Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Namanya Arga. Dia bekerja di kantor Start-up sebelah. Divisi Kreatif. Tentu saja. Penampilannya adalah definisi berjalan dari playlist "Indie Folk Senja" di Spotify. Rambut gondrong sebahu yang diikat asal (tapi pasti butuh 20 menit buat styling), kacamata bingkai tebal, kemeja flanel kebesaran, dan tote bag kanvas bertuliskan kutipan sastra yang aku nggak ngerti artinya.
Arga itu tipe cowok yang kalau ngomong pakai campuran Bahasa Indonesia baku dan Bahasa Inggris Jaksel, dengan nada rendah yang deep. Tipe cowok yang kalau ditanya "Lagi apa?", jawabnya: "Sedang merayakan sepi di tengah hiruk pikuk kapitalisme."
Dan aku, Devi, budak korporat biasa yang hobi nonton TikTok dan minum boba, jatuh cinta padanya. Cinta itu buta. Dan dalam kasusku, cinta itu juga bikin maag.
Setelah sebulan melakukan riset mendalam (baca: stalking medsos), aku menemukan satu fakta krusial: Arga adalah seorang Coffee Snob. Dia bukan peminum kopi sachet. Dia anti Starbucks. Dia membenci Kopi Kenangan. Dia adalah penganut sekte "Kopi Tanpa Gula".
Di feed Instagram-nya, isinya foto cangkir kopi hitam dengan caption: "Acidity yang bright, body yang bold, mengingatkanku pada pahitnya ekspektasi."
Maka, demi mendapatkan hati Arga, aku menyusun rencana gila. Aku akan mengubah identitas diriku. Selamat tinggal Devi si Ratu Boba. Selamat datang Devi si Ratu Single Origin.
Sore itu, rencanaku berhasil. Aku "tidak sengaja" bertemu Arga di lobi gedung saat jam pulang kantor. Dengan sedikit akting (pura-pura menjatuhkan buku Pramoedya Ananta Toer yang baru kubeli dan belum kubaca), kami akhirnya ngobrol.
"Eh, Devi ya? Suka baca Pram juga?" tanya Arga, matanya berbinar di balik kacamata tebalnya.
"Oh, iya dong. Realisme sosialis itu... menyentuh banget," jawabku asal (hasil baca rangkuman di Wikipedia 10 menit lalu).
"Keren. Jarang cewek kantor sini yang punya selera begini. Eh, gue mau ngopi di tempat biasa. Mau join? Di sana beans-nya baru dateng dari Gayo, proses Anaerob Natural."
Aku tidak tahu apa itu Anaerob Natural. Kedengarannya seperti proses pembusukan sampah. Tapi aku mengangguk antusias. "Boleh banget! Kebetulan aku lagi butuh asupan kafein yang... proper."
Kami pergi ke sebuah Coffee Shop bernama "Ruang Hampa". Tempatnya... astaga. Ini bukan kafe. Ini bangunan mangkrak. Temboknya semen acian kasar (belum dicat), lantainya beton retak, mejanya dari peti kemas bekas. Lampunya remang-remang redup seolah listriknya nunggak 3 bulan. Dan anehnya, harga kopinya lebih mahal daripada uang makan siangku seminggu.
Kami duduk di bangku kayu yang keras dan tidak ergonomis. Seorang barista bertato leher dan bertindik hidung datang membawa menu (yang cuma secarik kertas cokelat tulisan tangan).
"Silakan," katanya dingin.
Arga langsung memesan tanpa melihat menu. "Gue mau Manual Brew V60, beans-nya Ethiopia Yirgacheffe. Ratio 1:15, suhu air 92 derajat. Grind size-nya medium-fine ya. Gue mau ngejar fruity notes-nya."
Aku melongo. Itu pesanan kopi atau instruksi perakitan bom nuklir?
Barista itu mengangguk hormat, lalu menatapku. "Mbaknya?"
Inilah saatnya. Otakku berputar. Jangan pesan Latte. Jangan pesan Cappuccino. Itu minuman "susu rasa kopi". Itu minuman anak kecil di mata Arga. Aku harus memesan sesuatu yang terdengar hardcore.
"Aku..." Aku menelan ludah. "Aku mau Long Black. Panas. No sugar. Beans-nya samain aja kayak Arga."
Arga menatapku kagum. "Wow. Long Black? Tanpa gula? Kirain lo tim Latte."
"Ih, apaan," aku tertawa meremehkan (padahal hatiku menangis). "Kopi itu ya harus hitam, Ga. Kalau dikasih susu sama gula, itu namanya kolak."
