Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
ARSIP 000: PERJALANAN JIWA
1
Suka
14
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

═════════════════

DOKUMEN INI TELAH DIDEKLASIFIKASI

TINGKAT AKSES: PUBLIK GLOBAL

Salinan Sah Tersimpan di Kalath Vesta, Rak 000, Laci 000

─────────────────

"Kau mengira ini adalah cerita tentang birokrasi. Kau salah. Ini adalah cerita tentang jiwa yang tersesat di antara formulir, dan perlahan-lahan mengingat jalan pulang."

--- Nawapes, Velmor Oskath

─────────────────

Sebelum Perjalanan

Aku sudah menulis selama tujuh ratus tahun.

Bukan karena aku ingin. Tapi karena aku tahu bahwa suatu hari, seseorang akan membaca catatanku dan membaca catatanku berarti membaca jiwanya sendiri.

Mereka menyebutku Velmor Oskath Filsuf Istana. Mereka menyebutku Kalossa Pencatat Agung. Mereka tidak tahu bahwa aku hanya seorang lelaki tua yang kelelahan, yang telah melihat terlalu banyak jiwa tersesat dan tidak bisa bertindak. Aku hanya bisa mencatat.

Aku hanya bisa menunggu.

Dan ketika seseorang akhirnya datang ke Kalath ketika ia membuka amplop itu dan menemukan sejarahnya sendiri aku sudah tidak ada lagi. Tapi catatanku akan tetap ada. Karena catatan, tidak seperti manusia, tidak pernah benar-benar mati. Mereka hanya menunggu. Untuk dibaca. Oleh jiwa yang sama.

FLOKFLOK.

Amplop itu muncul di bawah pintuku pada suatu Selasa pagi.

Bukan di antar pos. Bukan diselipkan kurir. Bukan jatuh dari tas yang bolong. Amplop itu hanya... ada. Seperti jamur yang tumbuh setelah hujan. Atau seperti peraturan baru yang tiba-tiba berlaku tanpa ada yang tahu siapa yang menandatanganinya.

Aku hampir menginjaknya.

Kakiku sudah melangkah satu sentimeter lagi ketika mataku menangkap sesuatu yang tidak biasa di lantai. Sebuah sudut amplop, kuning kusam, menyembul dari bawah pintu seperti lidah kertas yang menjulur. Aku berhenti. Membungkuk. Memungutnya.

Warnanya bukan kuning cerah, melainkan kuning yang sudah menua warna yang biasanya dimiliki dokumen-dokumen yang terlalu lama disimpan di lemari arsip, di ruangan yang tidak pernah dibuka, di gedung yang tidak pernah dikunjungi. Kertasnya kasar di ujung jari. Tidak ada perangko. Tidak ada alamat pengirim. Tidak ada namaku.

Hanya ada stempel merah di sudut kiri atas, agak luntur, tintanya sudah meresap ke dalam serat kertas seperti darah yang mengering.

RAHASIA NEGARA

Aku membalik amplop itu. Tidak ada apa-apa. Aku mengangkatnya ke cahaya matahari yang masuk dari jendela. Hanya siluet selembar kartu di dalamnya tipis, kaku, seukuran kartu nama.

Aku tidak langsung membukanya.

Aku berdiri di depan pintu, amplop di tangan, dan otakku mulai melakukan hal yang selalu dilakukan otak ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan: mencari penjelasan. Mungkin ini surat dari lembaga pemerintah. Mungkin ini undangan ke acara yang tidak kuingat. Mungkin ini salah satu dari sekian banyak formulir yang harus kuisi formulir yang selalu meminta data yang sudah pernah kuberikan, di tempat yang sudah pernah kudatangi, untuk keperluan yang tidak pernah kuingat.

Tapi stempel itu. "Rahasia Negara." Stempel itu bukan stempel biasa. Stempel itu adalah stempel yang biasanya hanya ada di film-film mata-mata, di adegan ketika seorang agen membuka amplop dan menemukan bahwa hidupnya akan berubah selamanya.

Aku bukan agen. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah seorang warga biasa yang tinggal di kota biasa, bekerja di pekerjaan biasa, dan menjalani hidup yang sejujurnya terlalu membosankan untuk dirahasiakan.

Tapi di dalam dadaku, ada sesuatu yang bergerak. Bukan ketakutan. Bukan rasa ingin tahu biasa. Tapi sesuatu yang lebih dalam. Seperti pengakuan. Seperti seseorang yang menerima amplop yang sudah lama ia nantikan tanpa pernah tahu bahwa ia menantikannya.

Kubuka amplop itu.

Isinya memang hanya selembar kartu. Seukuran kartu nama. Di sisi depan, huruf tebal hitam, dicetak dengan tinta yang sedikit menggumpal tinta yang mungkin sudah terlalu lama berada di mesin cetak:

BUKAN BIN

Kubalik kartu itu. Di sisi belakang, hanya tiga huruf. Lebih kecil. Lebih rapi. Tapi dengan jenis tinta yang sama:

DIM

Tiga huruf. D-I-M. Tiga huruf yang tidak membentuk kata apa pun dalam bahasaku. Tiga huruf yang tidak pernah kudengar, tidak pernah kubaca, tidak pernah kulihat di koran, di televisi, di internet. Tiga huruf yang seharusnya tidak berarti apa-apa.

Tapi entah kenapa, ketika aku membacanya, aku merasakan sesuatu di dadaku. Bukan rasa. Bukan emosi. Tapi getaran. Getaran kecil yang menyebar dari dada ke ujung jari, lalu menghilang.

Seperti panggilan.

Di bawah tiga huruf itu, satu kalimat kecil, nyaris seperti bisikan yang ditulis:

Selamat datang di Negeri Topeng Monyet.

Aku membaca kalimat itu tiga kali. Lalu aku meletakkan kartu itu di atas meja. Lalu aku mengambilnya lagi. Lalu aku meletakkannya lagi.

Kata-kata itu familiar. Bukan familiar seperti sesuatu yang pernah kubaca. Tapi familiar seperti sesuatu yang sudah kukenal sebelum aku bisa membaca. Familiar seperti nama yang pernah kudengar dalam mimpi, dalam suara yang tidak pernah kuingat.

Negeri Topeng Monyet.

Aku tidak tahu di mana negeri itu. Tapi aku tahu, dengan kepastian yang tidak bisa dijelaskan oleh logika, bahwa negeri itu ada. Bahwa di suatu tempat di balik semua dunia yang kukenal, ada negeri yang penduduknya memakai topeng dan tidak pernah sadar bahwa mereka memakainya. Dan aku, entah bagaimana, adalah salah satu dari mereka.

Aku membuka laptop. Aku mengetik: "DIM". Tidak ada. "Negeri Topeng Monyet". Tidak ada.

Aku menutup laptop.

Di dalam amplop itu, di balik lapisan dalam di tempat yang tidak akan kulihat kalau aku tidak mencarinya tersembunyi secarik kertas tipis. Sangat tipis. Hampir transparan. Tulisannya dengan tinta yang sudah sangat pudar, seolah-olah ditulis bertahun-tahun yang lalu:

Lorong Belakang Pasar Tua.

