Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Aroma Hujan
1
Suka
7
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Helai-helai daun pohon peluruh jatuh mengenai tubuh seorang gadis setelah tertiup dibawa angin. Daun-daun yang mulai menguning itu wanginya seperti aroma cengkeh. Gadis tersebut sedang bersandar pada pohon yang dedaunannya mulai berguguran itu, tampak menikmati suatu sensasi yang dirasakannya saat ini. Di sebelah kirinya terdapat rerumputan yang menjulang tinggi, tampak bermain dengan semilir angin yang menyapanya. Rerumputan tersebut aromanya manis, seperti karamel. Hangat sinar matahari yang menerpa tubuhnya berbau seperti kue jahe.

Bagi Shaula, segala hal di dunia ini memiliki aroma tersendiri. Baginya buku-buku ensiklopedia memiliki aroma seperti bunga lavender, sedangkan kicau burung milik tetangganya tercium seperti aroma buah mangga yang sudah matang. Bukan hanya itu, ia juga bisa melihat warna dari segala hal yang ada di sekitarnya. Ia melihat warna merah ketika mendengar musik metal dan melihat warna hijau pada angka tujuh.

Shaula sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa membaui suara atau mengapa ia bisa melihat warna pada suara dan angka. Ia masih ingat, pertama kali ia merasakan sensasi tersebut yaitu ketika ia mencium wangi vanila pada bulan purnama waktu berumur tujuh tahun. Saat itu ia berpikir bahwa ia hanya berhalusinasi, sebab mana mungkin bulan memiliki aroma? Tetapi ketika ia melihat bulan purnama berikutnya dan ia masih mencium wangi vanila, saat itulah ia yakin kalau ia bukannya berhalusinasi. Ia memang bisa mencium wangi dari bulan purnama.

Ketika menyadari hal itu, ia merasa gelisah. Bukankah itu aneh? Apakah alat inderanya bermasalah? Apakah ia sudah gila? Tetapi selain penggabungan indera yang dirasakannya, ia tidak merasakan kejanggalan lain. Ia yakin sekali kalau ia baik-baik saja.

Shaula ingin sekali menceritakan hal ini kepada orang tuanya, tetapi keinginannya tersebut ia tepiskan dengan segera. Ia tahu ada beberapa masalah yang disembunyikan oleh orang tuanya. Ia tidak perlu membebani pikiran mereka lebih banyak lagi. Lagi pula kalau ia menceritakannya pun, belum tentu orang tuanya akan percaya. Ia tidak mau dikira gila. Lebih baik hal ini ia simpan sendiri saja, toh sensasi yang dirasakan olehnya itu tidak mengganggunya sama sekali.

    ***

Terhitung genap sepuluh tahun sejak Shaula merasakan sensasi penggabungan indera tersebut. Tanpa sengaja ia menemukan istilah medis bagi hal yang dirasakannya tersebut dari semuah artikel ilmiah. Ternyata hal yang selama ini ia rasakan memiliki sebutan medis, yaitu kelainan saraf bernama sinestesia. Ia merasa lega, ternyata sensasi yang dirasakannya tersebut bukan semerta-merta karena ia gila.

Angin sepoi-sepoi kembali membelai lembut wajahnya. Rasanya sudah lama ia tidak mengunjungi tempat ini. Keadaannya masih sama, asri dan nyaman. Ia selalu senang ketika berada di tempat ini. Udaranya sejuk. Pemandangannya indah. Suasananya pun damai. Jauh dari hiruk pikuk kota, jauh dari keramaian. Tidak ada suara bising, yang terdengar hanyalah bunyi dari serangga-serangga kecil di tempat itu. 

Hari itu, sama seperti hari-hari lainnya, ia membawa serta kucing peliharaanya. Ia memberi nama kucing peliharaannya sesuai dengan aroma yang dimiliki kucing itu. Kucingnya memiliki aroma kue mochi, maka Shaula menamainya Mochi.

Mochi kini sedang berusaha mengejar seekor kupu-kupu. Sama seperti dirinya, kucing itu tampak menikmati keberadaannya di tempat ini. Di sini Mochi dapat bergerak lebih bebas, tidak seperti bergerak di rumahnya yang sempit. Di sini ia bisa berlarian tanpa takut memecahkan benda atau merusak barang apapun.

Alasan lain Shaula menyukai tempat ini yaitu karena ia tidak mendapat serbuan aroma yang dirasakannya seperti ketika ia berada di tengah keramaian. Mungkin ia masih sanggup untuk melihat banyak warna pada satu waktu, tetapi aroma berbeda dengan melihat warna. Entah mengapa sinestesia yang dirasakannya berbeda dengan berbagai macam sinestesia yang telah ia cari tahu. Aroma yang diciumnya pada setiap orang ternyata memiliki hubungan dengan suasana hati orang-orang tersebut. Ketika suasana hatinya sedang baik, seseorang akan memiliki aroma yang wangi. Sebaliknya, ketika suasana hatinya buruk, aroma orang tersebut akan berbau busuk. 

Bisakah kalian bayangkan bagaimana jadinya apabila aroma bawang putih bercampur dengan aroma durian dan bunga melati? Bagaimana jadinya apabila aroma es krim cokelat bercampur dengan aroma belerang? Shaula sudah mencium hal-hal tersebut, dan percayalah, kalian pasti tidak akan menyukainya. 

Ketika gadis itu sudah tidak sanggup lagi mencium campuran aroma tersebut, ia selalu pergi ke tempat ini untuk menenangkan diri. Udara segar yang dirasakannya di tempat ini dapat membuatnya sejenak melupakan aroma-aroma yang memuakkan tersebut. Sama seperti saat ini. Ia datang ke tempat ini karena ia sedang membutuhkan kedamaian. Saat ini ia membutuhkan tempat yang damai agar ia dapat sejenak melupakan kepenatannya, kelelahannya, dan yang paling utama, kesedihan yang dirasakannya.

