Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
AYAT ITU
0
Suka
8
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Sohii bangun dari tidurnya. Benda pertama yang ia lihat adalah ponselnya di meja samping. Ia membuka layarnya. Kosong. Tidak ada notifikasi pesan apapun. Pelan ia meraih dan menggenggam ponsel itu. “Sudah lupakah kau padaku, Euno?”

Ia membuka Whatsapp dan menatap perbincangan terakhir antara ia dengan pria kesayangan itu. Itu sudah hampir tiga minggu silam. Ia menatap baris-baris percakapan itu, terus, terus dan terus, seolah tatapannya akan mengubah atau mendatangkan sesuatu. Namun layar membisu.

Akhirnya ia meletakkan kembali ponsel itu di mejanya. Sesaat kemudian ia pindahkan ke bantalnya, dekat dengan telinganya. Ingatannya melayang ke Euno. Semua kenangan manis bersamanya berujung pada pertengkaran di ruang tengah rumahnya itu di suatu senja yang kelabu dengan hujan rintik dan mendung pekat.

“Aku tidak pernah punya niat menjadikanmu pesuruh!” Sohii berkata untuk kesekian kalinya. “Yang aku inginkan hanya kamu sedikit ringan tangan, peka melihat keadaan!”

“Buatku, baik seringnya kamu nyuruh ini itu maupun caramu bicara sudah membuat aku merasa jadi kacungmu!” balas Euno. “Kamu dong yang harus introspeksi. Jaga bicaramu!”

“Aku sudah kurang sopan apa, Tuan?! Rasanya juga setiap kali aku minta kamu membantu, nadaku biasa aja!”

“Nah, itu! Itu bukti kamu kurang peka perasaanku, Sohii! Kamu menyuruh pembantumu ndak ada bedanya dengan kamu nyuruh aku! Aku ini calon suamimu, Sohii. Belajarlah respek sedikit padaku!”

Sohii menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajahnya. Sesaat kemudian, ia membukanya dan wajahnya sudah kusut berurai air mata. Isakannya mencuat lirih.

“Lha aku harus bagaimana?”

Pria di depannya menarik nafas panjang.

“Kamu wanita dewasa, Hi. Masa iya perlu nasehat panjang lebar dari aku hanya untuk memperbaiki sopan santunmu?”

“Kita ini beda persepsi soal sopan!” suara Sohii keras namun bergetar. “Makanya aku ingin tahuu, gimanaa sih, gimana yang nurut kamu sopan itu gimanaa??!”

“Tuh kan, sudah mulai kasar nadamu? Sudah mulai tinggi nadamu! Itu yang kamu pikir sopan?”

“Iyaa, karena aku sebal! Kamu tidak—” Sohii berhenti berbicara karena tangisnya makin merebak.

Euno bergegas pulang, mengakhiri malam kencan terkutuk itu. Itulah kali terakhir mereka berbicara satu sama lain.

***

 Sohii menghabiskan hampir separuh hari untuk mengamati media sosial kekasihnya. Ia amati pula akun-akun milik teman-teman dekat mereka, terutama yang baru saja memajang foto kegiatannya. Tak perlu waktu lama untuk menangkap tanda “suka” dari Euno untuk dua orang teman wanitanya. Salah satunya, Gyundik namanya, memajang sederetan foto liburannya di Perth. Euno memberikan tanda “like” pada semua foto Gyundik. Jantung Sohii berdebar keras, kerongkongannya serasa makin kering dan lututnya lemas. Satu reel dari Gyundik muncul lagi, memamerkan wajahnya berbinar-binar berjalan sendirian di sebuah taman apik. Satu tanda “like” bertambah. Sohii bersicepat memeriksanya. Euno baru saja menambahkan tanda itu ke reel Gyundik. Sohii merasa ada timbunan lava sedang bergerak naik di dalam dadanya bersiap meletus lewat mata dan mulutnya.

“Kalau hanya memberikan “like” pada teman ya ndak masalah, lah,” demikian ia ingat teman karibnya pernah berkata tentang kebiasaan netizen di media sosial. “Aku sama pacarku aja ndak masalah saling memberikan “like” pada teman cowok atau cewek. Selama kepercayaan itu kita jaga baik, ndak masalah.”

