Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Arsip Suara di Frekuensi 108.4
1
Suka
3
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Hujan gerimis membasahi kaca jendela ruang pemancar tua itu, membiaskan sinar lampu kuning temaram yang menggantung di atas meja kerja. Aris menyesuaikan posisi headphone tebal di telinganya, jemarinya yang bernoda tinta memutar knop kuningan pada radio tabung raksasa buatan tahun 1970-an.

Tugas Aris sederhana, namun sepi: merekam dan mengarsipkan gelombang radio mati di pos pemantau bukit utara. Tempat ini adalah peninggalan era lampau yang hampir dilupakan kota, tempat frekuensi-frekuensi kosong berbisik tanpa penonton.

Suara desis statis mengisi gendang telinganya—bunyi white noise yang sudah menjadi lagu tidur baginya selama tiga tahun terakhir. Namun tepat pukul 02.14 dini hari, desis tajam itu meliuk. Jarum penunjuk frekuensi bergetar hebat di angka 108.4 MHz.

Aris menegang. Frekuensi 108.4 adalah pita gelombang terlarang yang sudah ditutup sejak tragedi tanah longsor dua puluh tahun lalu, ketika stasiun radio utama kota hancur tertimbun tanah. Secara teknis, tidak boleh ada pemancar yang beroperasi di sana.

Namun, di antara derak statis, sebuah suara jernih muncul. Suara wanita.

"Untuk siapa saja yang mendengarkan ini... hujan di utara akan berhenti pukul tiga pagi. Jangan lewati jembatan kayu di kilometer empat belas setelah pukul empat. Fondasinya sudah retak."

Aris tertegun. Suara itu tenang, tetapi membawa gema aneh seolah terpancar dari balik dinding kaca tebal. Sebelum Aris sempat menekan tombol balik untuk merespons, siaran itu terputus. Hanya tersisa suara desis angin malam.

Dia mengernyit, memutar balik pita kaset di mesin perekam rol reel-to-reel miliknya. Suara itu memang nyata, terekam sempurna. Aris melihat jam dinding: pukul 02.20.

Apakah ini ulah peretas radio amatir yang suka mengerjai petugas pos? Aris mencoba bersikap rasional. Namun, pukul 03.00 tepat, rintik hujan di luar jendela berhenti seketika, persis seperti yang dikatakan suara di radio.

Jantung Aris berdegup kencang. Ragu dan penasaran memburu benak Aris. Dia menyambar jaket tebal dan senter, lalu menaiki sepeda motor tua miliknya menuju Jembatan Kilometrik Tiga Belas dan Empat Belas—satu-satunya akses penghubung desa bawah dengan jalur utama.

Ketika Aris tiba di jembatan kayu kilometer empat belas pada pukul 03.45, suasana begitu sepi dan kabut membubung rendah. Dari kejauhan, lampu sorot sebuah truk pengangkut kayu meraung, melaju kencang dari arah atas. Truk itu meluncur tanpa menyadari jembatan di depannya.

Aris memarkir motornya melintang di tengah jalan dan mengayunkan senternya keras-keras. Truk besar itu mengerem mendadak, membunyikan klakson panjang yang membelah keheningan malam, berhenti hanya beberapa meter di depan garis motor Aris.

Sopir truk turun dengan wajah marah, namun amarahnya terhenti saat Aris menunjuk ke arah jembatan. Sinar senter memperlihatkan penyangga utama jembatan kayu itu telah patah dan merosot ke dalam jurang akibat erosi hujan deras beberapa jam lalu. Jika truk itu melintas, ia dipastikan akan jatuh ke jurang dalam.

Sopir truk terduduk lemas di tanah, berulang kali mengucapkan terima kasih. Sementara itu, Aris berdiri terpaku dalam dinginnya malam. Bagaimana bisa siaran radio di frekuensi mati mengetahui kejadian ini sejam sebelum hal itu terjadi?

Malam berikutnya, Aris tidak tertidur sama sekali. Dia duduk menatap dial 108.4 MHz sejak pukul delapan malam. Kopi hitam di cangkirnya sudah dingin, tetapi pikirannya membara.

Pukul 02.14, frekuensi itu kembali hidup.

"Aris," suara wanita itu terdengar lagi. Kali ini, dia menyebut nama Aris secara langsung.

Aris tersentak, menyambar mikrofon radio. "Siapa ini? Bagaimana kamu bisa tahu namaku? Dari mana kamu memancar?"

Hening sejenak, diiringi derak frekuensi yang lembut.

"Aku memancar dari tempat yang sama denganku duduk sekarang, Aris. Hanya saja... aku berada di lima tahun yang lalu."

Napas Aris tertahan. "Lima tahun lalu? Itu tidak masuk akal. Siapa kamu?"

"Namaku Elena. Aku peneliti gelombang elektromagnetik yang pernah bertugas di pos tempatmu berada sekarang. Pada malam badai tahun 2021, petir menyambar antena utama saat aku mencoba menyelaraskan frekuensi abnormal. Sejak malam itu, alat ini terhubung ke masa depan."

Aris mengingat nama itu. Elena adalah teknisi senior yang dinyatakan hilang saat stasiun radio tua itu dilanda bencana tanah longsor. Namanya terukir di prasasti peringatan di kaki bukit.