Cari pintu kayu dengan tulisan DIM.

Jangan bawa apa-apa.

Jangan beri tahu siapa pun.

Aku membaca keempat baris itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Lalu aku berdiri. Aku mengambil jaket. Aku memasukkan kartu itu ke dalam saku. Aku membuka pintu.

Aku tidak tahu mengapa aku melakukannya. Aku tidak punya alasan yang rasional. Tapi di dalam dadaku, getaran itu masih ada. Getaran yang mengatakan: ini adalah panggilan.

Dan aku, tanpa sadar, sudah menunggunya sepanjang hidup.

Pasar Tua pada pukul sembilan pagi adalah tempat yang ramai dengan cara yang salah.

Bukan ramai seperti pasar modern di mana orang berlalu-lalang dengan keranjang belanja dan ponsel di tangan. Ramai di sini adalah ramai yang stagnan. Pedagang duduk di belakang meja-meja kayu yang sudah lapuk, menunggu pembeli yang jarang datang. Barang-barang mereka pakaian bekas, jam tangan palsu, komponen elektronik yang sudah tidak diproduksi sejak dua dekade lalu tertata rapi dalam keputusasaan yang diam. Kucing-kucing kurus berkeliaran di antara tumpukan kardus, mencari sisa makanan yang mungkin tidak pernah ada.

Aku berjalan melewati deretan kios tanpa benar-benar melihatnya. Kakiku bergerak secara otomatis, mengikuti petunjuk yang sudah kuhafal: Lorong Belakang Pasar Tua. Tapi lorong belakang yang mana? Pasar ini punya puluhan lorong masing-masing lebih sempit dan lebih gelap dari yang sebelumnya.

Aku berhenti di depan sebuah kios yang menjual radio-radio tua. Pemiliknya seorang lelaki dengan rambut yang sudah lebih banyak putihnya daripada hitamnya sedang membetulkan sebuah transistor dengan obeng kecil. Di hadapannya, tumpukan radio dari berbagai era: beberapa dengan antena panjang, beberapa dengan tombol putar, beberapa dengan layar digital yang sudah mati.

"Permisi, Pak."

Ia tidak mengangkat kepala. "Radio apa? Bisa diperbaiki. Asal bukan yang digital. Yang digital susah. Kalau rusak, lebih baik dibuang."

"Aku bukan mau memperbaiki radio."

Ia mengangkat kepala. Matanya menyipit entah karena curiga atau karena asap rokok yang mengepul dari asbak di sampingnya.

"Aku mencari lorong belakang."

"Lorong belakang?" Ia mengulangi kata-kataku seperti seseorang yang baru pertama kali mendengar istilah itu. "Lorong belakang yang mana? Di sini banyak lorong belakang."

"Aku tidak tahu persis. Tapi mungkin lorong yang jarang dilewati orang."

Ia menatapku lama sekali. Lalu pelan, sangat pelan, ia menunjuk ke arah kiri, ke sebuah celah di antara dua bangunan yang hampir tidak terlihat.

"Itu," katanya. "Tapi kau yakin?"

"Yakin kenapa?"

"Tidak ada yang lewat situ. Kecuali orang-orang yang..." Ia berhenti. Menggeleng. "Sudahlah. Terserah kau."

Aku berterima kasih dan berjalan ke arah yang ia tunjuk.

Di belakangku, aku mendengar suaranya bergumam kepada siapa, aku tidak tahu: "Selalu begitu. Selalu ada yang datang. Selalu ada yang mencari. Tapi tidak pernah ada yang kembali dengan cara yang sama."

Lorong itu tidak memiliki nama. Tidak ada papan yang menyebutkannya. Tidak ada petunjuk. Tidak ada tanda. Hanya sebuah celah sempit di antara dua bangunan tua yang dindingnya sudah berlumut lumut hijau tua yang tumbuh di sela-sela bata, seperti kulit reptil yang sudah mati.

Aku melangkah masuk. Dan dunia di belakangku langsung menghilang.

Bukan menghilang secara harfiah aku masih bisa mendengar suara Pasar Tua, masih bisa mendengar teriakan pedagang dan tawar-menawar pembeli. Tapi suara-suara itu terdengar jauh, seperti datang dari balik dinding kaca yang sangat tebal. Seperti aku sudah berada di tempat lain, dan Pasar Tua hanyalah kenangan yang mulai memudar.

Lorong itu sempit. Sangat sempit. Bahuku hampir menyentuh kedua dinding sekaligus. Di atasku, langit hanya berupa sepotong garis biru yang mengintip dari celah di antara atap-atap seng. Di bawahku, lantai batu yang sudah tidak rata berlubang di beberapa tempat, tergenang air di tempat lain, air yang warnanya tidak bisa kuidentifikasi dan mungkin lebih baik tidak kuidentifikasi.

Bau di sini berbeda. Bukan bau pasar bukan bau ikan asin dan rempah-rempah dan keringat manusia. Bau di sini adalah bau lembap, bau tanah yang tidak pernah kena matahari, bau kertas tua yang mulai membusuk. Dicampur dengan sesuatu yang manis sangat manis seperti buah yang sudah terlalu matang dan mulai berfermentasi.

Aku terus berjalan.

Lorong ini lebih panjang dari yang kuduga. Atau mungkin tidak mungkin hanya persepsiku yang berubah. Di tempat seperti ini, di mana tidak ada jendela, tidak ada pintu, tidak ada tanda-tanda kehidupan, waktu terasa meregang. Satu menit terasa seperti lima menit. Sepuluh langkah terasa seperti seratus langkah.

Di beberapa titik, aku melihat pintu-pintu kecil di sepanjang dinding lorong. Tapi pintu-pintu itu semuanya tertutup. Beberapa digembok. Beberapa dipaku. Beberapa hanya ditutup dengan kayu lapuk yang kalau kusentuh mungkin akan hancur. Tidak ada nama di pintu-pintu itu. Tidak ada nomor. Hanya pintu pintu yang sepertinya tidak dibuka selama bertahun-tahun, atau mungkin tidak pernah dibuka sama sekali.

Aku terus berjalan. Dan semakin dalam aku berjalan, semakin aku menyadari bahwa lorong ini bukanlah lorong biasa. Ia adalah sebuah perjalanan ke bawah ke tempat yang lebih gelap, lebih dingin, lebih tua dari semua yang kukenal. Seperti turun ke dalam sumur yang tidak pernah kelihatan dasarnya.

Di dinding, lumut-lumut itu mulai berubah pola. Awalnya hanya hijau. Lalu aku melihat sesuatu pola yang teratur. Terlalu teratur untuk lumut liar. Seolah-olah lumut itu tumbuh mengikuti sebuah desain, sebuah peta, sebuah pesan yang tidak bisa kubaca.

