Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Baaa-baba-baaa-bababa-baaaanguuun!
0
Suka
16
Dibaca

Sebuah bohlam dengan kabel melilit seperti habis ditarik berada di ambang kematian, dipaksa menerangi ruangan berukuran 3x4 meter. Berantakan. Sungguh ruangan yang berantakan. Bantal terlempar ke lantai di atas baju-baju yang berceceran. Juga nampak beberapa celana dalam tergantung pada sebuah tali, membentuk sebuah barisan yang rapi. Tetes demi tetes air itu, terjun bebas dari barisan celana dalam yang tergantung, membentuk suatu genangan di atas karpet lusuh. Irama suara tetesan air yang jatuh seakan memenuhi ruangan itu.

Tak lama kemudian, genangan itu diserang oleh sebuah langkah kaki yang berhenti di atasnya. Ukuran telapak kakinya hampir menutup genangan itu sepenuhnya. Telapak kaki itu milik seorang pria telanjang, yang sedang mengangkat tangannya, menunjuk satu per satu celana dalamnya bergantian. Sampai pada akhirnya ia memutuskan mengambil celana dalamnya yang berwarna merah, dengan motif putih bergambar hati.

Ia memegang celana dalam pilihannya dengan kedua tangannya. Lalu memelintirnya, dan mengibas-ngibaskan ke udara. Ia melanjutkan langkahnya menuju sebuah lemari yang menutupi satu-satunya jendela di kamarnya, berada persis di sudut ruangan 3x4 meter itu. Entah atas dasar apa lemari itu ia letakkan di sana.

Ia memegang celana dalam dengan kedua tangannya, “Bagaimana menurutmu?” tanya pria telanjang itu ke sebuah cermin.

“Selera yang cukup buruk kawan!”

Ia mengenakan celana dalamnya kemudian menatap cermin dalam-dalam.

“Apa yang terjadi jika orang-orang introvert berkumpul dalam satu ruangan yang sama?” tanyanya membelah keheningan.

“Sulit. Kemungkinannya kecil. Sangat kecil.” jawabnya.

“Namun tidak benar-benar mustahil bukan?”

“Bila itu benar-benar terjadi, terutama jika terdapat lebih dari sepuluh orang introvert di ruangan yang sama, maka itu terjadi karena kebetulan, dan terkadang, kebetulan bisa menjadi suatu keajaiban. Kebetulan bukan suatu hal yang dapat diulang. Satu hal yang pasti, itu menjadi sesuatu yang menarik.”

“Apakah aku introvert akut?” tanyanya.

“Bisa kupastikan kau seorang introvert, namun kau harus memastikan se-introvert apa dirimu. Kapan terakhir kali kau benar-benar berinteraksi dengan orang-orang?”

“Hm, mungkin setahun yang lalu, tepatnya dengan orang tuaku”

“Hmmm, untuk memastikan tingkat introvert mu, kau harus bertemu dan berkumpul dengan orang-orang introvert lainnya. Kau ingin mencobanya?” ia menawarinya.

“Mencoba untuk apa?”

“Untuk melihat seberapa introvert dirimu. Aku baru saja memikirkan tempat yang tepat untuk mengujinya.”

“Bukankah kau bilang kemungkinannya sangat kecil? Di mana dan bagaimana caranya?”

“Hanya ada satu cara?”

“Apa itu?”

“Terus berusaha!”

“Sungguh-sungguh jawaban yang meyakinkan!”

“Dan konsisten. Tapi tenang, aku tahu tempat yang tepat.”

“Di mana?”

“Di rumah sakit. Saat aku diam-diam berjalan-jalan menggunakan tubuhmu, aku menemukan sebuah rumah sakit yang konon adalah tempat khusus berkumpulnya orang-orang paling introvert di kota ini!”

“Di rumah sakit? Apa kau bercanda? Rumah sakit adalah kiamat bagi orang introvert! Ramai, bising, berisik, bau! Tunggu sebentar, kapan kau merebut kesadaranku? Aku tak dapat mengingat hal itu.