Selama beberapa bulan terakhir, hidupnya benar-benar terasa melelahkan. Wajahnya yang tirus terlihat pucat, mata hitamnya tampak sayu, kantung matanya terlihat sangat jelas, berat tubuhnya pun sepertinya menurun drastis. Penampilannya kacau sekali. Bukan hanya penampilannya saja yang kacau, namun pikiran dan perasaannya juga. Penampilannya yang kacau tersebut seakan-akan mencerminkan keadaan pikiran dan perasaannya saat ini.

Ia menjadi seperti ini semenjak ia dikucilkan di sekolahnya. Dikucilkan tanpa alasan yang jelas, pikirnya. Penyebab ia dikucilkan yaitu karena ia memenangkan sebuah perlombaan melukis yang diadakan di sekolahnya. Hanya karena ia memenangkan perlombaan itu orang-orang mulai berprasangka buruk kepadanya. Apakah ia salah karena telah mengikuti lomba itu? Apakah dirinya terlihat begitu aneh di mata teman-temannya sehingga ia tidak pantas untuk memenangkan lomba itu?

Ia ingat semua peristiwa-peristiwa yang dialaminya selama beberapa bulan terakhir ini bermula dari peristiwa itu.

Saat itu ia sedang memandangi ayahnya. Ia baru tahu bahwa ayahnya ternyata mengidap penyakit gagal ginjal kronis. Di hadapannya saat itu, Shaula melihat bagaimana ayah yang sangat ia sayangi dan ia hormati sedang berjuang menahan sakit. Bercak-bercak darah terdapat pada baju lusuh yang dikenakannya. Wajahnya pucat pasi, sesekali ayahnya itu mengerang ketika lagi-lagi darah memaksa untuk keluar dari mulutnya. Ayahnya lagi-lagi mengalami muntah darah. 

“Kamu tak perlu mencemaskannya, ayahmu itu orang yang kuat Shaula.” Ucap ibunya kepadanya.

Ibunya itu selalu berusaha menjadi orang yang tegar di depannya. Tetapi Shaula tahu dari aroma asap yang menguar dari tubuh ibunya, sebenarnya ia sendiri pun begitu mencemaskan keadaan ayahnya.

 “Kondisi ayah sudah semakin parah, Bu.” Shaula tidak bisa menjadi seperti ibunya yang berusaha untuk tegar di depannya, perlahan-lahan air mata yang sedari tadi ditahannya pun mengalir dari kedua pelupuk matanya.

“Sekuat apapun ayah,  ia tetap harus segera dibawa ke rumah sakit.” Ucapnya lirih.

Ibunya terdiam sejenak. Keluarganya memang bukan keluarga yang berada. Dia dan ibunya sama-sama tahu kalau  uang yang dibutuhkan untuk pengobatan ayahnya itu tidak sedikit. Tapi melihat kondisi ayahnya yang terus menerus semakin menurun, Shaula khawatir ia dan ibunya akan terlambat menolongnya. 

“Saat ini yang bisa kita lakukan hanya berdoa. Mulai besok pagi, ibu akan mencari pinjaman ke beberapa orang. Yah, paling tidak cukup untuk membeli obat.” Ucap ibunya lemah.

“Insya Allah Shaula bantu cari uang, Bu.” Ucap Shaula sungguh-sungguh. 

Ibunya sekali lagi terdiam, lalu akhirnya ibunya pun menangis. Ibunya yang selalu berusaha tegar di depannya itu kini sudah tak sanggup lagi menyembunyikan kesedihan yang dirasakannya. 

“Maafkan ibu Shaula. Seharusnya ibu tidak membebanimu hal-hal seperti ini.”

“Ibu ga perlu minta maaf ke Shaula. Shaula sama sekali ga keberatan buat cari uang kok, yang terpenting saat ini adalah kesehatan ayah.”

“Terima kasih Shaula.”

Ibunya memeluknya sebentar, lalu beranjak pergi menuju dapur untuk mengambil air minum hangat untuk ayahnya. Shaula duduk di samping ayahnya sambil sesekali membersihkan bercak darah yang ada. Ia benar-benar tidak sanggup melihat keadaan ayahnya. Ia benar-benar merasa tak berdaya ketika melihat ayahnya muntah darah dan tak ada satu pun hal yang bisa dilakukannya untuk meringankan sakit yang dirasakan oleh ayahnya itu. Ayahnya harus sembuh, ucapnya dalam hati. Ia tahu  hal yang bisa dilakukannya saat ini selain berdoa hanyalah mencari cara untuk mendapatkan uang untuk pengobatan ayahnya. Ia akan berusaha semampunya supaya ia bisa meringankan beban ibunya yang juga berusaha untuk mendapatkan uang tersebut.

Keesokan harinya ia pun segera mencari pekerjaan. Ia mencari lowongan pekerjaan di beberapa koran, ketika tak mendapatkan informasi yang diinginkannya, ia pun bertanya kepada beberapa tetangganya. Barangkali mereka  tahu, pikir Shaula.* Tetapi mencari pekerjaan ternyata tidaklah semudah yang dibayangkannya, terlebih lagi pekerjaan untuk seorang gadis yang statusnya masih menjadi seorang pelajar. Tak satu pun lowongan pekerjaan yang ditemukannya mau menerimanya. Untungnya ia menemukan cara lain selain bekerja untuk mendapatkan uang.