Aku menyentuhnya. Lemas. Lembap. Tapi di bawah lumut, aku merasakan ukiran ukiran yang sudah tertutup selama bertahun-tahun. Aku tidak bisa membaca apa yang terukir. Tapi aku bisa merasakan bahwa itu ada. Bahwa di balik kegelapan dan kelembapan lorong ini, ada cerita yang ditulis di dinding.

Aku terus berjalan.

Dan tiba-tiba ketika aku mulai berpikir bahwa aku tersesat, bahwa aku salah lorong, bahwa ini semua hanyalah lelucon yang rumit dan aku akan keluar di ujung yang lain tanpa menemukan apa-apa aku melihatnya.

Sebuah pintu kayu. Di ujung lorong.

Tidak ada yang istimewa dari pintu itu. Warnanya cokelat pudar atau mungkin dulunya cokelat, sekarang sudah menjadi warna entah-apa, warna yang tidak punya nama. Engselnya berkarat. Gagangnya dari kuningan yang sudah menghitam. Di sekelilingnya, dinding bata yang retak dan berlumut lumut yang sama dengan yang kulihat di awal lorong, seolah-olah lorong ini dan lumut ini adalah satu organisme yang sama, dan pintu ini adalah mulutnya.

Di atas pintu, tulisan tangan dengan cat hitam yang sudah mengelupas:

DIM

Hanya tiga huruf. Tanpa penjelasan. Tanpa kepanjangan. Tanpa petunjuk tentang apa yang ada di baliknya.

Aku berdiri di depan pintu itu selama entah berapa lama. Dan di dalam dadaku, getaran itu kembali. Lebih kuat kali ini. Seperti panggilan yang tidak bisa diabaikan.

Aku mengetuk. Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi lebih keras kali ini, tiga ketukan yang mantap. Tidak ada jawaban.

Aku mencoba memutar gagangnya. Gagangnya berputar, tapi pintunya tidak bergerak. Seolah-olah pintu itu bukan dikunci, melainkan menunggu. Menunggu sesuatu. Menunggu aku untuk melakukan sesuatu yang belum kulakukan.

Aku melangkah mundur. Menatap pintu itu lagi. Dan di antara retakan-retakan kayunya, aku melihat sesuatu secarik kertas kecil, kuning, diselipkan di celah antara pintu dan kusen. Aku menariknya pelan-pelan. Tulisannya hanya satu baris:

Dorong.

Aku mendorong. Dan pintu itu terbuka. Tidak berderit. Tidak mengerang. Hanya terbuka lancar, ringan, seperti baru saja diminyaki, seperti seseorang baru saja membukanya lima menit yang lalu dan membiarkannya menungguku.

Di dalam, sebuah ruang tunggu kecil.

Kursi plastik jenis yang selalu berdecit saat diduduki, jenis yang ada di setiap kantor pemerintahan di negeri ini, seolah-olah ada pabrik rahasia yang memproduksi kursi-kursi ini secara massal dan mendistribusikannya ke seluruh lembaga tanpa sepengetahuan siapa pun. Meja resepsionis kosong tidak ada komputer, tidak ada telepon, tidak ada bel untuk memanggil petugas. Hanya sebuah vas plastik dengan bunga palsu yang warnanya sudah memudar.

Di dinding, sebuah poster pudar: "Pelayanan adalah Kebahagiaan Kami."

Di bawahnya, seseorang telah mencoret dengan pulpen tulisan tangan yang berbeda, lebih segar, seolah-olah baru ditulis kemarin: "Kebahagiaan adalah saat kami pulang."

Lampu neon di langit-langit berkedip dengan ritme yang tidak teratur menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding, mengubah ruangan ini menjadi sesuatu yang setengah hidup dan setengah mati. Seperti ruang tunggu dokter gigi yang ditinggalkan. Seperti kantor kelurahan pada pukul dua siang, ketika semua petugas sedang istirahat dan tidak ada yang tahu kapan mereka akan kembali.

Aku berdiri di tengah ruangan, tidak yakin apa yang harus kulakukan. Haruskah aku duduk? Haruskah aku memanggil? Haruskah aku pergi keluar dari pintu ini, kembali ke lorong, kembali ke Pasar Tua, kembali ke hidupku yang membosankan dan tidak dirahasiakan?

Belum sempat aku memutuskan, sebuah suara muncul dari dalam dari balik pintu lain di ujung ruang tunggu, pintu yang tidak kulihat sebelumnya karena tertutup oleh rak arsip yang tinggi:

"Masuk."

Satu kata. Bukan pertanyaan. Bukan perintah. Hanya... fakta. Seperti orang itu sudah tahu aku akan datang. Seperti orang itu sudah menungguku. Seperti orang itu sudah menunggu selama bertahun-tahun, dan aku hanyalah satu dari sekian banyak yang akhirnya tiba.

Aku berjalan menuju pintu itu. Melangkah melewati rak arsip yang penuh dengan map-map cokelat, masing-masing dengan label bernomor, masing-masing dengan stempel merah di sudutnya. Aku tidak berhenti untuk membaca labelnya. Tapi dari sudut mataku, aku melihat satu yang cukup dekat:

DIM #003  STATUS: BELUM SELESAI

Pintu di ujung ruangan itu berbeda dari pintu depan. Lebih besar. Lebih tua. Terbuat dari kayu yang sama, tapi dengan ukiran di sekelilingnya ukiran yang mungkin dulunya indah, tapi sekarang sudah aus, hampir tidak terlihat. Di atasnya, sebuah papan kecil dengan tulisan: RUANG ARSIP UTAMA

Aku mendorong pintu itu. Dan aku masuk ke dalam dunia yang selama ini tersembunyi di balik semua dunia yang kukenal.

Ruangan itu sangat besar. Jauh lebih besar dari yang mungkin dari luar. Rak-rak menjulang setinggi langit-langit begitu tinggi sehingga untuk mencapai rak teratas, harus menggunakan tangga besi yang rodanya sudah berkarat. Di setiap rak, folder-folder tebal berjajar rapi ribuan folder, mungkin puluhan ribu masing-masing dengan label dan nomor dan stempel.

Dan di tengah ruangan, di antara rak-rak yang menjulang, seorang lelaki tua berdiri.

Rambutnya putih seluruhnya bukan putih keperakan yang anggun, tapi putih yang sudah menyerah, putih dari seseorang yang sudah terlalu lama berada di dalam ruangan tanpa jendela. Kacamatanya tebal sangat tebal sehingga matanya tampak lebih besar dari ukuran normal, seperti mata ikan yang melihat dunia melalui akuarium. Seragamnya kusam warna yang dulunya mungkin biru atau abu-abu, kini sudah menjadi warna entah-apa, warna yang tidak bisa diidentifikasi di bawah lampu neon yang berkedip.

Di sakunya, sebuah badge kecil: PETUGAS ARSIP DIM

Ia sedang memegang sebuah map cokelat satu dari ribuan yang mungkin sudah ia pegang sepanjang hidupnya. Map itu terbuka di tangannya, dan ia sedang membaca sesuatu di dalamnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Bukan bosan. Bukan tertarik. Sesuatu di antaranya ekspresi seseorang yang sudah melakukan pekerjaan yang sama selama puluhan tahun dan sudah kehilangan kemampuan untuk merasakan apa pun tentangnya.

