Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Ayah Gebetanku Seram
0
Suka
5
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Menurut buku primbon tidak resmi yang kutulis sendiri di dalam otakku, ada tiga tingkat keberanian seorang pria sejati. Tingkat pertama: berani menagih utang ke teman yang hobi update story nongkrong di kafe mewah. Tingkat kedua: berani memakan gorengan yang jatuh ke lantai padahal belum lima menit. Dan tingkat tertinggi, puncak dari segala uji nyali manusia fana: Berani ngapel ke rumah gebetan di malam Minggu.

Namaku Heru. Status: Jomblo ngenes yang level kemiskinannya membuat nyamuk di kosanku mati kelaparan karena darahku kekurangan zat besi. Kendaraanku adalah sebuah motor Honda Supra X keluaran tahun 2004 yang suaranya mirip helikopter asma. Kalau digas, bunyinya ngok... ngok... ngok..., tapi larinya cuma secepat orang jalan cepat.

Namun, malam ini, aku mempertaruhkan seluruh sisa harga diriku. Aku memakai kemeja batik lengan pendek andalanku (yang kerahnya sudah sedikit berserabut), menyemprotkan parfum isi ulang aroma Aqua Fresh sebanyak setengah botol sampai lalat yang lewat di depanku langsung jatuh pingsan, dan menyisir rambutku dengan pomade murahan hingga kilapnya bisa memantulkan cahaya lampu jalan.

Tujuanku malam ini hanya satu: Rumah Sinta.

Sinta adalah bidadari divisi Customer Service di tempatku bekerja. Wajahnya ayu, senyumnya semanis es teh pandan, dan suaranya kalau sedang menelepon pelanggan bisa membuat pria beristri mendadak ingin single lagi. Setelah PDKT selama tiga bulan bermodal traktir batagor dan cilok di depan kantor, Sinta akhirnya memberiku lampu hijau untuk datang ke rumahnya.

"Datang aja, Mas Heru. Kebetulan Bapak lagi ada di rumah kok," pesan Sinta via WhatsApp tadi sore.

Membaca pesan itu, awalnya aku merasa seperti gladiator yang siap menaklukkan Roma. "Tenang aja, Sinta. Calonmu ini pandai mengambil hati orang tua," gumamku pongah di depan kaca kosan.

Namun, kesombongan itu hancur lebur menjadi debu kosmik tepat ketika aku memarkirkan motor Supra asma-ku di depan pagar besi rumah Sinta.

Rumah Sinta tidak terlalu mewah, tapi pagar kayunya menjulang tinggi dengan ukiran yang terlihat mengintimidasi. Aku menelan ludah. Tanganku yang basah oleh keringat dingin menekan bel rumah. Ting-tong...

Tidak ada jawaban. Aku menekan lagi. Ting-tong... Lalu, terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah. Bukan langkah kaki biasa. Suaranya berat, lambat, dan menciptakan getaran minor di permukaan tanah. Dug... Dug... Dug... Persis seperti suara T-Rex yang sedang mendekati mangsanya di film Jurassic Park.

Pintu rumah terbuka. Dan di sanalah, di balik pagar besi yang hanya setinggi dadanya, berdiri ayah Sinta. Bapak gebetanku. Calon mertuaku.

Jantungku berhenti berdetak. Cairan empedu di lambungku mendidih. Pria di hadapanku ini memiliki tinggi nyaris 190 sentimeter. Lebar bahunya mengalahkan pintu kulkas dua pintu. Otot bisep dan trisepnya menonjol liar dari balik kaos kutang (singlet) hitam ketat yang ia kenakan. Kepalanya plontos tanpa sehelai rambut, dan di bawah hidungnya melintang sebuah kumis tebal yang mengingatkanku pada kumis tokoh antagonis penjajah Belanda di film-film perjuangan.

Matanya... Oh Tuhan, matanya menatapku dengan sorot yang sangat tajam, seolah sistem radarnya sedang menghitung berapa gram daging yang bisa diekstrak dari tubuh kerempengku ini.