Ia menemukan sebuah pengumuman mengenai lomba melukis di mading sekolahnya. Perlombaan itu menawarkan hadiah yang cukup besar. Jika ia dapat memenangkan perlombaan tersebut, uang yang didapatkannya paling tidak cukup untuk membeli obat ayahnya. Shaula sendiri sebenarnya tidak yakin apakah ia dapat menjadi pemenang jika ia mengikuti perlombaan tersebut. Gadis itu tahu bahwa dirinya tidak memiliki bakat melukis. Tapi dalam keadaan seperti ini, kesempatan sekecil apapun untuk mendapatkan uang harus diambilnya. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, gadis itu pun memutuskan untuk mengikuti lomba tersebut. Toh tidak ada ruginya ia mengikuti lomba tersebut. Persyaratannya juga mudah dan ia tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun.

Saat ia mengambil formulir pendaftaran lomba tersebut, yang dipikirkan oleh gadis itu hanyalah mengenai kondisi ayahnya yang membutuhkan pengobatan segera. Shaula tak sedikitpun menyangka bahwa dengan mengikuti perlombaan tersebut ia malah membawa dirinya kepada masalah lain.

***

Dilihat dari segi manapun, Tania masih tidak bisa menemukan sesuatu yang istimewa pada lukisan yang sedari tadi dipandanginya itu. Ia hanya melihat bermacam-macam garis. Mulai dari garis lurus, spiral, hingga bergelombang yang bertumpuk-tumpuk dan tidak beraturan. Warnanya pun terdiri dari satu warna saja, yaitu warna jingga. Gadis itu benar-benar tidak mengerti. Serius deh, apa sih bagusnya lukisan itu?

 Ia sungguh tidak tahu hal istimewa apa yang ada pada lukisan itu sehingga dapat mengalahkan lukisan yang dibuat olehnya. 

 Pada bagian ujung lukisan tersebut tercantum sebuah nama.

Judul lukisan: Nyanyian Angin. Pelukis: Shaula Alshain.

Hampir semua orang di sekolah mengenal Tania. Guru-guru di sekolah mengenalnya berkat kepintaran yang ia miliki. Dia menguasai pelajaran-pelajaran yang umumnya ditakuti oleh siswa-siswa lain, seperti fisika ataupun matematika. Ia juga menguasai seni dan olahraga. Selain karena kepintarannya, ia juga dikenal karena ayahnya merupakan salah satu  penyumbang dana terbesar untuk sekolahnya. Selain itu, ia juga merupakan salah satu gadis tercantik yang ada di sekolahnya. Semua orang di sekolahnya, mulai dari guru, murid, bahkan sampai pemilik warung di kantin sekolahnya pun mengakui betapa Tania terlihat seperti orang yang sempurna.

Hanya saja yang tidak semua orang ketahui mengenai dirinya ialah besarnya ambisi yang dimilikinya untuk menjadi orang yang terbaik. Ia selalu menganggap rendah orang selain dirinya. Tania bahkan tidak akan segan untuk menghalalkan segala cara agar semua keinginannya tercapai. Jadi tentu saja, ketika pemenang perlombaan melukis yang ditunggu-tunggunya itu akhirnya diumumkan, gadis serba bisa itu benar-benar tidak percaya bahwa bukan ia yang menjadi pemenangnya. Ia telah kalah, dan yang mengalahkannya adalah Shaula. 

Tania sudah mengenal gadis itu semenjak ia pertama kali duduk di bangku SMA. Walaupun begitu, tak banyak hal yang diketahuinya mengenai gadis tersebut. Hal yang ia tahu sepertinya sama seperti hal yang orang lain ketahui. Shaula adalah seorang penyendiri akut. Tak pernah sekalipun Tania melihat Shaula menyapa seseorang. Ia selalu berbicara sesedikit mungkin. Ia juga sering melamun di kelas. Ia selalu duduk di bangku paling pojok dan tampaknya gadis itu berusaha menjauh dari kerumunan orang. Menurutnya, Shaula itu merupakan gadis yang agak aneh. 

Melihat orang yang mengalahkannya adalah orang seperti Shaula, Tania benar-benar tidak dapat menerima keputusan ini. Pasti ada sesuatu yang membuat gadis aneh itu menang. 

“Aku berani bertaruh, Shaula pasti berbuat curang.” Ucapnya tiba-tiba kepada kedua temannya yang sedari tadi turut menemaninya, seorang gadis berambut pendek yang bernama Vera dan satunya lagi seorang gadis berambut ikal yang bernama Jenna. 

“Apa kamu yakin kalau lomba kali ini temanya bukan lukisan abstrak?” tanya Vera.

“Tentu saja. Aku yakin sekali. Aku ingat cuma dia satu-satunya peserta yang melukis abstrak seperti itu. Padahal jelas-jelas juri mengatakan bahwa tema kali ini mengenai alam.”

“Tapi kelihatannya Shaula bukan tipe orang yang berani berbuat curang,” ucap Jenna

“Ayolah Jen, lihatlah lukisan ini. Murid sekolah dasar sekalipun bisa melukis lebih baik dibandingkan dengan lukisan yang dibuat olehnya,” ucap Tania sedikit ketus.

Vera dan Jenna tidak membantah perkataan temannya itu.  Tania benar, lukisan yang dipajang di dinding koridor sekolahnya itu memang tidak ada bagusnya sama sekali, bahkan untuk ukuran sebuah lukisan abstrak. 

“Kalau memang benar begitu, kamu harus segera menemui juri perlombaan itu Tan. Kamu harus mengklarifikasi hal ini, bisa saja telah terjadi kesalahpahaman,” ucap Vera.

“Aku sudah menemuinya,” ucap Tania sambil merengut kesal.

“Benarkah? Lalu apa yang dikatakannya?” 

“Ia berkata bahwa lukisan terbaik memang lukisan yang dibuat oleh Shaula. Ia juga berkata bahwa keputusannya itu murni darinya tanpa campur tangan dari orang lain.”

“Kamu menanyakan alasan mengapa Shaula bisa sampai menang kan?”