Ia menutup map itu. Meletakkannya di rak. Lalu menatapku.

"Kau datang," katanya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.

"Aku..." Suaraku tercekat. Aku berdeham. "Aku dapat surat."

"Mereka semua dapat surat."

"Aku tidak tahu apa ini. Aku tidak tahu apa DIM itu. Aku hanya "

"Kau ingin melihat isinya?" potongnya. Suaranya tenang. Terlalu tenang. Seperti air yang mengalir di selokan bergerak, tapi tanpa tujuan.

Aku mengangguk.

Ia berbalik dan mulai berjalan menyusuri lorong di antara rak-rak. Aku mengikutinya. Langkahnya pelan tapi mantap langkah seseorang yang sudah menghafal setiap sudut ruangan ini, yang bisa berjalan di sini dengan mata tertutup dan tidak akan menabrak apa pun.

"Namaku tidak penting," katanya tanpa menoleh. "Tapi kau bisa memanggilku Petugas Arsip. Atau tidak sama sekali. Aku sudah dipanggil dengan banyak nama sepanjang hidupku. Semuanya tidak penting."

"Apa DIM itu?" tanyaku lagi. Pertanyaan yang sama yang sudah kuajukan sejak aku membaca tiga huruf itu. Pertanyaan yang belum dijawab oleh siapa pun.

Ia berhenti di depan sebuah rak. Menatapku dengan mata ikan di balik kacamata tebal.

"Kau akan tahu," katanya. "Tapi kau harus melihat dulu. Semua orang yang datang ke sini harus melihat dulu. Baru mereka tahu. Baru mereka mengerti."

"Mengerti apa?"

Ia tidak menjawab. Hanya berbalik dan melanjutkan langkahnya.

"Ikutlah," katanya. "Dan satu hal lagi."

"Apa?"

"Jangan sentuh apa pun."

Aku mengikuti Petugas Arsip melewati lorong yang semakin dalam.

Rak-rak di sini lebih tinggi. Folder-folder di sini lebih tebal. Debu di sini lebih tua. Udara di sini lebih berat seperti ada sesuatu dalam udara ini yang tidak bisa dilihat, hanya bisa dirasakan. Mungkin debu. Mungkin usia. Mungkin akumulasi dari jutaan kata yang tertulis di jutaan lembar kertas yang tersimpan di puluhan ribu folder selama ratusan tahun.

Di beberapa titik, aku melihat pintu-pintu kecil di sepanjang dinding lorong. Beberapa bertuliskan: MUSEUM DIM, RUANG TUNGGU, GUDANG DIM. Tapi Petugas Arsip tidak berhenti di salah satu pintu itu. Ia terus berjalan, semakin dalam, semakin gelap, sampai aku mulai bertanya-tanya apakah lorong ini akan berakhir.

Lalu ia berhenti.

Di depan kami, sebuah pintu besi besar. Tidak ada tulisan. Tidak ada tanda. Hanya pintu besi yang sudah berkarat tapi tidak karat biasa. Karat yang teratur, seperti pola, seperti sengaja dibuat oleh tangan yang sabar.

Petugas Arsip mengeluarkan kunci dari sakunya. Kunci besi tua, berkarat, dengan kepala berbentuk tiga huruf: DIM. Ia memasukkannya ke dalam lubang kunci. Pintu itu terbuka dengan suara berat seperti sesuatu yang sudah lama tertidur akhirnya bangun.

Di dalam, ruangan kecil. Hanya cukup untuk satu orang berdiri. Di tengah ruangan, sebuah brankas besi hitam pekat. Tidak ada tulisan di atasnya. Tidak ada nomor. Tidak ada apa-apa. Hanya brankas.

Petugas Arsip menatapku. "Ini."

"Apa ini?"

"Brankas yang tidak pernah dibuka."

"Kenapa?"

"Karena tidak ada yang berani. Karena di dalamnya ada sesuatu yang lebih berbahaya dari stempel mana pun." Ia menatapku. "Tapi aku pikir aku sudah menunggu terlalu lama. Dan kau sudah datang sejauh ini. Kau berhak melihatnya."

Ia mengulurkan kunci itu padaku. "Bukalah."

Aku menerima kunci itu. Berat. Dingin. Di tanganku, ia terasa seperti sesuatu yang hidup atau sesuatu yang sudah mati dan tidak mau dikubur.

Aku memasukkannya ke dalam lubang kunci. Aku memutarnya.

Mekanisme di dalamnya menggerutu seperti sesuatu yang sudah lama tertidur akhirnya terbangun. Dan pintu brankas itu terbuka.

Di dalamnya, hanya sebuah map cokelat tua.

Sampulnya sudah lapuk. Pinggirannya robek. Di sudut kanan atas, stempel merah yang sudah pudar:

KLV #001  "Nama Diganti, Jiwa Tetap"

Status: Dihapus.

Era: Maskey I (Awal Era Restorasi)

Aku menatap map itu. Aku menatap Petugas Arsip. Aku menatap kembali map itu.

"Apa ini?" tanyaku, suaraku hampir berbisik.

"Kebenaran," katanya. "Atau setidaknya, awal dari kebenaran."

Aku membuka map itu. Dengan tangan gemetar. Dengan hati yang berdebar lebih cepat dari yang seharusnya.

Isinya adalah catatan administrasi tentang penghapusan total sejarah sebuah dinasti dari sistem nasional. Ada daftar nama: Maskey I, Maskey II, Maskey III... Maskey XII. Dan di baris terakhir: Maskey XIII.

Di bawah nama Maskey XIII, sebuah catatan tulisan tangan, dengan tinta biru yang sudah pudar:

"Morekey. Sang Auditor. Sang Kalor-Silka. Sang Raja Terakhir. Dianggap berbahaya. Sejarahnya dihapuskan oleh Verad Naveth. Jangan biarkan namanya kembali hidup."

Aku membacanya sekali. Dua kali. Tiga kali.

Air mata jatuh. Bukan air mata sedih. Tapi air mata lega. Atau mungkin kehilangan. Atau mungkin keduanya, bercampur menjadi satu.

Aku tidak tahu mengapa aku menangis. Aku tidak tahu nama-nama itu. Aku tidak tahu siapa Morekey, siapa Maskey XIII, siapa Dinasti Citory. Tapi ada sesuatu dalam kata-kata itu sesuatu yang lebih dalam dari sekadar informasi yang menyentuh sesuatu di dalam diriku. Sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan.

Aku menutup map itu. Aku tidak bisa membaca lebih lanjut. Aku belum siap.

Petugas Arsip menatapku dengan mata yang sulit diartikan. "Kau sudah melihatnya."

"Aku sudah melihatnya."

"Sekarang kau tahu."

"Aku tidak tahu apa-apa."