"Cari siapa?" Suaranya keluar. Berat, serak, dan menggelegar seperti subwoofer konser dangdut yang rusak.

"S-s-saya... H-heru, Om... P-p-paket... Eh, m-maksud saya... t-temannya S-Sinta, Om," jawabku dengan suara mencicit, persis tikus got yang kecepit ban truk. Keringat dingin sebesar biji salak mulai meluncur deras dari pelipisku, melunturkan pomade-ku.

Pria raksasa itu menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Alisnya yang tebal bertaut. "Oh. Heru. Masuk."

Dia membuka kunci gembok pagar. Terdengar bunyi krak yang keras. Di kepalaku yang paranoid, bunyi itu bukanlah bunyi gembok yang dibuka, melainkan bunyi patahan tulang leherku di masa depan.

Dengan kaki yang bergetar hebat layaknya orang kena parkinson stadium akhir, aku menuntun motorku masuk. Pria itu, yang kutahu bernama Pak Broto, menutup pagar kembali dan menguncinya. Klek. Pagar terkunci. Dalam kamus otak Heru: Akses melarikan diri telah ditutup. Kau sudah masuk ke dalam arena pembantaian, kawan.

"Duduk," titah Pak Broto menunjuk sofa di ruang tamu dengan dagunya yang kotak.

Aku duduk di ujung sofa, persis di ujungnya, hanya menyisakan satu perempat pantatku yang menempel di bantalan kursi. Posisi siap lari. Lututku merapat erat, kedua tanganku menjepit paha.

"Sinta lagi mandi. Tunggu bentar," kata Pak Broto. Suaranya datar tanpa intonasi. Dia menatapku tajam. "Kamu diam di sini. Jangan ke mana-mana."

Pak Broto berbalik dan berjalan menuju dapur.

Jangan ke mana-mana? batinku menjerit histeris. Itu bukan tawaran, itu ancaman! Kalau gue berdiri, dia pasti bakal nembak gue pake panah beracun dari dalam dapur!

Aku menahan napas. Ruang tamu ini sangat rapi, tapi di mataku, setiap sudutnya terasa penuh ancaman. Mengapa ada banyak sekali koleksi keris di dinding? Mengapa ada patung harimau menganga di sudut meja? Ini rumah warga sipil atau markas sindikat pembunuh bayaran tingkat RT?!

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki Pak Broto kembali dari dapur. Tapi kali ini, dia tidak datang dengan tangan kosong.

Mataku melotot lebar hingga nyaris lepas dari rongganya. Di tangan kanan Pak Broto, tergenggam sebuah golok daging raksasa berbahan baja karbon (Cleaver). Golok itu sangat besar, mengkilap, dan terlihat sangat tajam. Di tangan kirinya, dia membawa sebuah benda bulat besar bertekstur keras berwarna hijau kecokelatan.

YA ALLAH! DIA BAWA GOLOK! DIA BENERAN MAU JADIIN GUE TUMBAL PROYEK JALAN TOL! Paru-paruku lupa cara memompa oksigen. Aku menekan tubuhku semakin mundur ke pojok sofa.

Pak Broto berjalan mendekatiku, wajahnya menunduk menatap benda bulat di tangannya. Dia berhenti tepat di depan meja tamu, tepat di hadapanku.

"Heru," panggil Pak Broto dengan suara baritonnya yang mematikan. "Kamu suka yang muda atau yang tua?"

DEG! Pertanyaan macam apa itu?! Apakah ini interogasi sebelum eksekusi?! Kalau aku jawab suka yang muda, dia pasti marah karena menganggap aku pedofil! Kalau aku jawab suka yang tua, dia pasti mengira aku mengincar istrinya! Ini jebakan psikologis tingkat dewa!

"S-s-saya... s-suka yang pas-pasan aja, Om... Y-yang seumuran s-saja..." jawabku tergagap, air mataku sudah nyaris menetes menahan ngeri.