“Iya, dan coba kamu tebak apa yang dikatakan oleh juri itu? Ia berkata bahwa ia tidak bisa mengungkapkan alasannya karena Shaula sendiri yang memintanya untuk tidak memberi tahu siapapun. Hal yang bisa dikatakan juri itu ialah lukisan sederhana buatan Shaula itu sebenarnya tidak sesederhana kelihatannya. Para peserta harus menerima keputusan yang dibuat olehnya karena ia tidak akan asal-asalan dalam memilih pemenang untuk lomba sebesar ini.” 

“Hmm. Perkataannya yang mengatakan Shaula menyuruhnya untuk tidak memberi tahu siapapun itu agak mencurigakan,”  ucap Jenna heran.

“Persis seperti yang aku pikirkan.” Tania mengangguk menyetujui perkataan temannya itu.

Pokoknya gadis itu harus diberi pelajaran karena telah membuatku kalah di perlombaan itu. Pikir Tania dalam hati.

“Apakah kalian tahu? Waktu kelas sepuluh aku pernah mendengar rumor kalau kejiwaan Shaula agak terganggu.”

Salah satu kemampuan lain yang dimiliki Tania namun tidak diketahui oleh orang lain ialah keahliannya dalam berbohong. Ketika ia berbohong, ia mampu mengendalikan nada bicaranya, emosinya, ekspresi pada raut wajahnya, dan tingkah lakunya yang senatural mungkin sehingga seseorang sama sekali tidak akan menyangka bahwa yang ia katakan adalah kebohongan.

“Benarkah?”

“Iya. Lihat saja tabiatnya, selama ini ia selalu melamun di kelas bukan? Pernahkah kalian memperhatikan terkadang gadis itu berbicara kepada dirinya sendiri?”

Kedua temannya tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Mengenai Shaula yang merupakan seorang pelamun sih mereka sudah tahu, tapi mereka berdua belum pernah melihat gadis itu berbicara kepada dirinya sendiri.

Bagus. Mereka hampir terpancing. Batin Tania.

“Lalu apakah kalian tidak merasa heran melihat gadis itu selalu sendirian? Padahal biasanya seorang penyendiri pun pasti memiliki teman. Katanya sih tidak ada yang mau dekat-dekat dengannya karena ia adalah orang yang licik”

Kedua temannya tersebut hanya terdiam mendengar ucapan Tania.

“Dengan kondisi kejiwaan yang seperti itu, Shaula mungkin saja berbuat curang bukan? Bisa saja ia memaksa juri tersebut untuk menjadikannya pemenang.” 

Kedua temannya kembali terdiam.  Ucapan Tania mungkin saja benar.

Tania berhasil mempengaruhi kedua temannya itu. Sebentar lagi bukan hanya mereka berdua yang terpengaruh, tetapi teman-teman yang lainnya juga. Bagaimanapun caranya, ia akan membuat Shaula dikucilkan dan ditindas.

***

Shaula baru saja hendak pulang menuju rumahnya, ketika seseorang berteriak memanggil namanya. Orang itu ternyata merupakan juri sekaligus pendiri perlombaan melukis yang diadakan siang tadi di taman dekat sekolahnya. 

“Nama kamu benar Shaula Alshain, kan?” tanyanya.

 “Iya benar,” jawab Shaula sambil mengangguk.

“Sebelumnya aku  meminta maaf karena menanyakan hal ini dengan tiba-tiba, tetapi apakah benar bahwa kamu adalah seorang sinestesis?” tanya orang itu dengan antusias.

“Apakah anda juga seorang pengidap sinestesia?”  yang ditanya malah balik bertanya. 

“Ya ampun. Ternyata memang benar! Senang sekali bisa bertemu dengan sesama pengidap sinestesia,” ucap orang itu terlihat gembira. 

Shaula ikut tersenyum, agak kaget memang. Namun ia juga merasa senang karena bisa berkenalan dengan seorang pengidap sinestesia seperti dirinya.

“Saya juga senang bisa bertemu dengan pengidap sinestesia lainnya.”

“Perkenalkan, namaku Bara. Aku seorang sinestesis yang bisa mendengar suara dari suatu bentuk maupun warna, begitu pula sebaliknya.” 

“Saya dapat mencium aroma dari setiap benda, dan sama seperti anda, saya juga bisa mendengar suara dari bentuk ataupun warna dan sebaliknya,” Shaula turut memberitahu orang itu mengenai sinestesianya.

Orang itu mengangguk-anggukan kepalanya dengan antusias.

“Aku masih tidak menyangka bisa bertemu dengan pengidap sinestesia lainnya. Selama ini aku  ingin sekali bisa mengenal orang sepertiku, walaupun begitu aku tidak berharap banyak karena aku tahu menemukan orang sepertiku pasti akan sulit. Tetapi lihatlah sekarang! Tepat di hadapanku, ada seseorang yang mengakui bahwa dirinya adalah seorang pengidap sinestesia!” Orang itu tersenyum seakan-akan baru saja mendapatkan sesuatu yang begitu berharga.

“Ah, Iya! Hampir saja aku lupa. Tujuanku memanggilmu tadi adalah karena benda ini,” tangan lelaki itu menggenggam lukisan yang dibuat olehnya tadi siang.

“Aku benar-benar menyukainya. Lukisan ini tepatnya mengenai nyanyian angin sebelum hujan turun kan?”

Shaula mengangguk. Ia memang melukis mengenai hal tersebut. 

“Saya sangat menyukai iramanya. Untung saja tema perlombaan melukis yang  anda buat kali ini mengenai alam sehingga saya dapat melukiskan hal yang saya suka,” ucap Shaula sambil tersenyum.

“Aku juga sangat suka dengan nyanyian itu. Tapi yang kusuka dari lukisanmu itu ialah kemampuanmu untuk menuangkannya ke dalam bentuk lukisan. Benar-benar rapi dan dilakukan dengan sepenuh hati. Berkat kemampuanmu, nyanyian yang sederhana itu dapat berubah menjadi lebih bermakna. Aku sendiri bahkan tidak akan sanggup melukis sebaik ini!” ucapnya sambil berdecak kagum.