Arga tersenyum. Senyum yang manis sekali. Senyum yang membuatku rela melakukan apa saja, termasuk bunuh diri perlahan dengan cairan hitam pekat itu.
Lima belas menit kemudian. Dua cangkir kopi hitam tersaji di meja. Asap mengepul tipis. Aromanya... jujur saja, aromanya seperti tanah basah dicampur arang gosong.
"Mari," kata Arga. Dia menyeruput kopinya pelan, memejamkan mata, meresapi rasanya. "Hmm... Clean banget. Aftertaste-nya kayak teh melati."
Aku menatap cangkirku. Ini dia. Musuh bebuyutanku. Aku punya riwayat GERD (Asam Lambung) yang cukup parah. Dokterku pernah bilang: "Devi, lambung kamu itu sensitif. Jangan minum kopi, jangan makan pedas, jangan telat makan." Hari ini, aku melanggar ketiganya (tadi malam aku makan seblak level 5 dan belum makan sejak pagi).
"Bismillah," batinku.
Aku mengangkat cangkir itu. Menyeruputnya sedikit. Cairan panas itu menyentuh lidahku.
PAHIT!!! Pahitnya bukan main. Pahit yang menusuk sampai ke tulang ekor. Lalu disusul rasa ASAM yang tajam. Seperti menelan air perasan jeruk nipis yang sudah basi seminggu.
Mataku refleks melotot. Wajahku ingin berkerut jijik, tapi aku menahannya sekuat tenaga. Aku memaksakan otot-otot wajahku untuk tetap rileks.
"Gimana, Dev?" tanya Arga.
Aku menelan cairan laknat itu. Rasanya seperti menelan paku panas yang meluncur mulus membakar kerongkongan, lalu mendarat di lambungku dengan bunyi CESS!
"Mmm..." Aku berdehem, mencoba menghilangkan rasa pahit di lidah. "Menarik. Notes-nya... fruity ya. Ada rasa... buah beri?" (Aku ngarang bebas, yang kurasakan cuma rasa penderitaan).
"Iya kan!" seru Arga semangat. "Ada hint blueberry-nya dikit di ujung. Lo peka banget lidahnya!"
Aku tersenyum bangga. Tapi di dalam perutku, Perang Dunia Ketiga baru saja dimulai. Asam lambungku yang tadi sedang tidur siang, kini terbangun kaget karena disiram "bensin". Mereka mulai bergejolak. Memproduksi gas. Menciptakan badai.
Kruuuk... Grolll... Perutku berbunyi. Untungnya musik di kafe ini (lagu Payung Teduh volume kencang) menyamarkan suara itu.
"Enak banget ya, Ga," kataku bohong. Aku menyeruput lagi. Kali ini lebih banyak biar cepat habis. Kesalahan fatal.
Sepuluh menit berlalu. Kafein dari kopi Long Black (yang ternyata double shot) mulai masuk ke aliran darahku. Tubuhku yang biasanya hanya menerima asupan gula, kini shock berat menerima kafein murni dosis tinggi.
Reaksi pertama: Jantung. Jantungku berdetak kencang. Dug-dug-dug-dug-dug. Bukan berdetak karena jatuh cinta. Ini berdetak karena mau meledak. Temponya seperti lagu Death Metal.
Reaksi kedua: Keringat Dingin. Ruangan kafe ini ber-AC dingin, tapi punggungku basah kuyup. Keringat dingin mulai muncul di dahiku. Bedak yang kubeli dengan paylater mulai luntur.
Reaksi ketiga: Tremor. Tanganku mulai gemetar. Halus awalnya, lalu makin kencang.
"Dev, lo oke? Kok keringetan?" tanya Arga, dia mulai sadar.
"O-oke kok," jawabku. Suaraku sedikit bergetar. "Cuma... AC-nya mati ya? Agak gerah."
"Dingin kok," kata Arga bingung. "Lo mau tisu?"
"Boleh." Aku mengulurkan tangan kanan untuk mengambil cangkir kopi lagi (biar kelihatan santai). Tapi tanganku tidak bisa diajak kompromi. Tanganku bergetar hebat seperti sedang memegang stang bajaj yang melewati jalan rusak.
Saat aku mengangkat cangkir itu dari piring tatakan (saucer)... KLUNTING... KLUNTING... KLUNTING... KLUNTING...
Cangkir keramik itu beradu dengan piring tatakannya dengan tempo cepat, menghasilkan bunyi dentingan yang nyaring dan konstan. Tanganku gemetar hebat sampai kopinya muncrat sedikit-sedikit keluar cangkir.
Arga menatap tanganku. Lalu menatap mataku. "Dev? Tangan lo kenapa? Kok geter kenceng banget?"