Pak Broto mengerutkan keningnya, menatapku dengan bingung. "Maksudnya? Ini kelapa muda. Saya nanya, kamu mau saya bukain kelapa yang masih muda banget yang dagingnya lembek, atau yang agak tuaan yang dagingnya tebel?"

Hening. Krik... krik... krik...

Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Fokusku beralih dari golok algojo itu ke benda bulat di tangan kirinya. Ternyata itu... Kelapa utuh. Buah kelapa. Bukan kepala manusia yang dibungkus karung hijau.

"O-oh... K-kelapa... Y-yang muda aja, Om... S-seger..." jawabku dengan sisa-sisa nyawa.

"Hm," Pak Broto mendengus. Tanpa aba-aba, dia mengangkat golok raksasa itu tinggi-tinggi. Otot lengannya berkontraksi mengerikan.

JDUAAASSH!!! Pak Broto menghantamkan golok itu ke atas kelapa di atas nampan kayu. Suara tebasannya begitu keras hingga memekakkan telinga. Air kelapa muncrat ke udara. Sekali tebas, batok kelapa setebal batu bata itu terbelah dua dengan sangat presisi.

Tubuhku terlonjak ke atas saking kagetnya. Urat leherku menegang. Tenaga macam apa itu?! batinku menangis darah. Kalau leher gue yang digituin, nyawa gue bahkan nggak sempet sadar kalau udah pindah alam! Sinta... kamu di mana Sinta... cepetan keluar, Sinta... Bapakmu lagi pemanasan mau nyembelih orang nih...

Pak Broto menuangkan air kelapa muda itu ke dalam sebuah gelas beling besar, mengerok daging kelapanya dengan gerakan cekatan, lalu menyodorkan gelas itu ke arahku.

"Minum," titahnya singkat.

Mataku menatap gelas itu dengan curiga akut. Di dalam otakku yang sudah korslet, skenario konspirasi berjalan. Jangan-jangan dia udah masukin racun sianida pas di dapur tadi? Atau ini air kelapa dicampur serbuk beling? Ini tradisi pembunuhan berantai kan?! Minum lalu mati tanpa jejak!

"A-anu, Om... s-saya belum haus... N-nanti saja..." aku menolak dengan senyum yang dipaksakan.

Pak Broto menaikkan sebelah alis tebalnya. Wajahnya berubah lebih garang. "Minum." Satu kata. Tapi nadanya seperti palu godam yang menghancurkan seluruh argumenku.

"S-S-SIAP, OM!" Dengan tangan gemetar hebat, aku meraih gelas itu. Air kelapanya tumpah-tumpah karena getaran tanganku menyamai skala richter gempa tektonik. Aku menutup mata, membaca syahadat di dalam hati, dan meneguk air itu.

Ternyata... Rasanya enak. Manis, segar, dan dingin. Tidak ada rasa racun tikus atau sianida. Aku menghela napas lega, meski paru-paruku masih bekerja di kapasitas 20%.

Pak Broto duduk di kursi tunggal (armchair) tepat di seberangku. Dia menatapku lurus-lurus tanpa berkedip. Tangannya bersedekap di dada.

"Kamu kerja apa?" tanyanya memulai sesi interogasi.

Mampus gue. Mampus. Ini dia pertanyaan jebakan metrik matriks kasta sosial, batinku meronta. Kalau gue bilang gue cuma admin data entry biasa bergaji UMR, dia pasti langsung ngusir gue pake sapu lidi! Gue harus kelihatan punya masa depan cerah!

"S-saya... s-saya di bagian Data Analyst dan Resource Management, Om..." balasku menggunakan istilah Inggris yang sengaja kubuat keren (padahal kerjanya cuma ngerekap data penjualan pakai Excel bajakan dan ngurusin stok kertas HVS di gudang kantor).

"Oh. Pinter komputer berarti." Pak Broto mengangguk pelan. "Sinta bilang kamu orangnya teliti. Benar begitu?"

