Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Arkan Al Ghazi & Portal Cahaya Abadi
Di tengah Hutan Terlarang yang ditakuti para pemburu, sebuah pintu batu monolitik memancarkan cahaya biru redup saat disentuh dengan kelembutan batin. Di baliknya, terbentang semesta langit violet, pepohonan kristal yang berdenting indah, dan sang penjaga portal cahaya abadi: Putera Cendana.
═━═━═━═ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ═━═━═━═
Bab I: Jejak Kabut di Rimba Larangan
Ketika Pintu Kuno Membisikkan Pendar Azur
----------------------------------------
"Bukan langkah kaki yang membawa seorang pengembara ke tempat terlarang, melainkan kerinduan purba yang tertanam jauh di palung jiwanya."
Di ujung peta peradaban yang paling rapuh, tempat di mana tinta para juru gambar kerajaan mengering sebelum sempat menorehkan nama telaga atau punggung bukit, terbentang sebuah belantara yang ditakuti oleh para pemburu kawakan: Hutan Terlarang Wira-Astana. Kabut di rimba ini bukanlah uap air biasa; ia adalah hembusan napas waktu yang telah mendingin selama berabad-abad, menggantung tebal laksana tirai beledu kelabu yang menyamarkan batas antara tanah pijakan dan jurang ketiadaan. Pepohonan raksasa berusia ribuan musim berdiri dengan dahan-dahan bengkok yang saling mengunci di ketinggian kanopi, menolak sinar matahari menembus ke lantai humus yang pekat oleh lumut purba. Di tempat inilah Arkan Al Ghazi menjejakkan langkahnya, seorang musafir yang kelana hidupnya telah menghapus rasa gentar dari detak jantungnya.
Arkan bukanlah pemburu harta karun yang dibutakan oleh dongeng emas permata warisan dinasti yang telah runtuh. Jubah kain tenun kasarnya yang berwarna gurun pasir telah koyak di beberapa kelim, bersulam debu dari tujuh padang tandus dan percikan lumpur dari sungai-sungai berarus deras yang pernah ia seberangi. Di punggungnya tersampir ransel kulit sederhana, tempat ia menyimpan jurnal catatan bintang, sebuah gerabah air dari tanah liat liat, dan sebuah kompas kuno peninggalan kakek buyutnya. Jarum kompas kuningan itu sejak tiga purnama lalu tidak lagi patuh pada medan magnet bumi; ia berputar lambat tanpa henti, seolah-olah sedang mencari sesuatu yang tidak berakar pada kutub utara maupun kutub selatan, melainkan pada titik hening di luar batas dunia yang nyata.
Langkah Arkan terasa ringan kendati ranting-ranting basah dan akar-akar gantung kerap mencoba menjegal lututnya. Udara hutan terasa sangat dingin, begitu dingin hingga setiap tarikan napasnya menghembuskan gumpalan uap tipis yang segera larut ke dalam kabut kelam. Sunyi di sini bukan sekadar ketiadaan suara hewan malam atau derit serangga; sunyi ini adalah jenis kesenyap...