"Oh, i-ini..." Aku mencoba menahan tangan kananku dengan tangan kiri. Hasilnya? Dua-duanya gemetar. "Ini... efek excitement. Gue seneng banget kopinya enak. Jadi... euforia gitu."
"Euforia sampe tremor gitu?"
"Iya. Gue emang gini. Kalo terlalu menikmati seni rasa, saraf motorik gue suka bereaksi berlebihan," jawabku ngawur.
Aku meletakkan cangkir itu kembali dengan susah payah. KLAK! (Bunyinya keras karena aku tidak bisa mengontrol tenaga).
Di dalam perutku, rasa perih mulai menyebar. Bukan perih biasa. Ini perih yang melilit. Lambungku seolah sedang diperas pakai mesin cuci. Uap asam mulai naik ke dada (heartburn). Mulutku terasa makin asam. Aku ingin bersendawa, tapi takut yang keluar bukan angin, tapi ampas kopi.
"Ga," potongku saat Arga sedang menjelaskan tentang Fair Trade Coffee. "Gue ke toilet bentar ya."
"Oke."
Aku berdiri. Kakiku lemas seperti jeli. Aku berjalan menuju toilet dengan langkah gontai tapi dipercepat. Masuk toilet. Kunci pintu. Aku bersandar di wastafel, menatap cermin.
Wajahku pucat pasi. Bibirku putih. Mataku merah berair. Aku terlihat seperti zombie yang baru bangkit dari kubur karena lupa minum obat maag.
"Bego lu, Devi. Bego," rutukku pada diri sendiri. Aku meminum air keran sedikit (jorok, tapi aku butuh penetral). Aku memijat perutku yang kaku. Huekk... Hampir muntah. Tapi tertahan.
Aku mengatur napas. Tarik... Hembus... "Kuat, Devi. Demi Arga. Tinggal setengah cangkir lagi. Abis ini ajak pulang."
Aku membedaki wajahku tebal-tebal untuk menutupi kepucatan. Memakai lipstik merah lagi. Oke. Show must go on.
Aku kembali ke meja. "Sorry, lama," kataku sambil duduk.
"Gapapa. Eh, lo pucet banget, Dev. Beneran gapapa?" Arga terlihat khawatir.
"Gapapa, Ga. Mungkin efek lighting kafenya yang remang-remang estetik ini," elakku.
Kami lanjut ngobrol. Tapi lima menit kemudian, gelombang serangan kedua datang. Kali ini perutku melilit hebat. Ususku seperti diikat simpul mati. Keringat dingin mengucur deras dari leher. Pandanganku mulai berkunang-kunang.
"Ga... toilet lagi ya. Retouch make-up dikit," dustaku.
Aku lari lagi ke toilet. Kali ini aku duduk di kloset, merenungi nasib. Kenapa cinta harus sepedih ini? Kenapa Arga nggak suka Es Kopi Susu Gula Aren aja sih? Kenapa dia harus suka air pahit ini?
Aku keluar toilet dengan kondisi lebih parah. Jalanku sempoyongan. Aku duduk lagi di depan Arga. Sekarang aku tidak bisa menyembunyikan lagi. Tanganku tremor parah. Napasku pendek-pendek. Aku memegang perutku di bawah meja.
Arga menatapku lekat-lekat. Dia melihat mataku yang berair (karena menahan sakit yang luar biasa). Dia melihat tanganku yang gemetar memegang sendok.
"Dev..." suara Arga melembut.
"Ya, Ga?" jawabku lemah.
"Lo... lo nangis?"
Hah? Aku meraba pipiku. Ada setetes air mata jatuh. Itu air mata kesakitan. Air mata lambung yang berteriak minta tolong.
Tapi Arga, dengan otak Indie-nya yang puitis, salah paham.
"Lo terharu banget ya sama kopinya?" tanya Arga takjub. "Atau... lo tersentuh sama obrolan kita soal eksistensialisme tadi?"
Aku bingung mau jawab apa. Kalau aku bilang sakit maag, imej Coffee Snob-ku hancur. Kalau aku iya-in, kok lebay banget nangis gara-gara kopi.
"I... Iya, Ga," jawabku dramatis. "Kopi ini... rasanya dalem banget. Pahitnya tuh... ngena di hati. Mengingatkanku pada... pada..." (Pada promag yang tertinggal di laci kantor).
Arga menatapku dengan tatapan memuja. "Gila. Lo bener-bener punya jiwa yang sensitif, Dev. Gue belum pernah ketemu cewek yang bisa nangis karena notes kopi. Lo spesial."
