bersiap masuk. 

Empat orang masuk dengan senjata dan senter di kedua tangan. Bergerak pelan menyusuri ruang demi ruang. Gelap dan sunyi. Suara freon kulkas cukup nyaring terdengar. Salah satu kamar membuat para polisi tersentak, cairan merah berserakan di kasur. 

Mereka terus menyusuri lantai pertama hingga semua ruangan sudah dinyatakan kosong. 

Anak-anak tangga mereka titi perlahan. Terdengar kidung dari seorang pria dan suara orang berdialog. Sedikit cahaya mulai tampak di lantai dua. Bau anyir merebak di seluruh lantai atas itu. 

Cahayanya jingga bergerak bebas, menampilkan bayangan seorang pria pada salah satu dinding. 

Ujung laras sudah diarahkan pada pria yang sedang duduk di salah satu kamar dengan pintu terbuka. Ia menghadap lilin yang menyala, bersenandung dan berbicara pada kehampaan tanpa mengenakan apa pun di badannya. 

“Mereka tidak berbahaya, Mama. Mereka abadi seperti itu. Mama jangan cerewet seperti Ica, sudah mati masih saja berisik. Aku lagi jahit kepala Mama! Jangan ganggu aku! Diam!” 

“Angkat tangan!” 

Pria itu mendadak diam. Ia menoleh ke arah sumber suara dengan cepat, wajahnya tersenyum dengan tatapan mata kosong yang memantulkan cahaya senter. Giginya perlahan semakin terlihat dan mulutnya tersenyum maksimal. 

“Tiarap! Jangan bergerak!” 

Pria itu mengikuti apa yang diperintahkan, tetap dengan matanya yang kosong dan senyuman super lebar. 

Salah seorang polisi bergerak cepat menyergap. Namun sebelum sampai pada pria itu, ia terduduk. Badannya menegang beserta rekannya yang lain. 

Di hadapannya, ternyata pria itu sedang menjahitkan kepala babi pada tubuh seorang wanita tanpa kepala. Di hadapannya juga ada tiga patung manusia berkepala babi: seorang wanita dewasa dan dua anak, satunya masih penuh cairan merah, cairan yang sama menggenang di lantai. 

“Mereka keluargaku, mereka lah Sæhrímnir yang abadi!” teriak Sergi sembari tangannya dibekuk ke belakang, ia menyeringai lebar dengan tatapan kosong dan mengangguk cepat berulang kali. 

... 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Babuy
Pipo Vernandes
Flash
Gadis Itu
Suzie S. Something
Flash
Bronze
Nenek Tua Mengerikan
Nisa
Cerpen
Bronze
Agus: Kutukan di Balik Gelap
Nyaa ko
Novel
Are You Ready?
Naia Novita
Novel
WARISAN DEBORAH
Frasyahira
Cerpen
Bronze
Sunggar Kuntilanak
Dewie Sudarsh
Skrip Film
Timur Tempat Berkumpul Setan
Herman Sim
Novel
Komplotan Tidak Takut Hantu
Mohamad Novianto
Novel
Bronze
The Photographer
Wira karmayudha
Cerpen
Tanda Gelap Di Perbukitan
Hilmi Azali
Cerpen
Bronze
Rumah dan Rumah Itu
Jasma Ryadi
Flash
Gentayangan
Afri Meldam
Cerpen
Bronze
Andung dan Seblak Sapu Lidi
bomo wicaksono
Cerpen
Bronze
Anita dan Penghuni Lain
Jasma Ryadi
Rekomendasi
Cerpen
Babuy
Pipo Vernandes
Skrip Film
Bergumul Dengan Tuhan
Pipo Vernandes
Novel
HAYALISM : Antusiasm
Pipo Vernandes
Cerpen
Cugak
Pipo Vernandes
Cerpen
Catatan Kotor Ayah
Pipo Vernandes
Cerpen
Bergumul Dengan Tuhan
Pipo Vernandes
Cerpen
Icak-icak
Pipo Vernandes