“Tanpa basa-basi lagi aku mengucapkan selamat kepadamu karena kamu merupakan pemenang dari lomba kali ini.”

Shaula terkejut. Ia benar-benar tidak percaya kalau ia berhasil memenangkan lomba itu. 

“Apakah anda yakin? Tidakkah lukisan peserta lain lebih bagus dibandingkan dengan lukisan saya?”

“Tenang saja, aku sudah menilai semua lukisan. Lukisan yang lain terlalu biasa, walaupun bagus tetapi orang lain masih dapat menirunya. Tapi lukisanmu berbeda Shaula, tidak ada orang yang dapat menirunya.”

 “Saya khawatir, bagi peserta lain lukisan saya terlihat seperti lukisan abstrak biasa. Bagaimana apabila mereka mencurigai saya telah berbuat curang?“

“Kalau mengenai hal itu, biarkan aku yang mengurusnya. Kamu tak usah mengkhawatirkan hal tersebut, toh kamu tidak curang kan?”

Shaula terdiam sebentar. Ia memercayai lelaki tersebut, tetapi ia tetap merasa khawatir.

“Bolehkah saya minta tolong? Alasan apapun yang akan anda katakan nanti, bisakah anda tidak memberi tahu siapapun bahwa saya pengidap sinestesia? Saya ingin merahasiakan sinestesia yang saya punya.” ucap Shaula kepada Bara.

“Merahasiakannya? Memangnya kenapa?” Tanya lelaki itu heran.

“Saya tidak mau dianggap lebih aneh lagi oleh teman-teman saya.”

“Ah, Iya. Aku mengerti. Tenang saja, aku tidak akan memberi tahu siapapun.” 

“Terima kasih.”

“Ini, silahkan ambil hadiahmu,” ucap Bara sambil tersenyum.

“Sekali lagi terima kasih. Hal ini sangat berarti buat saya.” Ucap Shaula gembira. Ia merasa terharu sekaligus lega, akhirnya ia mendapatkan uang untuk membantu biaya pengobatan ayahnya.

***

Pada hari kedua setelah pengumuman resmi mengenai pemenang perlombaan tersebut, ia merasa ada yang aneh dengan teman-temannya. Ia merasakan aroma kemarahan, kekesalan, kedengkian, ketakutan, dan kecurigaan teman-temannya kepada dirinya. Sebenarnya ada apa ini?

Gabungan aroma-aroma tersebut busuk sekali. Matanya langsung basah oleh air mata. Perutnya mulai bergejolak karena mual. Dengan segera ia mengambil masker yang selalu siap sedia berada di tasnya. Mengapa mereka seperti ini? Pikirnya heran.

Seorang gadis berambut hitam sebahu lalu mendekatinya. Ia memiliki tubuh yang ramping dan kulit yang sangat putih. Shaula tahu siapa gadis itu. Namanya adalah Tania. Ia adalah murid yang sangat terkenal di sekolahnya. 

“Aku tak percaya gadis sepertimu ternyata adalah serigala berbulu domba,” ucap Tania. 

Shaula tidak menjawab perkataan gadis itu, ia malah batuk-batuk. Ya ampun. Baunya busuk sekali! Aroma gadis itu seperti bangkai tikus. Ucap Shaula dalam hati. Shaula sekali lagi merasa kebingungan. Ia seperti serigala berbulu domba?

“Sudahlah, kamu tak usah sok lugu. Semua orang di sini kini tahu orang seperti apa kamu sebenarnya,” ucap Tania ketus. 

“Mulai sekarang, tidak akan ada lagi orang yang ingin berteman denganmu. Sebenarnya sih dari dulu juga sudah tidak ada orang yang mau berteman denganmu bukan?” ucap Tania sambil tertawa.

Shaula hanya menundukkan kepalanya, ia tidak terlalu memikirkan apa yang dikatakan oleh gadis itu. Ia sedang berusaha untuk menghindari aroma tubuh Tania yang semakin lama semakin menyengat.

Tania malah semakin kesal karena Shaula tidak menanggapi satupun perkataannya, akhirnya dia pergi keluar kelas dengan wajah cemberut. Walaupun begitu, Tania tetap merasa puas karena ia telah mengucapkan perkataan pedas pada gadis itu.

***

“Sinestesia adalah kekacauan pengindera.”

“Kekacauan pengindera? Maksudmu cacat?”

“Bukan begitu. Kerja kelima alat inderaku menyatu. Aku bisa mendengar ketika melihat, mencium ketika mendengar, begitu pula sebaliknya. Misalnya ketika aku mendengar sebuah lagu, aku tidak hanya mendengar lagu tersebut, aku juga akan melihat warna dan aroma dari lagu itu.”

Pemuda itu terdiam cukup lama. Apakah kelainan seperti itu memang benar-benar ada?

Shaula akhirnya menyerah. Dengan terpaksa ia pun mengungkapkan rahasia yang selama ini enggan ia ceritakan kepada seseorang. Ia membutuhkan bantuan. Tetapi jangankan membantu,  orang yang diberitahunya itu bahkan tidak memercayainya sama sekali.

“Aku tahu ini kedengarannya aneh. Mungkin malah terlihat mengada-ada. Tapi aku serius. Aku mengungkapkan hal ini karena aku percaya sama kamu, kamu satu-satunya orang yang bisa kuajak berbicara. Aku benar-benar butuh bantuan dari seseorang. Aku tidak memiliki teman lagi,” ucap Shaula. Ia terdengar putus asa. 

