Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Asmara Yang Bikin Jantung Copot
1
Suka
65
Dibaca

Secara fisik, aku terlihat seperti pria dewasa yang mapan. Punya pekerjaan, punya hobi gym, otot bisep lumayan terbentuk. Tapi secara mental, khususnya yang berkaitan dengan hal-hal gaib, nyaliku setara dengan bayi hamster yang baru lahir prematur.

Aku adalah tipe orang yang kalau ke kamar mandi malam-malam harus menyanyi lagu "Balonku Ada Lima" dengan keras supaya hantunya tidak berani mendekat. Aku adalah tipe orang yang kalau nonton iklan film horror di YouTube saja langsung melempar HP.

Bencana itu dimulai saat itu. Namanya Rina. Rina adalah definisi bidadari yang turun ke bumi, tapi mungkin saat turun dia kepeleset dan jatuh ke kawah mistis. Wajahnya cantik, kulitnya putih pucat estetik, matanya bulat bersinar, dan senyumnya manis sekali. Tapi ada satu red flag yang seharusnya kulihat sejak awal: Rina memakai tote bag bergambar wajah Valak yang sedang tersenyum.

Saat itu kami sedang PDKT tahap awal. Makan siang di kantin kantor. "Mas Cahyo suka nonton film nggak?" tanya Rina sambil mengaduk es jeruknya. "Suka dong. Banget," jawabku mantap. (Dalam hati: Nonton Doraemon dan Upin Ipin). "Wah, sama! Aku tuh movie freak banget, Mas. Terutama genre horror. Aku ngefans banget sama gore, slasher, sama supranatural. Mas Cahyo suka horror juga nggak?"

Di sinilah letak kesalahan fatal dalam hidupku. Otak reptilku mengambil alih. Hormon testosteronku berteriak: "BILANG IYA! KALAU KAMU BILANG NGGAK, KAMU BAKAL KELIHATAN LEMAH! CEWEK SUKA COWOK PEMBERANI!"

Tanpa sadar, mulutku bergerak sendiri. "Oh... Horror? Wah, itu makanan sehari-hari, Rin. Aku tuh kalau belum nonton orang kesurupan, rasanya makan nasi nggak enak. Hahaha."

Rina bertepuk tangan girang. Matanya berbinar. "Serius?! Ya ampun, akhirnya nemu cowok yang satu frekuensi! Mantan-mantanku dulu cemen semua, diajak nonton Pengabdi Setan aja pipis di celana. Berarti Mas Cahyo pemberani banget dong?"

Aku membusungkan dada (menahan gemetar). "Pemberani adalah nama tengahku."

"Oke! Kebetulan banget minggu ini banyak film horror bagus yang rilis. Kita maraton yuk, Mas? Seminggu ini temenin aku nonton ya?"

Aku menelan ludah. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes di punggung. "B-Boleh. Siapa takut?"

Kalimat "Siapa takut" itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan oleh kewarasanku sebelum dia pamit pergi berlibur selamanya.

 

TEROR JUMPSCARE

Hari: Selasa Malam Film: "The Nun's Angry Cousin" (Genre: Supernatural Jumpscare)

Kami janjian di bioskop jam 7 malam. Rina datang dengan antusias, memakai kaos hitam bergambar tengkorak. Aku datang dengan membawa bekal keberanian palsu dan dua butir obat sakit kepala.

Masuk ke dalam studio bioskop, hawa dingin langsung menusuk tulang. Bagiku, dinginnya AC bioskop saat film horror diputar itu beda. Itu bukan dingin freon, itu dinginnya aura kematian. "Kita duduk di mana, Rin?" "Tengah dong, Mas. Row E. Biar sound-nya nampol di kuping dan layarnya menuhin pandangan."

Mampus. Posisi paling strategis untuk serangan jantung. Film dimulai. Baru 5 menit, suasananya sudah hening mencekam. Musik scoring biola gesek yang melengking tinggi mulai terdengar. Nyiiiittt....