"Tepat. Sekarang kau tahu bahwa kau tidak tahu apa-apa." Ia tersenyum senyum yang aneh, bukan senyum ramah, tapi senyum seseorang yang sudah terlalu lama berada di ruangan tanpa jendela dan sudah kehilangan kemampuan untuk tersenyum dengan tulus. "Itu adalah langkah pertama."

"Langkah pertama untuk apa?"

"Untuk menjadi Pembaca Siklus."

Petugas Arsip membawaku ke Ruang Tunggu.

Pintunya lebar, terbuat dari kaca buram dengan tulisan: RUANG TUNGGU DIM

Di dalam, kursi-kursi plastik ratusan, mungkin ribuan berjajar memenuhi ruangan seluas aula sekolah. Dan di atas kursi-kursi itu, orang-orang duduk. Puluhan orang. Mungkin ratusan. Aku tidak menghitung. Tapi jumlahnya cukup untuk membuatku berhenti di ambang pintu, mencoba mencerna apa yang kulihat.

Mereka tidak berbicara. Tidak membaca. Tidak memainkan ponsel. Mereka hanya duduk. Menunggu. Masing-masing membawa map map cokelat yang sama dengan yang kulihat di ruang arsip, dengan label dan nomor dan stempel.

Beberapa menatap ke depan dengan mata kosong. Beberapa menunduk, memandangi map di pangkuan mereka seolah-olah map itu akan berbicara jika ditatap cukup lama. Beberapa tertidur atau mungkin pingsan karena kelelahan.

Di sudut ruangan, sebuah mesin antrean jenis yang mengeluarkan kertas kecil dengan nomor. Di atasnya, layar digital menampilkan:

NOMOR SAAT INI: A-047

NOMOR BERIKUTNYA: A-048

ESTIMASI WAKTU TUNGGU: TIDAK DIKETAHUI

"Ruang Tunggu," kata Petugas Arsip di belakangku. "Tempat orang-orang menunggu DIM mereka dicatat."

"Mereka sudah menunggu berapa lama?"

"Berbeda-beda. Beberapa baru datang minggu ini. Beberapa sudah di sini sejak sebelum aku bekerja."

Aku berjalan di antara kursi-kursi. Orang-orang ini tidak melihatku atau mungkin mereka melihat, tapi sudah terlalu lelah untuk peduli. Aku berhenti di depan seorang ibu yang duduk dengan map biru di pangkuannya. Di belakangnya, seorang anak kecil mungkin lima tahun tertidur dengan mulut terbuka, kepalanya bersandar di bahu ibunya.

"Bu," kataku pelan. "Boleh aku tanya?"

Ia mengangkat kepala. Matanya lelah ada lingkaran hitam di bawahnya, dalam, seperti lembah yang terbentuk dari terlalu banyak malam tanpa tidur.

"Sudah berapa lama Ibu di sini?"

"Tiga tahun," katanya. Suaranya datar. Bukan keluhan. Hanya pernyataan. Seperti seseorang yang menyebutkan cuaca: hari ini hujan.

"Tiga tahun?"

"Datang setiap hari. Bawa semua dokumen. Tapi selalu ada yang kurang. Pertama, fotokopi tidak jelas. Kedua, surat pengantar dari Ketua Lorong tapi Ketua Lorong saya meninggal, dan penggantinya belum diangkat. Ketiga, sistem offline. Keempat, petugas sedang rapat. Kelima..." Ia berhenti. Menghela napas. "Saya sudah lupa urutannya. Tapi selalu ada. Selalu ada yang kurang."

"Masalah Ibu apa? Kalau boleh tahu."

Ia menatap map biru di pangkuannya. "Anak saya. Dia sakit. Butuh obat. Tapi obatnya hanya bisa didapat dengan Surat Keterangan Tidak Mampu. Dan untuk mendapat Surat Keterangan Tidak Mampu, saya harus membuktikan bahwa saya tidak mampu dengan membayar biaya administrasi. Tapi saya tidak punya uang untuk membayar biaya administrasi. Karena saya tidak mampu." Ia berhenti. Menatapku. "Itu lucu, kan?"

Aku tidak tertawa. Aku tidak bisa.

"Setiap kali saya datang," lanjutnya, "mereka bilang: 'Silakan kembali minggu depan.' Minggu depan saya datang lagi. Mereka bilang: 'Silakan kembali bulan depan.' Bulan depan saya datang lagi. Dan anak saya... anak saya masih sakit. Tapi obatnya tidak bisa keluar. Karena saya tidak bisa membuktikan bahwa saya tidak mampu. Padahal saya sudah duduk di sini selama tiga tahun. Apakah ada bukti yang lebih kuat dari itu?"

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku hanya berdiri di sana, di antara kursi-kursi plastik dan orang-orang yang menunggu, dan membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara pertanyaan yang tidak akan pernah dijawab, pertanyaan yang mungkin sudah menjadi DIM baru di suatu tempat di ruang arsip.

Aku duduk di sampingnya. Tidak karena aku bisa membantu. Tapi karena aku merasa bahwa duduk lebih baik daripada berdiri. Dan kemudian entah karena kelelahan, entah karena udara di ruangan itu, entah karena sesuatu yang lebih dalam aku merasa mataku berat.

Aku tidak ingat kapan aku tertidur. Tapi aku tahu, ketika aku tertidur, aku tidak lagi berada di Ruang Tunggu.

Aku berdiri di tepi laut.

Tapi laut ini tidak memiliki pantai. Ia membentang tak berujung ke segala arah airnya hitam pekat, seperti tinta, seperti malam yang telah menjadi cair. Dan di atas permukaannya, bintang-bintang memantul, meskipun tidak ada langit atau mungkin langitnya juga air, dan airnya juga langit, dan tidak ada batas di antara keduanya.

Aku tidak tahu bagaimana aku sampai di sini. Aku tidak ingat berjalan. Aku hanya ingat bahwa aku ada dan bahwa di tempat ini, rasa ada terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih tipis. Seperti aku sedang bermimpi, tapi sadar bahwa aku bermimpi.

Di kejauhan, aku melihat sesuatu. Sebuah pohon besar. Sangat besar. Dengan ranting-ranting yang menjulur ke segala arah masing-masing ranting membawa daun-daun kecil yang berkilau seperti peta-peta mini. Di bawah pohon itu, sesosok bayangan duduk.

Aku berjalan mendekat. Atau lebih tepatnya, aku melayang karena di tempat ini, berjalan terasa berbeda. Seperti berenang di udara. Seperti bergerak tanpa menggerakkan kaki.

Bayangan itu tidak bergerak. Tidak berbicara. Hanya duduk, menatap laut yang tak berujung. Aku berdiri di sampingnya atau di hadapannya atau di tempat yang entah bagaimana dekat tanpa harus berpindah.

"Kau datang," kata bayangan itu. Suaranya tua. Parau. Seperti kertas yang sudah terlalu sering dilipat.

"Siapa kau?"