“Ya di rumah sakit, aku serius, rumah sakit adalah tempat dengan peluang paling besar karena orang-orang yang sakit, mau tak mau ingin sembuh. Tak peduli seberapa introvert nya orang itu, jika ia sakit parah, mau tak mau ia harus konsultasi ke dokter. Dan satu lagi, rumah sakit tak sebau celana dalammu itu! Mengapa kau tak menyerahkan kepada matahari untuk mengeringkan jemuranmu?”

“Masuk akal. Kebetulan ibuku adalah seorang perawat, jadi aku belum pernah di opname di rumah sakit. Ah, soal jemuran, itu karena aku malas berinteraksi”

“Kau malas berinteraksi bahkan dengan matahari? Tapi saat ini kau berinteraksi denganku. Lalu bagaimana kau tahu jika rumah sakit itu berisik, bising, dan bau?”

“Bukan itu, maksudku aku malas berinteraksi dengan orang-orang yang lalu lalang di bangunan tua ini. Tentu aku berinteraksi denganmu karena kau adalah aku dan aku adalah kau. Kita terlahir pada satu tubuh yang sama. Untuk soal kondisi rumah sakit, ibuku pernah bilang seperti itu. Sisanya hanya imajinasi di kepalaku.”

“Lalu milik siapa tubuh ini? Milikku atau milikmu?” tanya dirinya yang lain.

“Miliknya?” jawaban berupa pertanyaan mengakhiri percakapan itu.

Ia masih tak bergerak dari depan cermin yang menempel erat di pintu lemarinya, seusai berbicara dengan refleksinya sendiri. Itu adalah aktifitas wajib yang sering dilakukannya. Dan sudah ia lakukan sejak kecil, sampai sekarang. 

Tak lama kemudian ia membuka pintu lemarinya, membalikkan dirinya yang lain. Mengambil sebuah celana berwarna hitam, jaket berwarna hitam, masker berwarna hitam, dan sebuah topi berwarna hitam. Semua serba hitam. Ia mengenakan semua itu lalu menutup kembali pintunya. Bertatap muka dengannya sekali lagi.

“Baiklah, aku sudah siap. Bagaimana denganmu?”

“Tentu saja aku sudah siap. Inilah yang aku tunggu-tunggu. Melihat seberapa introvert nya dirimu di antara para introvert.”

Ia melangkahkan kaki menuju pintu. Memegang gagangnya, secara perlahan ia membuka pintu itu. Mendekatkan wajahnya, matanya mengintip keluar melalui sela-sela pintu yang sedikit terbuka. Namun ia secara tiba-tiba menutup pintunya, setelah mendengar suara langkah yang mendekat ke arahnya.

Ia berjalan kembali ke cermin.

“Hahaha, kau sudah menyerah? Kau perlu bantuanku? Hal seperti ini tentu adalah masalah kecil untukku.”

“Tidak perlu,” ia menarik napas panjang, mengambil sebuah cermin kecil di dalam lemari, lalu keluar dari kamarnya dengan cepat. 

*

Akhirnya ia sampai di sebuah gedung yang menjulang, walau tak jarang pandangan matanya sempat kabur saat suara-suara di sekitarnya terus menyergap telinganya. Ia melangkahkan kakinya ke dalam rumah sakit. Di lobby, suara-suara pengunjung seakan lebih bising daripada suara knalpot racing. Pandangannya kabur, sempoyongan hampir pingsan, lututnya bersimpuh ke lantai lalu ia segera merogoh kantong, mengambil cermin lalu melihatnya dalam-dalam, kemudian dirinya yg lain menggantikan dirinya.

“Hanya sampai di sini kemampuanmu hahaha,” ia tertawa sekencang-kencangnya, suaranya menggema, seketika para pengunjung segera menghunuskan tatapan tajam ke arahnya. Namun ia tak peduli. Ia terus tertawa tanpa henti. Ia menuju ke resepsionis lalu menatapnya, dengan tatapan yang menyiratkan hasrat terpendam. Resepsionis itu seorang wanita muda, parasnya cantik dengan mata lentik, dan bibir tipis yang menawan.

