Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
BAarista Cantik Pujaan hati
1
Suka
3,090
Dibaca

“Kak, Americanonya satu ya. Tanpa gula, kayak biasa?”

Cowok di depanku cuma ngangguk. Udah seminggu aku kerja di Kopi Senja, dan udah seminggu juga cuma dia satu-satunya pelanggan yang gak pernah manggil aku ‘cantik’ atau ninggalin nomor HP di struk. 

Padahal papan tulis di depan kasir udah ditempelin stiker sama anak-anak bar lain: _“Barista Cantik Pujaan Hati - Faira”_. Malu-maluin banget.

Namaku Faira. Lulusan SMK Marketing yang nyasar jadi barista karena lowongan sales properti sepi. Jujur, aku lebih jago nawarin brosur rumah subsidi daripada bedain Arabica sama Robusta. Tapi kata Kak Meli, owner cafe, “Yang penting senyum kamu tulus, Ra. Pelanggan betah itu cukup.”

Dan bener. Tip box-ku paling penuh. Ada yang sengaja nuker uang receh cuma biar bisa ngobrol. Ada om-om yang pesen kopi padahal gulanya gak diaduk, katanya “Biar ada alasan balik lagi, minta sendok”. 

Cuma cowok ini yang beda. Namanya Alvan, kata struknya. Datang jam 08.03, pulang jam 08.17. Duduk di pojok, laptop, headset. Pesannya selalu sama: Americano panas, tanpa gula. Ekspresinya datar kayak mesin EDC. 

Anehnya, aku malah salting tiap dia datang.

“Hari ini mau coba menu lain, Kak? Ada Kopi Susu Gula Aren, favorit semua orang,” kataku nekat. Siapa tau dia bosen.

Alvan mendongak sepersekian detik. Matanya ketemu mataku. Lalu balik lagi ke laptop. “Enggak.”

Oh. Oke. 

Teman baristaku, Cika, nyenggol lenganku habis Alvan pergi. “Lo ngarep dia senyum? Mustahil, Ra. Itu Patung Cafe. Dari gue kerja setahun lalu, ekspresinya gitu-gitu aja. Katanya sih anak IT, jadi otaknya isinya coding doang.”

Aku ngelap steam wand sambil manyun. Iya juga sih. Ngapain aku peduli. Mending fokus ke pelanggan yang jelas-jelas mujaku. 

Tapi masalahnya dimulai hari Selasa.

Entah kenapa tanganku lagi apes. Pas mau naruh Americano ke mejanya Alvan, sikuku nyenggol teko. 

Byur.

Kopi panas tumpah. Tepat di kemeja putih Alvan. Di bagian dada. 

Suasana cafe hening 3 detik. Terus rame lagi, tapi bisik-bisik. 

Mukaku pucet. “K-Kak! Maaf, maaf banget! Aduh, panas gak?” Aku panik ngambilin tisu, lap, apapun. 

Alvan cuma diem. Dia lepas headset, liat kemejanya yang sekarang corak pulau Sumatera. Terus dia berdiri, ambil tasnya. 

“Ganti rugi,” katanya pelan. Itu kalimat terpanjang yang pernah dia ucapin ke aku. 

Sebelum aku sempat jawab, dia udah jalan keluar. Ninggalin kopi yang tumpah dan harga diriku yang juga ikut tumpah.

“Kelakuan lo, Ra!” Cika tepuk jidat. “Dia langganan! Kalau dia gak balik lagi, omset pagi kita turun!”

Malamnya aku gak bisa tidur. _Kono shiren o norikoeraremasu you ni..._ semoga aku bisa melewati cobaan ini. Cobaan namanya Alvan. Cobaan karena tanganku ceroboh. 

Besoknya aku datang lebih pagi. Aku latihan latte art sampai 2 liter susu kebuang. Kak Meli sampe bilang, “Udah, Ra, pelanggan gak merhatiin gambar. Yang penting rasa.”

“Tapi ini beda, Kak,” jawabku. “Ini misi minta maaf.”

Jam 08.03, Alvan datang. Kemejanya masih putih. Untung. Dia duduk, buka laptop, gak liat ke arah bar sama sekali. 

