Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Sejarah
Bronze
Artefak yang Terbuang
1
Suka
757
Dibaca

Teng! Teng! Teng!

Suara itu menghantam kesadaranku lebih keras dari alarm di ponselku. Dingin yang menusuk dari lantai tanah merambat ke kulit, kontras dengan hawa panas menyengat yang menjilat-jilat wajahku. Aku tersedak bau arang.

Mataku terbuka paksa. Aku berada di dalam sebuah besalen—bengkel tempa kuno. Di depanku, seorang pria tua bertelanjang dada dengan otot legam tengah mengayunkan palu. Di hadapannya, seorang pria lain berdiri tegak dibalut jubah sutra motif abad ke-13.

"Sedikit lagi, Angger. Sedikit lagi baja ini akan meminum takdirnya." Suara itu parau, berat, dan penuh kelelahan. 

​Otakku otomatis menerjemahkan dialek Jawa Kuno yang mereka ucapkan, seolah ada frekuensi gaib yang mengubahnya menjadi kalimat yang kupahami. Aku berusaha bangkit, namun tubuhku kaku.

"Kau terlalu lama, Mpu Gandring." Suara sang pemesan itu dingin, setajam silet. "Aku tidak butuh kesempurnaan estetika. Aku butuh kekuasaan yang mutlak."

Aku membeku. Nama itu. Sebagai kurator, mendengar nama itu seperti ledakan di telinga. Aku sedang menyaksikan fragmen sejarah paling berdarah di Nusantara: Ken Arok. Detik lalu, aku baru saja memastikan kelembaban etalase museum. Kenapa sekarang aku ada disini?

"Kekuasaan tanpa kendali adalah kehancuran, Tuanku," sahut Mpu Gandring tanpa menghentikan tempaannya. "Keris ini belum genap tirakatnya. Jika kau ambil sekarang, ia akan menuntut tumbal yang tak pernah kau bayangkan."

Bau arang dan rasa panas yang menyengat pori-poriku ini terlalu nyata untuk sebuah mimpi. Aku mencoba menggerakkan jemariku, meraba lantai tanah yang kasar. Di bawah kuku-kukuku, aku merasakan butiran debu dan sisa serbuk besi. Otakku yang biasanya penuh dengan data katalog dan protokol konservasi artefak mendadak mengalami freeze.

"Ini gila," batinku meronta.

Aku menatap Mpu Gandring. Sosok yang selama ini hanya kutemui dalam baris-baris membosankan di buku babad, kini berdiri beberapa meter dariku. Setiap ayunan palunya bukan sekadar menempa logam, tapi seolah sedang memukul gendang telingaku.

Lalu mataku beralih pada sang pemesan—Ken Arok. Aura yang dipancarkannya begitu pekat. Melihatnya saja membuat tenggorokanku kering. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tahu darah siapa yang akan tumpah pertama kal...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp7.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Sejarah
Cerpen
Bronze
Artefak yang Terbuang
Zee Lesta
Novel
DIVIDE ET IMPERA
Sastra Introvert
Novel
Suntik Hidup
Ana Latifa
Novel
Cahaya senja bersamamu
Fauzani
Novel
Gold
Di Balik Gerbang
Bentang Pustaka
Novel
tata cara membatalkan pinjaman cairin
NADYA ESA SEPTIARIDINA
Novel
Gold
Muhammad Ali
Bentang Pustaka
Novel
Di Bawah Kaki Sang Penguasa Roma : Takdirku Meluluhkan Hatinya
Titah Kesumawardani
Cerpen
Lentera Terakhir di Benteng Ujung Galuh
Penulis N
Novel
Melati di Tangan Sang Penguasa Buta
Titah Kesumawardani
Novel
X (tak terbatas)
SyaA
Novel
Bronze
Bus Maut
Ariny Nurul haq
Novel
Catatan Orang-Orang Linglung
Eza Budiono
Cerpen
Luweng Grubug
Tia Dia
Novel
Dahlia Merah di Penghujung Abad
tuhu
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Artefak yang Terbuang
Zee Lesta
Cerpen
Bronze
Sawan Mayit
Zee Lesta
Cerpen
Bronze
Akhir Sebuah Penantian
Zee Lesta
Cerpen
Bronze
Ego di Puncak Bala
Zee Lesta
Cerpen
Bronze
Lulun Samak
Zee Lesta
Novel
Bronze
Love Bombing
Zee Lesta