Senyuman genitnya terus ia sajikan. Ya, dirinya yang lain adalah sosok yang sangat percaya diri. 360° berbeda. Bisa dipastikan ia seorang extrovert sejati. Dari cara komunikasinya yang ahli, bahkan mungkin lebih ahli dari pengacara-pengacara, atau bahkan lebih ahli dari seorang penipu yang berseragam.

Resepsionis yang melihatnya, pada awalnya tersenyum jijik. Namun, lambat laun si resepsionis pun terbawa suasana dengan karisma lawan bicaranya itu. Resepsionis pun terhanyut, dan komunikasi mereka semakin lebih intens, bahkan si resepsionis mengajaknya kencan di sabtu malam nanti.

Setelah itu resepsionis membawanya ke sebuah ruangan. Ruangan itu terletak di lantai teratas, tepatnya lantai empat puluh. 

“Sudah waktunya,” ujar pria itu sambil menatap cermin kecil miliknya. Kebetulan, sungguh sebuah kebetulan. Beberapa diantaranya ada yang memeluk erat berbicara sambil melihat ke sebuah cermin kecil yang diambilnya dari kantong celananya. Matanya mendapati bahwa terdapat lima belas orang sedang sibuk dengan diri mereka masing-masing, ada yang membaca sebuah buku terbalik, dan ada juga yang tertidur di beberapa kursi yang sudah disusun menjadi tempat tidurnya. Ada pula seorang gadis kecil yang mencolok-colok mata bonekanya menggunakan sebatang pensil.

Tak ada interaksi di antara mereka, yang pasti, mereka berinteraksi dengan dirinya sendiri. Asik dengan dunia dalam kepala mereka. Berbicara tentang suasana yang terjadi di ruangan itu, sangat tak wajar. Sungguh tak wajar. Tak ada interaksi di antara mereka. Lebih sepi dari kondisi normal pada umumnya.

Suasana yang aneh itu menjadi semakin aneh saat salah satu dari mereka tiba-tiba menyanyi dengan sekencang-kencangnya. Ia adalah seorang wanita tua dengan lemak perut yang berlebih. Rambutnya berwarna putih, kulitnya kecoklatan penuh dengan kerutan. Ia bernyanyi di atas sebuah kursi dengan gerak-gerik tubuhnya yang khas. Di balik kacamata berwarna hitam yang digunakannya, matanya menatap kosong langit-langit. Kerongkongannya mengeluarkan irama yang sumbing seakan menggetarkan benda-benda dalam ruangan itu.

Nyanyian wanita tua itu cukup mengganggu, namun itu bagi orang normal pada umumnya. Bagi mereka yang berada di ruangan itu, suara wanita tua sekedar lewat di telinga mereka, yang mereka pedulikan hanya diri mereka sendiri.

Tapi ada satu ekspresi yang tampaknya cukup terkejut dengan suara sumbing wanita tua. Dan itu berasal dari orang terakhir yang datang, saking terkejutnya ia tak sengaja menjatuhkan cermin kecil yang dipegangnya. Untungnya, cermin itu tak jadi menghantam lantai keramik, refleksnya yang cepat membuat kakinya menendang cermin ke udara dan cermin kecil itu berhasil ditangkapnya.

Lalu ia memegang erat-erat cermin itu, menenggelamkan ke dadanya, merasa lega. Kepalanya mengarah ke orang yang menyanyi di atas kursi. Ia sempat menatapnya. Si penyanyi menyadari itu namun ia tak membalas tatapan matanya. Di sisi lain, seorang pria tua yang sedang tertidur di atas kursi yang telah disusun layaknya kasur, tiba-tiba meloncat lalu menjerit. Beranjak dari sana, kemudian dengan langkah kaki yang cepat, menghampiri pria pemegang cermin.

“Jangan berisik!” teriaknya ke sebuah cermin yang dipegang pria itu.