"Elena... kamu dalam bahaya," ujar Aris cepat, suaranya bergetar. "Tanah di atas posmu akan longsor. Malam ini, di zamanmu, hujan deras akan meruntuhkan tebing bukit. Kamu harus keluar dari sana sekarang!"

Suara kekeh pelan dan pahit terdengar dari speaker.

"Aku tahu, Aris. Aku sudah mencoba keluar berkali-kali. Tapi tiap kali aku melangkah ke luar pintu, sinyal ini terputus dan aku kembali terbangun di meja ini pada pukul dua pagi. Aku terjebak dalam lingkaran waktu di malam sebelum tanah ini runtuh."

Aris terdiam. Rasa dingin menusuk dadanya. Elena tidak sedang meminta diselamatkan dari kematian, melainkan terjebak dalam ruang hampa yang tak berujung, menjangkau masa depan hanya untuk menyelamatkan orang lain.

"Setiap malam aku mendengarkan gelombang masa depan," lanjut Elena, suaranya terdengar lembut namun melelahkan. "Mencegah truk jatuh, memberi tahu nelayan tentang badai... itu satu-satunya hal yang membuat keberadaanku di sini terasa nyata. Tapi malam ini, sinyal penstabilku mulai meredup. Ini mungkin siaran terakhirku."

"Tidak, pasti ada cara untuk menarikmu keluar!" seru Aris, tangannya gemetar menyeimbangkan transmiter. "Jika kita menggabungkan energi gelombang dari dua waktu yang berbeda, kita bisa menciptakan efek balik pada penyearah sinyal!"

"Aris, frekuensinya terlalu lemah..."

"Dengarkan aku, Elena!" potong Aris tegas. "Atur kumpulan pemancar pada skala tiga ratus kilohertz. Hubungkan kabel cadangan ke kapasitor utama saat aku mengirim gelombang balik dari sini. Percayalah padaku!"

Suasana di seberang sana hening. Aris bisa mendengar suara gemuruh hujan deras dari frekuensi Elena—hujan dari masa lalu.

"Baiklah," bisik Elena. "Aku sudah menyambungkannya."

Aris menarik tuas daya maksimum. Lampu di dalam pos redup seketika, tersedot oleh lonjakan listrik yang luar biasa. Bau sengatan ozon memenuhi udara. Di luar jendela, petir menyambar tiang antena utama, memicu kilatan cahaya kebiruan yang menyilaukan.

Jarum frekuensi berputar liar. Suara gemuruh tanah longsor terdengar samar dari dalam headphone Aris, bercampur dengan suara teriakan Elena dan derak kaca pecah.

"Elena! Lari ke arah pintu!" teriak Aris ke mikrofon.

Suara ledakan statis yang membingakkan telinga memekak, lalu... hening.

Sinyal di 108.4 MHz mati total. Jarum penunjuk kembali diam. Hanya ada suara gesekan hujan tipis malam ini di jendela Aris.

Aris terduduk lemas di kursinya, bernapas terengah-engah. Di tangannya, mikrofon terasa dingin. Tidak ada jawaban lagi dari frekuensi itu.

Keesokan paginya, matahari terbit membilas bukit utara dengan cahaya keemasan. Aris berjalan turun menuju monumen kecil di kaki bukit tempat nama-nama korban bencana masa lalu dipahat pada batu hitam.

Dia berjalan perlahan, meneliti deretan nama yang terukir di sana. Ketika matanya menemukan baris yang dicarinya, langkah Aris terhenti.

Di batu itu, nama Elena Dania tidak lagi terukir sebagai korban hilang.

Sebagai gantinya, Aris menemukan arsip berita lama dari surat kabar daerah tahun 2021 yang dipajang di museum kecil sebelah monumen: seorang peneliti wanita berhasil selamat secara ajaib dari tanah longsor setelah berlari keluar pos beberapa detik sebelum bangunan itu tertimbun. Wanita itu kemudian menjalani hidupnya dan menjadi seorang profesor emeritus di kota luar.

Aris tersenyum tipis. Dia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan kaset rol tua berisi rekaman suara semalam, lalu meletakkannya dengan lembut di sudut jendela pos yang kini tampak hangat disinari matahari pagi.

Di luar, angin berhembus pelan, membawa desir halus yang terdengar seperti ucapan terima kasih dari masa lalu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Arsip Suara di Frekuensi 108.4
Amir Ghozaly Prasetyo
Flash
Bronze
Gadis Bergaun Merah
Vena G
Novel
Hikayat Pesta Babi
Harly B. Poetra
Novel
NONE the red wol
Alpri prastuti
Flash
KELINCI ULANG TAHUN
Arthur William R
Cerpen
Cara Mati Seorang Lelaki
tang rusata
Novel
Irida
Sylicate Grazie
Novel
The Reason Why I Give Up
batiar
Flash
REMEMBER ME
Ocha
Cerpen
Bronze
A Little Bird
Lirin Kartini
Flash
Little Girl
Ika Karisma
Novel
Justin & Misteri Puding Merah (bagian 1)
Arzen Rui
Novel
Sisi Gelap
Ari Keling
Novel
Gold
PBC Mystery of Library
Mizan Publishing
Cerpen
bayang bayang yang kutunggu
Zumrotun Nufus
Rekomendasi
Cerpen
Arsip Suara di Frekuensi 108.4
Amir Ghozaly Prasetyo