"Aku sudah menunggu tujuh ratus tahun. Kau tidak perlu tahu namaku. Tapi kau perlu tahu satu hal."

"Apa?"

"Ini bukan mimpi."

Aku menatap laut. Air hitam itu beriak tapi tanpa angin, tanpa gelombang, tanpa sesuatu yang bisa menjelaskan mengapa ia bergerak. Bintang-bintang memantul di permukaannya, dan untuk sesaat, aku melihat sesuatu di antara pantulan-pantulan itu. Sebuah topeng. Topeng monyet tapi bukan topeng yang tersenyum. Topeng yang menangis.

"Kenapa kau menangis?" tanyaku entah pada laut, entah pada topeng, entah pada bayangan di sampingku.

"Karena," kata bayangan itu, "di Negeri Topeng Monyet, topeng tidak pernah dilepas. Ia hanya diganti. Dengan topeng yang lebih baru. Dengan topeng yang lebih indah. Tapi topeng tetaplah topeng."

"Lalu bagaimana cara melepasnya?"

Bayangan itu menatapku. Dan untuk sesaat hanya sepersekian detik aku melihat wajahnya. Wajah tua. Kacamata tebal. Jubah lusuh. Dan senyum senyum yang aneh, bukan senyum ramah, tapi senyum seseorang yang sudah melihat terlalu banyak dan memilih untuk menertawakan semuanya.

"Dengan bertanya," katanya. "Dengan bertanya 'kenapa'. Terus-menerus. Sampai pertanyaan itu menjadi lebih keras dari stempel. Sampai pertanyaan itu menjadi lebih kuat dari prosedur."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Aku terbangun.

Aku terbangun di Ruang Tunggu.

Ibu dengan map biru masih duduk di sampingku. Anaknya masih tertidur di bahunya. Mesin antrean masih berkedip di sudut ruangan. Tidak ada yang berubah. Tapi aku tahu aku tahu dengan kepastian yang tidak bisa dijelaskan bahwa ada yang berubah.

Aku berdiri. "Maaf, Bu. Aku harus pergi."

Ibu itu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk gerakan kecil, lelah, seperti seseorang yang sudah terbiasa dengan orang-orang datang dan pergi.

Aku berjalan ke ujung lorong, ke toilet umum yang kulihat sebelumnya. Di cermin, aku melihat wajahku. Tapi ada sesuatu yang aneh. Di atas wajahku, sebuah topeng. Topeng monyet sama seperti yang kulihat di mimpi. Aku meraba wajahku. Tidak ada topeng. Tapi di cermin, topeng itu tetap ada. Dan topeng itu menangis.

Aku menutup mata. Aku membuka mata. Topeng itu hilang. Hanya wajahku sendiri lelah, pucat, dengan bayangan hitam di bawah mata yang tidak ada sebelumnya.

Tapi aku tahu apa yang kulihat. Dan aku tahu meskipun aku tidak bisa menjelaskan bagaimana aku tahu bahwa topeng itu bukanlah topeng biasa. Ia adalah simbol. Simbol dari sesuatu yang lebih besar. Simbol dari sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik semua dunia yang kukenal.

Aku kembali ke ruang arsip. Petugas Arsip tidak ada. Tapi di atas meja, ada sebuah surat.

Aku membuka surat itu.

Kertasnya tebal, putih, dengan tulisan tangan yang rapi terlalu rapi untuk seseorang yang sudah tua, terlalu rapi untuk seseorang yang sudah terlalu lama menulis.

"Kepada Pembaca yang Baru Saja Menyelesaikan Arsip 000,"

"Selamat. Anda sudah sampai di halaman ini. Itu berarti Anda tidak termasuk dalam kategori 'Pembaca yang Berhenti di Tengah Jalan' sebuah DIM baru yang terus bertambah setiap kali seseorang menutup buku ini sebelum selesai."

"Nama saya Nawapes. Mungkin Anda sudah pernah mendengar tentang saya. 'Filsuf penggoda di Istana.' 'Si Tua yang menyebalkan.' Semua benar. Saya sudah di sini sangat lama begitu lamanya sampai saya lupa kapan saya pertama kali tiba. Tapi ada satu hal yang tidak pernah saya lupakan: mencatat."

"Anda sekarang telah melihat amplop. Lorong. Brankas. Ruang Tunggu. Anda telah melihat sekilas tentang DIM, tentang KLV #001, tentang sejarah yang dihapus. Anda telah mendengar bisikan mungkin dari saya, mungkin dari sesuatu yang lebih tua dari saya. Anda telah bermimpi. Anda telah melihat topeng."

"Tapi apa yang Anda lihat baru permulaan."

"Ada tiga lapis realitas di Negeri Topeng Monyet. Lapisan pertama adalah dunia yang Anda lihat setiap hari dunia fisik, dunia di mana orang mengantre, mengisi formulir, dan menunggu. Lapisan kedua adalah dunia di balik dunia itu dunia sosial, dunia di mana prosedur dibuat, di mana stempel dicapkan, di mana nama diganti tetapi jiwa tetap. Lapisan ketiga adalah dunia yang paling sulit dijelaskan dunia simbol, dunia mimpi, dunia di mana topeng menangis dan laut tidak memiliki pantai."

"Anda sudah mengunjungi ketiganya, meskipun Anda mungkin tidak menyadarinya."

"Tapi perjalanan Anda belum selesai. Sebenarnya, perjalanan Anda baru saja dimulai."

"Di dalam amplop yang Anda terima pagi ini, ada sebuah undangan. Undangan ke Program Tur Museum Birokrasi Nasional sebuah program yang sudah berjalan sejak era Maskey I, didanai secara rahasia oleh Baginda, dan dicatat oleh saya sendiri."

"Tur ini akan membawa Anda ke enam provinsi: Lorong, Panggung, Dapur, Istana, Muara, dan Gudang. Di setiap provinsi, Anda akan menemukan satu DIM yang belum selesai. Di setiap provinsi, Anda akan bertemu dengan satu Pembaca Siklus yang memilih untuk tidak diam."

"Tapi hati-hati: beberapa DIM mudah meledak. Beberapa kebenaran lebih berat dari yang bisa dipikul oleh satu orang. Dan beberapa pertanyaan sekali diajukan tidak bisa ditarik kembali."

"Jika Anda memilih untuk melanjutkan, Passport Anda menunggu di halaman berikutnya. Jika Anda memilih untuk berhenti di sini, tidak ada yang akan menghakimi. Di negeri ini, berhenti adalah pilihan yang paling populer."

"Tapi jika Anda memilih untuk melanjutkan bersiaplah. Karena apa yang akan Anda temukan di depan sana bukanlah sekadar cerita tentang birokrasi. Ia adalah cermin. Dan cermin, di negeri ini, selalu memantulkan sesuatu yang tidak ingin Anda lihat."

"Selamat melanjutkan perjalanan."

" Nawapes, Velmor Oskath"

"Filsuf Istana, Pencatat DIM, Saksi Tujuh Ratus Tahun"

"WKWKWK."