Teliti? Sinta bilang gue teliti?! Dadaku langsung membusung bangga. Ah, ternyata Sinta memujiku di depan bapaknya. Ini saatnya aku menunjukkan nilai jual utamaku!

"Betul, Om! Saya ini orangnya sangat detail, analitis, dan observan! Saya tidak pernah melewatkan hal-sekecil apapun! Pendengaran dan penglihatan saya sangat tajam!" jawabku dengan nada yang mulai percaya diri, sedikit melupakan ketakutanku pada otot bisepnya.

Pak Broto terdiam. Dia memiringkan kepalanya. Matanya yang tajam menyipit, menatap lurus ke arah mataku. Ruang tamu mendadak terasa mencekam kembali. Suhu udara turun drastis. Dia mencondongkan tubuh raksasanya ke depan, mendekatkan wajahnya ke arahku. Suaranya turun menjadi bisikan serak yang sangat mengintimidasi.

"Kalau kamu seteliti itu..." desis Pak Broto perlahan. "...Kenapa ritsleting celanamu terbuka dari tadi, Heru?"

HEH?! Duniaku berhenti berputar. Waktu membeku.

Dengan gerakan patah-patah layaknya robot kehabisan oli, aku menundukkan wajahku menatap area selangkanganku. Benar saja. Ritsleting celana bahan hitamku terbuka lebar menganga, menampilkan dengan sangat jelas warna celana dalam motif polkadot biru muda andalanku. Tadi saat di kosan karena buru-buru, aku lupa menarik ritsletingnya sampai atas!

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!" Aku menjerit dalam hati dengan frekuensi ultrasonik. Wajahku yang tadi pucat pasi kini berubah memerah padam melebihi warna cabai merah keriting. Malunya minta ampun! Harga diriku yang tadi kucoba bangun tinggi-tinggi, kini hancur lebur menjadi debu abu vulkanik!

Dengan kecepatan setara kilat, aku langsung membalikkan badan ke arah sandaran sofa, menarik ritsleting itu ke atas dengan kasar sampai nyangkut di kain celana dalamku. Krek! "Awww!" Aku meringis kesakitan, tapi aku menahannya. Aku kembali menghadap Pak Broto dengan senyum psikopat yang penuh keringat penderitaan.

"M-m-maaf, Om... T-tadi di jalan... anginnya kenceng... j-jadi kebuka sendiri..." alasan paling goblok sepanjang sejarah peradaban manusia baru saja meluncur dari mulutku.

Pak Broto tidak tertawa. Dia bahkan tidak tersenyum. Dia hanya menatapku dengan wajah datar yang mematikan.

Di saat yang paling menyiksa itu, sesosok bidadari penyelamat akhirnya muncul. "Lho, Mas Heru udah dateng dari tadi?"

Sinta! Sinta turun dari tangga mengenakan daster rumahan berlengan pendek yang sopan, rambutnya basah tergerai memancarkan aroma wangi sampo stroberi. Wajahnya yang tanpa make-up pun terlihat seperti dewi dari khayalan.

"E-eh... Iya, Sin... B-baru aja..." jawabku, suaraku masih bergetar efek menahan malu dan sakit akibat ritsleting yang terjepit.

"Bapak ngobrolin apa aja nih sama Mas Heru? Jangan dibikin takut lho, Pak. Mas Heru ini orangnya emang kagetan," kata Sinta sambil duduk di sofa yang sama denganku, namun memberi jarak yang aman.

Pak Broto mendengus pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Nggak ada. Cuma ngetes ketelitian aja. Sinta, Bapak mau ke belakang dulu. Lanjutin masak."

Pria raksasa itu berdiri, mengambil golok raksasanya dari atas meja, dan berjalan kembali ke arah dapur.

Aku menghembuskan napas yang sedari tadi kutahan di dada. Paru-paruku akhirnya bisa merasakan oksigen murni. "Bapak kamu... binaragawan ya, Sin?" tanyaku dengan suara berbisik, memastikan pria itu sudah benar-benar hilang di balik tembok dapur.