Aku racik Americanonya pelan-pelan. Terus aku iseng. Aku bikin cappuccino, bukan Americano. Di atasnya aku coba bikin latte art hati. Tanganku gemeteran. 

Hasilnya... kayak cicak gepeng. Atau kecebong. Entahlah.

Dengan kaki lemas aku anter ke mejanya. “Kak... maaf soal kemarin. Ini... ganti rugi. Aku bikin khusus.”

Alvan mendongak. Matanya liat cup, liat ‘cicak’ itu, terus liat aku. Gak ada senyum. Gak ada kernyitan. Datar.

Dia gak nyentuh kopinya. Dia nutup laptop, masukin tas, terus pergi. 

Kopinya utuh. Dingin. 

Aku mau nangis. 

Cika nyamperin bawa ponselnya. “Ra, liat deh.” 

Di layar ada Instagram. Akun namanya @kopijam8. Isinya foto-foto cup Kopi Senja. Semuanya Americano. Captionnya selalu sama: _“Alasan gue semangat kerja. 08.17.”_ 

Aku scroll. Foto terakhir diupload 5 menit lalu. Fotonya adalah... cup cappuccino dengan latte art cicak gepeng. Captionnya: _“Hari ini rusak. 08.11.”_

Loh? 

“Dia fotoin kopi lo tiap hari, Ra,” bisik Cika. “Kita semua mikir dia aneh. Ternyata...”

Jantungku dug-dug. Jadi selama ini dia...

Keesokan harinya aku deg-degan nunggu jam 08.03. 

08.03... kosong.  

08.10... kosong.  

08.17... kursinya masih kosong.

Dia gak datang. 

Cika tepuk pundakku. “Udah, ikhlasin. Mungkin dia malu.”

Tapi jam 15.22, bel cafe bunyi. Alvan masuk. Kemejanya gak putih, tapi biru dongker. Dia gak ke pojok. Dia jalan ke kasir. Ke aku.

“Americano. Tanpa gula,” katanya. 

Aku bengong. Terus buru-buru bikin. Pas aku kasih, dia gak langsung ambil. 

“Kenapa kemarin cappuccino?” tanyanya. Suaranya pelan, tapi cafe lagi sepi jadi kedengeran jelas banget. Cika sampe pura-pura ngelap meja padahal udah keset.

Aku gugup. “A-Aku mau minta maaf. Pakai latte art. Tapi gagal. Itu harusnya hati, bukan cicak.”

Untuk pertama kalinya dalam 8 hari, sudut bibir Alvan ketarik. Sedikit. Tipis banget. Tapi itu senyum. 

“Kirain sengaja,” katanya. “Kirain lo ngode gue cicak. Nempel terus.”

Mukaku langsung merah sampe kuping. “Enggak! Sumpah! Aku mau gambar hati!”

Alvan ngangguk. Dia ambil kopinya. Sebelum balik badan, dia nambahin, “Latte art-nya jelek. Tapi gara-gara itu, hari ini gue jadi punya alasan buat datang sore.”

Dia pergi ke pojokan. Buka laptop. Kayak biasa. Tapi entah kenapa, Americano tanpa gula itu keliatan lebih manis.

Sejak hari itu, Alvan tetap pesen Americano jam 8 pagi. Tetap tanpa gula. Tetap tanpa banyak omong. Bedanya, sekarang dia gak langsung pergi jam 08.17. Kadang dia nunggu sampe jam 9, pas cafe udah rame. 

Dan kadang, dia ninggalin sesuatu di bawah cup-nya. Bukan nomor HP. Bukan uang tip. Tapi sobekan kertas kecil. 

Hari pertama: _“Hari ini kopinya pas. Kayak yang bikin.”_  

Hari kedua: _“Latte art cicak lo kemana? Kangen.”_  

Hari ketiga: _“Jangan dengerin yang manggil lo barista cantik. Lo lebih dari itu.”_

Aku simpen semua kertasnya di laci kasir. Cika godain aku tiap hari. “Tuh kan, Patung Cafe udah cair. Barista Cantik Pujaan Hati emang gak ada obat.”

Sampai suatu Jumat, hujan deras. Cafe sepi. Alvan datang jam 7 malam, basah kuyup. Dia gak pesen kopi. Dia cuma duduk di bar, di depanku. 

“Ra,” panggilnya. Pertama kali dia manggil namaku. 