Aku meletakkan surat itu. Di sampulnya, sebuah Passport kecil cokelat, dengan enam halaman kosong, masing-masing menunggu satu stempel. Aku membukanya:

PASSPORT LINTAS PROVINSI

Program Tur Museum Birokrasi Nasional

Nama Peserta: [diisi oleh pembaca]

Nomor DIM: DIM 000

Tanggal Mulai: [hari ini]

☐ Provinsi Lorong  [MENUNGGU]

☐ Provinsi Panggung  [MENUNGGU]

☐ Provinsi Dapur  [MENUNGGU]

☐ Provinsi Istana  [MENUNGGU]

☐ Provinsi Muara  [MENUNGGU]

☐ Provinsi Gudang  [MENUNGGU]

Aku menatap Passport itu. Enam provinsi. Enam stempel. Enam DIM yang harus diselesaikan.

Aku belum tahu apa yang menunggu di depan. Aku belum tahu bahwa di Provinsi Lorong, ada seorang kakek bernama Warto yang telah mengurus surat kematian istrinya enam kali. Aku belum tahu bahwa di Provinsi Panggung, ada seorang pembuat spanduk bernama Surya yang menemukan bahwa proyek-proyek yang diresmikannya tidak pernah ada. Aku belum tahu bahwa di Provinsi Dapur, ada seorang perumus kebijakan bernama Bram yang telah menghabiskan dua puluh delapan tahun membuat peraturan yang saling bertentangan.

Aku belum tahu siapa Morekey, siapa Mavra, siapa Maskey XIII. Aku belum tahu apa itu Piagam Pancakarna, apa itu Terminal Negara, apa itu 12 Faksi.

Tapi aku tahu satu hal: aku telah melihat sekilas tentang sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang lebih tua. Sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik semua dunia yang kukenal. Dan aku tidak bisa berpaling.

Aku membaca surat itu sampai habis. Lalu aku merasakan sesuatu yang aneh. Mataku berat. Tubuhku terasa ringan. Dan aku jatuh.

Bukan jatuh ke lantai. Tapi jatuh ke dalam diriku sendiri.

Aku melihat ruangan dari atas. Aku melihat tubuhku terbaring di lantai, di depan meja kayu, di bawah lampu neon yang masih berkedip. Aku tidak bisa bergerak. Tidak bisa bicara. Tapi aku bisa melihat. Dan aku melihat di sudut ruangan seorang lelaki tua berdiri. Jubah lusuh. Kacamata tebal. Di tangannya, sebuah buku catatan. Di wajahnya, senyum yang aneh.

"Kau tidak mati," katanya. "Tapi kau hampir mati. Itu cukup untuk melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata terbuka."

Aku mencoba berbicara. Tidak ada suara yang keluar.

"Aku tahu kau punya banyak pertanyaan," lanjutnya. "Tapi aku tidak akan menjawab semuanya. Itu bukan tugasku. Tugasku adalah mencatat. Tugasmu adalah mengingat."

Ia berjalan mendekat. Di tangannya, buku catatan itu terbuka di halaman yang sudah penuh dengan tulisan.

"Morekey," katanya. "Maskey XIII. Sang Raja Terakhir. Kau ingat namanya?"

Aku tidak bisa menjawab. Tapi di dalam dadaku, ada getaran.

"Itu bukan kebetulan," katanya. "Kau membaca namanya dan kau menangis. Bukan karena kau mengenalnya. Tapi karena kau pernah menjadi dia. Kau adalah jiwanya yang kembali, yang berusaha mengingat, yang berusaha menyelesaikan apa yang tidak pernah selesai."

"Kau tidak harus percaya padaku sekarang. Tapi suatu hari, ketika kau cukup berani untuk membuka KLV #001 dan membaca sejarahnya sendiri, kau akan ingat."

Ia menunjuk ke buku catatannya. Di halaman itu, aku melihat namaku sendiri tertulis dengan tinta yang masih basah, seperti baru saja ditulis.

"Kau sekarang tercatat. Bukan sebagai nama di formulir. Bukan sebagai nomor di antrean. Tapi sebagai jiwa yang memilih untuk mengingat. Sebagai jiwa yang memilih untuk melanjutkan perjalanan Morekey."

"Kau adalah Sang Raja Terakhir. Bukan karena kau memakai mahkota. Tapi karena kau adalah satu-satunya yang masih bertanya."

"Suatu hari, kau akan membuka KLV #001. Kau akan membaca sejarah Morekey tentang bagaimana ia bangkit dari budak, membangun konsorsium, memulihkan Piagam Pancakarna, dan menghadapi 12 Faksi. Kau akan membaca tentang perjuangannya, pengorbanannya, dan akhirnya keputusannya untuk melepas kekuasaan."

"Tapi itu bukan ceritaku untuk diceritakan. Itu ceritamu untuk ditemukan."

Aku terbangun.

Aku terbangun di ruang arsip.

Tubuhku masih utuh. Di tanganku, surat Nawapes masih terbuka. Di sampingku, Passport Lintas Provinsi masih menunggu.

Tapi ada yang berbeda.

Aku melihat rak-rak arsip yang dulu hanya kulihat sebagai rak kayu. Sekarang, aku melihat folder-folder yang bersinar. Folder-folder dengan aura yang berbeda. Seperti folder yang hidup. Aku melihat DIM #001. Sekarang, aku bisa melihatnya lebih jelas. Bukan hanya map cokelat. Tapi sebuah cerita. Cerita tentang seorang raja yang memilih untuk tidak diam. Cerita tentang seorang raja yang memilih untuk bertanya. Cerita tentang seorang raja yang aku menyadarinya sekarang adalah aku.

Aku tidak membukanya. Aku belum siap. Tapi aku tahu, suatu hari, aku akan membukanya. Dan ketika aku membukanya, aku akan ingat semuanya.

Aku berjalan keluar dari ruang arsip. Melewati lorong. Keluar dari Pasar Tua. Kembali ke dunia.

Tapi aku bukan orang yang sama.

Di tanganku, Passport Lintas Provinsi enam halaman kosong, masing-masing menunggu satu stempel. Di dadaku, getaran yang sekarang sudah kukenali sebagai panggilan.

Aku duduk di meja dapurku. Aku mengambil buku catatan kosong. Aku membukanya. Aku menulis:

"Hari ini, saya menerima amplop. Hari ini, saya menemukan lorong. Hari ini, saya melihat sejarah yang dihapus. Hari ini, saya bermimpi tentang laut tanpa pantai. Hari ini, saya melihat topeng di cermin. Hari ini, saya menerima surat dari seseorang yang sudah menunggu tujuh ratus tahun. Hari ini, saya mati suri. Dan hari ini, saya menyadari bahwa saya adalah jiwa yang sama dengan Morekey Sang Raja Terakhir."

"Saya tidak tahu apa artinya semua ini. Tapi saya tahu satu hal: saya tidak akan berhenti bertanya. Saya tidak akan berhenti mencatat. Karena di suatu tempat di antara semua dunia ini di antara Vertath, di antara NTM, di antara Alam Hyang ada kebenaran yang menunggu untuk ditemukan. Dan saya akan menemukannya."