“Alasan mengapa aku menjadi seorang penyendiri yaitu karena aku berusaha sebisa mungkin menghindar dari serbuan aroma yang selalu kurasakan setiap kali berada di tengah keramaian. Pikiranku yang tak bisa fokus pun merupakan akibat dari sinestesia yang kumiliki. “

Pemuda itu tetap bergeming. Shaula bisa mencium aroma belerang pada tubuh lelaki itu. Aroma tersebut memberitahu Shaula bahwa lelaki itu menganggapnya sebagai pembohong. 

“Ya sudah kalau begitu. Maafkan aku karena telah datang kemari. Seharusnya aku tidak mengganggumu seperti ini,” Shaula merasa dirinya bodoh. Memangnya siapa dirinya sehingga berani meminta bantuan kepada orang lain?

***

Gadis itu pernah berkata kepadanya, bahwa ia memiliki aroma hujan. Pemuda itu tak pernah mengerti dengan apa yang dikatakan oleh gadis tersebut. Baginya, segala hal yang diucapkan gadis itu terasa tidak masuk akal. Sebelumnya ia mengaku bahwa ia mengidap kelainan yang sama sekali belum pernah didengarnya, lalu kini ia berkata bahwa hujan memiliki aroma?

Mungkin selama ini teman-temannya benar. Shaula memang agak gila.  

Pemuda itu sudah mengenal Shaula sedari kecil. Kebetulan rumahnya berada dekat dengan rumah gadis itu. Ia juga selalu berada pada satu sekolah yang sama dengan gadis tersebut. Ketika dia duduk di bangku Sekolah Dasar, wali kelasnya menyuruh murid-murid yang tempat tinggalnya saling berdekatan untuk berangkat menuju sekolah bersama-sama. Ia dan ketiga temannya beserta Shaula yang rumahnya saling berdekatan pun menuruti perkataan guru tersebut. Berkat kegiatan berangkat bersama itulah pemuda itu mengenal Shaula. Kegiatan yang akhirnya berubah menjadi kebiasaan itu pun terus berlanjut sampai ia SMA. Namun, karena ketiga temannya itu berbeda sekolah dengannya, sekarang hanya ia dan Shaula yang berangkat menuju sekolah bersama-sama.

Walaupun telah mengenal gadis itu cukup lama, ia merasa kalau ia tidak begitu mengenalnya. Gadis itu terlalu tertutup. Terlalu penyendiri. Terlalu sering melamun. Sebenarnya sih, ketika bersamanya, gadis itu cukup banyak berbicara. Karena itu ia tidak terlalu menghiraukan keanehan perilaku temannya itu. Pada awalnya, pemuda itu menganggap Shaula gadis yang normal, tapi sejak rumor-rumor aneh di sekolahnya mengenai gadis itu muncul, ia menjadi tidak yakin lagi dengan anggapannya itu. Terlebih lagi saat gadis itu berkata bahwa ia bisa mencium aroma hati seseorang. Ia semakin ragu kalau gadis itu merupakan gadis normal. 

Menyadari bahwa selama ini ia berteman dengan orang seaneh itu, ia menjadi malu. Pemuda itu tak mau dirinya turut dikucilkan ataupun diolok-olok. Karena alasan itulah, dia mulai menjauhi gadis itu.

***

Musim kemarau kali ini bisa dibilang merupakan salah satu musim kemarau terpanjang yang pernah dirasakan oleh Shaula. Hal yang paling dibencinya saat kemarau yaitu hujan yang hampir tidak pernah turun. Shaula benar-benar merindukan hujan. Mungkin bagi orang lain, hujan tidak berarti apa-apa. Tapi bagi Shaula, hujan merupakan hal yang sangat istimewa.

 Menurutnya, air hujan dapat membersihkan udara tercemar yang sebelum hujan turun dapat berada di mana-mana.* Setelah hujan, udara yang dihirupnya terasa menyejukkan. Begitu pula dengan aromanya. Aroma yang muncul sehabis hujan dengan ajaib dapat membersihkan aroma-aroma busuk yang selalu berada di sekitarnya, sehingga ketika ia berada dekat dengan aroma hujan, aroma yang diciumnya berangsur-angsur berubah menjadi aroma yang sejuk dan menyenangkan. Maka dari itu, dia sangat menyukai aroma hujan yang ada pada suatu benda.

Aroma hujan merupakan aroma yang jarang ia temukan pada benda atau makhluk hidup apapun. Menurutnya aroma hujan ini merupakan aroma yang benar-benar unik. Hal itu karena ia sendiri pun tak yakin apakah aroma hujan itu memang benar ada, atau apakah hanya orang yang mengidap sinestesia sepertinya sajalah yang bisa menciumnya. Terkadang ia memang mengalami kebingungan seperti ini, ia tidak tahu apakah aroma yang diciumnya itu aroma yang nyata atau aroma yang dicium akibat sinestesia yang dimilikinya. 

Sampai saat ini, ia hanya menemukan satu orang yang memiliki aroma hujan. Nama orang itu adalah Andika, teman sekolahnya. Sebenarnya ia dan Shaula tidak begitu dekat. Padahal Shaula sudah mengenalnya lebih dari sepuluh tahun. Ia tidak begitu dekat dengannya karena ia terbiasa untuk menjaga jarak dengan orang lain. Walaupun begitu, Shaula lebih banyak berbicara ketika berada dengan orang itu. Mungkin karena ia merasa nyaman berada dekat dengan aroma hujan, atau mungkin karena pemuda itu tidak menganggap dirinya orang yang aneh.