“Alvan kok sore-sore? Lembur?”

Dia geleng. Tangannya mainin tetes air di meja. “Gue gak suka kopi.”

Aku melongo. “Hah?”

“Gue pait. Kopi pait. Kalau digabung, idup gue ke-pait-an kuadrat,” jelasnya, datar tapi ada nada bercanda. “Gue datang tiap pagi karena... mau liat lo. Lo satu-satunya yang senyum tulus jam 8 pagi. Kayak matahari kecil.”

Aku diem. Tangan dinginku genggam lap. 

“Terus kenapa gak pernah senyum balik?” tanyaku pelan. Hujan di luar makin deras, nutupin suara detak jantungku yang ribut.

Alvan akhirnya natap aku beneran. Matanya kecokelatan, bukan hitam. Baru sadar aku. “Kalau gue senyum, nanti ketahuan kalau gue deg-degan tiap lo bilang ‘tanpa gula, tanpa senyum, kayak biasa’. Padahal gue pengen banget lo tambahin gula dan senyum.”

Bodoh. Ternyata dia cuma kaku. 

Aku gigit bibir biar gak ketawa. Terus aku ke belakang, bikin satu minuman. Bukan Americano. 

Aku balik bawa satu cup cappuccino. Di atasnya ada latte art hati. Sempurna. Aku latihan seminggu buat ini.

Aku sodorin ke dia. “Mulai hari ini, ganti pesenan. Cappuccino, satu gula, sama senyum yang banyak. Soalnya... aku juga mau jadi alasan kamu semangat kerja, Van.”

Alvan liat cup itu lama. Terus dia liat aku. Senyumnya kali ini lebar. Bukan tipis lagi. 

Dia terima cup-nya, terus hapenya bunyi. Dia ngeluarin, terus ngetik. 

1 detik kemudian, HP-ku bunyi. Notif Instagram. 

@kopijam8 posting foto baru. Cappuccino dengan latte art hati yang sempurna. Captionnya: _“Alasan gue semangat hidup. 19.44.”_

Kak Meli dari dapur teriak, “Ra! Itu Patung Cafe senyum-senyum sendiri! Lo apain?!”

Aku cuma bisa nyengir. Terus bisik ke Alvan, “Besok jangan jam 8. Kemalaman. Jam 7 aja, biar kita bisa sarapan bareng sebelum cafe buka.”

Alvan ngangguk. “Deal. Asal baristanya tetap cantik pujaan hati.”

Dan di luar, hujan berhenti. Kayak sengaja ngasih jalan buat dua orang yang akhirnya gak pait lagi. 

*TAMAT*

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Mbak Yang Ketemu Kemarin
Luca Scofish
Cerpen
BAarista Cantik Pujaan hati
lilla safira alhasanah
Novel
Bronze
WEDDING SCHOOL
Okhie vellino erianto
Novel
PROMISE
Najma Gita
Cerpen
Bronze
Dazzling Love
lidia afrianti
Novel
Senja
Erika Ardianti Dinata
Novel
Datang Lagi Rindu
Initial Jeka
Novel
Gold
5 Detik dan Rasa Rindu
Mizan Publishing
Novel
Titik 0 Km
Egi Arganisa
Novel
Feel My Rhythm
Caroline
Novel
Bronze
BRONDONG IT'S MINE
rida martha prasetya asmi
Novel
My One Night Stand Wife
Lily Riley
Novel
Gold
The Fire Sermon
Noura Publishing
Cerpen
Bronze
Putri Ice Cream
Lestari Senja
Novel
PACAR SEKELAS
Frasyahira
Rekomendasi
Cerpen
BAarista Cantik Pujaan hati
lilla safira alhasanah
Cerpen
I LOVE U
lilla safira alhasanah
Cerpen
Goresan Takdir Di Kanvas Usang (Part 1)
lilla safira alhasanah
Cerpen
Facial Pengikat Jiwa
lilla safira alhasanah
Flash
Warna pipimu Saat itu
lilla safira alhasanah
Cerpen
KAMU, AKU DAN KENANGAN
lilla safira alhasanah
Novel
Naughty Rules
lilla safira alhasanah
Cerpen
Bronze
Remedi Matematika Bonus Cinta
lilla safira alhasanah