Tiba-tiba... DENG!!! (Suara bass bioskop menggelegar). Sesosok hantu biarawati dengan wajah hancur muncul di layar secara close up.

"HUWAAAA!!!" Aku hampir berteriak. Tapi demi menjaga wibawa di depan Rina, aku berhasil mengubah teriakan histeris itu menjadi batuk berdahak yang aneh. "HUWAAA... HUK! HUK! UHUK!"

Rina menoleh, "Mas Cahyo kenapa? Keselek popcorn?"

 "Iya... uhuk... popcorn-nya pedes ya," jawabku sambil memegangi dada kiri. Jantungku rasanya sudah pindah posisi ke usus buntu.

Sepanjang 90 menit film itu, aku melakukan akrobat mental. Setiap kali musik mulai sepi, aku pura-pura gatal di alis supaya tanganku bisa menutupi mata. Setiap kali kamera menyorot lorong gelap, aku pura-pura menjatuhkan HP ke lantai supaya bisa menunduk lama. Setiap kali hantunya muncul, aku menahan napas sampai mukaku biru.

Rina? Dia malah ketawa. "Ih, hantunya lucu banget giginya ompong," bisik Rina saat adegan hantu memakan kepala orang. Aku hanya bisa mengangguk kaku. "Iya... lucu... gemesin..." padahal dalam hati aku sudah membaca Ayat Kursi, Al-Fatihah, sampai lirik lagu Indonesia Raya.

Keluar dari bioskop, kakiku lemas seperti jeli.

 "Gimana Mas? Seru kan?" tanya Rina dengan wajah berseri-seri.

"Seru banget, Rin. Sumpah. Seru..." jawabku dengan tatapan kosong.

"Oke, lusa kita nonton lagi ya! Ada film dari Thailand, katanya sadis banget!"

Aku ingin menolak. Aku ingin pulang, memeluk Ibuku, dan tidur pakai kelambu. Tapi senyum Rina... ah, sialan. "Oke, Rin. Siap."

 

PESTA DARAH & USUS

Hari: Kamis Malam Film: "Gergaji Mesin Pencabut Nyawa" (Genre: Gore & Slasher)

Dua hari kemudian. Aku belum pulih dari trauma biarawati, sekarang harus menghadapi genre yang berbeda: Gore. Kalau yang pertama tadi kaget-kagetan, yang ini jijik-jijikan.

Sebelum masuk teater, Rina membeli camilan. "Mas, beli Hotdog sama Spaghetti bolognaise yuk? Enak nih makan sambil nonton," ajak Rina. Aku setuju saja. Bodohnya aku.

Film dimulai. Ini bukan film hantu. Ini film tentang psikopat yang hobi memotong-motong tubuh manusia seolah-olah sedang memotong bawang merah. Adegan pertama langsung memperlihatkan kaki seseorang digergaji tanpa sensor. Darah muncrat ke mana-mana memenuhi layar IMAX yang segede gaban.

CROT! CRAAASSS! (Suara efek tulang patah di dolby atmos sangat jernih).

Perutku langsung bergejolak. Aku menunduk melihat Spaghetti di pangkuanku. Saus merah kentalnya terlihat persis seperti... cairan yang ada di layar. "Huek..."

Di sebelahku, Rina dengan santainya menggigit Hotdog-nya. "Mmm... sosisnya enak Mas. Eh liat tuh, ususnya ditarik keluar! Keren banget efek practical-nya!" seru Rina sambil mengunyah sosis dengan lahap.

Aku menatap Rina. Aku menatap layar (usus terburai). Aku menatap Rina lagi (mengunyah sosis). Otakku membuat asosiasi yang mengerikan: Rina = Kanibal. Wajah cantik itu perlahan terlihat mengerikan di mataku. Bagaimana bisa seorang wanita selembut ini menikmati adegan mutilasi sambil makan daging olahan?!