Ya, tapi itu berlaku dalam situasi normal, batin Sohii. Ini situasi perang. Apapun yang pacarku lakukan terhadap cewek lain patut diwaspadai.

 Sohii mulai sering diam-diam melewati kantor Euno pada jam-jam pulang kantor. Ia melihat mobil BYD itu masih terparkir di depan kantor konsultan manajemen itu. Ia sabar menunggu di kejauhan hanya untuk melihat mobil itu keluar dari tempat parkir lalu bergerak menyusuri jalan. Ketika mobil itu berbelok ke kiri menuju jalanan mendaki, Sohii menghembuskan nafas lega. Si lelaki itu masih pulang ke rumahnya seperti biasa.

Sampai pada suatu hari, ia melihat mobil Euno tidak berbelok ke kiri seperti biasanya. Ia berbelok ke kanan lalu melesat ke arah kota.  Sohii melecut mobil kecilnya sekuat tenaga menguntit BYD itu, tapi ia segera kehilangan jejak.

Pada kali berikutnya, hal yang sama terjadi lagi. Euno berbelok ke kanan dan melesat lagi ke arah pusat kota. Sohii yang kehilangan jejak hanya bisa merambat menyusuri tempat-tempat populer untuk nongkrong di kota itu, mulai dari mall, hotel besar, sampai alun-alun. Sampai malam makin larut pun ia tak menemukan mobil kekasihnya itu.

Genap dua bulan sudah mereka membisu. Sohii masih tak jenuh membayangkan esok hari adalah hari baru dimana Euno kembali menyapanya lewat media digital. Setiap malam dibayangkannya adegan itu terjadi esok harinya. Setiap pagi ia terantuk  pada fakta yang sama: tak ada satu pun pesan masuk. Malam berikutnya ia menabur harapan lagi. Esok harinya ia terpuruk kembali. Begitu terus seolah tanpa akhir.

 

Pada hari terakhir bulan ketiga itu ia menutup wajahnya dengan bantal. Sarung bantal basah kuyup terkena limpahan air matanya.

Ketika rasa sakit mulai mendera tubuhnya, Sohii merasa bahwa kondisi mentalnya sedang menggerus fisiknya. Ia perlu bantuan. Namun lebih baik bunuh diri daripada menemui seorang konselor atau psikolog dan mengakui putus cinta sedang mendesaknya ke ujung gila.

Suatu malam, dengan hidung tersumbat dan kepala pening, ia membuka sebuah video di media sosial populer. Tiga video teratas berisi pesan-pesan rohani dan ramalan nasib. Tuhan tahu bahwa akhir penderitaanmu sudah dekat, kata yang satu. Satunya lagi menyajikan ramalan Tarot tentang zodiaknya: percayalah, ia pun sedang merindukanmu dan tak lama lagi pasti akan mengontakmu kembali. Video terakhir menguraikan tiga tanda yang Tuhan berikan sebelum membuka pintu ke arah penyelesaian. Yang pertama, perasaan dan bahkan mimpi tentang masa depan yang membahagiakan. Yang kedua, kesabaran yang makin menyesakkan karena Tuhan sedang mempersiapkan hatinya untuk sebuah situasi baru. Yang ketiga, keinginan kuat untuk membaca firman Tuhan di Kitab Suci.

Sohii memutuskan untuk lebih mempercayai ramalan Tarot itu. Rasanya hanya itu yang bisa membuatnya lebih tenang. Maka ia pun menunggu lagi. Satu hari, dua hari, tiga hari, belum terjadi apa-apa. Pada hari ketujuh, layar percakapannya masih hampa tanpa pesan dari Euno. Tak setitikpun. Sambil merutuki dalam hati pesan Tarot yang dilihatnya itu, jemarinya mulai mengetikkan beberapa kata: “Euno, kamu gimana?” Semilimeter lagi jarinya akan menyentuh tombol “kirim” di layarnya ketika ia mendadak terhenti disana.