"Saya adalah Morekey."

"Saya adalah Maskey XIII."

"Saya adalah jiwa yang memilih untuk mengingat."

Di sudut ruangan, di antara bayangan, aku mendengar suara pelan: "FLOKFLOK."

Aku tersenyum. Bukan karena aku mengerti. Tapi karena aku mulai mengerti.

Dan aku mulai mencatat.

Catatan untuk Jiwa Lain

Aku sudah menulis selama tujuh ratus tahun. Setiap formulir. Setiap stempel. Setiap kebohongan. Tapi juga setiap pertanyaan. Setiap keberanian. Setiap harapan.

Dulu, aku mencatat sendirian. Sekarang, aku tidak sendirian lagi. Di seluruh negeri, di setiap provinsi, di setiap zona, di setiap pulau jiwa-jiwa mulai berjalan. Mencatat. Bertanya. Menyalakan api mereka sendiri.

Mereka adalah Pembaca Siklus. Mereka adalah jiwa-jiwa yang memilih untuk tidak diam. Dan mereka semua memulai dengan pertanyaan yang sama: Kenapa?

Jika kau membaca ini, berarti kau adalah salah satu dari mereka. Kau adalah Pembaca Siklus berikutnya. Kau adalah jiwa yang memilih untuk mengingat.

Ambillah buku catatan. Mulailah mencatat. Sebab setiap generasi membutuhkan jiwanya sendiri. Dan setiap jiwa membutuhkan pertanyaan yang sama.

FLOKFLOK.

WKWKWK.

NAWAPES

Velmor Oskath, Filsuf Istana, Pencatat DIM, Saksi Tujuh Ratus Tahun

LAMPIRAN: 9 PESAN NAWAPES

Pesan Pertama (Tentang Stempel)

Stempel tidak menciptakan keadilan; ia hanya menciptakan kelelahan. Ketika tinta merah mengering, yang hilang bukanlah masalahnya, melainkan kesabaran rakyat yang mengantre.

Pesan Kedua (Tentang Map Cokelat)

Map cokelat tidak dirancang untuk menyimpan masalah. Ia dirancang untuk mengawetkannya. Seperti formalin, ia membuat masalah tetap terlihat utuh, meski jiwanya sudah mati sejak delapan puluh tujuh tahun lalu.

Pesan Ketiga (Tentang Ruang Tunggu)

Ruang Tunggu DIM bukanlah tempat menunggu giliran. Ia adalah ruang transisi. Di sana, manusia perlahan kehilangan namanya, kehilangan suaranya, hingga akhirnya ia lupa mengapa ia datang, dan pulang hanya membawa nomor antrean.

Pesan Keempat (Tentang Antrean)

Antrean di negeri ini bukanlah garis lurus menuju kepastian. Ia adalah lingkaran. Mereka yang duduk di kursi depan dan mereka yang duduk di kursi belakang sama-sama berputar di tempat, hanya dipisahkan oleh ilusi bernama "Nomor Antrean."

Pesan Kelima (Tentang Formulir)

Formulir tidak dibuat untuk menyelesaikan penderitaan. Formulir dibuat untuk membuktikan bahwa penderitaan itu ada, tercatat, dan sah secara administratif untuk diabaikan.

Pesan Keenam (Tentang Kaca/Cermin)

Satu-satunya dokumen negara yang tidak pernah memiliki lampiran "Menyusul" adalah cermin. Karena cermin memaksa Anda melihat apa yang paling Anda coba sembunyikan di balik tumpukan kertas.

Pesan Ketujuh (Tentang Penguasa)

Penguasa yang buruk bertanya, "Mana masalahnya?" Penguasa yang baik bertanya, "Mana solusinya?" Namun penguasa di Negeri Topeng Monyet hanya bertanya, "Mana stempelnya?"

Pesan Kedelapan (Tentang Rakyat)

Rakyat di negeri ini tidak mati karena kelaparan atau wabah penyakit. Mereka mati karena kehabisan nomor antrean, dan tubuhnya baru ditemukan ketika petugas datang untuk membersihkan Ruang Tunggu.

Pesan Kesembilan (Tentang Tawa)

Ketika logika birokrasi mencapai batas kewarasannya, ketika absurditas menjadi hukum, dan ketika keadilan hanya bisa dibeli dengan biaya administrasi satu-satunya respons yang waras adalah tawa.

WKWKWK.

─────────────────

DOKUMEN INI TELAH DIDEKLASIFIKASI

TINGKAT AKSES: PUBLIK GLOBAL

SALINAN SAH TERSIMPAN DI KALATH VESTA, RAK 000, LACI 000

═════════════════

Kami hanya mencatat.

FLOKFLOK.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
ARSIP 000: PERJALANAN JIWA
Tourtaleslights
Novel
Superpower - Your Life Is The Price
Alexander Blue
Novel
Bronze
The Motive
IyoniAe
Flash
Spesialis Tulang
Kiko
Cerpen
Reuni di Villa Angker
adinda pratiwi
Flash
Kisah Sebelum Tidur
lusi anda sudjana
Novel
Gold
Sang Peramal
Noura Publishing
Novel
Gold
Disorder
Bentang Pustaka
Novel
Ruqyah Cirebon
Ruqyah Cirebon
Cerpen
Bronze
Jurnal Kosong
Christian Shonda Benyamin
Novel
KOL (Karang Ombak Laut)
Hendrakur
Novel
Bronze
Emma
Niko Pasha
Cerpen
Bronze
Laboratorium Transmisi Mental
Shinta Larasati Hardjono
Flash
Cermin Dua arah
Viona fiantika
Flash
Bronze
Kematian Tukang Teluh
Omius
Rekomendasi
Cerpen
ARSIP 000: PERJALANAN JIWA
Tourtaleslights
Novel
Pejabat Negeri Sonoharu
Tourtaleslights
Flash
#1. Aroma Sakura di Tengah Kekacauan
Tourtaleslights
Novel
Keluarga Jamur
Tourtaleslights
Cerpen
Pilihan Nion
Tourtaleslights
Cerpen
Terra Valley Rise of The Golem Empire
Tourtaleslights
Novel
17 Tahun BUCIN
Tourtaleslights
Cerpen
The Famtrip Flores
Tourtaleslights
Cerpen
Airdrops Bingo
Tourtaleslights
Novel
Negeri Topeng Monyet: Bukan BIN Tapi DIM
Tourtaleslights
Novel
Birokrasisekai: BUDAK PELABUHAN SUNYI — Volume 1
Tourtaleslights
Novel
BIROKRASISEKAI: Volume 2 — Lintas Samudra & Konsorsium
Tourtaleslights
Cerpen
17 Tahun Budak Cinta
Tourtaleslights
Flash
Jembatan Negeri Rasa
Tourtaleslights
Novel
Warisan Tanah Keluarga
Tourtaleslights