"Mas Cahyo nggak dimakan spaghetti-nya?"

"Nggak, Rin. Aku... aku mendadak kenyang. Kayaknya aku masuk angin."

"Yaudah buat aku aja ya."

Rina menghabiskan dua porsi Spaghetti berdarah (saus tomat) itu sementara di layar sang pembunuh sedang memblender tangan korbannya. Malam itu, aku pulang dan muntah di parkiran motor. Aku tidak bisa tidur. Setiap kali menutup mata, aku mendengar suara gergaji mesin. Ngeng... ngeng...

 

SERANGAN MENTAL SPIRITUAL

Hari: Sabtu Malam (Malam Minggu) Film: "Kutukan Dukun Beranak Dalam Kubur" (Genre: Local Occult/Religious Horror)

Ini adalah level terakhir. Boss Stage. Horror Indonesia. Kenapa ini paling berat? Karena hantunya relate. Kalau hantu Barat (Drakula/Zombie), aku masih bisa mikir "Ah itu di luar negeri". Tapi kalau Pocong? Kuntilanak? Genderuwo? Itu tetangga kita sendiri!

Kondisi fisikku saat ini: Kantung mata hitam, wajah pucat, berat badan turun 2 kilo karena nafsu makan hilang (efek spaghetti). Rina: Segar bugar, makin cantik, pakai parfum wangi melati (yang sialnya malah bikin suasana makin horor).

"Mas, ini filmnya viral banget lho. Katanya penontonnya ada yang kesurupan beneran pas nonton," cerita Rina antusias saat kami antre tiket.

"Hah? Kesurupan? Terus ngapain kita nonton, Maemunah?!" teriakku dalam hati.

"Oh ya? Wah... menantang tuh," jawabku sok tenang, padahal lututku sudah bergetar hebat sampai celana jinsku ikut bergetar.

Film dimulai. Suasana film Indonesia selalu diawali dengan rumah tua di tengah hutan jati, lampu remang-remang, dan suara sinden nembang Jawa. Lingsir wengi...

Bulu kudukku berdiri semua. Bukan cuma bulu kuduk, bulu kaki, bulu tangan, sampai bulu hidung rasanya berdiri tegak memberi hormat pada rasa takut.

Teror dimulai. Bukan jumpscare, tapi psikologis. Tokoh utamanya diteror saat sedang sholat. Tokoh utamanya diteror saat sedang mandi. Tokoh utamanya diteror saat sedang tidur. Itu semua aktivitas harianku! Film ini menghancurkan tempat-tempat amanku!

Puncaknya adalah saat adegan pengusiran setan (Ruqyah). Suara mantra dukun beradu dengan ayat suci. Sound system bioskop yang terlalu canggih membuat suara itu seolah berputar di sekeliling kepalaku. Pandanganku mulai kabur. Aku merasa sesak napas. Apakah aku kesurupan? Bukan. Aku serangan panik (Panic Attack).

Tiba-tiba, Rina memegang tanganku. Aku kaget setengah mati. "ASTAGFIRULLAH SETAN ALAS!" teriakku refleks. Satu bioskop menoleh ke arahku. "Mas? Ini aku, Rina..." bisiknya bingung. "Eh... maaf Rin. Aku kira... tangan genderuwo. Tangan kamu dingin banget sih," alibiku. Padahal tanganku yang dingin kayak es batu.

Malam itu berakhir dengan aku yang harus dipapah keluar bioskop karena kakiku kram (saking tegangnya menahan posisi duduk tegak selama 2 jam). Rina bertanya khawatir, "Mas Cahyo sakit?" "Nggak, Rin. Cuma... asam urat kambuh. Biasa, faktor usia."

 

Aku pikir penderitaan berakhir setelah minggu pertama. Ternyata tidak. Rina semakin agresif. Dia merasa sudah menemukan "Soulmate".