Shit, umpatnya. Dengan jari gemetar ia melempar ponselnya ke samping bantalnya.

Sohii menghabiskan hari itu sepenuhnya sendirian. Bahkan kehadiran teman-teman dekatnyapun mulai terasa mengganggu. Mereka datang dengan masalahnya masing-masing, sementara ia mengharapkan mereka ikut menyumbangkan solusi untuk masalahnya sendiri. Maka ia pun pergi sendirian ke sebuah kafe yang baru dikenalnya lewat sebuah media sosial populer.

Suasana kafe itu tenang. Cahaya kuning yang lembut menyiram ruangan utamanya. Ia mengambil tempat di pojok ruangan dan memesan Combo Basket dan Mocktail.

Ketika termangu-mangu menunggu itu, pandangannya terantuk pada sebuah papan kayu kecil tertempel di tembok di samping mejanya. “Tuhanlah sumber kekuatanku dan perisaiku. Kepada-Nya hatiku percaya.”

Sohii tertegun sejenak.

Itu pasti salah satu ayat dari Kitab Suci. Kayaknya sudah bertahun-tahun aku tidak pernah membaca lagi Kitab Suci, batinnya. Tapi apakah ini pesan buatku?

Ia membaca lagi tulisan itu. Beberapa kali. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Sohii mendapati dirinya mengucap doa dengan khusyuk.

Lalu matanya sedikit berbinar. Nampaknya ini jawaban alam semesta terhadap masalahku, batinnya. Entah bagaimana ia merasa Euno akan kembali kepadanya. Selama ini tiga bulan sudah ia kuat-kuatkan diri tanpa pria itu dan sekarang nampaknya cobaan itu akan berakhir. Euno pasti akan menghubunginya lagi.

Ia menghabiskan makanan dan minumannya dengan sedikit semangat menyala dalam dadanya.

 

Dua hari berlalu tanpa ada kabar yang ditunggunya. Menjelang hari ketiga  setelah ia terinspirasi oleh tulisan di dinding kafe itu, entah bagaimana ada dorongan kuat sekali untuk kembali melacak Euno. Ia kembali mengemudikan mobilnya ke sekitar kantor Euno menjelang pulang jam kerja.

Ia hampir sampai di depan kantor itu ketika ia melihat mobil Euno mundur dari parkiran kemudian berjalan lurus. Sohii menengok jam di dasbornya. Oh, belum jam pulang tapi pria itu sudah bergegas pulang. Menahan deburan jantungnya, Sohii mencekal kemudinya erat dan ia membuntuti mobil pria itu dari jauh. Kali ini Euno tidak berbelok kanan. Ia melaju lurus dengan kecepatan sedang.

Mereka memasuki kawasan perumahan elit yang memang menyatu dengan komplek perkantoran modern. Mobil Euno memasuki satu daerah berportal, kemudian berjalan lurus dan membelok ke kanan. Sohii mengikutinya beberapa menit kemudian.

Ia bisa melihat mobil Euno berhenti di depan sebuah rumah berukuran sedang dengan pagar berjeruji warna putih. Sohii menghentikan mobilnya beberapa belas meter dari mobil tunangannya dan menunggu. Mobil Euno masih menyala dengan lampu kecilnya sedikit menerangi area di depannya. Sohii bisa melihat bayangan pria itu di balik kemudi.

Beberapa menit berlalu. Tak ada sesuatu yang terjadi. Akhirnya Sohii memutuskan untuk bertindak. Sekarang atau selamanya aku akan terbakar dalam api ketidakpastian, batinnya. Ia membuka pintu dan melangkah pelan mendekati mobil Euno.

Dia sudah tinggal beberapa meter dari mobil Euno ketika sesuatu terjadi. Sesosok tubuh ramping dengan rambut panjang bergelombang dan baju berwarna gelap muncul dari balik pagar. Sesosok anak kecil mengikutinya. Sohii tak bisa melihat jelas wajah mereka karena sinar lampu jalanan datang dari belakang mereka. Keduanya melenggang menuju mobil Euno, membuka pintunya, lalu masuk ke dalam.