***

Selama dua minggu ini, Shaula tidak masuk sekolah. Ia benar-benar sudah tidak sanggup mencium aroma hati teman-temannya. Karena teman-temannya selalu berpikiran hal yang buruk mengenainya, aroma yang ia cium benar-benar membuatnya tidak nyaman. Ia mencium aroma terasi, kaus kaki usang yang belum dicuci, kotoran sapi, dan bau busuk sampah secara bersamaan. Karena hal itu, dalam sehari ia bisa muntah lebih dari tujuh kali. Akibatnya, ia menjadi dehidrasi, pencernaanya bermasalah, kepalanya berdenyut-denyut tak karuan, dan badannya pun menjadi lemas. Bahkan ia sempat kehilangan kesadaran. Kedua orang tuanya terlihat sangat khawatir. Mereka tidak mengerti mengapa anak semata wayangnya itu bisa tiba-tiba sakit.

Kejadian yang dialaminya di sekolah benar-benar membuatnya sedih. Ia tidak hanya dikucilkan, tetapi juga ditindas. Buku-buku pelajaran miliknya sobek. Tali sepatu miliknya hilang sebelah. Tempat pensil kesayangannya ditempeli oleh permen karet. Ia tidak tahu apakah ia sanggup bertahan jika keadaan seperti ini terus berlanjut.

Shaula sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Awalnya ia kira, apabila tidak ada orang yang mengetahui sinestesia yang dimilikinya, mereka tidak akan menganggap dirinya aneh. Tapi justru sikapnya yang timbul dari sinestesia yang dimilikinya itulah yang menjadi penyebab semua ini. 

***

Waktu itu, tanpa sengaja Andika melihat Tania sedang berbuat curang. Ia melihat gadis itu sedang bertransaksi dengan seseorang dari kelas lain yang biasa menjadi joki di mata pelajaran fisika. Pemuda tersebut pasti tidak akan mempercayai hal ini jika bukan ia sendiri yang melihatnya. Ia benar-benar terkejut melihat gadis yang selalu dibanggakan oleh semua guru itu ternyata berbuat curang. Lalu kali ini, ia melihat Tania sedang memeras seseorang. Tania yang selama ini dikenal sebagai orang yang baik ternyata justru seseorang yang licik. 

Pemuda itu jadi berpikir, bagaimana kalau semua hal yang dikatakan oleh Tania tentang Shaula selama ini ternyata adalah sebuah kebohongan yang diada-adakan oleh gadis tersebut?

Ia menjadi teringat dengan Shaula. Beberapa hari terakhir ini gadis itu tidak masuk sekolah.  Orang-orang di sekitarnya sih berkata bahwa Shaula tidak berani masuk sekolah karena malu. Kali ini Andika meragukan ucapan mereka. Ia ingat beberapa hari yang lalu ketika Shaula meminta bantuan darinya. Ketika meminta bantuannya, ia melihat wajah Shaula yang pucat. Tapi waktu itu, bahkan memiliki niat untuk menolongnya pun tidak. Perasaan bersalah mulai melandanya. Kalau semua yang dikatakan Shaula kepadanya itu memang benar, berarti saat ini Shaula sedang kesakitan. 

Untuk membuktikan ucapan gadis itu pemuda tersebut mencoba mencari tentang hal-hal yang menurutnya aneh itu di internet. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya ia pun menemukan informasi mengenai apa yang ingin diketahuinya. 

“Sinestesia adalah suatu kondisi neurologis dimana  stimulasi satu jalur sensorik atau kognitif yang terjadi mengarah ke otomatis, hal ini menjadikan timbulnya pengalaman secara tak sadar dalam indera atau kognitif jalur kedua.”

“Pada seorang pengidap sinestesia, tidak ada sebagian pemisah persepsi pancaindera, sehingga persepsi pancaindera menjadi bercampur aduk. Mereka hidup dalam dunia yang lebih beraneka warna dibandingkan dengan kehidupan orang normal.”

“Aroma hujan disebut juga dengan nama petrichor. Kata itu tersusun dari bahasa Yunani, petra yang berarti batu dan ichor artinya cairan yang mengalir dalam pembuluh darah para dewa dalam mitologi Yunani.”

“Istilah ini diciptakan pada tahun 1964 oleh dua peneliti Australia, Bear dan Thomas, untuk sebuah artikel di jurnal Nature. Dalam artikel itu, penulis menjelaskan bagaimana bau berasal dari minyak yang dipancarkan oleh tanaman tertentu saat masih kering, kemudian diserap oleh tanah dan batu. Selama hujan, minyak dilepaskan ke udara bersama dengan senyawa lain, geosmin, menghasilkan aroma khas yaitu Petrichor.”

Akhirnya pemuda itu mengetahui kebenarannya. Shaula tidak pernah berbohong. Justru Tanialah yang selalu berbohong. 

Selama ini ia terlalu berburuk sangka kepada gadis itu. 

Ia merasa bodoh. Mengapa tidak dari dulu ia mencari tahu hal ini? 

Ia membayangkan bagaimana perasaannya apabila ia berada di posisi Shaula. Pastinya gadis itu merasa sangat kesakitan. Kalau ia berada di posisi gadis itu, ia bakal berharap lebih baik ia tidak memiliki hidung daripada harus menderita seperti itu. 

Pemuda tersebut benar-benar merasa malu terhadap dirinya sendiri. Mengapa dia mudah sekali mempercayai ucapan orang lain? Mengapa dia tidak bisa mempercayai Shaula yang selama bertahun-tahun sudah dikenalnya? Ia merasa sangat menyesal. Ia harus meminta maaf kepada gadis itu. 

***

“Kamu tahu? Ternyata kamu benar. Hujan memang memiliki aroma.” 

Shaula terkejut melihat pemuda itu berada di rumahnya. Padahal selama beberapa bulan terakhir, ia tahu bahwa pemuda itu sedang menjauhinya.

“Benarkah? Berarti penciumanku memang bisa diandalkan.”

“Tentu saja. Menjadi seorang pengidap sinestesia bukan berarti alat inderamu cacat, sinestesia hanya  kekacauan pengindera. Begitu kan katamu waktu itu?”