Sinta tertawa kecil, menutup mulutnya dengan anggun. "Bukan, Mas. Bapak itu chef di restoran. Emang badannya aja yang gede karena dulu rajin nge-gym, tapi aslinya Bapak itu hatinya Hello Kitty kok. Suka banget masak, apalagi baking kue."

HATI HELLO KITTY MATAMU PICEK! batinku menjerit histeris. Tadi bapakmu ngebelah kelapa aja tenaganya kayak mau ngebelah bulan! Kalau dia masak kue, ngaduk adonannya pasti pake mixer industri!

Tapi tentu saja, di depan Sinta, aku harus menjaga imej macho-ku. "Oh, pantesan... Kelihatan kok aura penyayangnya. Aku tadi nyambung banget ngobrol sama bapakmu," bohongku dengan tingkat kemunafikan absolut.

Kami berdua pun akhirnya mengobrol. Sinta bercerita tentang pekerjaan di kantor, tentang kucing peliharaannya, dan tentang film-film Korea yang sedang tren. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali memberikan tanggapan lucu yang berhasil membuatnya tertawa renyah.

Sejenak, aku lupa pada ancaman di rumah ini. Sejenak, aku merasa dunia ini indah, dan malam Minggu ini akan berjalan sempurna layaknya FTV SCTV.

Hingga tiba-tiba... terdengar suara gaduh dari arah dapur. Suara dentuman benda keras yang dipukul bertubi-tubi. BAM! BAM! BAM! BAM!

Suaranya sangat keras, membuat kaca jendela ruang tamu bergetar pelan. Aku tersentak kaget. Mataku melotot menatap lorong dapur.

"I-itu suara apaan, Sin?!" tanyaku panik.

"Oh, itu Bapak lagi masak iga bakar buat makan malam kita nanti. Dagingnya lagi dipukul-pukul biar empuk bumbunya meresap," jawab Sinta santai, menyesap teh manisnya tanpa beban.

Di dalam otak Heru yang hiperaktif dan paranoid: Dipukul-pukul biar empuk?! Aku membayangkan pria raksasa botak berkumis tebal itu sedang memegang palu godam berduri (Meat Tenderizer raksasa), memukul-mukul bongkahan daging berdarah dengan wajah psikopat yang tersenyum kejam.

Lalu, terdengar teriakan serak Pak Broto dari dapur. "SINTA! SINI BENTAR! BANTUIN BAPAK MATAHIN TULANG IGA INI! KERAS BANGET, PISAU BAPAK KURANG GEDE! AMBILIN GERGAJI DAGING DI GUDANG!"

GERGAJI DAGING?! Jantungku yang tadinya sudah mulai normal kembali berdetak dalam ritme heavy metal. Bulu kudukku berdiri serempak seperti pasukan paskibraka.

"Bentar ya, Mas Heru," Sinta tersenyum manis. "Mas Heru tunggu di sini aja. Atau kalau mau lihat Bapak masak, ikut ke dapur juga boleh."

IKUT KE DAPUR?! KE RUANG EKSEKUSI?! Di kepalaku, dapur itu bukanlah tempat memasak yang wangi bumbu dapur. Dapur itu adalah ruangan yang dindingnya dilapisi plastik bening, lantainya penuh genangan darah, dan ada mesin penggiling daging industri yang sedang menyala menunggu tumbal manusia.

"E-eh... Nggak usah, Sin. S-saya di sini aja jagain ruang tamu... A-aman kok..." kataku terbata-bata, keringat dingin kembali membanjiri kaos dalamku.

Sinta beranjak ke dapur. Aku sendirian di ruang tamu. Di saat kesendirian inilah, halusinasiku mencapai titik puncaknya. Suara pukulan palu daging dari dapur terdengar semakin konstan dan brutal. BAM! BAM! KRAK! Bunyi tulang yang patah terdengar sangat jelas.

Lalu, sayup-sayup aku mendengar percakapan antara Sinta dan bapaknya dari dapur. Karena pendengaranku (katanya) sangat tajam, aku menajamkan telinga.