 

Sohii tercekat. Refleks ia mempercepat langkahnya. Mesin mobil Euno menyala, bersiap berangkat. Sohii sampai di sampingnya. Pandangannya bak menembus kaca tebal berwarna gelap di sisi pengemudi. Sohii yakin kali ini Euno juga bisa melihatnya.

 

Tak ada kata terucap. Mobil melompat ke depan lalu berputar siap melaju ke arah berlawanan. Sohii hanya terpaku ditempatnya berdiri, matanya tak lepas dari bangku belakang mobil. Ia bahkan bergeming ketika mobil yang tengah berputar itu hampir menyerempet tubuhnya lalu melaju mendekati portal.

Sohii tak kuasa menahan ledakan tangisnya. Ia ingat lagi ayat itu. Ah, secercah kesadaran meruyak di benaknya.

Sohii melepas sandal tebalnya. Bertelanjang kaki, ia berlari sekencang yang ia bisa. Telapak kakinya yang halus menyentuh aspal keras. Sedikit sakit, namun ia menjejakkan kaki lebih keras ke tanah dan rasa sakit itu pun minggir.

Mobil terus  melaju. Ada tikungan dan sebuah portal yang harus dibuka. Mobil sedikit mengerem. Sohii mempercepat larinya. Nafasnya memburu. Matanya mulai sedikit berkunang-kunang. Namun “Tuhan adalah sumber kekuatanku dan perisaiku” ia teriakkan dalam hati. Apapun yang ia lihat di dalam mobil itu, apapun yang terjadi, ia akan kuat, bahkan jika ia harus berdiri di depannya. Ia terus berlari mengejar, tersengal, tapi tak akan ia berhenti.

 

TAMAT

Juli 2026

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Ambar Merah
Dhea FB
Cerpen
AYAT ITU
Atis Dee Jay
Novel
Rela, Where it start it end
Revain
Novel
Feel My Rhythm
Caroline
Novel
Bronze
Caritas
StarV
Novel
Bronze
Our First Love Story
Kazehaya Shin
Cerpen
Bronze
Aku dan Mantan Kakak Iparku
Imajinasiku
Novel
Bronze
A Born Beauty
Yohana Ekky Tan
Novel
Elegi Asa di Langit Granada
Halifa Zari
Novel
Gold
Rinduku Sederas Hujan Sore Itu
Noura Publishing
Novel
The Partner Next Door
Tia Givanka
Novel
SCOMPARIRE
Cindy Permata
Novel
Kanvas Hati
Penulis N
Novel
Sebelum Titik
Kartini NRG
Novel
Mencintai sendirian
ismiati wardani
Rekomendasi
Cerpen
AYAT ITU
Atis Dee Jay
Cerpen
Bronze
DIMANA RANDY?
Atis Dee Jay
Novel
DUA DARA DI ATAS PRAHARA
Atis Dee Jay
Cerpen
Bronze
GEDORAN DI PAGAR TUAN CIAAT
Atis Dee Jay
Novel
CADAS KARANG DI BAWAH TEBING CURAM
Atis Dee Jay
Cerpen
Bronze
MBAH PIRUS DAN KESEBELASAN ARGENTINA
Atis Dee Jay
Cerpen
CERMIN DI POJOK RUANG TENGAH
Atis Dee Jay
Cerpen
Bronze
DI UJUNG ANCAMAN SANG SOPIR
Atis Dee Jay
Cerpen
Bronze
PEREMPUAN HISTERIS MENJELANG UBUD
Atis Dee Jay
Cerpen
Bronze
MENJELANG LIMA PULUH
Atis Dee Jay
Novel
MENDAMBA CAHAYA
Atis Dee Jay
Cerpen
Bronze
SESAJEN UNTUK KAFE ITAS
Atis Dee Jay
Cerpen
Bronze
TUTUP PINTUNYA!
Atis Dee Jay
Cerpen
SABER DAN SUKU PREMANSABAR
Atis Dee Jay
Cerpen
SUATU HARI DI MUSEUM PERJUANGAN
Atis Dee Jay