Pria pemegang cermin hanya bisa melongo. Si pria tukang tidur bergerak menuju si penyanyi, kemudian dengan cepat tangannya mengambil paksa kursi yang dinaiki si penyanyi, sambil berteriak, ”Dasar pencuri!” Sontak si penyanyi terjatuh. Penyanyi tetap bernyanyi, walau terjatuh. Lalu secara tak terduga, si gadis kecil melempar bonekanya ke pria pemegang cermin sembari berteriak, “Bangun!” Si penyanyi bangun, lalu lari secepat kilat dengan mulut yang tetap bersenandung sumbing, dan lagi-lagi menuju ke arah pria pemegang cermin. Tepat dihadapan pria pemegang cermin, suaranya semakin meninggi, semakin sumbing, tangan keriputnya merebut cermin lalu melemparnya ke ubin, menginjaknya sambil berteriak dengan irama, “Baaa-baba-baaa-bababa-baaaanguuun!”

*

Seorang perawat di rumah sakit jiwa terlihat panik saat mendengar suara jeritan dari sebuah ruangan tempat anaknya diisolasi. Ruangan itu terletak di lantai teratas rumah sakit jiwa itu, tepatnya lantai 40. Ia bergegas ke sana, dengan tangan memegang sebuah suntikan yang berisi obat penenang. Sesampainya di sana, ia mendapati anaknya sedang berlarian sambil berteriak, terkadang juga bernyanyi lalu kembali berteriak, berbicara sendiri di dalam ruang isolasi. Ruangan itu berantakan. Nampak kursi-kursi berceceran dan sebuah cermin kecil yang sudah pecah berhamburan. Lampu bohlam di ruangan 3x4 meter sudah tak bernyawa. Celana dalam yang tadinya menggantung sudah berceceran di lantai. Namun perawat yang sekaligus ibu dari pria gila itu, berhenti sejenak tepat di depan pintu ruangan. Melihat kelakuan anaknya yang gila dari jendela pintu. 

“Maafkan aku oh wahai anakku, karena kesalahanku di masa lalu menggunakan kau sebagai pelampiasan emosiku, sekarang kau… kau….,” ujar perawat itu sambil meneteskan air mata.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Baaa-baba-baaa-bababa-baaaanguuun!
Arba Sono
Cerpen
OMA-OMA MERESAHKAN
Zirconia
Cerpen
Bronze
Adik Lahir, Mama Berpulang
Novita Ledo
Cerpen
Bronze
Hangat sebelum Ibu Hilang
nindia
Cerpen
Bronze
Harga Sebuah Kejujuran
Wahyu Hidayat
Cerpen
Percakapan Error
Nursan
Cerpen
Bronze
Pembaca Baju
Ferdiagus Rudi Junaedi
Cerpen
Bronze
Sang Penghianat
LSAYWONG
Cerpen
Bronze
Kertas Balas Kertas
Omius
Cerpen
Bronze
Cowok cafe sebelah
Fitriani
Cerpen
Yang Tak Pernah Tersembuhkan
Lukman hakim
Cerpen
Bronze
Mantra Untuk Yunan
N. HIDAYAH
Cerpen
Bronze
Tanah Di Atas Mimpi
alifa ayunindya maritza
Cerpen
Bronze
Tamu yang Tak Diingkan
maspupah Az-Zahra
Cerpen
Bronze
Lukisan Kucing Berseragam Perwira
Sri Wintala Achmad
Rekomendasi
Cerpen
Baaa-baba-baaa-bababa-baaaanguuun!
Arba Sono
Flash
Tiga Botol yang Tersesat
Arba Sono
Flash
Mengutuk Tuhan Palsu
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Percakapan Orang Mati
Arba Sono
Flash
Ritual Gelap
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Ketika Seluruh Orang di Dunia Menjadi Gundul
Arba Sono
Cerpen
Kognisi
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Misteri Celana Dalam Olda Veyotta
Arba Sono
Flash
Wizard Monk
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Ingin Mati saat Rekreasi
Arba Sono
Cerpen
Ada Maling dalam Tubuhku
Arba Sono