Selama dua minggu itu, hidupku hancur lebur. Setiap kali kami jalan bareng (ke mall, ke taman), Rina selalu membahas topik horror. "Mas, liat deh pohon beringin itu. Aura-nya gelap ya. Kayaknya ada penunggunya," kata Rina saat kami makan bakso di pinggir jalan. Aku langsung tersedak pentol. "Uhuk! Jangan ngomong gitu dong, Rin."

Setiap malam, Rina mengirimiku link podcast cerita hantu, video penampakan CCTV, dan thread Twitter tentang kos-kosan angker. Dan karena aku harus menjaga image, aku terpaksa membukanya.

Akibatnya fatal. Aku mulai berhalusinasi. Di kosanku, aku melihat tumpukan baju kotor di kursi seperti Tuyul yang sedang duduk santai. Aku melihat guling yang tertutup selimut seperti Pocong yang siap melompat. Aku melihat pantulan diriku sendiri di cermin saat sikat gigi dan kaget, "Hah! Siapa tuh jelek banget?! Oh, aku sendiri."

Aku tidak berani ke kamar mandi malam hari. Aku pipis di botol air mineral bekas (maaf jorok, tapi ini darurat militer). Aku tidur dengan lampu menyala terang benderang, TV menyala, dan memutar lagu Kangen Band volume kencang karena setahuku hantu tidak suka lagu Melayu.

Teman kantor mulai menegurku. "Yo, lu kenapa sih? Mata lu item banget kayak panda kurang gizi. Lu make narkoba?" "Bukan, Bro. Gue make cinta. Tapi efek sampingnya liat setan mulu," jawabku lemas.

 

MUNDUR TERATUR

Puncaknya adalah hari Sabtu kemarin. Rina meneleponku dengan suara riang gembira. "Halo, Mas Cahyo! Malam minggu ini ada acara seru banget lho!" Aku sudah firasat buruk. "Apa tuh, Rin? Nonton film lagi?"

"Bukan! Ini lebih seru. Komunitas Pencinta Misteri mau ngadain Uji Nyali di bekas Rumah Sakit terbengkalai di pinggir kota. Kita diajak gabung! Nanti kita bakal diturunin di kamar mayat sendirian selama 30 menit tanpa senter. Romantis banget kan, Mas?"

ROMANTIS NDASMU! Otakku langsung short circuit. Sekring kewarasanku putus. Uji Nyali? Di Rumah Sakit? Bekas Kamar Mayat? Sendirian? Itu bukan kencan. Itu simulasi mati konyol.

Bayangan Rina yang cantik tiba-tiba hilang. Yang ada di kepalaku hanyalah bayangan aku ditemukan tewas dengan mulut berbusa di lantai kamar mayat karena kaget melihat tikus lewat.

Saat itu juga, aku sadar. Cinta memang butuh pengorbanan. Tapi kalau pengorbanannya adalah nyawa dan kewarasan, maaf, aku memilih jomblo. Aku lebih baik kesepian daripada kesurupan.

Dengan sisa-sisa kekuatan mental yang ada, aku menjawab telepon itu.

"Rin..." suaraku bergetar.

"Iya, Mas? Kita berangkat jam 10 malam ya?"

 "Rin... maaf banget. Aku nggak bisa."

"Lho? Kenapa? Mas Cahyo ada acara lain?"

Aku menarik napas panjang. Sudah saatnya melepas topeng Alpha Male palsu ini. "Rin, sejujurnya... Aku harus pergi." "Pergi ke mana?" "Pergi mencari jati diriku yang hilang, Rin. Ternyata aku bukan pemberani. Aku ini penakut, Rin. Aku takut hantu. Aku takut gelap. Aku takut suara pintu berdecit. Selama ini aku menderita, Rin! Aku pipis di botol! Aku tidur dengerin Kangen Band! Aku nggak kuat lagi!"