"...Iya Pak, dagingnya emang agak keras. Tadi Heru aku ajak ke sini juga kok..." Suara Sinta terdengar samar. "...Oh, gitu. Ya udah, sekalian aja nanti si Heru kita cincang buat campuran bumbunya..." Suara bas Pak Broto membalas.

APA?!?! SI HERU KITA CINCANG BUAT CAMPURAN BUMBU?!?!

(Fakta yang sebenarnya diucapkan oleh Pak Broto di dapur: "Ya udah, sekalian aja nanti si Heru kita kencangin makannya, suruh nambah bumbunya biar kerasa.")

Tapi telinga Heru yang sudah dipenuhi filter paranoia tingkat dewa, menerjemahkan kalimat itu sebagai vonis hukuman mati! Pria raksasa itu... Sinta si bidadari itu... Mereka bukan keluarga normal! Mereka adalah kanibal psikopat pemakan daging jomblo ngenes dari Jakarta pinggiran! Makanan iga bakar itu hanyalah kedok! Aku adalah bahan utamanya!

Kepanikan absolut mengambil alih seluruh sistem saraf pusatku. Adrenalin meledak menghancurkan setiap logika akal sehat yang tersisa di otakku.

Aku harus lari. Sekarang atau aku akan berakhir menjadi topping iga bakar!

Aku melompat dari sofa. Kakiku yang tadi lemas mendadak mendapatkan kekuatan super dari Dewa Keputusasaan. Aku berlari menuju pintu depan dengan kecepatan yang bisa membuat atlet lari gawang Olimpiade menangis insecure.

Aku menekan gagang pintu rumah. Terkunci! Aku panik, memutar-mutar kuncinya dengan kasar. Klek. Terbuka!

Aku berlari keluar menuju halaman depan. Kulihat gembok pagar sudah terbuka (sepertinya Pak Broto lupa menguncinya tadi). Aku bahkan lupa memakai sandal jepit Eiger-ku yang kutinggalkan rapi di teras. Aku berlari bertelanjang kaki melintasi ubin halaman.

Aku melompat naik ke atas jok motor Supra-ku seperti cowboy melompat ke atas punggung kuda. Tangan gemetar memutar kunci kontak. Cetek. Aku menginjak selahan kaki (kick starter) karena starter elektrik motorku sudah mati sejak zaman megalitikum. Satu kali injakan. Ngok. Mesin mati. Dua kali injakan. Ngoook. Mesin mati.

Dari dalam rumah, terdengar suara Sinta memanggil. "Mas Heru? Kok pintunya kebuka? Mas Heru di luar ya?"

GUSTI! MEREKA UDAH SADAR BURUANNYA KABUR! NYALA KEK LU MOTOR RONGSOKAN! raung batinku sambil menangis histeris.

Aku menginjak selahan itu untuk ketiga kalinya dengan kekuatan penuh tenaga dalam yang dilandasi oleh rasa takut mati yang luar biasa. HIYAAAT!

BBRRRMMM!!! TENG TENG TENG TENG! Mesin Supra itu menyala dengan suara berisik layaknya mesin perahu ketek.

Tanpa menoleh ke belakang, tanpa mempedulikan Sinta yang baru muncul di ambang pintu depan dengan wajah kebingungan, dan tanpa mempedulikan Pak Broto yang muncul di belakang Sinta sambil memegang sebuah palu daging raksasa berlumuran bumbu kecap yang terlihat seperti darah kental...

Aku memelintir tuas gas motorku secara brutal. Motor Supra-ku melesat maju menembus pagar yang terbuka, berbelok tajam di jalan perumahan, dan melaju sekencang mungkin membelah malam Minggu, meninggalkan sandal Eiger, harga diri, dan peluang asmaraku yang hancur lebur di rumah kanibal itu.

"TOLOOOONGGG!!!! ADA KANIBAL MAU BIKIN IGA BAKAR JOMBLOOO!!!!" teriakku histeris di sepanjang jalan raya yang sepi, air mataku mengalir deras tertiup angin malam.