Dia menggenggam tanganku yang gemetar. "Tangan lo gemeteran karena menahan gejolak emosi kan? Gue paham. Seni yang bagus emang bikin kita gemetar."
TIDAK, ARGA! INI TREMOR KAFEIN! INI GEJALA OVERDOSIS!
"Ga..." bisikku. "Gue rasa... gue harus pulang sekarang."
"Kenapa? Kopinya belum abis."
"Gue... gue terlalu emosional. Gue butuh waktu sendiri untuk memproses rasa ini," kataku ngawur. Aslinya aku butuh waktu untuk mampir ke Indomaret beli susu beruang dan roti tawar.
"Ga," kataku sambil berdiri dengan kaki gemetar, berpegangan pada pinggiran meja sekuat tenaga agar tidak ambruk. "Gue balik sendiri aja."
Arga tampak kaget. "Lho? Gue anter aja, Dev. Lo pucet banget kayak mayat hidup. Serius, gue bawa mobil kok."
"JANGAN!" teriakku refleks.
Beberapa pengunjung menoleh. Arga melongo.
Aku buru-buru meralat dengan nada sok puitis, meski keringat dingin sudah mengalir di sela-sela punggungku seperti air terjun Niagara. "Maksud gue... jangan, Ga. Gue butuh... solitude. Gue butuh berjalan kaki menembus malam, membiarkan angin kota Jakarta memeluk tubuh gue yang sedang rapuh karena caffeine kick ini. Gue mau merenung."
Arga menatapku takjub. "Gila. Lo bener-bener deep, Dev. Oke, gue hargai ruang lo. Hati-hati ya. Kabarin kalau udah sampe dimensi ketenangan lo."
Aku mengangguk lemah, lalu membalikkan badan. Aku berjalan keluar kafe dengan sisa-sisa tenaga terakhir. Setiap langkah terasa seperti menginjak paku. Lambungku bukan lagi perih, tapi rasanya seperti ada alien yang mau menetas keluar dari ulu hati.
Begitu pintu kafe tertutup di belakangku, aku mempercepat langkah. Bukan untuk mencari angin, tapi untuk menjauh sejauh mungkin dari radius pandangan Arga. Aku harus mencapai tikungan di depan sana. Kalau aku pingsan di sini, Arga bakal lihat, lalu dia bakal tahu kalau aku bukan cewek estetik yang terharu, tapi cewek maag kronis yang sok kuat.
"Ayo Devi, kuat... dikit lagi... tikungan itu..." bisikku pada diri sendiri. Pandanganku mulai berkunang-kunang. Lampu jalan terlihat berpecah jadi dua, lalu jadi empat.
Aku berhasil melewati tikungan. Arga tidak mungkin melihatku lagi. Tapi, energiku habis total. Baterai kehidupanku 0%.
Kakiku menyerah. BRUK!
Aku ambruk di aspal parkiran ruko kosong yang gelap. Langit berputar. Aspal terasa dingin di pipiku. Aku masih sadar, tapi tubuhku lumpuh. Aku bisa mendengar suara orang-orang berlarian mendekat.
"Eh! Ada cewek pingsan!" "Woy! Tolongin woy!" "Buset, pucet banget! Ini mayat apa orang?!"
Dalam hitungan detik, aku dikerumuni warga. Ada tukang parkir, abang nasi goreng, dan beberapa pemuda nongkrong. Mereka menatapku dengan horor.
"Mbak? Mbak? Masih idup mbak?" Abang parkir menepuk pipiku.
Aku ingin menjawab, "Sakit maag, Bang." Tapi yang keluar dari mulutku hanya suara mengerang: "Euuughhh..."
"Waduh! Sakaratul maut ini kayaknya!" teriak salah satu warga panik. "Pucet bener! Kayak abis disedot drakula!"
"Panggil ambulan! Panggil ambulan!"
"Ambulan lama! Keburu lewat ini anak orang! Liat bibirnya udah putih!"
"Terus pake apa?! Gue bawa motor doang!"
Tiba-tiba, sebuah mobil bak terbuka (pick-up) yang penuh muatan keranjang sayur kosong berhenti. Supirnya, bapak-bapak berkumis tebal, turun. "Kenapa ini rame-rame?"
"Pak! Tolongin Pak! Ini ada cewek pingsan, kayaknya overdosis atau kesurupan! Pucet banget! Kita bawa ke RSUD deket sini Pak!"
"Waduh, mobil saya bau kol, Mas."
"Gak apa-apa Pak! Nyawa lebih penting daripada bau kol!"