Hening sejenak di ujung telepon. "Mas Cahyo bercanda ya?" "Aku serius! Tolong, Rin. Carilah cowok lain. Cari penggali kubur atau dukun santet sekalian yang nyalinya kuat. Aku mundur. Aku mau fokus nonton Spongebob dulu untuk memulihkan trauma masa kecilku. Sudah ya, Rina."

Tut. Aku mematikan telepon. Memblokir nomornya (sementara). Memblokir Instagramnya (karena takut liat story dia di kamar mayat).

 

Sudah tiga hari berlalu sejak aku memutuskan untuk berhenti mendekati Rina. Apakah aku menyesal? Sedikit. Rina memang cantik. Tapi apakah aku lega? LUAR BIASA LEGA.

Malam ini, aku bisa tidur nyenyak tanpa mimpi dikejar Suster Ngesot membawa gergaji mesin. Aku kembali menonton kartun. Warna-warni Teletubbies terasa sangat menyembuhkan jiwa. "Tinky Winky... Dipsy..." Ah, damainya hidup ini.

Memang nasibku menjadi jomblo lagi. Tapi setidaknya, aku adalah jomblo yang waras, sehat walafiat, dan tidak perlu jantungan setiap malam minggu.

Pelajaran moral buat kalian para pejuang cinta: Jadilah diri sendiri. Jangan pura-pura berani kalau aslinya penakut. Karena kalau kalian memaksakan diri masuk ke dunia yang bukan milik kalian, kalian akan berakhir sepertiku: Duduk di pojokan kamar, memegang tasbih, sambil nonton Upin Ipin, dan trauma melihat wanita yang memakai eyeliner tebal.

Sekian. Salam Olahraga Jantung.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Asmara Yang Bikin Jantung Copot
cahyo laras
Flash
Kejarlah Daku Kau Kutangkap
Steffi Adelin
Cerpen
Loli si pelupa
hanita
Cerpen
Bronze
Menjadi Madu Mafia Kurang Akal
Yona Elia Pratiwi
Cerpen
Bronze
Tsunami Medan
Ahmad Fairuz
Cerpen
Bronze
Indekos
Nisa Dewi Kartika
Cerpen
Tragedi Salah Makam
cahyo laras
Cerpen
Bronze
Pagutan Rocan
Kinanthi (Nanik W)
Cerpen
Bronze
KPUTOTO, Situs Togel Online Terbesar Di Indonesia
kputoto
Flash
DESTINY
Aston V. Simbolon
Cerpen
Aku Dan My Oboss
Lavender Fla
Flash
Menahan Berak
Alviandromeda | DigitAlv
Cerpen
BALADA BOSS SUPER MODEL
Zirconia
Flash
BADUT KEDUA
Wulan Kashi
Cerpen
Bentang Bintang
Lovaerina
Rekomendasi
Cerpen
Asmara Yang Bikin Jantung Copot
cahyo laras
Cerpen
Tragedi Salah Makam
cahyo laras
Cerpen
Cintaku Bertepuk Sebelah Treadmill
cahyo laras
Cerpen
Datang Bawa Malu, Pulang Bawa Duit (lagi)
cahyo laras
Cerpen
Rapat Abadi Tanpa Keputusan
cahyo laras
Cerpen
Jiwa Lelaki Meronta, Otot Minta Pulang
cahyo laras
Cerpen
Lolos Tilang, Harga Diri Hilang
cahyo laras
Cerpen
Senjata Biologis Buatan Gebetan
cahyo laras
Cerpen
Temen Papah Zone
cahyo laras
Cerpen
Mission Impossible : Protocol Cepirit
cahyo laras
Cerpen
Belajar Nyetir
cahyo laras
Cerpen
Split Bill, Split Hidup
cahyo laras
Cerpen
Dituduh Penculik
cahyo laras
Cerpen
Jangan Ge-Er, Dia gitu ke semua orang
cahyo laras
Cerpen
Percaya Mitos Yang Kurang Lengkap
cahyo laras