[POV NARATOR]

Sementara itu, di teras rumah. Sinta berdiri mematung menatap kepulan asap knalpot motor Heru yang menghilang di tikungan jalan dengan kecepatan penuh. Sepasang sandal jepit tertinggal menyedihkan di keset.

Pak Broto, yang memakai celemek warna pink bergambar Hello Kitty (dan tangannya memegang palu daging), berdiri di belakang Sinta. Wajah sangarnya terlihat sangat kebingungan.

"Lho, Nduk... Temenmu itu kenapa lari kesetanan gitu? Belum juga ditawarin makan iga bakar lada hitam bumbu rahasia Bapak," tanya Pak Broto, suaranya bariton tapi nadanya sedih. "Terus kenapa celananya tadi ritsletingnya nyangkut di kolor biru? Apa anak muda Jakarta sekarang fashion-nya aneh-aneh gitu?"

Sinta menghela napas panjang, menepuk jidatnya pelan. "Sinta juga nggak tau, Pak. Mas Heru emang orangnya agak... out of the box. Mungkin dia tiba-tiba mules denger suara palu bapak. Padahal Sinta udah nyiapin mental buat ngenalin dia ke Bapak..."

Sinta memungut sandal jepit Eiger milik Heru yang tertinggal. Dia menggelengkan kepalanya pasrah. Malam Minggu ini gagal total. Tapi, setidaknya dia tahu satu hal: Pria bernama Heru itu memiliki kecepatan lari yang luar biasa saat sedang panik.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Ayah Gebetanku Seram
cahyo laras
Komik
Tolong Kami! Detektif Sekolah!
akanehikaru
Cerpen
Bronze
Jangan Tertawa, Pamanku Memang Begini
Muttaqin
Cerpen
Kedatangan Mertua Sultan
cahyo laras
Cerpen
Bertahan Hidup Dengan Yang Termurah
cahyo laras
Flash
Bronze
Pesta Pernikahan
Afri Meldam
Flash
NIKAH EKSPIRED DUA MINGGU
Heru Sandy
Flash
A Girl and A Thief
Fann Ardian
Cerpen
Pujian Tanpa Nutrisi: Sebuah Biografi
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Bronze
Customer Service untuk Doa yang Tertunda
Prasetya Catur Nugraha
Cerpen
Kisah Maling yang Tolol
Muhammad Ilfan Zulfani
Cerpen
Perjalanan Singkat Satu Gerbong Bersamamu
cahyo laras
Flash
Surat dari Masa Depan
Penulis N
Flash
Bronze
Cinta Mati
Raydinda Shofa
Cerpen
Percaya Mitos Yang Kurang Lengkap
cahyo laras
Rekomendasi
Cerpen
Ayah Gebetanku Seram
cahyo laras
Cerpen
Kedatangan Mertua Sultan
cahyo laras
Cerpen
Bertahan Hidup Dengan Yang Termurah
cahyo laras
Cerpen
Perjalanan Singkat Satu Gerbong Bersamamu
cahyo laras
Cerpen
Percaya Mitos Yang Kurang Lengkap
cahyo laras
Cerpen
Jatuh Hati Pada Guru SD
cahyo laras
Cerpen
Gagal Dapet Jodoh
cahyo laras
Novel
Catatan Harian Budak Korporat
cahyo laras
Cerpen
Kossan Angker vs Tekanan Finansial
cahyo laras
Cerpen
Me Vs Trio Mokondo Sok Kaya
cahyo laras
Cerpen
Ngajarin Boomer Pake Smartphone
cahyo laras
Cerpen
Sepatu Mangap di Marathon 10k
cahyo laras
Cerpen
Jangan Ge-Er, Dia gitu ke semua orang
cahyo laras
Cerpen
Jempol Laknat, Gebetan Minggat
cahyo laras
Cerpen
Asmara Yang Bikin Jantung Copot
cahyo laras