Tanpa persetujuanku (karena aku cuma bisa pasrah), tiga orang pria mengangkat tubuhku. Mereka tidak menggendongku ala princess. Tidak. Mereka mengangkatku seperti mengangkat karung beras. Satu pegang kaki, satu pegang tangan, satu pegang punggung.
Hup! Aku dilempar pelan ke atas bak mobil terbuka itu. Aku mendarat di atas tumpukan karung goni bekas wadah kol dan sawi. Baunya... astaga. Bau sayur busuk campur tanah.
"Pegangin woy! Jangan sampe ngegelinding pas mobil jalan!"
Salah satu pemuda ikut naik ke bak belakang untuk menjagaku. Mobil pick-up itu melaju kencang. Angin sore menerpa wajahku yang sudah tidak berbentuk. Rambutku acak-acakan. Bajuku bau sayur. Lambungku masih menjerit. Inilah puncak kehidupanku: Dilarikan ke UGD naik mobil sayur.
Satu jam kemudian. Aku terbangun di ruang UGD. Bau antiseptik menusuk hidung. Tanganku sudah diinfus. Perutku terasa lebih enak, sepertinya dokter sudah menyuntikkan obat lambung dosis tinggi.
Di sebelahku, ada suster yang sedang mencatat. "Sudah sadar, Mbak? Tadi Mbak diantar bapak-bapak mobil sayur. Katanya ditemuin di parkiran ruko."
Aku mengangguk lemah. Harga diriku hancur lebur. "Makasih, Sus."
"Mbak punya riwayat maag akut ya? Kok nekat minum kopi black coffee? Asam lambungnya naik parah lho tadi," omel suster itu.
"Khilaf, Sus. Demi cinta," jawabku lirih.
Suster itu geleng-geleng kepala lalu pergi. Aku sendirian. Sunyi. Tangan kiriku meraba saku celana. HP-ku masih ada. Untung tidak dicopet saat pingsan tadi.
Aku membuka HP. Tujuanku satu: Instagram Arga. Aku ingin melihat apakah dia mencari aku? Apakah dia DM aku tanya kabar?
Nihil. Tidak ada DM. Tidak ada WA. Tapi, ada lingkaran merah di foto profilnya. Dia baru saja bikin Instastory 5 menit yang lalu.
Dengan hati berdebar (dan tangan masih sedikit tremor sisa kafein), aku menekan story itu.
Layar HP menampilkan sebuah video boomerang. Lokasinya bukan di kafe tadi. Tapi di sebuah bar remang-remang yang estetik. Di video itu, Arga sedang duduk. Dia tidak sendiri. Dia sedang merangkul seorang pria. Pria yang ganteng, stylish, brewokan, dan memakai kemeja floral yang modis.
Arga menempelkan pipinya ke pipi pria itu. Mereka berdua tersenyum lebar sambil memegang gelas cocktail. Sangat mesra. Terlalu mesra untuk ukuran "bro".
Lalu aku membaca caption kecil di pojok bawah video itu.
"Happy 2nd Anniversary, Babe. Thanks for always being my home. Love you. 🏳️🌈 #LoveWins #MyMan #Boyfriend"
HP-ku terlepas dari tangan. Jatuh ke dada. Aku menatap langit-langit UGD dengan tatapan kosong.
Hening. Bunyi monitor detak jantung pasien sebelah terdengar: Tit... Tit... Tit...
Jadi... Selama ini... Aku menyiksa lambungku... Aku menahan paitnya kopi setan itu... Aku gemeteran kayak mesin cuci rusak... Aku muntah-muntah... Aku diangkut mobil sayur...
DEMI LAKI-LAKI YANG SUKANYA SAMA LAKI-LAKI JUGA?!
Air mataku menetes. Bukan air mata sakit maag. Bukan air mata haru. Ini air mata kebodohan hakiki.
Pantas saja dia tadi "menghargai ruang" aku buat jalan sendirian! Dia nggak ngejar aku bukan karena dia cuek, tapi karena dia emang nggak tertarik sama perempuan!
Aku tertawa. Tertawa sendiri di ranjang UGD kayak orang gila. "HAHAHAHA! Bego lu Dev! Bego!"
Suster melongok dari tirai. "Mbak? Kenapa ketawa? Efek obatnya bikin halusinasi ya?"
"Enggak, Sus," jawabku sambil menghapus air mata. "Saya cuma baru sadar. Ternyata obat sakit maag itu bukan diinfus."
"Terus apa?"
"Obatnya adalah sadar diri dan stalking yang lebih teliti."
Selamat tinggal, Arga. Semoga kamu bahagia sama mas pacarmu yang ganteng itu. Aku mau pesen bubur ayam dulu.