“Hmmm,“ Gadis itu hanya menganggukan kepalanya. Ia sekali lagi merasa terkejut dan heran, apakah orang itu sudah mengakui kalau ia memang pengidap sinestesia?

“Petrichor.” Ucap orang itu tiba-tiba, pelan sekali. Suaranya nyaris tidak terdengar oleh gadis itu.

“Apa? Peror?”

“Bukan Peror, tapi Petrichor. Pet-ri-chor. Itu sebutan untuk aroma hujan.”

Gadis itu terdiam sejenak, terlihat sedang meresapi perasaan yang dia rasakan ketika mendengar nama Petrichor.

“Cantik. Namanya cocok dengan artinya. Warnanya biru jernih, bunyinya persis seperti tetesan hujan.”

Kali ini giliran orang itu yang terdiam. Cukup lama sehingga membuat gadis tersebut merasa bahwa dirinya telah melakukan kesalahan lagi, mengucapkan apa yang ia rasakan kepada seseorang yang bukan penderita sinestesia. Apakah ia benar-benar terlihat seperti orang aneh?

“Hei, Shaula,” tiba-tiba pemuda itu memanggilnya.

“Iya?”

“Maaf. Aku benar-benar merasa bersalah.”

Hening. Shaula terlalu terkejut untuk menanggapi ucapan orang itu. Apakah ia tidak salah dengar?

“Aku tidak membelamu di sekolah. Aku bahkan hampir saja percaya dengan ucapan mereka. Seharusnya aku tahu bahwa kamu bukan pembohong seperti yang mereka katakan. Aku percaya kalau kamu memang pengidap sinestesia. Ketika kamu dalam keadaan susah seperti ini aku malah menjauhimu, bukannya membantumu. Aku sekarang tahu kalau Tania adalah pembohong yang sebenarnya. Tolong maafkan aku, aku sungguh menyesal.“

Shaula tersenyum. Ia tahu bahwa orang itu berbicara dengan tulus, ia bisa merasakannya. 

“Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Lagipula bukan salahmu kalau tidak mau berteman denganku. Aku tahu orang-orang pasti akan segan berteman dengan orang sepertiku.”

“Bukan begitu-“

Pemuda itu ingin membantah perkataannya, tapi ia bingung harus menjawab seperti apa. Shaula merasakan penyesalan yang dirasakan oleh pemuda tersebut semakin bertambah.

“Penyesalanmu memiliki aroma yang tidak menyenangkan kau tahu? Saat ini aku benar-benar sudah tidak sanggup mencium aroma aneh apapun.”

Orang itu memaksakan diri untuk tersenyum. Sebenarnya orang itu masih merasa bersalah, tapi ia tahu suasana hati yang buruk akan memperparah keadaan Shaula.

Samar-samar, Shaula mulai mencium perubahan aroma pada orang itu. Aroma yang tadinya tercium seperti besi yang berkarat kini berangsur-angsur berubah menjadi aroma hujan. Aroma-aroma yang selama ini mengganggunya itu kini mulai memudar, digantikan oleh udara sejuk yang muncul sehabis hujan turun. Shaula tersenyum. Rasanya sudah lama ia tidak menghirup aroma sesejuk ini.

“Terima kasih karena telah mempercayaiku. Terima kasih juga karena telah berusaha untuk tersenyum, aroma hujan yang ada padamu benar-benar membuatku merasa lebih baik.”

“Oh iya Shaula. Bolehkah aku memberimu saran?” tanya pemuda itu

“Saran apa?”

“Menurutku lebih baik kamu memberitahu mereka mengenai sinestesia yang kamu miliki. Mungkin mereka akan sulit percaya, sama sepertiku. Tapi masih ada kemungkinan bakal ada beberapa orang yang mempercayai kamu. Yah, minimal kamu sudah berusaha untuk meluruskan masalah ini. Kali ini kamu tidak akan sendirian, karena ada aku yang berada di sisimu.”

Shaula terdiam sebentar. Apakah dengan rumor yang beredar saat ini, pengakuan akan sinestesia yang dimiliki olehnya tidak akan memperparah keadaannya? 

 “Baiklah akan kuusahakan.”

Shaula sekali lagi tersenyum. Ia kini tahu, kalau mereka mengetahui tentang sinestesianya pun tidak ada bedanya dengan tidak memberitahu mereka.

Mulai saat itu, ia akan mencoba untuk perlahan-lahan mengubah sikap dan kebiasaan yang dimilikinya itu. Ia berharap dengan begitu, ia dapat mengubah aroma hati seseorang, dari yang tadinya berbau busuk akan berubah menjadi aroma yang menyenangkan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Gold
Mau Minum Obat Seumur Hidup
Mizan Publishing
Novel
Jalan di Kepalaku
Rahmi Djafar
Cerpen
Aroma Hujan
Ra
Flash
Pangeran Matahari
Tazkia Irsyad
Flash
Bronze
Buku Bertanda Tangan
Afri Meldam
Cerpen
PEREMPUAN PEMELUK KABUT
Heru Patria
Cerpen
Bronze
Aku Bukanlah Lukaku
Ra
Flash
Bronze
Permintaan Maaf
Alfian N. Budiarto
Flash
Bronze
Aku dan Ijah
Rere Valencia
Novel
Guys & Girls
Ayuk SN
Novel
WARNA RASA DISETIAP HUJAN
Vy
Novel
Sang Maharani
Sabrina Yunio
Cerpen
Belenggu yang Memudar Dimakan Zaman
Yutanis
Cerpen
Bronze
ZINA
Iman Siputra
Novel
Bronze
My 25 Days Corona Diary
Eunike Mariyani
Rekomendasi
Cerpen
Aroma Hujan
Ra
Cerpen
Bronze
Aku Bukanlah Lukaku
Ra
Cerpen
Moon And Sun
Ra
Cerpen
Aku Si Pemberontak
Ra
Cerpen
Ana Mia
Ra